Anda di halaman 1dari 4

1.

Diskusikan penyebab dari penyakit tuberkulosis, bagaimana proses terjadinya


penyakit Tuberkulosis, gejala tuberkulosis, dan pengobatan tuberkulosis?

Jawab:
Pengertian Tuberkulosis (TBC atau TB):
Penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini
merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk
mengobatinya. Bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru (90%)
dibandingkan bagian lain tubuh manusia. Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit
menular yang masih menjadi perhatian dunia. Hingga saat ini, belum ada satu
negara pun yang bebas TBC. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman
mycobacterium tuberculosis ini pun tinggi.

Penyebab Penyakit TB:


Penyakit ini diakibatkan infeksi kuman mikobakterium tuberkulosis yang dapat
menyerang paru, ataupun organ-organ tubuh lainnya seperti kelenjar getah
bening, usus, ginjal, kandungan, tulang, sampai otak. TBC dapat mengakibatkan
kematian dan merupakan salah satu penyakit infeksi yang menyebabkan kematian
tertinggi di negeri ini. Kali ini yang dibahas adalah TBC paru. TBC sangat mudah
menular, yaitu lewat cairan di saluran napas yang keluar ke udara lewat
batuk/bersin & dihirup oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak semua orang yang
menghirup udara yang mengandung kuman TBC akan sakit.
Pada orang-orang yang memiliki tubuh yang sehat karena daya tahan tubuh yang
tinggi dan gizi yang baik, penyakit ini tidak akan muncul dan kuman TBC akan
"tertidur". Namun,pada mereka yang mengalami kekurangan gizi, daya tahan
tubuh menurun/ buruk, atau terus-menerus menghirup udara yang mengandung
kuman TBC akibat lingkungan yang buruk, akan lebih mudah terinfeksi TBC
(menjadi 'TBC aktif') atau dapat juga mengakibatkan kuman TBC yang "tertidur" di
dalam tubuh dapat aktif kembali (reaktivasi).
Infeksi TBC yang paling sering, yaitu pada paru, sering kali muncul tanpa gejala apa
pun yang khas, misalnya hanya batuk-batuk ringan sehingga sering diabaikan dan
tidak diobati. Padahal, penderita TBC paru dapat dengan mudah menularkan
kuman TBC ke orang lain dan kuman TBC terus merusak jaringan paru sampai
menimbulkan gejala-gejala yang khas saat penyakitnya telah cukup parah.

Gejala Penyakit TB:


Penderita yang terserang basil tersebut biasanya akan mengalami demam tapi
tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai
keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat
hilang timbul. Gejala lain, penurunan nafsu makan dan berat badan, batuk-batuk
selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah), perasaan tidak enak
(malaise), dan lemah. Agar bisa mengantisipasi penyakit ini sejak dini, berikut
gejala-gejala penyakit tuberculosis yang perlu Anda ketahui.
Gejala utama; Batuk terus-menerus dan berdahak selama tiga pekan atau lebih.
Gejala tambahan yang sering dijumpai:
Dahak bercampur darah/batuk darah
Sesak nafas dan rasa nyeri pada dada
Demam/meriang lebih dari sebulan
Berkeringat pada malam hari tanpa penyebab yang jelas
Badan lemah dan lesu
Nafsu makan menurun dan terjadi penurunan berat badan

Pengobatan Penyakit TB:


Untuk mendiagnosis TBC, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, terutama di
daerah paru/dada, lalu dapat meminta pemeriksaan tambahan berupa foto
rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan darah, juga tes tuberkulin
(mantoux/PPD). Pengobatan TBC adalah pengobatan jangka panjang, biasanya
selama 3-6 bulan dengan paling sedikit 3 macam obat. Kondisi ini diperlukan
ketekunan dan kedisiplinan dari pasien untuk meminum obat dan kontrol ke
dokter agar dapat sembuh total. Apalagi biasanya setelah 2-3 pekan meminum
obat, gejala-gejala TBC akan hilang sehingga pasien menjadi malas meminum obat
dan kontrol ke dokter.
Jika pengobatan TBC tidak tuntas, maka ini dapat menjadi berbahaya karena
sering kali obat-obatan yang biasa digunakan untuk TBC tidak mempan pada
kuman TBC (resisten). Akibatnya, harus diobati dengan obat-obat lain yang lebih
mahal dan "keras". Hal ini harus dihindari dengan pengobatan TBC sampai tuntas.
Pengobatan jangka panjang untuk TBC dengan banyak obat tentunya akan
menimbulkan dampak efek samping bagi pasien. Efek samping yang biasanya
terjadi pada pengobatan TBC adalah nyeri perut, penglihatan/pendengaran
terganggu, kencing seperti air kopi, demam tinggi, muntah, gatal-gatal dan
kemerahan kulit, rasa panas di kaki/tangan, lemas, sampai mata/kulit kuning. Itu
sebabnya penting untuk selalu menyampaikan efek samping yang timbul pada
dokter setiap kali kontrol sehingga dokter dapat menyesuaikan dosis, mengganti
obat dengan yang lain, atau melakukan pemeriksaan laboratorium jika diperlukan.
Pengobatan untuk penyakit-penyakit lain selama pengobatan TBC pun sebaiknya
harus diatur dokter untuk mencegah efek samping yang lebih serius/berbahaya.
Penyakit TBC dapat dicegah dengan cara:
Mengurangi kontak dengan penderita penyakit TBC aktif.
Menjaga standar hidup yang baik, dengan makanan bergizi, lingkungan yang
sehat, dan berolahraga.
Pemberian vaksin BCG (untuk mencegah kasus TBC yang lebih berat). Vaksin ini
secara rutin diberikan pada semua balita.
Perlu diingat bahwa mereka yang sudah pernah terkena TBC dan diobati, dapat
kembali terkena penyakit yang sama jika tidak mencegahnya dan menjaga
kesehatan tubuhnya.
2. Pendanaan penyakit ini sebagian besar dari Global Fund atau pemberi dana dari
luar negeri, sedangkan porsi negara untuk investasi dalam penyakit ini masih
terbilang cukup kecil. Jelaskan mengapa?

