Anda di halaman 1dari 4

1. A.

Budaya sebagai pengungkit kinerja dan sebagai beban dalam meningkat kinerja
a. Budaya Sebagai pengungkit Kinerja
Budaya Organisasi merupakan bagian dari Manajemen Sumber Daya Manusia
dan Teori Organisasi dalam rangka meningkatkan kinerja staff. Manajemen Sumber
Daya Manusia melihat Budaya Organisasi dari aspek prilaku, sedangkan Teori
organisasi melihat Budaya Organisasi sebagai wadah tempat individu bekerjasama
untuk mencapai tujuan. Budaya Organisasi berfungsi sebagai pemersatu,
identitas, citra, motivator bagi seluruh staff dan orang-orang yg ada di dalamnya.
Selanjutnya, sistem nilai tersebut diwariskan kepada generasi
berikutnya, dan dapat dijadikan acuan prilaku manusia dalam organisasi yang
berorientasi pada pencapaian tujuan atau hasil/target kinerja yang ditetapkan.

b. Budaya sebagai beban dalam meningkatkan kinerja


Budaya dikatakan sebagai beban dalam meningkatkan kinerja apabila terjadi
hambatan hambatan sebagai berikut :
Hambatan terhadap Perubahan
Budaya menjadi beban, bilamana nilai-nilai yang dimiliki bersama tidak
sejalan dengan nilai-nilai yang dapat meningkatkan efektivitas organisasi. Hal ini
paling mungkin terjadi bila lingkungan sebuah organisasi bersifat dinamis.
Konsistensi perilaku merupakan aset bagi organisasi bila organisasi itu
menghadapi lingkungan yang stabil tetapi konsistensi dapat membebani
organisasi tiu dan membuatnya kesulitan menanggapi perubahan-perubahan
lingkungannya.
Hambatan terhadap Keanekaragaman
Merekrut karyawan baru yang, karena faktor ras, usia, jenis kelamin,
ketidakmampuan, atau perbedaan-perbedaan lain, tidak sama dengan mayoritas
anggota organisasi lain akan menciptakan sebuah paradoks. Manajemen
menginginkan karyawan baru menerima nilai budaya inti organisasi. Budaya yang
kuat sangat menekan para karyawan agar menyesuaikan diri. Budaya yang kuat
juga membatasi rentang nilai dan gaya yang dapat di terima. Organisasi-
organisasi mencari dan memperkerjakan individu yang beranekaragaman karena
kekuatan alternatif yang dibawa mereka ke tempat kerja. Namun perilaku dan
kekuatan yang beranekaragam itu cenderung mengurangi budaya kuat ketika
orang berikhtiar untuk menyesuaikan diri dengan organisasiitu. Oleh karena itu,
budaya kuat dapat menjadi beban bila budaya itu secara efektif menyingkirkan
kekuatan unik yang oleh orang-orang dengan latar belakang yang berlainan
tersebut ke dalam organisasi itu. Budaya kuat juga menjadi kelemahan bila
ternyata menjadi tidak peka terhadap orang-orang yang berbeda.

Hambatan terhadap Merger dan Akuisisi


Secara historis, faktor kunci yang diperhatikan manajemen ketika
membuat keputusan akuisisi atau merger terkait dengan isu keuntungan finansial
atau sinergi produk. Belakangan ini, kesesuaian budaya juga menjadi fokus
utama.

B. peran dan hambatan budaya dalam manajemen perubahan


Peran budaya dalam manajemen perubahan
Peran budaya dalam manajemen perubahan yaitu budaya mampu mentumpulkan
atau membelokkan dampak perubahan organisasi yang sudah direncanakan secara
matang.
- Budaya Sebagai Kontrol
Sistem kontrol dapat diartikan sebagai pengetahuan bahwa seseorang
mengetahui dan menaruh perhatian pada apa yang seseorang lakukan dan
dapat menjelaskan pada seseorang tersebut kapan terjadi penyimpangan.
Sistem kontrol terjadi, ketika seseorang sadar bahwa atasan
memperhatikan dan mengetahui ada hal - hal yang berjalan tidak sesuai
rencana. Penempatan sistem kontrol untuk mengarahkan dan
mengkoordinasi kegiatan membuat organisasi menjadi lebih efisien dan
efektif
- Budaya Dalam Mempromosikan Inovasi
Budaya dapat membantu atau menghambat proses pengembangan produk
baru, inovasi, dan cara - cara baru yang lain. Budaya dapat membantu
promosi inovasi, jika norma - norma dalam budaya dibagikan secara luas
dan secara kuat dipegang oleh anggota organisasi, serta secara aktif
mempromosikan dan mengimplementasikan pendekatan - pendekatan baru.
- Budaya Dalam Strategi
Strategi organisasi dibangun berdasarkan penilaian tugas - tugas
yang terus disempurnakan melalui matching antara elemen - elemen
manusia, struktur, dan budaya organisasi. Penilaian suatu strategi juga
mempunyai implikasi yang signifikan terhadap organisasi informal dan
budaya, yang merupakan norma - norma organisasi dalam membantu
implementasi strategi

a. Buleleng SMILE memiliki tujuan untuk mempromosikan kembali Buleleng, Bupati


Buleleng menggunakan branding Buleleng SMILE yang saat ini sudah berlangsung.
Branding ini dipilih dikarenakan Buleleng terkenal dengan sebutan Bumi panas karena
sering terlibat perselisihan setiap tahun. untuk mengubah citra tersebut, Bupati Buleleng
Putu Agus Suradnyana S.T ingin membranding Buleleng dengan Buleleng SMILE yakni
Buleleng yang Sejahtera, Mandiri, Integritas, Lestari, dan Ber-Etika. Dengan brand
Buleleng SMILE Bupati Buleleng mengharapkan tidak terjadi kekerasan, dan juga
masyarakat buleleng berubah menjadi penuh dinamika, terbuka, dan smile. Dimana
makna smile memiliki makna ganda, bisa diartikan tersenyum, damai dan juga dapat
diartikan kepanjangan dari sejahtera, mandiri, terintegrasi, lestari, dan beretika. Selain itu
makna tersebut juga dapat diartikan lebih meningkatkan komunikasi horizontal dengan
masyarakat baik sesama agama, maupun lain agama bisa membangun komunikasi
sebagai sesuatu yang fundamental untuk membangun Buleleng.
b. Prestasiku, Untukmu Singarajaku memiliki makna pembinaan prestasi yang sudah
diraih pemerintah bersama-sama masyarakat di Buleleng, itu dipersembahkan untuk
membangun dan memajukan Kota Singaraja
c. Singaraja Di Hatiku tema ini mempunyai makna yang mendalam yaitu rasa kebanggaan
dan kecintaan kepada Singaraja yang kita wujudkan dengan kerja nyata, dengan sepenuh
hati, unjuk aksi meraih prestas