Anda di halaman 1dari 17

NILAI, NORMA DAN ETIK KEPERAWATAN

I. NILAI
1. Pengertian Nilai
Nilai menurut Znowski (1974, dalam Ismani, 2001) nilai adalah keyakinan
seseorang tentang susuatu yang berharga, kebenaran, dan keinginan mengenai
ide-ide, objek atau perilaku khusus.
Menurut Potter dan Perry (2005) nilai adalah keyakinan yang mendasari
seseorang melakukan tindakan dan tindakan itu kemudian menjadi menjadi
suatu standar atas tindakan yang selanjutnya, pengembangan dan
mempertahankan sikap terhadap objek-objek, penilaian moral pada diri sendiri
dan orang lain serta pembandingan diri dengan orang lain.

2. Pengertian Nilai-nilai Perawat


Ismani (2001) mendefinisikan nilai-nilai (value) merupakan hak seseorang
dalam memutuskan dan mengatur perilakunya. Nilai tersebut dimiliki oleh
setiap individu yang berfungsi untuk mengatur langkah-langkah yang
seharusnya dilakukan, karena nilai berasal dari hati nurani dan diperoleh
seseorang sejak kecil. Maka dalam memberikan pelayanan perlunya kesadaran
perawat atas nilai yang dimilikinya dan kebutuhan pasiennya. Nilai tersebut
dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan perawat.
Nilai profesional dalam keperawatan yang paling fundamental adalah
perawatan (pemberian asuhan keperawatan). Perlindungan atau advokasi
terhadap pasien juga berkembang sebagai nilai keperawatan primer. Dalam
dokumen yang berjudul Essentials of College and University Education for
Professional Nursing, American Association of Colleges of Nursing Values
(AACN) dalam Potter dan Perry (2005) menerbitkan tujuh nilai esensial bagi
perawat profesional, yang meliputi altruisme, persamaan, estetika, kebebasan,
harga diri manusia, keadilan dan kebenaran.
1
3. Pembentukan Nilai
Nilai dapat dipelajari melalui observasi, pertimbangan, dan pengalaman
(Hamilton, 1992 dalam Potter & Perry, 2005). Seorang individu akan
mengobservasi tingkah laku terhadap lingkungan tertentu dan mencatat respons
yang dihasilkannya. Tingkah laku yang menurutnya berhasil dan produktif
akan dapat diadopsi sebagai penduan untuk melakukannya. Pasien akan
membentuk nilai dari proses observasi, pemahaman, dan pengalaman. Nilai
yang dipegang oleh suatu kelompok profesional juga terbentuk melalui
pemahaman, observasi, dan pengalaman.

4. Nilai dalam Keperawatan Profesional


Profesi keperawatan yang berhubungan dengan pasien dibutuhkan nilai-nilai
profesi yang mendasarinya dalam memberikan pelayanan. Untuk tujuan
identitas dan pendidikan, profesi keperawatan menyatakan nilai-nilai yang
mereka percayai yang akan dibentuk dan dipertahankan. Namun, secara
periodik profesi mengkaji ulang nilai dan tingkah laku dalam keperawatan
untuk mengembangkan dan mengakomodasi kebutuhan baru pada pasien. Nilai
perawat yang paling fundamental yaitu memberikan asuhan keperawatan dan
memberikan perlindungan atau advokasi kepada pasien.

5. Nilai dan Perilaku Keperawatan Esensial


Profesi keperawatan memiliki nilai sebagai identitas yang dapat mempengeruhi
tindakan dan mempertahankan apa yang yang dilakukannya.
Sebagai profesi yang berhubungan langsung dengan pasien maka diperlukan
nilai-nilai sebagai dasar dalam memutuskan dan memberikan pelayanan pada
pasien. Berdasarkan Potter dan Perry (2005) tentang American Association of
Colleges of Nursing (AACN) menetapkan tujuh nilai dan perilaku

