Anda di halaman 1dari 22

Tugas Makalah Mata Kuliah Jembatan

JEMBATAN

OLEH :

ELA FIRDA AMALIYAH 115060100111059

IKA MEISY PUTRI R. 115060113111002

MAMLUATUL HASANAH 115060101111018

USWATUN CHASANAH 115060101111028

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
SEPTEMBER 2013
KATA PENGANTAR

Segala Puji bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
nikmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Jembatan.
Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas mata kuliah Jembatan. Tak lupa, kami juga
menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu
terselesaikannya makalah Jembatan ini.

Sesuai dengan judulnya, makalah ini berisi mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan jembatan, diantaranya adalah pengertian (fungsi) jembatan, sejarah teknologi,
klasifikasi, dan komponen jembatan. Isi tersebut bertujuan agar pembaca dapat memahami
apa saja yang berkaitan dengan jembatan sehingga diharapkan nantinya dapat lebih
mengenal dan mampu menciptakan teknologi pembuatan jembatan di masa yang akan
datang.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, baik dari segi
penulisan maupun pembahasan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca guna kesempurnaan tulisan kami selanjutnya.

Malang, September 2013

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan peradaban suatu wilayah tidak terlepas dari kemajuan di bidang


ekonomi. Ekonomi yang baik akan turut membantu suatu wilayah dalam
mengembangkan kehidupan masyarakatnya terutama dari segi financial atau
keuangan. Ekonomi yang baik didukung oleh kelancaran masyarakat dalam
melakukan mobilitas atau perpindahan. Permasalahannya adalah ketika perpindahan
(transportasi) sulit dilakukan karena terhalang oleh suatu rintangan, misalnya sungai,
laut, jurang, dan sebagainya. Jika tidak diselesaikan, bukan tidak mungkin masalah ini
akan menyebabkan suatu daerah yang terpisah oleh rintangan tersebut menjadi
terisolasi. Hal ini akan berdampak pada aspek kehidupan lainnya, tidak hanya
ekonomi tetapi juga kesehatan, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Maka, jembatan
dapat menjadi suatu solusi dalam menyelesaikan masalah ini. Seperti apakah jembatan
itu? Dalam makalah ini akan dibahas mengenai jembatan mulai dari pengertian,
sejarah, klasifikasi, dan komponennya.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada pembahasan mengenai jembatan ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimanakah sejarah jembatan?
2. Apakah pengertian jembatan dan bagaimana fungsinya?
3. Bagaimanakah klasifikasi jembatan?
4. Bagaimanakah komponen jembatan?

1.3 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui sejarah jembatan
2. Mengetahui pengertian jembatan dikaitkan dengan fungsinya
3. Mengetahui klasifikasi jembatan
4. Mengetahui komponen jembatan
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Perkembangan Jembatan

Ide mengenai pembangunan jembatan dikarenakan pengalaman hidup manusia


yang kemudian didukung dengan pengetahuan sehingga jembatan terus mengalami
perkembangan seiring dengan kemajuan teknologi dan sumber daya manusia.

Perkembangan Tipe Jembatan

Sejarah jembatan sejalan dengan waktu sejarah peradaban manusia. Pada teknik
struktur, jembatan diawali dengan proses cut and try atau try and fail. Pada
mulanya digunakan metode empiris dengan membuat beberapa perkiraan mengenai
kekuatan bahan untuk membangun sebuah jembatan. Sebelum manusia
mengelompokkan tipe jembatan yaitu balok, kantilever, pelengkung, kabel gantung,
dan rangka, keempat tipe jembatan pertama ditemukan pada masa sebelum masehi.

