Anda di halaman 1dari 9

EFEKTIVITAS KONSELING KELOMPOK DALAM PERBAIKAN TINDAKAN

PENCEGAHAN DBD
(Effectivitas of Group Conseling on Improving Patient Behavior for Prevention DPD)

Mira Utami Ningsih*, Abu Bakar**, Makhfudli***


*Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
Email: miracle_zir@yahoo.com
** Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
*** Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

ABSTRACT
Introduction: Dengue Hemorrhage Fever is a disease with prevalence that keep on higher and spread
wider. Prevention and control of DHF are affected by environment and social-behavioral factors. So
that, some efforts are needed to increase people awareness in prevention of DHF by giving health
education. This study was aimed to find out the difference effectiveness of elucidation and group
counseling method to emendation of patriarch behavior in DHF prevention. Method: This study
used pre-post test design. The population is patriarch in Monjok Pemamoran Village RT 01. Samples
were 40 patriarchs taken by purposive sampling. Independent variables were elucidation and group
counseling. Dependent variables were patriarch behavior including knowledge, attitude and practice.
Data were collected using questionnaire and observation sheet then analyzed using Wilcoxon Signed
Rank Test and Mann Whitney U-test. Result: The result revealed that there are significant effect of
elucidation and group counseling to emendation of patriarch behavior in DHF prevention. Except
in patriarchs practice, there were no difference effectiveness of elucidation and group counseling to
emendation of patriarchs knowledge and attitude. There was difference effectiveness of elucidation
and group counseling method to emendation of patriarchs practice in prevention of DHF. Discussion:
From this study in can be concluded that, both elucidation and group counseling can affect patriarchs
behavior in prevention of DHF but group counseling method is more effective. Thats why, it is hoped
that paramedic can apply that method to society in purpose to increase prevention and control of
DHF and prevents the outbreak.

Keywords: dengue hemorrhagic fever, elucidation, group counseling, behavior

PENDAHULUAN hujan yang ditambah tingkat kesadaran dan


perilaku masyarakat untuk menjaga kebersihan
Demam Berdarah Dengue (DBD)
lingkungan masih rendah, sehingga perlu
merupakan masalah kesehatan masyarakat di
terus-menerus dilakukan sosialisasi kepada
Indonesia karena angka kejadian yang terus
masyarakat tentang penyakit DBD, bahayanya
meningkat dan penyebarannya semakin luas
dan bagaimana cara mencegahnya (Awaludin,
(Sungkar, 2007). Satu-satunya cara untuk
2010). Peningkatan kesadaran masyarakat
mencegah penyakit ini adalah dengan memutus
tentang pentingnya pemberantasan penyakit
rantai transmisi penyakit yang disebut vektor
DBD dapat dilakukan dengan cara peningkatan
control yang dipengaruhi oleh lingkungan
pengetahuan, sikap dan tindakan masyarakat
dan faktor socio-behavioral (Fathi dkk,
tentang pencegahan DBD melalui promosi
2005). Menurut Kepala Bidang Pengendalian
kesehatan (Suharto dkk, 2003). Salah satu hal
Penyakit dan Lingkungan Dinas Kesehatan
yang memengaruhi promosi kesehatan adalah
NTB, penyebab utama mewabahnya penyakit
metode yang digunakan.
DBD di Mataram terutama pada saat musim

