Anda di halaman 1dari 7

TINGKAT STRES KERJA DAN PERILAKU CARING PERAWAT

(Work Stress Level and Caring Behaviour of Nurses)

Retno Lestari*, Kumboyono*, Luthfia Dyta*


*Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Jl. Veteran Malang 65145
E-mail: retno.lestari98@gmail.com

ABSTRACT
Introduction: A nurse who experience burnout feelings will influence their motivation, and quality
performance. This situation is probably affecting a decline in work quality towards the caring behaviour
demonstrated by nurses to their patiens, particularly for a nurse who are working in the long-stay
installation room facing directly to patient's problems. The purpose of this research is to identify the
work stress level of nurse towards the nurse's caring behaviour in the long-stay installation room
(IRNA) in general hospital in Malang. Method: This research used descriptive correlational, the
sampling was Non Probability Purposive Sampling with 93 nurses as the corresponds. The data
was analyzed by operating Correlation Pearson, with a significance of p < 0.05. Result: The result
found that there was a substantial correlation between the work stress level and the nurse's caring
behaviour with p = 0.008 and r = -0.274, and it was a negative correlation. Discussion: It means
that when the stress level of nurses will declined, the nurse's caring behavior automatically will be
amplified. Conversely, if the stess level of nurses intensively increased, the nurse's caring behaviour
become decreased. Thus, this research is needed to be analyzed further in order to asses the quality
of caring behaviour by expanding the connected indicator and variable. It is aimed to improve the
professionalism and quality of nurses in giving the best service to patients this research need to be
continued further in order to asses the quality of nurse's caring behavior by expanding the variable,
which is related to internal factors, such as knowledge, perception, emotion, ect and also connected
to external factors, such as environment, both physically and non physically like: climate, human
being, social economic, culture and ect.

Keywords: stress level of work, the nurse's caring behaviour

PENDAHULUAN atau memperbaiki lingkungan mental, fisik,


sosiokultural dan spiritual, membantu memenuhi
Perilaku caring menurut Watson (1979)
kebutuhan dasar manusia, menghargai kekuatan
berfokus pada human science dan human care
eksistensial dan fenomenologikal.
yang dilaksanakan berdasarkan 10 carative
Stres adalah fenomena yang
faktor yaitu pembentukan nilai humanistik-
memengaruhi semua dimensi dalam kehidupan
altruistik, menanamkan kepercayaan dan
seseorang (Potter dan Perry, 2005). Stres kerja
harapan, mengembangkan sensitivitas pada diri
yang terjadi dapat menimbulkan dampak
sendiri dan orang lain, membangun hubungan
secara langsung maupun tidak langsung
saling membantu dan percaya, meningkatkan
terhadap aspek fisik dan psikologis (Istijianto,
dan menerima pengekspresian perasaan
2005). Pekerjaan seorang perawat merupakan
baik positif maupun negatif, menggunakan
pekerjaan yang memiliki stres yang tinggi,
metode pemecahan masalah yang sistematik
karena dalam bekerja, perawat berhubungan
dalam pengambilan keputusan, meningkatkan
langsung dengan berbagai macam pasien
pengalaman belajar dan mengajar interpersonal,
dengan diagnosa penyakit dalam respons yang
menyediakan dukungan, melindungi dan
berbeda-beda (Ilmi, 2003).