a. Periode Zaman Purba


Pada periode ini, manusia menyeberangi sungai dengan memasang tiang-
tiang batu dan slab batu, kayu gelondongan, atau pohon yang tumbang yang
terbatas untuk bentang sungai yang pendek. Sedangkan untuk melewati
sungai dengan memanfaatkan cabang-cabang atau akar-akar yang
bergantungan sebagai jembatan gantung dengan cara berayun dari pohon ke
pohon.
Sehingga dapat diketahui bahwa perkembangan teknik jembatan dihasilkan
dari evolusi bentuk struktur, material, metode perencanaan, fabrikasi, dan
cara pendiriannya. Tipe jembatan yang telah digunakan adalah jembatan
balok sederhana untuk bentang pendek, jembatan gantung, jembatan
kantilever, jembatan tipe pelengkung. Bentuk material dan konstruksi yang
digunakan masih sederhana dan alami.
Gambar 2.1 Jembatan dari cabang-cabang atau akar-akar pohon

b. Periode Romawi Kuno


Periode romawi kuno dimulai dari tahun 300 SM dan berlangsung selama
600 tahun. Para ahli jembatan dari romawi membangun jembatan dari kayu,
batu dan beton. Keunggulan pada hasil konstruksi bangsa romawi kuno
karena hingga saat ini, jembatan pelengkung mereka masih berdiri di
beberapa negara besar dunia yaitu Italia, Spanyol, dan perancis sebagai
karya yang monumental. Penemuan cofferdam untuk membangun pilar di
bawah permukaan air merupakan hasil karya yang dicetuskan oleh para ahli
jembatan bangsa romawi kuno. Beberapa dari jembatan terbesar dari bangsa
Romawi merupakan aquaduct yaitu dibangun bukan untuk lalu lintas
manusia tetapi untuk saluran air. Salah satu contohnya adalah Pont du Gard
di Perancis, dan aquaduct Segovia di Spanyol.

Gambar 2.2 Jembatan Pont du Gard


c. Zaman Pertengahan
Sejak abad ke-11 sampai abad ke-16 sesudah runtuhnya Romawi
merupakan masa zaman pertengahan. Sehingga secara prinsip konstruksi
pada zaman ini dan Romawi sebelumnya tidak jauh berbeda. Konstruksi
lengkung dan pilar-pilar batu masih sering digunakan pada jembatan Old
London yang dibangun pada abad ke-12. Penemuan pada masa ini antara
lain adalah streamlining yaitu bentuk lengkung kurva ellips dengan bagian
puncaknya dapat dibuat lebih tipis dan pilar jembatan dibuat dalam bentuk
segitiga pada bagian hulu.
Jembatan monumental pada zaman ini antara lain adalah Jembatan
Rialto di Venice karena merupakan jembatan terbaik dari segi
pengembangan teknik dan estetika. Selain itu pada jembatan ini, jalan raya
menjadi penghubung dua ruas kawasan perdagangan yang mempunyai jalur
masuk menuju jalur pejalan kaki yang dibangun di bagian tepi dalam satu
kesatuan konstruksi.

Gambar 2.3 Jembatan Rialto

d. Zaman Jembatan Besi dan Baja


Periode besi dan baja dimulai dengan adanya Revolusi Industri.
jembatan besi yang pertama kali dibangun adalah Jembatan Coalbrookdale
di Inggris pada tahun 1776. Jembatan besi yang dibangun sebagian besar
masih menggunakan prinsip bentuk lengkung (arch) terutama untuk
jembatan jalan raya. Namun adapula beberapa jembatan yang menggunakan
sistem kantilever walaupun bentuknya masih lengkung murni atau dengan
beberapa perubahan yaitu jembatan Fith of Forth di Skotlandia dan
Jembatan Quebec di Kanada.
Jembatan dengan bentuk pipa digunakan untuk jembatan jalan rel
seperti Jembatan Britania di Inggris dan Jembatan Victoria di Kanada. Pada
masa ini, salah satu jembatan monumental adalah Jembatan St.Louis di
Amerika Serikat pada tahun 1860.