201
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 201209

Metode promosi kesehatan yang dapat kejadian DBD adalah DKI Jakarta, Jawa
dilakukan untuk meningkatkan perilaku Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara,
pencegahan DBD di antaranya ialah penyuluhan Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara Timur
dan konseling. Selama ini, metode yang sering dan Nusa Tenggara Barat (Sungkar, 2007). Di
digunakan untuk sosialisasi pencegahan DBD Nusa Tenggara Barat Kasus DBD dari Januari
di daerah endemik adalah dengan penyuluhan. sampai dengan Desember 2005 terdapat
Menurut penelitian Fathi dkk (2005) di daerah 1.040 kasus, dengan kematian mencapai 15
endemik DBD yaitu di Mataram, tidak ada peran orang. Jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi
penyuluhan penyakit DBD yang bermakna daripada jumlah yang tercatat ini (Taufik dkk.,
terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit 2007). Sedangkan pada tahun 2010, terjadi
DBD di Kota Mataram. Sedangkan dengan peningkatan kasus secara signifikan. Sejak
menggunakan metode konseling kelompok, Januari 2010 sampai Februari 2010 telah
Suharto dkk (2003) dalam penelitiannya tercatat 571 kasus DBD. Wilayah yang paling
tentang metode konseling kelompok dan curah tinggi penderita DBD adalah Kota Mataram
pendapat di Kabupaten Magetan, menyatakan sebanyak 368 kasus, diikuti Lombok Barat
bahwa metode konseling kelompok dapat 52 kasus, Lombok Timur 46 kasus, Sumbawa
meningkatkan perilaku pencegahan DBD. Barat 31 kasus. Selanjutnya Lombok Tengah
Penyuluhan kesehatan merupakan 24 kasus, Kota Bima 13 kasus, Kabupaten
kegiatan pendidikan kesehatan yang dilakukan Sumbawa 11 kasus, Dompu 11 kasus, Lombok
dengan menyebarkan pesan, menanamkan Utara sembilan kasus dan Bima enam kasus.
keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja Dinas Kesehatan NTB telah menetapkan Kota
sadar, tahu dan mengerti tetapi juga mau dan bisa Mataram sebagai daerah KLB penyakit DBD
melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya (Awaludin, 2010). Menurut data dari studi
dengan kesehatan (Surayani, 2005). Sedangkan pendahuluan, didapatkan data peningkatan
mengenai konseling, menurut Redman dan pasien DBD berobat ke Puskesmas Mataram
Thomas (1985) dikutip oleh Friedman (1998), yaitu dari 58 orang pada tahun 2009 menjadi 87
konseling sangat berhubungan erat dengan orang pada tahun 2010 dari Kelurahan Monjok.
penyuluhan, tetapi berbeda. Mengajar dan Jumlah ini mencapai hampir seperempat
konseling telah dilukiskan sebagai dua titik dari jumlah kejadian DBD keseluruhan di
pada ujung kontinum yang berbeda, dengan Kota Mataram pada tahun 2010. Dari jumlah
perspektif ini, mengajar dipandang sebagai tersebut, 48 orangnya berasal dari Lingkungan
metode pilihan ketika bekerja dengan keluarga/ Monjok Pemamoran yang terdiri dari 5 RT. RT
masyarakat yang membutuhkan informasi terbanyak penderita DBD adalah RT 01 yaitu
lebih spesifik dan terstruktur. Konseling yang sebanyak 12 penderita.
terletak pada satu ujung kontinum cocok jika Menurut Awaludin (2010), jika tidak
bekerja dengan keluarga/masyarakat yang diantisipasi dengan melakukan pencegahan,
lebih banyak membutuhkan dukungan serta jumlah penderita DBD di NTB khususnya
dorongan untuk menggunakan keterampilan- di Mataram dapat meningkat dari tahun
keterampilan memecahkan masalah (Friedman, sebelumnya didasari oleh kondisi iklim yang
1998). Namun perbedaan efektivitas metode tidak menentu seperti hujan yang turun tidak
penyuluhan dan metode konseling kelompok teratur. Peningkatan jumlah pasien DBD dapat
dalam meningkatkan perilaku pencegahan DBD berdampak tidak hanya pada derajad kesehatan
di daerah endemik belum dapat dijelaskan. masyarakat yang dapat menyebabkan kematian,
Indonesia meskipun sudah lebih dari namun juga aspek sosial ekonomi. Keluarga
35 tahun, DBD bukannya terkendali, tetapi yang salah satu anggotanya menderita penyakit
semakin mewabah. Sejak Januari sampai DBD tentu saja dirugikan dalam hal ekonomi.
Maret 2004, KLB DBD di Indonesia telah Soegijanto (2008) dalam penelitiannya di Jawa
menyerang 39.938 orang dengan angka Timur menyatakan bahwa untuk merawat
kematian 1,3 persen (Soeroso, 2008). Propinsi pasien DBD, keluarga memerlukan tambahan
yang terus mengalami peningkatan angka biaya Rp. 184.000 sampai 1.040.000 dalam

