Anda di halaman 1dari 4

1.

Diagnosis Banding demam dengue


A. Demam Berdarah Dengue
Gejala klinis:
Demam 2-7 hari timbul mendadak, tinggi, terus-menerus (kontinyu)
Manifestasi perdarahan baik yang spontan seperti petekiae, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena, maupun berupa
perdarahanyang timbul karena provokasi yaitu uji Torniquette positif
Nyeri kepala, myalgia, atralgia, nyeri retroorbital
Dijumpai kasus Demam Beradrah Dengue naik di lingkungan sekolah, rumah, atau
sekitar rumah
Hepatomegaly
Terdapat kebocoran plasma yang ditandai dengan salah satu tanda/gejala:
- Peningkatan nilai hematocrit >20% dari pemeriksaan awal atau dari data populasi
menurut umur
- Ditemukan adanya efusi pleura, asites
- Hipoalbuminemia, hipoproteinemia

Trombositopenia < 100.000/mm3

B. Demam Tifoid
Gejala klinis: demam 7-14 hari
Demam
Minggu ke 1 : irregular (variasi suhu 1,4-2,5C), remiten (malam hari naik, pagi/siang
suhu turun tetapi suhu tidak pernah mencapai normal)
Minggu ke 2: panas tetap tinggi (febris kontinyu)
Minggu ke 3: mulai turun sampai normal pada akhir minggu ke 3
Distres abdominal: anoreksia, muntah, nausea, diare atau konstipasi, nyeri abdomen,
distensi abdomen
Gejala neurologis: sensorium berkabut, sakit kepala, iritabel, apatis, kejang, delirium

Pemeriksaan fisik: anak tampak sakit, pucat, gelisah, iritabel, apatis, delirium
Berat badan menurun, suhu tinggi
Lidah kotor
Distensi abdomen, doughy feel
Pembesaran hepar dan lien

C. Malaria
Gejala klinis: demam tinggi bersifat intermiten. Demam yang intermiten berdasarkan
jenis Plasmodium yang menyebabkan.
P. Falciparum : demam dalam 36 jam,
P. ovale dan P. vivax : demam dalam 48 jam (malaria tertian)
P. malariae : demam dalam 72 jam (malaria quartana).
Gejala klasik berupa menggigil, demam, berkeringat
Dapat disertai nyeri otot dan nyeri kepala, nafsu makan menurun, mual dan muntah.
Pada anak sering didapatkan diare.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda anemia, hepatomegaly, dan
splenomegaly. Beratnya anemia berdasarkan jenis plasmodium yang menyebabkan. P.
falciparum menginfeksi semua jenis eritrosit sehinga menimbulkan anemia yang berat.
P. vivax/ovale menginfeksi eritrosit muda (2% dari total eritrosit) dan P. malariae
menginfeksi eritrosit tua (1% dari total eritrosit)

Pemeriksaan laboratorium??

D. Infeksi saluran kemih


Gejala klinis : gejala tidak khas berupa demam, kelihatan sakit, nafsu makan berkurang,
muntah, diare, ikteru, perut kembung.
Gejala pada anak prasekolah-sekolah: gejala terlokalisasi pada saluran kemih.
Gejala sistitis/ ISK bawah: disuri, polakisuria, urgency (tidak bisa menahan kencing)
Gejala pielonefritis akut / ISK atas: demam, menggigil, nyeri pinggang, nyeri di daerah
sudut kostovertebral, hematuria makroskopik.
Pada pemeriksaan fisik dapat didapatkan adanya kelainan genitalia seperti pimosis,
hipospadia, epispadia, kelainan tulang belakang seperti spina bifida.

E. Infeksi respiratori akut bagian atas


Rinitis:
Pada anamnesis didapatkan bersin, pilek, hidung tersumbat, nyeri otot, Pada
pemeriksaan fisik: demam 38-39C (fase demam beberapa jam sampai dengan hari), ,
diare, mukosa hidung hiperemis dan udem.

Tonsilofaringitis:
Gejala didapatkan demam, nyeri tenggorok, malas makan, nyeri kepala, mual, muntah,
kelemahan. Sebelumnya ada riwayat kontak dengan penderita faringitis
Pada pemeriksaan fisik didapatkan infeksi nasal atau konjungtivitis (bila penyebabnya
virus), pembesaran limfonodi leher yang lunak, eritema pada tonsil dan faring, ulkus,
peteki pada palatum molle, dan eksudat tonsiler.

Otitis Media:
Gejala demam disertai nyeri telinga, riwayat otorea < 2 minggu
Pada pemeriksaan otoskopi tampak membrane timpani hyperemia (ringan-berat),
cembung keluar (desakan cairan mukopurulen), perforasi

F. Meningitis
Meningitis pada anak sering didahului oleh infeksi saluran napas atas atau saluran cerna
dengan gejala: demam, batuk, pilek, nyeri kepala, dan muntah-muntah. Pada
pemeriksaan fisik didapatkan penurunan kesadaran dapat bermanifestasi iritabel saja
atau penurunan kesadaran yang lebih dalam sampai koma. Ubun-ubun besar tegang
atau membonjol (jika ubun-ubun besar masih terbuka), tanda rangsang meningeal (kaku
kuduk, tanda Brudzinski I dan II, tanda Kernig), kejang fokal atau umum dan deficit
neurologis lainnya.

