Anda di halaman 1dari 7

CLIMATE CHANGE : SUBIICITE TERRAM

Oleh : Azhar Faturohman A.


Kehidupan adalah keajaiban alam semesta yang muncul sekitar 4 milyar tahun yang lalu, sedangkan
manusia hanya 200.000 tahun yang lalu. Tetapi dalam waktu singkat manusia berhasil menghancurkan
keseimbangan yang sangat penting bagi kehidupan di bumi.
-Home Film-
Perubahan iklim (climate change) merupakan isu global yang sering dibicarakan beberapa tahun
terakhir. Hal ini merupakan wujud inequilibrium (ketidaksetimbangan) energi di bumi yang sudah terjadi
dalam beberapa dekade terakhir. Apa itu perubahan iklim ? Mari kita terlebih dahulu mengenal istilah
iklim dan cuaca. Sebagian besar orang mengenal iklim dan cuaca adalah istilah yang sama, namun
sebenarnya kedua hal itu berbeda. Cuaca diartikan sebagai perubahan variabel atmosfer seperti curah
hujan, angin, tekanan udara, dan suhu yang diukur dalam satu periode singkat (misalnya jam atau hari).
Sedangkan iklim adalah kondisi cuaca rata-rata bumi baik secara global atau wilayah tertentu dalam
kurun waktu yang lama (Miller & Spoolman, 2010). Setelah mengetahui perbedaan iklim dan cuaca, amak
perubahan iklim dapat didefinisikan sebagai perubahan pola cuaca normal di seluruh dunia selama masa
waktu yang panjang, biasanya puluhan tahun atau lebih lama (Stone & Leon, 2010).
iklim selalu berubah menurut ruang dan waktu. Dalam skala waktu perubahan iklim akan
membentuk pola atau siklus tertentu, baik harian, musiman, tahunan. Dalam skala ruang, pola iklim
berubah secara berkelanjutan, baik dalam skala global maupun skala lokal. Perubahan iklim dapat terjadi
secara terus menerus dalam jangka waktu yang panjang antara 50 sampai 100 tahun (Kementerian
Lingkungan Hidup, 2004). Perubahan iklim dapat terjadi baik secara alami maupun karena intervensi
manusia. Secara umum ciri perubahan iklim ditandai dengan kenaikan suhu global, berkurangnya gletser,
perubahan pola presipitasi dan kenaikan permukaan laut (Adedeji et al., 2014).
Salah satu tanda perubahan iklim yaitu peningkatan rata-rata suhu global. Hal ini sering disebut
dengan pemanasan global atau global warming. Pemanasan global ini disebabkan oleh meningkatnya
emisi gas rumah kaca (GRK) pada atmosfer bumi sehingga menyebabkan efek rumah kaca (green house
effect). Apa itu GRK ? Beberapa gas di dalam atmosfer termasuk karbondioksida (CO2), gas metana (CH4),
nitrogen oksida (N2O), uap air (H2O), dan CFC dapat menyerap panas dan memantulkan radiasi dari
permukaan bumi sehingga memerangkap panas di permukaan bumi. Gas-gas tersebut memainkan peran
penting dalam perubahan suhu dan iklim di bumi. Radiasi matahari yang pancarkan ke bumi ada sebagian
yang diserap dan dipantulkan kembali (Miller & Spoolman, 2010). Sekitar 30% energi matahari yang
dilepaskan ke bumi akan di pantulkan kembali ke angkasa luar, sedangkan 20% akan diserap organisme
(tanaman, bakteri) dan 50% dari solar energy tersebut akan terperangkap di permukaan bumi (Oesgher,
1993). Konsentrasi GRK pada masa pra- industri di abad ke-19 baru sebesar 290 ppm (CO2), 700 ppb (CH4),
dan 275 ppb (N2O). Sedangkan pada saat ini, peningkatannya menjadi sebesar 360 ppm (CO2), 1.745 ppb
(CH4), dan 311 ppb (N2O). Menurut para ahli, GRK CO2 pada tahun 2050 diperkirakan akan mencapai
kisaran 550 ppm.
