Anda di halaman 1dari 16
AKHLI KITAB : Akhli Kitab yang kita kenal zaman Rasulullah SAW adalah Abu Jahal, ia adalah orang yang pandai baca tulis atau mengarang, Sejak Muhammad Rasulullah SAW diangkat menjadi Nabi dan menerima Wahyu Allah, maka Abu Jahal sangat membenci kepada Beliau karena Abu jahal juga Penulis Kitab karangannya tentang Agamanya, maka Abu Jahal menjadi musuh Rasulullah, Akhli Kitab itu orang yang menulis Kitab kitab tentang Agama Islam Khususnya dengan Opini atau Pendapat (Hawa Nafsu), atau mereka Membuat sendiri Tafsir ALQUR’AN menurut opini atau pendapat mereka sendiri, dengan demikian sudah pasti tidak sampai kepada tujuan yang dimaksud Allah, BAHKAN MEREKA MERUBAH KALIMAT AYAT ALQUR’AN ITU SENDIRI, CONTOH SURAT AT TAUBAH AYAT 60 DIBAWAH INI : Sesungguhnya ZAKAT ZAKAT itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk memerdekakan budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (QS : 9 : 60), PADA SURAT AT TAUBAH AYAT 60 DIATAS DITULISNYA : SESUNGGUHNYA ZAKAT ZAKAT ITU, PADAHAL ASLI ARABNYA SADAQATU ATAU SEDEKAH YAITU : INNAMAS SADAQATU …………………..dst …………… CONTOH LAGI PADA SURAT AT TAUBAH AYAT 103 DIBAWAH INI : Ambilah SEDEKAH dari SEBAGIAN HARTA MEREKA, dengan SEDEKAH ITU KAMU MEMBERSIHKAN dan MENSUCIKAN MEREKA, dan MENDO’ALAH UNTUK MEREKA, Sesungguhnya DO’A KAMU ITU MENJADI KETENTERAMAN JIWA BAGI MEREKA, dan ALLAH MAHA MENDENGAR DAN MAHA MENGETAHUI. (QS : 9 : 103), AYAT INI MENYATAKAN BAHWA SEDEKAH HASILNYA ZAKAT YAITU SUCI : Khuz min amwalihim SADHAQATAN tutahhiruhum WA TUZAKKIHIM biha wa salli ‘alaihim, inna salataka sakanullahum, wallahu sami’un ‘alim. Karena Tafsir itu hanya Allah yang dapat membuatnya, yang disebut dengan kata lain yaitu Ayat Ayat Penjelasan atau Ayat menjelaskan Ayat seperti Firman Allah ini : Alif laam raa, inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu, (QS : 11 : 1), Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan YANG PALING BAIK PENJELASANNYA, (QS : 25 : 33), PADA SURAT ALFURQAN (25) AYAT 33 DIATAS YANG MENGATAKAN TAFSIR ITU ADALAH AYAT AYAT PENJELASANNYA YAITU : Wa la ya’tunaka bi masalin illa ji’naka bil-haqqi wa AHSANA TAFSIRAH, DAN HANYA ALLAH YANG DAPAT MEMBUAT TAFSIR ATAU AYAT AYAT PENJELASAN DALAM ALQUR’AN ITU, JADI KESIMPULANNYA YANG DIMAKSUD AKHLI KITAB ITU ORANG YANG MEMBUAT ATAU MENULIS KITAB DENGAN OPINI ATAU PENDAPAT DIA SENDIRI (MANUSIA), YANG DIKATAKANNYA MENURUT ALLAH, DIJADIKANNYA BUKU SEBAGAI KITAB YANG SERING KITA LIHAT DAN DENGAR, BANYAK ORANG MEMAKAI TAFSIR SI A, SI B, SI C SESUAI KELOMPOK KELOMPK MEREKA SENDIRI, YANG MENULIS KITAB ITU MASUK NERAKA, YANG MENJUALNYA MASUK NERAKA DAN YANG MEMBELI DAN MEMAKAINYA JUGA MASUK NERAKA, KARENA TERSESAT TIDAK BERPEGANG PEDOMAN PETUNJUK ALQUR’AN YANG DIWAJIBKAN ALLAH, KELOMPOK KELOMPOK ITU MENAKUT NAKUTI ORANG LAIN TIDAK BOLEH BERPEGANG LANGSUNG KEPADA ALQUR’AN HARUS MELALUI BUKU KITAB SI A, SI B, SI C DAN LAIN LAIN, Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, Ini dari Allah, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS : 2 : 79), Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati pula oleh semua mahluk yang dapat mela'nati, (QS : 2 : 159), Dan apabila dikatakan kepada mereka : Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab : Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami, Apakah mereka akan mengikuti juga, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk .? (QS : 2 : 170), Katakanlah : Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu, (QS : 5 : 68), ALLAH MENGATAKAN DENGAN JELAS BAHWA AHLI KITAB ADALAH ORANG YANG TIDAK BERIMAN DENGAN ALQUR’AN ATAU MENGINGKARI AYAT AYAT ALLAH ALIAS KAFIR : Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui kebenarannya, (QS : 3 : 70), BERBEDA DENGAN RASUL YANG DIUTUS ALLAH KEPADA KITA YANG TELAH DIBERIKAN PEMAHAMAN MENDALAM TENTANG AL HIKMAH ATAU ALQUR’AN DAN AS SUNNAH, ATAU RASUL YANG TIDAK DI KISAHKAN ATAU RASUL YANG DIRIDOI NYA, Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak pula yang dibiarkannya, Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan, (QS : 5 : 15), MAKA BANYAK SEKALI KITA DAPATI ORANG