Anda di halaman 1dari 14

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dermatitis Atopik

2.1.1 Sinonim

Dermatitis atopic memiliki berbagai istilah lain sebagai sinonim seperti

eksema atopic, eksema konstitusional , eksema flexural, neurodermitis diseminata,

prurigo beisner ( Sularsito dan Djuanda,2010 )

2.1.2 Definisi

Dermatitis atopi (DA) adalah penyakit kulit inflamasi yang khas, bersifat kronis

dan sering terjadi kekambuhan (eksaserbasi) terutama mengenai bayi dan anak-

anak, dapat pula pada dewasa. Penyakit ini biasanya disertai dengan peningkatan

kadar IgE dalam serum serta adanya riwayat rinitis alergika dan asma pada

keluarga maupun penderita ( Kariosentono, 2007 ).Dermatitis atopi (DA)

merupakan penyakit kulit inflamasi yang ditandai dengan gambaran klinis pruritus

dan khas tertentu seperti (kulit kering, terdapat plak pada dahi dan wajah, leher,

tangan, dan daerah lipatan) dan juga dipengaruhi oleh factor genetik (Lipozencic

et al.,2013). Inflamasi kulit pada DA merupakan hasil interaksi yang komplek

antara kerentanan genetic yang menjadi kulit menjadi rusak, kerusakan sistem

imun bawaan,dan kekebalan tinggi terhadap alergen (imunologi) dan anti

mikroba. Kadar IgE dalam serum penderita DA dan jumlah eosinofil dalam darah

perifer umumnya meningkat (Leung, 2010 ).Air susu ibu (ASI) menurut

Kementerian Kesehatan RI,World Health Organization (WHO) dan United


6

Nations Childrens Fund (UNICEF) adalah minuman alamiah untuk semua bayi

cukup bulan selama usia bulan-bulan pertama

2.1.3 Epidemiologi

Sampai saat ini kejadian dermatitis atopik terus meningkat. Menurut data dari

journal of asthma allergy and immunology di tahun 60an prevalen si dermatitis

atopik meningkat 3% - 4% pada anak, tetapi di tahun 80an melonjak menjadi

10% - 15% (Krafchik, 2008). Berdasarkan laporan kunjungan bayi dan anak dari

tujuh rumah sakit di Indonesia, dermatitis atopic menempati urutan pertama dari

sepuluh penyakit kulit terbanyak (Siregar, 2004). Dermatitis atopik adalah

penyakit kulit inflamasi kronis dan residif, disertai rasa gatal yang biasanya

muncul pada bayi dan anak- anak ditandai adanya riwayat atopik pada diri sendiri

atau pada keluarganya (Djuanda,

Menurut International Study of Asthma and Allergies in Childhood,

prevalensi gejala dermatitis atopik pada anak-anak usia enam atau tujuh

tahun selama satu tahun periode bervariasi. Prevalensi dermatitis atopik

semakin meningkat selama 30 tahun terakhir. Prevalensi dermatitis atopik

pada anak di beberapa negara diperkirakan 10-20% sedangkan pada dewasa

diperkirakan 1-3% (Watson, 2011).

Prevalensi dermatitis atopik meningkat dua kali lipat atau tiga kali

lipat di negara industri selama tiga dekade terakhir; 15-30% anak dan 2-10%

orang dewasa yang menderita dermatitis atopik. Gangguan ini seringkali

merupakan awal dari diatesis atopik yang meliputi asma dan penyakit alergi

lainnya. Dermatitis atopik sering dimulai pada masa bayi awal. Sebanyak
7

45% dari semua kasus dermatitis atopik dimulai dalam 6 bulan pertama

kehidupan, 60% dimulai pada tahun pertama, dan 85% dimulai sebelum usia

5 tahun. Lebih dari 50% anak yang menderita dermatitis atopik dalam 2

tahun pertama kehidupan tidak memiliki tanda sensitisasi IgE, tetapi

sensitisasi IgE tetap akan terjadi selama selama menderita dermatitis atopik.

