Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH SASTRA

CERITA RAKYAT SEBAGAI MATERI


PEMBELAJARAN SASTRA SD

A. Latar Belakang Masalah


Salah satu standar kompetensi yang ada dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mata
Pelajaran Bahasa Indonesia untu siswa kelas V, semester satu adalah: “Siswa
mampu apresiasi cerita rakyat secara lisan” (Depdiknas, 2006: 24). Lebih lanjut,
standar kompetensi tersebut dijabarkan ke dalam kompetensi dasar, yaitu: siswa
mampu mengidentifikasi unsur cerita tentang cerita rakyat yang didengarnya
(Depdiknas, 2006: 24).
Apresiasi cerita rakyat secara lisan maupun tertulis, hingga siswa harus
mampu mengidentifikasi unsur cerita di dalamnya, bukanlah pekerjaan yang
mudah bagi guru untuk mengajarkannya di dalam kelas. Buktinya dalam
pembelajaran bahasa Indonesia di SD, guru-guru masih mengeluhkan
ketidakmampuan siswanya dalam apresiasi secara baik cerita rakyat tersebut.
Mereka menilai para siswa pada umumnya belum mampu: (1) menentukan
unsur-unsur cerita, (2) mengungkapkan pesan atau amanat cerita yang
didengarkan, (3) menceritakan kembali cerita rakyat dengan kata-kata sendiri,
dan (4) menanggapi isi cerita rakyat tersebut.
Melalui cerita rakyat suatu daerah, sebenarnya siswa dapat diajak untuk
mengetahui sejarah, pengalaman, pandangan hidup, adat istiadat, kepercayaan,
dan berbagai kegiatan lain yang terdapat di daerah tersebut. Hal ini berarti di
dalam cerita rakyat sebenarnya tersirat kenyataan yang menggambarkan
masyarakat pada masa lalu sampai masa kini. Dalam hal ini, sekolah memiliki
peranan yang sangat strategis, yaitu sebagai penyambung lidah masyarakat untuk
menyampaikan realita kehidupan di suatu daerah atau lingkungannya melalui
cerita rakyat di daerah tersebut. Oleh sebab itu, cerita rakyat perlu diajarkan

1
1
2

kepada siswa agar mereka mampu menyerap, merenungkan, dan mengungkapkan


kembali melalui daya imajinasinya ke dalma bentuk cipta sastra.
Manakala sebuah cerita rakyat diajarkan pada siswa SD dalam kemasan
pembelajaran sastra yang apresiatif, dan efektif, maka akan dapat dipetik
beberapa manfaat. Melalui cerita rakyat dapat diketahui kekayaan kebudayaan
sendiri dan kebesaran masa lampau untuk kepentingan pembentukan nilai, dan
budi pekerti. Jadi, cerita rakyat bisa dijadikan sebagai potret kehidupan
masyarakat pada masa lampau yang penuh ajaran moral, dan nilai didik yang bisa
ditularkan pada siswa lewat pembelajaran.
Meskipun kajian dan apresiasi cerita rakyat dirasakan dapat memberi
beberapa manfaat, tetapi ada kekhawatiran yang muncul di kalangan pendidik
(guru) di sekolah. Kekhawatiran ini disebabkan menurunnya minat dan daya
apresiasi siswa terhadap cerita rakyat itu sendiri. Dalam perkembangannya,
cerita-cerita rakyat semakin bergeser oleh perkembangan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK). Anak-anak (siswa sekolah) tidak lagi mengenali cerita
rakyat di daerahnya. Mereka lebih senang menonton televisi atau melihat film,
baik film-film dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Mereka juga lebih
senang melihat tayangan lagu-lagu pop dan acara-acara hiburan lainnya daripada
mendengarkan cerita rakyat. Padahal di dalam cerita-cerita rakyat yang ada di
daerah tempat tinggalnya dapat ditemukan sejumlah falsafah kehidupan dan nilai-
nilai positif yang sangat relevan dengan kehidupan mereka.
Saat ini hampir semua tayangan hiburan di televisi mereka anggap baik.
Padahal, apabila dicermati tidak semua tayangan tersebut memberikan manfaat
positif bagi mereka. Banyak tayangan atau cerita yang diwarnai dengan
kekerasan kebrutalan, kenakalan, kebebasan, dan semacamnya. Hampir semua
jenis tayangan yang ada di televisi dapat dilihat secara bebas oleh anak-anak.
Sebagian besar tayangan tanpa melalui filter dan pengawasan ketat dari orang tua
mereka. Fenomena seperti inilah yang perlu dikhawatirkan oleh beberapa pihak
yang terkait. Oleh karena itu peranan orang tua, peranan guru sekolah, dan pihak-
pihak terkait diperlukan demi kebaikan anak-anak atau generasi muda kita.
3

