Anda di halaman 1dari 9

BEBAN PEREMPUAN PENDERITA HIV/AIDS DALAM PERSPEKTIF GENDER

(The Woman Burden of HIV/AIDS Patient in Gender Perspective)

Awatiful Azza
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jember
Jl. Karimata 49 Jember 68121
E-mail: awatiful. azza@yahoo. com

ABSTRACT
Introduction:Epidemic HIV/AIDS becomes heavy burden in every country without exception and
hardly potency breaks the economic development in developing countries including Indonesia.
Method: The method which use on this research was deskriptif kuantitatif. This condition causes
women who generally not guilty exactly very susceptible in infection by HIV/AIDS and accounts a real
heavy burden from disease impact received by it either in social environment and also family. Result:
most all the psychological experienced of respondents change from lightest storey to heaviest. Lack
of ability was caused by a lot public still have not comprehended about HIV/AIDS and more tends to
discriminates patient and even asks patient to move. Giving of emotion support, psychological, facility,
treatment and curative and information support, it's expressed that most of public was less in giving
support. Discussion: The effort that is must be done by local government Kabupaten Jember relates
to handling of HIV/AIDS for example prevention and invention of case and manage of patient which
has expressed positive of HIV/AIDS by entangling all society not to restrain from they environment.

Keywords: the woman burden, HIV/AIDS, gender perspective

PENDAHULUAN menetapkan status merah terhadap penyebaran


HIV/AIDS. Status ini ditetapkan karena terus
Epidemi HIV/AIDS menjadi beban
meningkatnya penderita HIV/AIDS. Data
berat setiap negara tanpa kecuali, dan sangat
yang ditemukan dari tahun 2001 sampai 2007
berpotensi menghancurkan pembangunan
terdapat 102 penderita HIV/AIDS dengan
ekonomi di negara berkembang, termasuk
jumlah kematian sebanyak enam orang, hal
Indonesia. Dewasa ini jumlah orang yang
tersebut menempatkan kabupaten Jember
terinfeksi HIV/AIDS di dunia mencapai
dalam urutan keenam dari epidemi penyebaran
39,4 juta, dari jumlah tersebut 17,6 juta
HIV/AIDS di Jawa Timur setelah Surabaya,
penderita adalah perempuan. Perempuan
Malang, Banyuwangi, Tulungagung, dan
cenderung berpeluang besar tertular HIV/
Sidoarjo.
AIDS. Data menunjukkan jumlah penularan
Risiko perempuan terinfeksi HIV/AIDS,
HIV/AIDS perhari 14 ribu, dan 6. 000 kasus
24 kali lebih besar dibanding laki-laki. Hal
dialami oleh perempuan (Hutapea, 2003). Di
tersebut disebabkan oleh bentuk anatomi dari
Indonesia pada tahun 2005 jumlah penderita
alat kelamin perempuan lebih luas dibanding
HIV/AIDS mencapai 9200 penderita baik laki-
laki-laki. Kemungkinan penularan infeksi dapat
laki maupun perempuan (Convention Watch,
melalui sperma saat berhubungan seksual.
2007). Sebelumnya penyebaran HIV/AIDS
Konsentrasi HIV di dalam sperma yang lebih
di Indonesia baru terjadi di 28 propinsi, sejak
tinggi kemudian masuk ke dalam cairan
tahun 2006 penyebaran HIV/AIDS sudah
vagina saat berhubungan seksual. Kondisi
terjadi disemua propinsi.
ini menyebabkan kaum perempuan yang
Data tentang HIV/AIDS saat ini, Dinas
umumnya tidak bersalah justru sangat rentan
Kesehatan Kabupaten Jember Jawa Timur
terinfeksi HIV/AIDS (Hutapea, 2003).

