Anda di halaman 1dari 60

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Asam lemak atau fatty acid adalah senyawa alifatik dengan gugus karboksil.

Bersama sama dengan gliserol, asam lemak merupakan penyusun utama minyak

nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipid pada makhluk hidup.

Asam lemak terdiri dari asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak

jenuh ( Saturated Fatty Acid/ SFA ) adalah asam lemak yang tidak memiliki ikatan

rangkap pada atom karbon. Asam lemak tak jenuh tunggal ( Mono Unsaturated Fatty

Acid/ MUFA ) merupakan jenis asam lemak yang mempunyai 1 ikatan rangkap pada

rantai atom karbon. Asam lemak ini tergolong dalam asam lemak rantai panjang, yang

kebanyakan ditemukan dalam minyak zaitun, minyak kedelai, minyak kacang tanah,

minyak biji kapas, dan kanola. Asam lemak tak jenuh jamak ( Poly Unsaturated Fatty

Acid/ PUFA ) adalah asam lemak yang mengandung dua atau lebih ikatan rangkap,

bersifat cair pada suhu kamar bahkan tetap cair pada suhu dingin, karena titik lelehnya

lebih rendah dibandingkan dengan MUFA atau SFA. Asam lemak ini banyak ditemukan

pada minyak ikan dan nabati seperti saflower, jagung dan biji matahari ( Ratu Ayu,

2008 ).

Produksi fatty acid menggunakan bahan baku seperti PKO (Palm Kernel Oil),

RBDPO ( Refined Bleached Deodorized Palm Oil ), dan RBDPS ( Refined Bleached
2

Deodorized Palm Stearin ) yang dihasilkan oleh pabrik pabrik kelapa sawit. Industri

oleokimia adalah industri yang mengolah zat atau bahan yang berasal dari fraksi minyak

atau lemak nabati maupun hewani. Proses pengolahan fatty acid di PT. SOCI MAS

terdiri dari beberapa tahapan proses diantaranya proses hidrolisa, hidrogenasi, destilasi,

fraksinasi, granulasi, dan flaking.

Hidrogenasi adalah proses kimia pengolahan minyak atau lemak dengan jalan

menambahkan hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak ( fatty acid ), sehingga

akan meningkatkan tingkat kejenuhan minyak atau lemak itu sendiri. Proses hidrogenasi

merupakan proses tahap kedua setelah proses hidrolisa pada proses pengolahan fatty

acid di PT. SOCI MAS. Pada proses hidrogenasi ini menggunakan bahan baku RBDPS

yang pada tahap akhirnya menghasilkan produk stearic acid. Proses hidrogenasi ini

menggunakan hidrogen guna memutuskan ikatan rangkap dari asam lemak dan

menggunakan katalis nikel yang bertujuan agar reaksi berjalan efisien ( mempercepat

proses hidrogenasi ). Dalam menggunakan gas hidrogen pada proses hidrogenasi PT.

SOCI MAS Medan menggunakan sebuah perhitungan guna menyupplay gas hidrogen

untuk memutuskan ikatan rangkap. Tujuan dari tahapan proses hidrogenasi untuk

mendapat nilai IV ( iodine value ) yaitu 0,7 mgr/gr ( sesuai standard dari PT. SOCI

MAS ).

Dalam ilmu kimia, stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung

hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia ( persamaan kimia ).

Dalam proses hidrogenasi, stoikiometri ini digunakan untuk menghitung kebutuhan gas

hidrogen yang dibutuhkan dalam proses hidrogenasi yang sedang berjalan.


3

Dari uraian diatas maka penulis sangat tertarik untuk membahas judul karya

akhir sebagai berikut :

PERBANDINGAN KEBUTUHAN GAS HIDROGEN ANTARA

PERHITUNGAN TEKNIS PABRIK DAN STOIKIOMETRI PADA PROSES

HIDROGENASI DI PT. SOCI MAS MEDAN


4

B. Maksud dan Tujuan

1. Maksud

a. Untuk menghitung kebutuhan gas hidrogen secara stoikiometri dan secara

teknis pabrik pada proses hidrogenasi.

b. Untuk menghitung nilai IV fatty acid masuk dan IV fatty acid keluar dari

hasil proses hidrogenasi.

2. Tujuan

a. Untuk mengetahui perbandingan kebutuhan gas hidrogen secara

stoikiometri dan teknis pabrik pada proses hidrogenasi.

b. Untuk mengetahui perbandingan nilai IV fatty acid masuk dan IV fatty acid

keluar dari hasil proses hidrogenasi.

C. Kegunaan dan Manfaat

1. Kegunaan

a. Dapat mengetahui perbandingan kebutuhan gas hidrogen secara teknis

pabrik dan stoikiometri pada proses hidrogenasi.

b. Dapat mengetahui nilai IV fatty acid masuk dan nilai IV fatty acid keluar

pada proses hidrogenasi.

2. Manfaat

a. Dapat meminimalisasi pemakaian gas hidrogen yang dibutuhkan.

b. Dapat menjaga kualitas nilai IV yang didapatkan agar sesuai dengan nilai

standard pabrik yaitu 0,7 mgr/gr.


5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Oleokimia

Oleokimia merupakan bahan kimia yang berasal dari minyak/ lemak alami, baik

tumbuhan maupun hewani. Bidang keahlian teknologi oleokimia merupakan salah satu

bidang keahlian yang mempunyai prospek yang baik dan penting dalam teknik kimia.

Pada saat ini dan pada waktu yang akan datang, produk oleokimia diperkirakan akan

semakin banyak berperan menggantikan produk-produk turunan minyak bumi

( petrokimia ).

Industri oleokimia adalah industri yang menghasilkan bahan bahan kimia yang

berasal dari lemak/ minyak nabati. Sesuai dengan defenisi tersebut, maka dapat

diketahui bahwa oleokimia merupakan hasil modifikasi dari minyak atau lemak yang

berasal dari tumbuhan atau hewan.

Oleokimia dasar yang terpenting adalah amina asam lemak, alkohol asam lemak,

gliserol, dan metal ester dalam lemak. Dan dalam perkembangan selanjutnya diharapkan

reaksi oleokimia dapat digunakan sebagai bahan baku ( feedstock ), termasuk juga

dalam reaksi epoksidasi ( pembentukan cincin ), hidroformasi, hidrokarboksi, metilasi,

metatesi dan oksidasi ( Helen, 1997 ).


6

Produk oleokimia seperti asam lemak dan fatty alcohol banyak diminati industri

kosmetik, sabun, minyak goreng, mentega, pasta gigi, parfum, deterjen, tekstil, karet,

shampoo, lotion, obat obatan sebagai bahan baku dan pendukung. Sementara gliserin

juga digunakan pada pembuatan dinamit, farmasi, parfum, kosmetik, makanan, pelarut,

dan lainnya.

Dijelaskan juga bahwa produksi oleokimia dasar dunia menunjukkan

pertumbuhan yang terus meningkat dengan rata-rata kenaikan 2,8 persen per tahun,

yang berasal dari tallow sekitar 1,5 persen per tahun, sedangkan minyak sawit sekitar

1,3 persen. Ini merupakan suatu gambaran bahwa permintaan oleokimia produk sawit

pada masa mendatang cukup cerah ( Rita, 1996 ).

Oleokimia berupa asam lemak dan gliserol dapat dihasilkan dengan cara

hidrolisis dengan cara termik atau enzimatis. Teknologi yang ada sekarang yaitu

hidrolisis secara termik dengan menggunakan suhu dan tekanan yang tinggi, yaitu pada

tekanan uap 50 atm dan suhu 250 oC. Proses ini bukan hanya membutuhkan biaya

energi yang tinggi, tetapi juga dapat menghasilkan warna yang tidak diinginkan yang

mana harus dipisahkan dari produk asam lemak. Masalah ini dapat ditangani dengan

cara menghidrolisis minyak secara enzimatis dengan menggunakan lipase ( Wang et al.,

1987 )
7

B. Asam Lemak

Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian.

Umumnya berface cair atau padat pada suhu ruang ( 27 oC ). Semakin panjang rantai C

penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut.

Asam lemak jenuh ( Saturated Fatty Acid/ SFA ) adalah asam lemak yang tidak

memiliki ikatan rangkap pada atom karbon. Asam lemak tak jenuh tunggal ( Mono

Unsaturated Fatty Acid/ MUFA ) merupakan jenis asam lemak yang mempunyai 1

ikatan rangkap pada rantai atom karbon. Asam lemak ini tergolong dalam asam lemak

rantai panjang, yang kebanyakan ditemukan dalam minyak zaitun, minyak kedelai,

minyak kacang tanah, minyak biji kapas, dan kanola. Asam lemak tak jenuh jamak

( Poly Unsaturated Fatty Acid/ PUFA ) adalah asam lemak yang mengandung dua atau

lebih ikatan rangkap, bersifat cair pada suhu kamar bahkan tetap cair pada suhu dingin,

karena titik lelehnya lebih rendah dibandingkan dengan MUFA atau SFA. Asam lemak

ini banyak ditemukan pada minyak ikan dan nabati seperti saflower, jagung dan biji

matahari ( Ratu Ayu, 2008 ).

Kebanyakan lemak dan minyak yang terdapat dalam alam merupakan

trigliserida campuran, artinya ketiga bagian asam lemak dari gliserida itu tidaklah sama.

