Anda di halaman 1dari 33

1

Referat

RHINITIS HIPERTROFI

Pembimbing :

dr. Evi Handayani, SpTHT, KL

Disusun oleh :

Rania Merriane Devina (110201222)

Ratnasari (1102012229)

Kepaniteraan Klinik Ilmu THT

RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang

Periode Mei 2017

2

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, Puji dan syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Allah SWT
yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, serta shalawat dan salam kepada Nabi
Muhammad SAW, dan para sahabat serta pengikutnya hingga akhir zaman. Karena atas
rahmat dan ridha-Nya, penulis dapat menyelesaikan Referat yang berjudul “Rhinitis
Hipertrofi”. Penulisan refarat ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas dalam menempuh
kepanitraan klinik di bagian obstetrik dan ginekologi di RSUD dr. Drajat Prawiranegara.

Pada kesempatan ini, perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu, terutama kepada dr.Evi
Handayani, SpTHT KL yang telah memberikan arahan serta bimbingan ditengah
kesibukan dan padatnya aktivitas beliau.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat dalam penulisan
refarat ini. Untuk itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun
dari para pembaca. Akhir kata penulis berharap semoga refarat ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Serang, Mei 2017

Penulis

3

BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Obstruksi hidung kronis merupakan gejala umum penyakit hidung. Hipertropi
konka nasalis inferior adalah salah satu mekanisme mendasar yang paling sering terjadi.1
Hipertropi konka dapat bilateral atau unilateral. Hipertropi konka bilateral disebabkan oleh
peradangan hidung sebagai akibat dari alergi dan non-alergi, pemicu lainnya adalah
lingkungan (seperti debu dan tembakau).2 Hipertropi konka unilateral berhubungan dengan
deviasi kongenital atau deviasi septum kontralateral.3,4
Hidung tersumbat merupakan salah satu sebab yang membuat orang datang berobat
ke spesialis THT. Salah satu penyebab hidung tersumbat adalah hipertrofi konka.1
Walaupun hidung tersumbat ini tidak mengancam nyawa tetapi mempengaruhi kualitas
hidup seseorang, kehidupan sosial sehari-hari dan bekerja.5
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan
penunjang antara lain pemeriksaan radiologi dan rhinomanometry. Anamnesis yang cermat
mengenai riwayat hidung tersumbat sebagai akibat hipertrofi konka. Keluhan lain dapat
berupa sakit kepala, gangguan penghidu, rasa kering dan kasar pada faring. Keluhan ini
dapat diikuti dengan adanya post nasal drip, sekresi hidung yang berlebih serta gangguan
fungsi tuba.4
Hipertrofi konka merupakan istilah yang diperkenalkan pertama kali tahun 1800
yang diartikan sebagai pembesaran konka inferior dan istilah ini masih dipakai sampai
sekarang. Hipertrofi adalah pembesaran dari organ atau jaringan karena ukuran selnya yang
meningkat. Sebaliknya hiperplasia adalah pembesaran yang disebabkan oleh bertambahnya
jumlah sel. Hiperplasia dan hipertrofi lapisan mukosa dan tulang dari konka inferior
merupakan dua faktor yang dapat menerangkan terjadinya pembesaran konka inferior.6
Secara epidemiologi 20% populasi dengan obstruksi hidung kronik disebabkan olah
hipertrofi konka pada suatu penelitian di Eropa.7,8

12.5 mm dan tinggi 7 mm.11 Panjangnya kira-kira 50-60 mm dengan tinggi 7.5 mm dan lebar 3.12. Konka superior berasal dari etmoturbinal ketiga dan konka suprema dari etmoturbinal kelima. Konka terdiri dari bagian mukosa di sebelah luar dan bagian tulang di sebelah dalam.15 . Bagian paling anterior dari konka tidak mengandung pembuluh darah sehingga reseksi pada bagian ini tidak direkomendasikan karena menghilangkan obstruksi hidung.12 Lapisan tulang terdiri dari tulang cancellous. Lamina propria bagian medial lebih tebal dari bagian lateral.9 Konka terdiri dari konka inferior.10 Secara embriologi konka inferior berasal dari prominens maksilofasial. konka media dan konka superior serta suprema.2 mm secara histologi.13 Rata-rata tulang ini tebalnya 1.15 Tulang bagian anterior lebih tebal dari bagian posterior.10. Konka suprema ini rudimenter. Panjang konka ini 40 mm. Mukosanya memiliki epitel kolumnar pseudostratifed bersilia dengan sel goblet dan banyak mengandung pembuluh darah dan kelenjar lendir. Hal ini didukung oleh strukturnya yang terdiri dari tulang yang dibatasi oleh mukosa. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. ANATOMI DAN HISTOLOGI HIDUNG Kavum nasi berbatasan secara lateral dengan dinding lateral hidung.14 Bagian medial lebih tebal dari bagian lateral.7. dengan tinggi rata-rata 14. banyak sinus venosus pada dinding lateral yang tipis dan sedikit arteri.10 Konka mempunyai peran penting dalam fisiologi hidung.15 Epitel dipisahkan dengan lamina propria oleh lamina basalis. Struktur- struktur enting terdapat pada dinding lateral ini yaitu konka. Diantara ketiganya yang terbesar adalah konka inferior.14 Konka terutama dilapisi oleh epitel kolumnar pseudostratified dan mengandung 10% sel goblet.10. kelenjar seromukus.8 mm. Mukosa ini berisi jaringan penunjang yang mengandung sedikit limfosit. ostium sinus dan orifisium duktus lakrimal gambar 1).11 Sementara itu konka media berkembang dari etmoturbinal kedua.

hidung tersumbat. influensa. telinga. Penyakit ini sering ditemukan. Segmen anterior disebut head. dan merupakan manifestasi dari rinitis simpleks (common cold).11 Segmen dari konka dapat dibagi atas segmen anterior. Anatomi Hidung Konka inferior mempunyai tulang tersendiri yang melekat di dinding medial sinus maksila. beberapa penyakit eksantem (seperti morbilli. pertusis). Rinitis alergi merupakan penyebab tersering dari rinitis. varisela. Konka media mempunyai fungsi yang sangat besar karena merupakan drainase aliran sinus paranasal sekitarnya melalui meatus media. dan beberapa penyakit infeksi spesifik. media dan posterior. sinus dan tenggorokan juga dapat terlibat. rhinitis dapat dibedakan menjadi 2.12 B. Mata. median disebut body dan posterior tail. Menurut sifatnya. commond cold) Rintis Akut adalah radang akut pada mukosa hidung yang disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Rhinitis akut (coryza. 5 Gambar 1. RHINITIS Rinitis didefinisikan sebagai peradangan dari membran hidung yang ditandai dengan gejala kompleks yang terdiri dari kombinasi beberapa gejala berikut : bersin. yaitu : 1. hidung gatal danrinore.9. Penyakit ini dapat mengenai hamper setiap orang pada suatu waktu dan .

ETIOLOGI Penyebab umum rhinitis hipertrofi konka adalah infeksi hidung berulang. Proses infeksi dan iritasi yang kronis akan dapat menyebabkan hipertrofi konka nasalis. 2. iritasi kronis mukosa hidung karena rokok dan bahan-bahan iritan industri. Pada kasus septum deviasi. di mana pada sisi hidung kontralateral dapat terjadi hipertrofi konka inferior dan media yang merupakan mekanisme kompensasi untuk mengurangi luasnya rongga hidung. RHINITIS KRONIS DENGAN HIPERTOPI KONKA INFERIOR 1. C. Gejala utama rinitis hipertrofi adalah hidung tersumbat. Tindakan yang paling ringan seperti kauter sampai pemakaian laser dapat dilakukan untuk mengatasi keluhan hidung tersumbat akibat hipertrofi konka. Keadaan ini memerlukan tindakan koreksi karena pengobatan dengan medikamentosa saja sering tidak memberi hasil yang memuaskan. Rhinitis kronis Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang. atau karena rinitis vasomotor. karena alergi. Septum deviasi juga dapat menyebabkan penyakit ini secara kontralateral.5 2.17 . dan rinitis vasomotor juga dapat menyebabkan penyakit ini.16. atau sebagai lanjutan dari rinitis alergi dan vasomotor. Dan yang termasuk dalam rinitis kronis adalah rinitis hipertrofi. Penggunaan tetes hidung yang berkepanjangan. rinitis alergi. 6 sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggipada awal musim hujan dan musim semi. DEFENISI Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa dan rhinitis hipertrofi merupakan suatu mekanisme yang dapat timbul akibat infeksi berulang dalam hidung dan sinus. rinitis sika (sicca) dan rintis spesifik.

