Anda di halaman 1dari 7

Sistem Pemipaan

PIPA
Untuk hantaran hantaran dengan pipa pengisian, pipa pembersih dan pipa pipa air
dalam kamar mesin, biasanya dipakai pipa tembaga merah yang tidak bercelah (seamless),
yang di beri flens flens tembaga kuning yang dipatrikan pakai tembaga. Tembaga merah itu
tidak dapat dirusak oleh air atau garam atau oleh air tawar (tahap korosi), dimana dilarutkan
bahan bahan kimia untuk membersihkan air (water treatment), sedangkan hantaran dengan
pipa tembaga merah ini dapat lebih mudah pula dipasang daripada hantaran dengan pipa baja.
Tembaga merah itu lebih lunak dan dapat lebih mudah dilengkungkan daripada baja.

Pipa pipa uap termasuk dalam peraturan yang mengenai bejana bejana uap. Untuk
pipa ini tidak perlu dimintakan izin pemakaiannya, bila garis tengah pipa tidak lebih dari pada
450 mm.

Pemakaian hantaran hantaran dengan pipa dari besi tuang tidak diizinkan, karena ia
tak sanggup menahan gaya kejut. Sungguhpun demikian hantaran pipa dari besi tuang itu
mempunyai daya pegas yang tidak kurang dari pada daya pegas hantaran pipa baja.

Hantaran hantaran pipa tembaga merah yang mempunyai ukuran kecil masih ada
dipakai untuk uap kenyang, akan tetapi untuk tekanan tinggi dan ukuran garis tengah yang
besar, pipa pipa ini tidak dapat dipergunakan karena kekuatannya tidak memungkinkan.
Pemakaian tembaga atau tembaga merah tidak diperkenankan untuk pipa pipa uap dimana
suhunya lebih dari 2100C.

Pipa pipa uap baja lunak, yang kini pada umumnya dipergunakan dapat dibuat tiga
macam : ada yang terdapat pipa pipa yang dilas dengan celah menumpu, ada pula yang dilas
berimpit dan ada juga pipa pipa dibuat yang tidak bercelah (seamless). Pipa pipa pakai
celah las dibuat dari sejalur lempeng, yang dicanai berbentuk silinder dan yang kemudian dilas.

Pipa pipa yang dilas dengan celah menumpu, tidak begitu kuat dan celah ini kurang
dipercayai. Oleh karena itu pipa pipa ini dibuat maksimum dengan garis tengah dari 1 1/2"
hanya dapat dipergunakan untuk tekanan uap yang rendah, dimana bocoran dalam pipa tidak
akan berbahaya. Pipa pipa yang dilas berimpit boleh dipakai untuk segala macam ukuran.

Kekuatan pipa ini terhadap tekanan dari dalam sama dengan kira kira 75% kekuatan
pipa yang tidak bercelah (seamless). Pipa pia yang di las mempunyai ukuran tebal dinding
yang sama besar dan teratur, karena pipa ini dibuat dari sejalur lempeng, yang merata sama
tebalnya. Berhubung dengan lasnya, dipakai suatu macam bahan yang mempunyai kadar zat
arang yang rendah, sehingga pipa pipa menjadi liat dan lemas. Bahan itu tidak dapat di sepuh
(diperkeras) dan sifat ini sangat penting, karena ketika kita membengkokan pipa pipa
didinginkan setempat tempat dengan air, untuk menjaga jangan sampai pipa itu berkarat pada
bagian yang dibengkokan. Pada bahan yang mengandung lebih banyak zat arang, tempat
tempat yang didinginkan oleh air akan menjadi lebih keras, yang dengan sendirinya dapat pula
memperbesar kemungkinan pipa menjadi pecah. Pipa pipa yang tidak bercelah tidak selalu
mempunyai ukuran tebal dinding yang sama pada seluruh bagiannya, sedangkan sebagai bahan
dipakai bahan yang mempunyai kadar zat arang yang tinggi, hingga pipa menjadi lebih keras
dan lebih tegar. Yang paling baik ialah pipa pipa baja yang ditempa dari bagian yang sama
dengan flens flens, akan tetapi pipa ini sangat mahal.

FLENS FLENS

Pada hantaran hantaran pipa uap yang bergaris tengah kecil dan untuk tekanan uap
yang rendah biasanya ujung pipa di rol (diperluas) berbentuk flens untuk menghubungkan satu
sama lain. Untuk menambah kekuatan sambungan, lubang dalam flens dibuat agak konis.
Sambungan serupa ini mempunyai satu kekurangan yang penting pada tekanan dan suhu tinggi.
Pada permulaan memasukkan uap ke dalam hantaran, pipa akan lebih cepat jadi panas daripada
flensnya. Karena pipa tertahan dala permulaannya oleh flens itu, maka di dalam ujung pipa
yang diperluas tadi akan terdapat tegangan tegangan tekan yang besar yang dapat
menyebabkan ujung pipa tertumpu.

