Anda di halaman 1dari 10

PERILAKU MODERN MANUSIA UPACARA BALI

Gereget jago kandang dalam mengawal manusia upacara sebagai manusia budaya,
mau tak mau perilaku lokal harus dikondisikan. Perilaku lokal dalam pengertian respons
terhadap beban budaya dengan mengontrol alat-alat produksi atas image klasik Bali
yang romantis, yang dilembagakan dan yang bisa diukur. Oleh karenanya, artikel
singkat ini hendaknya dapat dilihat sebagai usaha kearah itu.
Mitos Bali yang tidak pernah mati yang secara esensial bersifat mistikal
mengandung arti bahwa Bali bukanlah milik orang Bali yang beragama hindu dan yang
tinggal di Bali saja. Bukan pula berarti Bali yang tersembunyi, tidak bisa ditemukan.
Pesimisme mistikal yang tersembunyi ini berjalan seiring dengan kecerdasan orang Bali
itu sendiri. Tentu dengan doktrin rotasi sekeping uang logam. Plot ini setara dengan utak
atik kaum buruh dalam mencari standar minimum untuk makan, pakaian dan tempat
tinggal.
Kredo Bali yang fleksibel di atas, secara imajinatif masih amat kering dan angkuh.
Kenyataannya, Coca Cola, Aqua, Marlboro, Apel New Zealand, dan Sunkist sebagai
sesajen ekonomi ritual dan ekonomi spiritual merupakan realitas yang betul-betul
mudah saya pahami. Hal ini, meyakini saya bahwa orang Bali yang hindu, yang budha,
yang islam dan yang kristen mengalami hal yang persis sama. Kemiripan gerbong
agama bukan sekadar sejarah, sebab gagasan besarnya berkembang secara linear
menuju pada budaya hidup hemat, rajin investasi, kerja keras, mengutamakan
pendidikan, aktif berorganisasi, kreatif, penghargaan terhadap waktu, orientasi ke depan
dan disiplin. Sisi lain, kemiripan juga memicu persoalan lainnya, yang membentuk pola
ketergantungan di antara masalah ekonomi dan kesenjangan sosial.
Wajah yang ingin disampaikan adalah semangat/jiwa/roh/spirit/taksu agama telah
membentuk fleksibelitas tertulis identitas kultural dan politik identitas. Ini artinya,
kombinasi di antara identitas kultural dan identitas politik-lah yang menyatukan kita
sebagai orang Bali yang hindu, yang budha, yang islam dan yang kristen. Pendeknya,
ada nilai-nilai yang sama dituangkan, yang ditanamkan ke dalam diri melalui pranata
rumah tangga, masyarakat tradisional, masyarakat sipil, masyarakat ekonomi,
masyarakat bersenjata, birokrasi, masyarakat partai politik dan masyarakat multilateral
dalam aras demokratisasi. Pranata-pranata ini disandarkan pada lenturan pendulum
maupun ketegasan tiang tontem secara manfaat dan mudarat. Lebih lanjut, cerita tentang
perilaku modern manusia upacara Bali dalam merajut pernak pernik identitas kultural
dan politik identitas disajikan di bawah ini.