202
Efektivitas Konseling Kelompok dalam Perbaikan Tindakan (Mitra Utami Ningsih)

waktu tujuh hari padahal masa rawat pasien keluarga di Lingkungan Monjok Pemamoran,
DBD bisa lebih dari 7 hari dan keluarga dengan Kota Mataram yang memenuhi kriteria inklusi
penderita DBD rata-rata berpenghasilan hanya yaitu: berusia 2550 tahun, pendidikan minimal
200400 ribu rupiah per bulan. Kerugian SD dan bisa membaca dan menulis belum
tersebut belum termasuk kerugian akibat tidak pernah mendapatkan penyuluhan maupun
masuk kerja, tidak masuk sekolah, gangguan konseling kelompok tentang DBD dalam dua
aktivitas sosial dan pengaruh sakitnya terhadap bulan terakhir; keluarga dengan lingkungan
orang-orang yang berhubungan dengan berisiko menjadi tempat penyebaran vektor
penderita DBD. Kerugian-kerugian tersebut nyamuk yaitu adanya kontainer buatan ataupun
juga sangat mungkin terjadi di daerah endemik alami yang dapat menjadi habitat larva di
seperti Kota Mataram. dalam maupun di luar rumah; dan bersedia
Masalah di atas di atasi dengan menjadi responden dan mengikuti kegiatan
diperlukannya penerapan metode sosialisasi penelitian sampai selesai. Lokasi penelitian
yang paling tepat dan efektif dalam ini adalah di Lingkungan Monjok Pemamoran,
meningkatkan kesadaran masyarakat dan Kota Mataram. Pelaksanaan penelitian dan
mengubah perilaku masyarakat dalam upaya pengambilan data dilakukan selama 3 minggu,
pencegahan kejadian DBD. Keluarga sebagai pada tanggal 23 Desember 201014 Januari
unit terkecil dari masyarakat dan ujung tombak 2011.
pencegahan DBD perlu diberdayakan secara Variabel independen dalam penelitian
optimal (Suharto dkk., 2003). Menurut Effendi ini yaitu penyuluhan dan konseling kelompok.
dan Makhfudli (2009), keluarga dipandang Variabel dependen yaitu perilaku pencegahan
sebagai sumber daya kritis untuk menyampaikan DBD oleh kepala keluarga meliputi pengetahuan,
pesan-pesan kesehatan, di mana dalam hal ini sikap dan praktik pencegahan DBD. Instrumen
keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang digunakan dalam pengumpulan data
berperan dalam penyampaian pesan betapa pengetahuan dan sikap kepala keluarga adalah
pentingnya usaha pencegahan agar terhidar dari kuesioner yang dimodifikasi dari konsep
wabah. Setiap keluarga perlu dilibatkan dalam pencegahan DBD menurut WHO (2009).
upaya pencegahan khususnya bagi kepala Sedangkan untuk data praktik kepala keluarga
keluarga mengingat sebagian besar struktur dalam pencegahan DBD menggunakan lembar
keluarga di Indonesia adalah patriakal di observasi.
mana dominasi pengambil keputusan ada pada Pengumpulan data dilakukan mulai
suami (Setyowati dkk., 2008). Sehingga perlu dari mengumpulkan daftar nama-nama kepala
ditentukan metode yang paling efektif dalam keluarga kemudian menentukan kelompok
membantu keluarga untuk mengembangkan kepala keluarga yang diberi penyuluhan
pengetahuan, kesehatan mental serta perubahan (kelompok 1) dan kepala keluarga yang diberi
sikap dan perilaku. Berdasarkan uraian tersebut konseling kelompok (kelompok 2) masing-
maka peneliti tertarik untuk meneliti perbedaan masing 20 orang. Proporsi kepala keluarga
efektivitas metode penyuluhan ceramah berdasarkan usia dan tingkat pendidikan
tanya jawab dan metode konseling kelompok dibagi sama antara kedua kelompok perlakuan
terhadap perbaikan perilaku kepala keluarga tersebut. Selanjutnya dilakukan pre-test
dalam pencegahan DBD di Kota Mataram. untuk mengumpulkan data pengetahuan dan
sikap kepala keluarga dan mengobservasi
BAHAN DAN METODE perilaku kepala keluarga sebelum dilakukan
penyuluhan maupun konseling kelompok.
Desain penelitian yang digunakan dalam Pre-test ini dilakukan dengan mendatangi rumah
penelitian ini adalah pre post test design. masing-masing kepala keluarga, peneliti juga
Populasi dalam penelitian ini yaitu kepala sekaligus memberitahukan jadwal dilakukan
keluarga di Lingkungan Monjok Pemamoran,
penyuluhan dan konseling kelompok. Sehari
Kota Mataram sebanyak 51 orang. Sampel yang
setelah dilakukan pre-test, peneliti melakukan
digunakan dalam penelitian ini yaitu kepala
penyuluhan kepada kelompok 1. Penyuluhan

