Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

VERTIGO

Disusun oleh :
Muji Rahayu

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS SAHID SURAKARTA
2016
LAPORAN PENDAHULUAN
VERTIGO

A. PENGERTIAN
Vertere suatu istilah dalam bahasa latin yang merupakan bahasa lain dari vertigo,
yang artinya memutar. Vertigo dalam kamus bahasa diterjemahkan dengan pusing
(Wahyono, 2007). Definisi vertigo adalah gerakan (sirkuler atau linier), atau gerakan
sebenarnya dari tubuh atau lingkungan sekitarnya diikuti atau tanpa diikuti dengan gejala
dari organ yang berada di bawah pengaruh saraf otonom dan mata (nistagmus) (Jenie,
2001). Sedangkan menurut Gowers Kapita Selekta neurologi, 2005, mendefinisikan
vertigo adalah setiap gerakan atau rasa gerakan tubuh penderita atau objek-objek disekitar
penderita yang bersangkutan dengan gangguan sistem keseimbangan (ekuilibrum).
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan keseimbangan atau
gangguan orientasi di ruangan. Banyak system atau organ tubuh yang ikut terlibat dalam
mengatur dan mempertahankan keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh
integrasi berbagai sistem diantaranya sistem vestibular, system visual dan system somato
sensorik (propioseptik). Untuk memperetahankan keseimbangan diruangan, maka
sedikitnya 2 dari 3 sistem system tersebut diatas harus difungsikan dengan baik. Pada
vertigo, penderita merasa atau melihat lingkunganya bergerak atau dirinya bergerak
terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami biasanya berputar namun kadang
berbentuk linier seperti mau jatuh atau rasa ditarik menjauhi bidang vertikal. Pada
penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya nistagmus. Nistagmus yaitu
gerak ritmik yang involunter dari pada bolamata (Lumban Tobing, 2003).
Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-
olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan
mual dan kehilangan keseimbangan. Vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau
bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari. Penderita kadang merasa lebih baik jika
berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus berlanjut meskipun penderita tidak bergerak
sama sekali (Israr, 2008).
Vertigo adalah keadaan pusing yang dirasakan luar biasa. Seseorang yang
menderita vertigo merasakan sekelilingnya seolah-olah berputar, ini disebabkan oleh
gangguan keseimbangan yang berpusat di area labirin atau rumah siput di daerah telinga.
Perasaan tersebut kadang disertai dengan rasa mual dan ingin muntah, bahkan penderita
merasa tak mampu berdiri dan kadang terjatuh karena masalah keseimbangan.
Keseimbangan tubuh dikendalikan oleh otak kecil yang mendapat informasi mengenai
posisi tubuh dari organ keseimbangan di telinga tengah dan mata. Vertigo biasanya timbul
akibat gangguan telinga tengah dan dalam atau gangguan penglihatan (Carpenitto, Lynda
Juall 2000).
Vertigo adalah sensasi atau perasaan yang mempengaruhi orientasi ruang dan
mungkin dapat didefinisikan sebagai suatu ilusi gerakan. Keluhan ini merupakan gejala
yang sifatnya subyektif dan karenanya sulit dinilai. Walupun pengobatan sebaiknya
langsung pada penyebab yang mendasari penyebab atau kelainannya, asal atau penyebab
vertigo sering tidak diketahui ataupun tidak mungkin diobati Doengoes, Marilynn E.
(2009).

B. JENIS VERTIGO
Vertigo diklasifikasikan menjadi dua kategori berdasarkan saluran vestibular yang
mengalami kerusakan, yaitu
1. Vertigo Periferal
Vertigo periferal terjadi jika terdapat gangguan di saluran yang disebut kanalis
semisirkularis, yaitu telinga bagian tengah yang bertugas mengontrol keseimbangan.
Gangguan kesehatan yang berhubungan dengan vertigo periferal antara lain
penyakitpenyakit seperti benign parozysmal positional vertigo (gangguan akibat
kesalahan pengiriman pesan), penyakit meniere (gangguan keseimbangan yang sering
kali menyebabkan hilang pendengaran), vestibular neuritis (peradangan pada sel-sel
saraf keseimbangan), dan labyrinthitis (radang di bagian dalam pendengaran).

