Anda di halaman 1dari 16

Prevalensi Nyeri Neuropatik Pada Sekelompok Pasien Kusta yang Diobati di

Indonesia dan Dampaknya Terhadap Kegiatan Sehari-hari, Kapasitas


Fungsional, dan Kesejahteraan Psikologis

Pendahuluan

Kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang serius. Pada tahun
2015, prevalensi global kasus kusta adalah 175.554, dengan Indonesia melaporkan
19.949 kasus yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan beban kusta
tertinggi ketiga setelah India dan Brasil (1). Masih terdapat kantong-kantong dengan
endemisitas kusta yang tinggi di beberapa wilayah di Indonesia. Adapun jumlah
kasus baru yang dilaporkan pada tahun 2014 di Indonesia masih tinggi, yaitu
sebesar 17,025 (1).

Nyeri neuropatik (Neuropathic Pain) adalah salah satu komplikasi jangka panjang
kusta. masih dapat diderita oleh pasien kusta yang telah menyelesaikan terapi multi-
obat (Multiple Drug Therapy/MDT) dan dianggap telah sembuh dari penyakit
tersebut. Meskipun demikian, ketersediaan data tentang nyeri neuropatik terkait
kusta masih tidak mumpuni. Prevalensi nyeri neuropatik pada pasien kusta masih
kurang didokumentasikan dan kemungkinan diremehkan.

Sebuah proyek percontohan yang dilakukan oleh penulis di Surabaya pada bulan
Juni 2015 menunjukkan prevalensi nyeri neuropatik sebesar 25,4% dalam
sekelompok 71 pasien kusta yang diterapi. Prevalensi tersebut sebanding dengan
hasil penelitian yang dilakukan di Mumbai (2) dan Ethiopia (3), di mana prevalensi
yang dilaporkan masing-masing adalah sebesar 21,8% dan 29,0%. Sebuah studi
potong lintang (cross-sectional) mengenai nyeri neuropatik pada pasien kusta yang
diterapi menunjukkan bahwa prevalensi nyeri neuropatik berkisar antara 17% hingga
56,1% (4, 5).

Besar sampel penelitian di Surabaya terlalu kecil untuk merepresentasikan


keparahan nyeri neuropatik di Indonesia. Sampel yang lebih besar pasti dibutuhkan
untuk mempelajari profil pasien secara lebih rinci dan untuk mendokumentasikan
dampak nyeri neuropatik terhadap kualitas fisik, psikologis dan kualitas hidup
mereka.

Tinjauan Pustaka
Kusta disebabkan oleh Mycobacterium leprae, bakteri berpredileksi pada bagian
tubuh yang lebih dingin seperti kulit, mukosa hidung, dan saraf superfisial. Kusta
dapat disembuhkan dengan MDT yang merupakan kombinasi tiga antibiotik -
rifampisin, clofazimine dan dapsone yang diberikan selama enam bulan hingga satu
tahun atau kadang lebih. Diagnosis dan penatalaksanaan dini dapat mencegah
kecacatan (6).

Kusta dapat dikaitkan dengan kerusakan imunologis dan dapat menyebabkan


kerusakan jaringan serta kerusakan saraf yang menyebabkan nyeri yang luar biasa,
deformitas dan kecacatan yang signifikan(7). Pasien kusta dengan deformitas yang
jelas dapat menderita akibat stigmatisasi sosial, pengucilan, beban sosioekonomi
yang signifikan dan penurunan kualitas hidup (8).

Masih banyak terdapat banyak kekosongan dalam pengetahuan mengenai nyeri


neuropatik dalam kusta. Diagnosis nyeri neuropatik biasanya didasarkan pada
penilaian klinis dan modalitas skrining yang dimaksudkan untuk digunakan bersama
dengan evaluasi klinis untuk memastikan proses diagnostik yang terbaik (9). Nyeri
neuropatik dapat mencerminkan kerusakan saraf yang kronis dan ireversibel.
Beberapa variasi kusta dapat didiagnosis dari presentasi klinis mereka atau
berdasarkan anamnesis, dan jika pengujian diagnostik tidak meyakinkan, diagnosis
biasanya ditegakkan dari hasil pemeriksaan klinis (10). Lebih lanjut, tidak ada uji
klinis yang dapat mengidentifikasi disease-modifying treatment spesifik untuk nyeri
neuropatik pada pasien kusta (11).

nyeri neuropatik memiliki berbagai penyebab dengan distribusi nyeri yang berbeda.
Kemungkinan penyebab nyeri neuropatik jatuh ke dalam empat kelas umum: lesi
saraf fokal dan multifokal perifer (traumatik, iskemik atau inflamatorik), polineuropati
generalisata perifer (toksik, metabolik, bwaan atau inflamatorik), lesi CNS (misalnya
stroke, multiple sclerosis, cedera tulang belakang), dan kelainan neuropatik
kompleks (sindrom nyeri regional kompleks [Complex Regional Pain
Syndromes/CRPSs]) (12).