203
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 201209

dilakukan hanya satu kali kemudian dilakukan diberikan penyuluhan (kelompok 1) dan kepala
post-test untuk mengetahui pengetahuan keluarga yang diberikan konseling kelompok
dan sikap setelah diberikan penyuluhan (kelompok 2).
dan seminggu kemudian peneliti kembali
mendatangi rumah kepala keluarga untuk HASIL
mendapatkan data tindakan pencegahan DBD
Data menunjukkan pada kelompok 1, dari
menggunakan lembar observasi.
20 responden pada pre-test didapatkan sebagian
Kelompok 2 diberikan konseling
kepala keluarga (55%) berpengetahuan baik,
kelompok, di mana sepuluh orang kepala
hanya sebagian kecil kepala keluarga (30%)
keluarga dikumpulkan menjadi satu kelompok
memiliki sikap baik dan tidak ada (0%) kepala
konseling dan dilakukan berdasarkan tahapan
keluarga yang tindakannya masuk kategori
konseling setiap 3 hari sekali. Setelah pertemuan
baik, sebagian besar (60%) kepala keluarga
terakhir dilakukan post-test untuk mengetahui
tindakannya masuk kategori cukup. Sedangkan
pengetahuan dan sikap kepala keluarga
pada post-test didapatkan sebagian besar kepala
dengan menggunakan kuesioner. Selanjutnya,
keluarga berpengetahuan baik (95%), sebagian
seminggu setelah kegiatan konseling yang
besar kepala keluarga memiliki sikap baik
terakhir, peneliti mengunjungi rumah masing- (80%) dan sebagian besar kepala keluarga
masing kepala keluarga untuk menilai praktik/ (65%) tindakannya masuk kategori cukup.
tindakan kepala keluarga menggunakan lembar Data menunjukkan pada kelompok 2, dari
observasi. 20 responden pada pre-test didapatkan sebagian
Penelitian ini menggunakan uji wilcoxon kepala keluarga (55%) berpengetahuan baik,
signed rank test dengan tingkat kemaknaan sebagian besar responden (75%) memiliki
0,05 untuk menguji data pengetahuan, sikap sikap cukup baik dan sebagian besar responden
dan tindakan kepala keluarga pada pre-test dan (70%) tindakannya masuk kategori baik.
post test. Penelitian ini juga menggunakan uji Sedangkan pada post-test didapatkan seluruh
Mann Whitney U-test dengan tingkat kemaknaan responden (100%) berpengetahuan baik,
0,05 untuk menguji data pengetahuan, sebagian besar responden (85%) memiliki sikap
sikap dan tindakan kepala keluarga yang baik, dan sebagian besar responden (65%) yang

Tabel 1. Pengetahuan kepala keluarga sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dan konseling
kelompok tentang upaya pencegahan DBD.
Penyuluhan Konseling Kelompok
No Kategori Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Baik 11 55 19 95 11 55 20 100
2 Cukup 9 45 1 5 9 45 0 0
3 Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0
Wilcoxon Sign Rank Test p = 0,002 Wilcoxon Sign Rank Test p = 0,001
Uji statistik
Mann Whitney Pre-Test p = 1,000 Mann Whitney Post-Test p = 0,317

204
Efektivitas Konseling Kelompok dalam Perbaikan Tindakan (Mitra Utami Ningsih)

Tabel 2. Sikap kepala keluarga sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dan konseling kelompok
tentang upaya pencegahan DBD
Penyuluhan Konseling Kelompok
No Kategori Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Baik 6 30 16 80 5 25 17 85
2 Cukup 17 70 4 20 15 75 3 15
3 Kurang 0 0 0 0 0 0 0 0
Wilcoxon Sign Rank Test p = 0,002 Wilcoxon Sign Rank Test p = 0,001
Uji statistik
Mann Whitney Pre-Test p = 0,727 Mann Whitney Post-Test p = 0,681