Sampai dengan 70% dari anak-anak ini memiliki remisi spontan sebelum

masa remaja. Penyakit ini juga dapat terjadi pertama kali pada orang dewasa

(akhir-onset dermatitis atopik), dan dalam sejumlah besar pasien ini tidak

ada tanda IgE-mediated sensitisasi. Prevalensi dermatitis atopik lebih rendah

di pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan menunjukkan adanya

hubungan ke "hygene hypothesis", yang menyatakan bahwa tidak adanya

paparan anak usia dini terhadap agen infeksi meningkatkan kerentanan

terhadap penyakit alergi. Konsep ini baru-baru ini dipertanyakan berkaitan

dengan dermatitis atopik (Bieber, 2008).

Prevalensi dermatitis atopik semakin meningkat sehingga merupakan

masalah kesehatan besar. Wanita lebih banyak menderita dermatitis atopik

daripada pria dengan rasio 1,3:1 (Djuanda,2011). Data mengenai kejadian

dermatitis atopik belum diketahui secara pasti. Menurut laporan kunjungan

bayi dan anak di rumah sakit yang ada di Indonesia, kasus dermatitis atopik

didapatkan sebanyak 611 kasus (Putri, 2012). Sebuah penelitian kohort di

Jakarta pada tahun 2010 dilaporkan prevalensi dermatitis atopik 16,4 %

pada anak berusia 0-6 bulan (Munasir et al, 2011).


8

2.1.4 Patogenesis

Etiologi dermatitis atopik masih belum diketahui dan patogenesisnya

sangat kompleks serta melibatkan banyak faktor sehingga menggambarkan

suatu penyakit yang multifaktorial. Salah satu teori yang banyak dipakai

untuk menjelaskan patogenesis dermatitis atopik adalah teori imunologik.

Konsep imunopatologi ini berdasarkan bahwa pada pengamatan 75%

penderita dermatitis atopik mempunyai riwayat atopi lain pada keluarga atau

pada dirinya. Selain itu beberapa parameter imunologi dapaat ditemukan

pada dermatitis atopik, seperti peningkatan kadar IgE dalam serum pada 60-

80% kasus, adanya IgE spesisfik terhadap bermacam aerolergen dan

eosinofilia darah serta ditemukannya molekul IgE pada permukaan sel

langerhans epidermis.

Peranan reaksi alergi pada etiologi dermatitis atopik masih kontroversi

dan menjadi bahan perdebatan di antara para ahli. Istilah alergi dipakai

untuk merujuk pada setiap bentuk reaksi hipersensitivitas yang melibatkan

IgE sebagai antibodi yang terjadi akibat paparan alergen. Beberapa peneliti

menyebutkan alergen yang umum antara lain sebagai berikut:

a. Aeroalergen atau alergen inhalan : Tungau debu rumah, bulu binatang,

jamur dan kecoa

b. Makanan : susu, telur, kacang, ikan laut, kerang laut dan gandum

c. Mikroorganisme : bakteri seperti staphylococcus aureus, streptococcus

species dan ragi seperti Pityrosporum ovale, Candida albicans dan

Trichophyton species
9

d. Bahan iritan atau alergen : wool, desinfektan, nikel, paru, balsam dan

sebagainya.

Imunopatogenesis dermatitis atopik dimulai dengan paparan

imunogen atau alergen dari luar yang mencapai kulit, dapat melalui sirkulasi

setelah inhalasi atau secara langsung melalui kontak dengan kulit. Pada

pemaparan pertama terjadi sensitisasi, dimana alergen akan ditangkap

oleh sel penyaji antigen (APC), untuk kemudian diproses dan disajikan

kepada sel limfosit T dengan bantuan molekul MHC klas II. Hal ini

menyebabkan sel T menjadi aktif dan mengenali alergen tersebut melalui sel

T cell receptor (TCR). Setelah paparan, sel T akan berdeferensiasi menjadi

subpopulasi sel Th 2 karena mensekresi IL-4 dan sitokin ini merangsang

aktivitas sel B untuk menjadi sel plasma dan memproduksi IgE. Begitu ada

dalam sirkulasi IgE segera berikatan dengan sel mast dan basofil. Pada

paparan alergen berikutnya, IgE telah tersedia pada permukaan sel mast,

sehingga terjadi ikatan antara alergen dengan IgE. Ikatan ini akan

menyebabkan degranulasi sel mast. Degranulasi sel mast akan

mengeluarkan mediator baik yang teleah tersedia seperti histamin yang akan

menyebabkan reaksi segera, ataupun mediator yang baru dibentuk seperti

leukotrien C4 (LTC4), prostaglandin D2 (PGD2) dan lain sebagainya.

