Anda di halaman 1dari 16

Pertambangan pasir besi di daerah cikawungading kabupateen tasikmalaya

ABSTRAK

Pasir besi sebagai salah satu bahan baku utama dalam industri baja dan
industri alat berat lainnya di Indonesia, keberadaannya akhir-akhir ini memiliki
peranan yang sangat penting. Berbagai permintaan dari berbagai pihak meningkat
cukup tajam. Salah satu daerah yang memiliki potensi tersebut adalah pantai selatan
Tasikmalaya, khususnya dari daerah pantai Cipatujah cikawungading sampai ke
daerah Cikalong. Pasir besi ini adalah bahan galian yang mengandung mineral besi,
yang dapat digunakan secara ekonomis sebagai bahan baku pembuatan besi logam
atau baja.

Pengertian Dampak Lingkungan menurut undang-undang No.4 tahun 1982 tentang


ketentuan-ketentuan pokok pengendalian lingkungan adalah perubahan lingkungan
yang diakibatkan oleh suatu kegiatan

Daerah-daerah tersebut kaya akan pasir besi tersebut, salah satu yang menjadi bahan
penelitian di dalam makalah ini adalah pertambangan pasir besi yang ada di desa
Cikawungading kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Dimana disana
terdapat pertambangan pasir besi yang merupakan daya serap tenaga kerja bagi
masyarakat, tetapi disamping itu ada banyak dampak pula yang dirasakan oleh
masyarakat hal tersebut masih menjadi kontroversi ditengah-tengah masyarakat luas.
Dan diharapkan ada penyelesaian untuk mengatasinya.

1. Genesa dan Lingkungan pembentukaan Pasir Besi

Pasir besi umumnya terdapat di sepanjang pantai, terbentuk karena proses


penghancuran batuan asal oleh cuaca dan air permukaan, yang kemudian
tertransportasi dan diendapkan di sepanjang pantai. Gelombang laut dengan energi
tertentu memilah dan mengakumulasi endapan tersebut menjadi pasir besi yang
memiliki nilai ekonomis.
Pasir besi sebagai endapan letakan/placer, di Indonesia banyak dijumpai
sebagai endapan aluvial pantai. Endapan pasir besi antara lain terdapat di
sepanjang pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa dan Bali, pantai-pantai
Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan pantai utara Papua. Beberapa lokasi
telah dilakukan eksplorasi, bahkan eksploitasi, namun sebagian besar lagi belum
dilakukan eksplorasi atau kalaupun sudah di eksploitasi tidak dilakukan melalui
tahapan eksplorasi yang benar.
Mineral ringan dan berat yang mengandung unsur besi diendapkan dalam
bentuk gumuk-gumuk pasir sepanjang dataran pantai. Endapan ini mengandung
mineral utama seperti magnetit (Fe3O4/FeO.Fe2O3), hematit (Fe2O3), dan
ilmenit (FeTiO3/FeO.TiO2), serta mineral ikutan pirhotit (FeS), pirit (FeS2),
markasit, kalkopirit (CuFeS2), kromit (FeO2Cr2O3), almandit (Fe3Al2(SiO4)3),
andradit (Ca3Fe2(SiO4)3), SiO2 bebas, serta unsur jejak (trace element) lainnya
antara lain: Mn, Mg, Zn, Na, K, Ni, Cu, Pb, As, Sb, W, Sn, dan V (Wilfred W,
1939).
Pembentukan endapan pasir besi ditentukan oleh beberapa faktor antara
lain batuan asal, proses perombakan, media transportasi, proses serta tempat
pengendapannya. Sumber mineral endapan pasir besi pantai sebagian besar
berasal dari batuan gunungapi bersifat andesitik dan basaltik. Proses perombakan
terjadi karena pelapukan batuan akibat adanya proses alam seperti panas dan
hujan yang membuat butiran mineral terlepas dari batuannya.
Media transportasi endapan pasir besi antara lain: aliran sungai,
gelombang, dan arus laut. Proses transportasi membawa material lapukan dari
batuan asal, menyebabkan mineral-mineral terangkut hingga ke muara, kemudian
gelombang dan arus laut mencuci dan memisahkan mineral-mineral tersebut
berdasarkan perbedaan berat jenisnya.
Di daerah pantai, mineral diendapkan kembali oleh gelombang air laut
yang menghempas ke pantai. Akibat hempasan tersebut, sebagian besar mineral
yang mempunyai berat jenis yang besar akan terendapkan di pantai, sedangkan
mineral berat yang berat jenisnya lebih ringan akan kembali terbawa oleh arus
balik kembali ke laut, demikian terjadi secara terus menerus hingga terjadi
endapan pasir besi di pantai (lihat gambar di bawah). Tempat pengendapan pasir
besi umumnya terjadi pada pantai yang landai, sedangkan pada pantai yang curam
sulit terjadi proses pengendapan.

pembentukan pasir besi


.