Tabel 3. Tindakan kepala keluarga sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dan konseling kelompok
tentang upaya pencegahan DBD
Penyuluhan Konseling Kelompok
No Kategori Sebelum Sesudah Sebelum Sesudah
Jumlah % Jumlah % Jumlah % Jumlah %
1 Baik 0 0 2 10 0 0 7 35
2 Cukup 12 60 13 65 14 70 13 65
3 Kurang 8 40 5 25 6 30 0 0
Wilcoxon Sign Rank Test p = 0,014 Wilcoxon Sign Rank Test p = 0,001
Uji statistik
Mann Whitney Pre-Test p = 0,814 Mann Whitney Post-Test p = 0,008
Keterangan: p = signifikansi, % = persentase

tindakannya masuk kategori cukup. terhadap perbaikan tindakan kepala keluarga, di


Hasil analisis menggunakan wilcoxon mana konseling kelompok lebih efektif dalam
signed rank test didapatkan p = 0,002 untuk meningkatkan tindakan kepala keluarga dalam
pengetahuan, p = 0,002 untuk sikap dan p = melakukan pencegahan DBD.
0,014 untuk tindakan pada kelompok 1. Hasil ini
menunjukkan bahwa penyuluhan berpengaruh
PEMBAHASAN
terhadap perbaikan pengetahuan, sikap dan
tindakan kepala keluarga dalam pencegahan Hasil penelitian didapatkan bahwa
DBD. Hasil analisis wilcoxon signed rank test pengetahuan, sikap dan tindakan kepala
pada kelompok 2 didapatkan p = 0,001 untuk keluarga dalam pencegahan DBD meningkat
data pengetahuan, sikap dan tindakan. Hasil baik pada kelompok yang diberi penyuluhan
ini menunjukkan bahwa konseling kelompok maupun yang diberi konseling kelompok. Tidak
berpengaruh terhadap perbaikan pengetahuan, ada perbedaan signifikan efektivitas kedua
sikap dan tindakan kepala keluarga dalam metode terhadap perbaikan pengetahuan dan
pencegahan DBD. sikap kepala keluarga namun ada perbedaan
Hasil analisis mann whitney u-test data signifikan efektivitas metode penyuluhan
hasil post-test kedua kelompok didapatkan dan konseling kelompok terhadap perbaikan
p = 0,317 untuk pengetahuan, p = 0,681 untuk tindakan pencegahan.
sikap dan p = 0,008 untuk tindakan pencegahan Peningkatan pengetahuan pada kelompok
DBD. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak ada yang diberi penyuluhan dalam penelitian
perbedaan efektivitas penyuluhan dan konseling ini sesuai dengan pendapat Azwar dalam
kelompok dalam perbaikan pengetahuan dan Suryani (2005), yang menyatakan bahwa
sikap kepala keluarga tetapi ada perbedaan penyuluhan kesehatan adalah kegiatan yang
signifikan efektivitas kedua metode tersebut dilakukan dengan menyebarkan pesan sehingga