Tabel 2.1. memaparkan beberapa asam lemak yang representatif, dan Tabel 2.2.

menunjukkan komposisi asam lemak dari beberapa trigliserida hewani dan nabati.
8

Tabel 2.1. Asam Lemak Pilihan Dan Sumbernya

Nama Asam Struktur Sumber


Jenuh :
Butirat CH3(CH2)2CO2H Lemak susu
Palmitat CH3(CH2)14CO2H Lemak
Stearat CH3(CH2)16CO2H hewani dan
nabati
Lemak
hewani dan
nabati
Tak Jenuh :
Palmitoleat CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7CO2H Lemak
hewani dan
nabati
Oleat CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7CO2H Lemak
hewani dan
nabati
Linoleat CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H Minyak
nabati
Linolenat CH3CH2CH=CHCH2CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H Minyak biji
rami
Arakidonat CH3(CH2)4(CH=CHCH2)4(CH2)2CO2H Minyak
nabati
Sumber : Fessenden & Fessenden, 1986
9

Tabel 2.2. Komposisi Kasar Asam Lemak Dari Beberapa Minyak dan Lemak
Yang Lazim

No Komposisi ( % )
1. Sumber Palmitat Stearat Oleat Linoleat
2. Minyak jagung 10 5 45 38
3. Minyak kedelai 10 - 25 55
4. Minyak babi 30 15 45 5
dimurnikan
5. Mentega 25 10 35 -
6. Lemak manusia 25 8 46 10
Sumber : Fessenden & Fessenden, 1986

1. Asam Lemak Jenuh

Asam lemak jenuh adalah asam lemak dimana semua atom karbon sekurang

kurangnya berikatan dengan dua atom hidrogen dan tidak mempunyai ikatan rangkap.

Jumlah atom C asam lemak berhubungan erat dengan titik didih dan titik cair suatu

lemak. Semakin banyak jumlah atom C nya atau semakin panjang rantai atom asam

lemak, titik didih semakin tinggi. Umumnya bersifat padat, titik cairannya lebih tinggi

dibandingkan asam lemak tidak jenuh.

Minyak dengan kandungan asam lemak jenuh ini sulit mengikat gugus fungsi

bila dilakukan reaksi substitusi terhadapnya karena mempunyai atom C ikatan tunggal.

Penggunaan asam lemak jenuh biasanya sebagai bahan baku pembuatan cat.

Asam lemak dengan jumlah atom C lebih dari 10 umumnya berbentuk padat dan

titik cairnya lebih tinggi dibandingkan asam lemak tidak jenuh. Perbedaan titik didih

antara asam lemak jenuh membuat suatu pemisahan dengan cara fraksinasi destilasi.
10

Melting point akan naik jika panjang rantai karbon berrtambah. Beberapa contoh asam

lemak jenuh yang terdapat dalam minyak sawit seperti pada tabel 2.3.

Tabel 2.3. Asam Lemak Jenuh Dalam Minyak Sawit

No. Nama Struktur Titik Lebur


( oC )
1. Asam Kaprilat CH3(CH2)6COOH 16,7
2. Asam Kaproat CH3(CH2)8COOH -1,5
3. Asam Laurat CH3(CH2)10COOH 44,2
4. Asam Miristat CH3(CH2)12COOH 54,4
5. Asam Palmitat CH3(CH2)14COOH 63,1
6. Asam Stearat CH3(CH2)16COOH 69,9
7. Asam Arachidat CH3(CH2)18COOH 75,5
Sumber : Fessenden, 1986

Asam lemak jenuh banyak ditemukan pada lemak hewani. Asam lemak yang

masih mengandung ikatan rangkap dapat dijenuhkan, salah satunya dengan proses

hidrogenasi. Dimana asam lemak dari proses hidrolisa direaksikan dengan hidrogen

dengan bantuan katalis dapat menghasilkan asam lemak yang jenuh.

2. Asam Lemak Tidak Jenuh

Asam lemak tidak jenuh mempunyai ikatan rangkap pada rantai karbonnya.

Umumnya berbentuk cair dan banyak dijumpai pada minyak nabati, yaitu 80 % bagian

dari 100 %. Derajat ketidakjenuhan asam lemak bergantung pada jumlah rata rata

ikatan rangkap asam lemak. Semakin banyak ikatan rangkap semakin besar

ketidakjenuhannya dari asam lemak tersebut yang berarti semakin rendah titik cair dari
11

asam itu. Derajat ketidakjenuhan asam lemak ditentukan sebagai jumlah iod yang

diabsorbsi oleh materil atau asam lemak dalam berat tertentu.

Asam lemak tidak jenuh terbagi atas dua menurut ketidakjenuhannya :

a. Asam lemak tidak jenuh tunggal misalnya asam oleat, asam palmitat

b. Asam lemak tidak jenuh banyak misalnya asam linoleat, linolenat, dan asam

arakidonat

Adapun asam lemak tidak jenuh pada minyak kelapa sawit seperti pada tabel

2.4. dibawah ini :

Tabel 2.4. Asam Lemak Tidak Jenuh Minyak Sawit

No Asam Struktur Titik


Lebur
( oC )
1. Oleat CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH 15,3
2. Linoleat CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H -5

3. Linolenat CH3CH2CH=CHCH2CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H -11

4. Erukat CH3(CH2)7=CH(CH2)11COOH 31
5. Arakidonat CH3(CH2)4(CH=CHCH2)4(CH2)2CO2H -49,5

Sumber : S. Ketaren, 1986

Kegunaan asam lemak tidak jenuh adalah untuk mencegah penyempitan

pembuluh darah, akibat penumpukan kolesterol ( Winarno, 1980 ), dan untuk

mempertahankan kekenyalan kulit wajah, sehingga kulit wajah tidak cepat keriput
12

( Anonim, 1997 ). Oleh karena itu mengkonsumsi asam lemak yang berasal dari lemak

nabati adalah lebih baik untuk kesehatan tubuh. Karena lebih banyak mengandung asam

lemak tidak jenuh, lebih murah dan gampang untuk diperoleh.

C. Minyak Kelapa Sawit

Salah satu dari tanaman golongan palmae yang dapat menghasilkan minyak

adalah kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq ) yang terdiri atas empat macam varietas,

yaitu Macrocaryo, Dura, Tenera, dan Pisifera. Masing masing varietas dibedakan

berdasarkan tebal tempurungnya.

Menurut Salunkhe et al. (1992), dari buah kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq)

mengandung dua macam minyak yaitu minyak kelapa sawit kasar dan minyak inti

sawit. Minyak kelapa sawit kasar ( CPO ) diperoleh dari daging buah kelapa sawit

sedangkan minyak inti sawit ( PKO ) berasal dari inti atau biji buah kelapa sawit.

Minyak sawit telah banyak digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan

non pangan. Sebagai bahan baku industri pangan, minyak sawit banyak digunakan

sebagai minyak makan dalam bentuk minyak goreng, margarine, shortening dan

sebagainya, sedangkan untuk industri non pangan minyak sawit banyak digunakan

sebagai bahan baku industri farmasi, industri sabun dan kosmetik dan bahan baku

oleokimia ( Naibaho, 1990 ).

Menurut Ketaren ( 1986 ), kelapa sawit mengandung sekitar 80 % perikarp dan

20 % buah yang dilapisi kulit yang tipis. Kadar minyak dalam perikarp sekitar 34 40

%. Tahapan penting dalam proses pengolahan minyak sawit adalah sterilisasi,

pengupasan, penghancuran, ekstraksi, klarifikasi, dan pemurnian. Pada tabel 2.5. dapat
13

dilihat komposisi asam lemak yang terkandung di dalam minyak sawit kasar dan

minyak sawit inti.

Tabel 2.5. Komposisi Asam Lemak Minyak Sawit Kasar dan Minyak Inti Sawit

No. Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit Minyak Inti Sawit


(%) (%)
1. Asam Kaprilat - 3-4
2. Asam Kaproat - 3-7
3. Asam Laurat - 46-52
4. Asam Miristat 1,1-2,5 14-17
5. Asam Palmitat 40-46 6,5-9
6. Asam Stearat 3,6-4,7 1-2,5
7. Asam Oleat 39-45 13-19
8. Asam Linoleat 7-11 0,5-2
Sumber : Eckey ( 1955 )

Minyak olahan kelapa sawit yang telah melalui proses pemucatan dan

penghilangan bau ( Deodorized ) adalah bahan baku yang sering digunakan sebagai

bahan baku industri oleokimia. Minyak olahan kelapa sawit itu ialah RBDPS ( Refined

Bleached Deodorized Palm Stearin ), RBDPS ini yang selanjutnya akan dipakai sebagai

bahan baku dalam proses hidrogenasi di proses pengolahan fatty acid di PT. SOCI

MAS.

D. RBDPS ( Refined Bleached Deodorized Palm Stearin )

Crude Palm Oil ( CPO ) termasuk golongan lemak dan merupakan bahan baku

pembuatan RBDPS ( Refined Bleached Deodorized Palm Stearin ). Secara umum

pembuatan dan pemurnian RBDPS melalui tahapan pengolahan awal CPO yang
14

mencakup tahapan degumming dan pemucatan ( bleaching ), deodorisasi dan fraksinasi

basah atau kering fraksi olein dan stearin ( RBDPS ). Pengolahan ini bertujuan untuk

menekan kandungan impurities ( bahan pengotor ) serendah mungkin, sehingga dapat

digunakan sebagai bahan pembuatan asam stearat berbasis RBDPS ( C18 = 37 42 % ).

Pada PT. SOCI MAS Medan menggunakan bahan baku PKO (Palm Kernel Oil)

dan RBDPS ( Refined Bleached Deodorized Palm Stearin ) dalam menghasilkan asam

lemak. Bahan baku tersebut dihidrolisa untuk menghasilkan asam lemak yang

selanjutnya dihidrogenasi untuk menjenuhkannya.

Pada tabel berikut ini adalah spesifikasi raw material di PT. SOCI MAS Medan.