Melihat fenomena yang mengkhawatirkan seperti itu diharapkan tugas


sekolah adalah berupaya untuk menumbuhkan sosialisasi cerita rakyat beserta
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Bentuk sosialisasi tersebut, tak lain
adalah melalui pembelajaran sastra di kelas, seperti guru bercerita atau
mendongeng di hadapan siswa. Dengan cara seperti itu, anak-anak bisa
menemukan kedamaian manakala seseorang ibu atau bapak guru menceritakan
dongeng tentang dirinya sendiri dan lingkungan sekitar kehidupannya. Jadi,
sosialisasi sastra dalam wilayah formal yaitu sekolah dapat dijadikan sebuah
langkah praktis untuk menghidupkan kembali cerita rakyat di suatu daerah.
Dalam konteks pembelajaran sastra yang terjadi di kelas SD pada
umumnya sangat bersifat teoretis, monoton, dan menjemukan. Guru lebih banyak
menekanan materi sastra (cerita rakyat) dari sisi pengetahuan (ingatan) semata
dengan metode ceramah sebagai andalannya. Mekanisme pembelajaran yang
sering dilakukan pada pembelajaran sastra, khususnya cerita rakyat adalah (1)
guru menjelaskan beberapa pengertian yang terkait dengan materi cerita rakyat,
dan siswa disuruh mendengarkan sambil mencatat; (2) guru langsung menugasi
siswa menceritakan kembali isi cerita rakyat tersebut baik secara lisan maupun
tulisan; (3) mengumpulkan hasil pekerjaan siswa tanpa banyak (jarang)
memberikan umpan balik dari sisi kelemahan/ kekurangan tulisan siswa.
Kekurangberhasilan pembelajaran sastra, khususnya apresiasi cerita
rakyat tersebut disebabkan oleh banyak faktor, baik dari sisi siswa, guru,
kurikulum (materi pelajaran), pendekatan, metode, media pembelajaran, alat
evaluasi yang digunakan, bahkan sampai pada lingkungan atau suasana
pembelajaran yang terjadi.
Khususnya dari faktor guru, tidak sedikit mereka yang berpandangan
bahwa proses pembelajaran sastra yang efektif yang terjadi di kelas adalah: bila
suasana kelas tidak ramai dan tentang; para siswa duduk di kursinya masing-
masing dengan tertib; perhatian seluruh siswa terpusat pada guru, dan guru
menjelaskan (berceramah) di depan kelas. Anggapan yang demikian dalam
konteks pembelajaran sekarang sangatlah tidak tepat. Mengapa demikian? Sebab
dalam kondisi demikian, siswa justru akan semakin ‘tenggelam’ dalam kepasifan.
4

Mereka belajar tidak lebih dari suatu rutinitas, bukan suatu kebutuhan sehingga
kurang tertantang terlibat secara aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa
cenderung belajar secara individual, menghafal konsep-konsep yang abstrak dan
teoretis.
Sinyalemen mengenai kekurangberhasilan pembelajaran sastra (cerita
rakyat) di atas, disebabkan oleh sistem pembelajaran yang masih terpusat pada
guru (teacher center). Siswa kurang diberi kesempatan untuk berlatih dan
mengembangkan kreativitasnya. Di samping itu, dari sisi siswa sendiri, pola
pembelajaran yang demikian akan membiasakan siswa pasif, hanya menerima
tanpa pernah memberi. Cenderung siswa kurang bergairah, kurang bersemangat,
kurang tertarik, atau berminat dalam mengikuti pembelajaran. Akibatnya, siswa
kurang berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Keadaan pembelajaran yang
demikian, tentu tidak akan dapat menopang terhadap percepatan pencapaian
kompetensi dasar pembelajaran yang telah ditentukan, khususnya kompetensi
atau kemampuan apresiasi cerita rakyat.

B. Apresiasi Cerita Rakyat


Apresiasi menurut Dick Hartoko (1990: 25) adalah suatu tindakan
penghargaan. Kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris “appreciation” yang
berarti penghargaan. Apresiasi meliputi tiga aspek, yaitu kognitif, emosi, dan
evaluasi. Aspek kognitif adalah kemampuan memahami masalah teori dan
prinsip-prinsip instrinsik sebuah karya sastra.
Aspek apresiasi yang kedua yaitu emotif. Aspek emotif adalah
kemampuan memiliki nilai-nilai keindahan karya sastra. Indikasi untuk
mengukur aspek emotif yang dapat digunakan adalah: (1) siswa dapat
menemukan dan menunjukkan indah tidaknya karya sastra puisi itu; (2) siswa
dapat menemukan dan menunjukkan cara penulisan latar belakang cerita/ setting;
(3) siswa dapat menemukan dan menunjukkan indah tidaknya pemakaian
ungkapan dalam karya sastra puisi.
5

Aspek ketiga yaitu aspek. Aspek evaluatif adalah kemampuan menilai.


Aspek ini merupakan aspek tertinggi dalam kegiatan apresiasi. Indikator untuk
menilai dan mengukurnya adalah kemampuan untuk menafsirkannya.
Apresiasi cerita rakyat sebagai salah satu kompetensi dasar yang harus
dicapai oleh siswa SD dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia, di
dalamnya terdapat kegiatan belajar, seperti: (1) siswa mendengarkan pembacaan
teks cerita rakyat; (2) siswa menentukan unsur-unsur cerita; (3) siswa
menyampaikan pesan atau amanat cerita secara lisan; (4) siswa menceritakan
kembali cerita rakyat yang didengar dengan kata-kata sendiri; dan (5) siswa
menuliskan tanggapan mengenai isi cerita rakyat (Tim Bina Karya Guru, 2007:
131). Jadi, lewat penelitian tindakan kelas (PTK) ini istilah “kemampuan
apresiasi cerita rakyat” mencakupi kemampuan siswa dalam lima kegiatan belajar
yang telah disebutkan di atas.
Pada dasarnya cerita rakyat (folk literature) merupakan cerita lisan yang
telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat. Cerita rakyat berkembang dan
menyebar secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam suatu
masyarakat. Pengembangan atau pewarisannya dilakukan secara lisan. Selain itu,
tradisi-tradisi tertentu di suatu daerah biasanya dilangsungkan untuk melestarikan
cerita rakyat yang ada pada daerah tersebut.
Cerita rakyat biasanya disebarkan secara lisan (dari mulut ke mulut),
bersifat tradisional, dari suatu generasi ke generasi, terdiri dari berbagai versi
cerita, biasanya tidak diketahui pengarangnya (anonim). Kadang-kadang
penuturannya itu disertai dengan perbuatan, misalnya mengajar tari, mengajar
membatik, mengajar mendalang, dan sebagainya. Ini juga menjadi ciri-ciri cerita
rakyat yang tersebar di hampir seluruh wilayah nusantara. Berkaitan dengan ciri-
ciri sastra lisan, termasuk cerita rakyat, Brunvand (1968: 4) juga menyatakan
bahwa cerita rakyat memiliki beberapa ciri, antara lain: (1) it is oral; (2) it is
traditional; (3) it exist in different version; (4) it usually anonymous; dan (5) it
tends become formulized.
Pada umumnya, cerita rakyat disamakan pengertiannya dengan folklor.
Padahal, apabila dicermati asal usul katanya sudah berbeda. Kata folklor
6