Sebenarnya efek rumah kaca adalah proses alami bagaimana atmosfer menjaga agar bumi tetap
hangat. Tanpa hal itu bumi akan menjadi planet beku dan tidak ada kehidupan yang dapat bertahan. Gas
rumah kaca tersebut harus dalam jumlah yang tepat agar memungkinkan bumi berada pada suhu yang
tepat untuk mendukung kehidupan. Tetapi, seringkali kegiatan manusia mengganggu proses alami ini
dengan meningkatkan emisi gas rumah kaca ke atmosfer sehingga lebih banyak panas yang terjebak dan
bumi menjadi makin hangat. Sejak revolusi industri dimulai hingga sekarang telah terjadi peningkatan
suhu udara secara global. Intervensi manusia (antrophogenic intervention) seperti pembakaran bahan
bakar fosil, kegiatan industri, transportasi, pertanian dan peternakan menyumbang emisi gas rumah kaca
yang mendorong terjadinya pemanasan global serta perubahan iklim. Kerusakan hutan tropis juga
bertanggungjawab atas seperlima dari emisi gas rumah kaca di bumi, lebih dari akumulasi jumlah emisi
yang dihasilkan kereta, pesawat dan mobil di seluruh dunia (IPCC, 2007). Indonesia merupakan salah dari
3 negara dengan emisi rumah kaca terbesar di dunia. Besarnya emisi gas rumah kaca ini sejalan dengan
semakin maraknya pembakaran hutan atau pembebasan hutan yang banyak melepaskan gas karbon
dioksida (PEACE, 2007).
Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) (2001) menyimpulkan bahwa suhu udara global
telah meningkat 0,6 derajat Celsius (1 derajat Fahrenheit) sejak 1861. Peningkatan tersebut disebabkan
oleh aktivitas manusia yang menambah gas-gas rumah kaca ke atmosfer. IPCC memprediksi peningkatan
temperatur rata-rata global akan meningkat 1,1 hingga 6,4oC (2,0 hingga 11,5oF) antara tahun 1990 dan
2100. Kondisi ini akan mengakibatkan iklim tetap terus menghangat selama periode tertentu. Emisi
karbon dioksida akan tetap berada di atmosfer selama seratus tahun atau lebih sebelum alam mampu
menyerapnya kembali (Sumaryanto, 2012). Hutan adalah reservoir bumi yang dapat menyerap CO2 di
atmosfer. Hutan berperan besar sebagai penyimpan karbon dan siklus karbon. Mencegah terjadinya
deforestasi dan degradasi hutan berarti menurunkan perubahan iklim. Perubahan iklim memang tidak
dapat dicegah karena secara alami bumi juga mengatur iklim, hanya saja manusia mempercepatnya
dengan semboyan subiicite terram (Taklukan dan Kuasailah bumi !).
Dampak-dampak besar yang ditimbulkan oleh perubahan iklim tersebut diantaranya :
1. Pergeseran musim, perubahan pola hujan, dan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrim
Perubahan iklim juga menyebabkan anomali iklim seperti fenomena ENSO (El-Nino Shoutern
Oscilation dan La-Nina), IOD (Indian Ocean Dipole), penurunan atau peningkatan suhu udara secara
ekstrem, curah hujan dan musim bergeser dari pola biasanya dan tidak menentu serta permukaan air
laut meningkat dan terjadinya rob di beberapa wilayah. El-Nino adalah kejadian iklim di mana terjadi
penurunan jumlah dan intensitas curah hujan akibat naiknya suhu permukaan laut di wilayah Samudra
Pasifik Selatan yang mendorong mengalirnya massa uap air di wilayah Indonesia ke arah timur.
Sebaliknya, La-Nina adalah kejadian iklim di mana terjadi peningkatan jumlah dan intensitas curah
hujan hingga memasuki musim kemarau akibat penurunan suhu permukaan laut di wilayah Samudra
Pasifik Selatan yang memperkaya massa uap air di wilayah Indonesia.
2. Menurunkan produktivitas pertanian
Indonesia merupakan negara pertanian di mana pertanian memegang peranan penting dari
keseluruhan perekonomian nasional. Sektor pertanian sangat rentan terhadap perubahan iklim karena
berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, produksi, dan kualitas hasil (Nurdin, 2011).
