Anda di halaman 1dari 39

ASKEP KOMUNITAS 10 DASAWISMA DI RT 05 RW 01 KELURAHAN

KEDUNG COWEK KECAMATAN BULAK SURABAYA

DISUSUN OLEH :

Akbar Dwi Guntoro


163.0006

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH
SURABAYA
2016
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat,

saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat

dan interest yang sama (WHO). Komunitas adalah kelompok dari masyarakat

yang tinggal di suatu lokasi yang sama dengan dibawah pemerintahan yang

sama, area atau lokasi yang sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial

yang mempunyai interest yang sama (Riyadi, 2007).


Dalam rangka mewujudkan kesehatan masyarakat yang optimal maka

dibutuhkan perawatan kesehatan masyarakat, dimana perawatan kesehatan

masyarakat itu sendiri adalah bidang keperawatan yang merupakan perpaduan

antara kesehatan masyarakat dan perawatan yang didukung peran serta

masyarakat dan mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara

berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif

secara menyeluruh, melalui proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi

kehidupan manusia secara optimal sehingga mandiri dalam upaya kesehatan.

Peningkatan peran serta masyarakat bertujuan meningkatkan dukungan

masyarakat dalam berbagai upaya kesehatan serta mendorong kemandirian

dalam memecahkan masalah kesehatan. Oleh karena itu layanan kesehatan

utama merupakan salah satu pendekatan dan alat untuk mencapai kesehatan

bagi semua pada tahun 2010 sebagai tujuan pembangunan kesehatan dalam

mencapai derajat kesehatan yang optimal. Dalam Indonesia Sehat 2010,

lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan

sehat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi
lingkungan yang memadai, perumahan dan pemukiman yang sehat,

perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya

kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong dengan memelihara nilai-

nilai budaya bangsa. Selain lingkungan, perilaku masyarakat Indonesia Sehat

2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi

diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan

masyarakat (Yuddi,2008). Selanjutnya kemampuan masyarakat yang

diharapkan pada masa depan adalah yang mampu menjangkau pelayanan

kesehatan yang bermutu tanpa adanya hambatan, baik yang bersifat ekonomi,

maupun non ekonomi (Yuddi,2008). Diharapkan dengan terwujudnya

lingkungan dan perilaku sehat serta meningkatnya kemampuan masyarakat

tersebut diatas, derajat kesehatan perorangan, keluarga dan masyarakat dapat

ditingkatkan secara optimal (Yuddi,2008).


Pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat terhadap individu,

keluarga , kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah kesehatan

meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan menggunakan

proses keperawatan untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Riyadi,

2007).
Dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan masyarakat terfokus pada

peningkatan kesehatan dalam kelompok masyarakat (Naomi, 2002). Untuk

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dapat dimulai dari individu,

kelompok sampai tingkat RT dan RW. Di Wilayah RW 01 Kelurahan Kedung

Cowek Kecamatan Bulak Kota Surabaya, terdiri dari 5 RT dengan jumlah

kepala keluarga yang terkaji sebanyak 381 KK dengan rinci hasilnya adalah
sebagai berikut jumlah penduduk 1409 jiwa (laki-laki 705 jiwa dan perempuan

704 jiwa), kondisi lingkungan di RW 01 merupakan daerah dataran tinggi,

kelembaban udara yang tinggi dan perilaku pembuangan sampah yang kurang

tertib sehingga memungkinkan terjadinya penyakit yang berbasis pada

lingkungan seperti ISPA, diare, TB paru dan lainnya. Untuk melaksanakan

tugas tersebut dibutuhkan seorang perawat yang kompeten dalam memberikan

asuhan keperawatan komunitas, untuk mendapatkan hasil yang optimal

dibutuhkan pengalaman selain pengetahuan. Salah satu cara memperoleh

pengalaman adalah melalui praktik keperawatan komunitas di RT 05 RW 01

Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak Kota Surabaya.

1.2 Tujuan Penulisan


1.2.1 Tujuan Umum
Menerapkan konsep keperawatan komunitas guna meningkatkan

kemampuan masyarakat untuk hidup sehat, sehingga tercapai derajat

kesehatan yang optimal bagi masyarakat di RT 05 RW 01 Kelurahan

Kedung Cowek Kecamatan Bulak Kota Surabaya.


1.2.2 Tujuan Khusus
Setelah dilakukan asuhan keperawatan komunitas di RT 05 RW 01

Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak Kota Surabaya selama 6

minggu diharapkan mahasiswa dapat :


a. Mengidentifikasi masalah kesehatan dan keperawatan yang ada di

RT 05 RW 01 Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak


b. Merumuskan alternatif untuk memecahkan masalah yang telah

teridentifikasi
c. Mendorong dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam

peningkatan derajat kesehatan dan pencegahan penyakit di RT 05

RW 01 Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak


d. Menanamkan perilaku sehat melalui kegiatan pendidikan kesehatan

pada masyarakat di RT 05 RW 01 Kelurahan Kedung Cowek

Kecamatan Bulak
e. Mengevaluasi dan merumuskan rencana tindak lanjut untuk

mengatasi masalah kesehatan yang ada di RT 05 RW 01

Kelurahan Kedung Cowek Kecamatan Bulak


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pelayanan Kesehatan Utama


Perawatan kesehatan adalah bidang khusus dari keperawatan yang

merupakan gabungan dari ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan

ilmu sosial yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang

diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik yang

sehat atau yang sakit secara komprehensif melalui upaya promotif, preventif,

kuratif dan rehabilitatif serta resosialitatif dengan melibatkan peran serta aktif

dari masyarakat. Peran serta aktif masyarakat bersama tim kesahatan

diharapkan dapat mengenal masalah kesehatan yang dihadapi serta

memecahkan masalah tersebut (Stanhope, 2004).


Menurut Helvie Tanggung jawab perawat dalam sistem pelayanan

kesehatan utama adalah:


1. Mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan dan

implementasi pelayanan kesehatan dan program pendidikan kesehatan.