Gambar 2.4 Jembatan Coalbrookdale

Gambar 2.5 Jembatan Fifth of Forth

Era Jembatan Gantung


Jembatan Menai Straits di Inggris adalah jembatan gantung tertua dan terbesar
yang dibangun pada tahun 1825. Pada mulanya jembatan ini masih menggunakan
menara batu dan kabel dari rantai besi untuk menggantung jalan raya, namun
selanjutnya kabel digantikan dengan baja tulangan.
Inovasi pada jembatan gantung dimulai pada saat dibangun Jembatan Niagara di
Amerika Serikat pada tahun 1851. Struktur jembatan mempunyai dua dek, bagian atas
untuk jalan rel dan bagian bawahnya untuk lalu lintas jalan raya. Bentang jembatan
digantungkan pada 4 kelompok kabel yang didukung dengan 4 bangunan menara dan
ujung kabel diangkitkan dalam solid rock di belakangnya.
Inovasi lainnya terdapat pada Jembatan Brooklyn di New York yang dibangun pada
tahun 1867. Pada jembatan ini digunakan kabel baja untuk menggantikan kabel besi.
Selain itu adanya sistem kabel yang menjari terarah dek dari tower sehingga lebih
stabil terhadap angin. Perkembangan selanjutnya adalah penggunaan tower berupa
rangka, penggantian dek dari stiffening truss menjadi gelagar box (box girder).

Gambar 2.6 Jembatan Menai Straits

Gambar 2.7 Jembatan Brooklyn

Era Jembatan Cable Stayed


Penggunaan jembatan cable stayed digunakan secara luas di Eropa barat dan
beberapa negara lain selama lebih dari tiga dekade. Pada era ini ditemukan pula
beberapa penemuan dan perkembangan baru antara lain baja berkekuatan tinggi dan
tipe deck-orthotropik, kemajuan teknik las, penyelesaian matematis sistem statis tak
tentu dan untuk analisis statis yang lebih akurat model tiga dimensi.
Berdasarkan hasil penelitian, dikatakan bahwa jembatan cable stayed lebih unggul
dibandingkan jembatan gantung karena rasio panjang bentang utama dan tinggi pylon
lebih murah, defleksi lebih kecil, dan tidak perlu pengangkuran kabel yang berat dan
besar.
Jembatan monumental jenis ini antara lain adalah Jembatan Saint Nazaire di
Perancis yang selesai dibangun pada 1974 karena merupakan jembatan cable stayed
terpanjang di dunia. Inovasi lainnya terdapat pada Jembatan Maracaibo di Venezuella
yaitu penggunaan material beton utnuk pylon dan stiffening girder dan penggunaan
multispan.

Gambar 2.8 Jembatan Maracaibo

Era Jembatan Beton


Jembatan Beton Bertulang
Beton massa banyak digunakan untuk jembatan lengkung dan struktur
bawah konstruksi jembatan. Jembatan pertama beton bertulang berupa
jembatan lengkung pada tahun 1875 di Perancis. Pemakaian jembatan beton
lengkung semakin meningkat selama awal dekade abad ke-20. Slab dan
gelagar jembatan beton bertulang digunakan untuk bentang-bentang pendek
selama beberapa dekade.Bentang terpanjang yang pernah dicapai dengan
gelagar beton bertulang adalah 256ft atau sekitar 78 meter.
Salah satu ikon jembatan beton lengkung adalah Jembatan Sydney yang
dibangun pada tahun 1964 dan merupakan jembatan beton bertulang
terpanjang di dunia yaitu 1000ft (300m).

Jembatan Beton Prategang


Perkembangan beton prategang pada awalnya diaplikasikan melalui kawat-
kawat baja berkualitas tinggi pada balok beton prategang dengan sistem
penegangan pra-penegangan dan pasca penegangan oleh Freyssinet pada
1928. Selanjutnya pada tahun 1940 dikembangkan pula sistem pasca
penegangan yang dikenal dengan Magnel system of Belgium oleh Magnel.
Kemudian dikembangkan jembatan beton prategang segmental
menggunakan sistem in pada Jembatan Finsterwalder di Jerman. Negara
Jepang juga membangun sebuah jembatan beton prategang untuk jalan raya
dengan panjang total jembatan 630 meter lebar 9 meter, menggunakan
gelagar box kembar sepanjang 240 meter yang dibangun menerus dari
expansion joint di tengah bentang sampai ujung pilar.
Jembatan segmental daoat disebut pracetak atau cetak di tempat dengan
menggunakan metode konstruksi kantilever yang dikerjakan setiap bentang,
dipasang bertahap dengan sistem incremental launching. Konstruksi
jembatan beton prategang segmnetal dapat mencapai panjang bentang 250
meter atau bentang seri 300 meter, dan jika digunakan cable stayed jarak
bentang mencapai 450 meter.

