Anda di halaman 1dari 7

A.

IDENTITAS JURNAL

Judul : Postmortem CT compared to autopsy in children; concordance in a


forensic setting
Penulis : Tessa Sieswerda-Hoogendoorn, Vidija Soerdjbalie-Maikoe, Henri de
Bakker, Rick R. van Rijn
Penerbit : Springer-Verlag Berlin Heidelberg
Tahun Terbit : 2014
Jenis Penelitian : Original Article

Tujuan Penelitian :Penelitian ini adalah untuk menilai akurasi postmortem CT (PMCT)
dalam menentukan penyebab kematian di anak-anak yang menjalani
otopsi forensik karena diduga kematian tidak wajar.
Metode Penelitian : Jurnal ini menggunakan otopsi pediatrik forensik di Institut Forensik
Belanda, dimana subjek menjalani PMCT antara 2008/01/01 dan 31-
12-2012.

B. ISI JURNAL

Otopsi merupakan cara sering digunakan dalam menentukan sebab kematian. Seiring
dengan perkembangan zaman, imaging postmortem mulai digunakan sebagai alternative otopsi.
Banyak penelitian yang sudah diterbitkan mengenai imaging postmortem sebagai alternative
dalam menentukan sebab kematian yang dapat diterima. Meskipun jumlah publikasi meningkat,
namun akurasi diagnostic imaging postmortem dibandingkan otopsi konvensional belum
divalidasi dalam segala bidang.
Baru-baru ini terdapat dua penelitian validasi yang telah dipublikasi, penelitian tersebut
mengambil komunitas orang dewasa dan satunya pada komunitas janin dan anak. Pada penelitian
komunitas orang dewasa dilakukan postmortem ct (PMCT) dan postmortem MRI sedangkan
pada penelitian komunitas anak hanya dilakukan popstmortem MRI. Hasil dari penelitian
tersebut menunjukan bahwa keakuratan hingga 50% pada fetus dan 69% pada anak. Keakuratan
tersebut akan lebih tinggi apabila dikombinasi dengan minimal invasive autopsy (MIA). Dengan
MIA, maka keakuratan akan meningkat hingga 97% pada janin (n = 263/272) dan 76% dianak-
anak (n = 94/123).
Hasil PMCT menunjukkan keakuratan lebih baik daripada MRI postmortem pada orang
dewasa, namun masih sedikit penelitian yang telah diterbitkan mengenai penggunaan PMCT

1
pada kematian anak. Salah satu studi PMCT dilakukan pada anak-anak yang meninggal tiba-tiba
menunjukkan tingkat keakuratan antara PMCT dan otopsi sebanyak 89%.
Jurnal yang reviewer pilih ini membahas mengenai perbandingan keakuratan postmortem
CT (PMCT) dengan otopsi konvensional pada anak. Jurnal penelitian ini merupakan penelitian
pertama yang membahas mengenai PMCT pada anak. Tujuan dari inistudi ini adalah untuk
menilai akurasi PMCT dalam menentukan penyebab kematian pada anak-anak yang menjalani
otopsi forensic kematian yang dicurigai secara tidak wajar.Dalam jurnal ini dijelaskan bahwa
sample yang digunakan adalah semua otopsi pediatrik berturut-turut yang dilakukan di Institut
Forensik Belanda (Netherlands Forensic Institute atau NFI) yang terletak di Haguepada periode 1
Januari 2008 sampai31 Desember 2012, dimana subjek menjalani PMCT. Menurut hukum
Belanda, seluruh kematian tidak wajar yang diduga akibat tidan pidana maka harus dilakukan
otopsi di NFI. Sampel dalam jurnal ini tidak menyertakan kasus dengan perubahan postmortem
yang parah yaitu lebih dari 5 poin derajat pembusukan.
Seluruh PMCT tubuh dilakukan sesaat sebelum otopsi, menggunakan beberapa merk
scanner. Karena NFI tidak memiliki fasilitas CT, maka scan dilakukan di departemen radiologi
di Groene Hart Ziekenhuis (Gouda) dan Akademik Medis Pusat (Amsterdam). Semua hasil scan
PMCT kemudian dievaluasi oleh ahli forensik radiologi pediatrik (RR) yang telah memiliki 10
tahun pengalaman di forensik.radiologi pediatric.
Ahli radiologi (RR) dan ahli patologi (VS) kemudian menentukan penyebab kematian
berdasarkan temuan mereka. Akses data yang mereka miliki mengenai pasien terbatas pada usia,
jenis kelamin, masalah medis sebelum kematian, dan temuan adegan. Ahli radiologi tidak
memeriksa tubuh, ia juga tidak memiliki akses ke foto postmortem korban.
Dalam jurnal ini, pengolahan data menggunakan IBM SPSS Statistics 19. Median dengan
rentang antar-kuartil (IQR) dihitung variable nurmerik sebagai data tidak terdistribusi
normal. Uji normalitas studi ini menggunakan tes Kolmogorov-Smirnov. Perbedaan antara
subkelompok diuji dengan Mann Whitney U untuk variabel numeric dan Chi-square untuk
variabel kategorik. .
Dalam 5 tahun studi penelitian ini, terdapat 189 kasus autopsi forensik pediatri yang
dilakukan di NFI. Sebanyak 15 kasus tidak diikutsertakan sebagai sampel penelitian karena
pembusukan yang cukup parah. Dari 174 kasus autopsy sebanyak 98 (56%) autopsy menjalani

