Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Dewasa ini penyalahgunaan zat semakin meningkat di kalangan remaja, jika


membahas mengenai narkotika mungkin heroin adalah obat pertama yang terlintas
dalam pikiran dan kita membayangkan pengguna jangka panjang penyalahguna
narkoba adalah kebiasaan dari rendahnya status sosial ekonomi. Asosiasi ini
sebenarnya dibenarkan karena korban penyalahgunaan opioid mungkin di semua usia
dan mewakili semua tingkat sosial dan ekonomi, dan obat dapat diperoleh dengan
cara haram atau secara hukum diperoleh dengan resep dokter.

Pada tahun 1880 an Friedrich memperkenalkan heroin sebagai obat batuk dan
untuk berbagai penyakit paru lainnya. Pada saat itu heroin dikenal dapat menekan
batuk.Awalnya perusahaan bayer memodifikasi morfin dengan harapan membuatnya
lebih efektif atau lebih aman efek candunya daripada morfin. Namun pada tahun 1902
Morel-Lavalle mengemukakan bahwa efek candu dari heroin lebi parah daripada
morfin.

Penyalahgunaan heroin mulai meningkat sejak awal 1990 dan mengalami


booming sejak 1996. Menurut national household survey on drug abuse di USA
tahun 1996 sebanyak 2,4 juta orang pernah menggunakan heroin. Indonesia sendiri
pernah menghitung penderita narkotika tahun 1995 adalah 130.000 orang (0,065%).
Para pemakai narkotika ini kebanyakan dewasa muda usia <26 tahun. Angka
kematian akibat penggunaan heroin di Indonesia mencapai 17,6%.

Gejala putus heroin lebih berat dibandingkan gejala putus zat lainnya dan yang
Intoksikasi dan gejala putus zat pada pengguna heroin pada umumnya menunjukkan
gejala gejala yang cukup berat sehingga penderitanya memerlukan perawatan
medis. Pada makalah ini akan dibahas mengenai Intoksikasi heroin.
1. Sejarah Heroin
Pada pertengahan tahun 1880 an sebuah seorang pengusaha muda Jerman
bernama Friedrich Bayer terlah mengembangkan sebuah pabrik di Elberfeld,
Jerman. Pabrik ini berinvestasi dalam penelitan dan pengembangan obat obat an.
Ahli kimia yang bekerja untuk Bayer memanfaatkan kesempatan untuk
mengambil obat yang diambil dari morfin. Salah satu penemuan pertama mereka
sebenarnya adalah penemuan diacetylmorphine oleh ahli kimia Heinrich Dreser
pada akhir 1890- an. Bayer menyeut heroin obat ini dari kata jerman yang berarti
pahlawan. (Walls, 2015)

Dengan diperkenalkannya obat-obatan seperti heroin, juga menjadi perlu untuk


membedakan antara obat-obatan seperti morfin yang secara alami terjadi pada
tanaman opium opium dibandingkan dengan heroin yang merupakan turunan
sintetis. Oleh karena itu, istilah opium menunjuk pada obat alami, sedangkan
opioid mengacu pada semua obat mirip opiat dan, oleh karena itu, mencakup
morfin dan turunan sintetis termasuk heroin, oksikodon, hidrokodon, dll. (Walls,
2015)

Penemuan ini diikuti setahun kemudian dengan ditemukannya asam asetilsalisilat.


Dalam proses yang sangat mirip dengan pembentukan diacetylmorphine dari
morfin alami, asam asetilsalisilat disintesis dari asetilasi asam salisilat, yang
secara alami terjadi di kulit pohon willow. Bayer menamai aspirin obat baru ini.
Ironisnya, aspirin memerlukan resep sedangkan heroin tidak. (Walls, 2015)

Bayer bersama dengan Merck, Telah meluncurkan kemunculan industri modern


dengan pengembangan dan produksi massal tiga analgesik paling populer di dunia
: Morfin, heroin dan aspirin. Dari ketiganya heroin di promosikan sebaga
pengganti morfin yang aman dan tidak adiktif sebagai obat batuk dan berbagai
penyakit pada paru. Kenyataannya komunitas medis saat ini sangat
memperhatikan kecanduan dan penarikan morfin yang diajukan oleh dokter Morel
Lavalle pada tahun 1902 bahwa heroin memiliki efek candu yang lebih berat
daripada morfin. (Walls, 2015)
Bibliography
Walls, A. P. (2015). Involving Impact On Rx Drug Abuse. A Brief History Of Heroin Use in the United
States , 5.