2. Vertigo Sentral
Saluran vestibular adalah salah satu organ bagian dalam telinga yang
senantiasa mengirimkan informasi tentang posisi tubuh ke otak untuk menjaga
keseimbangan. Vertigo sentral terjadi jika ada sesuatu yang tidak normal di dalam
otak, khususnya di bagian saraf keseimbangan, yaitu daerah percabangan otak dan
serebelum (otak kecil).
C. ETIOLOGI

Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ keseimbangan


yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini memiliki saraf yang berhubungan
dengan area tertentu di otak. Vetigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam telinga,
di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam otaknya
sendiri. Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan
tekanan darah yang terjadi secara tibatiba. Penyebab umum dari vertigo (Carpenitto,
Lynda Juall 2000).

1. Keadaan lingkungan
Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)
2. Obat-obatan
Alkohol
Gentamisin
3. Kelainan sirkulasi
Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya
aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral dan arteri basiler
4. Kelainan di telinga
Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian
dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
Herpes zoster
Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)
Peradangan saraf vestibuler
Penyakit Meniere
5. Kelainan neurologis
Sklerosis multiple
Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya atau
keduanya
Tumor otak
Tumor yang menekan saraf vestibularis.

D. MANIFESTASI KLINIK
Tubuh merasakan posisi dan mengendalikan keseimbangan melalui organ
keseimbangan yang terdapat di telinga bagian dalam. Organ ini memiliki saraf yang
berhubungan dengan area tertentu di otak. Vetigo bisa disebabkan oleh kelainan di dalam
telinga, di dalam saraf yang menghubungkan telinga dengan otak dan di dalam otaknya
sendiri. Vertigo juga bisa berhubungan dengan kelainan penglihatan atau perubahan
tekanan darah yang terjadi secara tibatiba. Penyebab umum dari vertigo: (Israr, 2008)
1. Keadaan lingkungan
Motion sickness (mabuk darat, mabuk laut)
2. Obat-obatan
Alkohol
Gentamisin
3. Kelainan sirkulasi
Transient ischemic attack (gangguan fungsi otak sementara karena berkurangnya
aliran darah ke salah satu bagian otak) pada arteri vertebral dan arteri basiler
4. Kelainan di telinga
Endapan kalsium pada salah satu kanalis semisirkularis di dalam telinga bagian
dalam (menyebabkan benign paroxysmal positional vertigo)
Infeksi telinga bagian dalam karena bakteri
Herpes zoster
Labirintitis (infeksi labirin di dalam telinga)
Peradangan saraf vestibuler
Penyakit Meniere
5. Kelainan neurologis
Sklerosis multiple
Patah tulang tengkorak yang disertai cedera pada labirin, persarafannya atau
keduanya
Tumor otak
Tumor yang menekan saraf vestibularis.

E. PATOFISIOLOGI
Dalam kondisi fisiologi/ normal, informasi yang tiba dipusat integrasi alat
keseimbangan tubuh yang berasal dari resptor vestibular, visual dan propioseptik kanan
dan kiri akan diperbandingkan, jika semuanya sinkron dan wajar akan diproses lebih
lanjut secara wajar untuk direspon. Respon yang muncul beberapa penyesuaian dari otot-
otot mata dan penggerak tubuh dalam keadaan bergerak. Di samping itu orang menyadari
posisi kepala dan tubuhnya terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak ada tanda dan gejala
kegawatan (alarm reaction) dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik.
Namun jika kondisi tidak normal/ tidak fisiologis dari fungsi alat keseimbangan
tubuh dibagian tepi atau sentral maupun rangsangan gerakan yang aneh atau berlebihan,
maka proses pengolahan informasi yang wajar tidak berlangsung dan muncul tanda-tanda
kegawatan dalam bentuk vertigo dan gejala dari jaringan otonomik. Di samping itu
respon penyesuaian otot-otot menjadi tidak adekuat sehingga muncul gerakan abnormal
dari mata disebut nistagnus.