2. Sifat Fisik Pasir Besi

Pasir besi mengandung mineral utama magnetit (besi oksida) berasosiasi dengan
titanomagnetit dengan sedikit magnetit dan hematit yang disertai dengan mineral
pengotor seperti kuarsa, piroksen, biotit, rutil, dan lain-lain. Pengotor lainnya yang
biasa terdapat dalam pasir besi yaitu fosfor dan sulfur.

Pasir besi berwarna abu-abu hingga kehitaman, berbutir sangat halus dengan
ukuran antara 75 - 150 mikron, densitas 2-5 gr/cm3, bobot isi (spesific gravity,
SG) 2,99 - 4,23 gr/cm3, dan derajat kemagnetan (MD) 6,4 - 27,16%. Pasir besi
yang mengandung mineral utama magnetit dicirikan oleh butiran mineral magnetit
yang selalu berikatan dengan butiran mineral magnetit lainnya sehingga
membentuk ikatan rantai. Butiran mineralnya bersistem kristal isometrik, sehingga
pasir besi (magnetit) cenderung berbentuk membundar hingga membundar
tanggung.

3. Letak Pertambangan Pasir Besi Hasil pengolahan

Pasir besi merupakan salah satu bahan industri yang potensial yang ada di
Indonesia, salah satunya yang ada di desa Cikawungading kecamatan Cipatujah,
Tasikmalaya. Desa ini terletak di sebelah selatan Kabupaten Tasikmalaya, dengan
jarak 75 km dari ibu kota kabupaten. Potensi yang dimiliki oleh desa Cikawungading
ini banyak menarik minat para pengusaha yang ingin mengusahakan agar dapat
menambang. Menurut penelitian pasir besi di daerah Cikawungading tersebut
memiliki kandungan unsure besi yang sangat tinggi sekitar 66,58%.

Tabel Kandungan Pasir Pantai di Daerah Cikawungading

Jenis
No Persentase %
Kandungan
1 AI2O2 3,27
2 Cr2O4
3 Fe2O3 66,58
4 K2O 0,14
5 C2O 1,52
6 MgO 5,20
7 MnO2 0,59
8 NaO2 1,07
9 SiO2 7,45
10 TiO2 14,04

Sumber: Hasil uji lab Sucofindo, 2 April 2002

Begitu kayanya pasir besi di daerah ini, khususnya di daerah pantai


cikawungading. Bahkan dalam salah satu surat kabar harian Tasikmalaya disebutkan
bahwaWilayah Tasikmalaya Selatan dikenal dengan kekayaan sumber Daya
mineralnya yang melimpah. Dari seluruh jenis mineral di Kabupaten Tasikmalaya,
yang terbesar adalah kandungan pasir besi di sepanjang pantai cikawungading sampai
ke cikalong.

Kegiatan penambangan pasir besi di daerah ini sehari-hari dikerjakan oleh


kelompok, dimana setiap kelompok beranggotakan 5 orang yang bekerja secara
bersama-sama dimulai dari menggali pasir, kemudian dimuat ke dalam truk lalu
kemudian dipindahkan ke tempat penampungan sementara atau (pool). Setiap
kelompok menghasilkan pasir besi yang berbeda-beda tergantung kemampuan
kelompoknya masing-masing, mulai dari 3 truk sampai 10 truk (berisi 3 meter kubik
atau lebih, tergantung dari jenis truknya).

Para penambang di pertambangan ini kebanyakan menggunakan alat-alat modern,


untuk mengeruk pasir besi atau sejenis becko (escapator). Tapi ada juga yang masih
menggunakan alat-alat tradisional seperti sekop dan cangkul. Sebenarnya kedua alat
yang digunakan para penambang ini sama-sama punya kelebihan dan kelemahan, alat
tradisional memungkinkan para penambang untuk bekerja lebih lama (menyerap
tenaga kerja) dan tidak merusak lingkungan, sedangkan alat modern tidak menyerap
tenaga kerja karena hanya mengoperasikan seorang operator dan cenderung merusak
lingkungan, karena alat modern tersebut mengangkutnya kesana kemari dan
cenderung merusak jalan dan infrastruktur lainnya.