118
Beban Perempuan Penderita HIV/AIDS dalam Perspektif Gender (Awatiful Azza)

Faktor yang dapat memperparah kondisi konstruktif guna menghadapi dampak yang
perempuan penderita HIV/AIDS di antaranya diakibatkan oleh penyakit ini.
adanya perlakuan diskriminasi, termasuk Stigma dan diskriminasi yang dikaitkan
pendidikan yang kurang memadai, upah dengan HIV/AIDS merupakan penghalang
yang sangat rendah dan prospek kerja yang utama bagi upaya lanjut dalam pencegahan
tidak berpihak pada perempuan, kekerasan, infeksi dan pelayanan yang memadai, dukungan
pelecehan dan eksploitasi yang dilakukan dan perawatan, serta pengurangan dampak
kaum laki-laki. Perlakuan yang cenderung buruk dari infeksi HIV/AIDS. Kebijakan
diskriminasi tersebut akan menyebabkan dan dukungan pemerintah serta masyarakat
perempuan menjadi sangat rentan terhadap yang berpihak pada perempuan dapat menjadi
hubungan seks yang tidak diinginkan dan tidak kekuatan dalam upaya untuk meningkatkan
aman, baik di dalam maupun di luar pernikahan. rasa percaya dirinya. Kajian mengenai
Selain itu perempuan sering diabaikan dalam penderita HIV/AIDS sangat berbeda antara
mendapatkan akses pengetahuan dan pendidikan laki-laki dan perempuan. Perempuan lebih
tentang seksualitas dan kesehatan seksual, berat menanggung dampak penyakit yang
sehingga akan berdampak pada kualitas diterimanya baik dalam lingkungan sosial
kesehatan perempuan yang cenderung berisiko maupun keluarga yang sebelumnya mungkin
terhadap munculnya beberapa penyakit, yang tidak pernah terbayangkan akan menderita
tentunya risiko tersebut juga akan dapat dialami HIV/AIDS.
anak-anak yang dilahirkannya.
Dampak yang ditimbulkan dari HIV/
BAHAN DAN METODE
AIDS tidak hanya masalah kesehatan, akan
tetapi dampak psikososial juga mempunyai Penelitian ini menggunakan pendekatan
andil cukup besar terhadap kesejahteraan deskripif kuantitatif dengan tujuan untuk
perempuan. Perempuan yang terkena HIV/ memberikan gambaran tentang beban psikologis
AIDS, secara psikologi akan mengalami dan sosial perempuan penderita HIV/AIDS
berbagai masalah, mulai dari kecemasan, dalam perspektif gender. Metode kuantitatif
keraguan, stress dan depresi. Tekanan adalah prosedur penelitian yang menghasilkan
lingkungan yang cenderung diskriminatif akan data dekriptif berupa bilangan/numerik
membuat perempuan kehilangan penghargaan dari variabel yang dapat diamati. Deskriptif
terhadap dirinya. Bahaya yang ditimbulkan mengidentifikasi suatu peristiwa, variabel,
oleh HIV/AIDS akan menambah beban berat mengembangkan teori, dan operasional dari
perempuan akibat stigma masyarakat yang variabel (Burn dan Groves, 1991).
cenderung memojokkan dan mengucilkannya Pendekatan ini digunakan karena dapat
dari lingkungan. Stigma pada perempuan memberikan data yang lebih objektif sesuai
dengan HIV/AIDS selalu dihubungkan dengan dengan harapan peneliti, sehingga responden
perilaku marginal seperti perilaku pekerja maupun masyarakat yang menjadi sampel
seks dan pengguna NAPZA. Perempuan dapat mengungkapkan tentang permasalahan
yang positif terinfeksi HIV dihadapkan pada yang dialami perempuan penderita HIV/AIDS.
kenyataan bahwa anaknya juga positif HIV, Penelitian ini dilakukan di beberapa kecamatan
hal tersebut dapat menjadi beban ganda yang di Kabupaten Jember Jawa Timur, terutama
harus ditanggung oleh perempuan. Keadaan ini diwilayah yang ditemukan kasus HIV/AIDS,
memberi konsekuensi psikologis yang besar di antaranya wilayah Patrang, dan Sumbersari.
bagi perempuan dengan HIV/AIDS untuk dapat Pertimbangan dalam menentukan lokasi
melihat diri mereka sendiri, yang kemudian penelitian tersebut untuk melihat dukungan
akan membawa mereka dalam beberapa kasus yang telah diberikan masyarakat pada penderita
pada keadaan depresi, kurang percaya diri HIV/AIDS. Mengkaji kebijakan yang telah
dan putus asa. Stigma dan diskriminasi yang dilakukan pemerintah daerah untuk menjawab
terkait dengan HIV/AIDS akan memengaruhi kecenderungan peningkatan kasus HIV/AIDS
masyarakat dalam merespons keadaan secara yang menempatkan kabupaten Jember dalam