PATHWAY
Menurut NANDA Internasional.2006.
Trauma Ukuran lensa mata Aliran darah Infeksi pada
cerebellum tidak sama ke otak telinga dalam
(vestibuler)

VERTIGO

Penurunan Tekanan Stress meningkat Tekanan pada


fungsi kognitif intra kranial otot leher
meningkat

Cemas Nyeri Koping individu Gangguan pola


tidak efektif tidur

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Tes Romberg yang dipertajam
Sikap kaki seperti tandem, lengan dilipat pada dada dan mata kemudian
ditutup. Orang yang normal mampu berdiri dengan sikap yang romberg yang
dipertajam selama 30 detik atau lebih
2. Tes Melangkah ditempat (Stepping Test)
Penderita disuruh berjalan ditempat dengan mata tertutup sebanyak 50
langkah. Kedudukan akhir dianggap abnormal jika penderita beranjak lebih dari satu
meter atau badan berputar lebih dari 30 derajat
3. Salah Tunjuk(post-pointing)
Penderita merentangkan lengannya, angkat lengan tinggi-tinggi (sampai
fertikal) kemudian kembali kesemula
4. Manuver Nylen Barang atau manuver Hallpike
Penderita duduk ditempat tidur periksa lalu direbahkan sampai kepala
bergantung dipinggir tempat tidur dengan sudut 300 kepala ditoleh kekiri lalu posisi
kepala lurus kemudian menoleh lagi kekanan pada keadaan abnormal akan terjadi
nistagmus
5. Tes Kalori
Dengan menyemprotkan air bersuhu 300 ketelinga penderita
6. Elektronistagmografi
Yaitu alat untuk mencatat lama dan cepatnya nistagmus yang timbul
7. Posturografi
Yaitu tes yang dilakukan untuk mengevaluasi system visual, vestibular dan
somatosensorik.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan pasien pada saat dilakukan pengkajian.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit. Pada pasien
vertigo tanyakan adakah pengaruh sikap atau perubahan sikap terhadap
munculnya vertigo, posisi mana yang dapat memicu vertigo.