merupakan pengindonesiaan kata Inggris folklore, yang berasal dari dua kata,
yaitu folk dan lore. Folk dapat diartikan masyarakat. Lebih jauh lagi, folk berarti
sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan
sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya. Yang menjadi ciri
penanda adalah bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yakni kebudayaan
yang telah mereka warisi turun-menurun, sedikitnya dua generasi, yang dapat
mereka akui sebagai milik bersamanya.
Sementara itu, kata lore merupakan tradisi folk, yaitu kebudayaan.
Sebagian kebudayaan itu diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau
melalui suatu contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu
pengingat kepada generasi berikutnya. Hal ini sesuai dengan pendapat James
Danandjaja (1997: 2) folklor adalah sebagian kebudayaan, suatu kolektif; yang
tersebar dan diwariskan turun-menurun, di antara kolektif macam apa saja, secara
tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh
yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu mengingat (mnemonic
device).
Cerita rakyat merupakan salah satu bentuk folklor yang dijumpai di
Indonesia. Pada mulanya cerita rakyat disampaikan melalui budaya lisan melalui
bagian-bagian cerita kepahlawanan yang dapat digambarkan melalui wayang,
bentuk-bentuk lainnya misalnya teater. Cerita rakyat disebarkan melalui budaya
lisan, bukan budaya tulis. Cerita rakyat telah dikumpulkan dan digunakan dalam
sistem pendidikan di Indonesia melalui buku-buku kecil yang cukup murah.
Cerita-cerita rakyat ini biasanya terdapat di daerah-daerah di Indonesia. Hakikat
cerita rakyat tersebut sesuai dengan pernyataan di bawah ini.
Cerita rakyat is a form of folklore found in Indonesia. Its origins are
probably an oral culture, with a range of stories of heroes associated with
Wayang and other forms of theatre, transmitted outside of a written culture.
They have been collected and used in the Indonesian education system, in
small cheap books, usually tied in with a district or region of Indonesia
(http://en.wikipedia.org/wiki/Cerita_rakyat).

Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa cerita rakyat


merupakan bagian dari folklor. Folklor dapat disejajarkan dengan kebudayaan
7

rakyat sehingga mempunyai pengertian dan lingkup yang lebih luas daripada
cerita rakyat. Sejalan dengan itu, James Danandjaja (1997: 14) menyatakan
bahwa koleksi folklor Indonesia terdiri dari : kepercayaan rakyat, upacara, cerita
prosa rakyat (mite, legenda, dan dongeng), nyanyian kanak-kanak, olahraga
bertanding, hasta karya, makanan dan minuman, arsitektur rakyat, teater rakyat,
musik rakyat, logat, dan lain-lain.
Folklor dapat disejajarkan dengan tradisi lisan. Tradisi lisan tidak terbatas
pada cerita rakyat, mite, dan legenda saja. Lebih dari itu, tradisi lisan dapat
berupa sistem kognasi kekerabatan lengkap seperti: sejarah, hukum adat, praktik
hukum, dan pengobatan tradisional. Pendapat yang sama dikemukakan oleh Tol
dan Prudentia (1995: 2), “Oral traditions do not only contains folktales, myhts,
and legends, but store complete indigenous cognate systems, to name of few:
histories, legal practices, adat law, medications.”
Folklor mencerminkan kebudayaan Indonesia yang diekspresikan melalui
musik, tarian, drama, seni kerajinan tangan, seni pahat, seni lukis, karya sastra.
Hal ini memiliki implikasi serius bagi penduduk asli karena kebanyakan karya-
karya folklor cenderung mempresentasikan secara lisan dan visual. Kegunaan
folklor pada masyarakat suku asli adalah sebagai alat untuk ekspresi,
pemeliharaan dan perkembangan identitas mereka (http://cybernews.cbn.net.id/
detil.asp?kategori=BusRep&newsno=61).
Dari beberapa teori yang telah dikemukakan di atas dapat diketahui
bahwa folklor maupun cerita rakyat lebih menekankan aspek lisan daripada aspek
tulis. Cerita rakyat merupakan sastra lisan yang berkembang di masyarakat,
terutama pada masa lalu. Berkaitan dengan hal ini Suripan Sadi Hutomo (1991:
1) menyatakan bahwa sastra lisan dimaksudkan sebagai kesusastraan yang
mencakup ekspresi kesusastraan warga suatu kebudayaan yang disebabrkan dan
diturunkan secara lisan (dari mulut ke mulut). Sebenarnya baik kesusastraan lisan
maupun tulis adalah dunia ciptaan pengarang dengan mempergunakan medium
bahasa.
Suripan Sadi Hutomo (1991: 3-4) menyebutkan beberapa ciri sastra lisan,
termasuk cerita rakyat, yaitu sebagai berikut:
8