10 Peran yang terakhir salah satu dilakukan oleh sistem mukosilier. PATOFISIOLOGI Pada edema mukosa nasal berperan sitem saraf simpatis dan parasimpatis dari nervus vidian yang juga berperan dalam memproduksi sekret. Rangsangan parasimpatis merelaksasi pembuluh darah dan kongesti dan bahkan edema pada jaringan lunak. penampang lintang jalan nafas menjadi sangat luas sehingga menciptakan diffuser effect yang mengubah aliran laminar menjadi aliran turbulen.19 Derajat perubahan aliran udara ini sangat dipengaruhi oleh anatomi kavum nasi yang setiap individu berbeda disamping kecepatan udara. Nervus vidian berasal dari nervus petrosal superfisial untuk komponen parasimpatis. Derajat perubahan laminar ke aliran turbulen dianggap karena melambatnya aliran kecepatan udara yang diinspirasi.9. Setelah melewati nasal valve. Ketika udara mencapai nasal valve yaitu antara vestibulum dengan kavum nasi maka udara pada saat itu melewati daerah yang paling sempit. Hal ini akan memperpanjang kontak dengan mukosa.12. Tekanan simpatis ke pembuluh darah hidung sebagian dipengaruhi oleh tekanan parsial karbon dioksida (pCO2) melalui kemoreseptor karotis dan aorta. aliran udara masuk ke vestibulum dengan arah vertikal oblik. memberikan .10 Konka melindungi hidung dengan mengatur temperatur dan kelembaban udara inspirasi dan menyaring benda-benda asing yang terhirup bersama udara inspirasi. yang pada lapisan berbeda berputar bersama- sama. sedangkan komponen simpatis berasal dari nervus petrosal profunda. Fungsi pembersihan juga dilakukan oleh mucous blanket yang dihasilkan oleh sel goblet di superfisial epitel dan kelenjar epitel di lamina propria. Sedangkan parasimpatis mengatur volume darah pada mukosa hidung dengan mempengaruhi kapasitas pembuluh darah. 7 3.15 Sistem simpatis mengatur aliran darah ke mukosa hidung dengan mengatur resistensi pembuluh darah. Secara aerodinamik keadaan ini disebut aliran laminar yang artinya tidak ada pembauran lapisan udara yang berbeda.18 Ketika inspirasi. Peningkatan resistensi pembuluh darah akan mengakibatkan aliran darah sedikit ke mukosa dan menyebabkan dekongesti.

Reseksi anterior dari konka sebagai bagian dari daerah nasal valve mengurangi kontak udara-mukosa karena aliran udara laminar lebih banyak. dan memudahkan hidung dalam membersihkan.21 Udara yang diinspirasi dihangatkan dan dilembabkan sebelum mencapai saluran nafas bawah. juga memberikan interaksi yang penting secara fungsional antara udara inspirasi dengan mukosa. Lama kelamaan epitel akan kehilangan silia dan berubah bentuk menjadi epitel kuboid bertingkat serta bertambahnya sel goblet.19 Aliran turbulen mempunyai energi kinetik yang lebih besar dari aliran laminar sehingga perubahan antara udara yang diinspirasi dan mukosa hidung lebih efektif dan intens di daerah turbulen. dan gangguan vasomotor.9.9. kelembaban dan polusi akan merangsang kelenjar di hidung menjadi hiperaktif.20 Siklus nasal merupakan fenomena fisiologis yang ditandai dengan perubahan antara lumen yang sempit dengan lumen yang luas di kavum nasi. PATOGENESIS Beberapa faktor yang mempengaruhi membran mukosa hidung antara lain suhu udara. Perubahan aliran udara dan air conditioning pada reseksi konka menunjukan gangguan pola aliran udara. parfum.22 Akibat rangsangan yang berlangsung lama dan berulang. Hal ini juga dapat ditimbulkan oleh rangsangan akibat asap rokok. 8 kontribusi penciuman. mukosa konka akan menebal dan terjadi pelebaran pembuluh darah mukosa terutama pleksus kavernosus konka. bau-bauan yang mengiritasi. Selanjutnya hubungan antara kavum nasi yang relatif kecil dibandingkan dengan permukaan mukosa yang luas yang selanjutnya diperluas oleh konka. Rongga pleksus kavernosus makin melebar sementara otot polosnya mengalami atrofi. Periosteum . melembabkan serta menghangatkan udara yang dihirup. Aliran turbulen akan menyebabkan kontak antara udara inspirasi dengan mukosa nasal.21 4.9. Pada submukosa terjadi edema. Perubahan kongesti dan dekongesti dari mukosa nasal disebabkan kapasitas pembuluh darah vena di konka inferior dan konka media yang diatur oleh sistem saraf otonom. infiltrasi sel bulat dan sel plasma serta fibroblas.

kental dan mukopurulen. rasa kering dan kasar pada faring. seperti buah murbei yang terbentuk akibat lekukan penebalan mukosa oleh duktus kelenjar dan infiltrasi sel sekitar kelenjar.22 5.4. GEJALA KLINIS Gejala utama konka hipertrofi adalah sumbatan hidung.5 Sekret hidung biasanya banyak.4.17 6. Hipertrofi dapat terjadi pada seluruh ataupun sebagian konka inferior. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis. dan di dasar rongga hidung. rasa berat di kepala. Sekret mukopurulen yang banyak biasanya ditemukandi antara konka inferior dan septum. gangguan penghidu.24 . dan gangguan penghidu. dan dapat pula terjadi pada konka media walaupun jarang.23 Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior didapatkan hipertrofi konka.22 Penilaian derajat keluhan ini dapat dilakukan secara Visual Analog Scale (VAS) dengan skala 0-10. Pada stadium awal dari pemeriksaan tampak membran mukosa membengkak dan merah kemudian terjadi konka hipertrofi.16. Bentuk papiler akan tampak pada ujung posterior bagian bawah konka inferior dan mediae. Anamnesis yang cermat mengenai riwayat hidung tersumbat sebagai akibat hipertrofi konka.6. Beberapa penderita mengeluhkan sakit kepala. Keluhan ini dapat diikuti dengan adanya post nasal drip. 9 menebal dan terbentuk tulang baru di bawahnya akibat aktivitas osteoblas.11 Yanes membagi pembesaran konka inferior atas A) konka inferior mencapai garis yang terbentuk antara midlle nasal fosa dengan lateral hidung B) Pembesaran konka inferior melewati sebagian dari kavum nasi C) Pembesaran konka inferior telah mencapai nasal septum (gambar 2). Keluhan lain dapat berupa sakit kepala. pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang antara lain pemeriksaan radiologi dan rhinomanometry. sekresi hidung yang berlebih serta gangguan fungsi tuba.5 Mukosa konka lebih tebal dan tidak melekuk bila ditekan.