Perkumpulan Internasional untuk Penelitian tentang Nyeri (International Association


for the Study of Pain/IASP) mendefinisikan nyeri neuropatik sebagai rasa nyeri yang
disebabkan oleh lesi atau penyakit yang dapat terbukti mempengaruhi sistem saraf
somatosensori, yang menyebabkan rasa nyeri pada distribusi saraf yang masuk akal
secara anatomi serta dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan klinis (13).
Kelompok Fokus Khusus nyeri neuropatik (NeuPSIG) mengusulkan penggunaan
sistem penilaian untuk memandu pengambilan keputusan mengenai tiga tingkat
kepastian nyeri neuropatik - mungkin, sangat mungkin, dan pasti, dimana nyeri
neuropatik dapat ditentukan pada masing-masing pasien (10). Sistem penilaian
tersebut diperbarui pada tahun 2016 dan didasarkan pada diagnosis klinis bertahap
menggunakan anamnesis, pemeriksaan klinis dan pemeriksaan diagnostik untuk
mencapai tingkat kepastian bahwa rasa nyeri yang diderita pasien adalah benar
nyeri neuropatik (Gambar 1) (14).

Keluhan
utama nyeri

Anamnesis Riwayat lesi atau penyakit neurologis


yang relevana kemungkinan
bukan nyeri
dan distribusi neuroanatomi nyeri
tidak neuropatik
yang masuk akalb

ya

kemungkinan nyeri neuropatik

Pemeriksaan Nyeri dikaitkan dengan tanda sensorik


yang masuk akal secara neuroanatomic

ya

kemungkinan besar nyeri neuropatik

Penunjang Pemeriksaan diagnostik mengonfirmasi


lesi atau penyakit sistem syaraf somatosensorik
yang menjadi sumber nyeri

ya

pasti nyeri neuropatikd

Gambar 1. Revisi Algoritma Sistem Penilaian untuk Nyeri Neuropatik (14)

Sistem penilaian di atas membantu pengklasifikasian rasa nyeri. Selain nyeri


neuropatik, terdapat nyeri lain yang mungkin dapat dialami oleh pasien, seperti nyeri
nosiseptif, di mana rasa nyeri timbul dari kerusakan jaringan non-syaraf atau
tanggapan sistem saraf sensorik normal akan rangsangan berbahaya seperti cedera
jaringan atau pembengkakan. Hilangnya penginderaan sensori juga bisa terjadi pada
kasus ini, meskipun distribusi neuro-anatomisnya berbeda. Neuropati adalah
gangguan fungsi atau perubahan patologis dalam satu (mononeuropati) atau
berbagai (polineuropati) syaraf. Neuritis adalah bentuk neuropati dimana saraf
mengalami inflamasi (14).

Diagnosis nyeri neuropatik didasarkan pada dua kriteria:


1. a) Anamnesis yang terperinci untuk menegakkan adanya kerusakan saraf, dengan
lokasi nyeri berada di daerah yang masuk akal secara neuroanatomis.
b) Bagan tubuh digunakan untuk memetakan lokasi nyeri, deskripsi, sekaligus
pola nyeri (13).
2. a) Pemeriksaan klinis untuk tanda-tanda rasa nyeri yang terkait dengan tanda
sensoris dalam distribusi yang sama sesuai dengan lokasi lesi yang definitif.
b) Penggunaan deskriptor gejala Douleur Neuropathique 4 (DN4) (15).