. Manfaat Logam Besi (Fe)

Besi adalah logam yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia di

bumi. Tidak dapat dibayangkan apabila manusia modern sekarang ini belum/tidak

bisa memanfaatkannya, mungkin umat manusia masih berada di jaman batu.

Pemanfaatan logam besi sangatlah luas bila dibandingkan dengan pemanfaatan

dari logam-logam yang lain. Kita dapat dengan mudah melihat disekeliling kita

banyak perabotan, alat2 pertukangan, alat transportasi dan bahkan pada rumah /

gedung pun menggunakan besi baja sebagai tiang2 penahannya.

Logam besi disamping karena kelimpahannya yang cukup banyak dialam,

adalah merupakan salah satu logam yang paling reaktif dan paling vital bagi mahluk

hidup. Dalam system peredaran darah, dengan kadar tertentu besi berada dalam sel

darah merah (Erythrocyte) dan bertugas untuk mengikat Oksigen ( O2 ) yang sangat

penting bagi proses pembakaran yang terjadi dalam sel2 tubuh.

Fungsi zat besi:Mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh dan

menghilangkan racun dari tubuh.

Efek jika kekurangan: Bagian bawah kelopak mata berwarna pucat dan mudah lelah.

Efek jika kelebihan:Dapat menyebabkan pembengkakan pada hati. Zat besi dapat

mencegah penyerapan obat. Sebaiknya tidak dikonsumsi berlebihan jika sedang

mengkonsumsi suatu obat agar khasiat obat tidak terbuang percuma. Zat besi yang

berlebih dapat menyebabkan pembengkakan pada hati dan mengurangi kemampuan

tubuh untuk menyerap zat tembaga.


C. Sifat-sifat Logam Besi (Fe)

Logam murni besi sangat reaktif secara kimiawi dan mudah terkorosi,

khususnya di udara yang lembab atau ketika terdapat peningkatan suhu. Memiliki 4

bentuk allotroik ferit, yakni alfa, beta, gamma dan omega dengan suhu transisi 700,

928, dan 1530oC. Bentuk alfa bersifat magnetik, tapi ketika berubah menjadi beta,

sifat magnetnya menghilang meski pola geometris molekul tidak berubah. Hubungan

antara bentuk-bentuk ini sangat aneh. Besi pig adalah alloy dengan 3% karbon dan

sedikit tambahan sulfur, silikon, mangan dan fosfor.

Besi bersifat keras, rapuh, dan umumnya mudah dicampur, dan digunakan

untuk menghasilkan alloy lainnya, termasuk baja. Besi tempa yang mengandung

kurang dari 0.1% karbon, sangat kuat, dapat dibentuk, tidak mudah campur dan

biasanya memiliki struktur berserat.

Baja karbon adalah alloy besi dengan sedikit Mn, S, P, dan Si. Alloy baja

adalah baja karbon dengan tambahan seperti nikel, khrom, vanadium dan lain-lain.

Besi relatif murah, mudah didapat, sangat berguna dan merupakan logam yang sangat

penting.

D. Pengaruh Besi (Fe) Terhadap Kesehatan Manusia

Senyawa besi dalam jumlah kecil di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai

pembentuk sel-sel darah merah, dimana tubuh memerlukan 7-35 mg/hari yang

sebagian diperoleh dari air. Tetapi zat Fe yang melebihi dosis yang diperlukan oleh

tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan tubuh manusia

tidak dapat mengsekresi Fe, sehingga bagi mereka yang sering mendapat tranfusi

darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe.

Air minum yang mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila

dikonsumsi. Selain itu dalam dosis besar dapat merusak dinding usus. Kematian
sering kali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Kadar Fe yang lebih dari 1

mg/l akan menyebabkan terjadinya iritasi pada mata dan kulit. Apabila kelarutan besi

dalam air melebihi 10 mg/l akan menyebabkan air berbau seperti telur busuk.