Ringkasan Cerita
Kisahnya di mulai ketika kegalauan identitas kultural dan politik identitas
memuncak di tahun 1965. Ketercabikan mengalami pembenahan dan mulai
menghasilkan, tatkala Ida Shang Hyang Widi Wasa sebagai Tuhan-nya orang Bali yang
hindu dikondisikan oleh kesadaran etnik religiusitas. Pengkondisian ini meramu
kompleksitas yang membingungkan ke arah stabilitas. Mengapa? Karena
keberadaannya adalah realitas genting dan penting bagi eksistensi orang Bali ke
depannya.
Keserupaan terjadi juga dengan Gautama, Muhammad dan Jesus, yang tidak
dibatasi oleh batas-batas penyempitan etnik religiusitas. Identik dengan tata letak, tata
kelola dan tata niaga Teh Botol Sosro yang berdampingan dengan Fanta dan minuman
sejenis lainnya di rak-rak Indomaret. Tentu, atas seijin pasar, komunitas dan negara
dengan kaul menciptakan keunggulan bersaing dalam aras keragaman minuman dingin.
Bukan sekadar gerombolan dan kumpulan minuman, namun suatu identitas yang
dikelilingi dengan bagian-bagian yang saling bergantungan, dengan fungsi dan caranya
sendiri-sendiri dalam melakukan penyerbukan silang antar produk sebagai strategi
bersama guna mengembangkan culture share minuman dingin.
Saya tabu mengatakan jika pewarisan budaya di Bali berhasil merajut kebekuan
identitas kultural dan politik identitas. Perlu kesadaran lintas generasi dalam menilik
perilaku modern komunitas orang Bali. Perlu saya replika-kan, akselerasi budaya Bali
berkonsep sekala niskala. Sekala berkiblat pada material (dunia nyata), sedangkan
niskala bertasbihkan spiritual (dunia tidak nyata). Apa yang ada di sekala, ada di
niskala. Demikian juga berlaku sebaliknya. Misal, peran dan fungsi rumah sakit secara
sekala adalah tempat berobat. Peran dan fungsi yang sama juga dilakoni oleh pura
Tamba Waras yang berada di kabupaten Tabanan. Secara gamblang dan tegas orang Bali
berharap dan berusaha menemukan tujuan hidup, keseimbangan dan kedamaian di
antara dunia sekala niskala. Saya mengasumsikan perilaku itu sepenuhnya merupakan
kehidupan religius yang didasarkaan pada kebiasaan dan tradisi dengan penyesuaian
pada sarana-sarana ekonomi dalam rangka memperoleh nilai tambah ekonomi, nilai
tambah budaya, nilai tambah ritual dan nilai tambah spiritual.
Begitu juga halnya dengan peran dan fungsi pasar secara sekala adalah tempat
bertemunya pembeli dan penjual dengan barang dagangannya. Peran dan fungsi yang
sama dilakoni oleh pura Pasar Agung dengan pura Melanting-nya di kabupaten
Buleleng. Menariknya justru terletak pada prosesnya, yakni: pertama, anda harus ke
pura Pemutaran Jagat. Di sini anda akan ditanya, apa profesi anda. Dan anda menjawab
profesi sebagai pedagang. Setelah yakin akan profesi yang dipilih, anda akan mengurus
legalitas sebagai pedagang, misal mengurus SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) dan
TDP (Tempat Daftar Perusahaan) di pura Pulaki. Setelah legalitas lengkap, waktunya
anda memesan dan mengambil barang dagangan di pura Pabean yang terletak di utara
pura Pulaki, kira-kira jaraknya kurang lebih 300 meter. Urusan belum selesai, barang
dagangan harus disahkan dengan Halal, ISO, dan BPOM di pura Kertha Kawat sebagai
bentuk tanggung jawab sosial kepada lingkungan dan masyarakat. Nah, baru setelah
semua proses itu dilakukan anda boleh berjualan di pasar, dengan pura Pasar Agung dan
pura Melanting-nya sebagai simbol dewa kemakmuran.