Setelah flens mencapai suhu yang sama tingginya dengan suhu pipa, sambungan yang
dirol tadi akan terlepas dan menjadi bocor. Selanjutnya kemungkinan besar pipa akan tertarik
dari flens oleh gaya gaya yang bekerja searah dengan garis tengah sumbu pipa ( gaya aksial).
Untuk menghindarkan timbulnya hal hal yang tidak diinginkan karena pergeseran ke luar dari
flens flens, maka mempunyai garis tengah yang lebih besar dari pada 175 mm tidak boleh
disambung hanya dengan perluasan ujung ujungnya ke dalam flens secara silinder.

Dalam keadaan serupa itu kita dapat memperkuat sambungan flens ke pipa pakai paku
paku keling. Keburukannya ialah, kepala kepala paku keling itu akan menimbulkan tahan
gesekan didalam pipa, ketika menimbulkan kejadian yang tidak diingini. Oleh karena itu pada
tekanan uap yang tinggi, ada baikknya untuk melengkungkan ujung ujung pipa ini di luar
flens dan bila perlu dilas pula.
Banyak terjadi, seal antara dua buah flens dihembus ke luar, biasanya disebabkan
karena kekuatan baut baut dari sambungan flens kurang dari pada kekuatan pipa sendiri. Pada
gaya gaya yang besar yang bekerja searah dengan garis sumbu hantaran pipa uap, hantaran
itu akan lebih banyak diregang pada tempat tempat yang terlemah, karena perubahan
perubahan suhu. Jia baut bautnya kurang kuat dari pada pipa sendiri, baut baut inilah yang
akan diregang dan menyebabkan flens menjadi bocor.

Akan tetapi, bila baut itu bersama sama dibuat lebih kuat dalam sambungan flensnya
daripada pipa sendiri, pipa itulah yang akan diregang, sedangkan sambungan flens tinggal tetap
rapat tak lalu uap. Sistem yang kedua ini lebih baik dari pada sistem pertama, karena regangan
pipa tidak begitu mempengaruhi kekuatan pipa terhadap tekanan dari dalam. Oleh karena itu
kini pada pemakaian tekanan tekanan uap yang lebih tinggi, lebih banyak dipergunakan ujung
ujung ulir dari baja nikel, yang sebenarnya jauh lebih kuat pula dari pada baut baut baja zat
arang yang biasa. Banyak dipakai ujung ujung ulir, karena ongkos pembikinan ujung ujung
ulir ini lebih rendah dari pada ongkos pembikinan baut baut baja nikel pakai kepala kepala
tetap. Supaya kita dapat dengan mudah membedakan ujung ujung ulir baja nikel dari ujung
ujung ulir yang lain, pada ujung ujung yang pertama dibubut kedua buah ulirnya sepanjang
5 mm.

Karena pada sambungan flens bekerja gaya gaya yang besar, kita pergunakan di sini
mur mur yang tinggi untuk menjaga jangan sampai mur mur itu berkarat dan menjadi satu
dengan ujung ujung ulirnya. Ujung ujung ulir ini kadang kadang dibuat pakai uliran
seluruhnya atau kadang kadang pakai uliran ujungnya saja, sedangkan bagian tengahnya
dibuat lebih halus. Dalam kedua macam pelaksanaan itu, regangnya terbagi rata dalam seluruh
ukuran panjang baut dan kemungkinan patah dapat dikurangi.

Pada pemakaian tekanan uap yang tinggi, kita lambat laun mengganti cincin asbes yang
dapat larut dalam air itu dengan cincin yang dibuat dari semacam besi yang lunak (besi armco)
dan jenis lainnya yang dibuat bergerigi gerigi. Pemakaian cincin cincin ini dapat
memberikan kepada kita suatu sambungan yang rapat terhadap uap dan yang tahan lama. Kini
banyak dilakukan pemakaian flens flens yang diasah sampai datar dimana kita tidak perlu
mempergunakan cincin cincin (seal). Disini biasanya hanya bidang bidang penutupnya
yang disemir sedikit.
PIPA PIPA EKSPANSI