Terdapat beberapa kuesioner seperti DN4, LANSS dan NPQ yang dapat digunakan
untuk membedakan nyeri neuropatik dengan nyeri non-neuropatik. DN4 biasa
digunakan sebagai alat skrining nyeri neuropatik dalam penelitian epidemiologi.
Kuesioner ini dikembangkan oleh French Neuropathic Pain Group, dan berupa
kuesioner sederhana yang terdiri dari empat pertanyaan: dua didasarkan pada
wawancara pasien dan dua pada pemeriksaan sensorik langsung. Terdapat 10 item
dimana tujuh adalah deskriptor sensorik yang menanyakan tiga karakteristik nyeri
seperti terbakar, seperti tersengat listrik, sensasi dingin yang menyakitkan, dan
empat gejala kesemutan, seperti tertusuk banyak jarum, mati rasa, dan gatal. Tiga
item sisanya adalah tanda klinis yang memerlukan pemeriksaan klinis sederhana -
hypoaesthesia ketika disentuh, hypoaesthesia ketika ditusuk jarum, dan allodynia
ketika dirangsang dengan kuas(15).

DN4 telah divalidasi untuk nyeri neuropatik dalam kusta dan terbukti menjadi alat
yang berguna untuk pemeriksaan di lapangan (2, 4). Beberapa gejala dan tanda
secara signifikan lebih sering ditemukan pada kelompok nyeri neuropatik. Sistem
penilaiannya sederhana, yaitu dengan memberikan satu poin untuk setiap jawaban
positif. Skor empat hingga 10 memiliki nilai prediktif 86%, sensitivitas 82,9%, dan
spesifisitas 89,9% pada populasi Prancis di 14 pusat nyeri multidisipliner (15).
Perbedaan gejala dan tingkat keparahan nyeri neuropatik dapat dievaluasi dengan
menggunakan Neuropathic Pain Symptom Inventory (NPSI). NPSI mencakup 12
item: 10 item merupakan deskriptor dari berbagai gejala dan dua item untuk menilai
durasi nyeri spontan yang sedang diderita serta yang bersifat paroksismal. Skor
intensitas total dapat dihitung sebagai jumlah skor dari 10 deskriptor. Penghitungan
tersebut memungkinkan pembedaan dan penghitungan lima sub-skor, yang terdiri
dari beberapa sindrom nyeri neuropati yang berbeda, seperti nyeri spontan
berkelanjutan (sensasi terbakar yang superfisial dan nyeri tekan yang dalam), nyeri
spontan paroksismal (sensasi sengatan listrik dan sensasi tertusuk), nyeri akibat
rangsang (kontak gesekan, tekanan, dan kontak dingin) serta paraesthesia /
dysaesthesia (kesemutan). Saunderson, Pdkk. (3) menggunakan NPSI versi
adaptasi untuk mempelajari nyeri neuropatik. Penelitiannya diikuti oleh Ramos, J.M.,
dkk. (16) dan Chen, S., dkk. (17, 18).

Mekanisme nyeri neuropatik pada kusta masih belum diketahui secara pasti namun
mungkin terkait dengan respon imun pada saraf perifer. Patofisiologi nyeri neuropatik
yang terkait dengan kusta ditengarai melibatkan pembengkakan pada sistem saraf
perifer yang menyebabkan kerusakan saraf. Reaksi dan pembengkakan berulang
pada syaraf merupakan faktor risiko timbulnya nyeri neuropatik (19). Faktor risiko
lain meliputi kusta multibasiler dan reaksi Tipe 2 (Erythema Nodosum Leprosum)
sebagaimana yang ditunjukkan pada penelitian yang dilakukan di Mumbai dan di
Ethiopia (2, 4).

Pasien dengan kondisi kronis seperti kusta memiliki risiko kesehatan umum yang
lebih besar, terutama yang mempengaruhi kesehatan mental mereka (2, 4) karena
mereka dapat mengalami depresi dan gangguan tidur. Sebuah penelitian oleh
Weiss, dkk. (1992) menunjukkan bahwa kusta adalah kelainan yang ideal untuk
mempelajari hubungan antar budaya, kesehatan mental dan penyakit medis karena
penyakit ini dikaitkan dengan makna budaya yang kuat, beban emosional, dan
kurangnya terapi yang efektif (20). Sebagian besar pasien kusta juga didiagnosis
menderita depresi dan gangguan kecemasan (21). Skor kesehatan mental umum
pasien kusta terbukti lebih buruk daripada populasi umum (22).

