Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL KERJA PRAKTEK

ANALISA KUALITAS BATUBARA BERDASARKAN NILAI


HGI (HARDGROVE GRINDABILITY INDEX) DENGAN
STANDAR ASTM (AMERICAN SOCIETY TESTING AND
MINERAL) PADA DAERAH JAMBI

Diajukan Sebagai salah satu syarat dalam melakukan kerja praktek dalam
rangka penulisan laporan pada Program Studi Teknik Pertambangan

Petrus Fendy Saputra


F1D113028

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN


JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS JAMBI
2016
BAB 1
PENDAHULUAN

A. JUDUL LAPORAN KERJA PRAKTEK

ANALISA KUALITAS BATUBARA BERDASARKAN NILAI HGI (HARDGROVE


GRINDABILITY INDEX) DENGAN STANDAR ASTM (AMERICAN SOCIETY TESTING
AND MINERAL)

B. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Batubara dapat diperoleh di daerah pertambangan dari kualitas yang baik


sampai kualitas yang rendah. Pertambangan batubara merupakan kegiatan yang
khas karena kegiatannya tergantung kepada ada tidaknya sumber daya batubara
pada suatu lokasi. Sumber daya batubara tidak tedapat disemua tempat. Hal ini
dapat memberikan keunggulan komparatif yang khas, sehingga mempunyai
dampak yang khusus pula, diantaranya adalah dampak terhadap pertumbuhan
ekonomi daerah setempat. Salah satu produk unggulan sub-sektor
pertambangna di Provinsi Jambi adalah batubara.

Batubara terbentuk relatif pada daerah dataran rendah dan merupakan


suatu cekungan sedimentasi. Provinsi Jambi termasuk daerah yang memiliki
topografi seperti itu sehingga berpotensi memiliki sumber daya batubara. Hal ini
dibuktikan dengan banyaknya kabupaten yang memilliki sumberdaya batubara
seperti halnya Kabupaten Sarolangun, Merangin, Bungo, Tebo, dan Batang Hari.
Sampai saat ini kabupaten yang memiliki sumberdaya batubara terbanyak
adalah daerah Kabupaten Sarolangun.

Salah satu tolak ukur secara laboratorium yang dipergunakan untuk


mengetahui kualitas batubara adalah berdasarkan nilai HGI (Hardgrove
Grindability Index) yang menunjukan mudah atau sulitnya batubara digerus atau
di pulverizing. ASTM merupakan metode uji baku untuk ketergilingan batubara
dengan cara mesin hardgrove. Metode ini digunakan untuk menentukan tingkat
ketergilingan relatif atau kemudahan penghancuran batubara, dengan
membandingkan batubara yang dipilih sebagai standar. Nilai indeks ketergilingan
menentukan waktu dan tenaga yang diperlukan untuk menggiling batubara
sampai pada kehalusan tertentu.

Dari keterangan diatas judul ini dipilih untuk mengetahui kualitas


batubara yang ada di Jambi berdasarkan nilai HGI karena apabila dalam
batubara tedapat kandungan sulfur, maka maka sulfur tersebut akan bereaksi

Page | 1
dengan udara dan air yang terdapat di atmosfer. Sehingga membentuk asam
sulfat yang bersifat reaktif terhadap logam. Makin tinggi nilai HGI maka cepat
kemungkinan peralatan grinding atau mill makin terkena korosi, sehingga makin
cepat aus.

C. TUJUAN PENELITIAN

Penelitian dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :


1. Mengetahui kualitas batubara Provinsi Jambi
2. Mengetahui daerah yang memiliki nilai HGI paling tinggi
3. Mengetahui daerah yang memiliki nilai HGI paling rendah

Page | 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN PUSTAKA
A.1 Cara Terbentuk Batubara

Komposisi kimia batubara hampir sama dengan komposisi kimia jaringan


tumbuhan, keduanya mengandung unsur utama yang keduaanya mengandung
unsur C, H, O, N, S, P. Hal ini mudah dimengeri, karena batubara terbentuk dari
jaringan tumbuhan yang mengalami pembatubaraan (coalification). Didalam
mempelajari cara terbentuknya batubara dikenal 2 teori yaitu teori insitu dan
teori drift. Teori insitu menjelaskan tempat batubara terbentuk sama dengan
tempat proses terjadinya coalification dan sama pula dengan tempat dimana
tumbuhan tersebut berkembang.