2.2 Pengertian Jembatan

Pengertian jembatan memiliki arti berbeda tergantung pandangan setiap orang.


Seseorang yang melintasi jembatan setiap hari pada saat bekerja dan hanya dapat
melintasi sungai apabila ada jembatan, maka jembatan memiliki pengertian sebagai
sebuah jalan yang diberi sandaran pada tepinya. Tentu akan berbeda pendapat apabila
dipandang oleh seorang pemimpin pemerintahan atau dunia bisnis.
Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui
suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain(jalan air
atau jalan lalulintas biasa) (Stryuk, 1:1995).

Sedangkan menurut sumber lain menyebutkan bahwa jembatan adalah struktur


yang menghubungkan antara satu tempat ke tempat lainnya yang dipisahkan oleh
rintangan tertentu, misalnya sungai, teluk, laut, jurang, dan sebagainya sehingga dapat
dilewati oleh kendaraan maupun pejalan kaki dengan aman dan lancar.

Jembatan memiliki fungsi keseimbangan sistem transportasi karena menjadi


pengontrol volume dan bera lalu lintas yang dapat dilayani sistem transportasi.
Jembatan juga mampu meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas sehingga mampu
meminimalisir adanya daerah yang terisolasi. Selain itu, Jembatan merupakan suatu
sistem transportasi untuk tiga hal yaitu merupakan pengontrol kapasitas dari sistem,
mempunyai biaya tertinggi per mil dari sistem, dan apabila jembatan runtuh, maka
sistem akan lumpuh.
2.3 Klasifikasi Jembatan

Jenis jembatan berdasarkan fungsi, lokasi, bahan konstruksi dan tipe struktur
sekarang ini telah mengalami perkembangan yang pesat sejalan dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, mulai dari yang sederhana sampai pada konstruksi yang
kompleks.

Jenis jembatan sendiri dapat dibedakan berdasarkan fungsi, lokasi, bahan


konstruksinya, tipe struktur, berdasarkan bentang, berdasarkan gelagar utama, dan
berdasarkan sambungannya.

Berdasarkan fungsinya, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut:


1.) Jembatan jalan raya (highway bridge),

2.) Jembatan jalan kereta api (railway bridge),


3.) Jembatan pejalan kaki atau penyeberangan (pedestrian bridge),

Berdasarkan lokasinya, jembatan dapat dibedakan sebagai berikut:

1.) Jembatan di atas sungai atau danau,

2.) Jembatan di atas lembah,

3.) Jembatan di atas jalan yang ada (fly over),

4.) Jembatan di atas saluran irigasi/drainase (culvert),

5.) Jembatan di dermaga (jetty).

Berdasarkan bahan konstruksinya, jembatan dapat dibedakan menjadi beberapa


macam :

1.) Jembatan kayu (log bridge),


2.) Jembatan beton (concrete bridge),

Jembatan beton adalah bangunan jembatan yang strukturnya menggunakan


material beton bertulang khususnya pada bangunan atas (upper structure).

Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan untuk memperoleh bentuk


penampang beton yang beragam bahkan dewasa ini tidak saja ditemui jembatan
beton bertulang akan tetapi tidak sedikit pula ditemui jembatan beton prategang.

3.) Jembatan beton prategang (prestressed concrete bridge),

Pada tahun 1950-an, dikembangkan jembatan beton prategang segmental


untuk pertama kalinya di Eropa Barat menggunakan sistem ini pada pada
jembatan Finsterwalder di Jerman. Jembatan segmental dapat pula disebut
pracetak atau cetak ditempat dengan menggunakan metode konstruksi kantilever
yang dikerjakan bentangan demi bentangan, dipasang tahap demi tahap atau
dengan sistem incremental launching.

4.) Jembatan baja (steel bridge),


5.) Jembatan komposit (compossite bridge).