Sel Langerhans epidermal berperan penting pula di dalam patogenesis

dermatitis atopik oleh karena mengekspresikan reseptor pada permukaan

membrannya yang dapat mengikat molekul IgE serta mensekresi berbagai

sitokin. Apabila ada alergen masuk akan diikat dan disajikan pada sel T
10

dengan bantuan molekul MHC klas II dan sel T akan mensekresikan

limfokin dengan profil Th2 yaitu IL-4, IL-5, IL-6 dan IL-10. IL-5 secara

fungsional bekerja mirip ECF-A sehingga sel eosinofil ditarik dan

berkumpul di tempat lesi, menjadi aktif dan akan mengeluarkan granula

protein yang akan membuat kerusakan jaringan. Terjadinya lesi dermatitis

atopik pada keadaan ini didasari oleh mekanisme reaksi fase lambat atau

late phase reaction. Respon imun dermatitis atopik terjadi mirip respon tipe

lambat atau reaksi tipe IV karena melibatkan sel limfosit T dan oleh karena

diperantarai oleh IgE maka dikenal sebagai IgE mediated delayed type

hypersensitivity (Kariosentono, 2007)

2.1.5 Faktor resiko

Berbagai faktor ikut berinteraksi dalam patogenesis dermatitis atopik,

misalnya faktor genetik, lingkungan, sawar kulit, farmakologik, dan

imunologik. (Djuanda, 2011)

Faktor risiko terjadinya dermatitis atopik antara lain :

a. Genetik

Pada penyakit atopik, karakteristik status atopik dapat diuji melalui uji

tusuk kulit positif pada alergen yang umum. Sekitar 80% dari bayi

dengan dermatitis atopik memperlihatkan peningkatan level serum total

IgE. Riwayat orangtua diperkirakan mempunyai peranan penting pada

penyebab dermatitis atopik dan penyakit atopik lainnya karena genetik

merupakan faktor risiko yang sering memicu penyakit pada bayi.

Meskipun, tidak selalu ditemukan hubungan yang dekat pada status


11

pihak ibu daripada ayah (Morar et al., 2006)

b. Laktasi

Terjadi perbedaan bayi yang mendapat ASI dengan yang tidak ASI.

Melalu penelitian yang dilakukan Yang tahun 2009 tentang hubungan

antara menyusui dan terjadinya dermatitis atopik menunjukkan hasil

yang tidak menentu, dimana hasilnya tidak ada pembuktian yang kuat

efek proteksi menyusui secara eksklusif paling tidak selama 3 bulan

terhadap kejadian dermatitis atopik pada anak-anak dengan riwayat

keluarga yang positif dermatitis atopik (Yang et al., 2009).

c. Sosioekonomi

Dermatitis atopik lebih banyak ditemukan pada status sosial yang tinggi

dibandingkan dengan status sosial yang lebih rendah. Laporan

prevalensi eksema meningkat 1.5-2 kali lebih tinggi pada sosial kelas

atas. Alergi lebih sering pada kelompok berpendidikan tinggi (Dalstra

et al., 2005).

d. Polusi Lingkungan

Faktor polusi lingkungan mempengaruhi timbulnya dermatitis atopik.

Contoh polusi adalah polusi udara terutama di daerah industri, asap

rokok, penggunaan pendingin ruangan yang berpengaruh pula pada

kelembaban udara, penggunaan sabun yang berlebihan dan deterjenyang tidak

dibilas dengan sempurna (Leung, 2008).