Kuesioner GHQ-12 terdiri dari 12 item yang divalidasi dan berdasarkan pada status
psikologis pasien. Kuesioner tersebut digunakan untuk menilai masalah kesehatan
mental di masyarakat (23). GHQ-12 singkat dan mudah digunakan, di mana pasien
akan ditanya apakah mereka mengalami gejala selama empat minggu terakhir dan
apa pemicunya. Interpretasi jawaban didasarkan pada skala respons yang terdiri dari
empat poin; skor empat atau lebih mengindikasikan adanya kelainan tanpa
mendiagnosis patologinya secara pasti (24).

Tingkat keparahan dan dampak nyeri pada kehidupan sehari-hari dapat dinilai
menggunakan Brief Pain Inventory (BPI) yang merupakan sebuah kuesioner mandiri
yang divalidasi. Kuesioner tersebut mengukur variasi rasa nyeri dari waktu ke waktu.
Versi singkat BPI hanya mencakup sembilan item. Skala penilaiannya bersifat
numerik, dari 0 hingga 10. Hal tersebut memungkinkan pasien untuk menilai tingkat
keparahan rasa nyeri mereka dan sejauh mana rasa nyeri mereka mengganggu
emosi serta kehidupan sehari-hari (25).

Skor SALSA mampu mengidentifikasi keterbatasan aktivitas lebih banyak daripada


skor kecacatan WHO dan berguna untuk mengukur kualitas hidup pasca perawatan
(26). SALSA adalah singkatan dari Screening of Activity Limitation and Safety
Awareness. kuesioner yang divalidasi tersebut mengukur keterbatasan aktivitas
pada pasien dengan neuropati perifer, terutama pada kusta dan diabetes. Kuesioner
tersebut terdiri dari 20 item aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan tiga domain:
mobilitas, perawatan diri serta pekerjaan. Tiap item mencerminkan ukuran standar
keterbatasan aktivitas. Pasien ditanyai tentang dampak nyeri kronis terhadap
kapasitas fungsional mereka dan seberapa besar mereka menyadari masalah
keselamatan mereka sehingga pasien dapat membatasi aktivitas mereka (SALSA
Collaborative Study Group et al., 2007). Skor yang lebih tinggi mencerminkan
pembatasan aktivitas yang lebih signifikan.

Tujuan dan Sasaran Penelitian

1. Untuk mengetahui prevalensi nyeri neuropatik pada kelompok penderita kusta


yang diterapi di Surabaya, Indonesia.
2. Untuk menilai intensitas nyeri neuropatik dan pengaruhnya terhadap aktivitas
sehari-hari pasien.
3. Untuk menilai dampak nyeri neuropatik terhadap kapasitas fungsional pasien.
4. Untuk mengetahui apakah kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh nyeri
neuropatik.
Signifikansi Penelitian

1. Data prevalensi nyeri neuropatik pada kelompok pasien kusta yang diterapi di
Indonesia akan menjadi data penting seputar masalah pasca terapi yang dialami
oleh pasien.
2. Memberi masukan akan program penyaringan dan terapi di masa depan.
3. Mengukur dampak nyeri neuropatik terhadap kehidupan pasien memungkinkan
perbandingan beban pasien di berbagai negara dan budaya.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian potong lintang (cross-sectional) pada kelompok


pasien kusta yang diterapi.

Berdasarkan penelitian penulis sebelumnya di Surabaya pada bulan Juni 2015,


penulis memperkirakan tanpa melakukan perhitungan ukuran sampel secara formal,
bahwa karena sekitar 20% pasien ditengarai akan mengalami nyeri neuropatik,
penulis perlu mewawancarai 400 pasien untuk mendapatkan sampel bermakna yang
jumlahnya hampir 100 Pasien.

Pemikiran tersebut dikonfirmasi dengan menggunakan kalkulator ukuran sampel


berdasarkan rumus

Di mana q = 1-p

Untuk menghitung interval kepercayaan p = 95%, penulis menggunakan nilai paling


konservatif sebesar 50% (0,50) dengan asumsi bahwa penulis tidak yakin apa p,
dengan margin error (d) tidak lebih dari 0,05. Dengan demikian, ukuran sampel n =
384 (dibulatkan ke atas menjadi 400).

Penelitian tersebut akan dilakukan di Rumah Sakit Umum dr. Soetomo di Surabaya,
Indonesia.
Pemilihan Pasien

Populasi penelitian adalah pria dan wanita yang merupakan pasien pasca-MDT di
pusat kusta di Surabaya. Mereka direkrut dari populasi dan masih mengeluh nyeri
pada saat kontrol. Kriteria inklusi berikut akan digunakan untuk merekrut pasien:
1. Pasien kusta yang telah menyelesaikan MDT mereka.
2. Pasien yang berusia di atas 16 tahun.
3. Setuju untuk menandatangani informed consent.