2
keperawatan esensial yaitu alturisme, persamaan, estetika, kebebasan, martabat
manusia, keadilan, dan kebenaran.
1) Alturisme
Alturisme menjelaskan tentang nilai personal yang dimiliki perawat yaitu
sebagai individu yang perhatian, komitmen, kasihan, memiliki kemurahan
hati, dan ketekunan. Dan nilai profesional perawat yaitu memberikan
perhatian yang penuh pada pasien, membantu teman sejawat ketika mereka
tidak dapat melakukannya dalam memberikan perawatan, dan
menunjukkan perhatian pada masalah sosial yang behubungan dengan
kesehatan.
2) Persamaan
Seharusnya perawat memiliki nilai dan sikap personal yang mudah
menerima, asertif, tidak sepihak, harga diri yang baik, dan toleransi. Nilai
dan perilaku profesional sebagai perawat yaitu dapat memberikan asuhan
keperawatan berdasarkan kebutuhan individu, tidak melihat dan memilih
pasien dari karakter seseorang, melakukan interaksi dengan perawat yang
lain, mengekspresikan pikiran tentang perkembangan dalam bidang
keperawatan atau kesehatan.
3) Estetika
Sikap dan kualitas personal yang memiliki penghargaan terhadap
kinerjanya, kreativitas, imajinasi, dan sensitivitas. Perilaku profesional
perawat yaitu dapat beradaptasi dengan lingkungan sehingga bisa
memuaskan pasien, menciptakan lingkungan kerja yang menyenangkan
bagi diri sendiri dan orang lain, menempatkan diri dengan cara yang dapat
meningkatkan kesan positif dalam keperawatan.
4) Kebebasan

3
Memiliki sikap dan nilai personal yang percaya diri, memiliki harapan,
kemerdekaan, keterbukaan, penguasaan diri, dan disiplin. Perilaku sebagai
perawat profesional yaitu bisa menghargai hak pasien untuk menolak
perawatan, mendukung hak teman sejawat untuk memberikan berbagai
alternatif pada rencana perawatan, mendukung diskusi terbuka terhadap
isu-isu yang kontroversi dalam profesi.
5) Martabat Manusia
Perawat memiliki nilai dan sikap personal dalam memberikan
pertimbangan, empati, kemanusiaan, keramahan, bisa menghargai, dan
percaya diri. Perilaku profesonal sebagai perawat dapat melindungi hak
pasien terhadap kebebasannya sendiri, memperlakukan pasien sesuai
dengan yang mereka inginkan, mempertahankan kerahasiaan pasien dan
pegawai, merawat pasien dengan hormat tanpa memandang latar belakang.
6) Keadilan
Memiliki sikap dan nilai personal yang berani, integritas, moralitas, dan
objektivitas. Perilaku profesional yang dimiliki perawat yaitu bertindak
sebagai advokasi dalam perawatan kesehatan pasien, mealokasikan sumber
daya secara adil, dan melaporkan praktik yang tidak kompeten, tidak etis,
dan ilegal secara objektif dan aktual.
7) Kebenaran
Memiliki sikap dan nilai personal yang akuntabilitas, kebenaran, kejujuran,
keingintahuan, rasionalitas, dan refleksivitas. Perilaku profesional yang
dimiliki seorang perawat yaitu dapat mendokumentasikan keperawatan
secara akurat dan jujur, mendapatkan data yang cukup untuk membuat
suatu keputusan sebelum melaporkan adanya pelanggaran kebijakan
organisasi, berpartisipasi dalam usaha profesional untuk melindungi
masyarakat dari kesalahan informasi mengenai kesehatan.
4
II. NORMA
1. Pengertian Norma
Dari segi bahasa Norma berasal dari bahasa inggris yakni norm. Dalam
kamus oxford norm berarti usual or expected way of behaving yaitu norma
umum yang berisi bagaimana cara berprilaku.
Norma adalah patokan prilaku dalam satu kelompok tertentu, norma
memungkinkan sesorang untuk menentukan terlebih dahulu bagaimana
tindakannya itu akan dinilai oleh orang lain, norma juga merupakan kriteria
bagi orang lain untuk mendukung atau menolak prilaku seseorang.
Norma juga merupakan sesuatu yang mengikat dalam sebuah kelompok
masyarakat,. Norma pada dasarnya adalah bagian dari kebudayaan, karena
awal dari sebuah budaya itu sendiri adalah intraksi antara manusia pada
kelompok tertentu yang nantinya akan menghasilkan sesuatu yang disebut
norma. budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke
generasi.