Panjangnya bentangan pipa uap akan berubah ubah karena perubahan suhu. Oleh
karena pemuaian yang tidak teratur, maka dapat terjadi tegangan yang tidak normal dalam
dinding pipa dari sambungan flens. Tegangan itu dapat menyebabkan baut patah dalam
sambungan flens atau pipa pipa yang berdiri tegak lurus pada pipa yang memanjang dapat
menjadi putus. Pemuaian yang tidak teratur dapat terjadi karena pemasukan uap terlalu cepat
ke dalam hantaran pipa yang masih dingin. Juga karena pemasangan pipa yang salah, sehingga
terdapat kumpulan air dalam pipa. Dalam keadaan pertama uap memanaskan sisi sebelah atas
pipa dengan cepat sekali, sedangkan sisi sebelah bawahnya bermula dingin karena air
terkondensasi. Oleh karena itu pada tempat tempat yang terendah, kita harus memasang alat
alat pencerat air yang mula mula harus dibuka sampai tidak ada lagi air terkondensasi ke
luar. Selain dari pada itu kita harus memasukan uap dengan sangat perlahan lahan supaya
hantaran pipa mendapat cukup kesempatan untuk memulai dengan teratur. Berhubungan
dengan hal hal yang tersebut diatas, maka diwajibkan pemasangan pipa pipa ekspansi atau
lengkung pemuaian dalam hantaran hantaran pipa uap yang dapat menerima perubahan
perubahan panjang yang tidak berbahaya. Salah satu cara ini ialah penempatan lengkung
lengkung ekspansi.

Ketika hantaran pipa menjadi panas, lengkung ini akan bertambah oanjang dan flens
flensnya akan tertekan satu sama lain. Perubahan bentuk yang terbesar akan terdapat dalam
lengkung sebelah atas, sehingga bahan diregang dalam lengkung luar dan ditumpu pada
lengkung dalam. Jadi, lingkaran luar mendapat tarikan, sedangkan lingkaran dalam mendapat
beban tekan. Pada pendinginan yang menyusul sesudah itu akan terjadi kebalikannya, hingga
lambat laun bahan ini akan menjadi lelah.

Pelaksanaan yang lain dari sebuah pipa ekspansi diperlihatkan pada gambar, akan tetapi
pelaksanaan ini mempunyai keburukan yang sama dengan pertama tadi. Akan tetapi bila
memakai lengkungan lengkungan ini, haruslah dipasang membujur atau diarahkan ke atas,
untuk mengurangi terjadinya tempat tempat pengumpulan air.

Cara lebih baik untuk menanggulangi perubahan panjang hantaran pipa, diperlihatkan
pada gambar.

Jika hantaran itu dijepit pada P dan Q yang dapat bergeser ke semua bagian yang
lurusnya pada perubahan panjang akan bekerja sebagai lengkung ekspansi dan bagian yang
lurus itu akan melengkung sedikit. Tegangan tegangan yan tejadi dalam lengkung luar tidak
berbahaya, sedangkan konstruksi ini dapat menerima perubahan panjang yang lebih besar. Juga
pada lengkung ekspansi ini, bagian R & S harus dipasang membujur atau diarahkan ke atas,
untuk menghindarkan kumpulan kumpulan air dalam hantaran pipa.

Lengkung lengkung ekspansi ini perlu ditreatment secara periodik, untuk


menghilangkan kekerasannya yang terjadi oleh karena perubahan perubahan bentuk yang
berulang ulang.

Dalam gambar diperlihatkan sepotong pipa ekspansi yang diapsang hantaran hantaran
pipa uap induk.

Jika tekanan uap lebih daripada 3 kg/cm3 dan jumlah dari angka angka yang
menunjukan ukuran garis tengah dalam mm dan tekanan tertinggi yang sebenarnya dalam
kg/cm2 lebih besar dari 150, pipa pipa ekspansi ini tidak boleh dibuat besi tuang.

Bagian bagian A dan B dapat bergeser antara satu dengan yang lain. Untuk mencegah
bagian bagian itu dapat tertarik ke luar dipasang pada kelilingnya tiga atau enam buah baut
baut pasak. Mur mur pada batang ini dikencangkan di tempat tempat dimana ia tak
menghalangi pemuaian pipa. Penekan dikatakan dengan memakai enam buah ujung ujung
tap. Kekurangan dari pipa pipa ekspansi serupa ini ialah bahwa penekannya harus
dikencangkan lebih keras, untuk menghindari bocoran yang sangat menggangu goyangan
bebas dari bagian bagian itu antara satu dengan yang lain.