Pasien dengan gangguan mental atau kondisi fisik berat yang dapat mengganggu
penilaian mereka akan dieksklusikan dari perekrutan.

Desain Penelitian
I. Semua pasien yang direkrut untuk berpartisipasi dalam penelitian ini (nyeri
neuropatik atau tidak) akan dicatat seluruh rincian tentang diagnosis, terapi dan
reaksi mereka:
1. Tanggal diagnosis kusta
2. Terapi yang diterima (MDT, jenis dan durasi)
3. Alasan mengapa pasien menghadiri klinik pada hari tersebut.
4. Jenis reaksi (T1R, ENL, neuritis)
5. Waktu reaksi
6. Penatalaksanaan reaksi
7. Rincian riwayat nyeri dan pengobatan sebelumnya nyeri neuropatik atau
tidak yang dialami oleh pasien.

Informasi di atas akan diperoleh dari wawancara, evaluasi klinis, kuesioner dan
rekam medis pasien.

II. Untuk mengetahui prevalensi nyeri neuropatik dalam kelompok pasien kusta
yang dirawat:
1. Riwayat terperinci tentang lesi atau penyakit neurologis beserta distribusi
nyeri yang relevan dan masuk akal secara neuro-anatomi.
2. Pemeriksaan klinis untuk tanda nyeri yang terkait dengan tanda sensorik
pada distribusi neuro-anatomi yang sama.
3. Mengidentifikasi pasien nyeri neuropatik menggunakan kuesioner DN4
sebagai alat skrining.
4. Mengevaluasi berbagai gejala nyeri neuropatik dengan menggunakan
NPSI.

III. Untuk mempelajari pengaruh nyeri neuropatik terhadap kesejahteraan mental,


fisik dan psikologis pasien:
1. Menilai intensitas nyeri neuropatik dan pengaruhnya terhadap aktivitas
sehari-hari menggunakan kuesioner Brief Pain Inventory (BPI).
2. Mengkaji dampak nyeri neuropatikterhadap kapasitas fungsional dengan
menggunakan kuesioner SALSA Score.
3. Untuk mengetahui apakah kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh nyeri
neuropatik menggunakan General Health Questionnaire 12 (GHQ-12).

Definisi Kasus

Tanda kardinal kusta menurut WHO (27) satu di antaranya:


1. Plak kulit yang terasa kebal/anestetik tunggal atau majemuk
2. Penebalan saraf perifer
3. Basil Tahan Asam pada apusan atau biopsi kulit.

Nyeri neuropatik hadir ketika pasien memiliki skor 4 atau lebih pada kuesioner DN4
(2, 4). Hal tersebut dipicu atau disebabkan oleh lesi atau penyakit yang
mempengaruhi sistem somatosensori yang menyebabkan rasa sakit pada distribusi
saraf yang masuk akal secara neuro-anatomi dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan
klinis (10).

Nyeri nociceptive didefinisikan sebagai nyeri yang timbul akibat cedera atau
kerusakan jaringan yang menyebabkan aktivasi syaraf serta transmisi sinyal nyeri
melalui saraf perifer atau sumsum tulang belakang ke otak (10).

Neuritis didefinisikan sebagai keradangan saraf, yang mungkin/tidak menyebabkan


kelainan fungsi saraf (9, 28)
Pasien Kusta RFT dengan nyeri

Informed Tidak
consent

Ya

Pemeriksaan Klinis anamnesis + pemeriksaan fisik.


Melibatkan pencatatan terperinci akan Dx, MDT,
reaksi T1R, ENL, neuritis dan Tx, deformitas,
disabilitas, dsb

DN4

NP Non NP

NPSI BPI SALSA GHQ-12

Beban Nyeri Neuropatik


pada Px Kusta

Gambar 2: Diagram Alur Rekrutmen dan Penilaian Pasien untuk Mengetahui


Prevalensi Nyeri Neuropatik dalam Kelompok Pasien Kusta yang Diobati dan
Dampaknya terhadap Kualitas Mental, Fisik dan Kualitas Hidup Mereka
Kelainan fungsi saraf (Nerve Function Impairment/NFI) didefinisikan sebagai
hilangnya fungsi motorik dan/atau sensorik (29).