Teori drift menjelaskan bahwa endapaan batubara yang terdapat pada


cekungan sedimen berasal dari tempat lain, dengan kata lain tempat
terbentuknya batubara berbeda dengan tempat tumbuhan semula berkembang
kemudian mati. Oleh sebab itu bahan pembentuk batubara tersebut telah
mengalami transportasi, sortasi, dan terakumulasi pada suatu cekungan
sedimen.

Cara tebentuknya batubara melalui proses yang sangat panjang dan lama,
disamping dipengaruhi faktor alamiah yang tidak mengenal batas waktu,
terutama ditinjau dari segi fisika, kimia ataupun biologis. Dikenal serangkaian
faktor yang berpengaruh dan menentukan terbentuknya batubara. Faktor
faktor tersebut antara lain : posisi geoteknik, keadaan topografi daerah, iklim
daerah, tumbuhan, proses dekomposisi, sejarah setelah pengendapan, struktur
geologi cekungan dan etamorfosa organik.

A.2 Klasifikasi Batubara

Secara umum batubara digolongkan menjadi 5 tingkatan (dari tingkatan


paling tinggi sampai tingkatan terendah) yaitu anthracite, bituminous coal, sub
bituminous coal, lignite, dan peat (gambut). Penggolongan tersebut menekankan
pada kandungan relatif antara C dan H2O yang tedapat di dalam batubara. Pada
anthracite, kandungan C relatif lebih tinggi dari kandungan H2O. Pada bituminous
dan peat kandungan unsur C relatif lebih rendah daripada kandungan unsur
H2O. Pada bituminous kandungan unsur C relatif lebih rendah daripada

Page | 3
kandungan unsur C pada anthracite, sebaliknya kandungan H20 pada bituminous
relatif lebih tinggi dari pada kandungan H2O pada anthracite.

Kandungan air dalam batubara, dikenal sebagai istilah sifat lengas


(moisture). Kandungan lengas (moisture content) digolongkan sebagai lengas bebas
(free moisture) yaitu lengas yang disebabkan oleh adanya kandungan air
mekanika, lengas bawaan (inherent moisture) yaitu lengas yang disebabkan oleh
adanya kandungan air mineral dan lengas total (total moisture) yaitu jumlah total
kandungan batubara yang merupakan penjumlahan dari free moisture dan
inherent moisture.

Anthracite menunjukan ciri antara lain, memperlihatkan struktur


kompak, berat jenis tinggi, berwarna hitam metalik, kandungan volatile matter
rendah, kandungan abu dan kandungan air rendah, mudah pecah. Apabila
dibakar, hampir seluruhnya habis terbakar tanpa menimbulkan nyala, nilai kalor
berkisar pada nilai 8300 Kkal/Kg. Bituminous coal berwarna hitam agak kompak,
kandungan abu dan air relaif rendah (5% - 10%), nilai kalor antara 7000 8000
Kkal/Kg. Lignite apabila dibakar menghasilkan nilai kalor 1500 4500 Kkal/Kg,
sedangkan peat apabila dibakar menghasilkan nilai kalor 1700 3000 Kkal/Kg.
Oleh sebab itu, apabila batubara dipergunakan sebagai bahan bakar industri
dipilih jenis anthracite atau bituminous coal, dihindarkan penggunaan peat dan
lignite.

A.3 Kualitas Batubara

Barubara dari hasil penambangan pasti mengandung bahan pengotor


(impurities). Pada saat tebentuknya, batubara selalu bercampur dengan mineral
penyusun batuan yang selalu terdapat bersamaan selama proses sedimentasi,
baik sebagai mineral organik maupun anorganik. Disamping itu, selama proses
coalification terbentuk unsur S yang tidak dapat dihindarkan. Keberadaan
batubara hasil penambangan diperparah lagi, dengan adanya kenyataan bahwa
tidak mungkin membersihkan/memilih/mengambil batubara yang bebas dari
mineral. Hal tersebut disebabkan antara lain, penambangan batubara dalam
jumlah besar selalu mempergunakan alat-alat berat antara lain bulldoser,
backhoe, tracktor, truck, beltconveyor, ponton, yang selalu bergelinang dengan
tanah. Dikenal dua jenis impurities yaitu :