2. Macam-macam Norma
A. Norma Agama adalah peraturan hidup yang harus diterima manusia
sebagai perintah-perintah, larangan larangan dan ajaran-ajaran yang
bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Pelanggaran terhadap norma ini
akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Esa berupa siksa
kelak di akhirat.
Norma-norma itu mempunyai dua macam isi, dan menurut isinya
berwujud: perintah dan larangan. Perintah merupakan kewajiban bagi
seseorang untuk berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang
baik. Sedangkan larangan merupakan kewajiban bagi seseorang untuk
tidak berbuat sesuatu oleh karena akibat-akibatnya dipandang tidak baik.
Contoh norma agama ini diantaranya ialah :
5
Beribadah sesuai dengan agama dan keyakinan.
Beramal saleh dan berbuat kebajikan.
Mencegah, melarang, dan tidak melakukan perbuatan maksiat,
keji, dan mungkar.
Norma agama yang berasal dari tuhan ini bertujuan untuk
menyempurnakan keadaan manusia agar menjadi baik,dan tidak
menyukai adanya kejahatan-kejahatan yang terjadi.norma ini tidak di
tujukan kepada sikap lahir,tetapi pada sikap batin manusia yang di
harapkan batin tersebut sesuai dengan norma agama yang ia yakini
sebagai sebuah kepercayaan. Norma agama ini hanya memberikan
kewajiban kepada manusia tanpa memberi hak kepada mereka,mereka
harus mentaati dan melaksanakan norma agama tersebut.
Pelanggar norma agama mendapatkan sanksi secara tidak langsung,
artinya pelanggarnya baru akan menerima sanksinya nanti diakhirat
berupa siksaan di neraka. Norma agama adalah petunjuk hidup yang
berasal dari Tuhan yang disampaikan melalui utusan-Nya (Rasul/Nabi)
yang berisi perintah, larangan dan anjuran-anjuran
B. Norma moral/kesusilaan, yaitu peraturan atau kaidah hidup yang
bersumber dari hati nurani dan merupakan nilai-nilai moral yang
mengikat manusia.
C. Norma kesusilaan yang juga disebut dengan norma moral adalah norma
yang biasa terdapat dalam masyarakat dan dianggap sebagai peraturan
maupun dijadikan suatu pedoman dalam bertingkah laku (berbudi pekerti
/ berakhlak).
Pada umumnya pelanggaran dalam norma kesusilaan adalah adanya
perasaan menyesal, tekanan batin dan perasaan malu. Adapun tujuan dari
norma kesusilaan adalah hampir sama dengan norma agama, yakni
membentuk karakter manusia menjadi lebih baik.
6
Contoh norma kesusilaan adalah seorang anak yang biasa mencium
tangan terhadap orang tua atau gurunya ketika bersalaman sebagai tanda
hormat.
D. Norma kesopanan adalah aturan yang didasarkan pada atuuran tingkah
laku yang biasanya berlaku dalam masyarakat.
Norma ini jika dilanggar akan dikenai sanksi berupa teguran hingga
cemoohan dari masyarakat. Namun, jika kesopanan dalam bertingkah
laku dalam masyarakat dijaga dengan baik, maka biasanya mereka akan
lebih dihormati dan dihargai oleh masyarakat tersebut.
Adapun tujuan daripada norma kesopanan ini adalah untuk menciptakan
keharmonisan dalam pergaulan yang lebih santun ketika berada di
tengah-tengah masyarakat.
Contoh-contoh norma kesopanan adalah sebagai berikut:
Tidak duduk diatas meja
Berbicara yang santun terhadap mereka yang lebih tua
Mendengarkan dengan seksama ketika dinasihati oleh orang tua,
guru maupun siapa saja yang memberikan nasehat.
Mengucapkan permisi atau membungkukkan badan jika melewati
orang-orang yang lebih tua
Tidak menyela pembicaraan orang lain
Tidak meludah di depan orang lain
E. Norma hukum, yaitu peraturan atau kaidah yang diciptakan oleh
kekuasaan resmi atau negara yang sifatnya mengikat atau memaksa
Norma hukum biasanya berasal dari undang-undang yang dibuat oleh
pemerintah dan bagi mereka yang melanggarnya biasanya mendapatkan
sanksi berupa teguran, denda hingga penjara.
Adapun tujuan dari norma hukum ini adalah untuk menciptakan suatu
suasana yang tertib, aman dan tentram dalam bermasyarakat dan
bernegara.
Contoh mematuhi norma hukum diantaranya adalah:

7
Mematuhi aturan yang berlaku ketika dijalan raya misalnya saja
berhenti ketika lampu rambu-rambu lalu lintas sedang berwarna
merah, pejalan kaki yang menyebrang pada tempatnya (tempat
penyebrangan yang biasa disebut dengan zebra cross).
Seorang siswa harus mematuhi tata tertib dalam sekolah, misalnya
saja tidak hadir terlambat untuk sekolah, mengenakan seragam
sekolah sesuai dengan yang telah ditentukan sekolahan.

3. Manfaat Norma
Sebuah norma adalah sebuah aturan, patokan atau ukuran, yaitu sesuatu
yang bersifat pasti dan tidak berubah. Dengan adanya norma kita dapat
memperbandingkan sesuatu hal lain yang hakikatnya, ukurannya, serta
kualitasnya kita ragukan. Norma berguna untuk menilai baik-buruknya
tindakan masyarakat sehari-hari. Sebuah norma bisa bersifat objektif dan
bisa pula bersifat subjektif. Bila norma objektif adalah norma yang dapat
diterapkan secara langsung apa adanya, maka norma subjektif adalah norma
yang bersifat moral dan tidak dapat memberikan ukuran.

III. ETIKA
1. Pengertian
Etika berasal dari bahasa yunani yaitu Ethos yang menurut Araskar dan
David (1978) berarti kebiasaan, model perilaku, atau standar yang
diharapkan dan kriteria tertentu untuk suatu tindakan. Penggunaan istilah
etika sekarang ini banyak diartikan sebagai motif atau dorongan yang
mempengaruhi perilaku.(Dra.Hj. Mimin Emi Suhaemi.2002. 7).
Etika adalah kode prilaku yang memperlihatkan perbuatan yang baik bagi
kelompok tertentu. Etika juga merupakan peraturan dan prinsip bagi
perbuatan yang benar. Etika berhubungan dengan hal yang baik dan hal yang
tidak baik dan dengan kewajiban moral. Etika berhubungan dengan

8
peraturan untuk perbuatan atau tidakan yang mempunyai prinsip benar dan
salah, serta prinsip moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab
moral, menyimpang dari kode etik berarti tidak memiliki prilaku yang baik
dan tidak memiliki moral yang baik.
Etika merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral
kedalam situasi nyata dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang
membimbing manusia berpikir dan bertindak dalam kehidupannya yang
dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya. Banyak pihak yang menggunakan
istilah etik untuk mengambarkan etika suatu profesi dalam hubungannya
dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI. Profesi menyusun
kode etik berdasarkan penghormatan atas nilai dan situasi individu yang
dilayani. Kode etik disusun dan disahkan oleh organisasi atau wadah yang
membina profesi tertentu baik secara nasional maupun internasional. Kode
etik menerapkan konsep etis karena profesi bertanggung jawab pada
manusia dan menghargai kepercayaan serta nilai individu.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa etik merupakan istilah
yang digunakan untuk merefleksikan bagaimana seharusnya manusia
berperilaku, apa yang seharusnya dilakukan seseorang terhadap orang lain.