ORANG MEMBUAT IBADAH IBADAH TIDAK SESUAI DENGAN APA YANG DIPERINTAHKAN ALLAH YAITU MENJADI ORANG BERIMAN DAN BERTAKWA, Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan mengerjakan yang tidak diperintahkan kepada mereka, Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik, (QS : 2 : 59), KALAU MEREKA MENYAMPAIKAN DENGAN KATA KATA SEOLAH OLAH YANG DIBACANYA ITU ADALAH KITAB SUCI ALQUR’AN, PADAHAL KITAB KITAB YANG DIKARANG MANUSIA, Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan : Ia yang dibaca itu datang dari sisi Allah, padahal ia bukan dari sisi Allah, Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui, (QS : 3 : 78), MAKA KITAB KITAB DENGAN OPINI ATAU PENDAPAT (HAWA NAFSU) AKHLI KITAB MEREKA ITU, TIDAK MUNGKIN BERGUNA SEDIKITPUN KARENA TIDAK DAPAT MENCAPAI KEBENARAN ALLAH DALAM KITAB SUCI ALQUR’AN, Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah, (QS : 6 : 116), Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran,. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan, (QS : 10 : 36), Mohon Ma’af Lahir dan Batin. Salam Kasih Sayang, APA PERBEDAAN YANG DIMAKSUD AKHLI KITAB SURAT ALI IMRAN DENGAN AYAT 113 SD AYAT 115 DENGAN SURAT AL BAQARAH AYAT 79, SURAT AL MAIDAH AYAT 68 DIBAWAH INI : Mereka itu tidak sama, di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). (QS : 3 : 113), Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada mengerjakan pelbagai kebajikan, mereka itu termasuk orang orang yang saleh. (QS : 3 : 114), Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi menenerima pahalanya, dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang Bertakwa. (QS : 3 : 115), DENGAN AHLI KITAB : Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, Ini dari Allah, dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS : 2 : 79), Katakanlah : Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu, (QS : 5 : 68), Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dari syirik, Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata : Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat dekatnya, Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya, Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar, (QS : 39 : 3), Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih dari syirik. Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata: Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya, Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS : 39 : 3), Nafsunya yang membujuknya ya Cak Andrian Syah, Samiri menjawab : Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku. (Qs : 20 : 96), Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat ayat Allah, padahal kamu mengetahui kebenarannya, (QS : 3 : 70), Jelas matanya tertutup dengan Ayat Ayat yang ada Cak, kalau terbuka sedikit saja matanya dengan Ayat Ayat yang kita tuliskan, mungkin berpikir ia, mungkin pencandu Kitab dari Akhli Kitab Cak Abas. PEMIMPIN DALAM AGAMA : Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Nya, Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran daripadanya, (Qs : 7 : 3), Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Qs : 5 : 51), Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, yaitu di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir, orang-orang musyrik, Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. (Qs : 5 : 57), Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Qs : 10 : 62), Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa, (Qs : 10 : 63), Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat janji janji Allah, Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Qs : 10 : 64), Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka laki-laki atas sebahagian yang lain wanita, dan karena mereka laki-laki telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka, Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya, Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Qs : 4 : 34), Dan ingatlah, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat perintah dan larangan, lalu Ibrahim menunaikannya, Allah berfirman : Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia, Ibrahim