PIPA KALOR

Telah kita lihat bahwa salah satu tujuan analisis perpindahan kalor ialah perancangan
alat penukar kalor yang digunakan untuk memindahkan kalor dari satu tempat ke tempat lain.
Makin kecil dan makin kompak penukar kalor itu, makin baik rancangannya. Suatu alat baru
yang memungkinkan perpindahan sejumlah besar kalor melalui luas permukaan yang sangat
kecil ialah pipa kalor. Konfigurasi dasar alat itu adalah seperti pada gambar. Alat itu
menggunakan pipa bundar yang permukaan dalamnya dilapisi dengan bahan sumbu, seperti
pada gambar, dengan inti bolong ditengahnya. Kedalam pipa itu diisikan fluida yang mampu
kondensasi (condesible) dan fluida ini menyusup melalui bahan sumbu itu dengan aksi kaliper.
Bila pada salah satu ujung pipa (evaporator) ditambahkan kalor, zat cair menguap di dalam
sumbu dan uapnya mengalir ke inti tengah. Pada ujung pipa yang satu lagi, kalor dikeluarkan
(kondensor), dan uap kondensasi kembali ke sumbu. Zat cair itu mengisi bagian evaporator
dengan aksi kapiler.
Berbagai jenis fluida dan bahan pipa telah digunakan dalam konstruksi pipa kalor, dan
berbagai karakteristik operasinya dirangkumkan dalam daftar 12-2. Alat memungkinkan fluks
kalor yang sangat tinggi, untuk itu banyak usaha penelitian yang digiatkan untuk menemukn
rancangan sumbu yang optimum, inovasi konfigurasi yang paling baik untuk penerapan
penerapan tertentu, dan sebagainya. Dua analisis teoritis yang pertama pertama tentang pipa
kalor disajikan oleh cotter, et, al, tetapi alat ini berkembang demikian pesatnya, sehingga
informasi terakhir tentang alat ini harus dicari pada pustaka penelitian terbaru. Sesuai dengan
tujuan kita, disini perhatian kita arahkan pada penerapan alat ini.

Masalah pendinginan dalam untaian mikroelektrik sangat kritis karena kalor yang
dibangkitkan harus dibuang dari permukaan yang sangat kecil, sedang daya daya alat
elektronik itu sangat dipengaruhi oleh suhu. Konsep pipa kalor memberikan cara yang sangat
praktis untuk memindahkan kalor dari bidang yang sempit ke bidang yang lebih luas, dimana
kalor selanjutnya dapat dibuang dengan lebih mudah. Salah satu cara untuk ini ditunjukan
dalam Gambar 12-20. Bila perlu, tentu saja permukaan pembuang kalor bersirip itu dapat di
dinginkan dengan air. Keuntungan daripada pipa kalor dalam penerapan untuk pendinginan
eletronik ialah bahwa operasinya hampir isotermal, dan tidak tergantungdari fluks kalor, dalam
rentang operasi alat itu.

Rancangan dasar pipa kalor dapat diubah agar dapat beroperasi sebagai alat kendali
suhu, seperti terlihat pada gambar 12-21. Sebuah resevoar berisi gas tak mampu kondensasi
(noncondensible) dihubungkan dengan ujung pembuang kalor dari pipa kalor. Gas ini
membentuk muka batas dengan uap dan mencekik sebagian dari kondensasi ke sumbu. Dengan
peningkatan penambahan kalor, uap yang dibangkitkan karena peningkatan tekanan uap
bertambah pula, dan ga yang tak mampu kondensasi didorong kembali ke dalam reservoar, dan
karena itu membuka lagi tambahan luas kondensor untuk membuang tambahan kalor. Untuk
mengurangi tambahan kalor, operasinya sebaliknya. Jika suhu sumber kalor turun sampai pada
suatu nilai dibawah minimum, bergantung dengan fluida dan kombanasi gas didalam pipa
kalor, penutupan total dapat terjadi. Oleh karena itu, sifat kendali ini mungkin sangat berguna
untuk penerapan dalam pemanasan cepat di samping nilainya sebagai perata (leverer) suhu
untuk kondisi muatan yang berubah ubah.

Pipa kalor sangat berguna sebagai alat kekekalan energi. Salah satu contohnya terlihat
pada gambar 12-22, dimana gas buang panas digunakan untuk menjalakan ketel pemulih kalor
limbah. Gas gas dari proses pembakaran, yang biasanya dibuang ke atmosfer, dilewatkan
melintas salah satu ujung pipa kalor bersirip. Ujung yang satu lagi dibenamkan di dalam air
ketel. Skematik suatu unit komersial ditunjukan pada gambar 12-23 dimana terlihat bahwa pipa
kalor dimiringkan untuk menjaga aliran yang semestinya dari zat cair dan uap.