Anda di halaman 1dari 1

TUHAN SUMBER SUKACITA

Mudah bagi kita untuk bersyukur kepada Tuhan atas segala kebaikan yang Dia
berikan pada saat kondisi kita baik-baik saja. Segala sesuatu berjalan dengan baik dan
lancar tanpa hambatan. Kita pasti mudah bersukacita dan mungkin mudah
mengatakan “Tuhan Yesus cukup bagi saya.”

Tapi ada kalanya Tuhan pasti mengizinkan hal-hal yang kita nggak harapkan terjadi,
eh malah kejadian dalam hidup kita. Jika Tuhan ‘ngambil semua yang kita pegang
erat, sesuatu atau seseorang yang kita sayangi, bahkan lebih lagi jika Tuhan membawa
kita dalam situasi yang sangat membuat kita tersakiti dan dikecewakan, masih nggak
sih kita tetap bersukacita? Masih ngga sih kita tetap bersyukur?

Sukacita orang percaya itu harus berbeda dari sukacita orang dunia pada umumnya.
Dalam Habakuk 3:17-19, Habakuk dapat merasakan sukacita di tengah keadaan yang
susah. Apa rahasianya? Ia menjadikan Tuhan kekuatannya. Nah, kalau kita
menjadikan Tuhan kekuatan kita maka kita dapat bersukacita ditengah keadaan yang
sulit.

Ciri sukacita yang benar harus berdasarkan kepada Tuhan.
Kita diajar Tuhan untuk tetap memiliki sukacita atau suasana hati yang baik
walaupun keadaan sekitar kita buruk (keadaan ekonomi, kesehatan, rumah tangga,
pekerjaan dan lain-lain). Suasana hati tidak boleh ditentukan atau diatur oleh
keadaan sekitar. Kita harus berprinsip bahwa di dalam Tuhan kita dapat merasakan
sukacita walaupun keadaan serba sulit.

Bagaimana caranya memiliki sukacita yang benar di dalam Tuhan?
1. Semua untuk kebaikan kita
Percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, terjadi atas
kehendak Tuhan atau diijinkan Tuhan untuk kebaikan kita (Roma 8:28).
Oleh sebab itu harus dapat bersyukur dalam segala keadaan (Efesus 5:20).
2. Kekuatan yang Tuhan akan sediakan
Percaya bahwa Tuhan pasti memberi kekuatan kepada kita dalam menghadapi
persoalan.
Firman-Nya berkata: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku
berjejak di bukit-bukitku. (Habakuk 3:19).
3. Tetap dalam firman
Memprioritaskan pertumbuhan rohani sebagai hal utama dalam hidup
(Yoh. 8:31-32).
4. Hidup dalam Visi Tuhan
Belajar nyerahkan diri sepenuhnya dalam visinya Tuhan. Hidup dalam visiNya
membuat kita yakin akan pemeliharaan dan kasih setiaNya yang tidak pernah
habis bagi orang yang hidup bagi kepentinganNya. Kita harus yakin sungguh-
sungguh seperti Firman-Nya berkata bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita
(Mat. 28:20)

 Kapan terakhir kita bersungut-sungut karena situasi dan peristiwa yang terjadi
atas hidup kita?
 Seberapa dalam kita mendasarkan sukacita kita pada Tuhan dan bukan pada
barang fana?
 Masihkah kita memprioritaskan untuk bertumbuh dalam firman?
 Sudahkah kita hidup dalam visi-visiNya?