Pada rinoskopi posterior dapat dinilai batas pemisah konka kanan dan kiri serta ujung posterior konka inferior dan mediae. apabila konka inferior tidak ada kontak dengan septum atau dengan dasar hidung. dan pemeriksaan rhinomanometry dapat menentukan tahanan dalam rongga hidung dan besarnya aliran udara. Dengan penataan tomografi posisi aksial dapat diperoleh gambaran anatomi yang jelas dari sumbatan pada hidung. dasar hidung dan kompartemen superior sehingga terjadi sumbatan hidung total. Pemeriksaan ini ditujukan untuk menilai besar konka dibandingkan rongga hidung. derajat 4 hipertrofi berat. apabila terjadi kontak dengan septum. 10 Secara nasoendoskopi didapatkan pembesaran konka posterior A) Konka inferior belum melewati garis koana B) Konka inferior telah mencapai garis koana C) Konka inferior telah melewati garis koana (gambar 3). derajat 2 hipertrofi ringan. Pemeriksaan radiologi tidak mutlak dilakukan untuk menilai sumbatan hidung. derajat 3 hipertrofi sedang. apabila terjadi kontak dengan septum dan dasar hidung.24 Sementara itu Businco membagi atas: derajat 1 normal. jika terjadi kontak dengan septum. Bila perlu dapat diberikan obat vasokonstriktor lokal agar diperoleh jangkauan pandang yang lebih luas.22 .25 Pemeriksaan klinis dengan rinoskopi anterior dapat menilai ukuran konka dengan memperhatikan septum nasal dan dinding lateral rongga hidung.

Umur dan jenis kelamin dilaporkan tidak mempunyai perbedaan yang signifikan terhadap tebal dan tinggi lapisan konka.98±0.13 .03 mm.24 mm dan 1.3 Pa/cm3/detik. 3.12 mm. Tinggi rata-rata dari konka inferior adalah 7. tengah dan posterior berturut- turut 5.75 mm.10.27 7. Penilaian Konka Inferior Dengan Tomografi Komputer Ketebalan mukosa dan tulang konka normal telah dipelajari dengan tomografi komputer dan histologi.12 Tomografi komputer memperlihatkan ukuran ketebalan anterior dari medial dan lateral mukosa masing-masing 3. Sedangkan untuk sisi lateral 1. Pengukuran juga dapat dilakukan dengan atau tanpa dekongestan untuk memperoleh struktur yang terlibat pada hipertrofi konka apakah mukosa saja atau tulang juga mengalami pembesaran. Tomografi komputer akan memberikan informasi mengenai ukuran komponen mukosa dan komponen tulang dari konka. Ketebalan mukosa pada sisi medial konka inferior di bagian anterior.3Pa/cm3.06 mm.78 pada bagian anterior. Penelitian pada cadaver menunjukan ketebalan mukosa medial 1.33 mm dan 2.24 Pa/cm3/detik. 11 Pemeriksaan rinomanometri didapatkan resistensi nasal lebih 0. Nilai ini lebih tipis karena pada cadaver komponen vaskuler sudah kolaps.13 Rata-rata tebalnya tulang ini 1.12.10. dimana pada keadaan normal pada orang dewasa tekanan ini berkisar 0. tengah dan posterior.27 mm.10. 5.3 cm2.33 mm.26 Olszewska mendapatkan pemeriksaan rinomanometri pada hipertrofi konka rata-rata 0.76 mm dan lateral 1. Pada akustik rinomanometri keluhan hidung tersumbat bila area penampang lintang kavum nasi kecil dari 0.6 mm dengan pengukuran pada tomografi komputer.15-0.17 mm dan 5. Masih terdapat kontroversi hubungan penyempitan ini dengan keluhan derajat obstruksi.

95 mm dan bagian posterior 10.12 Secara tomografi komputer pembesaran yang signifikan pada mukosa medial lebih lebar 5. bagian tengah 1.15.33 mm dibanding konka kontra lateral sebagai kontrol. Nilai rata-rata bagian medial konka inferior hipertrofi adalah 10. Pada hipertrofi konka ketebalan bagian tulang pada sisi anterior 1.28 Secara umum pembesaran konka pada septum deviasi untuk melindungi kavum nasi dari kekeringan dan terbentuknya krusta karena udara yang eksesif. 12 8.7 mm. Peningkatan penebalan lapisan tulang didapatkan dua kali lipat. Hipertrofi Konka Pada Tomografi Komputer Dan Histopatologi Pada kasus-kasus pembesaran konka unilateral yang disebabkan oleh septum deviasi kontralateral didapatkan hipertrofi mukosa dan tulang. dan kelenjar submukosa.15 Jumlah pembuluh darah juga meningkat dengan kongesti dan dilatasi serta didapatkan edema jaringan stroma.78 mm dan bagian posterior 1.01 mm dibanding dengan ukuran rata-rata normal 5.54 untuk posterior.12 Hipertrofi konka inferior bagian yang mengalami hipertrofi maksimal dimulai pada sisi media (tengah) diikuti bagian anterior kemudian posterior.12. sinus venosus. Jumlah sel eosinofil pada rinitis alergi meningkat sedangkan pada rinitis non alergi didapatkan dominasi kelenjar sel mucous asinic. Hal ini menguatkan pemikiran bahwa hiperplasia seluler terbukti ditemukan pada hipertrofi konka.56 untuk anterior dan 5. Sementara pada rinitis alergi tidak ditemukan densitas vaskular yang lebih banyak.15 Pemeriksaan di bawah mikroskop elektron hasil biopsi konka diperoleh lebih banyak epitel kolumnar pseudo-stratified.2 mm dibanding ukuran normal yaitu 5. Peningkatan lebar dari mukosa medial disebabkan penebalan lamina propria yang mengandung sel inflamasi subepitel.58 mm.12 .13 Pada pembesaran konka inferior bilateral oleh karena rinitis alergi didapatkan peningkatan jumlah sel goblet dan penebalan membran basalis.12 Schimidt seperti dikutip oleh Berger melaporkan terjadi peningkatan pembuluh darah pada rinitis vasomotor dan fenomena ini terjadi berhubungan dengan pembentukan pembuluh darah baru.12.8 mm. Untuk bagian anterior 9.

yang menyebabkan rinitis medikamentosa dan perubahan mukosa yang irreversibel. serta mengurangi inflamasi dalam mukosa hidung. sehingga pemakaiannya harus hati-hati pada pasien-pasien hipertensi. untuk menurunkan permeabilitas kapiler. vasokonstriksi. 13 Oleh karena itu target pembedahan pada hipertrofi konka adalah pada sisi medial dan juga sisi inferior. Obat-obat adrenergik topikal dapat menyebabkan rebound nasal congestion. penyakit jantung . Pada pembesaran konka bilateral ini tidak ditemukan pembesaran dari tulang konka.12.15 9.29 Medikamentosa Penatalaksanaan ditujukan untuk mengatasi faktor penyebab dan sumbatan hidung dengan mengurangi ukuran konka.15 Sementara itu sisi lateral dari konka harus dipertahankan karena daerah ini kaya kelenjar. dan penting dalam menjaga kelembaban udara yang diinspirasi dan mempertahankan fungsi normal dari sistem transport mukosilier. Pada rinitis alergi dapat diberikan glukokortikoid. (3) mengandung sedikit arteri sehingga tidak meningkatkan pendarahan perioperatif. tidak menganggu pada jalan nafas. Juga dapat menggunakan antihistamin yang memblok pengambilan histamin oleh reseptor sel target dan dapat menghambat pelepasan mediator inflamasi. Walaupun demikian reduksi pada regio inferior ini dapat dilakukan karena (1) kaya akan sinus venosus sehingga dapat mengurangi kongesti yang berlebihan dan obstruksi.17 Obat-obat adrenergik seperti phenylamines dan imidazolines dapat mengurangi kongesti mukosa dan edema. Pada sisi inferior pembesaran ini tidak begitu signifikan. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan hipertrofi konka dapat berupa terapi medikamentosa dan pembedahan. (2) mempunyai kelenjar yang sedikit sehingga kemungkinan keringnya mukosa tidak terjadi. Terapi medikamentosa difokuskan pada kondisi yang menyebabkan rinitis hipertrofi. Sedangkan obat adrenergik oral dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskular pada pasien yang rentan.