Tabel 2.6. Spesifikasi Raw Material SOCIMAS


No. PKO ( % ) RBDPS (%)

1. C6 ( Asam Kaproat ) - -

2. C8 ( Asam Kaprilat ) 3 -

3. C10 ( Asam Kaprat ) 3 -

4. C12 ( Asam Lauroleinat ) 48 0,1

5. C14 ( Asam Miristat ) 16 1,3

6. C16 ( Asam Palmitat ) 9 58-62

7. C18 ( Asam Stearat ) 2 4,2

8. C18F1 ( Asam Oleat ) 16 25,9

9. C18F2 ( Asam Linoleat ) 3 6,4

10. C20 ( Asam Arakidat ) - -

Sumber : PT. SOCI MAS Medan, 2012


15

E. Hidrogen

Pada bumi kita, hidrogen tidak terdapat dalam bentuk unsur dengan jumlah yang

berarti, beberapa gas gunung-api mengandung hidrogen unsur, dalam atmosfer terdapat

runutan, tetapi agaknya kurang daripada 0,0001 persen. Meskipun hidrogen unsur

sangat langka dalam atmosfer bumi ini, hidrogen merupakan unsur yang paling

berlimpah dalam jagad raya sebagai suatu keseluruhan. Misalnya, hidrogen unsur

merupakan 75 persen dari massa matahari.

Senyawa hidrogen tersebar luas dalam alam. Praktis semua senyawaan organik

mengandung hidrogen. Jadi, gula, pati, lemak, selulosa, protein, batubara, gas alam,

bensin, minyak bakar, minyak tanah, dan minyak pelumas semuanya mengandung

hidrogen. Air, suatu senyawa anorganik, merupakan senyawa hidrogen yang paling

melimpah di bumi.

Terdapat tiga isotop hidrogen yang dikenal 1H, 2H dan 3H. Dari semua atom

hidrogen yang terdapat dalam alam, 99,98 persen adalah jenis 1H, sekitar 0,02 persen
2
H, dan 3H tak terhingga sedikitnya. Isotop hidrogen tidak mirip satu sama lain, tidak

seperti isotop-isotop unsur lain, karena selisih bobotnya besar secara persentase. Karena

Alasan ini, isotop hidrogen mempunyai nama sendiri-sendiri, sedangkan isotop unsur-

unsur lain cukup ditandai oleh nomor massanya. Tabel 2.7. memaparkan nama lambang

khusus, dan beberapa sifat isotop hidrogen.


16

Tabel 2.7. Isotop Hidrogen

1H atau H 2H atau D 3H atau T tritium

protium deuterium

Massa atom,sma 1,0078 2,0141 3,0160

Titik beku , oC -259,1 -254,4

Titik didih, oC -252,7 -249,6

Kestabilan inti Stabil Stabil Tak stabil; separuhnya

akan meluruh dalam 12,3

tahun

Sumber : Keenan, dkk, 1995

Hidrogen merupakan salah satu zat yang terpenting dalam deretan bahan-bahan

kimia. Produksi hidrogen di Amerika Serikat meningkat sekitar 15 persen tiap tahun
13
sejak Perang Dunia II. Dari Produksi dunia dewasa ini, yang diperkirakan sekitar 10

kaki kubik standar, lebih dari sepertiganya dihasilkan di Amerika Serikat.

Suatu reaksi hidrogen yang penting dan menarik adalah kecenderungannya

untuk mengadisi ikatan rangkap dan gandatiga yang menghubungkan dua atom karbon.

Reaksi ini, yang disebut hidrogenasi, digunakan secara meluas dalam produksi lemak

dapur yang padat, produk minyak bumi, dan bahan kimia organik sintetik lain.

Lazimnya suatu logam yang dibubuk lembut seperti nikel atau platinum harus hadir

sebagai katalis untuk reaksi itu. Hidrogenasi dilukiskan secara bagan dalam persamaan

berikut :
17

C=C + H2 katalis CC

H H
Gambar Bagan Persamaan Reaksi Hidrogenasi

F. Proses Produksi Asam Lemak

Proses pembuatan fatty acid pada PT. SOCI MAS Medan terbagi menjadi dua

bagian berdasarkan bahan baku yang digunakan. Adapun untuk bahan baku RBDPS

proses yang dilakukan adalah splitting #100, hydrogenation #200, distilllation #300,

granulation #800, dan flaking #810, #820, #830, sedangkan untuk bahan baku PKO,

proses yang dilakukan hanyalah splitting #400, fractionation #500m dan flaking #810,

#820, #830. Selanjutnya kedua hasil olahan ini menuju ke proses pengepakan. Proses

pengolahan ini dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Proses hidrolisa

Proses hidrolisa ( Splitting ) adalah pemisahan Fatty Acid ( asam lemak ) dan

gliserin dari minyak ( trigliserida ) yang direaksikan dengan air dan akan

memperoleh hasil samping berupa Free Fatty Acid, Gliserin Mono dan Digliserida

yang dapat dihilangkan melalui proses destilasi.

2. Proses Hidrogenasi

Hidrogenasi adalah proses kimia pengolahan minyak atau lemak dengan jalan

menambahkan hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak ( Fatty Acid ),

sehingga akan meningkatkan tingkat kejenuhan minyak atau lemak itu sendiri.
18

Penggunaan katalis diperlukan agar reaksi yang berjalan efisien ( mempercepat

proses Hidrogenasi ) pada temperatur tertentu ( 178 220 oC ). Di PT. SOCI MAS

media katalis yang digunakan adalah Nikel ( Ni ). Proses Hidrogenasi sering juga

disebut sebagai proses melepaskan energi.

3. Proses Destilasi

Destilasi adalah proses pemurnian Fatty Acid berdasarkan titik didih pada

temperatur tertentu yang berguna untuk memperbaiki warna Fatty Acid,

menghilangkan bau tengik dan mengurangi kadar air yang terkandung pada Fatty

Acid tersebut. Media pemanas yang digunakan pada proses destilasi di PT. SOCI

MAS adalah Thermal Oil dengan temperatur mencapai 290 oC.

4. Proses Fraksinasi

Fraksinasi adalah suatu proses yang mengubah Fatty Acid menjadi kombinasi

tunggal, dalam hal ini proses berdasarkan ketentuan persen berat. Proses pengolahan

yang terjadi pada unit fraksinasi yang bertujuan untuk memisahkan berdasarkan

fraksi fraksi berdasarkan titik didih.

5. Proses Granulasi

Granulasi adalah proses pengkristalan Fatty Acid dimana Fatty Acid liquid

( cair ) berubah menjadi padat ( solid ) dalam bentuk butiran. Didalam kolom C-801

terdapat saringan ( Sprayer Nozzle ) yang berdiameter 0,5 mm yang berfungsi untuk

menyaring Fatty Acid cair dari atas kolom menjadi percikan percikan kecil yang

kemudian pada dasar kolom dialirkan udara dingin yang dihasilkan dari B-202 yang
19

berasal dari E-801 sehingga percikan Fatty Acid cair tersebut akan berkontak

langsung dengan udara sehingga akan berbentuk butiran butiran Fatty Acid padat.

6. Proses Flaking

Proses flaking adalah proses pengkristalan Fatty Acid dimana Fatty Acid

Liquid ( cair ) berubah menjadi padat ( solid ) dalam bentuk lempengan. Proses ini

sama seperti proses granulasi hanya saja produk yang dihasilkan berbentuk

lempengan. Dimana Fatty Acid yang berada pada wadahnya akan berputar

mengikuti putaran drum yang berisi air dingin dengan temperatur 12 17 oC dan

Fatty Acid akan menjadi solid dengan sendirinya yang disebabkan oleh air dingin

tersebut, maka Fatty Acid Solid akan membentuk ketebalan pada dinding drum dan

pada saat ketebalan tertentu ( sesuai yang diinginkan ) Fatty Acid Solid akan

terpotong oleh pisau yang akan membentuk Fatty Acid Solid menjadi lempengan

lempengan.

G. Proses Hidrogenasi

Menurut Ketaren ( 1986 ), hidrogenasi adalah proses pengolahan minyak atau

lemak dengan jalan menambahkan hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak,

sehingga akan mengurangi tingkat ketidakjenuhan minyak atau lemak. Proses

hidrogenasi terutama bertujuan untuk membuat minyak atau lemak bersifat plastis.

Adanya penambahan hidrogen pada ikatan rangkap minyak atau lemak dengan

katalisator akan mengakibatkan kenaikan titik cair.

Hidrogenasi minyak dan lemak merupakan salah satu reaksi kimia terbesar

dalam industri pengolahan minyak lemak. Secara sederhana, hidrogenasi merupakan


20

proses penambahan hidrogen ke dalam rantai etilen atau ikatan rangkap asam lemak

dengan bantuan katalis logam. Proses hidrogenasi adalah proses penambahan hidrogen

pada ikatan rangkap di minyak atau lemak dengan menggunakan bantuan katalis,

biasanya nikel. Hidrogenasi menghasilkan dua hal, yaitu meningkatkan titik cair

( melting point ) lemak atau minyak dan meningkatkan ketahanan terhadap proses

oksidasi dan penurunan rasa. Hidrogenasi yang dilakukan untuk mengubah minyak dari

bentuk cair menjadi bentuk semi padat atau lemak plastis, biasa digunakan pada industri

shortening dan mentega.

Reaksi hidrogenasi dilakukan dengan menggunakan hidrogen murni dan

ditambahkan katalisator. Setelah proses hidrogenasi selesai, minyak didinginkan dan

katalisator dipisahkan dengan cara penyaringan. Hasilnya adalah minyak yang bersifat

plastis atau keras, tergantung derajat kejenuhannya ( Ketaren, 1986 ).

Faktor faktor yang mempengaruhi rendemen dan kecepatan reaksi proses

hidrogenasi adalah sebagai berikut :

1. Tekanan dan Suhu

Kedua faktor ini paling mempengaruhi proses hidrogenasi. Jika waktu

hidrogenasi yang diinginkan sangat singkat maka tekanan yang digunakan minimal

20 atm. Pada suhu antara 100 180 oC kecepatan reaksi meningkat dengan cepat,

namun peningkatan kecepatan reaksi ini akan terhenti pada suhu 220 oC.