G. Campak
Gejala klinis:
Stadium inkubasi: 12-14 hari
Stadium Prodromal:
- Peradangan selaput mukosa hidung, mulit, tenggorokan, saluran cerna yang ditandai
dengan demam, batuk, pilek, bercak Koplik (patognomonik), konjungtivitis, dan
diare

Stadium erupsi:

- Adanya ruam eritromakulopapular yang timbul mulai di belakang telinga, menyebar


ke wajah, tubuh, dan ekstremitas

Masa penyembuhan: setelah gejala klinis berkurang, terjadi hiperpigmentasi dan


deskuamasi

F. Chikungunya

Gejala klinis: demam tinggi timbul mendadak 2-4 hari setelah terinfeksi dan dapat
berlangsung hingga 10 hari disertai dengan atralgia. Atralgia dapat sangat berat sehingga
pasien mengalami imobilisasi dan berlangsung hingga beberapa minggu hingga
beberapa bulan. Gejala lain berupa myalgia, nyeri kepala, mual, dan ruam pada kulit.

2. Perbedaan Asma, bronkiolitis, pneumonia


Asma Bronkiolitis Pneumonia
Obstruksi bronkus Infeksi pada bronkiolus Infeksi pada parenkim paru
dan jaringan interstitial
2 tahun < 2 tahun Semua umur
Expiratoru effort Expiartory effort Inspiratory effort
Ada riwayat atopi Ada riwayat atopi (riwayat Tidak ada riwayat atopi
alergi) pada keluarga
Langsung sesak Onset fase akut: sesak nafas Onset fase akut: sesak nafas
cepat (2-3 hari) timbul kemudian (7 hari)
Tidak ada demam Demam sub febris (37,3- Demam tinggi
38)
Wheezing (+) saat ekspirasi Rhonki +/- saat ekspirasi Rhonki basah halus saat
Wheezing +/- saat ekspirasi inspirasi
Foto thorax: Hiperaerated Foto thorax: Radioluscent, Foto thorax: infiltrate,
lung, sela iga melebar. sela iga melebar, konsolidasi, corakan
hiperinflasi paru, diafragma bronkovaskular meningkat
datar

3. Klasifikasi diare:
a. Berdasarkan durasi:
Diare akut: Diare yang berlangsung <14 hari
Diare kronik: diare yang berlangsung > 14 hari yang bukan disebabkan oleh infeksi usus
Diare persisten: diare akut karena infeksi usus yang karena suatu sebab berlanjut sampa
14 hari atau lebih
b. Berdasarkan patofisiologi
Diare osmotik: vili-vili yang rusak mengakibatkan enzim-enzim tidak terbentuk terutama
lactase, sehinga makanan tidak terserap dan laktosa tidak trhidrolisis. Makanan yang
tidak diserap lolos ke colon sehingga mengakibatkan tekanan intralminal meningkat
(osmotic) di colon. Makanan tersebut akan difermentasi sehingga menghasilkan gas dan
asam organic. Gas yang dihasilkan menyebabkan kembung, flatus, dan BAB berbuih.
Asam organic mengakibatkan BAB berbau asam dan kemerahan pada sekitar anus
(eritema perianalis).

Diare sekretorik: disebabkan oleh ripte yang ruak, sehingga sekresi klorida berlebihan.
Klorida yang banyak pada lumen akan menarik Na+ dan air, sehingga menyebabkan
ikatan NaCl mengakibatkan kehilangan elektrolit dan air. Diare sekretorik sering
disebabkan oleh enterotoxin bakteri. Diare sekretorik yang disebabkan oleh kolera
mengakibatkan ikatan NaCl ssangat banyak karena hebatnya sekresi klorida sehingga
BAB berwarna keruh seperti air garam.

Penyebab Diare Akut:


1. Infeksi
Infeksi dalam usus: dapat disebabkan oleh virus, bakteri, parasit
Infeksi di luar usus: karena OMA, ISK, pneumonia
2. Obat-obatan: antibiotic (Antibiotic Associated Diarrhea) antidepressant, obat-obatan
kemoterapi, anatsida, obat proton-pump inhibitor. Antibiotic Associated Diarrhea
paling banyak disebabkan oleh Clostridium difficile yang menginfeksi karena flora
normal usus (yang bersaing dengan bakteri pathogen) menjadi sedikit atau tidak ada
karena penggunaan antibiotic.
3. Alergi makanan: Cows milk protein allergy (CAMP), alergi protein kedelai, alergi
makanan
4. Kelainan proses cerna/absorpsi: defisiensi enzim sukrase/isomaltase
5. Defisiensi vitamin: defisiensi niasin

Karakteristik diare berdasarkan agen penyebab

Virus Virus menginvasi vili-vili usus halus sehingga


Rotavirus, Norwalk virus, Adenovirus, calcivirus, absorpsi terganggu dan terjadi diare sekretorik
Astraovirus kecuali rotavirus menyebabkan diare campuran
sekretorik-osmotik karena menyebabkan
maldigesti karbohidrat. Diare sering disertai
muntah, menggigil, demam, dan malaise
sehinga sering disebut stomach flu.
Bakteri
Vibrio cholera, ETEC, EPEC Menginfeksi usus halus dengan diare sangta
cair tanpa disertai inflamasi maupun invasi ke
mukosa.
Campylobacter jejuni, Shigella, Salmonella,
EIEC, EHEC, Yersinia enterocolica, Clostridium Menginfeksi kolon, biasanya terdapat invasi
deficile mukosa, inflamasi, mucus, dan darah pada
diare
Parasit
Giardia lambdia, Cryptosporidium Menginfeksi usus halus, menyebabkan diare
cair berbau busuk, disertai malabsorpsi, nyeri
perut, tanpa inflamasi.

Menginfeksi kolon, menyebabkan diare


Entamoeba hystolitica inflamatorik