Anda di halaman 1dari 3

Sifat Baja

Sebagai bahan konstruksi bangunan, baja mempunyai beberapa sifat fisik dan mekanis yang
dapat mempengaruhi kekutan sebuah konstruksi bangunan. Berikut ini beberapa sifat fisik dan mekanik
yang dimiliki oleh baja.

Sifat Fisik Baja


1. Berat dan Berat Jenis Baja
Berat baja per m3 diperlukan saat melaksanakan perhitungan volume besi atau menghitung struktur
bangunan guna mencari nilai beban yang harus ditahan oleh sebuah struktur baja. menurut standar
nasional indonesia berat jenis baja adalah 7850 kg/m3 . Pada kondisi nyata berat jenis baja dipengaruhi
oleh bahan baja itu sendiri seperti kandungan logam tertentu, kepadatan baja, kualitas baja yang
menyebabkan perbedaan pada berat jenis baja
2. Daya hantar panas pada baja
Baja merupakan logam yang terbuat dari besi dengan campuran karbon.berdasarkan campuran
karbon nya baja dikategorikan menjadi 3 macam yaitu:baja dengan kadar karbon rendah(0-0,25%),baja
dengan kadar karbon menengah(0,25-0,55%) dan baja dengan karbon tinggi diatas 0,55%. Baja memiliki
keunggulan yaitu memiliki sifat penghantar panas yang baik. Digunakan pada penghantar transmisi yaitu
ACSR dimana fungsi baja dalam hal ini adalah memperkuat konduktor aluminium secara mekanis setelah
digalfanis dengan seng. keuntungan dipakai nya baja pada ACSR adalah menghemat pemakaian
aluminium. Aluminium berinti baja, yang biasanya dikenal sebagai ACSR (Aluminium Cable Steel
Reinforced), suatu kabel penghantar aluminium yang dilengkapi dengan unit kawat baja pada inti kabelnya.
Kawat baja itu diperlukan guna meningkatkan kekuatan tarik kabel. ACSR ini banyak digunakan untuk
kawat saluran hantar udara.
3. Konduktivitas listrik
Konduktivitas listrik pada baja termasuk konduktivitas listrik yang baik, karena paduan logam pada baja
merupakan pencampuran besi(Fe) dan krom(Cr).

Sifat Mekanis Baja


1. Stiffness (kekakuan)
Sifat bahan yang mampu renggang pada tegangan tinggi tanpa diikuti regangan yang besar. Ini
merupakan ketahanan terhadap deformasi. Kekakuan bahan merupakan fungsi dari Modulus elastisitas E.
Sebuah material yang mempunyai nilai E tinggi seperti baja, E = 207.000 Mpa, akan berdeformasi lebih
kecil terhadap beban (sehingga kekuatannya lebih tinggi) daripada material dengan nilai E lebih rendah,
misalnya kayu dengan E = 7000 Mpa atau kurang.

2. Strength (kekuatan)
Sifat bahan yang ditentukan oleh tegangan paling besar material mampu renggang sebelum rusak
(failure). Ini dapat didefinisikan oleh batas proposional, titik mulur atau tegangan maksimum. Tidak ada
satu nilai yang cukup bisa untuk mendefinisikan kekuatan, karena perilaku bahan berbeda terhadap beban
dan sifat pembebanan.
3. Elasticity (elastisitas)
Sifat material yang dapat kembali ke dimensi awal setelah beban dihilangkan. Sangat sulit menentukan
nilai tepat elastisitas. Yang bisa dilakukan adalah menentukan rentang elastisitas atau batas elastisitas.