119
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 118126

urutan keempat dari epidemi penyebaran HIV/ Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), serta
AIDS di Jawa Timur setelah Surabaya, Malang, wawancara langsung tentang dukungan
dan Sidoarjo. pemerintah daerah dalam perlindungan
Sumber data dalam penelitian ini perempuan penderita HIV/AIDS.
adalah perempuan penderita HIV/AIDS dan Jumlah sampel pada penelitian ini
masyarakat yang ada di sekitarnya, selain itu adalah: Data primer data diambil dari penderita
data juga didapatkan dari pelayanan kesehatan HIV/AIDS yang melakukan kunjungan di klinik
dan informan yang terkait. VCT RSD dr. Soebandi Jember 60 responden
Pengumpulan data dilakukan dengan yang diambil dengan tekhnik purposif sampling
dua cara yaitu pengumpulan data primer dan dalam kurun waktu 3 bulan yang dimulai pada
pengumpulan data sekunder. Pengumpulan bulan JuliSeptember 2009. Data Sekunder data
data primer diperoleh melalui subjek penelitian diambil dari masyarakat. Jumlah sampel yang
yaitu perempuan penderita HIV/AIDS dengan diambil sebanyak 250 responden yang dipilih
menggunakan kuesioner, Dinas Kesehatan secara random dan terbagi pada dua kecamatan
kabupaten Jember maupun RSD dr. Soebandi yaitu Kecamatan Patrang dan Sumbersari. Data
melalui wawancara. Data sekunder diperoleh dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner
melalui masyarakat yang ada di sekitar maupun observasi dan studi dokumenter, maka
perempuan penderita HIV/AIDS dengan data perlu diolah untuk menjawab tujuan dari
menggunakan kuesioner, data juga diperoleh penelitian. Tiga tahap analisa data dengan
melalui kontak personal langsung di lapangan menggunakan metode diskriptif kuantitatif
maupun menggunakan studi dokumenter. yang pertama yaitu persiapan, melakukan
Penelitian diawali dengan mengajukan pengecekan kelengkapan kuesioner yang sudah
perijinan kepada Badan Kesatuan Bangsa diisi oleh responden, melakukan pengecekan
dan Perlindungan Masyarakat, dan Dinas isian data, serta analisa hasil wawancara dan
Kesehatan Kabupaten Jember. Prosedur studi dokumenter sebagai data pendukung.
pengumpulan data dilakukan setelah Kedua adalah tabulasi data, langkah yang
menetapkan partisipan sesuai dengan kriteria. dilakukan dalam tabulasi data adalah pemberian
Pada pengumpulan data primer, peneliti skor, dan kode dari data yang sudah terkumpul
bekerja sama dengan konselor yang ada di sehingga memudahkan analisa data. Penerapan
klinik VCT RSUD dr. Soebandi Jember. Hal data sesuai dengan pendekatan penelitian
tersebut dilakukan untuk memberi rasa nyaman Pendekatan yang digunakan pada penelitian
reponden, sehingga responden akan lebih ini yaitu pendekatan diskriptif, sehingga
leluasa dalam mengisi kuesioner sesuai dengan peneliti hanya menggunakan persentase
kondisi psikologis yang dialaminya saat itu. untuk menyimpulkan dari data yang sudah
Peneliti memberikan informed concent untuk dikumpulkan untuk menjawab tujuan penelitian.
mendapatkan persetujuan tertulis dari partisipan Data yang diperoleh dari wawancara maupun
yang dilakukan dengan membubuhkan tanda dokumen disajikan dalam bentuk naratif.
tangan di lembar persetujuan yang telah
disediakan.
HASIL
Pada pengumpulan data sekunder
peneliti memilih beberapa masyarakat yang Penelitian ini mengungkapkan bahwa
ada di sekitar penderita sebagai sampling pada dukungan emosi, sekitar 175 (70%)
untuk mengetahui berbagai reaksi dan stigma responden kurang memberikan dukungan
yang diberikan terhadap perempuan penderita psikologis dan emosi pada perempuan yang
HIV/AIDS, selain itu juga untuk mengetahui didiagnosis HIV/AIDS, dan hanya 30% saja
berbagai bentuk dukungan masyarakat terhadap masyarakat yang memberikan dukungan.
perempuan penderita HIV/AIDS. Sumber data Banyak upaya yang dilakukan pemerintah
lain yang dikumpulkan untuk dapat menjawab kabupaten Jember dalam memberikan bantuan
tujuan peneliti yaitu studi dokumenter yang pada penderita HIV/AIDS, namun karena
diperoleh dari Dinas Kesehatan Jember dan stigma yang sudah terlanjur melekat dan