2
PMCT. Rata-rata usia adalah 1 tahun 1 bulan dengan retang usia 3 tahun hingga 6 tahun. Pada
autopsy tersebut terdapat 53 (53%) anak laki-laki dan 46 (47%)anak perempuan.
Kasus campuran yang menjalani PMCT merupakan kasus khusus di NFI. Berdasarkan
pada kedua otopsi dan temuan dilapangan, sebanyak 51/98 kasus (52%) diidentifikasi meninggal
karena penyebab alami., sebanyak 35/98 kasus (36%) diidentifikasi penyebab kematian tidak
dapat ditentukan dan diklasifikasikan sebagai or sindrom kematian bayi tidak terduga (sudden
infant death syndrome/ SIDS) atau kematian tiba-tiba tak terduga kematian bayi (sudden
unexpecteddeath in infancy/ SUDI); dan di 12/98 kasus (12%) diidentifikasi sebagai kematian
alami. Pada anak-anak yang meninggal tidak wajar diketahui sebab kematian adalah kekerasan
terhadap anak sebanyak 42/51 kasus (82%) dan sebanyak di 9/51 kasus (18%), tidak dapat
ditentukan perbedaan antara disengaja trauma dan pelecehan anak.
Dalam jurnal ini dibahas mengnai penyebab kematian dan diklasifikasikan dalam tiga
cara: (1) dalam tiga kelompok utama yang terdiri dari alami, tidak wajar, dan tidak ada penyebab
kematian; (2) menurut ICD-10 dan (3) menurut klasifikasi forensik dikembangkan oleh NFI.
a. Berdasarkan penggolongan3 kategori sebab kematian, PMCT dan otopsi mengidentifikasi
kategori penyebab kematian yang sama pada 69 dari 98 kasus (70%). Dari 49 anak yang
diidentifikasi dengan kematian tidak wajar menggunakan autopsy, 33 diantaranya (33%)
diidentifikasi dengan diagnosis yang sama menggunakan PMCT, sedangkan 16 kasus lainnya
diidentifikasi tidak terdapat sebab kematian. Secara keseluruhan, PMCT tidak dapat
mengidentifikasi penyebab kematian pada 64 dari 98 (65%). PMCT mengidentifikasi satu

penyebab kematian di mana otopsi digolongkan dalam kasus tidak ada penyebab kematian
yaitu terdapat subdural hematoma (SDH) dengan ukuran kecil yang mana kecembungan itu
terlihatpada PMCT dan tidak ditemukan selama otopsi.
Gambar 1. Tabel mengenai hasil sebab kematian berdasarkan 3 kategori