2. Kerjasama dengan masyarakat, keluarga dan individu.
3. Mengajarkan konsep kesehatan dasar dan tehnik self care pada masyarakat.
4. Memberikan bimbingan dan dukungan pada petugas pelayanan kesehatan

dan kepada masyarakat.


5. Koordinasi kegiatan kebijaksanaan tentang kesehatan masyarakat.
Manusia sebagai sasaran pelayanan atau asuhan keperawatan dalam

praktek keperawatan. Sebagai sasaran praktek keperawatan klien dapat

dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat (Riyadi, 2007).


1. Individu sebagai klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh

dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat

pada individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan

dasarnya mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan

spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan


pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian pasien/ klien

(Riyadi, 2007).
2. Keluarga sebagai klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat

secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara

perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya

sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam

fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia

dapat dilihat pada Hirarki Kebutuhan Dasar Maslow yaitu

kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai,

harga diri dan aktualisasi diri (Riyadi, 2007).


3. Masyarakat sebagai klien
Kesatuan hidup manusia yang brinteraksi menurut suatu sistem adat

istiadat tetentu yang bersifat terus menerus dan terikat oleh suatu

indentitas bersama (Riyadi, 2007).


Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga/

kelompok dan masyarakat dengan fokus upaya kesehatan primer, sekunder dan

tersier. Oleh karenanya pendidikan masyarakat tentang kesehatan dan

perkembangan sosial akan membantu masyarakat dalam mendorong semangat

untuk merawat diri sendiri, hidup mandiri dan menentukan nasibnya sendiri dalam

menciptakan derajat kesehatan yang optimal (Naomi, 2002).


Peran serta masyarakat diperlukan dalam hal perorangan. Komunitas sebagai

subyek dan obyek diharapkan masyarakat mampu mengenal, mengambil

keputusan dalam menjaga kesehatannya. Sebagian akhir tujuan pelayanan

kesehatan utama diharapkan masyarakat mampu secara mandiri menjaga dan

meningkatkan status kesehatan masyarakat (Mubarak, 2005).


2.2 Konsep Keperawatan Komunitas
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai bagian

integral pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, social dan

spiritual secara komprehensif, ditujukan kepada individu keluarga dan masyarakat

baik sehat maupun sakit mencakup siklus hidup manusia (Riyadi, 2007).
Asuhan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik maupun mental,
keterbatasan pengetahuan serta kurang kemauan menuju kepada kemampuan

melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan dalam

upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan, pemulihan

serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan

utama (Primary Health care) untuk memungkinkan setiap orang mencapai

kemampuan hidup sehat dan produktif. Kegiatan ini dilakukan sesuai dengan

wewenang, tanggung jawab serta etika profesi keperawatan (Riyadi, 2007).


Komunitas adalah kelompok sosial yang tinggal dalam suatu tempat,

saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal serta mempunyai minat dan

interest yang sama (WHO). Komunitas adalah kelompok dari masyarakat yang

tinggal di suatu lokasi yang sama dengan dibawah pemerintahan yang sama, area

atau lokasi yang sama dimana mereka tinggal, kelompok sosial yang mempunyai

interest yang sama (Riyadi, 2007).


Menurut Kontjaraningrat Komunitas adalah sekumpulan manusia yang

saling bergaul, atau dengan istilah lain saling berinteraksi. Dalam rapat kerja

keperawatan kesehatan masuyarakat (1990) dijelaskan bahwa keperawatan

komunitas merupakan suatu bidang keperawatan yang merupakan perpaduan

antara keperawatan (Nursing) dan kesehatan masyarakat (Public health) dengan

dukungan peran serta masyarakat secara aktif dan mengutamakan pelayanan

promotif dan preventif secara berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan

kuratif dan rehabilitatif secara menyeluruh dan terpadu yang ditujukan kepada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sebagai kesatuan utuh melalui

proses keperawatan (Nursing process) untuk meningkatkan fungsi kehidupan

manusia secara optimal sehingga mampu mandiri dalam upaya kesehatan

(Mubarak, 2005).
Perawatan komunitas adalah perawatan yang diberian dari luar suatu

institusi yang berfokus pada masyarakat atau individu dan keluarga (Naomi,

2002). Pada perawatan kesehatan masyarakat harus mempertimbangkan beberapa

prinsip, yaitu:

1. Kemanfaatan
Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat

yang besar bagi komunitas (Riyadi, 2007). Intervensi atau pelaksanaan

yang dilakukan harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi

komunitas, artinya ada keseimbangan antara manfaat dan kerugian

(Mubarak, 2005).
2. Kerjasama
Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat

berkelanjutan serta melakukan kerja sama lintas program dan lintas

sektoral (Riyadi, 2007).


3. Secara langsung
Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan

intervensi, klien dan lingkunganya termasuk lingkungan sosial,

ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama peningkatan kesehatan

(Riyadi, 2007).
4. Keadilan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau

kapasitas dari komunitas itu sendiri (Riyadi, 2007). Dalam pengertian

melakukan upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau

kapasitas komunitas (Mubarak, 2005).


5. Otonomi
Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau

melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan

masalah kesehatan yang ada (Mubarak, 2005).


Strategi pelaksanaan keperawatan komunitas yang dapat digunakan dalam

perawatan kesehatan masyarakat adalah :


1. Pendidikan kesehatan (Health Promotion)
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan

dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga

masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan

bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan

kesehatan (Naomi, 2002).


Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan

kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai

suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat

secara keseluruhan ingin hidup sehat (Yuddi, 2008). Menurut

Notoatmodjo pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep

pendidikan di dalam bidang kesehatan (Mubarak, 2005).