205
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 201209

masyarakat tahu dan mengerti. Melalui dalam perbaikan sikap kepala keluarga tidak
penyuluhan, seseorang dapat menerangkan dan sesuai dengan teori Friedman (1998) yang
menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan menyatakan bahwa konseling kelompok lebih
lisan kepada sekelompok sasaran sehingga banyak terjadi proses belajar afektif (emosional)
memperoleh informasi tentang kesehatan. sehingga lebih mampu memengaruhi sikap atau
Sedangkan peningkatan pengetahuan kepala afektif. Menurut Notoatmodjo (2010), sikap
keluarga yang mendapatkan konseling merupakan reaksi atau respons yang masih
kelompok dalam penelitian ini sesuai dengan tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus
konsep konseling yang diungkapkan oleh atau objek, sikap juga merupakan respons
Tamsuri (2007) bahwa konseling merupakan tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan tertentu yang sudah melibatkan faktor pendapat
pengetahuan dengan memberi arahan pada dan emosi yang bersangkutan. Menurut
klien atau keluarga termasuk membantu mereka Anwar (2009), sikap dapat dipengaruhi oleh
menyelesaikan masalahnya. beberapa faktor yaitu faktor predisposisi, faktor
Peningkatan pengetahuan kepala pendukung, dan faktor pendorong. Faktor
keluarga pada kedua kelompok perlakuan predisposisi antara lain adalah pengetahuan,
dapat disebabkan karena persepsi dan kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan
perhatian mereka terhadap informasi yang sebagainya.
diberikan pada penyuluhan maupun konseling Faktor predisposisi peningkatan sikap
kelompok. Persepsi tersebut terbentuk dari hasil kepala keluarga adalah pengetahuan yang juga
penginderaan di mana semua responden berada telah meningkat setelah diberikan penyuluhan
pada rentang usia 2550 tahun, saat fungsi maupun konseling kelompok. Kepala keluarga
panca indera masih cukup baik untuk menerima telah mengetahui dan memahami tentang
stimulus atau informasi dari luar. Hal ini juga DBD serta pentingnya pencegahan DBD.
didukung oleh tingkat pendidikan responden, Perubahan sikap yang terjadi pada kedua
yang walaupun presentasi terbanyak untuk kelompok responden juga dapat dipengaruhi
masing-masing tingkat pendidikan adalah oleh faktor pendorong yaitu pemberian
SD (32%) namun lebih dari separuh (52%) pendidikan kesehatan melalui penyuluhan
responden berpendidikan menengah ke atas maupun konseling kelompok. Seperti yang
dan berpendidikan tinggi. telah diketahui bahwa perubahan sikap dapat
Tidak adanya perbedaan efektivitas dilakukan dengan strategi pendidikan. Dengan
penyuluhan dengan konseling kelompok pemberian informasi-informasi kesehatan
terhadap pengetahuan kepala keluarga dapat akan meningkatkan pengetahuan masyarakat
dipahami karena kedua metode tersebut dan menimbulkan kesadaran mereka yang
memang sama-sama merupakan metode selanjutnya menyebabkan orang bersikap
pendidikan kesehatan yang dapat meningkatkan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
pengetahuan seseorang melalui proses belajar. Penyuluhan dan konseling kelompok
Sebaran responden yang telah diseimbangkan yang diberikan tidak hanya bisa dijadikan
antara kelompok penyuluhan dan kelompok sebagai media penyampaian informasi tetapi
konseling berdasarkan usia dan tingkat juga bisa membantu responden menyusun
pendidikan melalui proses matching juga rencana dalam membuat keputusan yang
mengurangi kesenjangan antarkedua kelompok. tepat sehingga diharapkan berdampak positif
Hal ini menyebabkan kondisi dan kemampuan bagi responden dalam menumbuhkan sikap
responden untuk menyerap informasi dari yang baik tentang DBD dan pencegahannya.
kedua metode pendidikan kesehatan tersebut Dari uraian tersebut dapat dipahami mengapa
relatif sama, sehingga tidak ada perbedaan penyuluhan dan konseling kelompok sama-
signifikan peningkatan pengetahuan setelah sama dapat meningkatkan sikap responden dan
diberikan penyuluhan maupun konseling tidak ada perbedaan efektivitas di antara kedua
kelompok. metode tersebut.
Tidak adanya perbedaan efektivitas Metode penyuluhan dan konseling
metode konseling kelompok dan penyuluhan kelompok terbukti sama efektif dalam