164
Tingkat Stres Kerja dan Perilaku Caring Perawat (Retno Lestari)

Tingginya stres yang dialami perawat menggunakan instrument berupa kuesioner


dalam bekerja menjadikan perawat jenuh stres kerja dan perilaku caring perawat.
dan bosan, akhirnya berpengaruh terhadap Analisis data yang digunakan adalah uji
produktivitas kerja dan penurunan kinerja statistik Pearson dengan derajat kemaknaan
perawat (Hudak dan Gallo, 1997). Perawat p 0,05 artinya ada hubungan yang
yang bekerja di ruang rawat inap di Rumah bermakna.
Sakit mengeluhkan adanya beban kerja yang
tinggi. Beberapa perawat mengeluhkan
HASIL
seringnya terjadi keluhan dari pasien. Hal ini
didukung dengan data mengenai keluhan pasien Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
bulan Januari sampai November tahun 2007 di rerata untuk tingkat stres kerja perawat adalah
Rumah Sakit Malang menunjukkan bahwa 13 yang menunjukkan tingkat stres ringan,
keramahan, kesabaran, perhatian perawat masih sedangkan untuk perilaku caring perawat
sering dikeluhkan pasien. Kepekaan, kecepatan menunjukkan rerata 70 yang menunjukkan
dan ketepatan menaggapi permasalahan pasien perilaku caring cukup baik.
juga masih kurang (Laporan umpan balik Analisa data dengan menggunakan
kepuasan pelanggan Rumah Sakit Dr. Saiful uji korelasi Pearson (Product Moment),
Anwar Malang JanuariNovember 2007). Oleh menunjukkan bahwa antara tingkat stres kerja
karena itu sikap dan perilaku perawat sangat perawat dengan perilaku caring perawat di
memengaruhi kondisi dan respons kepuasan Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit ada korelasi
pasien. dengan (r = 0,274 dan p = 0,008) yang
sifnifikan (p < 0,05) dengan arah korelasi yang
negatif. Artinya, semakin tinggi tingkat stres
BAHAN DAN METODE
kerja perawat dalam menjalankan tugasnya
Penelitian ini merupakan penelitian sebagai perawat maka perilaku caring yang
deskriptif - korelasional, dengan metode mereka tunjukkan cenderung semakin kurang
pendekatan penelitian adalah "Cross sectional" baik, begitu juga sebaliknya semakin rendah
Jumlah sampel penelitian yang digunakan tingkat stres kerja perawat maka semakin baik
dalam penelitian adalah 93 orang dengan perilaku caring perawat yang diberikan pada
pasien.

Tabel 1. Deskripsi statistik tingkat stres kerja perawat


Variabel Min-Maks Mean Median 95% CI
Stres Kerja 1-29 12,8280 13 11,524114,1318

Tabel 2. Diskripsi statistik perilaku caring perawat


Variabel Min-Maks Mean Median 95% CI
Perilaku Caring 4-97 70,9677 72 67,518374,4172
Perawat

Tabel 3. Deskripsi rerata nilai tingkat stres kerja perawat dan perilaku caring perawat
Jumlah skor Keterangan
Stres kerja Perilaku caring Stres kerja Perilaku caring
perawat perawat perawat perawat
Rerata 13 70 Ringan Cukup baik