2. Kemurnian gas hidrogen dan waktu kontak minyak dengan hidrogen

Hidrogen yang akan digunakan untuk proses hidrogenasi harus murni, jika

tidak maka akan membahayakan efisiensi katalis. Oleh karena itu maka gas hidrogen
21

dengan kemurnian di atas 99,9 % sangat penting, namum kemurnian di atas 99,9 %

sangat diharapkan. Sehingga kehadiran karbon monoksida ( CO ) dalam hidrogen

akan meracuni katalis pada suhu rendah ( 150 180 oC ).

3. Jenis katalis

Katalisator yang dapat digunakan pada proses hidrogenasi adalah palladium,

platina, copper chromite, dan nikel. Namun katalis nikel telah terbukti sebagai tipe

katalis yang paling cocok untuk hidrogenasi dan sering digunakan dalam proses

hidrogenasi karena lebih ekonomis dan lebih efisien.

Katalis sangat rentan mengalami keracunan yang disebabkan oleh komponen

sulfur, asam lemak bebas, sabun, dan fosfatida dalam minyak. Dalam beberapa

kasus, keracunan tersebut dapat diminimisasi melalui penambahan bleaching earth

teraktivasi.

4. Sifat sifat dan kemurnian minyak yang akan dihidrogenasi

Biasanya minyak dihidrogenasi jika sifat-sifat fisik dan kimia gliserida pada

suatu minyak ingin dimodifikasi, misalnya minyak menjadi lebih padat

(pengerasan). Minyak yang akan dihidrogenasi adalah minyak atau asam asam

lemak yang telah mengalami proses pemurnian. Minyak yang akan dihidrogenasi

seharusnya adalah minyak yang telah dinetralisasi dan dipucatkan, mengandung

sabun dalam jumlah yang sangat sedikit ( di bawah 25 ppm ), serta kering. Hal ini

untuk mencegah keracunan katalis dan mengurangi selektivitas. Asam lemak bebas,

sabun, dan air bersifat racun bagi katalis sehingga mengurangi aktivitas katalis dan

selektivitas.
22

Pada proses hidrogenasi di PT. SOCI MAS Medan kebutuhan gas hidrogen

yang diperlukan untuk menghidrogenasi ikatan rangkap yang terdapat pada fatty acid

dihitung dengan menggunakan rumus yang sudah menjadi ketetapan di PT. SOCI MAS

Medan. Rumus yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan gas hidrogen yaitu :

H2 Consumption = ( IV Raw Material IV Target ) x Feed

Dimana :

Feed : laju umpan ( m3/ jam )

IV Raw Material : sesuai spesifikasi PT. SOCI MAS

IV Target : sesuai spesifikasi PT. SOCI MAS

Proses keberhasilan untuk hidrogenasi adalah nilai IV maks ( Iodine Value )

0,7, dimana nilai IV maks ini menjadi ketetapan dalam PT. SOCI MAS yaitu menjadi

IV Target.

Sebelum memulai proses hidrogenasi, nilai IV Raw Material yang akan

diproses terlebih dahulu dihitung agar sesuai dengan kebutuhan gas hidrogen yang

dibutuhkan. Untuk mendapatkan nilai IV Raw Material ini, digunakan rumus yang

menjadi rumus baku yang dipakai PT. SOCI MAS untuk menghitung nilai IV. Rumus

yang digunakan adalah :

IV Raw Material = ( 1,8 x C18F2 ) + ( 0,9 x C18F1 ).


23

H. Tahap Hidrogenasi

Proses hidrogenasi dilakukan secara berkesinambungan pada tekanan tinggi

( 20,5 kg/cm2 ), dimana suhu akan meningkat diakibatkan oleh reaksi eksotermik

( reaksi yang mengeluarkan panas ). Hasil hidrogenasi adalah asam lemak jenuh dengan

nilai bilangan iod yang rendah.

Proses produksi fatty acid di PT. SOCI MAS Medan, sebelumnya pada jalur

hidrogen dibersihkan dengan gas nitrogen yang bertujuan agar kadar oksigen pada jalur

< 0,1 %. Tekanan gas hidrogen yang digunakan tetap dikontrol pada 5 kg/cm2 oleh

instrument kontrol untuk menjaga tekanan di hidrogenator ( C-202 ) stabil. Proses

hidrogenasi dilakukan dengan cara membagikan aliran asam lemak menjadi dua aliran

terlebih dahulu yaitu aliran pertama yang akan menuju D-205 ( vessel pencampuran

katalis ) dan aliran kedua melalui pompa 203 akan menuju ke percabangan dimana

dalam percabangan tersebut tempat bertemunya asam lemak dan gas hidrogen yang

berasal dari CP-201 A/B ( kompresor gas hidrogen ).

Di D-205 asam lemak dan nikel katalis akan bertemu dengan aliran kedua di

perpipaan bagian bawah hidrogenator. Sebelum bertemu dengan aliran pertama, aliran

kedua dipanaskan terlebih dahulu di E-205. Di D-205 asam lemak, nikel katalis dan

BHT dicampur dengan agitator ( AG-D205 ) guna membuat campuran berbentuk slurry.

Slurry yang terbentuk ditekan dengan pompa P-204 A/B lalu dicampurkan dengan asam

lemak dan gas hidrogen pada pipa masuk di line hidrogenator. Kemudian diinjeksikan

ke hidrogenator melalui nozzle ( pipa pancaran ) yang berada pada bagian bawah
24

menara. Hidrogenator C-202 mempunyai 11 Tray yang berfungsi untuk memperlambat

waktu laju liquid ( FA ).

Setelah diaduk aduk secara menyeluruh sampai terjadi proses reaksi

hidrogenasi, selanjutnya campuran mengalami pematangan dan membumbung naik

dalam menara. Campuran dikeluarkan dari bagian atas menara lalu ditransfer ke

pendingin awal ( E-204 A/B ).

Pada pendingin awal, kalor HFA yang disebabkan oleh reaksi hidrogenasi

dibuang dengan mengaktifkan level steam 3 bar dari E-204 A/B yang dikontrol dengan

instrument kontrol level. Setelah dari E-204 A/B, HFA mengalami pendinginan lanjut di

E-206 A/B dan kalor dihilangkan dengan mengaktifkan uap steam.

Di pemisahan hidrogen ( D-201 ), gas hidrogen yang masih tertinggal setelah

reaksi dipisahkan dari HFA dan katalis nikel. Gas hidrogen dari D-201 dikirim ke Drain

Seperator ( D-206 ) dan kemudian dikembalikan ke line sirkulasi gas untuk penggunaan

kembali. Slurry dari HFA + katalisator nikel tetap dijaga dengan mempertahankan

levelnya terus konstan dari instrument kontrol dan dialirkan ke degasser ( D-202 ).

Di degasser ( D-202 ), gas hidrogen yang larut dalam HFA dipisahkan dari

katup vent ( V-201 ). Slurry dari HFA + katalisator nikel ditransfer ke bejana penyaring

( D-203 ) dan disaring oleh penyaring/ funda filter ( F-201/ F-202 ). Setelah disaring

HFA ditransfer via line No. 202 H ke setiap tangki HFA sebagai produk.
25

I. Stoikiometri

Dalam prosedur gravimetri yang lazim, suatu endapan ditimbang, dan dari nilai

ini bobot analit dalam sampel dihitung. Maka persentase analit A adalah :


% = 100

Untuk menghitung bobot analit dari bobot endapan sering digunakan faktor gravimetri.

Faktor ini didefenisikan sebagai berapa gram analit dalam 1 g ( atau ekuivalennya 1 g )

endapan. Perkalian bobot endapan, P, dengan faktor gravimetri memberikan banyaknya

analit dalam gram dalam sampel.

Bobot A = bobot P x faktor gravimetri

Maka


% = 100

J. Bilangan Iod

Asam lemak yang tidak jenuh dalam minyak dan lemak mampu menyerap

sejumlah iod dan membentuk senyawa yang jenuh. Besarnya jumlah iod yang diserap

menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tidak jenuh.

Bilangan iod ( Iodine Value/ IV ) adalah suatu ukuran yang menyatakan

ketidakjenuhan daripada minyak industri dan dinyatakan dalam istilah gr iodium

terserap per 100 gr contoh ( % iod terserap ). Dalam proses fully hidrogenasi, iodine

value harus 0,7.


26

Kecepatan reaksi antara asam lemak tidak jenuh dengan halogen tergantung

pada macam halogen dan struktur asam lemak. Dalam urutan iod > brom > flour > klor,

menunjukkan bahwa semakin ke kanan, reaktivitasnya semakin bertambah. Penentuan

bilangan iod biasanya menggunakan cara Hanus, Kaufmann dan Wijs. Perhitungan

bilangan iod dari masing masing cara tersebut adalah sama. Semua cara ini

berdasarkan atas prinsip titrasi, dimana pereaksi halogen berlebih ditambahkan pada

contoh yang akan diuji. Setelah reaksi sempurna, kelebihan pereaksi ditetapkan

jumlahnya dengan cara titrasi.

Faktor faktor yang harus dikendalikan adalah temperatur pemanasan sebelum

kolom hidrogenasi, tingkatan aliran gas hidrogen yang ditambahkan, dan tekanan gas

hidrogen sebagai inert gas untuk menjaga agar tekanan hidrogenator tetap sebab

tekanan akan berkurang setelah terjadinya reaksi.

Rumus perhitungan iodine value adalah :

( ) 0,1 12,69
=

Keterangan :

A = Volume Blangko ( ml )

B = Volume Sampel ( ml )

C = Berat Sampel ( gr )

0,1012 = Normalitas Na2S2O3

12,69 = 1/10 berat Eqiuvalent Iodine


27

K. Proses Hidrolisis

Hidrolisis minyak dan lemak merupakan suatu proses industri yang penting.

Produk dari proses tersebut yang berupa asam lemak dan gliserol adalah bahan baku

dasar untuk berbagai aplikasi. Asam lemak digunakan sebagai bahan baku untuk

produksi oleokimia seperti alkohol lemak, amin lemak, dan ester lemak. Asam lemak

juga digunakan dalam penyusunan berbagai macam produk, seperti sabun, deterjen,

surfaktan, pelumas, plasticizers, cat, coating, obat obatan, makanan, produk perawatan

pertanian, industri dan pribadi ( Satyarthi J.K, et al, 2011 ). Dalam proses industri yang

ada pada saat ini, minyak sawit mentah dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol

pada 250 oC dan tekanan 50 bar selama 2 jam untuk mencapai konversi 96 99 %.