Gangguan fisik yang ditimbulkan oleh adanya besi terlarut dalam air adalah

timbulnya warna, bau, rasa. Air akan terasa tidak enak bila konsentrasi besi

terfarutnya > 1,0 mg/l.

Pada Hemokromatesis primer besi yang diserap dan disimpan dalam jumlah

yang berlebihan di dalam tubuh. Feritin berada dalam keadaan jenuh akan besi

sehingga kelebihan mineral ini akan disimpan dalam bentuk kompleks dengan mineral

lain yaitu hemosiderin. Akibatnya terjadilah sirosis hati dan kerusakan pankreas

sehingga menimbulkan diabetes. Hemokromatis sekunder terjadi karena transfusi

yang berulang-ulang. Dalam keadaan ini besi masuk ke dalam tubuh sebagai

hemoglobin dari darah yang ditransfusikan dan kelebihan besi ini tidek disekresikan.

Hal-Hal yang Mempengaruhi Kelarutan Fe dalam Air:

1. Kedalaman

Air hujan yang turun jatuh ke tanah dan mengalami infiltrasi masuk ke dalam

tanah yang mengandung FeO akan bereaksi dengan H2O dan CO2 dalam tanah dan

membentuk Fe (HCO3)2 dimana semakin dalam air yang meresap ke dalam tanah

semakin tinggi juga kelarutan besi karbonat dalam air tersebut.

2. pH

pH air akan terpengaruh terhadap kesadahan kadar besi dalam air, apabila pH

air rendah akan berakibat terjadinya proses korosif sehingga menyebabkan larutnya

besi dan logam lainnya dalam air, pH yang rendah kurang dari 7 dapat melarutkan

logam. Dalam keadaan pH rendah, besi yang ada dalam air berbentuk ferro dan ferri,
dimana bentuk.ferri akan mengendap dan tidak larut dalam air serta tidak dapat dilihat

dengan mata sehingga mengakibatkan air menjadi berwarna,berbau dan berasa.

3. Suhu

Suhu adalah temperatur udara. Temperatur yang tinggi menyebabkan

menurunnya kadar O2 dalam air, kenaikan temperatur air juga dapat mengguraikan

derajat kelarutan mineral sehingga kelarutan Fe pada air tinggi.

4. Bakteri besi

Bakteri besi (Crenothrix, Lepothrix, Galleanella, Sinderocapsa dan

Sphoerothylus ) adalah bakteri yang dapat mengambil unsur ber dari sekeliling

lingkungan hidupnya sehingga mengakibatkan turunnya kandungan besi dalam air,

dalam aktifitasnya bakteri besi memerlukan oksigen dan besi sehingga bahan

makanan dari bakteri besi tersebut. Hasil aktifitas bakteri besi tersebut menghasilkan

presipitat (oksida besi) yang akan menyebabkan warna pada pakaian dan bangunan.

Bakteri besi merupakan bakteri yang hidup dalam keadaan anaerob dan banyak

terdapat dalam air yang mengandung mineral. Pertumbuhan bakteri akan menjadi

lebih sempurna apabila air banyak mengandung CO2 dengan kadar yang cukup tinggi.

E. Pencemaran Besi (Fe) Terhadap Lingkungan

Air tanah dapat terkontaminasi dari beberapa sumber pencemar. Dua sumber

utama kontaminasi air tanah ialah kebocoran bahan kimia organik dari penyimpanan

bahan kimia dalam bunker yang disimpan dalam tanah, dan penampungan limbah

industri yang ditampung dalam kolam besar diatas atau di dekat sumber air.

Persyaratan bagi masing-masing standar kualitas air masih perlu ditentukan

oleh 4 (empat) aspek yaitu : persyaratan fisis, kimia, biologis, radiologis. Persyaratan

fisis ditentukan oleh faktor-faktor kekeruhan, warna, bau maupun rasa. Persyaratan

kimia ditentukan oleh konsentrasi bahan-bahan kimia seperti Arsen, Clhor, Tembaga,
Cyanida, Besi dan sebagainya. Persyaratan biologis ditentukan baik oleh

mikroorganisme yang pathogen, maupun yang non pathogen.