2. Tipe-Tipe Etik
A. Bioetik
Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi
dalam etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut,
bioetik difokuskan pada pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan
antara ilmu kehidupan, bioteknologi, pengobatan, politik, hukum, dan
theology.
Pada lingkup yang lebih sempit, bioetik merupakan evaluasi etik pada
moralitas treatment atau inovasi teknologi, dan waktu pelaksanaan
pengobatan pada manusia. Pada lingkup yang lebih luas, bioetik
9
mengevaluasi pada semua tindakan moral yang mungkin membantu atau
bahkan membahayakan kemampuan organisme terhadap perasaan takut
dan nyeri, yang meliputi semua tindakan yang berhubungan dengan
pengobatan dan biologi. Isu dalam bioetik antara lain : peningkatan mutu
genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan.
Dapat disimpulkan bahwa bioetik lebih berfokus pada dilema yang
menyangkut perawatan kesehatan modern, aplikasi teori etik dan prinsip
etik terhadap masalah-masalah pelayanan kesehatan
B. Clinical Ethics/Etik Klinik
Etik klinik merupakan bagian dari bioetik yang lebih memperhatikan
pada masalah etik selama pemberian pelayanan pada klien. Contoh
clinical ethics : adanya persetujuan atau penolakan, dan bagaimana
seseorang sebaiknya merespon permintaan medis yang kurang
bermanfaat (sia-sia).
C. Nursing Ethics/Etik Perawatan
Bagian dari bioetik, yang merupakan studi formal tentang isu etik dan
dikembangkan dalam tindakan keperawatan serta dianalisis untuk
mendapatkan keputusan etik.

3. Prinsip-Prinsip Etik
A. Otonomi (Autonomy)
Autonomy berarti mengatur dirinya sendiri, prinsip moral ini sebagai
dasar perawat dalam memberikan asuhan keperawatan dengan cara
menghargai pasien, bahwa pasien adalah seorang yang mampu
menentukan sesuatu bagi dirinya. Perawat harus melibatkan pasien
dalam membuat keputusan tentang asuhan keperawatan yang diberikan
pada pasien.
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu mampu
berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang dewasa
dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri, memilih
10
dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus dihargai oleh
orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek terhadap
seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan
bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan
kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri. Praktek profesional
merefleksikan otonomi saat perawat menghargai hak-hak klien dalam
membuat keputusan tentang perawatan dirinya.
Aplikasi prinsip moral otonomi dalam asuhan keperawatan ini contohnya
adalah seorang perawat apabila akan menyuntik harus memberitahu
untuk apa obat tersebut, prinsip otonomi ini dilanggar ketika seorang
perawat tidak menjelaskan suatu tindakan keperawatan yang akan
dilakukannya, tidak menawarkan pilihan misalnya memungkinkan
suntikan atau injeksi bisa dilakukan di pantat kanan atau kiri dan
sebagainya. Perawat dalam hal ini telah bertindak sewenang-wenang
pada orang yang lemah.
B. Berbuat Baik (Beneficience)
Prinsip beneficience ini oleh Chiun dan Jacobs (1997) didefinisikan
dengan kata lain doing good yaitu melakukan yang terbaik .
Beneficience adalah melakukan yang terbaik dan tidak merugikan orang
lain , tidak membahayakan pasien . Apabila membahayakan, tetapi
menurut pasien hal itu yang terbaik maka perawat harus menghargai
keputusan pasien tersebut, sehingga keputusan yang diambil perawatpun
yang terbaik bagi pasien dan keluarga. Beneficience berarti, hanya
melakukan sesuatu yang baik. Kebaikan, memerlukan pencegahan dari
kesalahan atau kejahatan, penghapusan kesalahan atau kejahatan dan
peningkatan kebaikan oleh diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi
pelayanan kesehatan, terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.