1) Penyebarannya melalui mulut. Maksudnya, ekspresi budaya yang disebarkan,


baik dari segi waktu dan ruang melalui mulut;
2) Lahir dari masyarakat yang bercorak desa, masyarakat di luar kota, atau
masyarakat yang belum mengenal huruf;
3) Menggambarkan ciri-ciri budaya sesuatu masyarakat, sebab sastra lisan
merupakan warisan budaya yang menggambarkan masa lampau, tetapi
menyebut pula hal-hal baru (sesuai dengan perubahan-perubahan sosial).
Oleh karena itulah, sastra lisan juga disebut fosil hidup;
4) Tidak diketahui siapa pengarangnya, dan karena itu menjadi milik
masyarakat;
5) Tidak mementingkan fakta dan kebenaran, lebih menekankan pada aspek
khayalan, fantasi yang tidak diterima oleh masyarakat modern, tetapi sastra
lisan itu mempunyai peran penting di dalam masyarakatnya;
6) Terdiri dari berbagai versi; dan
7) Menggunakan gaya bahasa lisan (sehari-hari), mengandung dialek, kadang-
kadang diucapkan tidak lengkap.
Apresiasi cerita rakyat adalah suatu proses berbahasa secara reseptif,
yaitu upaya siswa dalam menyerap, menangkap informasi (pesan-pesan) yang
terkandung dalam cerita rakyat. Upaya apresiasi dikatakan berhasil, bilamana
siswa telah sanggup (1) mendengarkan cerita rakyat yang diceritakan atau dibaca
orang lain, (2) menentukan atau mengidentifikasi unsur-unsur cerita yang
terdapat dalam cerita rakyat tersebut, (3) menyampaikan unsur-unsur cerita yang
telah diidentifikasikannya, (4) menceritakan kembali cerita rakyat tersebut
dengan kata-kata sendiri, dan (5) memberi tanggapan tertulis/ lisan tentang isi
cerita rakyat yang didengarkannya itu.
Apresiasi cerita rakyat yang disampaikan orang lain tidaklah mudah,
diperlukan sejumlah persyaratan antara lain, memiliki kemampuan
mendengarkan dengan baik, memiliki kemampuan menganalisis isi cerita,
memiliki kemampuan berbicara/mengungkapkan kembali dengan bahasa yang
lancar dan jelas, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi. Oleh sebab itu,
proses pembelajaran apresiasi cerita rakyat perlu dirancang dengan menggunakan
9

kegiatan-kegiatan yang banyak menuntut siswa mengalami sendiri, bukan hanya


kegiatan yang menuntut mendengar dan mencatat dari gurunya, tanpa melibatkan
secara langsung siswa untuk bekerja mandiri atau kelompok. Siswa perlu
didudukkan sebagai subjek sehingga mereka dapat mengekspresikan ide-ide,
merasakan adanya manfaat, dan termotivasi untuk selalu mengikuti pembelajaran
karena merasa diorangkan dan dihargai.

C. Prinsip Apresiatif
Prinsip apresiatif lebih ditekankan pada pembelajaran sastra. Istilah
prinsip apresiatif berasal dari kata kerja dalam bahasa Inggris “appreciati” yang
berarti menghargai, menilai, menjadi kata sifat “appresiative” yang berarti senang
(Echols dan Shadely, Hasan, 1993: 35). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
(Depdikbud, 1988: 46) kata “apresiasi” berarti “penghargaan”. Istilah apresiatif
dimaknai yang “menyenangkan”. Jadi prinsip apresiatif berarti prinsip
pembelajaran yang menyenangkan.
Menilik artinya tersebut berarti prinsip ini tidak hanya berlaku bagi
pembelajaran sastra, tetapi juga bagi pembelajaran aspek yang lain, bahkan untuk
mata pelajaran di luar mata pelajaran bahasa Indonesia. Namun, karena yang
menggunakan istilah ini hanya pembelajaran sastra, seperti yang tercantum dalam
Kurikulum 2004, apresiasi sastra merupakan salah satu komponen dari standar
kompetensi di SD dan MI (Madrasah Ibtidaiyah) yang diintegrasikan pada aspek
keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Sekarang timbul pula pertanyaan bagaimana pembelajaran sastra yang
menyenangkan itu? Pembelajaran sastra yang menyenangkan adalah yang
mengagumkan. Bagaimana pula ciri pembelajaran yang menyenangkan itu?
Mudah saja, kita perhatikan peserta didik kita pada saat kita bercerita.
Umpamanya kita bercerita tentang “Kerbau dan Harimau” seperti berikut:

Kerbau dan Harimau

Sudah berbulan-bulan hujan tak turun. Pepohonan rontok dan


gugur. Yang masih bertahan hanya daunya yang kuning serta kayu.
10

Bahkan, rumput pun tak ada yang tumbuh karena kemarau terlalu amat
sangat.
Pada kemarau yang amat terik itu, tersebutlah ada seekor kerbau
yang sudah kurus kurang makan. Padang rumput tempat ia dan kawan-
kawannya makan sudah kering. Segala rerumputan mati. Tadinya kerbau
itu hidup bersama-sama dengan beberapa kerbau lainnya, merupakan
kawanan. Tetapi seekor demi seekor kerbau-kerbau lainnya mati
kehausan dan kelaparan.
Sekarang tinggallah ia sendiri. Tubuhnya kurus. Tulang-tulangnya
menonjol seolah-olah mau keluar dari kulit yang membalutnya.
Karena hutan tempat tinggalnya sudah gersang kepanasan, kerbau
itu berangkat tak bertujuan mencari padang rumput yang hijau. Sudah
sekian lamanya ia mencari tempat, tetapi sia-sia saja tak ditemukannya
tempat yang diinginkannya.
Makin lama makin jauh saja kerbau itu berjalan. Akhirnya ia masuk
ke sebuah hutan asing, tempat tinggal sang Harimau Kurus. Kerbau itu
tidak tahu bahwa dalam hutan itu seekor harimau. Kalau tahu tentu ia
takkan masuk ke situ.
Dulu dalam hutan itu banyak binatang-binatang lainnya yang
menjadi makanan sang Harimau Kurus. Tetapi karena sang Harimau
terlalu ganas, binatang-binatang itu pada melarikan diri. Dan karena tak
ada lagi binatang yang menjadi mangsanya, Harimau itu kelaparan dan
tubuhnya semakin susut, sampai dia mendapat gelar Sang Harimau Kurus
pula.
Sang Harimau Kurus amat heran melihat ada kerbau yang masuk ke
hutan tempat tinggalnya itu. Ia berkata dalam hati: “Nah, rupanya hari
ini nasib baik datang padaku. Sudah lama aku kelaparan, sekarang
datang sesekor kerbau untuk menjadi mangsa. Biarpun kurus, tentu ia
bisa mengobati laparku buat sementara.”
11

Sesudah berpikir demikian, sang Harimau Kurus mengaum,


menakut-nakuti sang Kerbau: “Hai Kerbau, mengapa kau berani masuk
ke dalam hutan kerajaanku ini?”
Sang Kerbau terkejut. Tubuhnya gemetar saking lapar dan
ketakutan. Dilihatnya seekor harimau kumbang matanya bersinar
menyala-nyala, siap akan menerkam. Dengan memberanikan diri, sang
kerbau menjawab: “Wah, Tuanku! Bukan maksud hamba sembarangan
masuk ke dalam kerajaan Tuanku. Tetapi hamba datang ke sini lantaran
kesasar, mencari makanan rumput tak juga dapat.”
“Kesasar atau tidak, tetapi kau sudah ada di sini. Tentu akan
kumakan.”
“Ampun Tuanku, beribu-ribu ampun. Lihatlah tubuh hamba yang
kurus ini. Tentu hanya tulang saja yang akan Tuanku santap. Apakah
gunanya Tuanku memakan hamba yang hina dina ini?”
“Baiklah, aku kasihan juga padamu. Kau takkan kumakan sekarang,
karena tubuhmu kurus betul. Sekarang begini saja, aku mempunyai
sebidang tegalan rumput yang hijau, tak pernah dimakan binatang
lainnya. Kau akan kuperbolehkan makan di tegalan rumput itu hingga
tubuhmu gemuk. Kalau nanti tubuhmu sudah gemuk, kau meski datang
padaku serta bersedia kumakan.”
Beberapa jenak lamanya sang Kerbau termenung. Ia tak bisa segera
menjawab. Ia sungguh bingung. Kalau ia menolak permintaan sang
Harimau, tentu seketika itu juga tubuhnya diterkam oleh raja hutan itu
tanpa ampun lagi. Sebaliknya kalau perjanjian itu ia terima, tentu nanti
kalau sudah gemuk pasti ia dimakan oleh sang Harimau. Tak satu pun
pilihan yang dapat dipilihnya. Tetapi, daripada ia diterkam seketika itu
juga, lebih baik nanti saja. Maka diambilnyalah keputusan: “Baiklah
sang Harimau, hamba terima perjanjian itu. Manakah tegalan rumput
itu?”
“Syukurlah. Mari kutunjukkan padamu di mana tegalan rumput itu.”
12

Lalu sang Kerbau berjalan mengikuti sang Harimau menuju sebuah


tegalan rumput. Tegalan rumput itu meskipun tak hijau lagi karena
ditimpa kemarau, namun tak habis tandas dimakan binatang.
Segera sang Kerbau makan rumput yang sudah lama diimpikannya
dengan lahap.
Sang Harimau pun pergi pula mencari mangsa lain.
Sang Harimau akan menengok kerbau tersebut setiap hari Jumat.
Pada hari Jumat yang pertama, dilihatnya kerbau itu sudah mulai
gemuk. Jalannya sudah tegap, tidak lagi terhuyung-huyung seperti
seminggu sebelumnya. Pada hari Jumat yang kedua kerbau itu sudah
gemuk pula.
“Wah, takkan lama lagi tentu aku akan makan besar,” pikir sang
Harimau.
Sementara itu, sang Kerbau pun tak henti-hentinya mencari akal
agar ia bisa meloloskan diri dari bahaya maut. Ia tak mau menjadi
mangsa harimau.
Pada hari Jumat yang ketujuh, tubuh sang kerbau sudah gemuk
benar. Kelihatannya kehitam-hitaman tanda sehat. Hampir tak ada tanda-
tanda bahwa ia dulu seekor kerbau kurus yang terhuyung-huyung hampir
mati.
Melihat bahwa saat perjanjian sudah tiba, sang Harimau mendekati
sang Kerbau dan katanya: “Nah, sekarang kau sudah gemuk, tinggal aku
saja yang masih kurus. Sudah tiba saat perjanjian kita dahulu. Kau akan
kumakan.”
“Hamba pasrah. Tapi kalau tuanku mengizinkan hamba minta
tuanku beri kesempatan untuk menemui sahabat kental hamba. Sebelum
ajal tiba, hamba ingin bersua dulu dengan sahabat hamba itu, agar ia
tidak kehilangan hamba.”
“Baik. Tapi jangan terlalu lama aku menunggu.”
“Tidak”
13

Lalu sang Kerbau berjalan cepat-cepat. Ia berjalan setengah hari.