Nisbah air terhadap minyak yang digunakan bervariasi pada rentang 0,4 1,5 (w/w),

dengan kondisi tersebut, polimerisasi lemak dan pembentukan produk samping akan

terjadi sehingga dihasilkan asam lemak yang berwarna sangat gelap dan larutan gliserol

yang tidak berwarna. Pemurnian lebih lanjut dengan distilasi diperlukan untuk

menghilangkan warna dan pemisahan hasil samping tersebut. Hidrolisis yang diikuti

distilasi untuk memurnikan merupakan proses yang memerlukan energi yang sangat

besar.

Pada akhir proses hidrolisis, asam lemak dan gliserol akan terpisah pada fasa

yang berbeda. Kegunaan asam lemak terutama adalah sebagai bahan baku dalam

industri makanan dan kosmetik, sedangkan gliserol dapat digunakan sebagai pelarut,

sebagai bahan baku dalam industri obat obatan, industri makanan, dan industri bahan
28

peledak. Beberapa faktor yang mempengaruhi proses hidrolisis adalah suhu, katalis,

perbandingan pereaksi, waktu reaksi dan pengadukan ( Mahargiani, T., 2003 ).

Reaksi hidrolisis CPO menjadi asam lemak ini merupakan reaksi dua arah

( reversible ) heterogen, karena fasa minyak dan fasa air tidak saling larut. Reaksi

hidrolisis terjadi di fasa minyak, dan untuk mencapai fasa minyak molekul air harus

berdifusi dahulu ke fasa minyak. Pada reaksi hidrolisis CPO ini peristiwa difusi molekul

air ke fasa minyak berlangsung relatif lebih cepat dibandingkan reaksi yang terjadi,

sehingga laju reaksi secara keseluruhan dikendalikan oleh laju reaksi kimia

( Mahargiani, T., 2003 ).

L. Asam Stearat

Asam stearat adalah campuran asam organik padat yang diperoleh dari lemak

sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat C18H36O2, dan asam heksadekanoat

C16H32O2 ( Ditjen POM, 1979 ).

Asam lemak ini merupakan asam lemak jenuh, wujudnya padat pada suhu ruang.

Asam stearat diproses dengan memperlakukan lemak hewan dengan air pada suhu dan

tekanan tinggi. Asam ini dapat pula diperoleh dari hidrogenasi minyak nabati. Dalam

bidang industri asam stearat dipakai sebagai bahan pembuatan lilin, sabun, plastik,

kosmetika, dan untuk melunakkan karet ( Anonim, 2010 ).

Kelarutan : Sangat sedikit larut dalam air, larut dalam alkohol, benzena,

kloroform,aseton, karbon tetraklorida, karbon disulfida, amil asetat dan toluen ( Merck,

1976 ).

Titik lebur dan titik didih : 54 oC dan 384 oC


29

BAB III

PERMASALAHAN POKOK

A. Gambaran Masalah

Hidrogenasi adalah proses kimia pengolahan minyak atau lemak dengan jalan

menambahkan hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak ( Fatty Acid ), sehingga

akan meningkatkan tingkat kejenuhan minyak atau lemak itu sendiri. Penggunaan

katalis diperlukan agar reaksi yang berjalan efisien ( mempercepat proses Hidrogenasi )

pada temperatur tertentu ( 178-220 oC ). Media katalis yang digunakan adalah Nikel

( Ni ). Proses hidrogenasi sering juga disebut sebagai proses melepaskan energi.

Agar proses hidrogenasi berjalan dengan baik beberapa faktor-faktor yang

penting harus diperhatikan sebelum memulai proses hidrogenasi ini. Faktor- faktor yang

harus diperhatikan pada proses ini yaitu temperatur, aliran, dan juga tekanannya.

Temperatur yang perlu diperhatikan pada proses ini yaitu antara 178-220 oC, kondisi

operasi tekanan pada kolom hidrogenasi sebesar 20,5 Kg/cm2 dan aliran hidrogen harus

diperhatikan agar berjalan dengan baik.

Selain faktor-faktor diatas ada juga beberapa hal yang harus diperhatikan

sebelum memulai proses hidrogenasi diantaranya memastikan RO tidak mengandung

air, memastikan kondisi drain, memastikan kondisi dryer, melihat persediaan katalis

sekaligus melihat katalis berjalan dengan baik. Itu semua dilakukan dengan tujuan untuk

mencapai IV yang baik. Untuk mendapatkan nilai IV yang maksimal pada proses
30

hidrogenasi perlu dijaga kondisi operasi yang baik pada unit hidrogenator. Agar proses

hidrogenasi yang berlangsung didalam kolom hidrogenasi section 200 PT. SOCIMAS

berjalan dengan sempurna maka perbandingan laju umpan antara hidrogen, fatty acid,

dan katalis harus diperhatikan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian gambaran permasalahan diatas, penulis membuat rumusan

masalah yang terkait dengan pokok permasalahan diatas, maka yang menjadi rumusan

masalahnya adalah :

1. Berapakah perbandingan kebutuhan gas hidrogen secara teknis pabrik dan

stoikiometri pada proses hidrogenasi ?

2. Berapakah nilai IV fatty acid yang keluar pada proses hidrogenasi ?


31

BAB IV

MATERI DAN METODE

A. Materi

1. Bahan dan Peralatan Pada Proses Hidrogenasi

Adapun bahan dan alat yang diamati pada kerja praktek di lapangan adalah :

a. Bahan Dasar

1) Asam lemak produk dari proses splitting ( PSOFA )

2) Katalis nikel

3) Hidrogen

4) Filter Aid

5) Zat aditif BHT ( Butil Hidroksida Toluena )

b. Peralatan

1) Cat mixing vessel ( D-203 )

Dalam drum ini merupakan tempat pencampuran antara asam lemak dan nikel

katalis. Dalam drum ini fatty acid di mixing dengan bleaching earth kemudian di

filter melalui funda filter, adapun banyaknya bleaching earth yang dipakai lebih

kurang 10 kg/ jam.

2) Hidrogenarator ( C-202 )

Dalam kolom hidrogenasi ini berlangsung reaksi hidrogenasi antara asam lemak

tidak jenuh dengan gas hidrogen dengan bantuan katalis nikel.


32

Spesifikasi :

Kapasitas : 300 m3/hour

Temperatur : Max 220oC

Tekanan : 20,5 kg/cm2

3) Dryer Heater ( E-201 )

Berfungsi untuk pemanasan pendahuluan asam lemak sebelum masuk ke dryer

agar uap air/ moisture bisa terlepas/ terpisah dari fatty acid.

4) Catalyst Mixing Vasel ( D-205 )

Berfungsi untuk mengaduk katalis nikel dan zat aditif BHT sebelum bercampur

dengan asam lemak tidak jenuh.

Spesifikasi :

Efisiensi : 15 %

5) Catalyst Hoper ( T-201 ) dan Catalyst Feeder ( AF-201 )

Catalyst Hoper berfungsi untuk menampung sementara katalis Nikel ( Ni )

sedangkan Catalyst Feeder berfungsi untuk mengatur penggunaan katalis

sebelum bercampur dengan asam lemak.

Spesifikasi :

Ni Cat AF 201 : 14 30 Rpm

6) Additive Hoper ( T-201 ) dan Additive Feeder ( AF-202 )

Additive Hoper berfungsi untuk menampung sementara zat aditif sedangkan

Additive Feeder berfungsi untuk mengatur penggunaan zat aditif BHT sebelum

bercampur dengan asam lemak tidak jenuh.


33

Spesifikasi :

BHT Cat AF-202 : 4-8 Rpm

7) Starting Heater ( E-205 )

Berfungsi untuk pemanasan awal asam lemak tidak jenuh dengan gas hidrogen

sebelum masuk ke dalam kolom hidrogenasi.

Spesifikasi :

Temperatur : Max 150 oC

8) Hidrogen Heater ( E-201 ) dan ( E-202 )

( E-201 ) berfungsi untuk pemanasan awal sedangkan ( E-202 ) berfungsi untuk

pemanasan lanjut gas hidrogen yang berasal dari sumber gas hidrogen.

Spesifikasi :

Temperatur E-202 : Max 130 oC

Temperatur E-201 : Max 150 oC

9) Fatty Acid Cooler ( E-204 ) A/B dan ( E-206 ) A/B

( E-204 ) A/B berfungsi sebagai pendingin awal dan ( E-206 ) A/B berfungsi

sebagai pendingin lanjut.

10) Hidrogen Gas Compresor ( CP-201 ) A/B

Berfungsi untuk memompakan gas ke line mixer sehingga gas hidrogen akan

bercampur dengan asam lemak tidak jenuh.

Spesifikasi :

Temperatur : Max 125 oC

Tekanan : 20-25 kg/cm2


34

11) Drum Separator ( D-206 ) dan ( D-207 )

( D-206 ) berfungsi untuk menampung gas hidrogen sisa sedangkan ( D-207 )

berfungsi untuk menampung gas hidrogen yang akan dipompakan oleh

kompresor ke line mixer.

Spesifikasi :

Level D-206 : 0-100 %

12) Degasser ( D-202 )

Berfungsi untuk memisahkan gas hidrogen yang larut pada asam lemak hasil

hidrogenasi sehingga gas hidrogen yang larut dibuang ke jalur vent

13) Filtration ( F-201 ) dan ( F-202 )

Berfungsi untuk memisahkan fase padat ( filter aid dan katalis ) dari asam lemak

hingga terbentuk cake.