11
Beberapa contoh prinsip tersebut dalam aplikasi praktik keperawatan
adalah, seorang pasien mengalami perdarahan setelah melahirkan,
menurut program terapi pasien tersebut harus diberikan tranfusi darah,
tetapi pasien mempunyai kepercayaan bahwa pemberian tranfusi
bertentangan dengan keyakinanya, dengan demikian perawat mengambil
tindakan yang terbaik dalam rangka penerapan prinsip moral ini yaitu
tidak memberikan tranfusi setelah pasien memberikan pernyataan tertulis
tentang penolakanya.Perawat tidak memberikan tranfusi, padahal hal
tersebut membahayakan pasien, dalam hal ini perawat berusaha berbuat
yang terbaik dan menghargai pasien.
C. Keadilan (Justice)
Setiap individu harus mendapatkan tindakan yang sama, merupakan
prinsip dari justice (Perry and Potter, 1998 ; 326). Justice adalah
keadilan, prinsip justice ini adalah dasar dari tindakan keperawatan bagi
seorang perawat untuk berlaku adil pada setiap pasien, artinya setiap
pasien berhak mendapatkan tindakan yang sama. Prinsip keadilan
dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil terhadap orang lain yang
menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan kemanusiaan. Nilai ini
direfleksikan dalam prkatek profesional ketika perawat bekerja untuk
terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek dan keyakinan yang
benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Tindakan yang sama tidak selalu identik, maksudnya setiap pasien
diberikan konstribusi yang relatif sama untuk kebaikan kehidupannya.
Prinsip Justice dilihat dari alokasi sumber-sumber yang tersedia, tidak
berarti harus sama dalam jumlah dan jenis, tetapi dapat diartikan bahwa
setiap individu mempunyai kesempatan yang sama dalam
mendapatkannya sesuai dengan kebutuhan pasien. (Sitorus, 2000).

12
Sebagai contoh dari penerapan tindakan justice ini adalah dalam
keperawatan di ruang penyakit bedah, sebelum operasi pasien harus
mendapatkan penjelasan tentang persiapan pembedahan baik pasien di
ruang VIP maupun kelas III, apabila perawat hanya memberikan
kesempatan salah satunya maka melanggar prinsip justice ini.
D. Tidak Merugikan (Nonmaleficience) atau avoid killing
Prinsip avoiding killing menekankan perawat untuk menghargai
kehidupan manusia (pasien), tidak membunuh atau mengakhiri
kehidupan. Thomhson ( 2000 : 113) menjelasakan tentang masalah
avoiding killing sama dengan Euthanasia yang kata lainya tindak
menentukan hidup atau mati yaitu istilah yang digunakan pada dua
kondisi yaitu hidup dengan baik atau meninggal.
Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis
pada klien. kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulkan
kerugian atau cidera. Prinsip : Jangan membunuh, menghilangkan nyawa
orang lain, jangan menyebabkab nyeri atau penderitaan pada orang lain,
jangan membuat orang lain berdaya dan melukai perasaaan orang lain.
Ketika menghadapi pasien dengan kondisi gawat maka seorang perawat
harus mempertahankan kehidupan pasien dengan berbagai cara. Tetapi
menurut Chiun dan Jacobs (1997 : 40) perawat harus menerapkan etika
atau prinsip moral terhadap pasien pada kondisi tertentu misalnya pada
pasien koma yang lama yaitu prinsip avoiding killing, Pasien dan
keluarga mempunyai hak-hak menentukan hidup atau mati. Sehingga
perawat dalam mengambil keputusan masalah etik ini harus melihat
prinsip moral yang lain yaitu beneficience, nonmaleficience dan
otonomy yaitu melakukan yang terbaik, tidak membahayakan dan
menghargai pilihan pasien serta keluarga untuk hidup atau mati. Mati
disini bukan berarti membunuh pasien tetapi menghentikan perawatan
13
dan pengobatan dengan melihat kondisi pasien dengan pertimbangan
beberapa prinsip moral diatas.
E. Kejujuran (Veracity)
Veracity menurut Chiun dan Jacobs (1997) sama dengan truth telling
yaitu berkata benar atau mengatakan yang sebenarnya. Veracity
merupakan suatu kuajiban untuk mengatakan yang sebenarnya atau
untuk tidak membohongi orang lain atau pasien (Sitorus, 2000).
Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini diperlukan
oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan kebenaran pada
setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat mengerti.
Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang untuk
mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi akurat,
komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan
penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya kepada
klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan keadaan dirinya
selama menjalani perawatan. Walaupun demikian, terdapat beberapa
argument mengatakan adanya batasan untuk kejujuran seperti jika
kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk pemulihan atau adanya
hubungan paternalistik bahwa doctors knows best sebab individu
memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk mendapatkan informasi
penuh tentang kondisinya. Kebenaran merupakan dasar dalam
membangun hubungan saling percaya.
Perawat dalam bekerja selalu berkomunikasi dengan pasien, kadang
pasien menanyakan berbagai hal tentang penyakitnya, tentang hasil
pemeriksaan laboratorium, hasil pemeriksaan fisik seperti, berapa
tekanan darah saya suster?, bagaimana hasil laboratorium saya suster?
dan sebagainya. Hal-hal seperti itu harusnya dijawab perawat dengan