165
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 164170

PEMBAHASAN dewasa adalah 46 (49%) perawat. Dengan data


tersebut menujukkan sebagian besar perawat
Stres kerja adalah perasaan tertekan
yang berada di Instalasi Rawat Inap Rumah
yang dialami oleh karyawan dalam menghadapi
Sakit adalah yang berusia dewasa awal, di
pekerjaan atau dengan kata lain adalah sesuatu
mana dewasa awal (2030 tahun) mempunyai
yang terlihat sebagai ancaman baik nyata
karakteristik yaitu merupakan usia produktif,
maupun imajinasi, di mana persepsi berasal
masa pengaturan, masa komitmen dan adanya
dari perasaan takut atau marah. Ditempat
kemampuan untuk menyatukan identitas diri
kerja, perasaan ini dapat muncul berupa sikap
dengan identitas orang lain tanpa ketakutan
pesimis, tidak puas, produktivitas rendah dan
kehilangan identitas itu. Sedangkan untuk
sering tidak hadir. Emosi, sikap dan perilaku
tugas perkembangannya yaitu pada dewasa
yang memengaruhi stres dapat menimbulkan
awal merupakan masa bekerja, mulai membina
masalah kesehatan, namun ketegangan dapat
keluarga, mengambil tanggung jawab sebagai
dengan mudah muncul akibat kejenuhan yang
warga negara. Berdasarkan data tersebut
timbul dari beban kerja yang berlebihan. Pada
menunjukkan, bahwa perawat di Instalasi Rawat
kenyataannya, setiap pekerjaan memiliki
Inap Rumah Sakit mempunyai kemampuan
tingkat tantangan dan kesulitan yang berbeda-
untuk menghadapi segala permasalahan
beda. Manajemen stres kerja yang efektif
yang muncul sebagai suatu stresor yang akan
dapat mempertahankan rasa pengendalian diri
memengaruhi perilaku caring pada pasien.
dalam lingkungan kerja, sehingga beberapa
Sedangkan untuk masa dewasa mempunyai
urusan akan diterima sebagai tantangan bukan
karakteristik yaitu merupakan masa transisi
ancaman (National Safety Council, 2003).
masa berbahaya dan masa stres.
Hasil penelitian yang dilakukan tentang
Perawat yang menjadi responden juga
variabel stres kerja perawat dalam memberikan
berasal dari berbagai macam latar belakang
perilaku caring, dapat diketahui bahwa
seperti status pendidikan terakhir menunjukkan
perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit
bahwa 5 (5%) perawat adalah S1 dan 88 (95%)
mempunyai tingkat stres kerja secara fisik
perawat adalah D3. Pada tingkat pendidikan
dan psikologis yang tergolong ringan. Hal ini
ini menunjukkan sebagian besar adalah
mengindikasikan bahwa mekanisme koping
berpendidikan sebagai D3, di mana D3
perawat di Instalasi Rawat Inap tergolong baik
keperawatan merupakan termasuk jenjang
dan mampu mengendalikan serta mengatasi
pendidikan tingkat profesional pemula, karena
stres yang muncul pada saat bekerja, sehingga
ciri-ciri perawat profesional adalah lulusan
dalam memberikan perilaku caring pada pasien
pendidikan tinggi keperawatan, minimal
tergolong baik.
diploma tiga keperawatan (D3), mampu
Sumber data yang telah diolah didapatkan
melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan
bahwa dari 93 perawat yang menjadi responden
pendekatan proses keperawatan, melaksanakan
100% mengalami stres yang tergolong ringan
asuhan keperawatan sendiri, mentaati kode etik
baik secara fisik dan psikologis. Dari data juga
keperawatan serta mampu mengembangkan
ditunjukkan di mana 95% confidence interval
ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan
titik terendah adalah 11,5241 dan titik tertinggi
(Perguruan Tinggi MH Thamrin, 2007). Dari
adalah 14,1381.
data dan karakteristik tersebut menunjukkan
Hal tersebut tentunya tidak terlepas dari
bahwa sebagian besar perawat sudah memiliki
usia perawat yang juga dalam segi psikologis
tingkat pendidikan yang tinggi, sehingga
berpengaruh terhadap sikap dan perilaku,
berpengaruh terhadap pola pikir, sikap dan
karena berhubungan dengan karakteristik
tindakan.
usia dan tugas perkembangannya. Dalam
Sedangkan untuk masa kerja menunjukkan
penelitian ini kategori usia yang digunakan
perawat yang bekerja >3 tahun sebanyak 72
adalah usia dewasa awal (2030 tahun) dan
(77%) perawat dan 21 (23%) perawat bekerja
usia dewasa (3065 tahun). Dari data hasil
sekitar 13 tahun. Pengkategorian lama kerja
penelitian didapatkan bahwa jumlah usia
tersebut berdasarkan pada peningkatan jenjang
dewasa awal adalah 47 (51%) perawat dan usia

