Anda di halaman 1dari 3

AKU BERHARGA DI MATA TUHAN

AUGUST 26, 2012 KONYA 1 COMMENT

Papa mama saya menikah dalam usia yang masih sangat muda. Pada saat
kehadiran anak pertama, anak kedua dan anak ketiga keadaan keluarga saya masih
baik-baik saja dan belum terasa adanya tekanan. Namun ketika saya ada di dalam
kandungan, mama saya merasakan tekanan yang begitu berat. Setiap hari tidak ada
kedamaian, mama saya selalu menangis karena sering sekali bertengkar dengan
papa saya. Pertengkaran yang sumbernya sebenarnya adalah masalah ekonomi
tersebut akhirnya merembet kemana-mana. Sampai akhirnya mama saya
memutuskan untuk bunuh diri. Pada waktu itu mama saya mengambil keputusan
bunuh diri selain untuk menggugurkan saya, juga untuk mengakhiri hidupnya.

Walaupun sang ibu ingin melarikan diri dari kenyataan namun niatnya itu gagal,
akhirnya John Nathanael lahir pada tahun 1964 dalam keadaan cacat.

Keluarga memperlakukan saya antara kasih sayang dan rasa malu karena
mempunyai anggota keluarga yang cacat. Jadi kalau ada sanak saudara dari mama
saya atau teman-teman daripada kakak-kakak saya berkunjung ke rumah, saya
disuruh tetap berada di dalam kamar, tidak boleh keluar. Saya tidak boleh
menemui siapa-siapa, bahkan untuk buang air kecil, saya mengalami kesulitan
untuk keluar dari kamar.

Pada usia delapan tahun, saya mulai menunjukkan kekecewaan terhadap mama
saya yang nampak dalam kelakuannya saya sehari-hari. Suatu saat ketika saya
sedang diberi makan oleh mama saya, makanan itu saya buang. Mama saya
menjadi marah sekali dan sambil mengucapkan kata-kata yang amat menyakiti hati
saya. Saya amat tertolak dan kecewa terhadap mama saya.

Sejak umur delapan atau sembilan tahun itu saya baru menyadari kalau saya
mempunyai kelainan dibandingkan dengan anak-anak yang lain. Terkadang teman
saya bilang kalau baju yang saya pakai, terdapat gambar yang bagus, akan tetapi
saya tidak tahu baju apa yang sedang saya pakai dan gambar apa yang ada di baju
saya. Keadaan itulah yang membuat saya kecewa dan sedih. Dalam kekecewaan
itu, ada dorongan diluar kesadaran saya untuk mencoba bunuh diri.

Dalam kepolosan pemikiran seorang anak, John berpikir dengan gantung diri
menggunakan karet lompat tali, dia dapat mengakhiri hidupnya. John sempat
beberapa saat tidak sadarkan diri, tapi usaha bunuh dirinya tidak berhasil. Akhirnya
John menemukan seorang yang menjadi teman akrabnya yang mau menemani hari-
hari hidupnya.
Selama hidup saya hanya mempunyai satu orang teman akrab. Saya hanya bisa
berteman dengan dia dan bersahabat dengan harmonika yang selalu setia
menemani. Memang karena saya tidak bisa kemana-mana, saya melakukan apa
saja yang bisa saya lakukan untuk melewati hari-hari saya yang begitu saya
rasakan kelam. Banyak orang datang kepada saya dan mengatakan bahwa Tuhan
itu baik dan adil. Namun dalam hati saya timbul pertanyaan, mengapa jika Tuhan
itu baik dan adil mengijinkan saya lahir dalam keadaan seperti ini. Waktu remaja,
saya merasakan frustasi dan keadaan itu yang harus saya lewati.

Pada suatu ketika, Tuhan mulai menjamah kehidupan John melalui salah satu
teman kakaknya yang sedang bekerja di rumah John.

Ketika dia sedang bekerja, saya ambil gitar dan memainkannya di dekatnya, lalu
dia mulai bertanya kepada saya, apa kegiatan kamu sehari-hari kalau sedang di
rumah? Saya bilang saya tidak kemana-mana dan tidak ada kegiatan apa-apa, lalu
dia mengajak saya untuk ikut ke gereja jika tidak ada kegiatan. Ketika saya
bercakap-cakap dengan dia, saya merasakan kedekatan, jadi saya mulai berani
untuk ikut bersamanya ke gereja. Mulai saat itu saya mulai rajin beribadah. Saya
sangat tersentuh kepada kebaikannya, karena tempat tinggalnya cukup jauh dari
rumah saya, sedangkan dia hanya mengendarai sepeda motor untuk menjemput
saya. Akan tetapi dia lakukan juga untuk menjemput saya dengan tulus. Melihat
ketulusan dan kebaikan orang ini, saya waktu itu meyakinkan diri saya untuk
mempercayai apa yang dikatakan teman saya ini bahwa Tuhan itu sangat baik,
karena saya melihat kehidupan teman saya ini. Kalau teman saya begitu baik
kepada saya apalagi dengan Tuhannya. Tiba-tiba saya menemukan bahwa diri saya
begitu berarti di hadapan Tuhan.

Yang Tuhan mau dalam hidup saya adalah supaya saya mengampuni mama saya.
Dan ketika saya mau mengambil keputusan untuk mengampuni, waktu itu saya
rasakan saya mengalami suatu kelepasan yang luar biasa dan Tuhan itu hadir
dalam pribadi Bapa dalam hidup saya, karena Dia juga mengetahui kerinduan saya
untuk bertemu dengan Bapa.

Di dalam keberadaan saya seperti ini, saya dapat memandang bahwa hidup ini
indah. Saya bisa memberikan yang terbaik, walaupun saya dulu menganggap itu
tidak mungkin. Ketika Tuhan pulihkan saya, Tuhan bukakan kepada saya kalau
saya adalah seorang pelayan Tuhan di dalam penyembahan, kesaksian dan
bernyanyi. Sejak saat itu saya menjalani hidupnya dengan sukacita dan penuh
pengharapan kepada Tuhan. Bahkan dengan cara yang ajaib Tuhan
mempertemukan John dengan Mariane dan mempersatukan mereka dalam
pernikahan yang kudus.
Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan
perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan
tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. (1 Petrus 3:4)