Berdasarkan tipe strukturnya, jembatan dapat dibedakan menjadi beberapa macam,


antara lain :
1.) Jembatan plat (slab bridge),

2.) Jembatan plat berongga (voided slab bridge),

3.) Jembatan gelagar (girder bridge),

4.) Jembatan rangka (truss bridge),

Jembatan kerangka adalah salah satu jenis tertua dari struktur jembatan
modern. Jembatan kerangka dibuat dengan menyusun tiang-tiang jembatan
membentuk kisi-kisi agar setiap tiang hanya menampung sebagian berat struktur
jembatan tersebut. Kelebihan sebuah jembatan kerangka dibandingkan dengan
jenis jembatan lainnya adalah biaya pembuatannya yang lebih ekonomis karena
penggunaan bahan yang lebih efisien. Selain itu, jembatan kerangka dapat
menahan beban yang lebih berat untuk jarak yang lebih jauh dengan
menggunakan elemen yang lebih pendek daripada jambatan alang.

Jembatan rangka dapat terbuat dari berbagai macam material yaitu kayu
atau logam. Jembatan rangka kayu terbatas untuk beban yang tidak terlalu besar
dan saat ini sudah menjadi tipe klasik. Hingga saat ini sudah ditemukan dan
sering digunakan jembatan rangka baja dengan berbagai bentuk.
5.) Jembatan pelengkung (arch bridge),

Jembatan lengkung memiliki dinding tumpuan pada setiap ujungnya.


Jembatan lengkung yang paling awal diketahui dibangun oleh masyarakat
Yunani, contohnya adalah Jembatan Arkadiko. Beban dari jembatan akan
mendorong dinding tumpuan pada kedua sisinya. Dubai, Uni Emirat Arab saat
ini sedang membangun Sheikh Rashid bin Saeed Crossing. Jembatan ini
dijadwalkan akan selesai pada tahun 2012. Jika proses pembangunan telah
selesai, jembatan ini akan menjadi jembatan lengkung terpanjang di dunia.

6.) Jembatan gantung (suspension bridge),

Dahulu, jembatan gantung yang paling awal digantungkan dengan


menggunakan tali atau dengan potongan bambu. Jembatan gantung modern
digantungkan dengan menggunakan kabel baja. Pada jembatan gantung modern,
kabel menggantung dari menara jembatan kemudian melekat pada caisson (alat
berbentuk peti terbalik yang digunakan untuk menambatkan kabel di dalam air)
atau cofferdam (ruangan di air yang dikeringkan untuk pembangunan dasar
jembatan). Caisson atau cofferdam akan ditanamkan jauh ke dalam lantai danau
atau sungai. Jembatan gantung terpanjang di dunia saat ini adalah Jembatan
Akashi Kaikyo di Jepang. Jembatan ini memiliki panjang 12.826 kaki (3.909
m).

Ciri khusus jembatan ini adalah kabel yang menjari terarah dek dari tower,
yang lebih stabil terhadap angin.

7.) Jembatan kabel (cable stayed bridge),

Seperti jembatan gantung, jembatan kabel-penahan ditahan dengan


menggunakan kabel. Namun, yang membedakan jembatan kabel-penahan
dengan jembatan gantung adalah bahwa pada sebuah jembatan kabel-penahan
jumlah kabel yang dibutuhkan lebih sedikit dan menara jembatan menahan kabel
yang lebih pendek. Jembatan kabel-penahan yang pertama dirancang pada tahun
1784 oleh CT Loescher. Jembatan kabel-penahan terpanjang di dunia saat ini
adalah Jembatan Sutong yang melintas di atas Sungai Yangtze di China.

Tipe jembatan ini menguntungkan apabila digunakan untuk jembatan


bentang panjang. Keunggulannya adalah dari kombinasi penggunaan kabel dan
dek beton prategang. Selain itu, penelitian menunjukkan jembatan cable stayed
lebih unggul dibanding jembatan gantung. Kelebihannya antara lain rasio
panjang bentang utama dan tinggi pylon yang lebih murah. Defleksi akibat
pembebanan simertis dan asimetris pada lebih dari separuh bentang jembatan
gantung mempunyai defkesi yang lebih besar di tengah bentang dari pada cable
stayed.

Keuntungan yang menonjol dari cable stayed adalah tidak diperlukannya


pengangkeran kabel yang berat dan besar seperti pada jembatan gantung. Gaya-
gaya angker pada ujung kabel bekerja secara vertikal dan biasanya
diseimbangkan dengan berat dari pilar dan fondasi tanpa menambah biaya
konstruksi lagi. Komponen horisontal gaya pada kabel dilimpahkan pada
struktur atas gelagar berupa tekanan atau tarik.