Spesifikasi :

Kapasitas : 100-400 Kg

2. Bahan dan Peralatan pada Analisa Iodine Value di Laboratorium

Adapun alat dan bahan yang digunakan di laboratorium untuk mengetahui nilai

iodine value adalah sebagai berikut :

a. Bahan

1) Asam lemak hasil hidrogenasi

2) Natrium Tiosulfat

3) Indikator amilum

4) Air Destilat
35

5) Indikator Strach

6) KI ( Potasium Iodine ) 10 %

7) Larutan Wijs

8) Siklohexana

b. Alat

1) Erlenmeyer

2) Statif

3) Neraca Analitik

4) Pipet volumetrik

5) Gelas volumetrik

6) Kertas Saring

B. Metoda

Adapun cara untuk memperoleh data di lapangan sehubungan dengan proses

perolehan asam lemak jenuh adalah sebagai berikut :

1. Prosedur Kerja Pengambilan Data dan Pengambilan Sampel

a. Tinjauan ke pabrik di PT. SOCIMAS dilakukan, khususnya pada unit

hidrogenasi.

b. Pengenalan awal terhadap keseluruhan peralatan dimulai dari bahan olahan

sampai produk yang dihasilkan dari proses hidrogenasi khususnya reaktor C-202

berupa asam lemak hidrogenasi.

c. Menanyakan pada operator mengenai pengendalian pengoperasian pada unit

pengolahan asam lemak ( fatty acid ) ini.


36

d. Memperhatikan di CCR :

1) Temperatur dijaga dengan meng-check atau memperhatikan di TC-E205

antara 130-160 oC.

2) Kondisi temperatur diperhatikan pada kolom C-202 yaitu temperatur top

( max 220 oC ) dan temperatur bottom ( min 175 oC ) di layar monitor CCR.

3) Pemakaian katalis Nikel dan BHT diatur sesuai dengan feed asam lemak 5-7

kg/jam dan laju hidrogen 169-250 m3/jam.

4) Setiap 1 jam sekali pada D-203 dimasukkan Bleaching Earth sebanyak

1 1 goni ( 10 Kg/ jam )


4 2

5) Kondisi operasi dicatat (Form No. PROD-002) setiap 2 jam sekali.

f. Setelah proses berjalan, selanjutnya menjaga kondisi IV produk yaitu temperatur

inlet sebelum masuk reaktor harus dijaga yaitu 140 oC 160 oC.

g. Pastikan racun berupa air ( moisture ) pada material serendah mungkin/ 0 % air.

h. Pastikan NICAT ( Nikel Katalis ) masuk ke hopper.

i. Pastikan tekanan gas hidrogen mencukupi ke reaktor.

j. Setelah kondisi IV ( produk ) terjaga selanjutnya pengambilan sampel di cut ke

bucket ( bak penampung ) kira kira 20 liter.

k. Setelah di cut ke bucket, kemudian di ambil sampel dengan beaker glass ( 100

500 ml ) yang steril.

l. Kemudian di check secara visual kondisi hasil sampel sebelum di antar ke

laboratorium/ QC.
37

2. Pembuatan Larutan Wijs

16 gram Iod Monoklorida dilarutkan dalam 1000 ml asam asetat glacial. Lalu

dialirkan gas chlor sampai terlihat perubahan warna menunjukkan gas klor yang

diserap telah cukup.

3. Analisa Iodine Value

a. Alat dan bahan disiapkan.

b. Sampel dileburkan bila belum cair dan menyaring dengan memakai kertas saring

untuk menghilangkan kotoran pada asam lemak.

c. Sampel ( fatty acid ) ditimbang dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 300 ml.

Beratnya dicatat sebagai C gram. Berat sampel dengan perkiraan bilangan iod.

d. 10 ml siklohexana dan 25 ml larutan Wijs ditambahkan ke dalam erlenmeyer

dengan pipet volum. Kemudian erlenmeyer ditutup dan di simpan di dalam

ruang yang gelap.

e. Kemudian ditambahkan 20 ml KI 10 % dengan gelas ukur, bilas tutup serta


dinding erlenmeyer dengan air panas ( air destilat ) sehingga volume total
menjadi 100 ml. Larutan ini berwarna merah gelap.
f. Larutan dititrasi di atas dengan larutan Na2S2O3 0,1012 N sampai berwarna
kuning lemah.
g. Lalu ditambahkan indikator Strach hingga larutan berwarna biru.
h. Titrasi dilanjutkan dan dihentikan ketika larutan telah menjadi bening. Dicatat
volume titrasi sebagai S ml.
i. Hal yang sama dilakukan terhadap larutan blanko dan dicatat sebagai B ml.
38

j. Bilangan iodium ( IV ) dihitung dengan rumus :


( ) 2 2 3 12,69
=
( )
Sumber : S, Ketaren, 1986
39

BAB V

HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Kerja Praktek

Berdasarkan hasil pengamatan kerja praktek di lapangan diperoleh data data

sebagai berikut :

Tabel 5.1 Kondisi Operasi Dan Komponen Fatty Acid Yang Masuk Pada Proses
Hidrogenasi

No. Tgl. T P Laju Umpan Katalis Komponen Masuk


o 2
( C) (kg/cm ) Fatty Acid Nikel (%)
(m3/jam) (kg/jam)
1. 17/2/15 199,2 20,5 8,0 5,45 C8 -
C10 -
C12 0,1
C14 1,3
C16 61,8
C18 4,5
C18F1 25,9
C18F2 6,4
C20 -
2. 18/2/15 199,3 20,4 8,0 5,45 C8 -
C10 -
C12 0,3
C14 1,4
C16 61
C18 5
40

Lanjutan Tabel 5.1 Kondisi Operasi Dan Komponen Fatty Acid Yang Masuk dan
Pada Proses Hidrogenasi

No. Tgl. T P Laju Umpan Katalis Komponen Masuk


(oC) (kg/cm2) Fatty Acid Nikel (%)
3
(m /jam) (kg/jam)
C18F1 25,8
C18F2 6,5
C20 -
3. 19/2/15 199,4 20,5 8,0 5,45 C8 -
C10 -
C12 0,2
C14 1,5
C16 61
C18 5
C18F1 26
C18F2 6,3
C20 -
4. 20/2/15 199,2 20,5 8,0 5,45 C8 -
C10 -
C12 0,5
C14 1,4
C16 61,7
C18 4,7
C18F1 25,6
C18F2 6,1
C20 -
5, 21/2/15 199,3 20,5 8,0 5,45 C8 -
C10 -
41

Lanjutan Tabel 5.1 Kondisi Operasi Dan Komponen Fatty Acid Yang Masuk dan
Pada Proses Hidrogenasi

No. Tgl. T P Laju Umpan Katalis Komponen Masuk


(oC) (kg/cm2) Fatty Acid Nikel (%)
3
(m /jam) (kg/jam)
C12 0,2
C14 1,5
C16 61,3
C18 4,7
C18F1 25,6
C18F2 6,7
C20 -
Sumber : PT. SOCIMAS Medan, 2015

Tabel 5.2. Data Analisa Iodine Value

No. Berat Sampel Volume Titrasi dengan Na2S2O3


(gr ) Blanko Sampel
(ml) (ml)
1. 2,765 27,41 26,17
2. 2,790 27,41 26,19
3. 2,850 27,41 26,20
4. 2,985 27,41 26,23
5. 3,005 27,41 26,27
Keterangan : Na2S2O3 yang digunakan adalah 0,1012 N
42

B. Pembahasan

1. Perhitungan Perbandingan Kebutuhan Gas Hidrogen Secara Stoikiometri

dan Secara Teknis Pabrik

a. Perhitungan Secara Stoikiometri

Perhitungan secara stoikiometri ini didasarkan atas seluruh asam oleat

dan asam linoleat bereaksi sempurna menjadi asam stearat pada proses

hidrogenasi.

Dik : Berat Jenis Fatty Acid = 849,52 kg/m3

Laju umpan fatty acid dinyatakan dalam laju massa, yaitu :

F = Laju umpan fatty acid x Berat jenis fatty acid

3
= 8,0 849,52 3 = 6796,16

Menghitung asam oleat yang terhidrogenasi dapat kita lihat melalui reaksi

sebagai berikut :

CH3(CH2)7CH=CH(CH2)7COOH + H2 Ni CH3(CH2)16COOH

Dik : BM Asam Oleat = 282 kg/kmol

Maka, 1 mol asam oleat masuk dengan 1 mol H2 yang bereaksi sehingga :

%
=

25,9
6796,16 /
100
=
282 /

= 6,242 kmol/ jam

H2 yang bereaksi = 6,242 kmol/ jam


43


= 6,242 2,016

= 12,583 kg/ jam

Menghitung asam linoleat yang terhidrogenasi dapat kita lihat melalui reaksi

sebagai berikut :

CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7COOH + 2H2 Ni

CH3(CH2)16COOH

Dik : BM Asam Linoleat = 280 kg/kmol

Maka, 1 mol asam oleat masuk dengan 2 mol H2 yang bereaksi sehingga :

%
=

6,4
6796,16 /
100
=
280 /

= 1,553 kmol/ jam

H2 yang bereaksi = 2 x 1,553 kmol/ jam

= 3,106 kmol/ jam


= 3,106 2,016

= 6,261 kg/ jam

Maka, jumlah total asam stearat yang terbentuk dari hasil proses hidrogenasi

adalah :

Asam Stearat Terbentuk = As. Oleat + As. Linoleat

= 6,242 kmol/jam + 1,553 kmol/jam

= 7,795 kmol/jam
44

% Asam Stearat Yang Terbentuk = Asam Stearat Yang Terbentuk x BM

Asam Stearat

= 7,795 kmol/jam x 284 kg/kmol

= 2213,78 kg/jam


= 100 %

2213,78 /
= 6796,16 / 100 %

= 32,5 %
45

Blok Diagram Proses Hidrogenasi

Gas Hidrogen = ?

