Anda di halaman 1dari 10

BUKU PANDUAN

PROGRAM SEE & TREAT


KANKER SERVIKS

Pendahuluan
Di Indonesia , kanker serviks merupakan masalah kesehatan karena insidennya
tertinggi diantara penyakit keganasan yaitu 150-200/100.000 wanita. Selain itu, kanker
serviks adalah fatal karena terdignosis pada stadium invasive, lanjut bahkan terminal.
Disamping terkait dengan berbagai kendala seperti konsep sehat dan sakit,
keterbatasan sarana, keterebatasan sumber daya, kondisi geografi, social ekonomi
rendah, pendidikan yang rendah, sistem kesehatan belum berjalan, dan lainnya.

Berbeda dengan penyakit lain yang juga disebebkan oleh virus seperti H5N1,
HIV/AIDS, hepatitis virus yang dapat memberikan gejala akut atau klinis. Infeksi human
papillomavirus (HPV) yang menyebabkan kanker serviks ini tidak mengakibatkan
viremia sehingga infeksi berjalan subklinik. Setelah 12-15 tahun barulah muncul kanker
serviks. Akan tetapi, sebelum muncul akibat berupa kanker serviks didahului oleh lesi
serviks berupa dysplasia yang merupakan lesi prankanker.

Displasia ini dapat dideteksi melalui berbagai cara seperti sitologik papanicolou
smear (Pap smear), gineskopi, kolposkopi, histopatologik dan inspeksi visual asam
asetat (IVA). Berdasarkan evidence based, IVA merupakan cara yang handal untuk
mendeteksi adanya dysplasia dengan sensitivitas dan spesifisitas tidak berbeda dengan
pap smear. Jdi IVA layak dipilih sebaga metode skrining pada kanker seriks. Sementara
sebagian papsmear sendiri tidak dapat ditindaklanjuti karena kurangya ketersediaan
sarana terapi dan berbagai kendala lainnya.

Berbagai modalitas terapi pada dispasia serviks seperti konisasi, amputasi


serviks, radikal trakhelektomy, dan histerektomy belum dapat dilaksanakan sesuai
tujuannya. Oleh karena itu, cryotherapy merupakan pilihan terbaik terutama karena
dapat dikerjakan langsung pada waktu melakukan skrining tersebut.

Berdasarkan uraian diatas maka program See and Treat merupakan pilihan
untuk memutuskan mata rantai terjadinya kanker serviks. Unutk see dipilih IVA dan
untuk Treat dipilig Cryotherapy. Pemilihan IVA sebagai skrining terbukti handal, murah
primum non nocere, jangkauan luas, dn sederhana serta dapat diterima oleh
masyarakat. Smementara cryotherapy dipilih terkait dengan efek samping dan
komplikasi tindakan relative kecil, dapat dikerjakan tanpa anestesi, tidak memerlukan
peralatan dan tempat/ruangan yang khusus. Selain itu, terjamin pelaksanaannya karena
dikerjakan dejkat dengan masyarakat dan murah.

Namun, karena terdapat kendala masih rendahnya kepedulian masyarakat untuk


mengerti dan memahami, dan berpartisipasi dalam program ini dibutuhkan suatu
penyuluhan secara berkesinambungan. Unutk itu, sip-erlukan suatu keterampilan
dalam melakukan penyuluhan untuk meningkatkan kepedulian akan kesehatan
perempuan terutama terhadap kanker serviks.

Definisi

Kanker serviks adalah keganasan yang menyerang bagian serviks dari uterus
secara primer. Bentuk paling umum adalah tipe epithelial seperti squamous, adenous,
dan tipe campuran. Bentuk yang jarang adalah tipe non epithelial seperti fibrous,
limfonodi, vaskuler dan lain-lain.