8.) Jembatan cantilever (cantilever bridge),

Berbeda dengan jembatan alang, struktur jembatan penyangga berupa balok


horizontal yang disangga oleh tiang penopang hanya pada salah satu pangkalnya.
Pembangunan jembatan penyangga membutuhkan lebih banyak bahan dibanding
jembatan alang. Jembatan penyangga biasanya digunakan untuk mengatasi
masalah pembuatan jembatan apabila keadaan tidak memungkinkan untuk
menahan beban jembatan dari bawah sewaktu proses pembuatan. Jembatan jenis
ini agak keras dan tidak mudah bergoyang, oleh karena itu struktur jembatan
penyangga biasanya digunakan untuk memuat jembatan rel kereta api. Jembatan
penyangga terbesar di dunia saat ini adalah jembatan penyangga Quebec Bridge
di Quebec, Kanada. Jembatan ini memiliki panjang 549 meter (1.801 kaki).

Jenis jembatan berdasarkan bentang

Berdasarkan macam gelagar utama, jembatan dibagi atas:


1.) I-Beam Bridge, gelagar utama terdiri dari profil I

2.) Truss Bridge, gelagar utama adalah suatu rangka batang

3.) Plate Girder Bridge, gelgar utama merupakan profil tersusun

4.) Suspension Bridge, jembatan kabel dengan baja tegangan tinggi.

Berdasarkan sambungan, jembatan dibagi atas:


1.) Sambungan dengan drivet
2.) Sambungan dengan bolt/bout
3.) Sambungan dengan pin
3.) Sambungan dengan las

2.4 Komponen Jembatan

Jembatan dapat dibagi atas 2 (dua) bangunan utama

1. Struktur Atas (Superstructures)


Menurut situs http://www.mafiosodeciviliano.com, Struktur atas jembatan
merupakan bagian yang menerima beban langsung yang meliputi berat sendiri,
beban mati, beban mati tambahan, beban lalu-lintas kendaraan, gaya rem, beban
pejalan kaki, dan lain-lain

Sedangkan menurut situs http://henggarrisa.wordpress.com, Struktur atas (super


structure), yaitu semua bagian jembatan atas tumpuan yang terdiri dari tumpuannya
sendiri, balok utama longitudinal atau stringer/girder, sistem lantai dan pengaku
(bracing/stiffener). Bagian-bagian sekunder lain adalah parapet, dinding railing,
anti kembang-susu, alat sambung dek dan sebagainya.

Struktur atas jembatan umumnya meliputi

a) Trotoar:
- Sandaran dan tiang sandaran
- Peninggian trotoar (kerb)
- Slab lantai trotoar

b) Slab lantai kendaraan


c) Gelagar (girder)
d) Balok diafragma
e) Ikatan pengaku (ikatan angin, ikatan melintang),
f) Tumpuan (bearing).
2. Struktur Bawah (Substructures)

Menurut situs http://www.mafiosodeciviliano.com, struktur bawah jembatan berfungsi


memikul seluruh beban struktur atas dan beban lain yang ditumbulkan oleh tekanan
tanah, aliran air dan hanyutan, tumbukan, gesekan pada tumpuan dsb. untuk
kemudian disalurkan ke pondasi. Selanjutnya beban-beban tersebut disalurkan oleh
pondasi ke tanah dasar.

Sedangkan menurut situs http://henggarrisa.wordpress.com, struktur bawah (sub


structure), dibagi menjadi 2 bagian yaitu kepala jembatan (abutments) atau pilar
(pier) dan pondasi untuk kepala jembatan atau pilar. Struktur bangunan bawah
perlu didesain khusus sesuai dengan jenis kekuatan tanah dasar dan elevasi
jembatan.