32 Pembedahan Pada kasus kronik telah terbentuk jaringan ikat yang disebabkan oleh inflamasi kronik yang tidak respon lagi dengan medikamentosa setelah 2 bulan pengobatan. dekongestan. radiofrekwensi. turbinoplasti inferior. tindakan bedah dapat dilakukan.29 Dekongestan baik sistemik maupun lokal efektif dalam pengobatan sumbatan hidung karena hipertrofi konka. walaupun demikian mekanisme dan target seluler pasti tidak diketahui. reseksi dan koagulasi.4 Pada kasus akut dimana pembesaran konka terjadi karena pengisian dari sinus venosus sehingga pembesaran konka dapat dikecilkan dengan pemberian dekongestan topikal. mukosa hidung kering dan krusta. edema.29. elektrokoagulasi. Efek antikolinergik dari antihistamin dapat mengurangi produksi sekret hidung dan glukokortikoid topikal dapat mengurangi pelepasan mediator inflamasi. kortikosteroid.29. sel mast stabilizer dan imunoterapi. koagulasi argon plasma. Ipratropium bromida topikal adalah agen antikolinergik yang dapat mengurangi sekresi kelenjar submukosa.31 Kortikosteroid efektif digunakan untuk sumbatan hidung. Terapi medikamentosa meliputi pemberian antihistamin.12. Diantaranya adalah lateroposisi.30. Kortikosteroid mengurangi hiperresponsif saluran nafas dan menekan respon inflamasi. . Pemakaian sistemik oral dekongestan menimbulkan efek samping seperti palpitasi dan susah tidur. laser. turbinektomi submukosa. dan hipersekresi mukus. atau stroke. turbinektomi total dan parsial.27 Secara garis besar teknik pembedahan ini dapat dikelompokan atas lateral posisi (merubah posisi). Pemakaian dekongestan topikal jangka lama menyebabkan rinitis medikamentosa (rebound nasal congestion) dan takifilaksis. reseksi submukosa dengan lateral out fracture. 14 koroner. Rinitis vasomotor dimana terdapat stimulasi parasimpatik yang berlebihan menyebabkan vasodilatasi. tetapi mempunyai efek samping hidung mudah berdarah. krioterapi dan neurotektomi vidian.

33.34 Tujuan utama pembedahan adalah memperbaiki pernafasan hidung dan mempertahankan fungsi fisiologis. dan adhesi. dan 5 tahun kemudian Holmes melakukan conchotomy terhadap 500 pasien.4. Lateroposisi Istilah lainnya adalah lateral out fracture. namun cara ini masih menjadi perdebatan mengingat komplikasi yang timbul pasca bedah. Lateroposisi dilakukan pada tulang konka yang berada pada posisi median atau pada kasus pembesaran konka karena kompensasi dari septum deviasi.22 Beberapa peneliti mengajukan indikasi operasi antara lain sumbatan hidung yang menetap akibat hipertrofi konka yang gagal diobati dengan terapi lokal atau sistemik. setelah itu banyak teknik yang berkembang. Dilakukan infracture di medial dengan mendorong konka ke lateral menggunakan instrumen yang datar dan untuk memperkuat posisi dilakukan pemasangan . Teknik ini dilakukan pada pembengkakan mukosa yang sedikit.7 Walaupun beberapa pakar memperoleh hasil perbaikan yang bermakna secara subjektif maupun objektif. infeksi.17 Teknik Operasi Beberapa cara dan teknik operasi konka telah diajukan oleh para ahli THT yang bertujuan untuk mengatasi sumbatan hidung. masing-masing memiliki komplikasi jangka pendek dan jangka panjang seperti perdarahan dan rinitis atrofi.33 Tindakan reseksi konka inferior pertama kali dilaporkan tahun 1895. krusta. hipertrofi konka akibat rinitis alergi atau vasomotor. Tidak ada teknik yang ideal. 15 Tindakan bedah pada hipertrofi konka pertama kali dilakukan oleh Hartman tahun 1890-an. Lateroposisi dilakukan berdasarkan terbentuknya jaringan parut disekitar tulang setelah reseksi subperiosteal.8 Beberapa teknik operasi yang dapat digunakan adalah: 1. hidung kering. Jaringan parut tidak terbentuk di submukosa atau permukaan epitel.4. Masing-masing cara dan teknik operasi tersebut mempunyai keuntungan dan kerugian. Namun waktu itu masih banyak yang mengalami komplikasi pasca operasi seperti perdarahan. iritasi lama dan koreksi deviasi septum.

kemudian dengan menggunakan gunting seluruh konka direseksi sepanjang dasarnya.27.10. Teknik ini dilakukan dengan mereseksi tulang konka pada insersinya. Juga nyeri yang lebih kuat setelah operasi serta penurunan efisiensi transpor mukosilia. 16 tampon hidung sementara (gambar 4).35 Gambar 2. mukosa konka direseksi dengan menggunakan gunting sudut sepanjang insersi yang dekat ke lateral hidung (gambar 5).12 Setelah frakturisasi tulang ke medial dan keatas. krusta dan keringnya mukosa hidung. Turbinektomi total Pembesaran konka disebabkan kompensasi dari septum deviasi terjadi dominasi pembesaran dari komponen tulang maka reseksi dapat dilakukan untuk mengecilkan konka. efektif dalam mempertahankan patensi hidung dalam jangka lama. Konkotomi memberikan efek yang besar dalam mengatasi hidung tersumbat tapi mempunyai efek samping seperti pendarahan. Lateroposisi konka inferior. Pernah juga dilaporkan terjadinya pendarahan yang mengancam jiwa sehingga membutuhkan transfusi.33 2.33 . sehingga keberhasilan terapi ini hanya dalam jangka pendek.33. Teknik ini secara definitif melapangkan saluran nafas di hidung. Namun ada kecenderungan konka inferior kembali ke medial. Konka inferior dijepit. Secara klasik prosedur pembedahan hipertrofi konka dengan total turbinektomi.

bahkan sampai 8 . 17 Ophir seperti dikutip oleh Quinn memperlihatkan perbaikan 80% pasien mengalami perbaikan pernafasan hidung dan pelebaran patensi hidung 91%.33 Spector seperti yang dikutip oleh Scheithauer melakukan insisi diagonal untuk membuang jaringan anterior konka dengan tetap mempertahankan kepala konka. Patensi hidung menunjukkan peningkatan tingkat subjektif. Fanous mengobati 220 pasien dan keberhasilannya 90% selama 4 tahun follow up. Prosedur ini ditujukan untuk menghilangkan obstruksi pada valve area. Turbinektomi parsial Turbinektomi parsial dilakukan dengan mereseksi sepertiga konka pada bagian depan (turbinektomi anterior). Turbinektomi total. Sementara itu Davis dan Nishioka pertama kali menggunakan endoskopi dalam turbinektomi parsial menggunakan shaver. Untuk tujuan ini Fanous seperti yang dikutip oleh Scheithaur menyarankan penggunaan punch modifikasi yang mirip dengan forsep Blaksley. Teknik ini menurunkan kelembaban dan temperatur udara di nasofaring. Kerugiannya adalah risiko perdarahan dan krusta pasca operasi.33 Keuntungan utama teknik ini adalah ditujukan pada hipertrofi tulang maupun mukosa sepanjang konka.26. atau pada bagian belakang (turbinektomi posterior). sebagian dari konka disisakan untuk melanjutkan fungsi conditioning udara.4 3.20 Gambar 3.10. Teknik ini memberikan hasil yang baik dalam janka panjang selama observasi 15 tahun.5-2 cm (gambar 6). Pada teknik turbinektomi anterior kepala konka yaitu tulang dan mukosa direseksi secara lengkap sepanjang 1.