Tak tahu ke mana akan menuju. Karena sesungguhnya ia tak mempunyai
sahabat. Kawan-kawannya sudah mati semua karena kemarau yang amat
sangat. Ia berkata begitu kepada sang Harimau hanya akal semata-mata,
agar ia bisa melepaskan diri dari bahaya maut.
Setelah beberapa lamanya sang kerbau berjalan cepat, nafasnya
sudah memburu tanda lelah. Di bawah sebatang pohon, ia berhenti. Di
sana ia merenung saking bingung memikirkan ke mana ia akan pergi
supaya terlepas dari ajal.
Kebetulan di atas pohon itu ada seekor lutung. Lutung itu sudah
lanjut usianya. Melihat ada seekor kerbau merenung seolah bingung,
lutung tersebut merasa kasihan. Lalu ia turun ke dahan yang rendah, di
atas punggung sang kerbau.
“Mengapa engkau nampak seperti bagiku, kawanku? Apakah yang
menyusahkan hatimu?”
Kerbau itu tersebut. Ketika melihatnya seekor lutung, hatinya agak
gembira. “Siapa tahu lutung tersebut bisa memberi petunjuk agar aku
dapat keluar dari kebingungan ini,” pikirnya.
“Benar dugaanmu, kawan. Aku memang sedang bingung.”
………………………………………………………………………………………
…………………………..
(Ajib Rosidi dalam Rusyana dkk, 1982: 52-54).

Cerita dihentikan dengan tiba-tiba. Perhatikan bagaimana keadaan dan


sikap atau tanggapan peserta didik Anda. Kalau terlihat mereka kecewa, berarti
cerita Anda menarik. Berikutya, guru mengajukan pertanyaan.
Guru : “Bagaimana perasanmu terhadap nasib si kerbau tadi?”
Peserta didik : “Kasihan, Pak!”
Guru : “Mau diteruskan?”
Peserta didik : “Mau, teruskan Pak!”
14

Kalau dialog seperti di atas berlangsung di kelas Anda, berarti Anda


berhasil membuat peserta didik kagum, menyenangkan, dan menarik.
Nah, itulah ilustrasi dari materi pembelajaran yang apresiatif. Cerita bisa
juga diteruskan oleh anak-anak. Walaupun mungkin hampir sama atau bahkan
mungkin tidak sama dengan cerita yang semestinya. Hal ini tidak masalah.
Tujuan kita hanya membangkitkan minat anak dan melatih mereka berimajinasi
atau berfantasi.
15

D. Cerita Rakyat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD


Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : V (lima) / 1 (satu0
Waktu : 2 jam pelajaran

1. Standar Kompetensi
Memahami penjelasan nara sumber dan cerita rakyat secara lisan.

2. Kompetensi Dasar
Mengidentifikasi unsur cerita tentang cerita rakyat yang didengarnya.

3. Indikator
Menceritakan kembali secara tertulis dengan kalimat runtut dan mudah
dipahami.

4. Tujuan
Peserta didik dapat menceritakan kembali dongeng yang didengarnya dengan
kalimat runtut dan mudah dipahami secara tertulis.

5. Materi Pokok
Cerita rakyat (dongeng dari Musi Banyuasin Sumatera Selatan)

Ikan Bujuk Tupai

Pada suatu hari di tepi Sungai Musi, seekor tupai melompat-


lompat akan minum. Bertemulah tupai dengan ikan gabus (ikan bujuk)
penghuni air yang tinggal tidak jauh dari situ. Kedua makhluk hidup
itu semakin hari semakin akrab. Karena akrabnya, keduanya sepakat
untuk memanggil dengan sapaan mesra, yakni tupai memanggil ikan
bujuk “tali ati” (yang berarti pengikat hati), sedangkan ikan bujuk
memanggil tupai “tali nyawa” (artinya pengikat nyawa). Makna
sapaan itu ialah antara hati dan nyawa tidak dapat dipisahkan.
Pagi itu tidak biasanya tupai tidak minum air sungai, seperti
biasa ikan bujuk menunggu kedatangan sahabatnya. Namun, dari
16

waktu ke waktu tupai tidak muncul juga. Akhirnya ikan bujuk


mendatangi kediaman tupai. Betapa terkejutnya bujuk mengetahui
tupai sahabatnya sakit.
“Tali Ati, (panggilan ikan bujuk) aku sudah berobat namun
belum sembuh juga” kata tupai.
“Tali Nyawa, ada tabib di hulu sungai yang sangat pintar”, kata
bujuk.
“Sudah, katanya penyakitku dapat disembuhkan kalau aku
makan telur ayam kampung,” ucap tupai dengan suara parau.
Sampai di rumah ikan bujuk memutar otak agar bisa
mendapatkan telur ayam kampung sebagai obat sahabatnya. Barulah
ia ingat kalau setiap hari ada seorang putri yang mandi di sungai di
dekat rumahnya.
Pagi itu seorang putri mandi sambil membawa gerigi (tempat air
yang terbuat dari bambu besar). Ketika putri mengambil air, tanpa
sepengetahuannya, bujuk masuk dalam gerigi. Sampai di rumah sang
putri, gerigi diletakkan di bawah tangga naik rumah panggung.
Tiada petir dan tiada guruh, tiba-tiba hujan deras melanda desa
itu. Air hujan seperti ditumpahkan dari langit. Selang beberapa
waktu, permukaan air musi naik dan membanjiri desa itu, tidak
terkecuali gerigi di bawah tangga rumah ikut tenggelam. Secepat kilat
bujuk keluar dari gerigi mencari kandang ayam. Ia tahu betul kalau
manusia selalu memelihara ayam di bawah rumah panggung.
Tanpa kesulitan ikan bujuk dapat menemukan kandang ayam
yang sudah digenangi air. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan bujuk
mengambil salah satu telur yang sudah ditinggalkan induknya.
Dengan cara diikulum, telur dibawa menuju rumah tupai.
“Tali Nyawa, aku datang dengan membawa telur ayam” kata
bujuk dengan penuh kasih sayang.
“Terima kasih, tali ati sahabatku”, jawab tupai dengan riang.
Kemudian telur itu dimakan dan sembuhlah si tupai itu.
17