berkata : Dan saya mohon juga dari keturunanku, Allah berfirman : Janji Ku ini tidak mengenai orang yang zalim, (Qs : 2 : 124), Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif, Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, (Qs : 16 : 120), Dan Allah lebih mengetahui dari pada kamu tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung bagimu, Dan cukuplah Allah menjadi Penolong bagimu, (Qs : 4 : 45), Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi, (Qs : 3 : 149), Tetapi ikutilah Allah, Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong, (Qs : 3 : 150), Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya, (Qs : 2 : 257), Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah ..? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong, (Qs : 2 : 107), Dari Hasanudin Abdurakhman Via Fadli Syaukat : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim, (Qs : 5 : 51), Ayat di atas sedang populer sekarang. Ayat itu selalu populer menjelang pemilu. Dalam hal pilkada DKI yang salah satu calon kuatnya adalah Nasrani, ayat ini menjadi semakin kuat bergema. Tapi apakah ayat ini soal pemilu? Apakah ini ayat soal pemilihan gubernur? Menurut saya bukan. Sejarah Islam tidak pernah mengenal adanya pemilihan umum. Juga tak pernah ada pemilihan gubernur atau kepala daerah. Satu-satunya pemilihan yang pernah terjadi adalah pemilihan khalifah. Itu pun hanya 5 kali, dan hanya melibatkan sekelompok orang yang tinggal di Madinah. Gubernur khususnya adalah pejabat yang ditunjuk oleh khalifah. Tidak pernah dipilih. Jadi ayat ini tentang apa ..? Wali atau awliya itu soal pemimpin wilayah atau daerahkah? Bukan. Bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan itu tidak pernah terjadi ..? Jadi, apa yang dimaksud ..? Apa makna wali atau awliya ..? Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum Muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya yang seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81. Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang. Pagi ini, bangun tidur saya menyaksikan berita pilu. Orang-orang Arab dari Syiria dan Irak masih terus mengungsi. Ke mana? Ke Eropa. Siapa orang-orang Eropa itu? Muslimkah mereka? Sebagian besar bukan. Kebanyakan dari mereka, orang-orang Eropa itu, adalah Nasrani, atau ateis (musyrik). Tapi kini mereka menjadi pelindung bagi orang-orang Muslim, persis seperti ketika kaum Muslim hijrah ke Habasyah. Jadi, cobalah orang-orang yang rajin melafalkan ayat Al-Maidah 51 itu berkhotbah kepada para pengungsi itu. Katakan kepada mereka bahwa meminta perlindungan kepada Nasrani, menjadikan mereka wali atau awliya itu haram hukumnya. Bisakah? Ironisnya, dari siapa mereka lari? Dari kaum kafir? Bukan. Mereka lari karena ditindas oleh pemimpin-pemimpin mereka sendiri, kaum Muslim. Kaum Muslim yang berebut kekuasaan. Utamanya Sunni melawan Syiah. Tahukah Anda bahwa bibit konflik Sunni-Syiah itu sudah terbentuk sejak Rasul wafat? Ketika orang-orang mulai kasak kusuk untuk mencari siapa yang akan jadi khalifah, padahal jenazah Rasul belum lagi diurus. Permusuhan itu abadi, mengalirkan darah jutaan kaum Muslimin sepanjang sejarah ribuan tahun, kekal hingga kini. Tidakkah kita sebagai kaum Muslim malu ketika saudara-saudara kita dizalimi oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan kepada kaum Nasrani dan kafir? Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang memusuhi orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka. Ingatlah, musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani, melainkan rasa permusuhan itu sendiri. Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum Muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka. Kenapa mereka berbunuhan? Politik. Perebutan kekuasaan. Itulah yang sedang dilakukan banyak orang dengan Al-Maidah ayat 51. Berebut kekuasaan politik dengan mengobarkan permusuhan. Mereka sedang mengabadikan kebodohan yang sudah berlangsung 15 abad. Anda mau menjadi bagian dari kebodohan itu? Saya tidak. Karena saya tidak mau menjadi pengungsi seperti orang-orang Irak dan Syiria itu. Hasanudin Abdurakhman