c. Riwayat kesehatan yang lalu


Adakah riwayat trauma kepala, penyakit infeksi dan inflamasi dan penyakit tumor
otak. Riwayat penggunaan obat vestibulotoksik missal antibiotik, aminoglikosid,
antikonvulsan dan salisilat.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga lain atau
riwayat penyakit lain baik
e. Aktivitas / Istirahat
Letih, lemah, malaise
Keterbatasan gerak
Ketegangan mata, kesulitan membaca
Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.
Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas (kerja) atau
karena perubahan cuaca.
f. Sirkulasi
Riwayat hypertensi
Denyutan vaskuler, misal daerah temporal.
Pucat, wajah tampak kemerahan.
g. Integritas Ego
Faktor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu
Perubahan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan depresi
Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik).
h. Makanan dan cairan
Makanan yang tinggi vasorektiknya misalnya kafein, coklat, bawang,keju,
alkohol, anggur, daging, tomat, makan berlemak, jeruk, saus,hotdog, MSG
(pada migrain).
Mual/muntah, anoreksia (selama nyeri)
Penurunan berat badan5.
i. Neurosensoris
Pening, disorientasi (selama sakit kepala)
Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke.
Aura ; fasialis, olfaktorius, tinitus.
Perubahan visual, sensitif terhadap cahaya/suara yang keras, epitaksis.
Parastesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
Perubahan pada pola bicara/pola pikir
Mudah terangsang, peka terhadap stimulus.
Penurunan refleks tendon dalam
Papiledema.
j. Nyeri/ kenyamanan
Karakteristik nyeri tergantung pada jenis sakit kepala, misal
migrain,ketegangan otot, cluster, tumor otak, pascatrauma, sinusitis.
Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah.
Fokus menyempit
Fokus pada diri sendiri
Respon emosional / perilaku tak terarah seperti menangis, gelisah.
Otot-otot daerah leher juga menegang, frigiditas vokal.
k. Keamanan
Riwayat alergi atau reaksi alergi
Demam (sakit kepala)
Gangguan cara berjalan, parastesia, paralisis
Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus).8.
l. Interaksi sosial
Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi sosial yang berhubungan
dengan penyakit.
m. Penyuluhan / pembelajaran
Riwayat hypertensi, migrain, stroke, penyakit pada keluarga
Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein. Kontrasepsioral/hormone,
menopause.
n. Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Pemeriksaan Persistem
1) Sistem persepsi sensori
Adakah rasa tidak stabil, disrientasi, osilopsia yaitu suatu ilusi bahwa benda
yang diam tampak bergerak maju mundur.
2) Sistem Persarafan
Adakah nistagmus berdasarkan beberapa pemeriksaan baik manual maupun
dengan alat.
3) Sistem Pernafasan
Adakah gangguan pernafasan.
4) Sistem Kardiovaskuler
Adakah terjadi gangguan jantung.
5) Sistem Gastrointestinal
Adakah Nausea dan muntah
6) Sistem integumen
7) Sistem Reproduksi
8) Sistem Perkemihan
9) Pola Fungsi Kesehatan
a) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Adakah kecemasan yang dia lihatkan oleh kurangnya pemahaman pasien
dan keluarga mengenai penyakit, pengobatan dan prognosa.
b) Pola aktivitas dan latihan
Adakah pengaruh sikap atau perubahan sikap terhadap munculnya vertigo,
posisi yang dapat memicu vertigo.
c) Pola nutrisi metabolisme
Adakah nausea dan muntah
d) Pola eliminasi
e) Pola tidur dan istirahat
f) Pola Kognitif dan perseptua
g) Adakah disorientasi dan asilopsia
h) Persepsi diri atau konsep diri
i) Pola toleransi dan koping stress
j) Pola sexual reproduksi
k) Pola hubungan dan peran
l) Pola nilai dan kenyakinan

2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko jatuh berhubungan dengan pusing ketika menggerakan kepala.
b. Nausea berhubungan dengan penyakit meniere, labirintitis
c. Defisit self care: toileting, bathing, feeding.
d. Defisit pengetahuan tentang penyakit pengobatan dan perawatan berhubungan
dengan kurangnya paparan informasi.
e. Perfusi jaringan tidak efektif; cerebral berhubungan dengan aliran arteri
terhambat.
3. Rencana Keperawatan
DIAGNOSA
NO TUJUAN INTERVENSI
KEPERAWATAN
1. Resiko jatuh Setelah dilakukan tindakan
1. Environmental Management: Safety: awasi dan
berhubungan dengan keperawatan selama x 24 jam gunakan lingkungan fisik untuk meningkatkan
pusing ketika pasien diharapakan tidak jatuh keamanan
menggerakkan kepala NOC: 2. Falls Prevention:
a. Safeti status: Falls Kaji penurunan kognitif dan fisik pasien yang
Occurrence mungkin dapat meningkatkan resiko jatuh
b. Falls prevention: know Kaji tingkat gait, keseimbangan dan kelelahan
ledge personal safety dengan ambulasi
c. Safety beheviour: Falls Instruksikan pasien agar memanggil asisten
prevention ketika melakukan pergerakan
3. Teaching: disease proles
Dengan kreteria:
jelaskan pada pasien tanda dan gejala dari
a. pasien mampu berdiri, d
penyakit yang diderita
uduk, berjalan tanpa
Anjurkan pasien untuk bedrest pada fase akut
pusing
Jelaskan pada pasien tentang terapi
b. Klien mampu menjelaskan
rehabilitatif pada pasien vertigo
jika terjadi serangan dan
cara mengantisipasinya