2. Proses kelompok (Group Process)
Bidang tugas perawat komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok

masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di

dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus. Menurut

Nies dan Mc.Ewan (2001), perawat spesialis komunitas dalam

melakukan upaya peningkatan, perlindungan dan pemulihan status

kesehatan masyarakat dapat menggunakan alternatif model

pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan sosial, aksi sosial

atau pengembangan masyarakat. Berkaitan dengan pengembangan

kesehatan masyarakat yang relevan, maka penulis mencoba


menggunakan pendekatan pengorganisasian masyarakat dengan model

pengembangan masyarakat (community development) (Palestin,

2007).
3. Ker asama atau kemitraan (Partnership)\
Kemitraan adalah hubungan atau ker a sama antara dua pihak atau

lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan

atau memberikan manfaat (Depkes RI, 2005). Partisipasi

klien/masyarakat dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif

diri terhadap segala kegiatan yang memiliki kontribusi pada

peningkatan kesehatan dan kese ahteraan (Palestin, 2007).

Kemitraan antara perawat komunitas dan pihak-pihak terkait dengan

masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung antara

komponen-komponen yang ada. Hal ini memberikan pengertian

perlunya upaya kolaborasi dalam mengkombinasikan keahlian masing-

masing yang dibutuhkan untuk mengembangkan strategi peningkatan

kesehatan masyarakat (Palestin, 2007).


4. Pemberdayaan (Empowerment)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai

proses pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk

interaksi transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya

dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri

untuk membentuk pengetahuan baru (Palestin, 2007).

Perawat komunitas perlu memberikan dorongan atau pemberdayaan

kepada masyarakat agar muncul partisipasi aktif masyarakat.

Membangun kesehatan masyarakat tidak terlepas dari upayaupaya


untuk meningkatkan kapasitas, kepemimpinan dan partisipasi

masyarakat (Palestin, 2007).


Sasaran dari perawatan kesehatan komunitas adalah individu, keluarga,

kelompok khusus, komunitas baik yang sehat maupun sakit yang mempunyai

masalah kesehatan atau perawatan (Nasrul Effendy, 2008), sasaran ini terdiri

dari :
1. Individu
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh

dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada

individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya

mencakup kebutuhan biologi, social, psikologi dan spiritual karena

adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang

kemauan menuju kemandirian pasien/klien (Riyadi, 2007).


2. Keluarga
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat

secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara

perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya

sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya

mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat

pada Hirarki Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa

aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi

diri (Riyadi,2007).

3. Kelompok khusus
Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai

kesamaan jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang

terorganisasi yang sangat rawan terhadap masalah kesehatan

(Mubarak, 2005).
4. Tingkat Komunitas
Pelayanan asuhan keperawatan berorientasi pada individu, keluarga

dilihat sebagai satu kesatuan dalam komunitas. Asuhan ini diberikan

untuk kelompok beresiko atau masyarakat wilayah binaan. Pada

tingkat komunitas, asuhan keperawatan komunitas diberikan dengan

mamandang komunitas sebagai klien (Stanhope, 2004).


2.3 Perat Perawat Komunitas (Provider Of Nursing Care)
Banyak peranan yang dapat dilakukan oleh perawat kesehatan masyarakat

diantaranya adalah :
1. Sebagai penyedia pelayanan (Care provider)
Memberikan asuhan keperawatan melalui mengkaji masalah

keperawatan yang ada, merencanakan tindakan keperawatan,

melaksanakan tindakan keperawatan dan mengevaluasi pelayanan

yang telah diberikan kepada individu, keluarga, kelompok dan

masyarakat (Helvie, 2000).


2. Sebagai Pendidik dan konsultan (Nurse Educator and Counselor)
Memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga,

kelompok dan masyarakat baik di rumah, puskesmas, dan di

masyarakat secara terorganisir dalam rangka menanamkan perilaku

sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku seperti yang diharapkan

dalam mencapai derajat kesehatan yang optimal (Helvie, 2000).


Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan

mengatasi tatanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun

hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan

perkembangan seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan emosional

dan intelektual (Mubarak, 2005).


Proses pengajaran mempunyai 4 komponen yaitu : pengkajian,

perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Hal ini sejalan dengan proses

keperawatan dalam fase pengkajian seorang perawat mengkaji


kebutuhan pembelajaran bagi pasien dan kesiapan untuk belajar.

Selama perencanaan perawat membuat tujuan khusus dan strategi

pengajaran. Selama pelaksanaan perawat menerapkan strategi

pengajaran dan selama evaluasi perawat menilai hasil yang telah

didapat (Mubarak, 2005).


3. Sebagai Panutan (Role Model)
Perawat kesehatan masyarakat harus dapat memberikan contoh

yang baik dalam bidang kesehatan kepada individu, keluarga,

kelompok dan masyarakat tentang bagaimana tata cara hidup sehat

yang dapat ditiru dan dicontoh oleh masyarakat (Helvie, 2000).


4. Sebagai pembela (Client Advocate)
Pembelaan dapat diberikan kepada individu, kelompok atau tingkat

komunitas. Pada tingkat keluarga, perawat dapat menjalankan

fungsinya melalui pelayanan sosial yang ada dalam masyarakat

(Helvie, 2000). Seorang pembela klien adalah pembela dari hak-hak

klien. Pembelaan termasuk di dalamnya peningkatan apa yang terbaik

untuk klien, memastikan kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi

hak-hak klien (Mubarak, 2005).


Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung jawab

membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi

dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi hal

lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (Informed

Concent) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya

(Mubarak, 2005). Tugas yang lain adalah mempertahankan dan

melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena klien yang sakit dan

dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas

kesehatan (Mubarak, 2005).


5. Sebagai Manajer kasus (Case Manager)
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan dapat mengelola

berbagai kegiatan pelayanan kesehatan puskesmas dan masyarakat

sesuai dengan beban tugas dan tanggung jawab yang dibebankan

kepadanya (Helvie, 2000).