Rangkaian sekala niskala di atas merupakan proses perilaku sosial yang cenderung
tidak mudah. Perlu kepekaan panca inderia guna menggiring bagaimana perilaku sosial
mengambil tempat dan hati budaya. Sistematika sekala niskala mendesain perilaku
keseharian orang Bali untuk merajut pernak pernik ekonomi ritual dan ekonomi spiritual
berbasis tontonan. Apa yang tersirat dalam fenomena sekala niskala masyarakat Bali
ini? Bahwa, budaya telah mensukseskan manusia Bali. Oleh karena itu, manusia Bali
adalah manusia upacara, yang mengupacarai dirinya sendiri, manusia lain, flora-fauna,
mobil dan benda mati lainnya yang memengaruhi sikap, perilaku, struktur, sumber daya,
komunikasi, kontens kebijakan maupun konteks kekuasaan sehari-hari manusia Bali.
Tidak masalah sumber daya manusia, janur, bunga, telur dan kelapa datang dari luar
Bali, asal diproduksi di Bali. Artinya, produktivitas yang bernilai tambah bergulir di
Bali. Hal ini jelas mencerminkan fenomena ketergantungan di antara aktor dalam
mensukseskan orang Bali, seperti disajikan di bawah ini.
Para Aktor yang Mensukseskan Orang Bali
Ketika kebutuhan akan perubahan menjadi semakin jelas dengan berpindahnya
kekuasaan dari tangan yang kalah ke kotak pemungutan suara, partisipasi aktor menjadi
rasional dalam mensukseskan manusia upacara. Mengapa? Karena perubahan politis
dalam aras demokratisasi merupakan prasyarat bagi pembangunan ekonomi dan budaya.
Begitu juga berlaku sebaliknya, bahwa perubahan ekonomi dan budaya sebagai syarat
bagi perbaikan kelembagan politik. Bahasa sederhananya begini, jika sungai bisa
omong, sungai akan meminta banjir. Mengapa? Banjir akan merubah struktur kehidupan
sungai. Sungai butuh itu. Demikian juga halnya dengan budaya, ekonomi dan politik.
Jika kita beralih ke manusia upacara Bali, kiranya obrolan di Bale Banjar yang
menelisik bahwa budaya yang mensukseskan masyarakat Bali dan politik-lah yang
mengubah budaya dan membuatnya bertahan, harus ditilik kembali. Menjadi penting
untuk diketahui bahwa orang Bali masih rentan terhadap masalah identitas kultural dan
politik identitas. Mengapa? Karena orang Bali tidak bisa lepas dari hubungan masalah
antara kelangsungan hidup, politik, kultural dan ekonomi sebagai akarnya. Sehingga,
kombinasi di antara identitas kultural dan politik identitas muncul sebagai alternatif
penyilangan perilaku dan sekaligus sebagai karakter modern komunitas orang Bali.
Tombol penyilangan merujuk komitmen manusia upacara Bali untuk
menempatkan nilai-nilai agama dan budaya pada porsinya yang elok dan elegan.
Mengapa? Karena the truth about hiring, communication, motivation, leadership,
building team, managing conflicts, jobs designing, coping with change, managing
behavior and the truth about performance dari masyarakat rumah tangga, masyarakat
tradisional, masyarakat sipil, masyarakat ekonomi, masyarakat bersenjata, birokrasi,
masyarakat partai politik, serta masyarakat multilateral adalah para aktor yang
membentuk perilaku modern sekaligus yang mensukseskan manusia upacara Bali.
Peran para aktor yang membentuk perilaku modern manusia upacara sarat dengan
tarik-menarik kepentingan antara yang menguatkan dan yang melemahkan penyerbukan
budaya. Kepentingan tersebut acapkali memunculkan penilaian terhadap perilaku
masing-masing aktor, yang mencakup; pertama, perilaku masyarakat rumah tangga yang
sarat dengan pergulatan standar minimun untuk hidup merupakan aspek dasar budaya