3
b. Berdasarkan penggolongan penyebab kematian menggunakan ICD-10, PMCTdan
otopsimengidentifikasi system organ yang sama terkait dengan penyebab kematian pada 66
dari 98 kasus. Dari 49 kasus yang diidentifikasi dengan otopsi sebagai kematian yang tidak
wajar, 31 kasus diklasifikasikan sebagai kasus cedera dan 25 dari 31 kasus (81%)
diklasifikasikan dengan PMCT dalam kategori yang sama.

Gambar 2. Tabel mengenai hasil sebab kematian berdasarkan ICD 10

c. Berdasarkan klasifikasi NFI


Ahli patologi menggunakan 11 kode yang berbeda dari klasifikasi forensik. Dalam 71/98
kasus (72%), PMTCT mengidentifikasi klasifikasi forensik yang sama.

Gambar 3. Tabel mengenai hasil sebab kematian berdasarkan klasifikasi NFI

4
Jurnal ini merupakan penelitian pertama PMCT pada anak-anak dan ingin menentukan
keakuratan antara PMCT dan otopsi untuk dapat emngetahui sebab kematian terutama pada
anak-anak. Pada kasus kematian tidak wajar, kesesuaian antara PMCT dan otopsi adalah
67%. Sebuah tinjauan pustaka dalam jurnal ini menyebutkan bahwa pada orang dewasa
menunjukkan keakuratan penentuan sebab kematian pada kasus yang tidak wajar antara 46 dan
100%. Utuk kasus kematian yang wajar terutama yan alami, PMCT tidak dapat
mengidentifikasi penyebab setiap kematian di dalam penelitian ini. Hal ini tidak serupa dengan
studi yang lain dimana menemukan tingkat kesesuaian 88% untuk PMCT vs otopsi (38/43) untuk
kematian alami pada anak. Dalam jurnal ini, penulis mengaku tidak memiliki penjelasan
mengapa terdapat perbedaan yang signifikan mengenai hal ini.

Negatif Palsu (False Negatif)


Dalam jurnal ini, dibahas mengenai false negative dan false positif yang terjadi selama
penelitian. Dalam kasus yang diidentifikasi sebagai kematian yang tidak wajar (n = 49) dengan
otopsi, jumlah negatif palsu adalah 39% yaitu 16 dari 49 kasus. Pada kasus kematian tidak wajar,
sebab kematian yang paling umum terlewati dengan PMCT adalah cedera disebabkan oleh
gantung diri (hanging), pencekikan (strangulation) atau mati lemas(suffocation) karena asap
atau api.
Sebagai contoh, seorang anak berusia 1,5 tahun, ditemukan tergantung di tali melingkar
pada lehernya. Hasil PMCT menunjukkan kompleks laring dan hyoid yang intak (a,b) dan
terdapat tanda-tanda diskrit edema pulmonary (c), dan tidak terlihat adanya temuan patologis
lain. Udara intrakardial di atrium kanan ventrikel dicatat, seluruhnya adalah temuan normal
postmortem. Namun, saat otopsi ditemukan cedera leher eksternal dan internal, terdapat abrasi
melingkar pada kulit (d) dan beberapa perdarahan pada jaringan lunak di atas otot
sternocleidomastoid . Tidak ada fraktur kompleks laring hyoid atau tulang belakang leher.