2. Nausea berhubungan Setelah dilakukan tindak 1. Patient / family teaching


dengan stimulasi visual keperawatan selamax24 jam, Anjurkan pasien agar pelen-pelan nafas
yang tidak nausea berkurang / hilang dalam dan menelan untuk menurunkan rasa
mengenakkan, meniere, N.O.C: mual dan muntah.
labirintitis a. Comfort level Ajarkan pasien untuk tidak minum 1 jam
b. Hidration sebelum,1 jam setelah dan sewaktu makan.
c. Nutritional status food 2.NUTRITIONAL MONITORING
finid intake Monitor tipe kehilangan berat badan dan
pertumbuhan
Dengan kreteria:
Monitor kelembaban,turgor kulit dan
b. Terdapat tanda-tanda fisik dan
depigmentasi.
psikologik membaik
Monitor tingkat energi,malaise,fatigue dan
c. Turgor kulit, mukosa mulut baik
kelemahan pasien.
d. Tidak panas dan tidak terdapat
Monitor asupan kalori dan nutrisi.
edeme perifer
Kolaborasi, kelola pemberian anticmetic
Intake makanan dan minuman baik
sebelum makan atau sesuai jadwal
3. Fluid managmen:
Awasi secara akurat intake dan output
Monitor vital sign
Monitor status nutrisi pasien
Monitor status hydrasi misal kelembaban
membranmukosa, tekanan nadi dan orthostatic
BP

Kelola pemberian terapi IV


3 Kurang perawatan diri: Setelah dilakukan NIC:Membantu perawatn diri pasien mandi dan
tindakan
makan, mandi, keperawatan selama ... x 24 jam toileting
berpakaian, toileting b.d diharapkan kebutuhan mandiri Aktifitas:
kerusakan neurovaskuler klien terpenuhi, 1.Tempatkan alat-alat mandi ditempat yang mudah
Batasan NOC;PERAWATAN DIRI dikenali dan mudah dijangkau klien
Karakteristik : (Mandi,makan,toileting,berpakaian 2.Libatkan klien dan danpingi
Kelumpuhan wajah atau ) Dengan kriteria : 3.Berikan bantuan selama klien tidak mampu
anggota badan sehingga Klien dapat makan de-ngan mengerjakan sendiri
menyebab-kan : bantuan orang lain / mandiri NIC : ADL berpakaian
Ketidakmampuan Klien dapat mandi de-ngan Aktifitas :
dalam menyuap, bantuan orang lain 1. Informasikan pada klien dalam memilih
memegang alat Klien dapat memakai pakaian pakaian selama perawatan
makan dengan bantuan orang lain / 2. Sediakan pakaian ditempat yang mudah
Ketidakmampuan mandiri dijangkau
dalam membasuh Klien dapat toileting de-ngan 3. Bantu berpakaian yang sesuai
badan, mongering- bantuan alat 4. Jaga privasi klien
kan, keluar masuk 5. Berikan pakaian pribadi yang digemari dan
kamar mandi sesuai
Ketidakmampuan
pergi ke kamar NIC : ADL Makan
mandi, mengguna- Aktifitas :
kan pispot 1. Anjurkan klien duduk dan berdoa bersama
teman
2. Dampingi saat makan
3. Bantu jika klien belum mampu dan beri
contoh