yang musti dipenuhi. Kedua, perilaku tradisional dari Puri, Dadia, Soroh dan Adat
sebagai simbol patron klien di rasa masih relatif sangat kuat memengaruhi perilaku
orang Bali. Namun, skandal desentralisasi telah melebarkan sel-sel yang sudah terbelah
sebelumnya di antara komponen masyarakat tradisional menjadi semakin otonom dan
semakin memiliki posisi tawar dari aspek kekuasaan, kultural, sosial, ekonomi dan
politik. Ketiga, perilaku masyarakat sipil yang semakin liberal di era otonomi daerah,
seperti maraknya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Ormas dengan pelbagai
aktivitas dan kepentingannya telah mendesain budaya kolektif semakin plural. Keempat,
perilaku masyarakat ekonomi yang semakin ditumpangkan pada struktur ekonomi yang
cenderung semakin kapitalistik berbudaya atas dorongan pasar pariwisata. Misal,
pelaksanaan dan tanggungjawab Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan
bentuk kapital etis yang berbudaya. Sisi lain juga bisa dikatakan bahwa kini keberadaan
KFC, Pizza Hut, McDonald juga telah menjadi budaya orang Bali. Kelima, perilaku
masyarakat bersenjata yang semakin netral di tengah arus demokratisasi yang semakin
kabur. Kabur dalam pengertian kepentingan masyarakat bersenjata semakin kerdil dan
cenderung menghilang dalam kancah perpolitikan. Hal ini bagus dalam mengawal
budaya demokrasi ke depannya. Keenam, perilaku birokrasi yang semakin peka
terhadap kualitas layanan publik mencerminkan psikologi lintas budaya bekerja dengan
baik. Bahwa pelayanan publik yang bersifat administrasi taat asas pada nilai-nilai
keadilan dan kebersamaan, yang identik dengan hormon budaya itu sendiri. Ketujuh,
perilaku masyarakat partai politik telah menggiring pembangunan kebudayaan politik
pada posisi moderat. Moderat dalam arti demokrasi lokal lebih dikedepankan dalam
mengejar pembangunan politik yang cenderung berada dibelakang pembangunan
ekonomi. Mengapa? Karena kita tahu budaya politik sudah mengajarkan kepada kita
untuk menguatkan dan menghancurkan budaya dari dalam. Yang terakhir adalah
perilaku masyarakat multilateral yang sangat plural dan global yang semakin memaksa
para aktor untuk melokalkan perilakunya. Identik seperti roda kecil harus siap
berhadapan dengan roda besar.
Kerumitan perilaku para aktor di atas tidak pernah bertindak sendirian. Ia
cenderung bersifat institusional, yang cenderung tidak mudah. Dalam kontens dan
konteks inilah perilaku modern manusia upacara Bali menjadi krusial sebagai sarana
penilai sekaligus sarana penghukum yang kompatibel. Mengabaikannya berarti vonis
gagal bagi orang Bali itu sendiri. Karya yang sangat indah ini terbilang suatu prestasi
agung dalam mempolakan perilaku manusia upacara sebagai orang Bali yang benar-
benar Bali, yakni yang tampak serupa secara kultural. Singkatnya, peran aktor telah
menyerbukan identitas kultural dan politik identitas manusia upacara Bali dari fondasi
yang tidak jelas ke dalam suatu ornamen kapitalis etis yang sangat membantu
penumbuhan perilaku modern orang Bali. Oleh karena itu, pesta pora manusia upacara
Bali merupakan konsepsi perilaku lokal yang harus diterima dan dikuatkan ke
depannya. Terus yang menjadi pertanyaan adalah rangkaian perilaku modern yang
bagaimanakah yang telah mensukseskan manusia upacara Bali, yang akan saya uraikan
di bawah ini. Persis seperti di manakah kita mencari cinta. Jawabnya, ya di rumah-lah.