Jawab:

Sebagian besar dana Negara Indonesia banyak ke arah Infrastruktur dan


Pendidikan sehingga anggaran dana untuk kesehatan pun menurun khususnya
TBC. Berdasarkan data tentang penyakit ini yang diperoleh melalui pedoman
TEROBOSAN MENUJU AKSES UNIVERSAL STRATEGI NASIONAL PENGENDALIAN TB
DI INDONESIA 2010-2014, penganggaran mengenai TB berdasarkan Komitmen
pemerintah dalam pembiayaan kesehatan untuk program TB semakin meningkat.
Pada tahun 2009, alokasi anggaran kesehatan pemerintah untuk operasional
program TB sebesar 145 milyar rupiah, meningkat 7,1% dibandingkan tahun
sebelumnya sebesar 135 milyar rupiah. Meskipun meningkat, akan tetapi
kontribusi pemerintah tersebut hanya mencukupi 23,4% dari total kebutuhan satu
tahun sebesar 621,5 milyar rupiah. Kesenjangan pendanaan tersebut dipenuhi
melalui bantuan donor internasional yang jumlahnya mencapai 269,36 milyar
pada Tahun 2009, atau sebesar 45% dari tahun sebelumnya. Peningkatan
kebutuhan anggaran untuk program pengendalian TB di Indonesia dipicu oleh
keinginan untuk percepatan dalam pencapaian target pembangunan milenium.
Meskipun terdapat dana dari pemerintah pusat dan daerah serta dana
internasional yang cukup besar, pada tahun 2010 masih terdapat kekurangan dana
sebesar 31% dari total kebutuhan program. Proporsi kekurangan dana ini telah
menurun dari tahun 2009 (39%). Strategi pembiayaan yang harus dilakukan untuk
menutup kesenjangan tersebut adalah meningkatkan sumber pembiayaan
kesehatan nasional dan daerah untuk program TB. Sampai dengan saat ini,
komitmen daerah (provinsi dan kabupaten/kota) untuk membiayai program TB
masih relatif rendah. Peningkatan komitmen daerah harus terus diupayakan dalam
kerangka desentralisasi kesehatan. Selain itu, kebijakan alokasi anggaran (resource
allocation policy) menjadi hal yang penting dalam mendorong keberlangsungan
pembiayaan kesehatan bagi program pengendalian TB nasional. Dengan alokasi
anggaran yang tepat dan asumsi pertumbuhan ekonomi daerah yang mencapai
angka 6-7% (Badan Pusat Statistik), diharapkan dalam waktu lima tahun ke depan
(2010-2014) kesenjangan anggaran kesehatan program TB dapat berkurang dari
31% di tahun 2010 menjadi 13-15% pada tahun 2014. Penurunan kesenjangan ini
dapat dicapai dengan mengutamakan peningkatan kemampuan daerah dan
penguatan komitmen daerah untuk mencapai target indikator pembangunan
milenium 2015.

Alokasi APBD untuk pengendalian TB secara umum rendah dikarenakan tingginya


pendanaan dari donor internasional dan banyaknya masalah kesehatan
masyarakat lainnya yang juga perlu didanai. Pembiayaan program TB saat ini masih
mengandalkan pendanaan dari donor internasional dan alokasi pendanaan
pemerintah pusat untuk pengadaan obat. Alokasi anggaran pengadaan obat ini
menurun dalam beberapa tahun terakhir sehingga menimbulkan stock-out.
Rendahnya komitmen politis untuk pengendalian TB merupakan ancaman bagi
kesinambungan program pengendalian TB. Programpengendalian TB nasional
semakin perlu penguatan kapasitas untuk melakukan advokasi dalam
meningkatkan pembiayaan dari pusat maupun daerah.

Dengan demikian perlu ditingkatkan lagi kemampuan daerah untuk dapat


menambah alokasi dana pada bidang kesehatan khusunya TB, diharapkan dapat
menurunkan tingkat penderita penyakit TB.

3. Kini Indonesia telah menerapkan sistem jaminan kesehatan nasional dalam BPJS,
apakah penyakit ini sudah masuk dalam pembiayaan di BPJS? Bila sudah, berapa
nilainya? Bila belum, identifikasi mengapa hal tersebut belum masuk dalam
pembiayaan di BPJS?
Jawab:
Pada saat ini penyakit TB sudah masuk dalam pembiayaan di BPJS. Pemerintah
saat ini menjamin biaya pengobatan gratis baik penyediaan obat maupun tingkat
pelayanan dan fasilitas mulai dari Puskesmas sampai ke Rumah Sakit. Obat anti TB
gratis tersedia di puskesmas dan juga balai pengobatan penyakit paru-paru,
sedangkan disebagian besar rumah sakit obat anti TB masih berbayar. Bagi
penderita TB yang berobat di puskesmas gratis sejak dilakukan diagnosa. Penderita
dapat memeriksakan diri ke dokter puskesmas kemudian melakukan tes dahak dan
rontgen di puskesmas secara gratis dengan program BPJS atau Askes.