4. Beri rasa nyaman saat makan


4. Defisit pengetahuan ten- Setelah dilakukan penjelasan Teaching individual (5606)
tang penyakit, selama ...x pertemuan, pe- 1. Tentukan kebutuhan pembelajaran klien
pengobatan dan ngetahuan klien tentang pe-nyakit, 2. Kaji tingkat pengetahuan dan pemahaman klien
perawatan klien b.d pengobatan dan pe-rawatan klien tentang vertigo
keterbatasan kognitif, meningkat 3. Kaji tingkat pendidikan
ku-rang paparan atau 4. Kaji kesiapan klien dalam mempelajari informasi
mudah lupa NOC : spesifik
Knowledge : Disease process 5. Atur agar realita tujuan pembelajaran dengan
(1803) klien saling menguntungkan
Knowladge : Illness care 6. Pilih metode / strategi mengajar yang sesuai
(1824) 7. Sediakan lingkungan yang kondusif untuk
pembelajaran
Dengan kriteria : 8. Koreksi adanya kesalahan informasi
Klien dan keluarga mam-pu 9. Sediakan waktu untuk bertanya pada klien
menjelaskan penger-tian, proses 10.
penyakit, penyebab, tanda dan Teaching : disease process (5602)
gejala, efek penyakit, tindakan 1. Nilai tingkat pengetahuan klien tentang
pencegahan, pe-ngobatan dan penyakitnya
perawatan vertigo 2. Jelaskan patofisiologi vertigo
3. Jelaskan tanda dan gejala vertigo
4. Jelaskan kemungkinan penyebabnya
5. Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin
dapat mencegah komplikasi dimasa yang akan
datang
6. Diskusikan pilihan-pilihan terapi pe-ngobatan dan
perawatan
7. Jelaskan alasan rasional dari terapi pengobatan
yang direkomendasikan
8. Kaji sumber-sumber pendukung yang
memungkinkan
5. Perfusi jaringan tidak Setelah dilakukan tindakan Monitorang neurologis (2620)
efektif (spesifik: keperawatan selama ..... x 24 jam1. Monitor ukuran, kesimetrisan, reaksi dan bentuk
cerebral) b.d aliran diharapkan pupil
darah arteri terhambat Nyeri kepala / vertigo berkurang2. Monitor tingkat kesadaran klien
sampai de-ngan hilang 3. Monitir tanda-tanda vital
Batasan Tanda-tanda vital stabil 4. Monitor keluhan nyeri kepala, mual, muntah
Karakteristik : 5. Monitor respon klien terhadap pengobatan
Nyeri kepala / vertigo 6. Hindari aktivitas jika TIK meningkat
Perubahan status 7. Observasi kondisi fisik klien
mental
Perubahan respon Terapi oksigen (3320)
motorik Bersihkan jalan nafas dari sekret
Dis-artria Pertahankan jalan nafas tetap efektif
Kelumpuhan wa-jah Berikan oksigen sesuai intruksi
Monitor aliran oksigen, kanul oksigen dan sistem
humidifier
Beri penjelasan kepada klien tentang pentingnya
pemberian oksigen
Observasi tanda-tanda hipo-ventilasi
Monitor respon klien terhadap pemberian oksigen
Anjurkan klien untuk tetap memakai oksigen selama
aktifitas dan tidur

DAFTAR PUSTAKA
Carpenitto, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa : Monica
Ester, Edisi 8. EGC : Jakarta.

Doengoes, Marilynn E. (2009). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


perencanaan Keperawatan dan masalah kolaboratif. Alih Bahasa : I Made Kanosa,
Edisi III. EGC Jakarta.

Hinchliff, Sue. (2008). Kamus Keperawatan. Edisi; 17. EGC : Jakarta

Sudart dan Burnner, (2006). Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8. Vol 3. EGC : Jakarta.

Lumban Tobing. S.M, 2003, Vertigo Tujuh Keliling, Jakarta : FK UI

Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia, 2009, Vertigo Patofisiologi, Diagnosis dan
Terapi, Malang : Perdossi

NANDA Internasional.2006.Nursing Diagnosa Definition and Clasification