120
Beban Perempuan Penderita HIV/AIDS dalam Perspektif Gender (Awatiful Azza)

kultur keagamaan yang kuat, maka terkadang dan menghancurkan kuman penyakit seperti
program yang dicanangkan pemerintah daerah bakteri, virus dan jamur. Limfosit adalah senjata
belum mampu memberikan jalan keluar yang utama dari sistem imun. HIV menyerang sistem
signifikan bagi penderita dan keluarganya. imun dengan menyerbu dan menghancurkan
Untuk dukungan fasilitas, sebagian responden sel darah putih, yang sering disebut dengan
(55%) mengatakan bahwa mereka tidak sel T. HIV cenderung menyerang sel-sel yang
mampu memberikan dukungan fasilitas mempunyai antigen permukaan CD4, terutama
perawatan dan pengobatan selama perempuan limfosit T4 yang memegang peranan penting
menderita HIV/AIDS, baik berupa sarana dalam mengatur dan mempertahankan sistem
prasarana selama perawatan maupun biaya jika kekebalan tubuh. Selain limfosit T4, virus juga
dibutuhkan. Untuk dukungan informasi, hasil dapat menginfeksi sel monosit dan makrofag, sel
penelitian ini mengungkapkan bahwa sebagian langerhans pada kulit, sel denrit pada kelenjar
besar masyarakat kurang dalam memberikan limfe, makrofag pada alveoli paru, sel retina,
dukungan informasi. Hanya 46% atau sekitar sel servick uteri, dan sel mikroglia otak. Virus
116 orang saja dari mereka yang memberikan yang masuk ke dalam limfosit T4 selanjutnya
dukungan informasi pada perempuan penderita mengadakan replikasi sehingga banyak dan
HIV/AIDS. Kondisi tersebut disebabkan kurang akhirnya menghancurkan sel limfosit itu
pahamnya masyarakat tentang penatalaksanaan sendiri. Kelumpuhan sistem kekebalan tubuh
penderita HIV/AIDS, hal tersebut dapat dilihat ini mengakibatkan timbulnya berbagai infeksi
dari status pendidikan responden yang sebagian oportunistik dan keganasan yang merupakan
besar memiliki pendidikan SD dan SMA, selain gejala-gejala klinis AIDS. Orang yang terinfeksi
itu responden juga kurang mendapat informasi HIV/AIDS akan mengalami beberapa tahapan
dari petugas kesehatan/lingkungannya baik yaitu Asimtomatik, tahap tanpa ada gejala-gejala.
berupa penyuluhan maupun demonstrasi Pada tahap ini penderita terlihat sehat dan normal,
langsung tentang perawatan penderita HIV di sel darah putih masih dapat mengatasi gangguan
rumah. dari luar, tetapi penderita dapat menularkan
Hasil penelitian tentang stigma pada virus itu kepada orang lain. Simtomatik, tahap
penderita HIV/AIDS, mengungkapkan di mana gejala penyakit mulai timbul akibat
bahwa sekitar 69% atau 173 responden lemahnya kekebalan tubuh, opportunistik. tahap
masih memberikan stigma yang buruk dan ini merupakan transisi dari HIV menuju AIDS,
diskriminasi bagi penderita HIV. Stigma tersebut dan gejala klinis minor mulai dapat dilihat.
di antaranya bahwa perempuan penderita HIV Seperti: diare berkepanjangan, batuk 3 bulan
merupakan orang yang melanggar aturan dan lebih, mulai timbul penyakit kulit, berat badan
mempunyai perilaku menyimpang, selain itu berkurang, TBC, bronkhitis. Full blown AIDS:
perempuan penderita HIV/AIDS harus dijauhi tahap di mana seseorang sudah kehilangan
dan sebaiknya tidak boleh keluar rumah agar sistem kekebalan tubuhnya, pada keadaan ini
tidak menularkan penyakitnya pada orang kemampuan penderita untuk bertahan hidup
lain. sudah sangat rendah, karena metabolisme tubuh
sudah rusak dan hancur. Tidak banyak yang dapat
dilakukan pada tahap ini.
PEMBAHASAN
Proses transmisi atau penularan HIV dari
AIDS atau Acquired Immune Deficiency ibu ke bayi diperkirakan sudah berlangsung sejak
Syndrome, merupakan kumpulan gejala penyakit bayi dalam kandungan, yakni melalui plasenta,
akibat penurunan sistem imun atau kekebalan akan tetapi risiko terbesar penularan justru
tubuh oleh virus HIV (Nursalam, 2007). Virus terjadi saat persalinan dan sesudah persalinan.
HIV terdapat di dalam cairan tubuh yaitu darah, Hal ini terjadi karena virus berkembang subur di
sperma, cairan vagina dan air susu ibu (Murni, daerah vagina. Saat persalinan, bayi mengalami
S, 2003). Sistem imun tubuh kita memerangi kontak yang erat dengan vagina sebagai jalan
penyakit dengan berbagai cara. Mula-mula lahir. Darah yang dikeluarkan saat persalinan
diproduksi sel-sel darah putih yang meringkus pun akan mengenai tubuh bayi. Jika ada luka