6. Sebagai kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara

bekerjasama dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi,

ahli radiologi, dan lain-lain dalam kaitanya membantu mempercepat

proses penyembuhan klien (Mubarak, 2005). Tindakan kolaborasi atau

kerjasama merupakan proses pengambilan keputusan dengan orang

lain pada tahap proses keperawatan. Tindakan ini berperan sangat

penting untuk merencanakan tindakan yang akan dilaksanakan (Helvie,

2000).
7. Sebagai perencana tindakan lanjut (Discharge Planner)
Perencanaan pulang dapat diberikan kepada klien yang telah

menjalani perawatan di suatu instansi kesehatan atau rumah sakit.

Perencanaan ini dapat diberikan kepada klien yang sudah mengalami

perbaikan kondisi kesehatan (Helvie, 2000).


8. Sebagai pengidentifikasi masalah kesehatan (Case Finder)
Melaksanakan monitoring terhadap perubahan-perubahan yang

terjadi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang

menyangkut masalah-masalah kesehatan dan keperawatan yang timbul

serta berdampak terhadap status kesehatan melalui kunjungan rumah,

pertemuan-pertemuan, observasi dan pengumpulan data (Helvie,

2000).
9. Koordinator Pelayanan Kesehatan (Coordinator of Services)
Peran perawat sebagai koordinator antara lain mengarahkan,

merencanakan dan mengorganisasikan pelayanan kesehatan yang


diberikan kepada klien (Mubarak, 2005). Pelayanan dari semua

anggota tim kesehatan, karena klien menerima pelayanan dari banyak

profesional (Mubarak, 2005).


10. Pembawa perubahan atau pembaharu dan pemimpin (Change

Agent and Leader)


Pembawa perubahan adalah seseorang atau kelompok yang

berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain membuat

perubahan pada dirinya atau pada sistem. Marriner torney

mendeskripsikan pembawa peubahan adalah yang mengidentifikasikan

masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk berubah,

menunjukkan alternative, menggali kemungkinan hasil dari alternatif,

mengkaji sumber daya, menunjukkan peran membantu, membina dan

mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase dari

proses perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini

(Mubarak, 2005).
Peningkatan dan perubahan adalah komponen essensial dari

perawatan. Dengan menggunakan proses keperawatan, perawat

membantu klien untuk merencanakan, melaksanakan dan menjaga

perubahan seperti : pengetahuan, ketrampilan, perasaan dan perilaku

yang dapat meningkatkan kesehatan (Mubarak, 2005)


11. Pengidentifikasi dan pemberi pelayanan komunitas (Community

Care Provider And Researcher)


Peran ini termasuk dalam proses pelayanan asuhan keperawatan

kepada masyarakat yang meliputi pengkajian, perencanaan,

pelaksanaan dan evaluasi masalah kesehatan dan pemecahan masalah

yang diberikan. Tindakan pencarian atau pengidentifikasian masalah


kesehatan yang lain juga merupakan bagian dari peran perawat

komunitas (Helvie, 2000).

2.4 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Komunitas


1. Pengkajian
Pengkajian adalah merupakan upaya pengumpulan data secara lengkap

dan sistematis terhadap masyarakat untuk dikaji dan dianalisis sehingga

masalah kesehatan yang dihadapi oleh masyarakat baik individu, keluarga

atau kelompok yang menyangkut permasalahan pada fisiologis, psikologis,

sosial elkonomi, maupun spiritual dapat ditentukan (Mubarak, 2005).

Dalam tahap pengkajian ini terdapat 5 kegiatan, yaitu : pengumpulan data,

pengolahan data, analisis data, perumusan atau penentuan masalah

kesehatan masyarakat dan prioritas masalah (Mubarak, 2005).


a. Pengumpulan data
Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh informasi

mengenai masalah kesehatan pada masyarakat sehingga dapat

ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah

tersebut yang menyangkut aspek fisik, psikologis, sosial ekonomi dan

spiritual serta faktor lingkungan yang mempengaruhi (Mubarak, 2005).

Pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :


1) Wawancara atau anamnesa
Wawancara adalah kegiatan komunikasi timbal balik yang

berbentuk tanya jawab antara perawat dengan pasien atau keluarga

pasien, masyarakat tentang hal yang berkaitan dengan masalah

kesehatan pasien. Wawancara harus dilakukan dengan ramah,

terbuka, menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah

dipahami oleh pasien atau keluarga pasien, dan selanjutnya hasil


wawancara atau anamnesa dicatat dalam format proses

keperawatan (Mubarak, 2005).


2) Pengamatan
Pengamatan dalam keperawatan komunitas dilakukan meliputi

aspek fisik, psikologis, perilaku dan sikap dalam rangka

menegakkan diagnosa keperawatan. Pengamatan dilakukan dengan

menggunakan panca indera dan hasilnya dicatat dalam format

proses keperawatan (Mubarak, 2005).


3) Pemeriksaan fisik
Dalam keperawatan komunitas dimana salah satunya asuhan

keperawatan yang diberikan adalah asuhan keperawatan keluarga,

maka pemeriksaan fisik yang dilakukan dalam upaya membantu

menegakkan diagnosa keperawatan dengan cara Inspeksi, Perkusi,

Auskultasi dan Palpasi (Mubarak, 2005).


b. Pengolahan data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah

pengolahan data denga cara sebagai berikut :


1) Klasifikasi data atau kategori data
2) Penghitungan prosentase cakupan dengan menggunakan

Telly
3) Tabulasi data
4) Interpretasi data

c. Analisis data
Analisis data adalah kemampuan untuk mengkaitkan data

dan menghubungkan data dengan kemampuan kognitif yang

dimiliki sehingga dapat diketahui tentang kesenjangan atau

masalah yang dihadapi oleh masyarakat apakah itu masalah

kesehatan atau masalah keperawatan (Mubarak, 2005).


c. Penentuanmasalah atau perumusan masalah kesehatan
Berdasarkan analisa data dapat diketahui masalah kesehatan

dan keperawatan yang dihadapi oleh masyarakat, sekaligus

dapat dirumuskan yang selanjutnya dilakukan intervensi.