206
Efektivitas Konseling Kelompok dalam Perbaikan Tindakan (Mitra Utami Ningsih)

meningkatkan pengetahuan dan sikap kepala hubungan sikap dan tindakan sangat ditentukan
keluarga dalam penelitian ini namun konseling oleh faktor-faktor situasional tertentu. Norma-
kelompok lebih efektif dalam meningkatkan norma peranan, keanggotaan kelompok,
tindakan pencegahan DBD. Penyuluhan kebudayaan dan sebagainya merupakan
kesehatan, menurut Azwar dalam Suryani (2005) kondisi ketergantungan yang dapat mengubah
merupakan kegiatan yang dilakukan dengan hubungan sikap dan tindakan (Anwar, 2009).
manyebarkan pesan sehingga masyarakat Berkaitan dengan faktor keanggotaan kelompok
tidak saja tahu dan mengerti, tetapi juga mau yang diungkapkan oleh Warner dan De Fleur,
dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada konseling kelompok memberikan kesempatan
hubungannya dengan kesehatan. Keunggulan pada anggota konseling untuk belajar dengan
dari strategi pembelajaran dengan penyuluhan dan dari orang lain untuk mampu memahami
menggunakan metode ceramah dan tanya jawab pola pikiran dan perilakunya sendiri serta
yaitu memungkinkan banyak orang yang dapat orang lain. Sebuah kelompok merupakan
mendengarkan dan memperoleh pengetahuan. kesempatan untuk mendapatkan dukungan dan
Sedangkan kelemahannya dalam keberhasilan memampukan anggotanya untuk mencoba dan
pembelajaran kurang mengikutsertakan berusaha meningkatkan sikap dan tindakannya
peserta untuk aktif, serta perubahan sikap dan dalam menghadapi masalah.
perilaku peserta relatif sulit diukur karena Kelompok penyuluhan dalam peningkatan
yang diinformasikan kepada peserta pada tindakan responden dapat dipengaruhi oleh
umumnya lebih menyentuh pengetahuan pengetahuan dan sikap mereka yang telah
(Sudjana, 2005). Namun demikian, penyuluhan meningkat. Sikap mereka yang baik adalah
tetap dapat meningkatkan tindakan responden predisposisi bagi tindakan mereka dalam
sebagaimana yang telah ditunjukkan dari hasil melakukan tindakan pencegahan DBD dengan
uji statistik dalam penelitian ini. baik. Terdapatnya responden yang tindakannya
Breckler dan Wiggins dalam definisi masih kurang dapat disebabkan karena berbagai
mereka mengenai sikap mengatakan bahwa faktor yang memengaruhi seseorang saat akan
sikap yang diperoleh lewat pengalaman akan mengekspresikan sikapnya. Pada responden
menimbulkan pengaruh langsung terhadap yang diberikan konseling kelompok, sikap dan
tindakan berikutnya. Kondisi apa, waktu apa tindakan mereka tidak hanya dipengaruhi oleh
dan situasi bagaimana saat individu tersebut pengetahuan dari fasilitator atau konselor tetapi
harus mengekspresikan sikapnya merupakan juga oleh dukungan dan alternatif pemecahan
bagian dari determinan-determinan yang sangat masalah yang mereka dapatkan dari anggota
berpengaruh terhadap konsistensi antara sikap kelompok lainnya. Dukungan dari anggota
dengan pernyataannya dan antara pernyataan kelompok dapat meningkatkan tindakan
sikap dengan tindakannya (Anwar, 2009). pencegahan DBD. Dari uraian tersebut dapat
Dalam konsep konseling, pemberian konseling dipahami bagaimana konseling kelompok
bertujuan membantu klien mengenal diri dapat memengaruhi tindakan responden dengan
sendiri, menerima diri secara realistis dapat lebih efektif daripada metode penyuluhan
memutuskan pilihan dan rencana yang lebih walaupun kedua metode pembelajaran atau
bijaksana sehingga dapat berkembang secara pendidikan kesehatan tersebut sama-sama
konstruktif di lingkungannya. Hal ini berarti mampu meningkatkan tindakan responden
bahwa individu tidak hanya memperoleh dalam pencegahan DBD di lingkungannya.
pengetahuan dan sikap dari konselor maupun Penyuluhan dapat meningkatkan
kelompoknya namun juga dari pengalamannya perilaku kepala keluarga dalam pencegahan
sendiri yang akan menimbulkan pengaruh DBD. Kepala keluarga yang telah diberikan
langsung terhadap konsistensi terhadap penyuluhan memiliki perilaku yang baik
pernyataan sikap dengan tindakannya. dalam mencegah DBD. Hal ini terjadi karena
Warner dan De Fleur yang dikutip terjadi peningkatan pengetahuan, sikap dan
Anwar (2009) menyatakan dalam postulat tindakan. Hal yang sama terjadi pada kelompok
konsistensinya yang ketiga tentang sikap, yang diberikan konseling kelompok. Terjadi

