Anda di halaman 1dari 13

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Bidang Study : Keperawatan Medikal Bedah

Topik : Tuberkulosis

Sasaran : Keluarga pasien di Ruang 27

Tempat : RSUD dr Syaiful Anwar Malang

Hari/Tanggal : Kamis, 23 Maret 2017

Waktu : 1 x 25 menit

I. Tujuan

1.1 Tujuan instruksional umum

Setelah mendapatkan penyuluhan selama 20 menit tentang bahaya rokok

terhadap tubuh, peserta penyuluhan mengerti konsep penyakit dan penatalaksanaan

tuberkulosis

1.2 Tujuan instruksional khusus

Setelah mendapatkan penyuluhan satu kali diharapkan peserta penyuluhan

mampu:

1.Memahami pengertian tuberkulosis

2.Mengerti penyebab tuberkulosis

3.Mengerti tanda gejala tuberkulosis

4. Mengerti penatalaksanaan tuberkulosis

II. Metode

1. Ceramah

2. Tanya Jawab

1
III. Media

1. Leaflet

2. LCD & PPT

IV. Waktu Dan Tempat

Pukul 10.00 tanggal 30 Maret 2017 di Ruang 27

V. Garis Besar Materi

a. Pengertian tuberkulosis

b. Penyebab tuberkulosis

c. Tanda gejala tuberkulosis

d. Penatalaksanaan tuberkulosis

e. Kesimpulan

VI. Kriteria Evaluasi

1. Evaluasi struktur

a. Keluarga pasien ada ditempat penyuluhan

b. Penyelenggaraan dilaksanakan di Ruang 27

c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya.

2. Evaluasi proses

a. Keluarga pasien antusiasi terhadap materi penyuluhan

b. Keluarga pasien tidak meninggalkan tempat penyuluhan.

c. Keluarga pasien mengajukan dan menjawab pertanyaan secara benar.

3. Evaluasi hasil

a. Masyarakat sudah mengerti,memahami,dan melaksanakan tentang bahaya

rokok bagi kesehatan

b. Masyarakat hadir saat pertemuan

2
VII. Kegiatan Penyuluhan

No. WAKTU KEGIATAN PENYULUH METODE


1. 3 menit Pembukaan : Ceramah

Membuka kegiatan

dengan mengucapkan

salam.

Memperkenalkan diri

Menjelaskan tujuan

penyuluhan

Menyebutkn materi yang

akan diberikan
2. 10 menit Pelaksanaan : Ceramah

Membagikan leaflet

Menjelaskan pengertian

tuberkulosis

Menjelaskan penyebab

tuberkulosis

Menjelaskan tanda gejala

tuberkulosis

Menjelaskan

penatalaksanaan

tuberkulosis
3. 10 menit Evaluasi: Diskusi & Tanya

Memberi kesempatan jawab

peserta untuk bertanya


4. 2 menit Mengakhiri pertemuan & Ceramah

3
mengucapkan terimakasih

atas partisipasi keluarga

pasien

Mengucapkan salam

penutup

VIII. Kriteria Evaluasi

1. Evaluasi Struktur

Kesiapan materi

Kesiapan SAP

Kesiapan media : leaflet

Peserta hadir ditempat penyuluhan

Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang 27 RSUD dr Saiful

Anwar Malang

Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya

2. Evaluasi Proses

Fase dimulai sesuai dengan waktu yang direncanakan.

Peserta antusias terhadap materi penyuluhan

Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar

Suasana penyuluhan tertib

Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan

Jumlah hadir dalam penyuluhan minimal 5 orang.

3. Evaluasi Hasil

Pasien dapat :

Menjelaskan pengertian tuberkulosis

4
Menjelaskan penyebab tuberkulosis

Menjelaskan tanda gejala tuberkulosis

Menjelaskan penatalaksanaan tuberkulosis

5
MATERI PENYULUHAN TUBERKULOSIS PARU

1. Definisi Tuberkulosis Paru


Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman
TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi
dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (DEPKES RI). Menurut Elizabeth J Corwin,
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi saluran nafas bawah yang disebabkan oleh
mycobacterium tuberculosis, yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah
(droplet).
2. Faktor Risiko Tuberkulosis Paru
Status gizi
Hasil penelitiann menunjukkan bahwa orang dengn status gizi kurang
mempunyai risiko 3,7 kali menderita TB paru berat diibandingkan dengn
orang yang status gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang
akan berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon
immunologik terhadap penyakit. Keadaan malnutrisi atau kekurangan kalori,
protein, vitamin, zat besi dan lain-lain, akan mempengaruhi daya tahan tubuh
seseorang sehingga rentan terhadap penyakit termasuk TB paru. Keadaan ini
merupakan faktor penting yang berpengaruh di negara miskin, baik dewasa
maupun anak-anak.
Ventilasi dan Pencahayaan
Ventilasi memiliki fungsi yaitu untuk membebaskan udara ruangan dari
bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena disitu selalu terjadi aliran
udara yanng terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu
mengalir
Pencahayaan dari sinar matahari yang cukup pada siang hari sangat penting
karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah, misalnnya
basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jaln masuk cahaya
yang cukup. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi
udara diatur maka risiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang
Paparan debu
Biala seseorang sering terpapar partikel debu diadaerah terpapar akan
mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernafasan. Paparan kronis
udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya

6
gejala penyakit saluaran pernafasan terutam TB
Kebiasaan merokok
Keiasaan merokok merupakan risiko terinfeksi Mycobacterium tuberkulosis.
Merokok meningkatkan prevalensi kejadian tuberkulosis paru. Merokok dapat
memperlemah paru dan menyebabkan paru lebih mudah terinfeksi kuman
tuberkulosis. Asap rokok dalam jumalh besar yang dihirup dapat
meningkatkann risiko keparahan tuberkulosis, kekambuhan dan kegagalan
pengobatan tuberkulosis
Kondisi rumah kurang bersih
3. Tanda dan Gejala Tuberkulosis Paru
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis paru dapat bermacam-macam atau
banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali
a) Batuk
Gejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering
dikeluhkan. Biasanya batuk ringan sehingga dianggap batuk biasa atau akibat
rokok. Proses yang paling ringan ini menyebabkan sekret akan terkumpul pada
waktu penderita tidur dan dikeluarkan saat bangun pagi.
b) Dahak
Dahak awalnya berssifat mukoid dan keluar dalam jumlah sedikit kemudian
berubah menjadi purulen/ kuning atau kuning hijau sampai purulen kemudian
berubah menjadi kental bila sudah terjadi
c) Batuk darah
Darah yang dikeluarkan penderita ungkin berupa bercak-bercak darah,
gumpalan-gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak
d) Nyeri dada
Nyeri dada pada tuberkulosis paru termasuk nyeri pleuritik ringan. Bila nyeri
bertambah berat berarti telah terjadi pleuritis luas (nyeri yang dikeluhkan di
daerah aksila, diujung scapula atau tempat-tempat lain
e) Wheezing
Wheezing terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang disebabkan
oleh sekret, bronkostenosis, peradangan, jaringan granula, ulserasi dan lain-
lain
f) Dispneu
Dispneu merupakan late symptomp dari proses lanjut tuberkulosis paru akibat
7
adanya restriksi dan obstruksi saluran pernfasan serta thrombosis yang dapat
menyebabkan gangguan difusi, hipertensi pulmonal an korpumonal
g) Panas badan
Merupakan gejala paling sering dijumpai dan paling penting sering kali panas
badan sedikit meningkat pada siang maupun sore hari
h) Menggigil
Dapat terjadi bila panas badan naik dengan cepat, tetapi tidak diikuti
pengeluaran panas dengan kecepatan yang sama atau dapat terjadi sebagai
suatu reaksi umum yang lebih hebat
i) Keringat malam
Keringat malam bukanlah gejala yang patognomosis untuk tuberkulosis paru
j) Gangguan menstruasi
Gangguan menstruasi sering terjadi bila proses tuberkulosis paru sudah
menjadi lanjut
k) Anoreksia
Anoreksia/penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan merupakan
manifestasi toksemia yang timbul belakangan dan lebih sering dikeluhkan bila
proses progesif
l) Lemah badan
Gejala-gejala ini dapat disebabkan oleh kerja berlebihan, kurang tidur dan
keadaan sehari-hari yang kurang menyenangkan, karena itu harus dianalisa
dengan baik dan harus lebih berhati-hati
4. Penatalaksanaan
1) Penatalaksanaan keperawatan diantaranya dapat dilakukan dengan cara:
a. Promotif
1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara
penularan, cara pencegahan, faktor resiko
3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.
b. Preventif
1. Vaksinasi BCG
2. Menggunakan isoniazid (INH)
3. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.

8
4. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat
diketahui secara dini.
2) Penatalaksanaan secara medik
Dalam pengobatan TB paru dibagi 2 bagian :
1. Jangka pendek.
Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1 3
bulan.
* Streptomisin injeksi 750 mg.
* Pas 10 mg.
* Ethambutol 1000 mg.
* Isoniazid 400 mg.
2. Jangka panjang
Tata cara pengobatan : setiap 2 x seminggu, selama 13 18 bulan, tetapi
setelah perkembangan pengobatan ditemukan terapi.
Terapi TB paru dapat dilakukan dengan minum obat saja, obat yang
diberikan dengan jenis :
* INH.
* Rifampicin.
* Ethambutol.
Dengan fase selama 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan
menjadi 6-9 bulan.
3. Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan
dalam pemeriksan sputum BTA ( + ) dengan kombinasi obat :
* Rifampicin.
* Isoniazid (INH).
* Ethambutol.
* Pyridoxin (B6).
Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga
mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta
memutuskan mata rantai penularan.Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase
yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan).Paduan obat yang
digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan.Jenis obat utama yang
digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid,
Streptomisin dan Etambutol.Sedangkan jenis obat tambahan adalah Kanamisin,
9
Kuinolon, Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat, derivat Rifampisin/INH.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu
berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil pemeriksaan
bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di samping itu
perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly
Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang
terdiri dari lima komponen yaitu:
1. Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam
penanggulangan TB.
2. Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung
sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur
dapat dilaksanakan di unit pelayanan yang memiliki sarana tersebut.
3. Pengobatan TB dengan paduan OAT jangka pendek dengan pengawasan
langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama
dimana penderita harus minum obat setiap hari.
4. Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.
5. Pencatatan dan pelaporan yang baku.