1. Inherent impurities
Merupakan pengotor bawaan yang terdapat dalam batubara. Batubara
yang sudah dicuci (washing) dan dikecilkan ukuran butiranya (crushing)

Page | 4
sehingga dihasilkan ukuran tertentu, ketika dibakar habis masih
memberikan sisa abu.
2. External impurities
Merupakan pengotor yang berasal dari luar, timbul pada saat proses
penambangan antara lain terbawanya tanah yang berasal dari lapisan
penutup (overburden). Kejadian ini sangat umum dan tidak dapat dihindari,
khususnya penambangan batubara dengan metode tambang terbuka (open
pit). Sebagai bahan baku pembangkit energi yang dibutuhkan dalam industri,
mutu batubara mempunyai peranan yang sangat penting dalam memilih
peralatan yang akan dipergunakan dan pemeliharaan alat. Dalam
menentukan mutu atau kualitas batubara perlu diperhatikan beberapa hal
yaitu :
Heating Value (Nilai Kalor)
Dinyatakan dalam Kkal/Kg, banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan
batubara dalam tiap satuan berat (Kilogram). Dikenal nilai kalor net (net
calorific atau low heating calorific value) yaitu nilai kalor hasil pembakaran
dimana semua air dihitung dalam keadaan gas, dan nilai kalor gross
(grosses calorific value) yaitu nilai kalor hasil pembakaran dimana semua
air dihitung dalam keadaan wujud cair. Semakin tinggi niali HV, makin
lambat jalannya batubara yang diumpankan sebagai bahan bakar setiap
jamnya sehingga kecepatan umpan batubara (coal feeder) perlu
disesuaikan.
Moisture Content (Kandungan Lengas)
Jumlah lengas dalam batubara akan mempengaruhi penggunaan udara
primer. Batubara dengan kandungan lengas tinggi, akan membutuhkan
lebih banyak udara primer untuk mengeringkan batubara tersebut agar
suhu batubara pada saat keluar dari gilingan tetap, sehingga hasil produksi
industri dapat terjamin kualitasnya. Lengas batubara ditentukan oleh
jumlah kandungan air yang terdapat dalam batubara.
Ash Content (Kandungan Abu)
Merupakan abu hasil pembakaran batubara, abu ini merupakan
kumpulan dari bahan bahan yang terdapat dalam batubara yang tidak
dapat terbakar (non-combustible materials) atau yang dioksidasi oleh
oksigen. Bahan sisa dalam bentuk padatan ini adalah senyawa SiO2,
Al2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, Fe2O3, MgO, K2O, Na2O, P2O, SO3 dan oksida
unsur lain. Disamping itu terdapat pula abu dari bahan organik yang
terbakar (combustible material)

Page | 5
Sulfur Content (Kandungan Belerang)
Keberadaan sulfur dalam batubara akan berpengaruh terhadap tingkat
korosi sisi dingin (sisi luar) yang terjadi pada elemen pemanasan udara,
juga berpengaruh pada efektivitas peraltan penangkapan abu. Adanya
kandungan sulfur, baik dalam bentuk senyawa anorganik ataupun
senyawa organik diatmosfer dipicu oleh keberdaan air hujan,
mengakibatkan terbentuk air asam.
Volatile Matter (Bahan Mudah Menguap)
Kandungan volatile matter, berkaitan dengan proses pembatubaraan.
Kandungan ini mempengaruhi kesempurnaa pembakaran dan intensitas
nyala api, kesempurnaan pembakaran ditentukan oleh nilai fixed carbon.
semakin tinggi nilai fuel ratio, maka karbon yang tidak terbakar semakin
banyak. Hubungan antara fuel ratio, fixed carbon dan volatile matter sebagai
berikut :

=

Fixed Carbon
Didefinisikan sebagai material yang tersisa, setelah berkurangnya
moisture, volatile matter dan ash. Hubungan ketiganya ditunjukan sebagai
berikut :
(%) = 100%

Apabila nilai moisture content dan ash content disamakan dengan nilai
volatile matter, persamaan tersebut diatas menjadi :
= 100 (%)

Hardgrove Grindability Index


Suatu bilangan yang menunjukan mudah atau sulitnya batubara untuk
di gerus/digiling menjadi bahan bakar serbuk. Didalam praktek sebelum
batubara dipergunakan sebagai bahan bakar. Ukuran butirnya dibuat
seragam, dengan rentang halus sampai kasar. Butir paling halus dengan
ukuran <3 mm, sedang ukuran paling kasar sampai 50 mm. Makin kecil
nilai HGI, maka makin keras keadaan batubaranya. Harga HGI diperoleh
dengan menggunakan rumus :
= 13,6 + 6,93
Dimana W adalah berat dalam gram dari batubara halus berukuran 200
mesh.

