Anda di halaman 1dari 16

TUGAS UJIAN

Disusun Oleh:

Sarah Jihaan Danarto 1610221081

Pembimbing:

dr. Bagus Sulistyo Budhi, SpKJ, MKes

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN KEDOKTERAN JIWA

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA

RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO

PERIODE 22 MEI 2017 24 JUNI 2017


Pertanyaan:

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa


2. Apa saja yang anda ketahui tentang bunuh diri? Jelaskan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA GANGGUAN JIWA

1. Faktor faktor somatik ( somatogenik ) atau organobiologis.


Yang termasuk kedalam kelompok ini adalah:
a. Genetika / keturunan.
Menurut Cloninger dalam Yosep ( 2007 ) gangguan jiwa, terutama gangguan
persepsi sensori dan gangguan psikotik lainnya erat sekali penyebabnya dengan faktor
genetik termasuk di dalamnya saudara kembar, individu yang memiliki anggota keluarga
yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan lebih tinggi di banding dengan
orang yang tidak memiliki faktor herediter.
Individu yang memiliki hubungan sebagai ayah, ibu, saudara atau anak dari
klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan 10 % sedangkan
keponakan atau cucu kejadian 2- 4 %. Individu yang memiliki hubungan sebagai
kembar identik dengan klien yang mengalami gangguan jiwa memiliki kecenderungan
46 48 %, sedangkan kembar dizygot memiliki kecenderungan 14-17%. Faktor genetik
tersebut sangat ditunjang dengan pola asuh yang diwariskan sesuai dengan pengalaman
yang dimiliki oleh anggota keluarga klien yang mengalami gangguan jiwa.
b. Cacat kongenital.
Cacat kongenetal atau sejak lahir dapat mempengaruhi perkembangan jiwa anak,
terlebih yang berat, seperti retardasi mental yang berat. Akan tetapi umumnya pengaruh
cacat ini timbulnya gangguan jiwa terutama tergantung pada individu itu, bagaimana ia
menilai dan menyesuaikan diri terhadap keadaan hidupnya yang cacat. Orang tua dapat
mempersulit penyesuaian ini dengan perlindungan yang berlebihan ( proteksi
berlebihan). Penolakan atau tuntutan yang sudah diluar kemampuan anak.
c. Faktor jasmaniah
Beberapa penyelidik berpendapat bentuk tubuh seseorang berhubungan dengan
gangguan jiwa tertentu. Misalnya yang bertubuh gemuk/endoformcenderung mengalami
gangguan jiwa, begitu juga dengan yang bertubuh kurus/ectoform, tinggi badan yang
terlalu tinggi atau yang terlalu pendek dan sebagainya.
d. Deprivasi
Deprivasi atau kehilangan fisik, baik yang dibawa sejak lahir ataupun yang di
dapat, misalnya karena kecelakaan hingga anggota gerak ( kaki dan tangan ) ada yang
harus diamputasi.
e. Temperamen / Proses-proses emosi yang berlebihan
Orang yang terlalu peka/sensitif biasanya mempunyai masalah kejiwaan dan
ketegangan yang memiliki kecenderungan mengalami gangguan jiwa. Dan proses emosi
yang terjadi secara terus-menerus dengan koping yang tidak efektif akan mendukung
timbulnya gejala psikotik.
f. Penyalahgunaan obat-obatan
Koping yang maladaftif yang digunakan individu untuk menghadapi stressor
melalui obat-obatan yang memiliki sifat adiksi (efek ketergantungan) seperti cocaine,
amphetamine menyebabkan gangguan persefsi, gangguan proses berpikir, gangguan
motorik dan sebagainya.
g. Patologi otak
Termasuk disini adalah, trauma, lesi, infeksi, perdarahan, tumor, toksin,
gangguan metabolisme dan atrofi otak.
h. Penyakit dan cedera tubuh.
Penyakit penyakit tertentu misalnya penyakit jantung, kanker, dan sebagaimana,
mungkin menyebabkan merasa murung dan sedih. Demikian pula cedera / cacat
tubuh tertentu dapat menyebabkan rasa rendah diri