207
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 201209

perubahan perilaku kepala keluarga dalam Awaludin, 2010. Penderita DBD di NTB
pencegahan DBD di mana kepala keluarga Mencapai 571 Orang, (Online), (http://
memiliki perilaku yang baik tentang pencegahan www.AntaraMataram.com., Diakses
DBD. Perbedaan tingkat efektivitas metode tanggal 14 Oktober 2010, Jam 12.00
penyuluhan dan konseling kelompok terhadap WIB).
perilaku kepala keluarga dapat terjadi karena Effendi, F.M., 2009). Keperawatan Kesehatan
Komunitas: Teori dan Praktik dalam
perbedaan metode di mana konseling kelompok
Keperawatan. Jakarta: Salemba
memungkinkan kepala keluarga mendapat
Medika,.
pengetahuan yang lebih spesifik, mendapat Fathi, Keman, S., Wahyuni, C.U., 2005.
dukungan untuk bersikap positif dari anggota Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku
konseling lainnya serta mendapat dukungan terhadap Penularan Demam Berdarah
atau bantuan dalam melakukan tindakan Dengue di Kota Mataram. Jurnal
pencegahan DBD. Kesehatan Lingkungan. 2 (1), 110.
Friedman, Marilyn M., 1998. Keperawatan
Keluarga Teori dan Praktik. Edisi 3.
SIMPULAN DAN SARAN Jakarta: EGC.
Simpulan Notoatmodjo, 2010. Teori Perilaku Kesehatan.
Jakarta: Rineka Cipta.
Konseling kelompok lebih efektif
Setyowati, S., Murwani A., 2008. Asuhan
dari pada penyuluhan dalam perbaikan Keperawatan Keluarga: Konsep dan
tindakan kepala keluarga mencegah DBD di Aplikasi Kasus. Yogyakarta: Mitra
lingkunganya. Cendika Press.
Soegijanto, S., 2008. Demam Berdarah
Saran Dengue. Edisi 2. Surabaya: Airlangga
Penulis memberikan saran sebaiknya University Press.
usaha promotive dan preventive terhadap Soeroso, S., 2008. Demam Dengue Adalah
Penyakit Infeksi oleh Virus yang Sudah
kejadian DBD dilakukan dengan metode
Lebih dari 100 Tahun Dikenal di
pembelajaran yang lebih efektif untuk
Indonesia, (Online), (http://www.depkes.
meningkatkan tindakan pencegahan DBD go.id., diakses tanggal 15 Oktober 2010,
seperti konseling kelompok yang dalam jam 12.30 WIB).
penelitian ini terbukti lebih efektif, perlu Sudjana, S., 2005. Metode dan Teknik
dilakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor- Pembelajaran Partisipasif. Bandung:
faktor yang mempengeruhi efektivitas suatu Falah Production.
metode pendidikan sehingga dapat diterapkan Suharto, Agung, Sofiati, Qomarudin, 2003.
di lingkungan dengan karakteristik masyarakat Promosi Kesehatan Metode Konseling
tertentu yang sesuai. Berkaitan dengan kelompok dan Curah Pendapat dalam
kelemahan penelitian, maka untuk penelitian Meningkatkan Pengetahuan, Sikap
selanjutnya sebaiknya menggunakan teknik dan Perilaku Pemberantasan DBD
cluster sampling, dan peneliti diharapkan dapat di Puskesmas Sidokerto Kabupaten
Magetan. Sains Kesehatan, 16 (3), 465,
lebih memahami tentang metode pendidikan
477.
kesehatan.
Sungkar, S., 2007, Pemberantasan Demam
Berdarah Dengue: Sebuah Tantangan
KEPUSTAKAAN yang Harus Dijawab. Majalah
Kedokteran Indonesia, 57 (6), 167
Anwar, S., 2009. Sikap Manusia, Teori 170.
dan Pengukurannya. Jakarta: Pustaka Suryani, S., 2005. Pendidikan Kesehatan
Pelajar. Bagian dari Promosi Kesehatan. Edisi
1. Yogyakarta: Fitramaya.

208
Efektivitas Konseling Kelompok dalam Perbaikan Tindakan (Mitra Utami Ningsih)

Taufik, 2007. Peranan Kadar Hematokrit, World Health Organization. 2009. Dengue:
Jumlah Trombosit dan Serologi IgG Guidelines for Diagnosis, Treatment,
IgM AntiDHF. Jurnal Penyakit Dalam, Prevention and Control, (Online),(http://
8 (2), 105111. www.searo.who.int., diakses tanggal 29
Oktober 2010, Jam 16.00 WIB).

209