Namun demikian masalah yang telah dirumuskan tidak

mungkin diatasi sekaligus. Oleh karena itu diperlukan prioritas

masalah (Mubarak, 2005).


d. Prioritas masalah
Dalam menentukan prioritas masalah kesehatan masyarakat

dan keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai faktor

sebagai kriteria diantaranya adalah (Mubarak, 2005):


1) Perhatian masyarakat
2) Prevalensi kejadian
3) Berat ringannya masalah
4) Kemungkinan masalah untuk diatasi
5) Tersedianya sumberdaya masyarakat
6) Aspek politis
Dalam menyusun atau mengurut masalah atau diagnosis

komunitas sesuai dengan prioritas (penapisan) yang digunakan

dalam keperawatan komunitas adalah format penapisan

menurut Stanhope
2. Diagnosis keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon individu pada masalah

kesehatan baik yang aktual maupun potensial. Masalah aktual adalah

masalah yang diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan masalah

potensial adalah masalah yang mungkin timbul kemudian (ANA). Jadi

diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat dan

pasti tentang status dan masalah kesehatan yang dapat diatasi dengan

tindakan keperawatan. Dengan demikian diagnosis keperawatan

ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan. Diagnosa

keperawatan akan memberi gambaran masalah dan status kesehatan


masyarakat baik yang nyata (aktual), dan yang mungkinterjadi

(potensial) (Mubarak, 2005). Diagnosa keperawatan mengandung

komponen utama yaitu problem (masalah), etiologi (penyebab), sign

atau symtom (tanda gejala) (Mubarak, 2005).


3. Perencanaan keperawatan.
Perencanaan keperawatan adalah penyusunan rencana tindakan

keperawatan yang akan dilaksanakan untuk mengatasi masalah sesuai

dengan diagnosis keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan

terpenuhinya kebutuhan pasien (Pusdiklat DJJ Keperawatan). Jadi

perencanaan asuhan keperawatan kesehatan masyarakat disusun

berdasarkan diagnosa keperawatan yang telah ditetapkan dan rencana

keperawatan yang disusun harus mencakup perumusan tujuan, rencana

tindakan keperawatan yang akan dilakukan dan kriteria hasil untuk

menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2005).


4. Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari rencana asuhan

keperawatan yang telah disusun. Dalam pelaksanaan tindakan

keperawatan, perawat kesehatan masyarakat harus bekerjasama dengan

anggota tim kesehatan lainya. Dalam hal ini melibatkan pihak

Puskesmas, Bidan desa dan anggota masyarakat (Mubarak, 2005).

Prinsip yang umum digunakan dalam pelaksanaan atau implementasi

pada keperawatan komunitas adalah :


a. Inovative
Perawat kesehatan masyarakat harus mempunyai wawasan

luas dan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu

pengetahuan dan tehnologi (IPTEK) dan berdasar pada iman

dan taqwa (IMTAQ) (Mubarak, 2005).


b. Integrated
Perawat kesehatan masyarakat harus mampu bekerjasama

dengan sesama profesi, tim kesehatan lain, individu, keluarga,

kelompok dan masyarakat berdasarkan azas kemitraan

(Mubarak, 2005).

c. Rasional
Perawat kesehatan masyarakat dalam melakukan asuhan

keperawatan harus menggunakan pengetahuan secara rasional

demi tercapainya rencana program yang telah disusun

(Mubarak, 2005).
d. Mampu dan mandiri
Perawat kesehatan masyarakat diharapkan mempunyai

kemampuan dan kemandirian dalam melaksanakan asuhan

keperawatan serta kompeten (Mubarak, 2005).


e. Ugem
Perawat kesehatan masyarakat harus yakin dan percaya atas

kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis bahwa

asuhan keperawatan yang diberikan akan tercapai. Dalam

melaksanakan implementasi yang menjadi fokus adalah :

program kesehatan komunitas dengan strategi : komuniti

organisasi dan partnership in community (model for nursing

partnership) (Mubarak, 2005).


5. Evaluasi atau Penilaian
Evaluasi memuat keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan

keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan

membandingkan antara proses dengan pedoman atau rencana proses

tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat dengan

membandingkan antara tingkat kemandirian masyarakat dalam


perilaku kehidupan sehari-hari dan tingkat kemajuan kesehatan

masyarakat komunitas dengan tujuan yang telah ditetapkan atau

dirumuskan sebelumnya (Mubarak, 2005). Kegiatan yang dilakukan

dalam penilaian menurut Nasrul Effendi, 1998 :


a. Membandingkan hasil tindakan yang dilaksanakan dengan

tujuan yang telah ditetapkan.


b. Menilai efektifitas proses keperawatan mulai dari tahap

pengkajian sampai dengan pelaksanaan.


c. Hasil penilaian keperawatan digunakan sebagai bahan

perencanaan selanjutnya apabila masalah belum teratasi.


Perlu dipahami bersama oleh perawat kesehatan masyarakat bahwa

evaluasi dilakukan dengan melihat respon komunitas terhadap program

kesehatan. Macam evaluasi : formatif dan sumatif, input procces dan

out put (Mubarak, 2005).

BAB 3
TINJAUAN KASUS

3.1 Tabulasi Data Demografi

No Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Laki-laki 14 50
2 Perempuan 14 50

No Usia Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 0-<5 1 4
2 5-<13 4 14
3 13-<18 1 4
4 18-<45 13 46
5 45-<60 4 14
6 60-<90 5 18
7 90> 0 0

No Hubungan Dalam Jumlah (Orang) Presentasi (%)


keluarga
1 Kepala Keluarga 11 39
2 Anggota Keluarga 17 61

No Status Kawin Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Kawin 17 60
2 Tidak Kawin 10 36
3 Janda/Duda 1 4

No Agama Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Islam 28 100
2 Kristen 0 0
3 Hindu 0 0
4 Budha 0 0
5 Konghucu 0 0
6 Lain-lain 0 0

No Suku Jumlah Presentasi


1 Jawa 16 57
2 Madura 12 43
3 Lain-lain 0 0

No Pendidikan Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 TS 3 11
2 TK 1 4
3 SD 10 35
4 SMP 6 21
5 SMA 7 25
6 PT 1 4
7 Non Formal 0 0