5
Penyebab kematian anak ini adalah mati lemas akibat trauma pada leher.
Gambar 4. Hasil PMCT dan otopsi anak berusia 1,5 tahun
Dalam kasus diidentifikasi dengan otopsi sebagai kematian alami (n = 9), seluruhnya
dilaporkan oleh PMCT dengan hasil negatif palsu. Kasus tersebut merupakan kematian akibat
infeksi penyakit menular yaitu: miokarditis, pneumonia,bronchiolitis dan TB milier. Hal ini
berbeda dengan jurnal penelitian pediatric lainnya yang dapat mengidentifikasi penyakit penular
dengan tepat menggunakan PMCT. Sebayak 79% (11 dari 14 kasus) diidentifikasi dengan PMCT
sebagai kematian alami akibat pneumonia, pneumonia dan gastroenteritis, penyakit metabolik,
dan volvulus. Dalam jurnal tersebut, satu satunya penyebab adanya negative palsu adalah kasus
pneumonia. Rendahnya hasil negative palsu dalam penelitian tersebut cukup mengejutkan
dimana mengingat diagnosis postmortem dari penyakit paru cukup kompleks, karena konsolidasi
postmortemmdan livor mortis mengganggu penilaian paru-paru. Dalam jurnal ini dijelaskan
bahwa penyebab perbedaan hasil antara jurnal ini dan studi yang lain adalah fakta bahwa
penelitian ini hanyaakan menulissebab kematian apabila radiologis merasa yakin bahwa kelainan
yang terjadi merupakan penyebab dari kematian. Kelainan yang cukup besar atau kecil kadang
terdeteksi tetapi tidak ditulis sebab kematian apabila tidak diyakini bahwa temuan tersebut
merupakan sebab dari kematian.
Dalam penelitian ini digunakan kriteria yang cukup ketat karena PMCT digunakan dalam
aturan forensic. Dalam persidangan, diagnosis yang meragukan akan tidak diterima. Dalam studi
menggunakan MRI, sebanyak 32 dari 132 kasus dilaporkan sebagai negative palsu. Diagnosis
yang sering terlewatkan adalah sepsis dan abnormalitas plasenta.

Positif Palsu (False Positif)


Dari semua kasus di mana otopsi tidak mengidentifikasi penyebab kematian (N = 40) dan
PMCT mengidentifikasi SDH berukuran kecil dalam satu kasus (1%). Hal ini dianggap sebagai
temuan positif palsu karena hampir tidak mungkin bahwa SDH akan dilewatkan selama otopsi.

Keterbatasan dalam penelitian jurnal ini adalah tidak semua kasus otopsi menjalani
PMCT. Hal ini terjadi karena NFI tidak memiliki CT scanner sendiri dan praktis dapat
menghambat transportasi rutin jenazah. Alasan lain adalah bahwa penggunaan PMC
perkembangan yang relatif baru dan butuh waktu untuk melaksanakan protokol baru. Saat ini

6
beberapa adaptasi untuk pencitraan postmortem sedang dikembangkan. Minimal otopsi invasif
(MIA) dapat meningkatkan tingkat kesesuaian antara pascamortem MRI dan otopsi 69-76% pada
anak-anak dan menunjukkan hasil yang lebih baik pada janin. Kombinasi dari PMCT dan MIA,
atau keduanya PMCT dan MRI dengan MIA, cukup menjanjikan pada orang dewasa namun
belum divalidasi pada anak-anak. Di tahun 2011, kasus pertama di mana penyebab kematian
diidentifikasi meggunakan PMCT yang kombinasi dengan MRI postmortem dan biopsi jaringan,
diterima oleh Departemen Kejaksaan Swiss, tanpa konfirmasi oleh otopsi forensic. Di Negara
lain, misalnya, Belanda, penggantian otopsi oleh pencitraan postmortem saat ini belum diterima
di pengadilan sebagai bukti yang valid dan dapat disampaikan secara luas.

C. PENUTUP
Kesimpulan dalam penelitian ini adalah PMCT pada anak-anak dapat mengidentifikasi
penyebab kematian pada kematian tidak wajar secara benar (67%). Keakuratan diagnosis dalam
kematian alami jurnal ini lebih rendah dibandingkan penelitian yang lain. Untuk saat ini, PMCT
tidak dapat menggantikan otopsi konvensional pada anak anak, namun dalam kombinasi dengan
MIA mungkin cocok untuk menentukan kasus-kasus yang membutuhkan otopsi konvensional.