Mikrodebrider dapat digunakan untuk ablasi submukosa dan stroma atau menggunakan elevator Cottle atau forsep Hartman.38 .31 Reseksi submukosa bertujuan untuk mempertahankan fungsi mukosa.33 Keuntungan dengan cara ini adalah pembuangan langsung tulang dan mukosa yang hipertrofi. Blade didorong kearah tulang sampai menembus mukosa. Turbinektomi submukosa Teknik turbinektomi submukosa tahun 1951 dihidupkan kembali oleh Howard House setelah dilupakan pada awal abad ke-20. Meskipun teknik ini dapat dilakukan tanpa endoskopi.38 Sebelum dilakukan tindakan reseksi terlebih dahulu diinfiltrasi dengan lidokain 1% dengan epinefrin.9 mm (gambar 7).38 Insisi vertikal 3-4 mm dibuat di kepala konka inferior.10 Teknik reseksi submukosa ini memberikan perbaikan yang lama untuk patensi nasal dengan komplikasi yang rendah.4 Reseksi parsial konka inferior dengan endoskopi adalah cara terbaik untuk memperbaiki obstruksi hidung akibat hipertrofi konka inferior. Selanjutnya kantong submukosa didiseksi dengan memasukan tip elevator untuk membuat terowongan dengan gerakan menyapu dari anterior ke posterior dan superior ke inferior. meminimalkan efek samping dan mempertahankan fungsi mukosilier serta fungsi air conditioning dari konka.37. Komplikasi hampir sama dengan konkotomi total tetapi krusta lebih sedikit dan rinitis atrofi jarang dilaporkan. 18 tahun. Bila blade mikrodebrider tidak tersedia dapat digunakan blade scalpel no 15.36 4. Kerugiannya adalah perdarahan serta terbentuknya krusta. tetapi penggunaan endoskopi memberikan visualisasi yang jelas. jaringan submukosa dari permukaan medial dan tepi inferior didiseksi atau bila menggunakan mikrodebrider ukuran blade yang dipakai 2 dan 2.10.10.

10 Gambar 5. Reseksi yangi lebih agresif dapat dicapai dengan memutar tepi tajam blade menuju permukaan mukosa tetapi harus hati-hati untuk meminimalkan perforasi dari mukosa.3% pasien tidak mengalami sumbatan hidung setelah 10 tahun operasi dan terdapat penurunan resistensi nasal dari 3. Mikrodebrider tidak dianjurkan dilakukan pada hipertrofi konka dengan lapisan mukosa yang tipis.21±0.56±0.33 Setelah terbentuk kantong yang cukup jaringan stroma direseksi dengan menggunakan mikrodebrider (gambar 8). Penggunaan mikrodebrider untuk mereseksi submukosa tidak menimbulkan krusta dan tidak terjadi paparan tulang. Tepi bagian tajam dari blade mikrodebrider menghadap ke lateral dan bergerak maju mundur dalam gerakan menyapu. Reseksi submukosa dengan mikrodebrider. Turbinektomi submukosa. Lapisan mukosa akan kolaps dan proses dilanjutkan sampai volume reduksi yang adekuat dicapai.55Pa /cc sebelum operasi menjadi 0. Yanez melaporkan 91. mengurangi infiltrasi sel-sel radang dan terganggunya terminal saraf kolinergik.38 Hal yang berperan dalam perbaikan gejala pada reseksi submukosa yaitu jaringan fibrosis submukosa. 19 Gambar 4.025 Pa/cc setelah 10 tahun.24 .

Sisa flap mukoperiosteum medial digulung ke lateral untuk membentuk neoturbinate (gambar 9). Insisi ini dilanjutkan dengan reseksi bagian mukosa lateral termasuk tulang sepanjang 2 cm. karena reduksi ukuran tulang akan memberikan lebih banyak ruang untuk respirasi.33 .4 6. Keuntungan teknik ini adalah risiko perdarahan dan krusta lebih sedikit daripada teknik bedah reseksi lainnya serta menyisakan sebagian mukosa konka. Insisi dilakukan 2-3 cm anterokaudal proyeksi tulang konka inferior dipapar dan flap mukoperiosteal dilepaskan dari tulang konka.38 Passali menyebutkan metode reseksi submukosa dengan lateral out fracture merupakan metode yang paling mendekati ideal. Reseksi submukosa dengan lateral out fracture Submukosa direseki kemudian dilanjutkan frakturisasi tulang konka kearah lateral. Untuk menghindari greenstick fracture. Kerugiannya adalah sulit dilakukan dan tidak ditujukan untuk konka bagian posterior bila obstruksi. Karena bagian submukosa dan tulang yang direseksi berada pada area kepala konka maka teknik ini disebut juga turbinoplasti anterior. 20 5. Kemudian dilanjutkan dengan outfracture sehingga memberikan hasil yang lebih aman. Dengan menggunakan elevator Boies konka inferior didorong ke lateral dengan kuat. Turbinoplasti inferior Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Freer tahun 1911. Goyal menyebutkan bahwa teknik ini memberikan hasil yang paling baik untuk perbaikan gejala dan paling dekat dengan fisiologi hidung. Pembedahan pada submukosa menimbulkan jaringan parut sehingga menimalisir pembengkakan submukosa pada pasien rinitis alergi. pertama dilakukan infracture dengan menempatkan elevator dalam meatus inferior dan medialisasi konka ke medial. Preservasi mukosa meminimalkan gangguan fisiologis pada daerah ini.38 Pelepasan konka bagian tulang memungkinkan konka inferior mengarah ke lateral secara alami.

akan membuat lesi horisontal dari anterior ke posterior di sepanjang dinding medial konka. dan ini menjadi dasar penggunaan berbagai jenis laser dalam terapi bedah hipertrofi konka.77Pa/cm3/detik. Teknik ini representatif dalam mempertahankan mukosa dan dapat mengurangi volume konka inferior. 21 Keberhasilan teknik ini 93%. Laser menghasilkan berkas cahaya koheren yang diserap oleh jaringan. Kedalaman penetrasi kurang dari 1 mm telah menyebabkan ablasi jaringan. Kedalaman koagulasi 2 mm.10.60-10.33 Olszewska mendapatkan perbaikan resistensi nasal sebanyak 82% setelah 3 bulan terapi dengan laser CO2. Keuntungan teknik ini adalah risiko perdarahan dan krusta lebih sedikit dari pada teknik bedah reseksi lainnya. Laser Pada tahun 1977 Lenz mereduksi konka inferior menggunakan laser argon pertama kali.38 Penggunaan laser pada hipertrofi konka dengan pembengkakan mukosa saja. copper titanium phosphate laser (KTP).33. Prosedur ini menyisakan sebagian mukosa konka dan lebih ditujukan pada obstruksi konka bagian posterior.4. argon. Teknik ini tidak tepat dilakukan pada hipertrofi konka dengan perubahan struktur tulang. holmium:yttrium aluminium garnet (Ho:YAG).98±0. laser diode. Orabi seperti dikutip oleh Willat melaporkan penggunaan laser KTP pada rinitis alergi . Dalam mereduksi konka inferior laser yang dapat digunakan adalah karbondioksida (CO2). Laser KTP dan argon diserap oleh hemoglobin dan melanin.8 7. Kebanyakan operasi laser dilakukan dengan sinar pulsatif.33 Tujuan teknik ini adalah mengangkat tulang tetapi menyisakan bagian medial dan beberapa permukaan lateral mukosa. tingkat absorpsi tergantung pada panjang gelombang. Resistensi nasal mengalami perbaikan dari 0. neodymium:yttrium aluminium garnet laser (Nd:YAG). Laser CO2 mengkoagulasikan permukaan mukosa melalui aplikasi langsung 300 impuls/detik (10-15 watt).60 µm dan terutama diserap oleh air.24 Pa/cm3/detik menjadi 0. Laser CO2 mempunyai gelombang cahaya yang dipancarkan 9. dengan insiden pendarahan sedikit.