No Pekerjaan Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 PNS/TNI/Polri 0 0
2 Pegawai Swasta 2 7
3 Wiraswata 25 25
4 Petani 0 0
5 Buruh (pbr/tani) 3 10
6 Nelayan 0 0
7 Tidak Bekerja 14 51
8 Lain-lain 2 7

No Pendapatan Jumlah (KK) Presentasi (%)


1 <1 jt 1 9
2 1-<3 jt 8 73
3 3 jt 2 18

No Pengeluaran Jumlah (KK) Presentasi (%)


1 <1 jt 2 18
2 1-<3 jt 9 82
3 3 jt 0 0

I. Status Kesehatan

No Penyakit 6 bulan Jumlah (Orang) Presentasi (%)


terakhir
(tiap anggota keluarga)
1 ISPA 10 35
2 TBC 0 0
3 HT 1 4
4 Jantung 0 0
5 Ginjal 0 0
6 Stroke 0 0
7 DM 1 4
DHF 0 0
8 Diare 0 0
9 Gatal-gatal 0 0
10 Gangguan Jiwa 0 0
11 Lain-lain 16 57

II. Kelompok Usia

1. Pasangan Usia Subur


No KB Jumlah (Orang) Presentasi (%)
1 IUD 1 8
2 Pil 0 0
3 Suntik 1 8
4 Kondom 0 0
5 Implan 0 0
6 MOW 0 0
7 MOP 0 0

No Keluhan Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Ya 0 0
2 Tidak 2 15

No Alasan Tidak KB Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Takut 0 0
2 Dilarang 0 0
3 Lain-lain 11 85

No Penyakit Kelamin Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Gonorhoe 0 0
2 Sipilis 0 0
3 HIV 0 0
4 Lain-lain 13 100

2. Ibu Hamil
No ANC Jumlah (Orang) Presentasi (%)
1 Rajin
2 Tidak Rajin
3 Tidak Pernah

No Imunisasi TT Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Lengkap
2 Tidak Lengkap
3 Tidak Pernah

No Buku KIA Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Punya
2 Tidak Punya

No Pil Fe Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Rajin
2 Tidak Rajin
3 Tidak Pernah

No Keluhan Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Anemia
2 PE
3 Lain-lain

No Gizi Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Baik
2 Cukup
3 Kurang

No Rencana Lahir Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Spontan
2 SC

No Penolong Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Dokter
2 Bidan
3 Dukun

3. BUFAS/BUTEK

No ASI Eksklusif Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Ya 1 100
2 Tidak 0 0

No Keluhan Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Ya 0 0
2 Tidak 1 100

4. BALITA
No BB di KMS Jumlah (Orang) Presentasi (%)
1 Hijau 0 0
2 Kuning 1 100
3 Merah 0 0

No ASI Eksklusif Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Ya 0 0
2 Tidak 1 100

No Imunisasi Dasar Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Lengkap 0 0
2 Belum Lengkap 1 100
3 Tidak Lengkap 0 0
No Posyandu Jumlah (Orang) Presentasi (%)
1 Rajin 1 100
2 Tidak Rajin 0 0
3 Tidak Pernah 0 0

No Vitamin A Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Rajin 1 100
2 Tidak Rajin 0 0
3 Tidak Pernah 0 0

No MP ASI Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 < 6 bulan 1 100
2 >6 Bulan 0 0

5. Anak Sekolah
No Gizi Jumlah (Orang) Presentasi (%)
1 Baik 2 50
2 Cukup 2 50
3 Kurang 0 0

No Imunisasi Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Lengkap 4 100
2 Tidak Lengkap 0 0

No Gosok Gigi Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Rajin 3 75
2 Tidak Rajin 1 25
3 Tidak Pernah 0 0

No Sakit Gigi Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Ya 2 50
2 Tidak 2 50

No Tidak Naik Kelas Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Pernah 0 0
2 Tidak Pernah 4 100

6. Remaja
No Kenakalan Remaja Jumlah (Orang) Presentasi (%)
1 Rokok 0 0
2 NAPZA 0 0
3 Miras 0 0
4 Seks Bebas 0 0
5 Geng Motor 0 0
6 Tidak Ada 1 100

No Ikut Organisasi Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Aktif 0 0
2 Tidak Aktif 1 100

7. Lansia
No Posyandu Jumlah (Orang) Presentasi (%)
1 Rajin 2 22
2 Tidak Rajin 0 0
3 Tidak Pernah 7 78

No Pemeriksaan Kesehatan Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Rajin 4 44
2 Tidak Rajin 0 0
3 Tidak Pernah 5 56

No Kegiatan Sosial Jumlah (Orang) Presentasi (%)


1 Rajin 2 22
2 Tidak Rajin 0 0
3 Tidak Pernah 7 78

B. DATA SUB SISTEM


1. Lingkungan Fisik (Per KK)
No. Status Rumah Jumlah (KK) Presentasi(%)
1. Sendiri 6 55
2. Sewa 5 45

No. Jenis Rumah Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Permanen 11 100
2. Semi Permanen 0 0
3. Tidak Permanen 0 0

No. Lantai Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Kramik 10 90
2. Tidak Kramik 1 10
No. Ventilasi Jumlah (KK) Presentasi(%)
1. < 10% 9 82
2. >10% 2 18

No. Luas rumah 8 m2/orang Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Ya 3 27
2. Tidak 8 73

No. Sumber Air Bersih Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. PAM 4 36
2. Sumur 7 64
3. Sungai 0 0
4. Lain-lain 0 0

No. Sumber Air Minum Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Air Masak 5 45
2. Air Mineral 6 55
3. Air Tidak Dimasak 0 0

No. Jenis Jamban Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Leher Angsa 11 100
2. Cemplung 0 0
3. Tidak Punya 0 0

No. Tempat BAB Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. WC 11 100
2. Sungai 0 0
3. Ladang 0 0

No. Jentik Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Ada 0 0
2. Tidak 11 100