Nyeri campuran adalah ketika nyeri nosiseptif dan neuropatik hadir pada saat yang
bersamaan, terutama pada pasien yang sedang dalam masa transisi untuk
mengalami nyeri neuropatik kronis (9).

Penggunaan Kuesioner
1. DN4 untuk memeriksa gejala sensorik nyeri neuropatik positif dan negatif (15).
2. NPSI adalah inventaris gejala dimana karakteristik nyeri dapat diukur (18).
3. Kuesioner BPI (singkat) memungkinkan pasien untuk menilai tingkat keparahan
nyeri dan gangguan pada perasaan serta fungsonal yang diakibatkannya (25).
4. Kuesioner SALSA menunjukkan keterbatasan aktivitas yang berkaitan dengan
tiga domain mobilitas, perawatan diri dan pekerjaan (30).
5. Kuesioner GHQ-12 menunjukkan adanya gangguan psikologis (31).

Evaluasi Klinis
1. Semua pasien akan diminta untuk menggambarkan area yang nyeri dalam
bagan tubuh kosong dan peneliti akan menggunakan grafik yang sama untuk
menggambarkan lesi kulit, memetakan lokasi nyeri, gejala, sekaligus pola nyeri.
2. Anamnesis yang terperinci akan diambil dan rekam medis pasien ditinjau ulang
untuk memastikan perjalanan penyakit pasien, diagnosis, reaksi yang terjadi dan
terapi mereka.
3. Pemeriksaan yang menyeluruh terhadap kulit, saraf yang terkena, serta evaluasi
nyeri akan dilakukan untuk semua pasien dalam rangka menunjukkan
kehilangan sensorik pada satu atau lebih dari distribusi saraf yang terkena,
sesuai dengan lesi yang dijelaskan.

Pemeriksaan Saraf
1. Pemeriksaan klinis akan dilakukan untuk mencari pembengkakan dan nyeri
saraf terutama pada saraf aurikular, ulnaris, median, lateral popliteal dan tibialis
posterior.
2. Kekuatan motorik otot orbicularis oculi, abduktor digiti minimi, opponens pollicis
dan ekstensor hallucis longus akan diuji.
3. Monofilamen Semmes-Weinstein (MF) akan digunakan untuk menilai sensasi
yang diberikan terhadap saraf-saraf di atas (2). Ambang sensorik normal
ditetapkan sebagai 200 mg di tangan dan 2 g di kaki. Seorang pasien
mengalami gangguan sensorik bila angkanya meningkat tiga level atau lebih dari
ambang normal di situs manapun, atau dua level di satu lokasi dan setidaknya
satu level di tempat lain, atau satu level di tiga atau lebih situs untuk satu saraf
(32) .

Penilaian Kecacatan
Kecacatan pasien diklasifikasikan sesuai dengan kriteria kecacatan Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO): 0 tidak ada, 1 kehilangan sensorik, atau 2 cacat
kasat mata (33).

Persetujuan Etis
Persetujuan etis akan diberikan oleh Komite Etik dan Lembaga Kesehatan LSHTM di
Indonesia.

Kemungkinan Permasalahan Etis dan Penatalaksanaannya


1. Setiap pasien akan diberi nomor urut unik sehingga tidak dapat diidentifikasi.
2. Kerahasiaan pasien akan selalu dihormati dan dijaga.
3. Semua informasi akan disimpan dalam kandar yang dilindungi kata sandi.
Seluruh pengamanan yang tepat akan diterapkan untuk melindungi pasien dan
data yang dikumpulkan.
4. Informasi akan disimpan dengan aman selama 10 tahun di lingkungan
penyimpanan yang dikelola sesuai dengan Pedoman LSHTM mengenai Good
Research Practice selama periode retensi.

Informed Consent
Pada perekrutan, pasien akan diberi penjelasan rinci tentang penelitian dalam
Bahasa Indonesia sebelum diundang untuk menandatangani formulir persetujuan.