121
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 118126

pada bayi, virus HIV dari darah ibu bisa masuk dan memojokkan perempuan. Masyarakat
melalui luka. Penularan HIV pada bayi juga menilai bahwa penyakit HIV/AIDS biasanya
dapat melalui pemberian ASI. Pemberian dianggap sebagai penyakit yang diderita oleh
susu formula lebih sering direkomendasikan orang-orang yang melanggar aturan, sebagai
pada ibu pengidap HIV/AIDS. Keadaan perempuan pekerja seks komersial (PSK),
ini sekarang sangat sulit dilakukan, harga tidak taat beragama, orang-orang yang dikutuk
susu formula yang mahal akan menjadi Tuhan dan pendapat lainnya yang relatif sulit
masalah tersendiri bagi ekonomi keluarga dipertanggungjawabkan secara ilmiah, padahal
yang tentunya kemiskinan bagi keluarga kenyataan yang ada tidak selalu demikian.
mempunyai dampak yang sangat besar pada Keadaan ini memberi konsekuensi psikologis
perempuan, belum lagi rendahnya pemahaman yang besar bagi perempuan dengan HIV/AIDS
tentang kebersihan saat memberikan susu untuk dapat melihat diri mereka sendiri dan
formula yang dapat menyebabkan risiko diare anak yang dilahirkannya, yang kemudian
pada bayi. Beberapa penderita menampakkan akan membawa mereka dalam beberapa kasus
gejala yang menyerupai mononukleosis pada keadaan depresi, kurang percaya diri dan
infeksiosa dalam waktu beberapa minggu putus asa. Diskriminasi dan pemberian stigma
setelah terinfeksi. Gejala berupa demam, ruam- oleh masyarakat juga akan melanggar hak-
ruam, pembengkakan kelenjar getah bening hak perempuan seperti yang terdapat dalam
dan rasa tidak enak badan yang berlangsung Undang-Undang Republik Indonesia No. 39
selama 314 hari. Sebagian gejala akan hilang tahun 1999 tentang hak asasi manusia terutama
meskipun kelenjar getah bening tetap membesar. pada pasal 3 dan 4. Serta Undang-Undang
Penderita menunjukkan gejala-gejala infeksi Republik Indonesia No. 24 tentang perempuan
HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum dan kesehatan, pasal 12 berisi konvensi
terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk penghapusan segala bentuk diskriminasi
AIDS. Gejala tersebut meliputi pembengkakan terhadap perempuan (Convention watch, 2007).
kelenjar getah bening, penurunan berat badan, Perempuan juga dihadapkan pada kenyataan
demam yang hilang timbul, perasaan tidak bahwa anak yang akan dilahirkannya berisiko
enak badan, lelah, diare berulang, anemia, dan menderita HIV/AIDS, tentunya hal itu akan
thrush (infeksi jamur di mulut) (Departemen menambah beban perempuan dalam menjalani
Kesehatan Republik Indonesia, 2003). kehidupannya.
Manifestasi klinis infeksi HIV dapat Perubahan yang terjadi pada perempuan
disebabkan HIV-nya sendiri (sindrome retroviral penderita HIV/AIDS selain secara biologis,
akut dimensia HIV), infeksi oportunitis atau perempuan juga rentan secara sosiologis-
kanker yang terkait AIDS. Perjalanan penyakit gender. Perempuan dianugerahi kodrat untuk
HIV dibagi dalam tahap-tahap berdasar melahirkan, kondisi tersebut menyebabkan
keadaan klinis dan jumlah CD4 (Mansjoer, perempuan mempunyai beban berat terhadap
2000). Gangguan klinis lain yang diakibatkan kondisinya maupun keturunannya. Pada
oleh HIV adalah HIV wasting syndrom berat beberapa kasus, infeksi pada anak berbeda
badan turun lebih dari 10%, diare kronis dengan orang dewasa. HIV pada bayi secara
dan demam lebih dari 1 bulan, yang tidak langsung dapat menyerang susunan saraf pusat
disebabkan oleh penyakit lain. Ensepalopati yaitu sumsum tulang belakang dan otak, sehingga
HIV. Gangguan kognitif dan atau disfungsi dapat menghambat proses pertumbuhan dan
motorik yang mengganggu hidup sehari- perkembangan. Permasalahan HIV/AIDS
hari dan bertambah buruk dalam beberapa sangat berbeda dengan penyakit-penyakit
minggu yang tidak disertai penyakit penyerta lainnya. Dampak HIV/AIDS bukan hanya
lain selain HIV (Nursalam, 2007). Sampai masalah kesehatan, namun juga bersinggungan
dengan saat ini penderita HIV/AIDS selalu dengan sendi-sendi permasalahan psikososial,
mendapatkan stigma yang melekat dalam agama, ekonomi dan budaya. Pemberian stigma
diri mereka. Stigma tentang penderita HIV/ tertentu terhadap perempuan penderita HIV/
AIDS lebih cenderung berkonotasi negatif AIDS, membuat para penderita kehilangan