Laju Umpan Laju Umpan


6796,16 Kg/ Jam Hidrogenator 6796,16 Kg/ Jam

C - 202
C12 = 0,1 % C12 = 0,1 %
C14 = 1,3 % C14 = 1,3 %
C16 = 61,8 % C16 = 61,8 %
C18 = 4,5 % C18 = 37 %
C18F1 = 25,9 % C18F1 = 0 %
C18F2 = 6,4 % C18F2 = 0 %

% Kelebihan H2 43,43 %
46

Untuk jumlah total H2 yang bereaksi dari hasil hidrogenasi asam oleat dan

asam linoleat adalah :

Total H2 yang bereaksi = 12,583 kg/jam + 6,261 kg/ jam

= 18,844 kg/ jam

Maka, total kebutuhan H2 secara stoikiometri :

Total H2 yang dibutuhkan = 18,842 kg/ jam

18,844 /
= 0,099 /3

= 190,34 m3/ jam

Dari perhitungan stoikiometri diatas dapat dilihat data data kebutuhan gas

hidrogen pada tabel 5.3. berikut :

Tabel 5.3. Data Kebutuhan Gas Hidrogen Secara Stoikiometri

No. Laju Asam Asam Hidrogen Yang


Umpan Oleat Yang Linoleat Dibutuhkan
Fatty Masuk Yang
Acid (kmol/jam) Masuk
(kg/jam) (kmol/jam)
(kmol/jam) (m3/jam)

1. 6796,16 6,242 1,553 9,348 190,34

2. 6796,16 6,217 1,577 9,371 190,81

3. 6796,16 6,265 1,529 9,323 189,83

4. 6796,16 6,169 1,480 9,129 185,88

5. 6796,16 6,169 1,626 9,421 191,83


47

a. Perhitungan Secara Teknis Pabrik

Perhitungan secara teknis pabrik ini dihitung berdasarkan nilai IV

target sebesar 0,7.

H2 yang dibutuhkan dihitung dengan rumus :

H2 yang dibutuhkan = ( IV Raw Material IV Target ) x Feed

Untuk mendapatkan IV Raw Material dihitung dengan rumus :

IV = 1,8 x C18F2 + 0,9 x C18F1

Dimana :

Dik : C18F1 = 25,9

C18F2 = 6,4

Jadi IV Raw Material adalah :

IV = 1,8 x C18F2 + 0,9 x C18F1

= (1,8 x 6,4 ) + (0,9 x 25,9 )

= 34,83

Sedangkan, IV Target sebesar 0,7 sesuai spesifikasi yang ditetapkan PT.

SOCI MAS Medan.

Jadi, kebutuhan H2 secara teknis pabrik yaitu :

H2 yang dibutuhkan secara teknis pabrik :

= ( IV Raw Material IV Target ) x feed

= ( 34,83 0,7 ) x 8 m3/ jam

= 273,04 m3/ jam


48

Dari perhitungan teknis pabrik diatas dapat dilihat data data kebutuhan gas

hidrogen pada tabel 5.4. berikut :

Tabel 5.4. Data Kebutuhan Gas Hidrogen Secara Teknis Pabrik

No. Laju Umpan Fatty Acid IV Raw Material Hidrogen Yang

Dibutuhkan
m3/jam kg/jam (m3/jam)

1. 8,0 6796,16 34,83 273,04

2. 8,0 6796,16 34,92 273,76

3 8,0 6796,16 34,74 272,32

4 8,0 6796,16 34,02 266,56

5. 8,0 6796,16 35,1 275,2

Dari perhitungan diatas terlihat perbedaan antara perhitungan secara

stoikiometri dan secara teknis pabrik. % Kelebihan hidrogen dapat ditentukan

dengan rumus :


% = 100 %

Sumber : David M. Himmelblau (1996)

Hidrogen secara teknis pabrik dikonversikan ke Kmol/ jam yaitu :

H2 secara teknis pabrik = H2 secara teknis pabrik x BJ H2

= 273,04 m3/ jam x 0,099 kg/m3

= 27,03096 kg/jam
49


27,03096

=
2,016

= 13,408 kmol/jam

2 ( 2 )
% Kelebihan H2 = 100 %
2

13,4089,348
= 100 %
9,348

= 43,43 %

Dari perhitungan persen kelebihan H2 diatas dapat dilihat data data

kelebihan H2 pada tabel 5.5. berikut :

Tabel 5.5. Persen Kelebihan H2

No Laju Umpan Hidrogen Yang Dibutuhkan % Excess

Fatty Acid

m3/jam kg/jam Secara Secara Teknis

Stoikiometri Pabrik

m3/jam m3/jam

1. 8,0 6796,16 190,34 273,04 43,43

2. 8,0 6796,16 190,81 273,76 43,45

3. 8,0 6796,16 189,83 272,32 43,43

4. 8,0 6796,16 185,88 266,56 43,38

5. 8,0 6796,16 191,83 275,2 43,44


50

Perbedaan ini disebabkan karena beberapa faktor yang terjadi di pabrik

yaitu komposisi material yang tidak homogen sehingga gas fluktuasi ( naik

turun ), moisture dari material juga ikut mempengaruhi ketika proses

hidrogenasi sedang berlangsung.

Dalam proses hidrogenasi yang berlangsung di PT. SOCI MAS, gas

hidrogen yang disupplay tidak semua bereaksi, ada sekitar 5 30 % gas

hidrogen yang tidak bereaksi, sehingga gas hidrogen yang sisa ini akan

disimpan dan dipakai kembali dalam proses hidrogenasi selanjutnya.

2. Perhitungan Nilai Iodine Value Fatty Acid Masuk dan Iodine Value Fatty

Acid Keluar Pada Proses Hidrogenasi

a. Iodine Value Fatty Acid Masuk

Nilai IV fatty acid yang masuk pada proses hidrogenasi didapatkan

berdasarkan analisis secara Gas Chromatography (GC) sebesar 34,83. Namun

nilai IV fatty acid masuk ini juga dapat dihitung dengan rumus :

IV = 1,8 x C18F2 + 0,9 x C18F1

= (1,8 x 6,4 ) + (0,9 x 25,9 )

= 34,83

Jadi nilai IV fatty acid masuk yang didapatkan berdasarkan GC sama dengan

nilai IV fatty acid masuk yang dihitung dengan menggunakan rumus.


51

b. Iodine Value Fatty Acid Keluar

Nilai IV fatty acid yang keluar pada proses hidrogenasi dihitung

berdasarkan titrasi yang dilakukan. Untuk menghitung iodine value fatty acid

masuk dapat dihitung dengan rumus :

( ) 2 2 3 12,69
=
( )

( Sumber : Ketaren, 1986 )

Dik : B = 27,41 ml

S = 26,17 ml

C = 2,765 gr

Na2S2O3 = 0,1012 mek/ml

Maka,


(27,41 26,17) 0,1012 12,69 /
=
2,765

= 0,575 mgr/gr

Dari perhitungan diatas dapat dilihat data data IV fatty acid yang masuk

dan IV fatty acid yang keluar dari tabel 5.6. berikut :


52

Tabel 5.6. Data IV Fatty Acid Masuk Dan Keluar Pada Proses
Hidrogenasi
No. Laju Umpan Fatty Acid IV Fatty Acid IV Fatty Acid

kg/jam m3/jam Masuk Keluar

1. 6796,16 8,0 34,83 0,575

2. 6796,16 8,0 34,92 0,561

3. 6796,16 8,0 34,74 0,545

4. 6796,16 8,0 34,02 0,507

5. 6796,16 8,0 35,1 0,487

Dari perhitungan diatas, dapat dilihat perbedaan antara nilai IV fatty acid

masuk dengan nilai IV fatty acid keluar, ini disebabkan karena sebelum

proses hidrogenasi masih terdapat banyak ikatan rangkap sehingga nilai IV

fatty acid masuk lebih besar dibandingkan nilai IV fatty acid sesudah proses

hidrogenasi.

Nilai IV fatty acid yang dihasilkan dari proses hidrogenasi sudah

memenuhi nilai IV standard yang ditetapkan PT. SOCI MAS Medan yaitu

0,7 mgr/gr.

Maka, dari seluruh perhitungan perbandingan kebutuhan gas hidrogen

secara teknis pabrik dan secara stoikiometri dapat disimpulkan pada tabel 5.7.

berikut :
53

Tabel 5.7. Data Seluruh Perhitungan Perbandingan Secara Teknis


Pabrik dan Secara Stoikiometri

No Laju Umpan Fatty IV Hidrogen Yang % IV

Acid Fatty Dibutuhkan Excess Fatty

kg/jam m3/jam Acid Secara Secara Acid

Masuk Stoikiometri Teknis Keluar

Pabrik

m3/jam m3/jam

1. 6796,16 8,0 34,83 190,34 273,04 43,43 0,575

2. 6796,16 8,0 34,92 190,81 273,76 43,45 0,561

3. 6796,16 8,0 34,74 189,83 272,32 43,43 0,545

4. 6796,16 8,0 34,02 185,88 266,56 43,38 0,507

5. 6796,16 8,0 35,1 191,83 275,2 43,44 0,487

6796,16 8,0 34,722 189,738 272,376 43,42 0,535


54

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil kerja praktek yang telah dilaksanakan maka penulis mengambil

kesimpulan mengenai perbandingan kebutuhan gas hidrogen antara perhitungan teknis

pabrik dan stoikiometri pada proses hidrogenasi di PT. SOCI MAS yaitu sebagai berikut

1. Pada proses hidrogenasi fatty acid yang dihitung berdasarkan stoikiometri sebesar

rata rata 189,738 m3/jam, sedangkan perhitungan secara teknis pabrik sebesar rata

rata 272,376 m3/jam.

2. IV fatty acid yang dihasilkan dari proses hidrogenasi sebesar rata rata 0,535 dan

sudah memenuhi sesuai dengan nilai IV standard yang ditetapkan oleh PT. SOCI

MAS Medan yaitu 0,7 mgr/gr.