Perubahan iklim telah menyebabkan penurunan produktivitas dan produksi tanaman pangan akibat
peningkatan suhu udara, banjir, kekeringan, intensitas serangan hama dan penyakit, serta penurunan
kualitas hasil pertanian.
Salah satu contohnya pada tanaman cabai. Pergeseran musim memiliki dampak yang besar
terhadap pertanian cabai. Musim hujan yang lebih cepat akan membuat produksi cabai menurun
karena tanaman cabai gagal berbunga. Selain itu, Putra dan Indradewa (2011) menjelaskan bahwa
peningkatan suhu udara di atmosfer sebesar 5oC akan diikuti oleh penurunan produksi jagung sebesar
40% dan kedelai sebesar 10-30%. Sementara itu, peningkatan suhu 1-3oC dari kondisi saat ini
menurunkan hasil padi sebesar 6,1-40,2%. Pengaruh ini juga terlihat pada tanaman kacang-kacangan
yang mengindikasikan kaitan antara penurunan curah hujan sebesar 10-40% dari kondisi normal
dengan penurunan produksi sebesar 2,5-15%.
3. Penurunan Produktivitas Perikanan
Kondisi akibat El Nino dengan kenaikan muka air laut mengakibatkan menurunnya produksi primer di
laut. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap usaha perikanan. Produksi perikanan global di perairan
laut adalah 82,6 juta ton pada tahun 2011 dan 79,7 juta ton pada tahun 2012. Dalam dua tahun, 18
negara menangkap ikan rata-rata satu juta ton per tahun. Sebelas dari negara-negara di Asia termasuk
juga Federasi Rusia menangkap ikan lebih banyak di Pasifik daripada di Atlantik (FAO Fisheries and
Aquaculture, 2014).
4. Ancaman Krisis Pangan
Ancaman dan krisis pangan dunia yang menggejala secara global sejak awal 2008 memiliki kaitan
sangat erat dengan perubahan iklim global. Ancaman penurunan produksi pangan di berbagai negara
oleh perubahan iklim yang memicu banjir, kemarau panjang dan kekeringan, kenaikan suhu,
penurunan kualitas lahan dan lain-lain menjadi semakin nyata (Suberjo, 2009).
5. Ancaman Sosial dan Ekonomi
Banjir dan kekeringan menyebabkan gagal tanam, gagal panen, dan bahkan menyebabkan puso.
Hal ini berimplikasi pada penurunan produksi dan pendapatan petani. Akibatnya, sebagai negara
dengan penduduk terbanyak keempat di dunia dan salah satu produsen terbesar, Indonesia ditandai
dengan populasi miskin pedesaan yang bergantung pada produksi pertanian untuk mata pencaharian
mereka (Natawidjaja et al., 2009). Munculnya genangan-genangan air di wilayah perkotaan,
terganggunya lalu lintas jalan raya, berkurangnya lahan-lahan produktif di sektor pertanian, bekunya
aktifitas-aktifitas industri dan bisnis diakibatkan kerusakan/terganggunya infrastruktur-infrastruktur
(Susandi et al., 2008).
6. Mengancam ketersediaan air
Menurut FAO (1996), kekeringan akibat kemarau panjang yang merupakan efek El Nino pada
tahun 1997 telah menyebabkan gagalnya produksi padi dalam skala yang sangat besar yaitu mencakup
luasan 426.000 ha. Selain tanaman padi, komoditas pertanian non-pangan yang lain seperti kopi,
coklat, karet dan kelapa sawit juga mengalami penurunan produksi yang nyata akibat adanya kemarau
panjang.
7. Mengancam kesehatan
Tanpa kita sadari perubahan iklim tersebut secara pasti telah terjadi. Perubahan iklim tersebut
juga baik secara langsung ataupun tidak langsung memberikan dampak pada kesehatan manusia.
Kurniawan (2012) menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara jumlah kejadian kasus
diare dengan curah hujan. Diare merupakan salah satu penyakit yang dapat ditularkan melalui air. Air
dapar menjadi media dalam penyebaran penyakit yang di kenal dengan water borne diseases, tidak
terkecuali air minum (Rose et al., 2001). Sumber air bersih masih menjadi isu prioritas utama di wilayah
pasifik, termasuk negara Indonesia. Penyebab utama penyakit diare berhubungan dengan air yang
terkontaminasi patogen seperti Vibrio cholerae, Crysptosporidium, Escherichia coli, Giardia, Shigella,
Thyphoid, dan virus seperti hepatitis A.