122
Beban Perempuan Penderita HIV/AIDS dalam Perspektif Gender (Awatiful Azza)

haknya untuk diterima dalam masyarakat. merupakan tanggung jawab mereka, dan bukti
Produktivitas mereka menurun dikarenakan baginya telah berbuat dengan kurang baik,
penolakan lapangan kerja, yang kemudian akan merasakan lebih rendah dari orang lain, tidak
membawa perempuan pada keadaan depresi termotivasi untuk meningkatkan diri, tetapi
dan kurangnya rasa percaya diri. bertahan dan melawan terhadap kegagalan dari
Diskriminasi terhadap orang dengan semua perbuatannya. Mereka tidak bahagia
HIV/AIDS atau terhadap orang yang diduga dan tidak merasa cukup dengan diri sendiri,
terinfeksi HIV, sangat jelas merupakan dan tidak menyesuaikan diri dengan baik,
pelanggaran hak asasi manusia. HIV/AIDS mengalami tekanan, keputusasaan dan bunuh
dianggap sebagai penyakit yang diderita oleh diri (Susilo, 1996).
orang-orang yang melanggar aturan, yang Ketidakadilan gender terutama di negara-
tidak taat beragama, orang-orang yang dikutuk negara berkembang, mengarah pada perilaku
Tuhan dan pendapat lainnya yang relatif sulit berisiko tinggi dalam penularan HIV/AIDS
dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Stigma misalnya, dalam banyak kebudayaan perempuan
dan diskriminasi akan memengaruhi kapasitas tidak bebas untuk menolak seks atau melakukan
masyarakat dalam merespons keadaan secara seks aman dengan menggunakan kondom.
konstruktif. Dampak pemberian stigma Laki-laki menganggap posisi kekuasaan dan
dapat menimbulkan rasa malu, bersalah, dan kontrol atas perempuan, meminimalkan jumlah
pengucilan terhadap ODHA, dan juga karena masukan dan persetujuan dari perempuan.
pikiran-pikiran negatif dapat menyebabkan Perempuan kurang memiliki akses untuk
seseorang terpaksa melakukan hal-hal yang mendapatkan pekerjaan dan pendidikan,
dapat merugikan orang lain, misalnya tidak sehingga seringkali, seks dengan perdagangan
memberikan layanan atau memenuhi hak adalah salah satu dari beberapa pilihan bagi
mereka (Pariani dan Purwaningsih, 2005). perempuan mencoba untuk mendapatkan uang
Dampak HIV/AIDS di kalangan dan dukungan mereka dan anak-anak.
perempuan dapat dipengaruhi secara langsung Pengidap HIV/AIDS sebenarnya
oleh budaya dan dibentuk secara sosial oleh mengalami tekanan psikologis yang berlapis-
peranan mereka di dalam masyarakat. Budaya lapis. Mereka harus menerima perlakuan yang
patriarkhi memposisikan perempuan sebagai sangat tidak humanis dari lingkungan sekitar.
warga kelas dua, apalagi bagi perempuan Orang merasa takut bila bertemu atau bahkan
pengidap penyakit seksualitas (HIV/AIDS). bersentuhan dengan penderita HIV/AIDS
Perempuan ditempatkan dalam kebijakan (Riyanto, 2009). Temuan dari penelitian
yang kurang mendukung kondisinya, bahkan ini, mengindikasikan bahwa hampir semua
seringkali perempuan penderita HIV/AIDS responden mengalami perubahan psikologis
justru dieksploitasi melalui media. Sikap dan tersebut dari tingkat yang paling ringan sampai
nilai budaya yang selama ini dianut masyarakat yang paling berat dan tergantung sudah berapa
menganggap ibu rumah tangga tidak menjadi lama mereka didiagnosis menderita HIV/AIDS.
bagian dari kelompok yang rentan terhadap Respons psikologis tersebut di antaranya
HIV/AIDS. Masyarakat tidak memperhatikan adalah ketakutan, kehilangan, duka cita, rasa
bahwa alat reproduksi perempuan tanpa bersalah, depresi, menolak, cemas, marah,
kesalahannya lebih rentan terhadap infeksi. tindakan untuk bunuh diri, kehilangan harga
Kondisi kekurangan dari segi pendapatan, diri, obsesi, dan aspek spiritual.
kekuasaan dan kekayaan, telah menjadikan Kondisi tersebut di atas diperparah
perempuan tidak berupaya maksimal untuk dengan kurangnya penderita mendapatkan
menghindarkan diri mereka dari bahaya dukungan dari lingkungannya. Kurangnya
HIV/AIDS. Perasaan rendah diri perempuan, kemampuan memberikan dukungan pada
menjadikan mereka sering mengalami kesulitan perempuan penderita HIV/AIDS disebabkan
untuk melihat hal positif tentang apa yang bahwa masyarakat masih banyak yang
dilakukan, khawatir akan hidup, dan tidak ingin belum memahami tentang HIV/AIDS baik
mengambil risiko, cenderung tidak mendapat penularan maupun bagaimana cara merawat
pujian karena suksesnya, mengira kegagalan penderita selama di rumah. Masyarakat lebih
123
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 118126