Laser Nd: YAG (Neodymium: yttiumue aluminum garnet) dapat digunakan untuk mereduksi hipertrofi konka tetapi efikasi untuk jangka panjang jelek. elektrokauter bipolar dan radiofrekuensi . Setelah 24 bulan terdapat perbaikan sumbatan hidung 87% dibanding sebelum dilakukan intervensi. Dengan aplikasi berulang dapat memberikan efek pengurangan volume konka. Dibandingkan dengan diatermi submukosal.4. kedua metode laser memberikan hasil jangka panjang yang lebih baik. Kerugiannya adalah krusta dapat terjadi pasca operasi. Setelah operasi tampon tidak diperlukan.52 µm. Karakteristik laser ini mempunyai aliran listrik modulasi tinggi. 68. Reaksi termal terjadi pada kedalaman 5 mm.5 detik. dan 36% untuk diatermi submukosal. Janda seperti dikutip oleh Scheithaur melaporkan setelah 12 bulan mengalami perbaikan sumbatan hidung 76%.24.6% untuk laser CO2.4 mm. Penggunaan laser KTP oleh Wang dkk didapatkan perbaikan sumbatan hidung 87% selama 2 tahun follow up.33 Laser Ho:YAG juga digunakan untuk mereduksi konka. Laser argon mempunyai gelombang 0. Kemampuan hemostatis dari laser mengurangi risiko perdarahan sehingga tidak diperlukan pemakaian tampon. Radiofrekwensi Teknik lain yang digunakan untuk mereduksi konka inferior adalah dengan mengantarkan elektrik eksogen atau energi radio frekuensi untuk menggumpalkan jaringan lunak submukosa. Angka keberhasilan dua tahun pasca operasi adalah sebesar 79.35 Laser dioda merupakan sinar inframerah dengan panjang gelombang 810/940 nm. 22 dan non alergi dengan anestesi lokal.3% untuk laser Nd:YAG. Terjadi perbaikan dalam sumbatan dan hiposmia. Untuk menghindari karbonisasi yang berlebihan maka pada pemakaian yang berturut- turut diberi interval 2.34 Keuntungan teknik ini adalah dapat dilakukan dengan anestesi lokal pada klinik.33 Ferri dkk melakukan pengobatan hipertrofi konka dengan menggunakan argon.48-0.39 8. Teknik ini dapat berupa elektrokauter monopolar. Laser ini digunakan dalam tipe pulsatif dengan efek kedalaman hanya 0.

menghasilkan efikasi klinis dalam jangka pendek. memungkinkan untuk mengirimkan frekwensi tinggi yang pendek. mengionisasi cairan film yang mempunyai kemampuan mematahkan molekul tulang. tetapi tidak untuk jangka panjang.40 Alat bipolar bekerja sebagai transmisi. Kerugiannya adalah adanya kemungkinan kerusakan mukosa bila energi yang digunakan terlalu berlebihan. Efek ini didapatkan dengan melokalisasi transmisi antara dua elektroda dengan suhu 400-700C tergantung kekuatan yang digunakan. Deposit kolagen mulai terjadi pada hari ke-12 dan setelah tiga minggu akan terbentuk fibrosis dan volume jaringan berkurang serta terbantuk jaringan parut. Untuk teknik elektrokauter bipolar dan radiofrekwensi mempunyai handpiece khusus. Efeknya menghambat reseptor saraf trigeminal cabang aferen sehingga menghambat sistem parasimpatis cabang eferen. Dengan teknik ini permukaan mukosa tetap utuh tetapi menimbulkan kerusakan jaringan dibawahnya. impuls yang kuat. menyebabkan eksitasi ion sel dalam jaringan sehingga terjadi peningkatan suhu 60-900C.38 Teknik ini menghambat kongesti kavernosus dari konka inferior tanpa mengganggu fungsi mukosa dan struktur lain di kavum nasi.40 Penggunaan radiofrekwensi mempunyai keuntungan dalam mempertahankan mukosa dan dapat dilakukan dengan anastesi lokal. 23 (Somnoplasty dan Coblation).50C.38 . Hal ini akan menurunkan efek kongesti dari hipertrofi konka dan mengurangi rinore. Pada kasus hipertrofi yang berat elektroda bipolar dapat dilewatkan kembali pada konka inferior setelah 30 hari. Tujuan dari teknik ini adalah untuk mengendalikan nekrosis koagulatif submukosa yang akhirnya akan menyebabkan fibrosis. Pada masing-masing teknik ini probe dimasukan ke badan submukosa.38 Dengan melewatkan tip diatas permukaaan konka. kontraktur dan pengurangan volume jaringan. Radiofrekwensi mengantarkan frekwensi 460 Hz. Sementara itu denaturasi protein sudah dapat terjadi pada suhu 49. memberikan kerusakan minimal pada jaringan.

Panas akan menyebabkan koagulasi dan obliterasi dari sinus venosus yang akan mengakibatkan fibrosis submukosa dan jaringan parut yang akan menghubungkan mukosa ke periosteum. Bentuk pengobatan seperti ini efektif khususnya pada pasien dengan rinitis hipertrofi pada penyakit non alergi kronik. Oleh karena itu elektrosurgeri tepat dilakukan pada pembesaran mukosa konka karena kongesti dan edema dan untuk menghindari pembedahan yang melibatkan tulang dari konka inferior.11. Sementara mucociliary clearance time dapat dipertahankan. Teknik ini aman. Nitras argenti diaplikasikan pada konka selama satu menit dan diulang setiap satu minggu selama satu bulan.29 . krusta. sinekia atau perburukan sumbatan setelah delapan minggu.33 Kauter dengan menggunakan nitras argenti dapat juga dilakukan. dan mempunyai efikasi yang tinggi dalam mereduksi hipertrofi konka. Aplikasi nitras argenti secara topikal berfungsi sebagai astringen dengan mengkoagulasikan albumin.26 9.50 menjadi 0. Roje melaporkan tidak terdapat efek samping pendarahan.24Pa±0.12. Terdapat perbaikan derajat sumbatan hidung dari rata-rata VAS 7 (rentang 2-9) menjadi 1 (rentang 1-3) dan resistensi nasal dengan menggunakan rinomanometri mengalami penurunan dari 0. Teknik ini dapat dilakukan pada rawat jalan. Namun teknik ini tidak danjurkan untuk hipertrofi konka yang melibatkan komponen tulang. Penggunaan teknik elektrosurgikal menggunakan prinsip pemanasan isi intraseluler dan penguapan dari sel. Elektrokoagulasi Teknik ini bertujuan merusak mukosa konka. kekeringan mukosa.44 Pa±0. 24 Penggunaan radiofrekwensi ini menurunkan resistensi endonasal dengan pemeriksaan rinomanometri secara bermakna dibanding dengan prosedur lain. Hal ini akan mengecilkan ukuran konka sehingga keluhan sumbatan hidung juga berkurang.40 Coblation merupakan termal-ablasi bipolar yang menyebabkan degenerasi molekul melalui temperatur yang rendah (400C-700C). Penggunaan radiofrekwensi tidak memerlukan tampon hidung setelah operasi.