8. Resiko kebakaran hutan.
Peningkatan suhu permukaan bumi dan perubahan cuaca seperti kemarau dapat menyebabkan
kebakaran pada hutan. Contohnya kebakaran pada hutan-hutan dan lahan gambut di Sumatera.
Namun, kebakaran hutan juga bisa disebabkan karena intervensi manusia yang serakah.
9. Mengancam keanekaragaman hayati.
Kebakaran hutan menyebabkan habitat beberapa hewan menjadi hilang sehingga beberapa
hewan yang tidak dapat beradaptasi akan mengalami kepunahan. Habitat yang hilang berarti sumber
makanan juga hilang. Selain itu, ada juga hewan dan tumbuhan yang sangat peka terhadap suhu dan
musim sehingga bisa menyebabkan gagal kawin (hewan) atau berbunga (tumbuhan).
10.Kenaikan muka laut menyebabkan banjir permanen dan kerusakan infrastruktur di daerah pantai.
Dampak peningkatan suhu permukaan bumi akan mencarikan gletser atau es di bumi.
Contohnya menurunnya volume gletser dan tutupan salju di beberapa tempat seperti di Puncak
Cartenz, Papua; Gunung Klimanjaro Tanzania, Greenland dan Antartika. Hal ini menyebabkan kenaikan
permukaan laut di daerah pesisir. Indonesia merupakan negara kepulauan yang rentang terhadap
perubahan iklim. Dampak lain yang diakibatkan oleh naiknya muka laut adalah erosi pantai,
berkurangnya salinitas air laut, menurunnya kualitas air permukaan, dan meningkatnya resiko banjir
(Susandi et al., 2008).

Solusi menghadapi perubahan iklim


Perwakilan dari 192 negara ternaung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut perhelatan
akbar merumuskan kebijakan untuk menghadapi perubahan iklim. Kebijakan adalah rencana aksi untuk
mengarahkan keputusan dan mencapai hasil. United Nation Framework Convention on Climate Change
(UNFCCC) didirikan pada tahun 1992 dan mulai diberlakukan pada tahun 1994. Pada tahun 1997
muncullah Protokol Kyoto, disusul oleh Bali Action Plan taun 2007 dan Kesepakatan Kopenhagen. Dalam
kesepakatan ini, negara-negara berjanji mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencari cara baru
menciptakan energi yang menghasilkan emisi CO2 lebih sedikit. Negara maju juga berjanji mengalihkan
teknologi dan dana ke negara berkembang untuk membantu mereka menghentikan perubahan iklim dan
melakukan penyesuaian terhadap perubahan yang mereka lihat saat ini dan di masa depan.
Aksi yang mencoba menghentikan atau mengurangi perubahan iklim disebut mitigasi. Kebijakan-
kebijakan ini juga membantu negara-negara menemukan cara-cara baru untuk menyesuaikan diri
terhadap perubahan iklim dan bersiap menghadapi perubahan yang mungkin terjadi di masa mendatang.
Hal Ini dinamakan adaptasi. Mitigasi perubahan iklim adalah proses pengurangan emisi gas rumah kaca
yang berasal dari aktivitas manusia. Beberapa contoh mitigasi yaitu menggunakan panel surya sebagai
tenaga listrik dibandingkan bahan bakar fosil, menggunakan sepeda atau minimal angkutan umum,
meningkatkan aksi reforestrasi, menurunkan aksi deforestasi/degradasi hutan serta perbaikan sumber
daya hutan, serta mengelola hasil panen secara efisien Salah satu proses adaptasi perubahan iklim dalam
bidang pertanian yaitu perubahan luas lahan, perubahan sumber irigasi, pemilihan verietas tanaman,
pemilihan asal benih, perubahan pola menanam, perubahan bulan menanam dan memanen.