Beberapa tahun kemudian, ikan bujuk sakit. Tupai sedih sekali


meliaht sahabatnya tergolek tak berdaya. Kata pawang di hilir
sungai, penyakit bujuk disembuhkan dengan cara bujuk harus makan
hati buaya.
Sampai di rumah tupai memikirkan cara untuk mendapatkan hati
buaya. Tidak lama kemudian, ia mendengar berita bahwa di hulu
sungai ada seekor buaya yang sedang mengamuk. Betul juga tupai
mendapati buaya di sungai sedang mengamuk, benda apapun di
dekatnya langsung ditelannya.
Tupai memutar otak untuk dapat masuk ke dalam perut buaya.
Akhirnya tupai melubangi kelapa dan ia masuk ke dalamnya.
Kemudian kelapa dihanyutkan di sungai. Setelah kelapa hanyut di
dekat buaya, kelapa tersebut langsung disambar dan ditelannya bulat-
bulat.
Setelah di dalam perut buaya, tupai keluar dari kelapa. Dengan
leluasa tupai melihat isi perut buaya. Dengan tidak menyia-nyiakan
kesempatan digigitlah hati buaya. Buaya kesakitan dan mati
terdampar di pinggir sungai. Tupai keluar dari mulut buaya. Ia
langsung menuju rumah sahabatnya, si bujuk.
Sesampai di rumah bujuk, hati buaya diserahkannya dan
langsung dimakan oleh si bujuk. Tidak lama kemudian berkat
kebesaran Tuhan, ikan bujuk sembuh dari sakitnya.
“Terima kasih Tali Nyawa, sahabatku,” kata ikan bujuk.
“Semoga persahabatan kita abadi”, kata tupai dan bujuk
serentak. Keduanya berpelukan dengan mesranya.
(Supriyadi, 2006: 82-84).
18

E. Kegiatan Pembelajaran
1. Kegiatan awal/ pendahuluan
a. Apersepsi, anak menjawab pertanyaan-pertanyaan guru yang
berkaitan dengan dongeng atau cerita rakyat.
Contoh: Pernahkah kalian mendengar dongeng? Senangah kalian
mendengar dongeng? Dongeng apa saja yang pernah didengar? Coba
sebutkan dongeng-dongeng yang ada atau terjadi di daerah kita?
Setelah anak menjawab, kita teruskan dengan pertanyaan berikutnya. Mau
kalian mendengar cerita Bapak? (Cerita bisa langsung disampaikan oleh
guru, bisa juga direkam, disertai dengan lagu-lagu dan musik yang
berkaitan dengan isi dongeng).
b. Motivasi, dilakukan dengan cara guru menyampaikan manfaat
kegiatan pembelajaran dengan materi dongeng.
Umpamanya, kalau rajin mendengar dongeng nanti kalian bisa membuat
dongeng baru atau membuat cerita lain lalu cerita tersebut dapat kalian
dikirimkan ke majalah anak-anak. Tentu kalian akan mendapat uang
imbalan.
c. Menjelaskan tujuan, disampaikan sesuai dengan yang pembelajaran
secara singkat.
2. Kegiatan inti
a. Peserta didik mendengarkan penjelasan guru yang berkaitan dengan
langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan.
b. Peserta didik menyimak sebuah cerita rakyat yang berupa dongeng
yang berasal dari Musi Banyuasin Sumatera Selatan (cerita bisa langsung
disampaikan oleh guru atau dapat juga direkam yang disertai dengan
lagu-lagu dan musik yang berkaitan dengan isi dongeng). Sambil
menyimak peserta didik diberi kesempatan mencatat hal-hal yang
mungkin berguna untuk bahan menceritakan kembali, sebagai tugas
akhirnya.
c. Secara berkelompok, peserta didik mendiskusikan pertanyaan yang
berkaitan dengan isi dongeng. Umpamanya: siapa pelaku cerita itu; di
19

mana terjadinya peristiwa itu; jelaskan perilaku para pelakunya;


bagaimana hubungan antarpelaku; apa buktinya bahwa kedua pelaku
saling menolong; dsb (kegiatan ini dilakukan dalam rangka menggiring
peserta didik untuk memahami isi cerita).
d. Tiap kelompok melaporkan hasil diskusinya. Pada saat salah seorang
wakil dari suatu kelompok melaporkan, kelompok lain menyimak dan
menanggapinya.
e. Peserta didik memperhatikan tanggapan guru terhadap hasil diskusi
tiap kelompok dan proses diskusi kelas.
f. Peserta didik menceritakan kembali isi cerita dengan kalimat yang
runtut dan mudah dipahami secara tertulis.
3. Kegiatan akhir/penutup
a. Kegiatan refleksi tentang proses dan hasil kegiatan pembelajaran.
Contoh: Bagaimanakah dongeng yang kalian dengar tadi, menarik dan
mengasyikkan bukan? Apa kira-kira kekurangannya? Nah, ternyata
tulisan kalian sudah bagus semua. Jalan ceritanya tepat, isinya lengkap,
kalimat-kalimatnya pun sudah baik dan benar. Hanya ada beberapa dari
kalian yang menuliskan huruf kapital belum tepat. Bapak sangat bangga,
anak-anak sudah mengikuti pembelajaran ini dengan penuh perhatian dan
semangat yang menggebu. Oleh karena itu, hasilnya pun sangat
memuaskan. Selamat anak-anak!
b. Penegasan-penegasan berkaitan dengan tata cara mendengarkan,
menceritakan kembali, dan menuliskannya.
c. Tindak lanjut.
Kegiatan ini berupa pengayaan atau perbaikan. Pengayaan, kalau 85%
dari jumlah peserta didik sudah mendapat nilai 75 (kalau skor 0-100).
Dan lakukan perbaikan kalau peserta didik yang mendapat nilai 75 kurang
dari 85% dari jumlah peserta didik.
20