Elektrokauter dimasukan ke jaringan submukosa konka inferior.33 Bagian medial dari konka inferior dikoagulasikan dari belakang ke depan 2-4 kali. Antara aplikator dan jaringan akan membentuk busur panas mencapai 30000C yang akan memberikan efek termokoagulasi. Koagulasi argon plasma Aliran arus dengan koagulasi argon plasma dihantarkan melalui ionisasi gas argon. . Jarak antara tip aplikator dengan jaringan 2-10 mm dengan metode non kontak. Akhir dari intervensi ini dilakukan pemasangan tampon selama 3 hari untuk menghindari terjadinya sinekia.38 Gambar 6. menggunakan jarum spinal secara longitudinal (gambar 10).5 Kauter hanya memberikan keuntungan terhadap resistensi nasal dalam waktu yang singkat 1-2 tahun.33 11. Elektrokoagulasi konka inferior. Kedalaman penetrasi 1-2 mm sehingga terjadi pengeringan homogen superfisial yang secara otomatis akan menyebabkan aliran arus terhenti. Teknik ini dapat dilakukan dalam bius lokal dan tidak membutuhkan tampon hidung. 25 Penggunaan elektrokauter dengan aplikasi aliran koagulasi frekwensi tinggi dengan menempatkan elektroda pada ujung dari kavum nasi. dengan masing-masing selama 10 detik.5 Hipertropi konka rekuren tidak dapat dicegah dalam jangka panjang. Krioterapi Probe nitrogen protocside ditempatkan pada permukaan tepi konka yang bebas dan kemudian ke permukaan medial selama dua menit pada suhu -800C.33 10.

Diseksi di atas dan di bawah krista etmoidalis memungkinkan untuk visualisasi yang lebih baik dari bundle neurovaskular yang hanya muncul dari foramen sphenopalatina. Keuntungan pada resistensi dan volume nasal hanya dapat diperoleh dalam waktu yang relatif lebih singkat dibanding turbinektomi dan reseksi submukosa. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan endoskop 00. Teknik ini memberikan perbaikan yang berarti terhadap hipersekresi dan hipersensitivitas dari kavum nasi.37 .4. Kemudian dilakukan insisi vertikal 20-30 mm kira-kira 5 mm anterior dari insersi konka media pada dinding lateral hidung.40 12. Sedangkan kerugiannya adalah penyembuhan yang lama sehingga membutuhkan waktu sampai 6 minggu. Sedangkan untuk jangka panjang efikasinya tidak baik. Pada area ini dilakukan injeksi lidokain dan epineprin. Krioterapi ini dapat dilakukan dalam anastesi lokal. Tujuan dari teknik ini untuk mempertahankan ventilasi sinonasal. Bundle neurovaskular mengandung pembuluh darah sphenopalatina dan nervus dapat diseksi dengan aman menggunakan koagulator ultrasonik untuk menghindari pendarahan. Bagian posterior dari konka media divisualisasi terlihat perlekatan konka media dengan dinding lateral hidung.10. Resiko dari teknik ini adalah terjadinya pendarahan yang hebat.34. Mukoperiosteal didiseksi menggunakan elevator sampai krista etmoidalis pada perpendikular os palatina dicapai. mucociliary clearance efektif. respon imun lokal yang lebih baik. 26 Kemudian dipasang tampon merocel selama 3 hari. Neuretektomi vidian Neuretektomi vidian merupakan teknik yang digunakan untuk mencapai reduksi konka. dan absorpsi obat yang lebih baik melalui jalur endonasal. Teknik ini tidak direkomendasikan lagi karena efek sampingnya yang membahayakan. Permukaan bagian yang direseksi ditutup dengan menggunakan fragmen tulang atau kartilago dari konka atau septum dan difiksasi dengan menggunakan fibrin glue. Teknik ini membutuhkan anastesi umum dan efektif untuk hipertrofi konka karena rhinitis vasomotor dan rinitis alergi.

Bila terjadi rinitis atrofi. penanganan tergantung pada gejala yang timbul. spray NaCl setiap beberapa jam. sumber perdarahan harus dicari. Kemungkinan pembentukan synechia sulit diprediksi. Pada keadaan berat. Hampir semua kasus membutuhkan eksisi dari kedua permukaan mukosa. Umumnya jaringan parut ini perlu dibuang. belum ada metode yang direkomendasikan untuk penanganannya. Hal ini menyebabkan infeksi sekunder dan peradangan kronis pada mukosa hidung. namun dapat dicegah bila dilakukan monitoring yang tepat pasca operasi. dapat terjadi rinitis atrofi. lalu diberikan nasal dekongestan topikal dengan menggunakan kapas. namun dengan hanya menginsisi synechia saja kurang efisien. Dapat dilakukan pembersihan hidung dan pembuangan krusta setiap hari. Pembuangan yang berlebihan dari mukosa hidung akan menyebabkan gangguan fungsi hidung. Rinitis atrofi Fungsi utama hidung dalam pernapasan adalah melembabkan udara yang dihirup untuk melindungi saluran napas bagian bawah. 27 10. Tampon yang ada harus dikeluarkan dari hidung dan klot darah diisap. Perdarahan Komplikasi ini adalah yang paling sering terjadi dengan insidensi sebesar 1% sampai 2%.11 2. Irigasi dengan NaCl fisiologis dua kali sehari. Akan terjadi clot darah diantaranya yang kemudian akan membentuk synechia. Umumnya perdarahan berhenti secara spontan dalam beberapa hari. Namun dapat juga terjadi bila mukosa septum terkelupas di dekat tepi konka setelah reseksi. Perdarahan ditangani dengan cara yang sama dengan penanganan epistaksis. Bila synechia sudah terbentuk. Komplikasi Pasca operasi 1. dan . dengan insidens sebesar kurang dari 1%. Jaringan parut Pembentukan synechia dari konka inferior sampai ke septum atau konka media jarang terjadi pasca turbinektomi. Keadaan ini ditandai dengan pembentukan krusta hidung yang besar dan terus- menerus. 11 3. Bila setelah beberapa lama perdarahan belum berhenti. Dapat pula terjadi perdarahan berat yang membutuhkan transfusi.

28 penggunaan pelembab ruangan pada malam hari adalah langkah-langkah awal.15 . Pada keadaan berat.11. tindakan bedah untuk menutup atau menyempitkan hidung mungkin berguna. Antibiotik dapat digunakan sementara. namun tidak memperbaiki keluhan untuk jangka panjang.

Tidak ada teknik tertentu yang direkomendasikan. karena alergi. . kondisi konka. 29 BAB III PENUTUP KESIMPULAN Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang. pengalaman dan keahlian operator serta ketersediaan alat. rinoskopi anterior dan nasoendoskopi . Bermacam-macam teknik untuk pengobatan hipertrofi konka mulai yang konservatif dan berbagai teknik pembedahan. Teknik pembedahan dilakukan bila sumbatan hidung telah menganggu dan tidak berhasil dengan terapi medikamentosa. Pemilihan teknik operatif tergantung pada penyebab. rinitis sika dan rintis spesifik. Keluhan yang terjadi adalah hidung tersumbat kadang–kadang dengan komplikasi sinusitis. Masing-masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Hipertrofi konka inferior dapat ditegakan dengan anamnesis. atau karena rinitis vasomotor dan yang termasuk dalam rinitis kronis adalah rinitis hipertrofi.