2. Faktor Faktor Psikologik ( Psikogenik ) atau Psikoedukatif


Bermacam pengalaman frustasi, kegagalan dan keberhasilan yang dialami seseorang akan
mewarnai sikap, kebiasan, dan sifatnya dikemudian hari.
a. Trauma di masa kanak-kanak
Deprivasi dini biologi maupun psikologik yang terjadi pada masa bayi, anak-anak.
Misalnya anak yang ditolak (rejected child) akan menimbulkan rasa tidak nyaman dan ia
akan mengembangkan cara penyesuaian yang salah.
b. Deprivasi parental
Deprivasi parental atau kehilangan asuhan ibu dirumah sendiri, terpisah dengan
ibu atau ayah kandung, tinggal di asrama, dapat menimbulkan perkembangan yang
abnormal.
c. Hubungan keluarga yang patogenik
Dalam masa kanak-kanak keluarga memegang peranan yang penting dalam
pembentukan kepribadian. Hubungan orang tua-anak yang salah atau interaksi yang
patogenik dalam keluarga merupakan sumber gangguan penyesuaian diri. Kadang orang
tua terlalu banyak berbuat untuk anak dan tidak member kesempatan anak itu
berkembang sendiri, adakalanya orang tua berbuat terlalu sedikit dan tidak merangsang
anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkan.
Beberapa jenis hubungan keluarga yang sering melatarbelakangi adanya
gangguan jiwa, umpamanya penolakan, perlindungan berlebihan, manja berlebihan,
tuntutan perfeksionistik, disiplin yang salah, dan persaingan antara saudara yang tidak
sehat.
d. Struktur keluarga yang patogenik
Struktur keluarga inti kecil atau besar mempengaruhi terhadap perkembangan
jiwa anak, apalagi bila terjadi ketidak sesuaian perkawinan dan problem rumah tangga
yang berantakan.
Anak tidak mendapat kasih sayang, tidak dapat mengahayati displin, tidak ada
panutan, pertengkaran dan keributan yang membingungkan dan menimbulkan rasa cemas
serta rasa tidak aman. Hal tersebut merupakan dasar yang kuat untuk timbulnya tuntunan
tingkah laku dan gangguan kepribadian pada anak dikemudian hari.
Kejadian kekerasan dalam rumah tangga memungkinkan anak anak untuk
menyaksikan pertengkaran orang tuanya (kekerasan terhadap ibunya) mengalami
kekerasan seperti yang di alami ibunya, bahkan menjadi sasaran
kekerasan (pelampiasan emosi) oleh ibunya.
Anak korban KDRT tergantung usianya dapat mengalami berbagai bentuk
gangguan kejiwaan sebagai dampak dari pristiwa traumatik yang dialaminya. Pada anak
prasekolah dapat berupa perilaku menarik diri, mengompol, gelisah, ketakutan, silit tidur,
mimpi buruk, dan teror tidur ( mendadak terbangun teriak histeris ), dan bicara gagap.
e. Kekecewaan dan pengalaman yang menyakitkan
Kematian, kecelakaan, sakit berat, perceraian, perpindahan yang mendadak,
kekecewaan yang berlarut-larut, dan sebagainya, akan mempengaruhi perkembangan
kepribadian, tapi juga tergantung pada keadaan sekitarnya (orang, lingkungan atau
suasana saat itu) apakah mendukung atau mendorong dan juga tergantung pada
pengalamannya dalam menghadapi masalah tersebut.
f. Stress berat
Tekanan stress yang timbul bersamaan dan atau berturut-turut, bisa menyebabkan
berkurangnya/hilangnya daya tahan terhadap stress. Contohnya kasus seseorang yang
baru saja mengalami perceraian kemudian harus juga kehilangan anak, baik karena
anaknya meninggal atau diputus secara paksa, mengakibatkan daya tahan dirinya dalam
menghadapi masalah menjadi lebih rentan.