Page | 6
Ash Fusion Character of Coal
Batubara apabila dipanaskan bersama sama terutama anorganik
impurities akan melebur atau meleleh. Apabila hal ini sampai terjadi akan
berpengaruh pada tingkat pengotoran (fouling), pembentukan terak
(slagging) dan akan berakibat terjadinya gangguan pada blower.

A.4 Pemanfaatan Batubara


Batubara merupakan jenis bahan bakar pembangkit energi. Berdasarkan
cara penggunaannya sebagai penghasil energi batubara dibedakan :
1. Penghasil energi panas primer, yaitu langsung dipergunakan untuk industri,
misalnya sebagai bahan burner (pembakar) dalam industri semen,
pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), bahan bakar pembuatan kapur tohor,
bahan bakar pembuatan genting, bahan bakar lokomotifm pereduksi proses
metalurgi, kokas konvensional dan bahan bakar tidak berasap (smokeless
fuel)
2. Penghasil energi sekunder, yaitu tidak langsung dipergunakan untuk
industri, misalnya sebagai bahan bakar padat (briket), bahan bakar cair dan
bahan bakar gas
Batubara dapat pula dipergunakan tidak sebagai bahan bakar, tetapi
dipergunakan sebagai reduktor pada proses peleburan timah, industri ferro-nikel,
industri besi dan baja, sebagai bahan pemurnian pada industri kimia (dalam
bentuk karbon aktif) sebagai bahan pembuatan kalsium (dalam bentuk kokas
atau semi kokas).

B. DATA PENDUKUNG

Data pendukung yang dimaksud adalah data-data yang dapat mendukung


data-data dari lapangan guna menganalisa permasalahan yang ada untuk
mencari alternatif penyelesaian masalah.

Data pendukung dapat diambil antara lain dari data hasil pengamatan di
lapangan, laporan penelitian terdahulu dari perusahaan, brosur-brosur dari
perusahaan, data dari instansi yang terkait dan dari literatur-literatur.

Page | 7
BAB III
PENELITIAN DILAPANGAN

A. METODELOGI PENELITIAN

Didalam melaksanakan kerja praktek ini, dibutuhkan peralatan


laboratorium dan sampel batubara dari perusahan perusahaan yang ada di
Provinsi Jambi. Peralatan tersebut sebagai berikut :
1. Rotap sieve shaker digunakan untuk pengayakan sampel
2. Coffe mill digunakan untuk menggiling sampel
3. Balance PJ 3000 digunakan untuk menimbang sampel
4. HGI machine digunakan untuk menggerus sampel
5. Mesh 16 merupakan saringan dengan diameter 18 mm
6. Mesh +30 merupakan saringan dengan diameter 600 m
7. Mesh +200 merupakan saringan dengan diameter 75 m
8. Batubara sebagai sampel uji

B. JADWAL KEGIATAN LAPANGAN

Sesuai dengan proposal kerja praktek ini, saya berencana akan


melaksanakan Kerja Praktek ini dari tanggal 03 Juli 2017 03 September 2017
atau 300 jam kerja. Adapun rincian kegiatan dari pelaksanaannya adalah
sebagai berikut :

Bulan 1 2

Minggu 1 2 3 4 1 2 3 4

Studi literature

Observasi

Pengambilan Data

Analisis Data

Penyusunan Draft

Page | 8
PENUTUP

Demikian proposal ini dibuat dengan sebenarnya dan saya berharap agar
proses selanjutnya dapat berguna sebagai laporan kerja praktek, saya berharap
besar kiranya PT Surveyor Indonesia (Persero) dapat menyetujui dan menerima
proposal kerja praktek ini. Saya siap melaksanakan kerja praktek ini dengan
sebaik-baiknya dan sungguh-sungguh agar nantinya kerja praktek ini menjadi
bermafaat.

Atas perhatian dan ketersedian PT. Surveyor Indonesia (Persero) untuk


menerima pelaksanaan kerja praktek ini, saya mengucapkan banyak terima
kasih.

Page | 9