166
Tingkat Stres Kerja dan Perilaku Caring Perawat (Retno Lestari)

karir perawat yaitu terdapat perawat klinik 1, didukung oleh kesehatan mental dan fisik yang
perawat klinik 2, perawat klinik 3, perawat adekuat.
klinik 4 dan perawat klinik 5. Untuk perawat Berdasarkan data jenis kelamin
yang tingkat penddidikannya D3 (diploma) responden menunjukkan bahwa perawat
maka untuk naik ke perawat klinik 2 harus laki-laki berjumlah 36 (39%), sedangkan
mengikuti ujian kompetensi apabila sudah perawat perempuan berjumlah 57 (61%).
bekerja selama tiga tahun, begitu juga untuk Data jenis kelamin menunjukkan bahwa jenis
naik ke tingkat selanjutnya. Sedangkan untuk kelamin berkorelasi dengan daya tahan dalam
perawat dengan tingkat pendidikan S1 untuk menghadapi stres, yaitu menurut Jacken (2005)
menjadi perawat klinik 2 hanya dengan masa terdapat perbedaan respons fisiologis yang
kerja 1 tahun bisa mengikuti ujian kompetensi ditunjukkan antara laki-laki dan perempuan
kenaikan tingkat, (HAMID, 2004). Dan dari terhadap terjadinya stres, yaitu pada laki-laki
data hasil penelitian berdasarkan karakteristik stres mendorong sistem saraf simpatetik dan
lama kerja menunjukkan bahwa sebagian besar menyebabkan tingginya kortisol. Sedangkan
perawat Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit lama pada perempuan stres lebih banyak mendorong
kerjanya adalah >3 tahun, dan hal tersebut mekanisme vagus yang terkait dengan sistem
menunjukkan bahwa jenjang karir untuk saraf parasimpatetik dengan respons rileks,
perawat sudah mencapai perawat klinik 2. Di dan mengeluarkan lebih banyak oksitosin
mana kualitas kerjanya sudah mencapai jenjang (hormon penenang yang muncul bersamaan
karir yang mampu mengatasi, mengendalikan dengan estrogen) dan endorphin di dalam otak
dan mengantisipasi timbulnya stres saat yang menghambat respons fight or flight. Dari
memberikan perilaku caring pada pasien, pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa
sehingga dapat menurunkan angka terjadinya pada perempuan lebih bisa bertahan terhadap
keluhan pasien. stres daripada laki-laki. Dari data tersebut
Data status karyawan responden diketahui bahwa perawat yang terbanyak
menunjukkan bahwa 25 (27%) perawat adalah perawat perempuan, di mana pada
bekerja sebagai honorer dan 68 (73%) perawat perempuan lebih bisa menghadapi stres dengan
sebagai pekerja tetap (PNS). Data di atas tenang sehingga tidak menimbulkan tingkat
memberikan makna bahwa status karyawan stres yang tinggi.
berhubungan dengan jabatan seseorang Mc Farlane (1976) mengatakan caring
dalam suatu hirarki struktur keorganisasian merupakan suatu aktivitas yang membantu
yaitu studi menunjukkan semakin tinggi secara berurutan. Leininger (1981) mengatakan
urutan organisasional posisi seseorang, maka bahwa caring merupakan suatu yang bersifat
semakin tinggi statusnya dalam lembaga bantuan (assistive), dukungan (supportive)
tersebut, semakin tinggi status seseorang akan atau tindakan fasilitatif untuk individu atau
semakin tinggi penghargaan diri seseorang, kelompok lainnya dalam mengantisipasi
dan semakin tinggi harga diri seseorang, kebutuhan untuk menjadi lebih baik/cara
maka semakin baik kesehatan mental dan fisik hidupnya. Griffin (1983) mengatakan bahwa
seseorang (Gillies, 1996), selain itu menurut caring adalah suatu aspek aktivitas tetapi
Charles (1992) perawat dalam tingkat yang juga menegaskan sikap dan perasaan yang
berbeda menggunakan strategi koping yang menyokongnya (Kyle, 1995). Dari pengertian
berbeda. Pernyataan di atas dapat disimpulkan di atas dapat disimpulkan bahwa caring adalah
bahwa status karyawan berhubungan dengan suatu aktivitas membantu orang lain disertai
kondisi mental dan fisik seseorang sehingga sikap peduli, memberikan dukungan serta rasa
berpengaruh pada kemampuan seseorang untuk hormat dan menghargai orang yang dibantu.
beradaptasi terhadap segala permasalahan atau Hasil penelitian yang dilakukan
stres yang dialami, dan menunjukkan bahwa mengenai variabel perilaku caring perawat di
perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit diketahui
banyak yang mampu mengendalikan segala bahwa perawat dalam memberikan perilaku
permasalahan dan stres yang terjadi karena caring tergolong baik, yang ditunjukkan dari