p. Allergic and Non Allergic Rhinitis. Quinn FB. Rohrich RJ. Inferior turbinectomy versus submucosal diathermy for inferior turbinate hypertrophy. Fradis M. 1997. Chronic inferior turbinate enlargement and implications for surgical intervention. Dept of Otolaryngol 2003:1-11 11. Rhinoplasty. 109:1040-5 8. Berger R. Marple. In: Kerr AG. Lee JK. 1997. BF. Whitaker E. 108: 536-544. Hammel I. Probst R. Former SEJ. Rationale for submucous resection of hypertrophied inferior turbinates in rhinoplasty: an evolution. Medial fracturing of the inferior turbinate:effect on the ostiomeatal unit and the uncinate process. Edisi ke-5. Lee SS. 44:234-8 . Grand Rounds Presentations UTMB.emedicine.p. Reddy SS. 1993. Golz A. Scott-Brown's Otolaryngology. 110: 2100-2105. In: Kerr AG (Ed). Laryngoscope 2000. Avraham S. 3. Basic Otorhinolaryngology. Eccles R. 4. 6th ed. Mangunkusumo E. Available from url: http://www. Naclerio (Ed). 266: 857-1 12. turbinate reduction. Buku Ajar Ilmu Penyakit THT.htm. Iskandar N (Ed). Balai Penerbit FK UI: Jakarta. Annals of Otology Rhinology & Laryngology 2000. Intrinsic rhinitis.10-4 7.p. P. Oxford: Butterworth Heinemann.1-27 10. Laryngology and Head and Neck Surgery. 2012 5.com/plastic/topic101. Mackay IS. Danino J. Infeksi hidung. Coppenhagen: Munksgaard. Scott Brown’s Otolaryngology. et al.111-2 6. Turbinate dysfunction: focus on the role of the inrferior turbinates in nasal airway obstruction. Intrinsic Rhinitis. Adams WP. 30 DAFTAR PUSTAKA 1. Ryan MW. 2001. ed. Plastic and Reconstructive Surgery 2001. 4/9/1-4/9/17. In: Mygind N. Histopathology of the inferior turbinate with compensatory hypertrophy in patients with deviated nasal septum. Rifki N. Rhinology 2006. Jones AS. Berger G. 2. Great Britain: Butterworth- Heinemann. New York: Thieme. Jones AS. 2006.150-1 9. Lee KC. Ophir D. Eur Arch Otorhinolaryngol 2009. Surgical treatment. In: Soepardi EA. Krueger JK.

Kartas I. Kandilaros. 75(4): 507-10 19. Early influence of bilateral turbinoplasty combined with septoplasty on intranasal air conditioning. 15. American Journal of Rhinology 2008. In: Hall & Colman’s. 266:1409-16. Wiesmiller K. Hidung. Colman BH. Tenggorok Indonesia. 2004. American journal of rhinology 2006. Berger G. 120: 580-95 22. Keck T. Arch Otolaryngol Head and Neck Surg 2006. Mangunkusumo E. The hypertrophic inferior turbinate. Dzida R and Wiesmiller K. Histological analysis of distribution pattern of glandular tissue in normal inferior nasal turbinates. Lindemann J. Eccless R. high-frequency. 22(5): 542-5 20. Preoperative computed tomographic evaluation of inferior nasal concha hypertrophy and its role in deciding surgical treatment modality in patients with deviated nasal septum. Leicker R. 3rd ed.24-5 17. 1999. Dzid R. Eur Arch Otorhinolaryngol 2009. Acute and chronic rhinitis. Lufti H. Arch Otolaryngology Head and Neck Surg 2009. Nose. 1992. Millas I. Keck T. In: Diseases of Ear.715-9 23. Gass S. Int J Morphol 2009. 132:588-94 16. Dhingra PL.p. 135 (8):752-8 . New Delhi:Elsevier. 27(2): 503-6 14. Mrig S. Macea JR. Agaward AK. London:Churchill Livingstone. 31 13. Passey JC. Radiofrequency. Lindemann J. Brazilian Jornal of otorhinolaryngol 2009. 22(5):542-45 21. Pematahan multipel tulang konka submukosal pada hipertrofi konka inferior.p. Dolci EL. Throat and Ear. Diseases of the Nose. Acta Otolaryngol 2000. Ginros G. Nasal airflow in health and disease. Fregnan G. 14th ed.p. and Throat. Liquidato BM. In: Kumpulan Naskah Ilmiah Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga. Tavares JH. Antonio F et al. Leiacker R. Mathos AK. Balatsauras D. Batu- Malang. Soetjipto D. Early influence of bilateral turbinoplasty combined with septoplasty on intranasal air conditioning. and electrocautery treatments vs partial inferior turbinotomy. Diseases of the nasal cavity. Ophir D. Mucosal change in chronic hypertrophic rhinitis after surgical turbinate reduction.190 18.

Sharif A. Endoscopic management of inferior turbinate hypertrophy.5(4):202-5 30. Souza CD. Rhinology 2010. Allergy and asthma proceedings 20011. Sato J. GMS current topics in otorhinolaryngology-Head and neck Surgery 2007.Med 2009. Rhinology and Facial Plastic Surgery. Keryon GS.Berlin: Springer. Kartas I. Meltzer E. Narita SI. Himi T. Frieler K. 32(2): 31. Mathias. Scherer H. Folio Histochemica et cytobiologica 2010. 32 24. Draf W. Kanaizumi E. Mometasone futoate spray for moderate to severe nsala congestion in subjects with seasonal allergic rhinitis. Treatment of nasal obstruction due to hypertrophic inferior turbinate with application of silver nitrate solution. olfactometry and rhinomanometry in patients after CO2 laser mucotomy in inferior turbinates hypertrophy. Rhinitis medicamentosa: therapeutic effect of diode laser inferior turbinate reduction on nasal obstruction and decongestan abuse. Ann Pank. Lias TS. Eur Arch Otorhinolaryngology 2009. In: Stucker FJ. Acta otolaryngol 2004: 124: 957-63 33.6:1-13 . Surgery of the turbinates and “empty nose” syndrome. Yanez C. Kardoglow. Rutkowska J. Rogowski M. Gindros G. Otolaryngology- Head and Neck Surgery 2008. Watanabe K. Kasacka I. Sieskiewicz A. Olszwska E. 48(2): 217-21 28. Inferior turbinate debriding technique: Ten-year results. Kandilaros. 266:1409-116 29. Expression and localization of steroids receptors in human nasal mucosa. Schick B. Shekar T. Kontantinilais MN. Zukowska M. Caffier P. 545-51 27. P. Lauriello M. Soroczynska J. Konno N. Azeem M. Teper A. Businco DR. Inst. Javed M. Hussain A. American Journal of Rhinology 2008. 22(4):433-9 32.9:1-28 34. GMS Current Topics in Otorhinolaryngology-Head and Neck Surgery 2010. 2009. Shirasaki H. Comparative study on the effectiveness of coblation-assisted turbinoplasty in allergic rhinitis. Businco LD. Scheithauer MO. Mucosal change in chronic hypertrophic rhinitis after surgical turbinate reduction. 138:170-5 25. Cytology of nasal mucosa. Balatsoures D. Mathos AK. Sedlmaier B.48:174-8 26. Saeed A. Surgery of the nasal septum and turbinals. Goctas O.

Functional inferior turbinosurgery (FITS) for treatment of resisteant chronic rhinitis. Kaustakins.p. Shimomura A. 126: 739-45 38. Lippert BM. Onerci M. An Otorrinolaringol Ibero Am 1997. Acta Oto- Laryngologica 2006. Werner JA. Suzuki H. Comparison of carbon dioxide and neodymium: yttrium- aluminium-garnet lasers in surgery of the inferior turbinate (Abstract). Stilianos I. 33 35. Vicheva D. Ann Otol Rhinol Laryngol 1997. 106:1036-42 40. Bleda VC. The evidence for reducing inferior turbinate.2007. Willat D. et al. Carbonell CJ. Septal and turbinate surgery In: Goyal P. Hwang P. Endoscopic surgery of turbinates and nasal obstruction. 47: 227-36 36. Rhinology 2009. Ikeda K. 59-64 . Egyptian Journal of ENT and Allien Science 2008. BarbieriM. Canovas LD. Rhinologic an sleep apnea surgical techniques. New York: Springer. 24:151-60 37. Barbieri Acience. Suzuki M.49-60 39. Oshima T.