Struktur bawah jembatan umumnya meliputi:

a) Pangkal jembatan (abutment)


- Dinding belakang (back wall)
- Dinding penahan (breast wall)
- Dinding sayap (wing wall)
- Oprit, plat injak (approach slab)
- Konsol pendek untuk jacking (corbel)
- Tumpuan (bearing)
b) Pilar jembatan (pier),
- Kepala pilar (pier head)
- Pilar (pier), yg berupa dinding, kolom, atau portal
- Konsol pendek untuk jacking (corbel)
- Tumpuan (bearing)
c) Pondasi
Pondasi jembatan berfungsi meneruskan seluruh beban jembatan ke tanah dasar.
Berdasarkan sistemnya, pondasi abutment atau pier jembatan dapat dibedakan
menjadi beberapa macam jenis, antara lain:
1) Pondasi telapak (spread footing)

2) Pondasi sumuran (caisson)

3) Pondasi tiang (pile foundation)

- Tiang pancang kayu (log pile)


- Tiang pancang baja (steel pile)
- Tiang pancang beton (reinforced concrete pile)
- Tiang pancang beton prategang pracetak (precast prestressed concrete
pile), spun pile
- Tiang beton cetak di tempat (concrete cast in place), borepile, franky pile
- Tiang pancang komposit (compossite pile)

Struktur Bangunan Atas

Struktur Bangunan Bawah

Gambar 2.9 Struktur Bangunan Jembatan

Gambar 2.10 Komponen Jembatan


BAB III

PENUTUP

Sebagai bagian dari transportasi, khususnya transportasi darat, teknologi jembatan


berkembang sejalan dengan peradapan manusia. Dapat dikatakan bahwa ide teknologi
jembatan muncul dari pengalaman kehidupan manusia. Misalnya pengalaman manusia
dimana pohon yang tumbangmelintasi sungai pada saat banjir, dapat dimamafatkan
untuk penyebrangan. Pengalaman praktis dari kehidupan manusia dalam mengatasi alam,
didukung dengan pengetahuan akan ilmu-ilmu gaya, melahirkan teknologi jembatan yang
kian hari bertambah maju. Hal ini dapat kita lihat dan jumpai dalam kenyataan sekarang
ini, dimana teknologi jembatan sudah sangat maju.

Jembatan berkembang sejak dari zaman purba yang masih menggunakan pohon
sebagai alat penyebrangan hingga sekarang yang jembatan didesain dengan teknologi
yang sangat maju. Sampai sekarang jembatan memiliki klasifikasi yang beragam mulai
dari klasifikasi berdasarkan bahan yang digunakan seperti, jembatan kayui, jembatan
beton, jembatan baja. Selain itu juga berdasarkan fungsi, lokasi, tipe struktur, berdasarkan
bentang, berdasarkan gelagar utama, dan berdasarkan sambungannya.

Jembatan memiliki fungsi yang krusial bagi kemakmuran masyarakat. Adanya


jembatan memberikan dampak tersendiri bagi sistem transportasi disuatu daerah. Tanpa
jembatan yang menghubungkan satu daerah kedaerah lain maka sistem transportasi
tersebut akan terhambat dan berdampak pada perekonomian suatu daerah tersebut karna
masyarakatnya yang tidak bisa melakukan pergerakan yang nantinya berdampak pada
kemakmuran.
DAFTAR PUSTAKA

Atmadilaga,Adi. http://kampuzsipil.blogspot.com/2011/11/pengertian-dan-macam-
jembatan.html. Diakses pada tanggal 18 September 2013 pukul 19.35 WIB.

Asiyanto. 2005. Metode Konstruksi Jembatan Beton. Universitas Indonesia : Jakarta.

Fajar, Ardian. http://ardianfajar.wordpress.com/2013/01/02/jembatan-2/komponen-


jembatan/. Diakses pada tanggal 19 September 2013 pukul 14.00 WIB.

Frans, John Ang. https://sites.google.com/site/kisaranteknik/assignments/jembatan.


Diakses pada tanggal 16 September 2013 pukul 11.43 WIB.

Henggarisa. http://henggarrisa.wordpress.com/2012/12/10/bagian-bagian-konstruksi-
jembatan/. Diakses pada tanggal 17 September 2013 pukul 20.00 WIB.

Struyk, van der venn. 1995. Jembatan. PT. Pradnya Paramita : Jakarta.

Supriyadi, Bambang dan Agus Setyo. 2004. Jembatan. Beta Offset : Jogyakarta.