B. Saran

Diharapkan praktikan bisa diberikan waktu yang cukup agar dapat menguasai

dan mengambil data yang diperlukan untuk kelancaran prakteknya agar dapat

memahami dengan baik.


55

RINGKASAN

PT. SOCI MAS Medan merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di

bidang industri oleokimia. PT. SOCI MAS Medan berdiri pada tanggal 20 Oktober

1992. Produk produk yang dihasilkan PT. SOCI MAS adalah asam lemak dan

gliserin. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi produk tersebut adalah PKO

dan RBDPS. Kapasitas produksi yang dimiliki PT. SOCI MAS Medan sekitar 80.000

MT pertahun, dengan komposisi sekitar 88 % asam lemak dan 12 % gliserin. Asam

lemak digunakan untuk pembuatan deterjen, plastik, industri karet, fatty alcohol,

industri karet, polimer, lilin, dan sebagainya. Sementara gliserin digunakan untuk

pembuatan obat obatan, bahan peledak, parfum, kosmetik, dan sebagainya.

Untuk menghasilkan produk produk tersebut bahan baku ( asam lemak )

mengalami beberapa proses yaitu :

1. Proses Hidrolisa

2. Proses Hidrogenasi

3. Proses Destilasi

4. Proses Fraksinasi

5. Proses Granulasi

6. Proses Flaking

Pada proses hidrolisa, asam lemak yang dihasilkan masih bercampur dengan

asam lemak tidak jenuh ( asam lemak yang masih mempunyai ikatan rangkap ). Ikatan
56

rangkap tersebut perlu dihilangkan untuk mendapatkan mutu asam lemak yang

diharapkan untuk mendapatkan mutu asam lemak yang diharapkan oleh perusahaan.

Pemutusan ikatan rangkap tersebut diberlangsungkan di seksi hidrogenasi.

Proses hidrogenasi bertujuan menaikkan tingkat kejenuhan minyak hingga minyak

bersifat plastik. Ketidakjenuhan minyak akan menyebabkan minyak dapat teroksidasi

sehingga akan menghasilkan produk yang berbahaya bagi kesehatan. Pada proses ini,

penjenuhan dilakukan dengan menggunakan hidrogen dan dibantu dengan katalis nikel

pada temperatur 178 220 oC dalam keadaan vakum dan tekanan 20,5 kg/cm2. Katalis

nikel berperan dalam memberikan tempat reaksi antara hidrogen dan menurunkan

energi aktifasi.

Dengan melakukan perhitungan perbandingan kebutuhan gas hidrogen secara

stoikiometri dan secara teknis pabrik, didapatkan perbandingan yaitu secara stoikiometri

sebesar 187,734 m3/ jam sedangkan secara teknis pabrik sebesar 272,176 m3/ jam. Dari

perbandingan ini terlihat perbedaan antara secara stoikiometri dan secara teknis pabrik

dikarenakan beberapa faktor yang terjadi di pabrik yaitu komposisi material yang tidak

homogen sehingga gas fluktuasi ( naik turun ), moisture dari material juga ikut

mempengaruhi ketika proses hidrogenasi sedang berlangsung dan juga pada proses

hidrogenasi ini, gas hidrogen yang disupplay tidak semua bereaksi, ada sekitar 5 10 %

gas yang tidak bereaksi, sehingga gas hidrogen yang sisa ini akan disimpan dan dipakai

kembali dalam proses hidrogenasi selanjutnya.

Dalam proses hidrogenasi nilai IV sangat mempengaruhi dalam proses ini. Nilai

IV yang dihitung guna memperoleh keberhasilan pada proses hidrogenasi. Sebelum


57

memulai proses hidrogenasi nilai IV fatty acid terlebih dahulu dihitung agar kebutuhan

gas hidrogen sesuai. Nilai IV fatty acid masuk yang dihitung adalah sekitar 34,722

sedangkan nilai IV fatty acid yang keluar adalah sekitar 0,535. Nilai IV fatty acid masuk

lebih besar dibandingkan nilai IV fatty keluar dikarenakan sebelum memulai proses

hidrogenasi masih terdapat ikatan rangkap. Nilai IV fatty acid masuk ini yang nantinya

akan dihidrogenasi untuk mendapat nilai IV fatty acid yang ditetapkan PT. SOCI MAS

Medan yaitu 0,7 mgr/ gr.


58

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2015. Mengenal Oleokimia. PT. Sinar Oleochemical Internasional : Medan.

Charles W. Keenan, Donald C, Kleinfelter, dan Jesse H.Wood. Aloysius Hadyana


Pudjaatmaka Ph.D (penterjemah). 1995. Kimia Untuk Universitas Edisi ke
Enam Jilid 1. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi ke Tiga. Departemen Kesehatan RI :


Jakarta.

Drs. S. R. Riawan. 1989. Kimia Organik Edisi ke Satu. Penerbit Binarupa Aksara:
Jakarta

Eckey, S. W. 1955. Di dalam Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan


Lemak Pangan. UI-Press: Jakarta.

Hasibuan, Panahatan. Bahan Ajar Oleokimia. Pendidikan Teknologi Kimia Industri:


Medan

Herawan, Tjahyono. 1993. Pembuatan Produk Produk Oleokimia dari Minyak Kelapa
Sawit Menggunakan Proses Enzimatis. Berita Pusat Penelitian Kelapa Sawit,
Vol.1 No. 2.

Himmelblau, David M. 1996. Basic Principles And Calculation in Chemical


Engineering 6th Edition. Prentice Hall Internasional, Inc: New Jersey.

Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. UI-Press: Jakarta.

Mahargiani, T. 2003. Hidrolisis Minyak Kelapa Sawit Ditinjau Secara Heterogen.


Prosiding SRKP 2003 Teknik Kimia Undip, B-10-1 s.d. B-10-4.

Muchtadi, T.R. 1996. Peranan Teknologi Pangan dalam Peningkatan Nilai Tambah
Produk Minyak Sawit Indonesia. Orasi Ilmiah. Fakultas Teknologi Pertanian.
Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Naibaho, P.M. 1990. Diversifikasi Minyak Sawit dan Inti Sawit dalam Upaya
Meningkatkan Daya Saing dengan Minyak Nabati Lainnya dan Hewani.
Buletin Perkebunan, Vol. 21 (2), Pp. 107 123.
59

Pasaribu, Nurhida. 2004. Minyak Buah Kelapa Sawit. Jurusan Kimia Fakultas
Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara: Sumatera
Utara.

Puguh Setyopratomo. 2012. Produksi Asam Lemak Dari Minyak Kelapa Sawit
Dengan Proses Hidrolisis. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknis. Universitas
Surabaya : Surabaya.

R.A. Day, Jr, dan A.L. Underwood. Aloysius Hadyana Pudjaatmaka Ph.D
(penterjemah). 1986. Analisis Kimia Kuantitatif. Penerbit Erlangga : Jakarta.

Ralp J. Fessenden, dan Joan S. Fessenden. Aloysius Hadyana Pudjaatmaka Ph.D


(penterjemah). 1986. Kimia Organik Edisi ke Tiga Jilid 2. Penerbit Erlangga:
Jakarta.
Ratu Ayu Dewi Sartika. Pengaruh Asam Lemak Jenuh, Tidak Jenuh dan Asam
Lemak Trans terhadap Kesehatan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional.
Februari 2008, hal 154-160.

Rivai, Mira. 2001. Kajian Proses Hidrogenasi Minyak Sawit Pada Berbagai
Tingkat Kemurnian Dalam Rangka Menghasilkan Pelumas Dasar Untuk
Rolling Oil. Jurusan Teknologi Industri Pertanian. Institut Pertanian Bogor:
Bogor.

Robert, H, Perry. 1997. Perrys Chemical Engineers Handbook, 7th Edition. Mc.
Graw Hill: New York.

Salunkhe, D. K, J.K. Chavan, R.N. Adsule, dan S.S. Kadam. 1992. World Oilseeds :
Chemistry, Technology, and Utilization. Van Nostrand Reinhold, New York.

Satyarthi J.K., Srinivas D., & Ratnasamy P. 2011. Hydrolysis of Vegetable Oils and
Fats to Fatty Acids Over Solidd Acid Catalysis, Applied Catalysis A: General,
391:427-435.

Siahaan, D, Panjaitan, F.R., Hasibuan, H.A. dan Rivanni, M. 2002. Produk Pangan
berbasis Minyak Sawit. Indonesian Oil Palm Research Institute: Medan.

Sianturi, N.L. 1998. Kajian Proses Degumming Minyak Kelapa Sawit Kasar ( Crude
Palm Oil ) dengan Menggunakan Asam Fosfat. Skripsi. Fakultas Teknologi
Pertanian. Institut Pertanian Bogor: Bogor.

Simajuntak, Rita Rohani. 1996. Hidrolisis Minyak Kelapa Sawit Kasar ( Crude
Palm Oil ) Untuk Memproduksi Oleokimia Dasar Secara Enzimatis. Jurusan
Teknologi Industri Pertanian. Institut Pertanian Bogor : Bogor.
60

Sinaga, Friska Melati. 2014. Perhitungan Konversi Reaksi Pada Proses Hidrogenasi
Fatty Acid Di Section 200 PT. SOCIMAS Kawasan Industri Medan. Jurusan
Teknologi Kimia Industri. Pendidikan Teknologi Kimia Industri: Medan.

Sinaga, Maharani, Dkk. 2008. Laporan Kerja Praktek Di PT. Sinar Oleochemical
International. Jurusan Teknologi Kimia Industri. Pendidikan Teknologi Kimia
Industri: Medan

Syahriza, Erwin. 2012. Proses Pengolahan Fatty Acid dan Gliserin Di PT. SOCI
MAS Medan. PT. Sinar Oleochemical International : Medan.

Wang, Y. J., J.Y Sheu, F.F. Wang dan J.F. Shaw. 1988. Lipase Catalyzed Oil
Hydrolisis in the Absence of Added Emulsifier. Biotech and Bioeng., Vol.31.