Perubahan iklim itu nyata dan telah terjadi. Namun manusia saat ini semakin aneh, ia menghabiskan
dana trilyunan dollar hanya untuk melanglang semesta, hanya untuk mengambil sampel tanah panet lain
dan mencari tata surya lain yang dapat dihuni dibandingkan melayani bumi. Jika manusia berhasil
menemukan bumi lain yang dapat dihuni, akankah bumi ini ditinggalkan dan dihancurkan ? Namun,
bagaimana jika bumi ini adalah satu-satunya yang dapat dihuni ? Bagaimana jika bumi ini hancur dahulu
sebelum manusia dapat menemukan bumi lain ? Kala itu terjadi, maka manusia bukan lagi kholifah di
muka bumi, namun pantas dijuluki sebagai pemerkosa alam dengan semboyan subiicite terram.

REFERENSI
Adedeji, O., Reuben, O., & Olatoye, O. (2014). Global Climate Change. Journal of Geoscience and
Environment Protection, 2: 114-122.
FAO. 1996. FAO Model Code of Forest Harvesting Practice. Rome: Food and Agriculture Organization of
the United Nations.
___. 2014. The State of World Fisheries and Aquaculture (SOFIA). <hhtp:// fao.org/3/a-i3720e.pdf>.
Diakses tanggal 21 April 2017.
IPCC. 2007. Climate Change 2007: The Physical Science Basis. IPCC Fourth Assessment Report (AR4).
Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the ntergovernmental Panel
on Climate Change Solomon, S., D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M. Tignor
and H.L. Miller (eds.). Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY,
USA, 996 pp. http://www.ipcc.ch
Kementerian Lingkungan Hidup. 2004. Perubahan iklim global. Diakses pada 21 April 2017, dari:
http:/climatechange.menlh.go.id.
Kurniawan, Rico. 2012. Hubungan Perubahan dan Variasi Iklim Terhadap Kejadian Diare Studi Kasus di
Kota Administrasi Jakarta Selatan Tahun 2007-2011. Skripsi. Jakarta : Universitas Indonesia.
Natawidjaja, R.S., Supyandi, D., Tulloh, C., Tridakusumah, A.C., Calford, E.M., dan Ford, M., 2009. Climate
Change, Food Security and Income Distribution: Adaptations of Small Rice Farmers. Crawford School
of Economics and Government at The Australian National University, Canberra.
Nurdin. (2011). Antisipasi perubahan iklim untuk keberlanjutan ketahanan pangan. Sulawesi Utara:
Universitas Negeri Gorontalo.
Oeshger, H. (1993). CO2 and the greenhouse effect: present assessment and perspective. In Lake, J.V.,
Rock, G.R., & Ackrill (Ed). Environmental Change and Human Health Ciba Fondation Symposium 175
(2-22). Chichester : John Wiley and Sons Ltd.
PEACE. (2007). Indonesia and Climate Change : Curent Status and Policies. Jakarta.
Putera, Eka Tarwaca Susila, dan Indradewa, D. (2009). Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan. Dalam
web. http://www.faperta.ugm.ac.id/dies/eka_prof_didik.php diakses 21 April 2017.
Rose, J.B., Epstein, P.R., Lipp, E.K., Sherman, B.H., Bernard, S.M., & Patz, J.A. (2001). Climate Variability
and Change in United States : Potential Impact on Water and Foodborne Diseases Caused by
Microbiologic Agents. Environmental Health Perspectives, 109, 211-221.
Stone, Susan & Leon, Mario Chacon. 2010. Perubahan Iklim dan Peran Hutan. Conservation International.
Miller, G.T. & Spoolman, S.E. (2010). Living in the Environmental, 17th Edition. Canada : Cangage
Learning.
Suberjo. 2009. Adaptasi Pertanian dalam Pemanasan Global. Dosen Fakultas Pertanian UGM Yogyakarta
dan Mahasiswa Doktoral The University of Tokyo. http://subejo.staff.ugm.ac.id/?p=108.
Sumaryanto. (2012). Strategi peningkatan kapasitas adaptasi petani tanaman pangan menghadapi
perubahan iklim. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol. 30, hlm.73-89.
Susandi, A., Tamamadin, M., dan Nurlela, I. 2008. Fenomena Perubahan Iklim dan Dampaknya Terhadap
Ketahanan Pangan di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Padi. 1:73-79.