Faktor Risiko Kanker Serviks

Faktor risiko kanker serviks dibagi menjadi 2 kategori :

1. Risiko Mayor
Human Papillomavirus (HPV) merupakan faktor risiko mayor dari kanker
serviks. Infeksi Human Papillomavirus (HPV) terutama kelompok risiko tinggi
seperti HPV tipe 16,18,33,35,39,45,51,522,58,89,66,68,70. Sampai sekarang telah
lebih dari 100 tipe HPV yang bisa diisolasi. Infeksi HPV dikaitkan dengan lesi
intraepithelial dan kanker serviks terdiri dari :
1. Hubungan yang kuat dengan HPV tipe 16,18,31,45.
2. Hubungan sedang dengan HPV tipe 33,35,39,51,52,56,58,59;
3. Hubungan lemah dengan HPV tipe 6,11,26,42,43,44,53,54,55,56.
Distribusi geografis dari HPV bervariasi di tiap Negara. HPV tipe 16 & 18
umumnya ditemukan di bagian Eropa, Amerika Serikat dll, sedangkan tipe 18
banyak terdistribusi di Asia.
2. Risiko Minor
Risiko minor kanker serviks antara lain :
- Aktifitas seksual yang terlalu muda (<1 tahun)
- Jumlah pasangan seksual yang tinggi (>4 orang)
- Status sosial ekonomi rendah
- Merokok
- Imunodefisiensi

Epidemiologi

Kanker serciks merupakan penyebab kematian akibat kanker yang aling umum
diantara wnita di Negara-negara berkembang, walaupun faktanya kanker serviks ini
bisa dicegah. Di Indonesia penelitian semi populasi didapatkan insiden kanker serviks
di Indonesia 70-80/100.000 wanita. Insiden kanker serviks di Bali mencapai 0,98%,
dengan karakteristik infeksi HPV 16 & 18 mencapai 73,7%, dimana 1 orang meninggal
tiap 2 hari, dengan angka kematan akibat kanker serviks di Bali mencapai 178
orang/tahun (Suwiyoga, 2010). Insiden kanker serviks di tiap Negara ditunjukkan pada
gambar 1

Gambar 1. Perkiraan insiden kanker seviks (WHO, 2005)

Perjalanan alamiah

Pemahaman kanker serviks sangat penting utnutuk merancang penanganan yang efektif
dalam rangka mencegah kematian akibat penyakit ini. Lebh dari 99% kaker se4viks dan
prekursornya bekaitan dengan infeksi HV, suatu penyakit infeksi seksual yang
umumnya bersifat asimptomatis. Kebanyakan wanita terifeksi HPV saat usia 20 tahunan
atau awal 30 tahunan. Secara umum kanker servk=iks merupakan komplikasi dari
indikasi HPV tersebut. Perjalanan alamiah dari infeksi HPV dapat dilihat pada gambar

Saat ini lebih dari 100 tipe HPV dapat diidentifikasi, dan diketahui lebih dari 30
tipe menimbulkan infeksi genital. Sekitar 5-10% wanita yang terinfeksi HPV dengan
risiko tinggi akan berkembang menjadi infeksi persisten dan berkembang menjadi lesi
derajat rendah (LSIL). Kebanyakan lesi pranaker ini akan mengalami regresi sendiri
atau justru berkembag menjadi lesi derajat tinggi kemuadian kanker serviks.Kanker
seviks banyak berkembang pada wanita setelah umur 40 tahun, dan insiden tertinggi
adalah diantara wanita usia 50 dan 60 tahun.

Pemahaman bahwa HPV merupakan etiologi terjadinya kanker serviks telah


menjadi perhatian dalam merancang metode pencegahan primer. Faktor risiko untuk
HPV-seperti aktivitas seksual, pasangan multipartner, riwayat infeksi seksual. Maka dari
itu, usaha pencegahan primer telah difokuskan pada upaya mengurangi infeksi dengan
mengurangi jumlah pasangan seksual dan emndukung kontrasepsi yang bersifat barier
seperti kondom. Pendekatan pencegahan primr dari kanker serviks yang paling
menjanjikan adalah dengan pemberian vaksin HPV secara luas. Diharapkan vaksin
untuk profilaksis terhadap HPV tipe 16 & 18 memberikan suatu upaya pencegahan
primer yang mantap dan berkesinambungan.