Air sumur bor merupakan salah satu jalan yang ditempuh masyarakat untuk

memenuhi kebutuhan air bersih, namun tingginya kadar ion Fe (Fe2+, Fe3+) yaitu 5 -

7 mg/l mengakibatkan harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu sebelum

dipergunakan, karena telah melebihi standar yang telah di tetapkan oleh Departemen

kesehatan di dalam Permenkes No. 416 /Per/Menkes/IX/ 1990 tentang air bersih yaitu

sebesar 1,0 mg/l. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar

besi (Fe2+,Fe3+) dalam air adalah dengan cara aerasi. Teknologi ini juga dapat

kombinasikan dengan sedimentasi dan filtrasi.

Besi adalah salah satu elemen yang dapat ditemui hampir pada setiap tempat di

bumi, pada semua lapisan geologis dan semua badan air. Pada umumnya besi yang

ada di dalam air dapat bersifat terlarut sebagai Fe 2+ atau Fe3+.

Kandungan ion Fe (Fe2+,Fe3+) pada air sumur bor berkisar antara 5 7 mg/L.

Tingginya kandungan Fe (Fe2+,Fe3+) ini berhubungan dengan keadaan struktur

tanah. Struktur tanah dibagian atas merupakan tanah gambut, selanjutnya berupa

lempung gambut dan bagian dalam merupakan campuran lempung gambut dengan

sedikit pasir.

Besi dalam air berbentuk ion bervalensi dua (Fe2+) dan bervalensi tiga

(Fe3+) . Dalam bentuk ikatan dapat berupa Fe2O3, Fe(OH)2, Fe(OH)3 atau FeSO4

tergantung dari unsur lain yang mengikatnya. Dinyatakan pula bahwa besi dalam air

adalah bersumber dari dalam tanah sendiri di sampng dapat pula berasal dari sumber

lain, diantaranya dari larutnya pipa besi, reservoir air dari besi atau endapan

endapan buangan industri.


Adapun besi terlarut yang berasal dari pipa atau tangki tangki besi adalah

akibat dari beberapa kodisi, di antaranya : 1) Akibat pengaruh pH yang rendah

(bersifat asam), dapat melarutkan logam besi. 2) Pengaruh akibat adanya CO2 agresif

yang menyebabkan larutnya logam besi. 3) Pengaruh banyaknya O2 yang terlarut

dalam air yang dapat pula. 4) Pengaruh tingginya temperature air akan melarutkan

besi-besi dalam air. 5) Kuatnya daya hantar listrik akan melarutkan besi. 6) Adanya

bakteri besi dalam air akan memakan besi.

Besi terlarut dalam air dapat berbentuk kation ferro (Fe2+) atau kation ferri

(Fe3+). Hal ini tergantung kondisi pH dan oksigen terlarut dalam air. Besi terlarut

dapat berbentuk senyawa tersuspensi, sebagai butir koloidal seperti Fe (OH)3, FeO,

Fe2O3dan lain-Iain. Konsentrasi besi terlarut yang masih diperbolehkan dalam air

bersih adalah sampai dengan 0,1 mg/l.

Apabila kosentrasi besi terlarut dalam air melebihi batas tersebut akan

menyebabkan berbagai masalah, diantaranya :

1. Gangguan Teknis

Endapan Fe (OH) bersifat korosif terhadap pipa dan akan mengendap pada saluran

pipa, sehingga mengakibatkan pembuntuan dan efek-efek yang dapat merugikan

seperti Mengotori bak yang terbuat dari seng. Mengotori wastafel dan kloset.

2. Gangguan Fisik

Gangguan fisik yang ditimbulkan oleh adanya besi terlarut dalam air adalah

timbulnya warna, bau, rasa. Air akan terasa tidak enak bila konsentrasi besi

terfarutnya > 1,0 mg/l.

3. Gangguan Kesehatan

Senyawa besi dalam jumlah kecil di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai

pembentuk sel-sel darah merah, dimana tubuh memerlukan 7-35 mg/hari yang
sebagian diperoleh dari air. Tetapi zat Fe yang melebihi dosis yang diperlukan oleh

tubuh dapat menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan tubuh manusia

tidak dapat mengsekresi Fe, sehingga bagi mereka yang sering mendapat tranfusi

darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Air minum yang

mengandung besi cenderung menimbulkan rasa mual apabila dikonsumsi. Selain itu

dalam dosis besar dapat merusak dinding usus. Kematian sering kali disebabkan oleh

rusaknya dinding usus ini. Kadar Fe yang lebih dari 1 mg/l akan menyebabkan

terjadinya iritasi pada mata dan kulit. Apabila kelarutan besi dalam air melebihi 10

mg/l akan menyebabkan air berbau seperti telur busuk.