167
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 164170

data yaitu 40 (43,01%) perawat yang menjadi Teori mengenai stres kerja menunjukkan
responden hal tersebut karena didukung oleh bahwa faktor penyebab atau sumber stres kerja
berbagai faktor di antaranya pengalaman adalah faktor internal dan eksternal, faktor
perawat dalam profesi keperawatan yang internal terdiri dari pendidikan, motivasi,
sudah banyak ditunjukkan oleh adanya data pengetahuan, hubungan interpersonal, sikap
status karyawan dan masa kerja, karena dan perilaku, kreativitas dan kondisi kesehatan
berdasarkan American Nurse Association dalam bekerja. Sedangkan faktor eksternal
(ANA) 1965 bahwa komponen caring yaitu adalah lingkungan kerja, tingkat penghasilan,
caring for kegiatan dalam memberikan asuhan jaminan sosial manajemen, efisiensi tenaga
keperawatan atau prosedur keperawatan kerja, kesempatan berprestasi dan teknologi.
membantu memenuhi kebutuhan dasar. Caring Stresor yang ada akan mengakibatkan terjadinya
about kegiatan yang berkaitan dengan berbagi stres pada seseorang apabila mekanisme
pengalaman. Selain itu, menurut teori perilaku kopingnya tidak mampu beradaptasi terhadap
Ajzen (1985) yang menentukan ketekunan stresor, dan berpengaruh pada kondisi fisik dan
dan perilaku tertentu adalah keyakinan, dan psikologis orang tersebut. Selain itu stresor
keyakinan itu berasal dari pengalaman dengan yang muncul akan memengaruhi perilaku
perilaku yang bersangkutan di masa lalu dan caring yang diberikan pada pasien yang
dipengaruhi oleh adanya informasi yang tidak merupakan kewajiban dalam melaksanakan
langsung. Sedangkan sekitar 35 (37,63%) pekerjaan sebagai perawat.
Sedangkan mengenai perilaku caring
perawat, perilaku caring yang ditunjukkan
dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu
tergolong cukup baik, dan perilaku caring yang
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor
tergolong kurang baik terjadi pada sekitar 18
internal yaitu pengetahuan, persepsi, emosi,
(14,35%) perawat. Perilaku caring yang kurang
motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk
baik itu dipengaruhi adanya beban kerja yang
mengolah rangsangan dari luar dan faktor
terlalu tinggi hal itu diperkuat dengan adanya
eksternal meliputi lingkungan sekitar, baik
keluhan perawat di Instalasi Rawat Inap Rumah
fisik maupun non fisik seperti: iklim, manusia,
Sakit Malang terhadap adanya beban kerja
sosial, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya
yang tinggi, sehingga banyak keluhan pasien
(Notoatmodjo, 1997).
di Instalasi Rawat Inap tentang keramahan,
Adanya hubungan antara tingkat stres
kesabaran, perhatian perawat yang masih kerja perawat terhadap perilaku caring perawat
kurang (Laporan Umpan Balik Kepuasan yaitu menurut Gray-Toft dan Anderson (1981)
Pelanggan Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar dalam Charles (1992), menyatakan bahwa
Malang 2007). perawat yang tidak mampu menghilangkan stres
Melalui uraian di atas, menunjukkan akan berdampak pada menurunnya penampilan
bahwa dapat diketahui perilaku caring yang kerja dan memburuknya pelayanan terhadap
ditunjukkan oleh perawat di Instalasi Rawat pasien. Dalam pelayanan kesehatan, perawat
Inap Rumah Sakit tergolong baik dengan data yang mengalami stres berat akan mengalami
yang berasal dari tiap responden menunjukkan kejenuhan dan kehilangan motivasi dalam
40 (43%) perawat berperilaku caring baik. bekerja. Tingginya stres yang dialami perawat
Hal ini mengindikasikan selain perawat dalam bekerja menjadikan perawat jenuh
memiliki tingkat stres yang ringan juga mampu dan bosan, akhirnya berpengaruh terhadap
bersikap baik dalam berperilaku caring pada produktivitas kerja dan penurunan kinerja
pasien, sehingga mampu melaksanakan perawat (Hudak dan Gallo, 1997). Menurut
tugas dan kewajibannya secara profesional survei PPNI tahun 2006, sekitar 50,9% perawat
sesuai dengan kemampuan dan skill yang yang bekerja di empat provinsi di Indonesia
berkualitas. Sehingga dengan perilaku caring mengalami stres kerja, sering pusing, tidak bisa
yang diberikan dapat meningkatkan kepuasan istirahat karena beban kerja yang terlalu tinggi
pasien terhadap pelayanan yang diberikan dan dan menyita waktu, serta gaji rendah tanpa
menurunkan tingkat keluhan pasien. dibarengi insentif yang memadai tapi keadaan