Rangkaian Perilaku Modern Manusia Upacara Bali


Konstelasi budaya dalam aras modernisasi menuntut perilaku ke arah abu-abu.
Abu-abu bukan berarti galau, melainkan pemenuhan keragaman yang berpatuh pada
varian kearifan lokal. Dengan kata lain, rambut, pakaian, handphone, rumah, serta
makanan para aktor tidak ada yang dominan. Misal, rasanya tidak mungkin melepas
konsentrasi kekuasaan di era demokrasi dari ordo religius. Mengapa? Karena manusia
upacara berproses melalui sarana kultural yang senantiasa mempunyai arti sakral.
Dengan adegan inilah, menyoroti rangkaian perilaku abu-abu mengingatkan saya
bagaimana istri meracik kentang, wortel, kol, mihun, daun bawang, daging ayam,
garam, udang, paprica, dan masako berbalut kulit lumpia merek Finna untuk makan
siang. Maknanya penyerbukan masing-masing elemen lumpia bekerja dengan baik,
sebagaimana pembagian kerja dengan pelbagai kepentingan mereka sendiri telah
mendamaikan manusia upacara Bali.
Rembesan penyilangan menimbulkan dampak perilaku modern manusia upacara
Bali dari menyembah patung agar panen berhasil ke menjual patung guna membeli hasil
panen. Begitu memasuki penyerbukan, maka kata hello, welcome and how are you
dipancing keluar dan bekerja. Rangkaian kekagetan ini kadang ampuh memotivasi
tradisi menjadi pemandu budaya. Misal, kerja utama pemandu pariwisata di Bali adalah
bercerita tentang image klasik Bali untuk diceritakan kembali. Pengulangan ini
memupuk keyakinan lokal, bahwa perilaku lokal tahu praktik lokal tidak disalahartikan.
Oleh karena itu, relasi di antara identitas kultural dan politik identitas membawa
perilaku lokal ke perilaku modern pada tataran stabilitas klasik yang lebih baik dan
lebih layak.
Bagi saya racikan di antara identitas kultural dan politik identitas merupakan
proses anak jaman dengan energi yang bisa diperbaharui, yang melestarikan dirinya
dengan maupun tanpa mengorbankan orang lain. Untuk memberi tekanan kepada
perilaku modern manusia upacara Bali, perlu kiranya fenomena telanjang yang
berpotensi mengubah persepsi, sikap, motivasi dan perilaku yang kalah untuk tetap
merasa menang. Misal, relief pura Jagaraga di Kubutambahan yang dibangun pada masa
penjajahan Belanda yang bermakna penundukan, kini merupakan aset bernilai tambah
bagi penduduk sekitar. Sedangkan keberadaan pura Colek Pamor di desa Gitgit yang
bermakna gencatan senjata merupakan fenomena gerakan keagamaan dalam
menciptakan kondisi-kondisi yang menguntungkan ketika kerajaan Buleleng
bersengketa dengan kerajaan Tabanan. Contoh menarik lainnya, ketika pelaksanaan
pileg dan pilpres, banyak teman-teman dari masyarakat partai politik berkunjung dan
sembahyang di pura Batukaru dan silahturahmi ke masyaraat tradisional seperti Puri,
Dadia-Soroh dan Adat sebagai refleksi kemenangan dan kekuasaan. Hal-hal semacam
ini merupakan usaha dari setiap perilaku lokal yang dilakukan secara terus menerus, dan
jangan diartikan sebagai usaha yang terisolasi.
Contoh perilaku modern manusia upacara juga bisa anda pahami juga ketika anda
ke desa Trunyan di Kintamani. Anda akan dipamerkan dengan bagaimana perilaku
mereka terhadap mayat secara sangat sopan dan manusiawi. Tentu dengan koceh seratus
lima puluh ribu rupiah per orang untuk naik sampan ke tanah kuburan mereka. Di mana
mayat hanya diletakkan sedemikian rupa. Sisi lain, ini mungkin bukan contoh yang
bagus, namun asik untuk diangkat. Begini, kemarin saya datang dari kampung sehabis
upacara ngaben (pembakaran mayat) kakak bapak saya. Kejadiannya tepat di Jalan
Kargo sebagai jalur penimbangan barang, ketika saya mau pulang ke rumah dari kota
Tabanan ke kota Denpasar dengan motor Yamaha saya. Dengan santai sopir truk berplat
P bermuatan janur, pisang dan kelapa melempar uang kertas lima ribuan ke petugas
Dinas Perhubungan sebagai upeti gelap yang lagi rilek dengan kacamata hitam dan
korannya. Laksana disiplin yang saleh namun begitu memalukan dan menjijikan.
Setidaknya fenomena-fenomena di atas membuat manusia upacara Bali bekerja
keras dalam memutar budaya sebagai alat produksi potensial. Labirin ini menggoda
siapa saja (pemodal, tenaga kerja) dan produk apa saja (komersialisasi) dalam semangat
penyerbukan silang antarbudaya. Bagi manusia upacara, hal ini bukanlah produk baru
dan usang. Mengapa? Karena dari dulu hingga kini, orang Bali yang beragama hindu
adalah penyembah pura Rambut Sedana sebagai simbol kapitalis etis, yakni berbagai
keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Sungguh sangat rasional, karena setiap
perilaku manusia upacara Bali didasarkan pada harapan-harapan yang bernilai tambah
ekonomi, budaya, politik, ritual dan nilai tambah spiritual. Fakta akurat ini kembali
menempatkan rangkaian kombinasi di antara identitas kultural dan politik identitas
sebagai perilaku modern manusia upacara Bali.
Dinamika perilaku manusia upacara dibangun oleh value chain dari dalam yang
sangat lokal dan dari luar yang sangat plural dan yang saling terkait. Atas dasar itu,
berbagai kepentingan perilaku hadir secara parsial maupun simultan dalam ranah
publik. Anyaman identitas kultural dan politik identitas itulah yang selanjutnya
membuat perilaku modern manusia upacara Bali menjadi sangat dinamis ke depannya.
Teater ini memunculkan perilaku lokal membangun simpul-simpul lintas identitas ke
pengokohan multibudaya. Istilah kerennya, gereget jago kandang bukan karena butuh
tapi lebih karena estetika. Dengan kata lain hidup orang Bali yang hindu, yang budha,
yang islam dan yang kristen diselamatkan oleh budaya.
Membuka pintu pers bagi budaya diibaratkan seperti tabrakan pikiran yang nyaris
membutakan dan tersandung ke dalam sumur tua yang gelap. Syukur tabrakan bom
budaya telah memadu kesadaran perilaku lokal yang etis ke perilaku modern yang lebih
bermoral. Pelajaran pentingnya adalah melokalkan perilaku yang lahir dari serangkaian
proses budaya sebagai pilihan dan keterampilan manusia upacara Bali. Untuk itu, titik
akhir artikel ini ditutup dengan kajian melokalkan perilaku.