Pada Hemokromatesis primer besi yang diserap dan disimpan dalam jumlah

yang berlebihan di dalam tubuh. Feritin berada dalam keadaan jenuh akan besi

sehingga kelebihan mineral ini akan disimpan dalam bentuk kompleks dengan mineral

lain yaitu hemosiderin. Akibatnya terjadilah sirosis hati dan kerusakan pankreas

sehingga menimbulkan diabetes. Hemokromatis sekunder terjadi karena transfusi

yang berulang-ulang. Dalam keadaan ini besi masuk ke dalam tubuh sebagai

hemoglobin dari darah yang ditransfusikan dan kelebihan besi ini tidek disekresikan.

F. Masuknya Besi ke Dalam Tubuh Manusia

Zat besi (Fe) adalah merupakan suatu komponen dari berbagai enzim yang

mempengaruhi seluruh reaksi kimia yang penting di dalam tubuh meskipun sukar

diserap (10-15%). Besi juga merupakan komponen dari hemoglobin yaitu sekitar

75%, yang memungkinkan sel darah merah membawa oksigen dan mengantarkannya

ke jaringan tubuh.

Kelebihan zat besi (Fe) bisa menyebabkan keracunan dimana terjadi muntah,

kerusakan usus, penuaan dini hingga kematian mendadak, mudah marah, radang

sendi, cacat lahir, gusi berdarah, kanker, cardiomyopathies, sirosis ginjal, sembelit,
diabetes, diare, pusing, mudah lelah, kulit kehitam hitaman, sakit kepala, gagal hati,

hepatitis, mudah emosi, hiperaktif, hipertensi, infeksi, insomnia, sakit liver, masalah

mental, rasa logam di mulut, myasthenia gravis, nausea, nevi, mudah gelisah dan

iritasi, parkinson, rematik, sikoprenia, sariawan perut, sickle-cell anemia, keras

kepala, strabismus, gangguan penyerapan vitamin dan mineral, serta hemokromatis.

(Parulian, 2009 dan Paul C. Eck, Et.al., 1989).

Besi (Fe) dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan haemoglobin sehingga jika
kekurangan besi (Fe) akan mempengaruhi pembentukan haemoglobin tersebut. Besi
(Fe) juga terdapat dalam serum protein yang disebut dengan transferin berperan
untuk mentransfer besi (Fe) dari jaringan yang satu ke jaringan lain. Besi (Fe) juga
berperan dalam aktifitas beberapa enzim seperti sitokrom dan flavo protein. Apabila
tubuh tidak mampu mengekskresikan besi (Fe) akan menjadi akumulasi besi (Fe)
karenanya warna kulit menjadi hitam. Debu besi (Fe) juga dapat diakumulasi di dalam
alveori menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru. Kekurangan besi (Fe) dalam
diet akan mengakibatkan defisiensi yaitu kehilangan darah yang berat yang sering
terjadi pada penderita tumor saluran pencernaan, lambung dan pada menstruasi.
Defisiensi besi (Fe) menimbulkan gejala anemia seperti kelemahan, fatigue, sulit
bernafas waktu berolahraga, kepala pusing, diare, penurunan nafsu makan, kulit
pucat, kuku berkerut, kasar dan cekung serta terasa dingin pada tangan dan kaki.
(Rumapea, 2009 dan Siregar, 2009).

C. Dampak keberadaan Tambang Pasir Besi di Cikawungading

Dalam kurun waktu beberapa tahun ini masyarakat di Cikawungading khususnya, di


daerah sekitar penambangan pasir besi banyak memberikan respon terhadap aktivitas
penambangan tersebut, baik respon positif maupun respon negative. Kebanyakan
diantaranya memberikan respon negative atau kurang setuju dengan kegiatan
penambangan tersebut karena dirasakan merusak lingkungan.

Dampak positif yang dirasakan yaitu salah satunya adalah dapat Menyerap tenaga
kerja, Masyarakat disekitar penambangan memang merasa terbantu dengan adanya
penambangan pasir ini karena mereka bisa ikut bekerja menjadi buruh disana, bagi
sebagian masyarakat memang menyadarinya karena pertambangan tersebut
memberikan sedikit keringanan beban.Disamping itu tambang pasir besi memiliki
daya tarik tersendiri keberadaannya, dimana pada awal keberadaannya menjadi daya
tarik bagi Cikawung untuk menarik masyarakat luar, karena masyarakat lain ingin
mengetahui keberadaan dan keadaan tambang besi tersebut.