Gambar 2. Patogenesis Kanker serviks


PENUNTUN BELAJAR IVA
(Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan : langkah tidka dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutan tidak sesuai
2. MAMPU : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika
harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau
membantu untuk kondisi di luar normal
3. MAHIR : langkah dierjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang
sangat efisien
4. T/D : Langkah tidak diamati (penilai mengangap langkah tertentu tidak perlu
diperagakan)

Nama Peserta : ..................................... Tanggal : .....................................

KEGIATAN KASUS

Ij I. PERSIAPAN ALAT
1. Menyiapkan alat sebelum melakukan tindakan pemeriksaan
inspeksi visual dengan asam asetat antara lain: speculum
cocor bebek, asam asetat 3-5% dalam botol, kom kecil steril,
lidi wotten, tampon tang/venster klem, kasa steril pada
tempatnya, formulir permintaan pemeriksaan sitologi, lampu
sorot/senter, Waskom berisi larutan klorin 0,5%, tempat
sampah, tempat tidur ginekologi, sampiran kapas, aplikator
kapas, APD (handscoen, google, masker)
2. Siapkan alat-alat pada tempatnya dan dalam susunan yang
ergonomis untuk memudahkan pekerjaan

II. VULVA HYGIENE DAN PEMASANGAN SPEKULUM

1. Menggunakan APD, google celemek dan masker


2. Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan
metode tujuh langkah dan mengeringkan dengan handuk
kering dan bersih.
3. Menggunakan handscone steril
4. Melakukan vulva higyene
5. Memperhatikan vulva dan vagina apakah ada tanda-tanda
infeksi
6. Memasang spekulum dalam vagina
III. IDENTIFIKASI PORTIO DAN PENGENALAN ZONA TRANSFORMASI

Amati serviks dan lakukan penilaian :


1. Apakah mencurigakan kanker. Bila tampilan serviks sudah
dicurigai kanker, pemeriksaan IVA dengan memulas asam
asetat tidak diperlukan
2. Nilai apakah sambungan skuamokolumner (SSK) dapat
ditampakkan seluruhnya
3. Jika SSK tidak dapat ditampakkan seluruhnya maka :
- Tetap dilakukan pulasan dengan asam asetat, tetapi beri
catatan bahwa SSK tidak terihat seluruhnya.
- Sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan pap smear
4. Jika SSK terlihat semua, lanjutkan dengan memulas asam
asetat pada serviks
IV. APLIKASI ASAM ASETAT

1. Masukkan lidi wotten yang telah dicelupkan dengan asetat 3-


5% kedalam vagina sampai menyentuh porsio
2. Oles lidi wotten keseluruh permukaan porsio dan kemudian
tunggu beberapa saat sampai 1 menit lihat hasilnya :
- Jika permukaan serviks berwarna kusam , berbenjol dan
mudah berdarah maka dicurigai kanker
- Jika tampak warna kemerahan yang merata di daerah
serviks disertai cairan vagina abnormal maka curigai
infeksi
- Bila kedua hal diatas tidak ditemukan, harus diperiksa
daerah transformasi.
- Bersihkan porsio dan dinding vagina dengan kapas steril
dengan menggunakan tampon tang

V. MENGELUARKAN SPEKULUM

1. Mengeluarkan speculum dari vagina secara perlahan-lahan


2. Beritahu ibu bahwa pemeriksaan telah selesai dilakukan
3. Rapihkan ibu dan rendam alat-alat dan melepas sarung
tangan (merendam dalam larutan klorin 0,5%)
4. Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan
metode tujuh langkah
5. Mencatat hasil tindakan dalam status