sering mendiskriminasikan penderita dengan penderitaan mereka yang disingkirkan


menjauhi dan bahkan meminta penderita oleh masyarakat. Kurangnya pengetahuan
untuk pindah. Stres adalah respons fisiologis, masyarakat tentang HIV/AIDS, mengakibatkan
psikologis, dan perilaku dari seseorang untuk terjadinya tindakan diskriminasi. Hasil
mencari penyesuaian terhadap tekanan yang penelitian tentang stigma pada penderita HIV/
sifatnya internal maupun eksternal. Gangguan AIDS, mengungkapkan bahwa sekitar 69%
psikologis merupakan bagian dari kehidupan. atau 173 responden masih memberikan stigma
Apapun yang terjadi pada fisik maupun di yang buruk dan diskriminasi bagi penderita
sekeliling yang merupakan gelombang- HIV. Stigma tersebut di antaranya bahwa
gelombang kehidupan, menuntut kita untuk perempuan penderita HIV merupakan orang
menyesuaikan diri. Stres merupakan reaksi yang melanggar aturan dan mempunyai perilaku
awal dari penyesuaian diri tersebut. Sedikit menyimpang, selain itu perempuan penderita
stres membuat manusia menjadi waspada dan HIV/AIDS harus dijauhi dan sebaiknya tidak
ini dibutuhkan agar kita mampu memotivasi boleh keluar rumah agar tidak menularkan
diri, menyesuaikan diri, dan segera mencari penyakitnya pada orang lain.
cara untuk mengatasi stres tersebut. Masalah HIV merupakan epidemi yang
yang sering muncul pada psikologis wanita mengancam kesehatan dan kehidupan
dengan HIV/AIDS adalah gangguan konsep generasi penerus bangsa, yang secara langsung
diri. Konsep diri didefinisikan sebagai ide, membahayakan perkembangan sosial dan
fikiran, kepercayaan, dan pendirian individu ekonomi, serta keamanan Negara. Hasil
yang memengaruhi individu tersebut dalam penelitian ini mampu mengungkapkan adanya
berhubungan dengan orang lain (Stuart dan upaya yang telah dilakukan pemerintah
Sunden, 1991). Konsep diri dipelajari melalui daerah Kabupaten Jember berkaitan dengan
kontak sosial dan pengalaman berhubungan penanganan HIV/AIDS. Upaya tersebut
dengan orang lain. meliputi pencegahan dan penemuan kasus,
Pandangan individu tentang dirinya serta penatalaksanaan penderita yang sudah
dipengaruhi oleh bagaimana individu dinyatakan positif HIV/AIDS yaitu Pencegahan
mengartikan pandangan orang lain tentang ada beberapa upaya yang dilakukan yaitu:
dirinya. Keluarga mempunyai peranan penting Intervensi Perubahan Perilaku, Manajemen
dalam konsep diri, pengalaman awal kehidupan Infeksi Menular Seksual (IMS), dan penemuan
dalam keluarga merupakan dasar pembentukan kasus dengan membuka klinik VCT dan klinik
konsep diri. Tingkatan dan rentang konsep diri manajemen Infeksi Menular Seksual (IMS),
meliputi Aktualisasi, Konsep diri positif, Harga Perawatan, dukungan dan Pengobatan ODHA,
diri rendah pandangan terhadap diri, minder, Monitoring dan Surveilans
rasa bersalah, menolak diri, psikosomatis, Hal yang paling penting dari semua upaya
peragu, gangguan berhubungan, menarik yang dilakukan pemerintah adalah penyelarasan
diri, curiga, merusak diri, melukai orang lain. serta keseimbangan antara pencegahan
Kekacauan identitas: gangguan hubungan penularan HIV/AIDS dan pengembangan sikap
interpersonal, merupakan masalah dalam empati serta rasa persaudaraan antarsesama
berinteraksi. Depersonalisasi perasaan tidak tanpa diskriminasi harus seiring sejalan dengan
nyata karena ketidakmampuan membedakan kondisi masyarakat sekitar.
stimulus dari luar dengan dalam dirinya. Tidak
dapat membedakan dirinya dengan orang lain.
SIMPULAN DAN SARAN
Stigmatisasi dan diskriminasi
mengakibatkan orang dengan HIV bukan saja Simpulan
sulit untuk mencari pekerjaan, tetapi juga telah Perbedaan kondisi dan posisi perempuan
membuat banyak penderita HIV kehilangan terhadap laki-laki tersebut menempatkan
pekerjaan, perumahan bahkan menghadapi perempuan berada dalam kondisi dan posisi yang
berbagai hinaan, serta perlakuan yang tidak lemah karena sejak semula sudah dipolakan.
manusiawi. Media sudah banyak melaporkan Adanya diskriminasi dalam budaya adat atau

124
Beban Perempuan Penderita HIV/AIDS dalam Perspektif Gender (Awatiful Azza)

karena lingkungan keluarga, masyarakat pendampingan dan membentuk kelompok


yang tidak mendukung adanya kesetaraan terapi, sehingga dapat meminimalkan masalah
dan kemandirian juga sangat dirasakan psikologis yang tentunya dapat meningkatkan
oleh perempuan. Keadaan tersebut di atas koping mekanisme serta memperbaiki status
berdampak pada respons psikologis perempuan imun dan yang tidak kalah penting dapat
disaat mereka dinyatakan positif menderita membantu sesama penderita dalam melewati
HIV/AIDS. Perempuan pengidap HIV/AIDS masa-masa sulit pada awal diagnosis, Perlu
sebenarnya mengalami tekanan psikologis yang upaya yang lebih giat dalam meningkatkan
berlapis-lapis. Setelah berkutat pada penyakit, peran serta pemerintah pusat dan daerah
mereka harus menerima perlakuan yang sangat sehingga mampu melampaui cakupan target
tidak humanis dari lingkungan sekitar. program yang telah ditetapkan dengan
Upaya yang telah dilakukan pemerintah bekerja sama lintas program dan sektor, serta
daerah Kabupaten Jember berkaitan dengan keterlibatan tokoh masyarakat dan keluarga
penanganan HIV/AIDS. Upaya tersebut penderita, Perlunya meningkatkan pengetahuan
meliputi pencegahan dan penemuan kasus, tentang HIV/AIDS sejak bangku sekolah dasar
serta penatalaksanaan penderita yang (SD) agar bisa menimbulkan kesadaran tentang
sudah dinyatakan positif HIV/AIDS yaitu penyakit ini sejak dini.
Pencegahan meliputi Intervensi Perubahan
Perilaku, Manajemen Infeksi Menular
Seksual (IMS), Untuk penemuan kasus KEPUSTAKAAN
dibuka klinik VCT dan klinik manajemen
Infeksi. Perawatan, dukungan dan Pengobatan Antoni, B., 2009. Anti Stigma dan Diskriminasi.
ODHAmeliputiPengobatan anti retroviral Yayasan Lembaga Sabda (YLSA).
(ART), perawatan dan pengobatan paliatif, Adriana, dkk., 1998. Hak reproduksi Perempuan
Mempunyai pelayanan VCT. Pencegahan dan yang Terpasung. Jakarta: Pustaka sinar
pengobatan infeksi oportunistik, bekerjasama harapan bekerja sama dengan pusat
kajian wanita Universitas Indonesia dan
dengan Rumah Sakit dan tergantung pada
the Ford Foundation.
penyakit penyerta yang diderita pasien HIV/
Anis, M., 2005. Meningkatnya Kekerasan
AIDS. Dukungan psikologis dan sosio ekonomi. terhadap Perempuan, (online), (http://
Bekerja sama dengan lintas sektor baik tokoh www. mailarchive. com.,diakses tanggal
masyarakat maupun dinas sosial terkait. 11 Februari 2009).
Pendampingan yang dilakukan oleh Puskesmas Anita, hendartini dan Saparinah, 2006.
di mana penderita berdomisili. Monitoring dan Implementasi Pasal 12 Undang-Undang
Surveilans. No. 7 tahun 1984 Pelayanan Kehamilan,
Persalinan dan Pascapersalinan.
Saran Yogyakarta: Surviva Paski, Nitiprayan.
Saran pada penelitian yaitu meningkat- Budianto, M. dkk., 2002. Analisis Wacana:
dari Linguistik sampai Dekonstruksi.
kan pengetahuan dan fungsi keluarga untuk
Yogyakarta: Kanal.
pendampingan dan fasilitator bagi perempuan
Convention Watch, 2007. Hak azasi perempuan
penderita HIV/AIDS, Perlu meningkatkan Instrumen Hukum untuk Mewujudkan
keterlibatan tokoh masyarakat dan pemuka Keadilan Gender. Jakarta: Yayasan Obor
agama dalam membantu memberikan Indonesia.
motivasi, komunikasi dan edukasi yang dapat Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
meningkatkan kesadaran masyarakat dalam 2003. Pedoman Nasional Perawatan,
upaya mencegah penularan HIV/AIDS dan Dukungan dan Pengobatan Bagi Odha.
mengurangi reaksi masyarakat terhadap stigma Buku Pedoman untuk Petugas Kesehatan
dan diskriminasi terhadap penderita HIV/ dan Petugas Lainnya. Jakarta: Ditjen
AIDS terutama perempuan, Bantu Penderita PPM dan PI, Depkes.
untuk meningkatkan harga dirinya dengan Ekosusilo, T., 1999. Pedoman Penulisan Karya
Ilmiah. Semarang: Effhar Offset