3. Sebab Sosial Kultral


Kebudayaan secara teknis adalah idea tau tingkah laku yang dapat dilihat maupun yang
tidak terlihat. Faktor budaya bukan merupakan penyebab langsung timbulnya gangguan jiwa.
Biasanya terbatas menentukan warna gejalagejala disamping mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan kepribadian seseorang misalnya melalui atauranaturan kebiasaanya yang
berlaku dalam kebudayaan tersebut. Beberapa faktorfaktor kebudayaan tersebut yaitu :
a. Cara cara membesarkan anak
Cara cara membesarkan anak yang kaku dan otoriter, hubungan orang tua anak
menjadi kaku dan tidak hangat. Anak anak setelah dewasa mungkin bersifat sangat
agresif atau pendiam dan tidak suka tergaul atau justru menjadi penurut yang berlebihan.
b. Sistem nilai
Perbedaan sistem nilai, moral dan etika antara kebudayaan yang satu dengan yang
lain sering menimbulkan masalah kejiwaan.
c. Kepincangan antarkeinginan dengan kenyataan
Iklan-iklan di radio, televisi, surat kabar, film dan lain-lain menimbulkan
bayangan-bayangan yang menyilaukan tentang kehidupan modern yang mungkin jauh dari
kenyataan hidup sehari-hari. Akibat rasa kecewa yang timbul, seseorang mencoba
mengatasinya dengan khayalan atau melakukan kegiatan yang merugikan masyarakat.
d. Ketegangan akibat faktor ekonomi
Dalam masyarakat modern kebutuhan makin meningkat dan persaingan makin
meningkat dan makin ketat untuk meningkatkan ekonomi hasil-hasil teknologi modern.
Faktor-faktor gaji yang rendah, perumahan yang buruk, waktu istirahat dan berkumpul
dengan keluarga sangat terbatas dan sebagainya merupakan sebagian hal yang
mengakibatkan perkembangan kepribadian yang abnormal.
e. Perpindahan kesatuan keluarga
Khusus untuk anak yang sedang berkembang kepribadiannya, perubahan-
perubahan lingkungan (kebudayaan dan pergaulan) cukup mengganggu.
f. Masalah golongan minoritas
Tekanan-tekanan perasaan yang dialami golongan ini dari lingkungannya dapat
mengakibatkan rasa pemberontakan yang selanjutnya akan tampil dalam bentuk sikap
acuh atau melakukan tindakan-tindakan yang akan merugikan orang banyak.
BUNUH DIRI

1. DEFINISI
Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang yang dapat mengakhiri hidupnya
sendiri dalam waktu singkat.

2. KLASIFIKASI
A. Fortinash & Worret, (2012) membagi perilaku bunuh diri pada beberapa
tingkatan, berikut penjelasan padasetiap tingkatan perilaku bunuh diri:
a) Ide Bunuh Diri (Suicidal Ideation)
Ide bunuh diri adalah pikiran membunuh diri sendiri, baik yang dilaporkan
sendiri atau dilaporkan kepada orang lain. Meliputi pemikiran atau fantasi
langsung maupun tidak langsung untuk bunuh diri atau perilaku melukai diri
sendiri yang diekspresikan secara verbal, disalurkan melalui tulisan atau
pekerjaan seni dengan maksud tertentu maupun memperlihatkan pemikiran
bunuh diri (Fortinash & Worret, 2012). Ide bunuh diri merupakan proses
kontemplasi dari bunuh diri atau sebuah metoda yang digunakan tanpa
melakukan aksi/tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak akan
mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perlu
disadari bahwa klien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan mati.
b) Ancaman Bunuh Diri (Suicide threats)
Ungkapan secara langsung atau tulisan sebagai ekpresi dari niat
melakukan bunuh diri namun tanpa adanya tindakan. Ancaman bunuh diri
mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar
dapat mengatasi masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan
koping dan mekanisme adaptif.

c) Isyarat Bunuh Diri (Suicide Gesture)