4. Ductility (keuletan)
Sifat bahan yang mampu deformasi terhadap beban tarik sebelum benar-benar patah (rupture).
Material ulet adalah material yang dapat ditarik menjadi kawat tipis panjang dengan gaya tarik tanpa rusak.
Keliatan ditandai dengan persen perpanjangan panjang ukur spesimen selama uji tarik dan persen
pengurangan luas penampang. Besar keuletan dapat dinyatakan dengan pernyataan sebagai berikut :
Persen Pertambahan = (pertambahan panjang ukur : panjang ukur awal) x 100%
Persen pengurangan luas = ((luas awal - luas akhir): Luas awal) x 100%

5. Brittleness (kegetasan)
Menunjukkan tidak adanya deformasi plastis sebelum rusak. Material yang getas akan tiba-tiba rusak
tanpa adanya tanda terlebih dahulu. Material getas tidak mempunyai titik mulur atau proses pengecilan
penampang (necking down process) dan kekuatan patah = kekuatan maksimum. Material getas, misalnya :
Besi cor, batu, dan semen cor, yang umumnya lemah dalam uji tarik, sehingga penentuan kekuatan
dengan menggunakan uji tekan.

6. Malleability (kelunakan)
Sifat bahan yang mengalami deformasi plastis terhadap beban tekan yang bekerja sebelum benar-
benar patah. Kebanyakan material yang sangat liat adalah juga cukup lunak.

7. Toughness (ketangguhan)
Sifat material yang mampu menahan beban impack tinggi atau beban kejut. Jika sebuah benda
mendapat beban impack, maka sebagian energi diserap dan sebagian energi dipindahkan. Pengukuran
ketangguhan = luasan di bawah kurva tegangan-regangan dari titik asal ke titik patah.

8. Resilience (kelenturan)
Sifat material yang mampu menerima beban impack tinggi tanpa menimbulkan tegangan lebih pada
batas elastis. Ini menunjukkan bahwa energi yang diserap selama pembebanan disimpan dan dikeluarkan
jika material tidak dibebani. Pengukuran kelenturan sama dengan pengukuran ketangguhan.
Keuntungan dan kelemahan dalam pemakaian Baja

Kuntungan
1. Kekuatan Tinggi. Kekuatan per volume tetap paling tingggi dibanding dengan material lain.
Kekuatan dinyatakan dengan Fy (Tegangan leleh) dan Fu (Tegangan tarik batas). Akibatnya, dalam
perhitungan beban mati, nilainya lebih kecil dengan bentang yang bisa lebih lebar sehingga ruang
dapat dimanfaatkan akibat kecilnya profil baja yang dipakai.
2. Kemudahan pemasangan. Umumnya semua komponen konstruksi baja dipersiapkan di bengkel.
Yang dilakukan di lapangan atau site adalah menyambung/ assembly komponen-komponen ini.
Semua komponen, sambungan, dan alat sambung baja memiliki standar baik yang nasional
maupun internasional.
3. Keseragaman. Karena baja adalah komponen yang homogen dan buatan manusia, maka
keseragaman sangat tinggi dan dapat diharapkan pula keseragaman dalam hal kekuatannya.
Karena keseragaman inilah maka pemborosan yang tejadi dalam proses pelaksanaan umumnya
dapat ditekan.
4. Daktilitas. Daktilitas adalah sifat material yang memungkinkan adanya deformasi yang besar akibat
tegangan tarik tanpa hancur dan putus. Adaya sifat ini pada baja membuat konstruksi baja tidak
dapat runtuh tiba-tiba apabila terjadi beban yang berlebihan. Ini sangat menguntungkan bila
bangunan mengalami beban besar tiba-tiba misalnya beban gempa

Kelemahan
1. Komponen-komponen struktur yang dibuat dari bahan baja perlu diusahakan supaya tahan api
sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk bahaya kebakaran.
2. Diperlukannya suatu biaya pemelihaaan untuk mencegah baja dari bahaya karat.
3. Akibat kemampuannya menahan tekukan pada batang-batang yang langsing, walaupun dapat
menahan gaya-gaya aksial, tetapi tidak bisa mencegah terjadinya pergeseran horisontal.