No. Tempat Sampah Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Ditimbun 0 0
2. Dibakar 2 18
3. TPA 9 82

No. Saluran Limbah Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Got 11 100
2. Sungai 0 0
3. Tidak Ada 0 0

No. Binatang Jumlah (KK) Presentasi(%)


1. Piaraan 4 36
2. Pengerat 0 0
3. Serangga 0 0

No. Kandang Ternak Jumlah Presentase


1. Bersih 3 27
2. Kotor 1 9
3. Tidak Ada 7 64

2. Perilaku Terhadap Kesehatan (Per KK)


No. Pemanfaatan Fasyankes Jumlah Presentase
1. Rumah Sakit 0 0
2. Puskesmas 8 73
3. Klinik 2 18
4. Alternatif 1 9

No. Jaminan Kesehatan Jumlah Presentase


1. BPJS 8 73
2. Mandiri 3 27
3. Lain-lain 0 0

No. Kebiasaan CTPS Jumlah Presentase


1. Ya 1 9
2. Tidak 10 91

No. Konsumsi Lauk Perhari Jumlah Presentase


1. Ya 1 100
2. Tidak 0 0

No. Makan sayur dan buah perhari Jumlah Presentase


1. Ya 10 91
2. Tidak 1 9

No. Tidak Merokok Dalam Rumah Jumlah Presentase


1. Ya 4 36
2. Tidak 7 64

No. Olahraga Perhari Jumlah Presentase


1. Ya 3 27
2. Tidak 8 73

3.2 ANALISA DATA


MASALAH
NO DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF
KESEHATAN
1 LINGKUNGAN 1. Ventilasi rumah < 10 % Ketidakefektifan
FISIK sebanyak 8 rumah (82 pemeliharaan kesehatan
Lingkungan yang %) lingkungan RT 05
2. Luas rumah < 8
kurang sehat di RW Kelurahan Kedung
m2/orang sebanyak 8
01 Cowek-Kecamatan Bulak
rumah (73 %)
Wawancara : Berhubungan dnegan
3. Tempat pembuangan
Warga ketidakmampuan warga
sampah, dibakar 2
mengatakan memodifikasi lingkungan
rumah (18 %), dan TPA
bahwa sebagian hidup, masalah social-
sebanyak 9 rumah (82
masyarakat ekonomi.
%)
menguras bak 4. Saluran limbah di got
mandi dan sebanyak 11 rumah (100
penampungan air %).
5. Binatang peliharaan
saat akan
sebanyak 4 rumah (36
dilakukan
%).
pemeriksaan
6. Kandang ternak
jentik oleh petugas
sebanyak 4 rumah,
kesehatan.
dalam keadaan bersih 3
Winshield survey :
(27%) dan 1 dalam
Lokasi rumah
keadaan kotor (9%).
warga yang saling 7. Tidak CTPS sebanyak
berdempetan satu 10 KK (91 %).
8. Mempunyai kebiasaan
sama lain.
Terdapat tempat merokok dalam rumah
pembuangan sebanyak 7 KK (64 %).
9. Penyakit yang diderita
sampah yang
tiap anggota keluarga
sampahnya
selama 6 bulan terakhir
dibakar dan
yakni ISPA sebanyak 10
lokasinya
orang (35%), hipertensi
berdekatan dengan
(4%), diabetes melitus
pemukiman
warga. sebanyak 1 orang (4 %),
Terdapat saluran
dan yang mempunyai
pembuangan
penyakit asam urat,
limbah (got)
kolesterol dan sehat
disekitar rumah
sebanyak 16 orang
warga dalam
(57%).
keadaan terbuka
dengan keadaan
airnya kotor dan
dipenuhi sampah.
Terdapat ikan
yang dipelihara
dalam sebagian
besar bak mandi
warga, dengan
keadaan air yang
keruh.
Penataan alat
rumah tangga dan
barang-barang
yang tidak tertata
dengan rapih dan
ditumpuk serta
banyak pakaian
yang digantung.

2 USIA LANJUT 1. Jumlah lanjut usia di RT Resiko terjadinya


Wawancara : 05 sebanyak 9 orang penyakit pada lansia
Ketidakmampuan
Sebagian besar (100 %)
2. Lansia tidak pernah ke mempertahankan
dari jumlah lansia
posyandu sebanyak 7 kesehatan lansia
di RT 05
orang (78 %).
mengalami
3. Lansia tidak pernah
keluhan
melakukan pemeriksaan
Hipertensi serta kesehatan sebanyak 5
nyeri di orang (56 %).
4. Jenis penyakit yang
persendian.
Sebagian besar diderita tiap anggota
lansia yang keluarga selama 6 bulan
memiliki riwayat terakhir yang di
penyakit seperti dominasi oleh lansia
hipertensi lebih yakni HT sebanyak 1
banyak memilih orang , Asam urat 2 .
untuk membeli
obat sendiri dan
tidak
memeriksakan
tentang
perkembangan
kesehatan mereka
dengan alasan
jarak fasilitas
kesehatan yang
terlalu jauh dan
prosesnya yang
terlalu rumit.
Sebagian besar
lansia yang
memiliki riwayat
penyakit HT tidak
mengetahui
tentang diet
khusus yang
diberikan di
rumah dan
mengkonsumsi
makanan yang
sama dengan yang
dikonsumsi oleh
anggota keluarga
lainnya.
Sebagian besar
warga
mengatakan tidak
berolahraga
dikarenakan sudah
disibukkan oleh
pekerjaan masing
masing
3.3 Penampisan

KRITERIA

Dx. Keperawatan Sesuai dg Jumlah


Sumber Sumber Sumber Sumber
Komunitas peran Jumlah Besarnya Kemungkinan Minat Kemungkinan skore
daya daya Sumber daya daya
perawat beresiko resiko u/ PENKES masy. u/ diatasi
tempat waktu dana peralatan orang
komunitas
Ketidakmampuan 5 5 5 4 3 3 4 5 5 5 3 47
mempertahankan
kesehatan
lingkungan di Rt. 05
(11 KK binaan)
Resiko terjadinya 5 3 3 5 4 4 5 3 4 5 4 45
peningkatan
kadar asam urat
pada lansia di 1
dasawisma RT 05