14
bener sebab berkata benar atau jujur adalah pangkal tolak dari terbinanya
hubungan saling percaya antar individu dimanapun berada.
Namun demikian untuk menjawab pertanyaan secara jujur diatas perlu
juga dipikirkan apakah jawaban perawat membahayakan pasien atau
tidak, apabila memungkinkan maka harus dijawab dengan jawaban yang
jelas dan benar, misalnya pasien menanyakan hasil pemeriksaan tekanan
darah maka harus dijawab misalnya, 120/80 mmHg, hasil laboratorium
Hb 13 Mg% dan sebagainya.
Prinsip ini dilanggar ketika kondisi pasien memungkinkan untuk
menerima jawaban yang sebenarnya tetapi perawat menjawab tidak
benar misalnya dengan jawaban ; hasil ukur tekanan darahnya baik,
laboratoriumnya baik, kondisi bapak atau ibu baik-baik saja, padahal
nilai hasil ukur tersebut baik buruknya relatif bagi pasien.

F. Menepati Janji (Fidelity)


Sebuah profesi mempunyai sumpah dan janji, saat seorang menjadi
perawat berarti siap memikul sumpah dan janji. Hudak dan Gallo (1997 :
108), menjelaskan bahwa membuat suatu janji atau sumpah merupakan
prinsip dari fidelity atau kesetiaan. Dengan demikian fidelity bisa
diartikan dengan setia pada sumpah dan janji. Chiun dan Jacobs (1997 :
40) menuliskan tentang fidelity sama dengan keeping promises, yaitu
perawat selama bekerja mempunyai niat yang baik untuk memegang
sumpah dan setia pada janji.
Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan
komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya dan
menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan,
adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang
dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhan perawat terhadap kode
etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat adalah
15
untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan
kesehatan dan meminimalkan penderitaan.
Prinsip fidelity menjelaskan kewajiban perawat untuk tetap setia pada
komitmennya, yaitu kewajiban memperatankan hubungan saling percaya
antara perawat dan pasien yang meliputi menepati janji dan menyimpan
rahasia serta caring (Sitorus, 2000 : 3). Prinsip fidelity ini dilanggar
ketika seorang perawat tidak bisa menyimpan rahasia pasien kecuali
dibutuhkan, misalnya sebagai bukti di pengadilan, dibutuhkan untuk
menegakan kebenaran seperti penyidikan dan sebagainya.
Penerapan prinsip fidelity dalam praktik keperawatan misalnya, seorang
perawat tidak menceritakan penyakit pasien pada orang yang tidak
berkepentingan, atau media lain baik diagnosa medisnya (Carsinoma,
Diabetes Militus) maupun diagnosa keperawatanya (Gangguan
pertukaran gas, Defisit nutrisi). Selain contoh tersebut yang merupakan
rahasia pasien adalah pemeriksaan hasil laboratorium, kondisi ketika
mau meninggal dan sebagainya.
G. Karahasiaan (Confidentiality)
Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien harus
dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam dokumen
catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka pengobatan
klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi tersebut
kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan. Diskusi
tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada teman atau
keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus dihindari.
H. Akuntabilitas (Accountability)
Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan seorang
profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau tanpa
terkecuali.

16
DAFTAR PUSTAKA

Bertensk. 1993. etika. jakarta. gramedia pustaka utama


http://www.crayonpedia.org/mw/NormaNorma_yang_Berlaku_dalam_kehidupan_
Bermasyarakat,_Berbangsa_dan_Bernegara_7.1
http://nengshietie.blogspot.co.id/2010/12/nilai-etik-dan-moral-keperawatan.html
http://akper-alikhlas.com/wp-content/uploads/2016/02/ETIKA-KEPERAWATAN-
I-1.-NILAI-NILAI-NORMA-ETIKA-2.-PRINSIP-PRINSIP-ETIKA.pdf

17