Melokalkan Perilaku
Dukungan lokal merupakan basis dari melokalkan perilaku. Adalah jelas bahwa
berperilaku lokal memiliki akar budaya berlatar belakang lokal yang secara signifikan
berbeda. Perbedaan paling mencolok dipamerkan oleh pedagang babi guling, sate dan
gule kambing, serta depot vegetarian. Di bawah bendera lokal, orang dapat mengatakan
bahwa produk lokal bukanlah sekadar tool yang dipakai untuk menguasai dan
mengemudikan pasar yang kompetitif. Melainkan juga sebagai art, engineering, dan
weapon untuk menciptakan keunggulan bersaing di tengah derasnya liberalisasi lokal.
Tanpa kemampuan melokalkan perilaku, konsep perilaku modern manusia upacara tidak
berarti. Inilah alasan mengapa melokalkan perilaku bagi orang Bali juga berarti
melokalkan pembangunan budaya Bali.
Melokalkan perilaku modern memberi legitimasi untuk melakukan apa saja yang
dianggap perlu demi eksistensinya aktor lokal. Ini menjadi sangat penting karena
berperilaku lokal di duga berpengaruh positif dan nyata terhadap pelestarian dan
akselerasi budaya. Mengapa ini bisa terjadi? Karena disinyalir melokalkan perilaku
mewakili glamor fanatisme yang berintelektual etis. Istilah saya, perilaku lokal
cenderung kuat akan menjelma menjadi agama baru ke depannya. Jika bukan orang Bali
yang hindu melokalkan perilakunya, terus siapa lagi yang akan bertanggungjawab
terhadap pelaksanaan tradisi. Begitu juga berlaku bagi orang Papua, orang Amerika,
orang Korea Utara, orang Eropa, dan orang belahan dunia lainnya. Hal ini menandakan
bahan baku budaya untuk disilangkan dan diserbukan sangatlah melimpah. Atau dengan
kata lain, relasi antara penyilangan dan penyerbukan antarbudaya berarti bisnis.
Alibi bisnis sebagai hilir budaya tidak begitu penting untuk diperdebatkan. Karena
itu, pada dasarnya strategi melokalkan perilaku merupakan konsep empiris yang
langsung berkait dengan perilaku modern manusia upacara Bali. Saya berani bertaruh
bahwa melokalkan perilaku jelas berkaitan dengan nilai-nilai untuk memajukan apa
yang orang Bali definisikan sebagai pembangunan budaya.
Mumpuninya kontrol perilaku lokal atas alat-alat produksi, budaya dan kekuasaan
meyakini bekerjanya manusia upacara secara terorganisir yang penuh dengan tragedi.
Akhirnya, saya berharap artikel perilaku modern manusia upacara Bali ini bisa
memberikan kontribusi yang bernilai tambah bagi pemahaman penyerbukan silang
antarbudaya sebagai strategi membangun kebudayaan Indonesia. Tulisan ini juga tak
lepas dari kejelekan dan kekurangan. Untuk itu, saya sangat berharap menerima hujatan
demi kesempurnaan tulisan ini. Karena simpulan artikel ini adalah melokalkan perilaku
di antara identitas kultural dan politik identitas merupakan rangkaian proses budaya
yang tidak lahir dalam ruang hampa. Saya meyakini bahwa perilaku modern manusia
upacara menjadi pilihan sekaligus sebagai kompetensi orang Bali dalam memposisikan
diri dalam konteks globalisasi guna menciptakan keunggulan bersaing yang benar-benar
lokal, yang benar-benar unggul dan yang benar-benar Bali. Terima kasih.
DATA PRIBADI

Nama : I Gusti Made Dharma Hartawan,SE,MM

Tempat Tanggal Lahir : Denpasar, 11 April 1974

Alamat Rumah : Jalan Gunung Selamet XIV / 8 Munang Maning Denpasar Barat

Nama Instansi : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Satya Dharma

Alamat Instansi : Jalan Yudistira Nomor 11 Singaraja, Bali

Nomor Handphone : 081 339 464 700

Alamat Email : dharmahartawan@gmail.com

Copy KTP :