Sementara itu dampak yang negatif adalah:

a. Merusak pantai dan vegetasinya


Keadaan pantai sebelum adanya penambangan pasir besi di daerah Cikawungading
menunjukan kondisi pantai yang begitu alami dan indah, berbagai jenis vegetasi
pantai tumbuh di sepanjang jalur pantai. Tapi kini sudah mulai tergerus oleh kegiatan
penambangan.

b. Rusaknya jalan raya

Kerusakan yang paling parah akibat dari kegiatan pertambangan pasir besi ini adalah
rusaknya jalan raya yang menjadi penghubung jalur pantai selatan, keadaan ini
menyebabkan arus transportasi barang dan manusia menjadi terhambat. Sejak awal
kondisi jalan raya yang menjadi penghubung Cipatujah dan Cikalong sudah rusak dan
kini diperparah dengan adanya kegiatan pengangkutan pasir besi, dengan hilir
mudiknya truk-truk besar yang mengangkut pasir besi tersebut. Masyarakat
menyayangkan keadaan tersebut dimana keadaan ini membuat mereka tidak nyaman.
3. Tingkat polusi udara yang makin meningkat.

Hal ini disebabkan oleh hilir mudiknya truk-truk pengangkut pasir besi yang melintas,
yang membawa pasir tersebut dari daerah cipatujah ke daerah lain, khususnya daerah
ciamis dan sekitarnya.

c. Rusaknya area persawahan atau pertanian warga

Lahan pertanian warga menjadi rusak akibat kegiatan pertambangan ini, diduga aliran
air yang ke persawahan menjadi terganggu, akibatnya sawah warga menjadi cepat
kering. Disamping itu area perkebunan yang tadinya rindang oleh kelapa kini
menjadi tandus dan kering.

d. Menurunnya kualitas udara

Pada tahap prakonstruksi tambang akibat kegiatan mobilisasi alat berat diperkirakan
perusahaan akan mengoperasikan 44 unit alat berat. Pada tahap ini aktifitas yang
dilakukan meliputi pembersihan lahan, pembuatan jalan tambang, pembangunan
sarana tambang, pembangunan pengelolaan instalasi pasir besi, dipastikan akan
meningkatkan kadar debu di lingkungan sekitar, tingkat polusi debu akan semakin
tinggi pada saat siang hari dimana angin bertiup dari laut ke arah daratan (pemukiman
warga). Hal ini tentu saja akan menurunkan tingkat kesehatan masyarakat, mereka
terancam penyakit infeksi saluran Pernafasan Akut, TBC, dan lain-lain.

e. Menurunnya Kualitas Air

Kegiatan pertambangan dipastikan akan mengurangi kualitas air tanah (sumur) dan
kualitas air yang ada di sekitar pemukiman warga.

f. Tingkat polusi udara yang makin meningkat

Hal ini disebabkan oleh hilir mudiknya truk-truk pengangkut pasir besi yang melintas,
yang membawa pasir tersebut dari daerah cipatujah ke daerah lain, khususnya daerah
ciamis dan sekitarnya.
D. Respon Masyarakat Terhadap Pertambangan Besi Yang Ada Di
Cikawungading kabupaten tasikmalaya

a. Merampas Hak Asasi Rakyat

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 pasal 5 mengenai tujuan


perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yaitu menjamin keselamatan,
kesehatan, dan kehidupan manusia, sepertinya sudah tidak berlaku lagi di Pantai
cikawungading. Pasalnya semenjak adanya penambangan pasir besi, masyarakat
bukannya mendapat perlindungan, malah sebaliknya sampai-sampai menimbulkan
konflik, seperti konflik horizontal antar warga. Pemasukan daerah pun tidak
sebanding dengan kerusakan alam yang ditimbulkan. Hak warga untuk memperoleh
lingkungan yang bagus dan menikmati ruang terbuka publik seperti pantai terhalang
oleh aktivitas pertambangan.

b. Tidak Tegasnya Pemerintah

Pemerintah adalah pelindung rakyat. Tugas dari pemerintah adalah melindungi,


memelihara, memerhatikan, dan menyalurkan aspirasi rakyat untuk kepentingan
bersama. Namun karena kenikmatan sesaat, pemerintah tidak menjalankan tugas
sebagaimana mestinya. Para pejabat pemerintahan dan aparat membiarkan,
melindungi, serta mengizinkan pertambangan pasir besi terus berlangsung di pesisir
pantai selatan Jawa Barat, termasuk cikawungading. tanpa kaidah etika dan prosedur
izin. Padahal etika dan prosedur izin soal lingkungan hidup ini diatur dalam Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup.