PLANING OF ACTION (POA)

NO DIAGNOSA TUJUAN SASARA STRATEGI RENCANA HARI/ TEMPAT EVALUASI


KEPERAWATAN N KEPERAWATAN TANGGAL
KRITERIA STANDAR
1. Ketidakefektifa Setelah dilakukan Warga K.I.E 1. Penyuluhan Sabtu 19.00 Wilayah Verbal 1. Jenis sampah
tindakan binaan kesehatan RT 05 2. Dampak
n pemeliharaan
keperawatan 1 kali RT 05 1 mengenai : salah satu pembuangan sampah
kesehatan
kegiatan masyarakat Dasawis Kesehatan rumah yang kurang sehat
lingkungan dasawisma 01 RT ma lingkungan warga 3. Pengolahan sampah
dasawisma 01 05mampu : ISPA yang benar
4. Penyakit-penyakit
RT 5 a) Memelihara Asam urat
yang mungkin
lingkungan yang
timbul akibat
sehat
b) Mengidentifikasi kebiasaan
jenis sampah membuang sampah
yang tidak sehat
5. Tindakan yang dapat
dilakukan bila ada
anggota keluarga
yang sakit

1. Saluran air bebas


2. Kerja bakti Minggu Wilayah Non verbal sampah
bersama warga RT 16.00 RT 05 2. Sampah tidak
01 salah satu berserakan
rumah 3. Pengolaan sampah
warga dilakukan secara
baik dan benar

2. Resiko Setelah dilakukan Lansia K.I.E 1. Kunjungan rumah Rumah Verbal 1. Pengungkapa
terjadinya tindakan dan oleh mahasiswa warga n masalah yang
peningkatan keperawatan 1 kali Keluarga PKL pada keluarga RT 05 dialami oleh lansia
kegiatan masyarakat binaan
kadar asam 2. Penyuluhan
mampu memberikan Rumah
urat pada perawatan pada kesehatan Warga
lansia di 1 lansia di RT 01 mengenai RT 05 Verbal dan 2. Penyakit yang
dasawisma kesehatan lansia salah satu Non verbal biasa dialami pada
dan mengadakan rumah lansia
RT 05
kegiatan warga 3. Tindakan
pemeriksaan pada yang dilakukan bila
lansia ada lansia yang sakit
3. Mengadakan jalan 4. Kemandirian
sehat hidup lansia dan
4. Pembinaan kader keluarga
lansia (pengelolaan diet dan
terapi)
Balai RW verbal
01
1.Penggolongan usia
lansia
2. Pengolahan diet
sesuai riwayat
penyakit lansia
3. Informasi kesehatan
lansia
4. Pemeriksaan
kesehatan dasar
lansia.
BAB IV
PENUTUP

1.1 SIMPULAN

Dari hasil tinjauan pustaka dan tinjauan kasus, penulis dapat menarik

kesimpulan sebagai berikut :

4.1 Kesimpulan
Masalah keperawatan komunitas yang muncul di wilayah Dasawisma RT 05

RW 01 antara lain adalah terjadi resiko peningkatan penyakit menular akibat

lingkungan kurang sehat (ISPA, Diare, TBC ) di Dasawisma RT 05 RW 01

berhubungan dengan kurangnya pengetahuan warga tentang kesehatan

lingkungan dan dampak terhadap status kesehatan, Resiko penyimpangan

perilaku (merokok) pada remaja di Dasawisma RT 05 RW 01 berhubungan

dengan kurangnya pengetahuan remaja tentang bahaya merokok.

Implementasi yang telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut antara lain

adalah penyuluhan TBC, penyuluhan ISPA, penyuluhan diare, kerja bakti,

penyuluhan bahaya merokok dan narkoba, pemutaran film bahaya merokok,

pemutaran film bahaya narkoba. Pada dasarnya kegiatan yang dilakukan

mendapat dukungan dari masyarakat dilingkungan Dasawisma RT 05 RW 01,

hal ini dapat dilihat dari ukur adalah berjalannya POSKO KESEHATAN sebagai

dasar untuk terbentuknya Desa Siaga dan masyarakat sangat antusias terhadap

kegiatan ini.

4.2 Saran

Berdasarkan dari kesimpulan diatas, maka disarankan untuk :


1. Kader Kesehatan
Kegiatan yang sudah dilaksanakan dengan baik seperti posyandu balita

hendaknya dapat dilaksanakan dengan secara bertahap ditingkatkan, untuk

posyandu balita dengan sistem 5 meja. Kegiatan tersebut hendaknya

dilaksanakan secara rutin dengan koordinasi pihak puskesmas.


2. Masyarakat
Peran serta dari masyarakat, Ibu-ibu PKK, tokoh masyarakat dan

pengurus RTRW perlu ditingkatkan terus dalam berbagai kegiatan dibidang

kesehatan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.

Antara lain Ibu-ibu balita aktif membawa balitanya mengikuti kegiatan

posyandu balita, lansia akt, warga aktif mengadakan kerja bakti bersih

lingkungan dan Ibu-ibu PKK aktif menjaga kebersihan dan kesehatan rumah.
3. Puskesmas dan Desa
Diharapkan adanya bantuan dana dan prasarana, serta supervisi dari

pihak puskesmas dan Desa yang berkesinambungan untuk memantau

kegiatan kesehatan yang dilakukan oleh warga Desa Suka Galih.


4. Mahasiswa Stikes Hangtuah Surabaya
Kegiatan praktek komunitas dan keluarga yang telah dilaksanakan di

Dasawisma RT 05 RW 01 perlu ditindaklanjuti oleh mahasiswa angkatan

berikutnya untuk mempertahankan dan mengoptimalkan hal-hal yang telah

dicapai serta menindak lanjuti hal-hal yang belum tercapai.