2.1.5 Manifestasi klinis


12

Gejala Klinis dermatitis atopik secara umum adalah gatal, kulit kering

dan timbulnya eksim (eksematous inflammation) yang berjalan kronik dan

residif. Rasa gatal yang hebat menyebabkan garukan siang dan malam

sehingga memberikan tanda bekas garukan (scratch mark) yang akan diikuti

oleh kelainan-kelainan sekunder berupa papula, erosi atau ekskoriasi dan

selanjutnya akan terjadi likenifikasi bila proses menjadi kronis.

Papula dapat terasa sangat gatal (prurigo papula) bersamaan dengan

timbulnya vesikel (papulovesikel) dan eritema, merupakan gambaran lesi

eksematous. Prurigo papules, lesi eksematous dan likenifikasi dapat menjadi

erosif bila terkena garukan dan terjadi eksudasi yang berakhir dengan lesi

berkrustae. Lesi kulit yang sangat basah (weeping) dan berkrusta sering

didapatkan pada kelainan yang lanjut (Kariosentono, 2007).

2.2 Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif

2.2.1 Definisi

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan ideal bagi pertumbuhan dan

perkembangan bayi karena ASI memiliki faktor protektif dan nutrien yang

dapat menjamin status gizi bayi baik serta angka kesakitan dan kematian.

anak menurun. United Nation Children Fund (UNICEF) dan World Helath

Organization (WHO) merekomendasikan sebaiknya anak hanya disusui ASI

selama paling sedikit enam bulan. Hal ini dilakukan untuk menurunkan

angka kesakitan dan kematian anak. ASI eksklusif dianjurkan pada beberapa
13

bulan pertama kehidupan karena ASI tidak terkontaminasi dan mengandung

banyak gizi yang diperlukan anak pada umur tersebut. Pada tahun 2003,

Pemerintah Indonesia mengubah rekomendasi lamanya pemberian ASI

eksklusif dari 4 bulan menjadi 6 bulan (Kemenkes, 2014).

Pemberian ASI eksklusif merupakan suatu tindakan pemberian ASI

pada bayi tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air

teh, air putih, dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, pepaya,

bubur , susu, biskuit, bubur nasi dan tim. Pemberian ASI secara eksklusif ini

dianjurkan untuk jangka waktu sampai 6 bulan,. Setelah bayi berumur 6

bulan, ia harus mulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan ASI

dapat dapat diteruskan sampai 2 tahun atau lebih (Roesli, 2000

2.2.2 Komposisi Air Susu Ibu

ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose, dan

garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara

ibu, sebagai makanan utama bagi bayi.

Komposisi ASI ini ternyata tidak konstandan tidak sama dari waktu ke

waktu.Faktor-faktor yang mempengaruhi komposisi ASI adalah :

a. Stadium laktasi

b. Ras

c. Keadaan Nutrisi

d. Diet Ibu

ASI menurut stadium laktasi :

1. Kolostrum
14

2. Air susu transisi / peralihan

3. Air susu matur (mature)

Universitas Sumatera Utara

13

2.2.2.1 Kolostrum

Kolostrum merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuningkuningan

(lebih kuning dibandingkan susu yang matur) yang pertama kali

disekresi oleh kelenjar payudara. Kolostrum mengandung tissue debris dan

residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar

payudara sebelum dan setelah masa puerperium. Kolustrum disekresi oleh

kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat.

Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah. Kolostrum

ini juga merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum

dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaaan

makanan bayi bagi makanan yang akan datang. Pada kolostrum terdapat

tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis protein di dalam usus bayi menjadi

kurang sempurna. Hal ini akan lebih banyak menambah kadar antibodi

pada bayi. Volumemya berkisar 150-300 ml/24 jam

Hal-hal yang membedakan kolustrum dengan susu matur yaitu sebagai

berikut :

1. Kandungan protein di dalam kolostrum lebih banyak dibandingkan

dengan ASI yang matur. Protein yang utama dalam kolostrum

adalah globulin (gamma globulin).