Hasil tindakan langsung pada diri sendiri tanpa ada luka atau luka kecil
dari seseorang yang tidak ada niat untuk mengakhiri hidupnya maupun
mengharapkan untuk meninggal pada akhirnya. Bagaimanapun, mereka telah
melakukan cara dimana orang lain mengartikan tindakannya seperti
bermaksud bunuh diri. Pada fase ini klien menunjukkan perilakudestruktif
yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak. hanya mengancam
kehidupannya, tetapisudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri.
Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan,
misalnya minum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya.
Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan
hidupdan tidakberencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan
untuk hidup, ingin diselamatkan dan individu ini sedang mengalamikonflik
mental. Tahap ini sering dinamakan Crying for helpsebab individu ini
sedang berjuang dengan stres yang tidak mampu diselesaikan.
d) Percobaan Bunuh Diri (Suicide Attempts)
Terdapat tindakan serius secara langsung pada diri sendiri dimana
terkadang menyebabkan luka kecil atau besar dari seseorang yang berniat
untuk mengakhiri hidup atau dengan serius mencederai dirinya. Isyarat dan
percobaan yang tidak berhasil dan kurang mematikan disebut parasuicidal
behaviour. Perilaku parasuicidal dikembangkan oleh Kreitman untuk
menggambarkan perilaku yang termasuk memotong kulit atau menelan zat
kimia yang tidak memiliki akibat fatal dan dapat digunakan sebagai
mekanisme koping maladaptif untuk menangani emosi yang kuat atau pikiran
yang mengganggu.
e) Bunuh Diri Selesai (Completed Suicide)
Kematian seseorang yang mengakhiri kehidupan dengan cara mereka
sendiri dengan sadar berniat untuk mati sebagai gambaran bunuh diri selesai.
Bagaimanapun, hal ini penting untuk jadi catatan bahwa beberapa bunuh diri
pada dasarnya terkadang terjadi tanpa disadari adanya niat untuk mati (seperti
menyenangi aktivitas berisiko tinggi).

B. Tindakan bunuh diri dapat dibagi dalam empat kelompok yaitu:


a) Orang yang berhasul melakukan bunuh diri
Bunuh diri merupakan tindakan yang fatal yang dilakukan oleh seseorang
terhadap dirinya dengan maksud yang disadar. Kadang-kadang sukar
ditentukan apakah bunuh diri itu disebabkan karena kecelakaan atau memang
disengaja jika keterangan tidak lengkap.
b) Orang yang mengancam melakukan bunuh diri
Kelompok ini membicarakan tentang bunuh diri dan rencana bunuh diri
dengan samar, khusus atau sangat dipikirkan.
c) Orang yang telah menjalankan tingkah laku bunuh diri
Pada keadaan ini tindakan tingkah laku bunuh diri mempunyai arti non fatal.
d) Mereka yang menghancurkan diri secara kronik
Yang termasuk dalam kelompok ini adalah peminum alkohol, orang yang
menyalahgunakan zat, menolak menaati program medik.

C. Kriteria bunuh diri menurut Tuckman dan Youngman dikenal dengan kriteria
MAS SALAD yaitu:
Kriteria Penilaian Kriteria
M: Mental Status Gangguan afektif berat atau psikosis
A: Attempt Nilai Percobaan Bunuh Diri (PBD)
yang kuat, PBD ini bukan yang pertama
kali
S: Support system Tidak ada seseroang yang penting yang
dekat dengan pasien
S: Sex Wanita diatas 25 tahun dan pria diatas
45 tahun
A: Age Usia lanjut
L: Loss Kehilangan (status atau pasangan)
dalam 6 bulan terakhir
A: Alcoholism Peminum minuman keras
D: Drugs Penyalahgunaan atau ketergantungan
zat
3. ETIOLOGI
A. Penyebab bunuh diri pada anak
Pelarian dari penganiayaan atau pemerikosaan
Situasi keluarga yang kacau
Perasaan tidak disayang atau selalu dikritik
Gagal sekolah
Takut atau dihina di sekolah
Kehilangan orang yang dicintai
Dihukum orang lain
B. Penyebab bunuh diri pada remaja
Hubungan interpersonal yang tida bermakna
Sulit mempertahankan hubungan interpersonal
Pelarian dari penganiayaan fisik atau pemerkosaan
Perasaan tidak dimengerti
Kehilangan orang yang dicintai
Masalah dengan oran tua
Masalah seksual
C. Penyebab bunuh diri pada mahasiswa
Self ideal terlalu tinggi
Cemas akan tugas akademik yang banyak
Kompetisi untuk sukses
D. Penyebab bunuh diri pada lanjut usia
Perubahan situasi dari mandiri ketergantungan
Penyakit yang menurunkan kemampuan fungsi
Perasaan tidak berarti di masyarakat
Kesepian dan isolasi sosial
Sumber hidup berkurang
4. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BUNUH DIRI
Berikut ini faktor-faktor resiko untuk bunuh diri (Sadock, et al, 2007):
A. Jenis kelamin

Perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki. Akan
tetapi, keberhasilan bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki. Hal ini berkaitan dengan
metode bunuh diri yang dipilih. Laki-laki lebih banyak dengan gantung diri, meloncat
dari tempat tinggi, dengan senjata api. Perempuan lebih banyak dengan overdosis obat-
obatan atau menggunakan racun.
B. Usia
Kasus bunuh diri meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki, angka
bunuh diri tertinggi pada usia di atas 45 tahun sedangkan pada perempuan angka bunuh
diri tertinggi pada usia di atas 55 tahun. Orang yang lebih tua lebih jarang melakukan
percobaan bunuh diri, tetapi lebih sering berhasil.
C. Ras
Di Amerika Serikat ras kulit putih lebih banyak melakukan bunuh diri dibanding ras
kulit hitam.
D. Status perkawinan
Pernikahan menurunkan angka bunuh diri, terutama jika terdapat anak di rumah.
Orang yang tidak pernah menikah dua kali lebih beresiko untuk bunuh diri. Perceraian
meningkatkan resiko bunuh diri. Janda atau duda yang pasangannya telah meninggal juga
memiliki angka bunuh diri yang tinggi.
E. Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial semakin tinggi resiko bunuh diri, tetapi status sosial yang
rendah juga meningkatkan resiko bunuh diri. Pekerjaan sebagai dokter memiliki resiko
bunuh diri tertinggi dibanding pekerjaan lain. Spesialisasi psikiatri memiliki resiko
tertinggi, disusul spesialis mata dan spesialis anestesi. Pekerjaan lain yang memiliki
resiko tinggi untuk bunuh diri adalah pengacara, artis, dokter gigi, polisi, montir, agen
asuransi. Orang yang tidak memiliki pekerjaan memiliki resiko lebih tinggi untuk bunuh
diri.
F. Kesehatan fisik
Satu dari tiga orang yang melakukan bunuh diri memiliki masalah kesehatan dalam 6
bulan sebelum bunuh diri. Hilangnya mobilitas fisik, nyeri hebat yang kronik, pasien
hemodialisis meningkatkan resiko bunuh diri.
G. Gangguan mental
Sekitar 95% dari semua orang yang mencoba atau melakukan bunuh diri memiliki
gangguan mental. Gangguan mental tersebut terdiri dari depresi 80%, skizofrenia 10%,
dan demensia atau delirium 5%. Di antara semua pasien dengan gangguan mental, 25%
kecanduan juga kepada alkohol.
H. Kecanduan alkohol
Sekitar 15% pasien kecanduan alkohol melakukan bunuh diri. Sekitar 80% pasien
bunuh diri akibat kecanduan alkohol adalah laki-laki. Sekitar 50% dari pasien kecanduan
alkohol yang bunuh diri mengalami kehilangan anggota keluarga atau pasangan dalam
satu tahun terakhir.
I. Gangguan kepribadian
Sebagian besar orang yang bunuh diri memiliki gangguan kepribadian. Gangguan
kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk gangguan depresi. Selain itu juga
merupakan faktor predisposisi untuk kecanduan alkohol. Gangguan kepribadian juga
dapat menyebabkan konflik dengan keluarga dan orang lain.

5. RIWAYAT, TANDA, DAN GEJALAL RESIKO BUNUH DIRI


A. Upaya atau khayalan bunuh diri sebelumnya
B. Kecemasan, depresi, kelelahan
C. Tersedia alat-alat untuk bunuh diri
D. Kepedulian efek bunuh diri dari anggota keluarga
E. Gagasan bunuh diri yang diungkapkan
F. Membuat surat wasiat, ditandatangani kembali setelah depresi teragitasi
G. Krisis hidup, seperti dukacita atau akan menjalani pembedahan
H. Riwayat bunuh diri dalam keluarga
I. Pesimisme atau keputusan yang pervasif
6. TATA LAKSANA
A. Keadaan yang mengancam nyawa
a) Periksa tanda vital
b) Keadaan umum menurun atau syol: segera berikan infus NaCl
c) Identifikasi cara bunuh diri (racun/obat, bahan peledak, meloncat dari tempat
tinggi, memotong organ tubuh, menggantung diri, tenggelam) dan tindakan life
saving.
d) Konsultasi ke dokter spesialis yang sesuai dengan cara bunuh diri.
e) Setelah nyawa pasien tertolong, evaluasi tindakan bunuh diri selama 2 kali 24 jam
terutama potensi bunuh diri ulang.
f) Tempatkan pasien pada ruang perawatan yang aman dan jauhkan dari benda-
benda yang dapat dipakai untuk bunuh diri.
g) Awasi secara terus menerus selama 24 jam.
h) Ciptakan dan bina rasa percaya pasien pada petugas kesehatan.
i) Berikan bimbingan, pengawasan dan perhatian.