VI. MENILAI DAN MENGKATEGORIKAN TEMUAN IVA

1. KATEGORI TEMUAN IVA


- Normal : Licin, merah muda, bentuk porsio normal
- Atipik: Servisitis (inflamasi, hiperemis), banyak fluor,
ektropion polip atau ada cervical wart
- Abnormal : plak putih, epitel acetowhite (bercak putih),
(indikasi lesi prakanker serviks)
- Kanker serviks : pertumbuhan seperti bunga kol, mudah
berdarah
PENUNTUN BELAJAR CRYOTHERAPY

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan : langkah tidka dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutan tidak sesuai
2. MAMPU : langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika
harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau
membantu untuk kondisi di luar normal
3. MAHIR : langkah dierjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang
sangat efisien
4. T/D : Langkah tidak diamati (penilai mengangap langkah tertentu tidak perlu
diperagakan)

Nama Peserta : ..................................... Tanggal : .....................................

KEGIATAN KASUS

Ij I. PERSIAPAN ALAT
1. Menyiapkan alat sebelum melakukan tindakan pemeriksaan
inspeksi antara lain: speculum cocor bebek, pistol pendingin,
gas cair: CO2 atau NO2, jel pelicin yang larut air, disinfektan,
kom kecil steril , tampon tang/venster klem, kasa steril pada
tempatnya, lampu sorot/senter, Waskom berisi larutan klorin
0,5%, tempat sampah, tempat tidur ginekologi, sampiran
kapas, aplikator kapas, APD (handscoen, google, masker)
2. Cek tangki NO2/CO2, tekanan >20psi, indicator berada di zona
hijau
3. Hubungkan tangki, pistol cryo dan probe dengan benar

II. VULVA HYGIENE DAN PEMASANGAN SPEKULUM

4. Menggunakan APD, google celemek dan masker


5. Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan
metode tujuh langkah dan mengeringkan dengan handuk
kering dan bersih.
6. Menggunakan handscone steril
7. Pasien dala posisi litotomi, lakukan vulva higyene
8. Memerhatikan vulva dan vagina apakah ada tanda-tanda
infeksi
9. Memasang speculum dalam vagina
III. TEHNIK CRYOTHERAPY

10. Identifikasi lesi yang dicurigai dengan pemeriksaan


kolposkopi
11. Masukkan cryoprobe ke dalam vagina dn gunaka TZ dengan
benar
12. Singkirkan pistol cryo, gunakan gel pelumas apda ujung dari
cryoprobe
13. Gunakan cryoprobe pada TZ, tekan pemicunya untuk
mengaktifkan pistol
14. Peringatkan pasien bahwa akan ada suara pop dan his
15. Pertahankan samapi terbentuk 7-10 mm bola es yang terlihat
di luar probe. Biasanya memerlukan waktu 3-5 detik
16. Deaktivasi pistol cryo dan singkirkan dari serviks setelah
mengalami defrost (menarik keluar probe sebelum defrost
terjadi akan mengakibatkan perdarahan dan nyeri)
17. Pertahankan 4-5 detik, ulangi pendinginan kedua dengan cara
yang sama
V. MENGELUARKAN SPEKULUM

18. Mengeluarkan speculum dari vagina secara perlahan-lahan


19. Beritahu ibu bahwa pemeriksaan telah selesai dilakukan
20. Rapihkan ibu dan rendam alat-alat dan melepas sarung tangan
(merendam dalam larutan klorin 0,5%)
21. Mencuci tangan dengan sabun dibawah air mengalir dengan
metode tujuh langkah
22. Mencatat hasil tindakan dalam status

V. Post Operasi Cryotherapy


23. Setelah prosedur ini selesai, reepitelisasi akan terjadi dalam 6
minggu pada 47% psien dan pada keseluruhan pasien akan
terjadi dalam 3 bulan
24. Hari 1 hiperemi dan diikuti bula atau vesikel, edema pada hari
ke-2 post operasi
25. Jaringan kemudian mengelupas dan sembuh dengan granulasi
dan reepitelisasi
-