15

2. Kolostrum juga mengandung lebih banyak antibodi dibandingkan

dengan ASI yang matur dan dapat memberikan perlindungan bagi

bayi sampai umur 6 bulan.

3. Kadar karbohidrat dan lemak di dalam kolostrum lebih rendah jika

dibandingkan dengan ASI yang matur.

4. Mineral yang utama dalam kolostrum adalah natrium, kalium dan

klorida dan kadarnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu

yang matur.

5. Total energinya lebih rendah jika dibandingkan dengan susu yang

matur yaitu sekitar 58 kal/100 ml kolostrum.

Universitas Sumatera Utara

14

6. Vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi jika dibandingkan

dengan ASI matur, sedangkan vitamin yang larut dalam air dapat

lebih tinggi atau lebih rendah.

7. Bila dipanaskan, kolostrum akan menggumpal, sedangkan ASI

matur tidak.

8. Pada Kolostrum pH lebih alkalis dibandingkan dengan ASI matur

9. Lipidnya lebih banyak mengandung kolesterol dibandingkan

dengan ASI matur.

2.2.3 Manfaat
16

. ASI eksklusif adalah bayi yang hanya diberi ASI saja tanpa tambahan cairan

maupun makanan lain. Pemberian ASI eksklusif ini dianjurkan sampai bayi

berusia 6 bulan.

Manfaat pemberian ASI pada bayi :

1) ASI sebagai nutrisi ASI merupakan sumber gizi dan vitamin yang sangat

ideal dengan komposisi yang seimbang dan disesuaikan dengan

pertumbuhan bayi (WilliamcitWalker, 2012).

2) ASI meningkatkan daya tahan tubuh bagi bayiASI berisi antibodi virus

dan bakteri, termasuk kadar antibody IgA sekretori yang relatif tinggi,

yang berfungsi untuk mencegah mikroorganisme melekat pada mukosa

usus dan serta melindungi anak dari risiko alergi (Jafar, 2011).

2.2.4 Hubungan Pemberian ASI Ekslusif da Dermatitis Atopik

60% orang dewasa mengalami nyeri pinggang bawah karena

masalah duduk yang terjadi pada mereka yang dalam menjalankan

aktifitasnya dilakukan dalam posisi duduk, duduk lama dengan posisi

yang salah dapat menyebabkan otot pinggang menjadi tegang dan dapat

merusak jaringan lunak sekitarnya. Bila keadaan ini berlanjut akan

menyebabkan penekanan pada bantalan tulang rawan punggung dan

mengakibatkan hernia nucleus pulposus (Chang, 2006). Tekanan pada

bantalan saraf pada orang yang dalam posisi berdiri di anggap 100%,

maka orang yang dalam posisi duduk tegak dianggap 140% dan orang

yang dalam posisi duduk membungkung meningkat menjadi 190%.


17

Namun orang dalam posisi duduk tegak lebih mudah letih karena otot-

otot punggung lebih tegang, namun tekanan bantalan saraf lebih berat

(Samara, 2004)

Menurut Wahyudi (2008) tubuh manusia dapat menolerir posisi

duduk statis dengan satu posisi hanya bertahan selama 20 menit, jika

lebih dari batas tersebut, perlahan elastisitas jaringan akan berkurang

dan akhirnya meningkatkan tekanan pada otot dan timbul rasa tidak

nyaman pada daerah punggung. Keadaan tersebut jika dalam waktu

yang lama akan menyebabkan kerusakan pada ligament, sendi dan

tendon. Kerusakan pada organ organ tersebut biasa di istilahkan dengan

keluhan musculoskeletal disorders (MSDs) atau cidera pada system

musculoskeletal.

Hal yang senada dikemukakan oleh samara (2004), bahwa posisi

duduk yg konstan dalam jangka waktu lebih dari 30 menit dapat

mengakibatkan nyeri punggung bawah.

2.4 Kerangka Teori

2.5 Kerangka Konsep

Pemberian ASI Dermatitis atopik


ekslusif
18

2.6 Hipotesis

Ada hubungan antara pemberian ASI ekslusif dengan kejadian dermatitis

atopik.