Upaya Pengelolaan Lingkungan yaang terkena dampak

Pencegahan pencemaran adalah tindakan mencegah masuknya atau


dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan/atau komponen lain ke dalam
lingkungan hidup oleh kegiatan manusia agar kualitasnya tidak turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai
dengan peruntukannya. Dalam bentuk, pertama, remediasi, yaitu kegiatan untuk
membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu
in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah
pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri atas
pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi.
Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa
ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat
pencemar. Caranya, tanah tersebut disimpan di bak/tangki yang kedap, kemudian zat
pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya, zat pencemar
dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air
limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit.

Kedua, bioremediasi, yaitu proses pembersihan pencemaran tanah dengan


menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk
memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau
tidak beracun (karbon dioksida dan air). Ketiga, penggunaan alat (retort-amalgam)
dalam pemijaran emas perlu dilakukan agar dapat mengurangi pencemaran Hg.

Keempat, perlu adanya kajian Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya


Pemantauan Lingkungan atau kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
(AMDAL) dalam menyusun kebijakan yang berkaitan dengan kegiatan
pertambangan. Sebelum dilaksanakannya, kegiatan penambangan sudah dapat
diperkirakan dahulu dampaknya terhadap lingkungan. Kajian ini harus dilaksanakan,
diawasi dan dipantau dengan baik dan terus-menerus implementasinya, bukan sekedar
formalitas kebutuhan administrasi.
Kelima, penyuluhan kepada masyarakat tentang bahayanya Hg dan B3 lainnya
perlu dilakukan. Bagi tenaga kesehatan perlu ada pelatihan surveilans risiko kesehatan
masyarakat akibat pencemaran B3 di wilayah penambangan.1

1
No Dampak Lingkungan Upaya Pengelolaan Lingkungan
1 Meningkatnya ancaman Perlu dilakukan penggalian tanah secara
tanah longsor dan gerakan berjenjang (trap-trap)
massa tanah (mass
movement)
2 Erosi dan Sedimentasi Perlu dibangun check-dam untuk
mencegah pelumpuran pada saluran
pengairan umum (drainase) maupun
saluran induk, yakni kali Anafre.

Kali kecil yang digunakan airnya oleh


pendulang untuk memisahkan emas
dengan tanah harus dipasang bronjong
kawat, guna memperlambat erosi pada
tebing sungai.
3. Pengupasan tanah pucuk Perlu dilakukan upaya reklamasi, seperti
dan menghilangnya melakukan reboisasi di areal bekas
vegetasi akibat kegiatan penggalian.
penggalian tanah.
Setelah melakukan penggalian jangan
meninggalkan lubang penggalian begitu
saja, sebaiknya lubang penggalian
ditimbun terlebih dahulu sebelum pindah
ke tempat lain.

http://www.sesawi.net/2012/01/12/menakar-dampak-lingkungan-fisik-sosial-akibat-
pertambangan-pasir-besi-uu-minerba-3/ (Tanggal 15 November 2014, Jam 10.00)

http://walhijabar.wordpress.com/2012/09/05/siaran-pers-walhi-jawa-barat-tolak-
pelabuhan-dan-ijin-tambang-di-jabar-selatan/ (Tanggal 15 November 2014, Jam
10.00)

http://tegalbuleudinfo.blogspot.com/2012/06/dampak-negatif-penambangan-pasir-
besi.html (Tanggal 15 November 2014, Jam 10.00)

https://makalahpertambanganpasirbesicipatujah.wordpress.com/

http://www.geologinesia.com/2016/12/geologi-pasir-besi-genesa-dan-sifat-fisik.html

Pertambangan Pasir Besi di Daerah Cikawungading Kabupaten


Tasikmalaya.Program Studi Pendidikan Geografi, Fakultas Keguruan Dan Ilmu
Pendidikan Universitas Siliwangi.