168
Tingkat Stres Kerja dan Perilaku Caring Perawat (Retno Lestari)

yang paling memengaruhi stres perawat adalah yang berat sehingga mereka terhindar dari stres.
kehidupan kerja (Hamid, 2006). selain itu, penerapan manajemen rumah sakit
Penelitian yang dilaksanakan oleh tentang lingkungan kerja perawat yang efektif
Yustina Kristianingsih mengenai Hubungan akan mempertahankan rasa pengendalian diri
Perilaku Caring Perawat dan Tingkat kepuasan dalam lingkungan kerja, sehingga beberapa hal
di Ruang Bedah dalam RSK Budi Rahayu yang bersifat negatif dianggap sebagai suatu
Blitar di mana hasil penelitiannya menunjukkan tantangan. Selain itu mekanisme koping perawat
bahwa perilaku caring mempunyai hubungan yang bisa beradaptasi terhadap segala tekanan
yang positif terhadap kepuasan pasien. Selain yang negatif akan mampu menghindarkan
itu berdasar pada penelitian yang dilakukan perawat dari stres kerja yang berdampak pada
oleh Henida mengenai Hubungan Tingkat Stres kualitas perilaku caring perawat.
Kerja dengan Kinerja Perawat di Ruang Rawat
Inap Rumah Sakit Islam Malang menunjukkan
SIMPULAN DAN SARAN
adanya hubungan yang kuat antara tingkat stres
kerja terhadap kinerja perawat. Simpulan
Hasil analisa data dan hasil pengujian Tingkat stres kerja dengan perilaku
dengan menggunakan uji korelasi Pearson, teori caring perawat di Instalasi Rawat Inap
dan hasil penelitian sebelumnya, menunjukkan Rumah Sakit mempunyai hubungan yang
hasil bahwa, antara tingkat stres kerja dengan signifikan. Hasil dari nilai koefisien determinan
perilaku caring perawat di Instalasi Rawat dalam penelitian ini 7,5%. Interperetasinya
Inap Rumah Sakit mempunyai hubungan menunjukkan bahwa variabel tingkat stres
yang signifikan (bermakna) dan sesuai dengan kerja hanya 7,5% yang memengaruhi perilaku
teori yang ada dan sejalan dengan penelitian caring perawat, sedangkan 92,5% dipengaruhi
sebelumnya. Selain itu, perilaku caring yang oleh variabel lain.
diberikan perawat pada pasien juga tergantung
pada lingkungan di mana perawat tersebut Saran
bekerja, karena dengan lingkungan kerja yang
nyaman merupakan hal yang menentukan dan Menyusun program kegiatan berupa
kekuatan yang lebih besar bagi seorang perawat pelatihan peningkatan motivasi bagi perawat
untuk berperilaku caring. Sehingga apabila dan memfasilitasi adanya diskusi dengan tim
seseorang merasa tertekan dan merasa tidak kesehatan lain dalam rangka menurunkan
nyaman terhadap lingkungan di mana orang tingkat stres kerja perawat dan pengaturan
tersebut bekerja maka akan menimbulkan mengenai pelaksanaan kerja perawat untuk
stres kerja yang berdampak pada penurunan lebih menekankan pelaksanaan caring dalam
kualitas dan mutu pelayanan keperawatan merawat pasien sehingga dapat memberikan
yang profesional. Emosi, sikap dan perilaku pelayanan yang terbaik bagi pasien. Dibuat
yang memengaruhi stres dapat menimbulkan suatu sistem penghargaan dan kontrol terhadap
masalah kesehatan baik secara langsung, pelayanan yang diberikan oleh perawat pada
personal, interaktif, perilaku sehat dan perilaku pasien apakah perawat sudah berperilaku
sakit (Taylor, 1991). caring atau belum. Berdasarkan dokumentasi
Stres yang disebabkan oleh pekerjaan tersebut akan diketahui mengenai tingkat
akan berpengaruh terhadap hasil kerja perawat kualitas perilaku caring yang dilaksanakan oleh
tersebut dalam melaksanakan pekerjaannya. perawat. Kemudian perawat akan memperoleh
Dengan menyadari bahwa dalam setiap penghargaan berupa insentif yang sesuai dengan
pekerjaan, dalam kenyataannya memiliki pelayanan keperawatan yang diberikan.
tingkat kesulitan dan tantangan yang berbeda- Bagi penelitian selanjutnya menilai
beda, maka setiap perawat di Instalasi Rawat kualitas perilaku caring dengan selain
Inap Rumah Sakit akan menyikapi dan dengan koesioner juga menggunakan metode
memandang segala hal yang bersifat negatif observasional, dengan teknik penelitian
tanpa menimbulkan suatu beban dan tekanan kualitatif untuk memperoleh data yang lebih