125
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 118126

Hadi, T., 2007. Hak Reproduksi Dan Nursalam dan Kurniawati, 2007. Asuhan
Ketidakadilan Gender, (online), (http:// Keperawatan pada Pasien Terinfeksi
www. pikiran-rakyat. com, diakses HIV/AIDS. Jakarta: Salemba medika.
tanggal 23 Januari 2009). Pariani dan Purwaningsih, 2005. Kongres
Hudatoriq, 2006. Stop-AIDS, (online), (http:// Nasional I PNI: PNI sebagai Pendekatan
www. hudatoriq. web., diakses tanggal Holistik dalam Menanggulangi Penyakit
20 September 2007). di Era Mendatang. Surabaya: Gideon
Hutapea, R., 2003. AIDS dan PMS dan Offset Printing.
Perkosaan. Jakarta: Rineka Cipta. Riyanto, 2009. Faktor-faktor yang Memengaruhi
Lily, VI, 2004. Transmisi HIV dari Ibu ke Anak. Kesehatan Mental Penderita HIV.
Majalah Kedokteran Indonesia. Skripsi tidak dipublikasikan. FPSI.
Merawati, 2003. Workshop: Tak Mudah Susilo, K., 1996. Penyakit Hubungan
Menghapus Stigma dan Diskriminasi, Seksual dan HIV/AIDS dari Perspektif
(online), (http://www. indomedia com/ Perempuan. Program Seri Lokakarya
bpost/htm., diiakses tanggal 20 Juli Kesehatan Perempuan. Jakarta: YLKI
2009). the ford Foundation.
Metro Balikpapan, 2007. Mencegah HIV/AIDS Syaiful, P., 1999. Pers meliput AIDS. Jakarta:
dengan Komitmen Terpadu, (Onlie), Pustaka Sinar Harapan.
(http://www. metrobalikpapan. co. id., The American Psycological Association, 2001.
Publication Manual of the American
diakses tanggal 20 September 2007).
Psychologikal Association. (5 th ed).
Murni, S, 2003. Hidup Dengan HIV/AIDS Seri
Washington, DC: American Psycologikal
Buku Kecil. Jakarta: Yayasan Spiritia.
Assosiation.
Najlah, N., 2004. Perempuan-Dogma dan
WHO, 1996. Petunjuk Penatalaksanaan
HIV/AIDS, (online), (http://najlah.
Perawatan untuk Orang-orang Terinfeksi
blogspot. com, diakses tanggal 24 HIV. Dep. Kes RI Dir. Jend PPM dan
Oktober 2007). PLP.
Nasution, T., 2004. Buku Penuntun Membuat _____, 2007. Dua Puluh Tahun Penanganan
Tesis, Skripsi, Disertasi, Makalah. HIV/AIDS Diakui Belum Maksimal,
Jakarta: Bumi Aksara. (Online), (http://www. media-indonesia.
com., diakses tanggal 12 Agustus
2009).

126