Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

Epilepsi merupakan suatu kelainan proses organik otak yang ditandai dengan
kecenderungan untuk menimbulkan bangkitan epileptik yang terus menerus, dengan
konsekuensi neurobiologis, kognitif, psikologis, dan sosial, dengan syarat terjadinya minimal
1 kali bangkitan epileptik. Bangkitan epileptik adalah kondisi dimana terjadi tanda/gejala
yang bersifat sesaat akibat aktivitas neuronal yang abnormal dan berlebihan di otak. Di
Indonesia sendiri, banyak istilah yang digunakan dalam menggambarkan kejang seperti step
atau ayan.
Prevalensi epilepsi ditemukan lebih tinggi di negara yang berkembang ketimbang
negara maju. Dilaporkan prevalensi di negara maju berkisar antara 4-7 per 1000 orang dan 5-
74 per 1000 orang di negara sedang berkembang. Prevalensi epilepsi pada usia lanjut (>65
tahun) di negara maju diperkirakan sekitar >0,9%, lebih tinggi dari dekade 1 dan 2
kehidupan. Pada usia >75 tahun prevalensi meningkat 1,5%. Sebaliknya prevalensi epilepsi di
negara berkembang lebih tinggi pada usia dekade 1-2 dibandingkan pada usia lanjut. Hal ini
disebabkan insiden yang rendah dan angka harapan hidup rata-rata di negara maju lebih
tinggi. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi lebih tinggi dilaporkan sedikit lebih tinggi
ditemukan pada laki-laki daripada wanita.
Masalah yang paling sering ditemukan dalam penanggulangan epilepsi ialah
menentukan diagnosis epilepsi dengan pasti. Diagnosis dan pengobatan epilepsi tidak dapat
dipisahkan sebab pengobatan yang sesuai dan tepat hanya dapat dilakukan dengan diagnosis
epilepsi yang tepat pula. Diagnosis epilepsi berdasarkan atas gejala dan tanda klinis yang
karakteristik. Membuat diagnosis tidak hanya berdasarkan dengan beberapa hasil
pemeriksaan penunjang diagnostik saja, informasi yang diperoleh sesudah melakukan
wawancara yang lengkap dengan pasien maupun saksi mata yang mengetahui serangan
kejang tersebut terjadi juga penting untuk mendukung diagnosis yang tepat. Pemeriksaan
penunjang juga penting untuk dilakukan untuk memastikan diagnosis dan mencari
penyebabnya, lesi otak yang mendasari, jenis serangan kejang dan sindrom epilepsi.
Mengingat prevalensi yang cukup tinggi serta dibutuhkannya diagnosis dan
pengobatan epilepsi yang cepat dan tepat guna menghasilkan luaran yang baik, dokter umum
selaku gardu depan pelayanan kesehatan di fasilitas primer harus mendapatkan pengetahuan

mengenai epilepsi. Hal inilah yang mendasari penulis mengangkat laporan kasus mengenai epilepsi. .