169
Jurnal Ners Vol. 5 No. 2 Oktober 2010: 164170

signifikan dan Menilai kualitas perilaku Ilmi, B., 2003. Jurnal Pengaruh Stres kerja
caring yang diberikan oleh perawat dengan terhadap Prestasi Kerja dan Identifikasi
memperluas variabel yaitu variabel yang Manajemen Stress yang Digunakan
memengaruhi kualitas perilaku caring berupa Perawat, (Online),(http://adln.lib.
adanya adanya faktor eksternal meliputi unair.ac.id/go.php., diakses tanggal 1
lingkungan sekitar, baik fisik maupun non Desember 2007, jam 13.30)
Jacken, A., 2005. Jinakkan Stres. Next Media
fisik seperti: iklim, manusia, sosial, ekonomi,
Bandung.
kebudayaan dan sebagainya.
Kyle,V.T., 1995. Concept of Caring: Review
of the Literatur. Journal Advanced of
KEPUSTAKAAN Nursing.
Leininger, M.M., 1981. Caring, an essential
Ajzen, I., 1985. From intentions to actions: A human need: proceedings of the three
theory of planned behavior. In J. Kuhl National Caring Conferences. Michigan:
and J. Beckman (Eds.), Action-control: Wayne State University Press.
From cognition to behavior (pp. 11 39). Mc Farlane, J.K., 1976. A Charter for Caring,
Heidelberg, Germany: Springer. Journal of Advanced Nursing, Vol. 1,
Charles, A., 1992. Psikologi Sosial untuk Issue 3, 187196.
Perawat. Alih Bahasa Sally, L. Jakarta: National Safety of Council, 2003. Manajemen
EGC. Stres. Jakarta: EGC.
Gillies, Ann, 1996. Manajemen Keperawatan Notoadmodjo, S., 2002. Metode Penelitian
Pendekatan Suatu Sistem. Alih Bahasa Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Dika Sukmana, Rika widya Sukmana. Perguruan Tinggi M.H. Thamrin, 2007. Program
Chicago: Universitas Illinois. Studi Keperawatan D3, (Online),(http://
Griffin, A.P., 1983. A Philosophical Analysis of www.thamrin.ac.id/program_studi.php.,
Caring in Nursing, Journal of Advanced diakses tanggal 10 Desember 2007, jam
Nursing. 10.00).
Hamid, A.Y.S., 2006. 50,9 Persen Perawat Perry dan Potter, 2004. Fundamentals of
Alami Stres Kerja. Jakarta: PPNI. Nursing: Concepts, Process, and
Hudak dan Gallo, 1997. Keperawatan Kritis Practice, 4th Edition. Missouri: Mosby-
Pendekatan Holistik. Vol. 1. Jakarta: Year Book Inc.
EGC. Watson, J., 2004. Theory of Human Caring,
Istijanto, M.M., 2005. Cara Praktis Mendeteksi (Online), (http://www2.uchsc.edu.,
Dimensi-dimensi Kerja Karyawan. diakses tanggal 1 November 2007, jam
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 10.00).

170