B. Psikofarmaka

a) Antidepresan

Fluoxetine Dosis awal: 20 mg/hari PO dosis tunggal


pada pagi hari lalu dinaikkan perbulan 20
Sediaan: Tablet 10 mg, 20 mg
mg hingga mencapai:

Dosis maximal: 80 mg/hari PO dosis


tunggal

Dosis pada lanjut usia: 5-40 mg/hari

Sertraline Dosis awal: 50 mg/hari PO dosis tunggal


pada pagi hari lalu dinaikkan per bulan
Sediaan: Tablet 50 mg
50 mg hingga mencapai:

Dosis maximal: 200 mg/hari PO dosis


tunggal

Dosis pada lanjut usia: 25-150 mg/hari

Fluoxamine Dosis awal: 50 mg/hari PO dosis tunggal


pada pagi hari lalu dititrasi hingga
Sediaan: Tablet 50 mg, 100 mg
mencapai:

Dosis maximal: 300 mg/hari/PO dosis


tunggal

Dosis pada lanjut usia: 25-150 mg/hari

Escitalopram Dosis awal: 10 mg/hari PO dosis tunggal


pada pagi hari lalu ditambah hingga
Sediaan: Tablet 10 mg
mencapai dosis maximal

Dosis pada lanjut usia: 5-10 mg/hari

b) Gelisah tapi tidak psikotik: injeksi diazepam 10 mg IM atau IV bisa diulang.

c) Keadaan psikotik: Injeksi klorpromazin 100 mg IM atau injeksi haloperidol

Haloperidol

Sediaan:

Tablet 0,5 mg, 1,5 mg, 2 mg, 5 mg

Tetes 2 mg/ml

Ampul 5 mg/ml

Ampul depo (haloperidol decanoas 50


mg/ml
C. Indikasi Rawat Inap
Setelah melakukan percobaan diri
Pasien psikosis
Pasien dengan distress yang meningkat
Onset awal dari gangguan psikiatri yang memiliki suicide thingking
Pasien yang tidak mendapatkan dukungan keluarga dan sosial
Pasien dengan impulsive behavior, agitasi, menolak diobati
Pasien dengan perubahan status mental akibat infeksi, toksis, penyakit
metabolik, atau etiologi lainnya

D. Pasien dipulangkan
Pasien yang melakukan percobaan bunuh diri akibat dari adanya faktor
pencetus yang baru saja terjadi
Rencana ataupun metode yang menimbulkan efek kematian yang lebh rendah.
Pasien yang memiliki dukungan keluarga yang baik
Pasien setuju untuk kontrol rutin

E. Rawat jalan

Yaitu pasien dengan pemikiran bunuh diri yang kronis tanpa disertai/adanya
percobaan bunuh diri dan memiliki dukungan dari keluarga dan lingkungan
sosial dan memungkinkan untuk berobat jalan.

7. PROGNOSIS

Faktor yang mempengaruhi prognosa;


Pasien: Bila dapat menyesuaikan diri dengan baik dan stress yang menjadi faktor
pencetus percobaan bunuh diri cukup besar -> prognosa lebih baik.
Lingkungan: Bila mendukung -> Prognosa lebih baik
DAFTAR PUSTAKA

1. Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 2. Surabaya:
Airlangga University Press.
2. Supriyanto dkk. 2010. Pedoman Pelayanan Kegawatdaruratan Psikiatrik. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
3. Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott Williams &
Wilkins.
4. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Kaplan dan Sadock Sinopsis Psikiatri Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. 2rd rev. ed. Kusuma M, translator. Jakarta:
Erlangga; 2010, 56-67 p.
5. Fortinash, & Worret, H. (2012). Psychiatric Mental Health Nursing. St. Louis : Elsevier.
6. David C. R. Kerr,Lesli J. Preuss,and Cheryl A. King.(2006).Suicidal Adolescents Social
Support from Family and Peers: Gender-Specific Associations with Psychopathology.
Journal of Abnormal Child Psychology DOI: 10.1007/s10802-005-9005-8