Analisis Statistik
Database akan dibuat dengan menggunakan spreadsheet Microsoft Excel untuk
dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan Stata 14. Statistik deskriptif akan
diterapkan untuk mencari korelasi yang signifikan antar variabel. Data kuantitatif
akan dijelaskan dengan menggunakan mean dan standard deviation (SD), dan untuk
data kualitatif akan dijelaskan dengan menggunakan frekuensi dan persentase. Data
kategoris akan dianalisis dengan menggunakan uji Chi-square untuk
membandingkan antara dua atau tiga variabel. Uji T akan digunakan untuk
membandingkan dua kelompok, sementara data kontinu akan dianalisis dengan uji
regresi linier atau ANOVA. Analisis univariat dan bi-variat akan dilakukan dengan
menggunakan uji korelasi r Pearson. Uji eksakta Fisher akan digunakan untuk
mengkonfirmasi jika ukuran sampel tidak cukup besar. Uji Kruskal-Wallis adalah uji
non-parametrik yang diterapkan pada data peringkat untuk membandingkan
signifikansi perbedaan antara distribusi dua sampel independen. Regresi logistik
multivariat akan digunakan untuk menentukan korelasi beberapa variabel dengan
nyeri neuropatik untuk mengidentifikasi variabel mana yang paling diskriminatif.

Keterbatasan Penelitian

1. Salah satu keterbatasan penelitian ini adalah bahwasanya populasi pasien


sangatlah bias karena penulis meneliti kelompok pasien yang datang kontrol di
klinik pasca-MDT. Kelompok pasien tersebut jauh lebih mungkin mengalami
reaksi dan mungkin juga menderita nyeri neuropatik.
2. Rumah Sakit Umum dr Soetomo adalah pusat rujukan untuk Provinsi Jawa
Timur, sehingga sampel yang direkrut mungkin tidak benar-benar mewakili
pasien di masyarakat karena kasusnya mungkin lebih rumit dan disertai penyakit
yang lebih berat.
3. Penelitian ini dilakukan di satu pusat saja; maka, temuan dari penelitian ini
mungkin tidak bisa diekstrapolasikan bagi pasien di pusat lainnya. Meskipun
demikian, penelitian serupa sedang dilakukan di berbagai pusat lain, data yang
terkumpul dapat dibagikan, dan hasilnya mungkin masih relevan di belahan
dunia lain.