Penilaian
Kriteria/ skor
1. Kelengkapan isi cerita: 6 (jika lengkap beri nilai 6, kurang lengkap
beri nilai 4, dan jika kurang lengkap sekali beri nilai 2).
2. Ketepatan kalimat: 4 (jika tidak ada yang salah beri nilai 4, salah
sedikit beri nilai 3, dan jika banyak ketidaktepatannya beri nilai 2).

Contoh Dongeng

Dongeng Putri Bungsu dengan Garam

Menurut yang empunya cerita, dahulu kala ada seseorang raja yang
mempunyai beberapa putri. Pada suatu hari dipanggillah mereka untuk
mengetahui bagaimana cinta mereka terhadap orang tuanya.
Putri yang bersulung berkata, “Lebih baik saya kehilangan kedua belah
mataku daripada kehilangan kedua orang tuaku.” Raja sangat puas mendengar
pernyataan anak sulungnya. Kemudian putri yang kedua mendapat giliran untuk
menyatakan pendapatnya. “Saya lebih baik kehilangan kedua belah tanganku
daripada kehilangan orang tuaku,” demikianlah katanya. Atas pertanyaan ini raja
pun merasa sangat bahagia. Selanjutnya putri ketiga menyatakan pendapatnya,
“Lebih baik saya hidup tanpa kedua kakiku daripada tidak ada orang tuaku,”
jawaban ini pun menenangkan hati orang tuanya.
Akhirnya tibalah giliran putri keempat, yaitu putri bungsunya, untuk
menyatakan rasa kasihnya pada kedua orang tuanya. Pernyataannya adalah,
“Lebih baik saya makan tanpa garam daripada harus dipisahkan dari kedua
orangtuaku.” Mendengar pernyataan itu, Sang Raja sangat murka. “Apa? He!
Aku kau samakan dengan garam? Cintamu terhadap orangtuamu hanya sebesar
garam! Jika demikian lebih baik engkau pergi dari sini!” Akhirnya diusirlah si
bungsu serta tidak diakui lagi sebagai putrinya. Kata sang Raja setelah mengusir
putrinya itu dalam bahasa Jawa, “Dadio banyu emoh nyawuk, dadio godhong
emoh nyuwek.” Artinya harfiahnya adalah: “jadi air tak mau nyendok, jadi daun
21

tidak mau nyobek” dan arti tersiratnya adalah: “sudah tidak mau tahu-menahu
lagi”. Dan dibuanglah putri bungsunya ke hutan dengan menyuruh penggawanya.
Bertahun-tahun telah lewat tanpa ada berita dari putri bungsunya. Pada
suatu hari Sang Raja tersesat di hutan pada waktu berburu dan terpaksa berteduh
di sebuah gubuk yang didiami oleh seorang perempuan muda. Oleh orang
perempuan itu, beliau disuguhi masakan yang sedap-sedap. Sehabis bersantap
berkatalah raja kepada perempuan muda itu, “Masakanmu sebenarnya enak,
tetapi sayangnya hambar kurang asing.” Jawab perempuan muda itu adalah ia
pantang memakan garam, karena dahulu ia pernah ditanya orang tuanya, apakah
ia mengasihi mereka. Jawabnya yang sejujurnya adalah ia lebih baik tidak makan
garam daripada tidak mencinta mereka. Akibat dari pernyataan itu, ia diusir
ayahnya. Sejak itu ia bersumpah tidak akan menyentuh garam lagi.
Mendengar pengakuan itu, sang Raja terkejut karena ternyata perempuan
muda ini adalah putri bungsunya, yang ternyata sangat besar kasihnya
kepadanya, sehingga bersedia melakukan pengurbanan diri sebesar ini. Putrinya
pun segera diakuinya kembali dan diajak pulang ke istana.
22

DAFTAR PUSTAKA

Bascom, William R. 1965. The Form of Folklore: Prose Narratives. The Hague:
Mouton.

Brunvand, Jan Harold. 1968. The Study of American Folklore: An Introduction. New
York: W.W. Norton & Company Inc.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Sekolah Dasar dan
Madrasah Ibtidaiyah untuk Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta:
Depdiknas.

James Danandjaja. 1997. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain.
Jakarta: Grafiti.

Joko Nurkamto. 2004. “Peningkatan Profesionalisme Guru melalui Reflective


Teaching” Pidato Pengukuhan Guru Besar FKIP UNS. 12 Juni 2004.

Suripan Sadi Hutomo. 1991. Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra
Lisan. Surabaya: HISKI Jawa Timur.

Wikipedia, the free encyclopeia. 2006. Cerita Rakyat.


(http://en.wikipedia.org/wiki/Cerita_rakyat). Diakses tanggal 2 Februari 2008.

(http://cybernews.cbn.net.id/ detil.asp?kategori=BusRep&newsno=61). Diakses 25


Maret 2008.