Efek Samping OAT :


Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek
samping.Namun sebagian kecil dapatmengalami efek samping, oleh karena itu
pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukanselama
pengobatan.Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat, bila efek samping
ringan dan dapat diatasidengan obat simtomatik maka pemberian OAT dapat
dilanjutkan.adapun efek samping OAT antara lain yaitu:
1. Isoniazid (INH)
Efek samping ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi,
kesemutan, rasa terbakar di kaki dannyeri otot. Efek ini dapat dikurangi
dengan pemberian piridoksin dengan dosis 100 mg perhari atau dengan
vitamin Bkompleks. Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan.
Kelainan lain ialah menyerupai defisiensi piridoksin(syndrom pellagra).
Efek samping berat dapat berupa hepatitis imbas obat yang dapat timbul pada
kurang lebih 0,5% pasien. Bila terjadihepatitis imbas obat atau ikterik,

10
hentikan OAT dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada keadaan
khusus.
2. Rifampisin
Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan
simtomatik ialah :Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang,
Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah kadang-
kadang diare, Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
Efek samping yang berat tetapi jarang terjadi ialah :
- Hepatitis imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus
distop dulu dan penatalaksanaansesuai pedoman TB pada keadaan khusus
- Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah
satu dari gejala ini terjadi, rifampisinharus segera dihentikandan jangan
diberikan lagi walaupun gejalanya telah menghilang
- Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas
- Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat, air
mata, air liur. Warna merah tersebut terjadikarena proses metabolisme
obat dan tidak berbahaya. Hal ini harus diberitahukan kepada pasien agar
dimengertidan tidak perlu khawatir.
3. Pirazinamid
Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai
pedoman TB pada keadaan khusus).Nyerisendi juga dapat terjadi (beri aspirin)
dan kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout, hal
inikemungkinan disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat.
Kadang-kadang terjadi reaksi demam,mual, kemerahan dan reaksi kulit yang lain.
4. Etambutol
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya
ketajaman, buta warna untuk warnamerah dan hijau.Meskipun demikian
keracunan okuler tersebut tergantung pada dosis yang dipakai, jarang sekaliterjadi
bila dosisnya 15-25 mg/kg BB perhari atau 30 mg/kg BB yang diberikan 3 kali
seminggu. Gangguanpenglihatan akan kembali normal dalam beberapa minggu
setelah obat dihentikan. Sebaiknya etambutol tidakdiberikan pada anak karena
risiko kerusakan okuler sulit untuk dideteksi
5. Streptomisin
Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan
dengan keseimbangan dan pendengaran.
Risiko efek samping tersebut akan meningkat seiring dengan peningkatan

11
dosis yang digunakan dan umur pasien.Risiko tersebut akan meningkat pada
pasien dengan gangguan fungsi ekskresi ginjal. Gejala efek samping yangterlihat
ialah telinga mendenging (tinitus), pusing dan kehilangan keseimbangan.Keadaan
ini dapat dipulihkan bilaobat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi
0,25gr.Jika pengobatan diteruskan maka kerusakan alatkeseimbangan makin
parah dan menetap (kehilangan keseimbangan dan tuli).
Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba
disertai sakit kepala, muntah dan eritemapada kulit.Efek samping sementara dan
ringan (jarang terjadi) seperti kesemutan sekitar mulut dan telinga
yangmendenging dapat terjadi segera setelah suntikan.Bila reaksi ini mengganggu
maka dosis dapat dikurangi 0,25gr.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012, Asuhan Keperawatan Tb Paru, diakses tanggal 30 Oktober 2012 jam
09.03 dari http://akperpemprov.jatengprov.go.id/
Anonim.2002. Tuberkulosis Pedoman diagnosis & Penatalaksanaan Di
Indonesia.diakses tanggal 30 Oktober 2012 jam 10.15 dari
http://www.klikpdpi.com/ konsensus/tb/tb.pdf 2002
12
Barbara, C.L., 1996, Perawatan Medikal Bedah (suatu pendekatan proses
keperawatan), Bandung
Dewi, Kusma . 2011. Laporan Pendahuluan Pada Pasien Dengan Tuberkulosis Paru.
Diakses tanggal 30 Oktober 2012 jam 10.15 dari http://www.scribd.com
/doc/52033675/
Doengoes, Marylinn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Ed. 3, EGC: Jakarta.
Mansjoer,Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. Jakarta:Media Aeculapius
Nanda.2005.Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda definisi dan Klasifikasi 2005-
2006.Editor : Budi Sentosa.Jakarta:Prima Medika
Price, S.A, 2005, Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Jakarta : EGC
Smeltzer, C.S.2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner dan Suddarth.
Edisi 8. Jakarta : EGC
Sudoyo dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta:FKUI.

13