Daftar Rujukan

1. World Health Organisation. Global Leprosy Update 2014: need for early case
detection. Geneva: World Health Organization, 2015 2015-09-04 11:44:27.
2. Lasry-Levy E, Hietaharju A, Pai V, Ganapati R, Rice AS, Haanpaa M, et al.
Neuropathic pain and psychological morbidity in patients with treated leprosy: a
cross-sectional prevalence study in Mumbai. PLoS Negl Trop Dis.
2011;5(3):e981.
3. Saunderson P, Bizuneh E, Leekassa R. Neuropathic pain in people treated for
multibacillary leprosy more than ten years previously. Lepr Rev. 2008;79(3):270-
6.
4. Haroun OM, Hietaharju A, Bizuneh E, Tesfaye F, Brandsma JW, Haanpaa M, et
al. Investigation of neuropathic pain in treated leprosy patients in Ethiopia: a
cross-sectional study. Pain. 2012;153(8):1620-4.
5. Stump PR, Baccarelli R, Marciano LH, Lauris JR, Teixeira MJ, Ura S, et al.
Neuropathic pain in leprosy patients. Int J Lepr Other Mycobact Dis.
2004;72(2):134-8.
6. World Health Organisation. WHO | Leprosy Geneva: World Health Organization;
2015 [updated 2015-06-23 07:12:12. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs101/en/.
7. Britton WJ, Lockwood DNJ. Leprosy. The Lancet. 2004;363(9416):1209-19.
8. Chandler DJ, Hansen KS, Mahato B, Darlong J, John A, Lockwood DN.
Household costs of leprosy reactions (ENL) in rural India. PLoS Negl Trop Dis.
2015;9(1):e0003431.
9. Ciampi de Andrade D. Pain in leprosy: general challenges of a singular disease
: PAIN. Pain. 2015;156(6):983-5.
10. Treede RD, Jensen TS, Campbell JN, Cruccu G, Dostrovsky JO, Griffin JW, et
al. Neuropathic pain: redefinition and a grading system for clinical and research
purposes. Neurology. 2008;70(18):1630-5.
11. Thakur S, Dworkin, Robert, Omer, M O, Lockwood, Diana N J, Rice, Andrew, S
C. Acute and chronic pain associated with leprosy : PAIN. Pain. 2015;156(6):998
- 1002.
12. Baron R. Mechanisms of Disease: neuropathic pain|[mdash]|a clinical
perspective. Nature Clinical Practice Neurology. 2006;2(2):95-106.
13. Jensen TS, Baron R, Haanpaa M, Kalso E, Loeser JD, Rice AS, et al. A new
definition of neuropathic pain. Pain. 2011;152(10):2204-5.
14. Finnerup NB, et al. Neuropathic pain: An updated grading system for research
and clinical practice. Pain. 2016.
15. Bouhassira D, Attal N, Alchaar H, Boureau F, Brochet B, Bruxelle J, et al.
Comparison of pain syndromes associated with nervous or somatic lesions and
development of a new neuropathic pain diagnostic questionnaire (DN4). Pain.
2005;114(1-2):29-36.
16. Ramos JM, Alonso-Castaeda B, Eshetu D, Lemma D, Reyes F, Belinchn I, et
al. Prevalence and characteristics of neuropathic pain in leprosy patients treated
years ago. Pathog Glob Health. 2014;108(4):186-90.
17. Chen S, Qu J, Chu T. Prevalence and characteristics of neuropathic pain in the
people affected by leprosy in China. Lepr Rev. 2012;83(2):195-201.
18. Bouhassira D, Attal, N., et al. Development and validation of the Neuropathic
Pain Symptom Inventory. Pain. 2004;108:248 - 57.
19. Lund C, Koskinen M, Suneetha S, Lockwood DN, Haanpaa M, Haapasalo H, et
al. Histopathological and clinical findings in leprosy patients with chronic
neuropathic pain: a study from Hyderabad, India. Lepr Rev. 2007;78(4):369-80.
20. Weiss MG, Doongaji DR, Siddhartha S, Wypij D, Pathare S, Bhatawdekar M, et
al. The Explanatory Model Interview Catalogue (EMIC). Contribution to cross-
cultural research methods from a study of leprosy and mental health. 1992.
21. Singh GP. Psychosocial aspects of Hansen's disease (leprosy). Indian
Dermatology Online Journal. 2012;3(3):166-70.
22. Tsutsumi A, Izutsu T, Akramul Islam MD, Amed JU, Nakahara S, Takagi F, et al.
Depressive status of leprosy patients in Bangladesh: association with self-
perception of stigma. Lepr Rev. 2004;75(1):57-66.
23. Idaiani S, Suhardi S. VALIDITAS DAN RELIABILITAS GENERAL HEALTH
QUESTIONNAIRE UNTUK SKRINING DISTRES PSIKOLOGIK DAN
DISFUNGSI SOSIAL DI MASYARAKAT. Buletin Penilitian Kesehatan (Bulletin of
Health Research). 2006;34(4).
24. Makowska Z, Merecz D, Moscicka A, Kolasa W. The validity of general health
questionnaires, GHQ-12 and GHQ-28, in mental health studies of working
people. International journal of occupational medicine and environmental health.
2002;15(4):353-62.
25. Cleeland CS, Ryan KM. Pain assessment: global use of the Brief Pain Inventory.
Annals of the Academy of Medicine, Singapore. 1994;23(2):129-38.
26. Lockwood DN. Editor's choice June 2012: scales for measuring everything. Lepr
Rev. 2012;83(2):119-20.
27. WHO. WHO Expert Committee on Leprosy 8th Report. WHO. 2012;WHO Tech
Report Series 968.
28. Job CK. Nerve damage in leprosy. Int J Lepr Other Mycobact Dis.
1989;57(2):532-9.
29. Croft RP nyeri neuropatik, Steyerberg EW, et al. A clinical prediction rule for
nerve function impairment in leprosy patients. Lancet. 2000;355:1603-6.
30. Salsa Collaborative Study Group. Salsa Scale, user's Manual. In: International
TLM, editor. Netherlands2010.
31. Hankins M. The factor structure of the twelve item General Health Questionnaire
(GHQ-12): the result of negative phrasing? Clinical Practice and Epidemiology in
Mental Health. 2008;4(1):10.
32. Van Brakel WH, Nicholls PG, Das L, Barkataki P, Maddali P, Lockwood DN, et
al. The INFIR Cohort Study: assessment of sensory and motor neuropathy in
leprosy at baseline. Lepr Rev. 2005;76(4):277-95.
33. Alberts CJea. Potential effect of the World Health Organizations 20112015
global leprosy strategy on the prevalence of grade 2 disabili. Bulletin of the
World Health Organisation. 2011;89:487 - 95.