Anda di halaman 1dari 3

Bayi Preterm

Kematangan fungsi organ, terutama saluran cerna, amat menentukan jenis dan cara
pemberian nutrisi pada bayi prematur. Umumnya enzim pencernaan bayi aterm sudah
mencukupi, kecuali laktase. Diperkirakan 25% bayi aterm sampai usia 1 minggu
masih menunjukan intoleransi laktosa. Aktivitas enzim sukrase dan laktase lebih
rendah pada bayi- bayi prematur. Kemampuan pengosongan lambung juga lebih
lambat dibandingkan bayi cukup bulan. Demikian pula fungsi mengisap dan menelan,
terutama bila masa gestasi < 34 minggu.

Toleransi osmolaritas formula masih rendah, sehingga kemungkinan terjadi


komplikasi seperti necrotizing enterocolitis (NEC) atau diare lebih besar.[2] Bayi
dengan prematur dan atau kecil masa kehamilan memerlukan asupan kalori yang lebih
tinggi dibandingkan normal untuk mengejar pertumbuhan yang optimal. Bayi cukup
bulan memerlukan kalori sebanyak 90-120 kkal/kgBB/hari (sesuai Recommended
Dietary Alowance) dan BB naik 15-30 gr/hari[3].Bayi prematur membutuhkan 110-
130 kkal/kgBB/hari dan dianggap adekuat apabila menyerupai laju pertumbuhan
intrauterin (15 gr/kgBB/hari).[2,3]

Densitas kalori ASI, baik ASI matur maupun ASI prematur adalah 67 kkal/100 ml
pada 21 hari pertama laktasi. Formula dengan densitas sama dapat digunakan untuk
bayi prematur, namun formula dengan konsentrasi tinggi (81 kkal/100 ml) seringkali
lebih disukai. Formula ini memungkinkan pemberian kalori lebih banyak dengan
volume lebih kecil, menguntungkan bila kapasitas lambung terbatas atau bayi perlu
restriksi cairan.[2]

Hingga saat ini, ASI adalah pilihan utama dalam pemilihan nutrisi untuk bayi
prematur. Apabila ASI dari ibu tidak ada, maka dapat dipertimbangkan pemberian
ASI donor. Apabila tidak ada, maka formula menjadi pilihan berikutnya. Sejauh ini
belum ditemukan ada keuntungan dengan pemberian ASI atau formula yang
diencerkan. Hingga saat ini, formula semakin menyerupai komposisi ASI. Perlu
diperhatikan bahwa penggunaan formula meningkatkan risiko NEC 6-10 kali lipat,
terutama karena hiperosmolaritas.[2,3]

Usia koreksi Kenaikan BB


Aterm 3 bulan < 20 gr/hari
3 6 bulan < 15 gr/hari
6 9 bulan < 10 gr/hari
9 12 bulan < 6 gr/hari
1 2 tahun < 1 kg/6 bulan
2-5 tahun < 0,7 kg/6 bulan

Kenaikan berat badan pada bayi prematur yang dianggap kurang.[1]

Pada bayi prematur, pemberian makan harus diinisiasi secepat mungkin karena akan
berpengaruh pada adaptasi endokrin yang lebih baik, peningkatan fungsi imun, dan
pemulangan lebih awal. Umumnya, asupan enteral dimulai pada usia 3 hari pertama
dengan tujuan mencapai asupan enteral penuh dalam 2-3 minggu. [3]

Tabel 5. Pedoman cara pemberian makan pada bayi berdasarkan berat lahir dan usia
gestasi.[3]

BBL < 1200 gr, usia gestasi < 30 minggu

Pipa orogastrik atau nasogastrik.

Inisial: ASI atau formula prematur.

Rumatan: ASI (dengan/tanpa human milk fortifier) atau formula prematur.


Cara pemberian bolus, 10-20 cc/kgBB/hari terbagi dalam tiap 2 jam. Setelah
pemberian 67 kkal/100 cc dapat ditoleransi dengan baik, pertimbangkan ke 81 kkal/100
cc atau tambahkan human milk fortifier.

BBL 1200-1500 gr, usia gestasi < 32 minggu

Pipa nasogastrik.

Inisial: ASI atau formula prematur setiap 2-3 jam.

Rumatan: ASI atau formula prematur. Cara pemberian bolus, 10-20


cc/kgBB/hari terbagi dalam tiap 3 jam. Setelah pemberian 67 kkal/100 cc dapat
ditoleransi dengan baik, pertimbangkan ke 81 kkal/100 cc atau tambahkan human milk
fortifier.
BBL 1500-2000 gr

Pipa orogastrik atau nasogastrik. Menyusui melalui botol atau payudara


langsung dapat dicoba jika bayi > 1600 gr, usia gestasi > 34 minggu, dan tidak ada
defek neurologis.

Inisial: ASI atau formula prematur.

Rumatan: 2,5-5 cc/kgBB setiap 3 jam. Apabila ditoleransi baik, berikan 10-
20 cc/kgBB/hari.

BBL 2000-2500 gr, usia gestasi > 36 minggu

Menyusui langsung atau menggunakan botol.

Inisial: ASI atau formula bayi matur.

Rumatan: 5 cc/kgBB setiap 3-4 jam. Apabila ditoleransi baik, berikan 10-20
cc/kgBB/hari.

BBL 2000-2500 gr, usia gestasi > 36 minggu Menyusui langsung atau menggunakan
botol.

Referensi:
1. Gunardi H. Follow-Up Bayi Prematur. Dipresentasikan sebagai kuliah untuk
Mahasiswa Koas Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Maret 2017.
2. Nasar SS. Tata Laksana Nutrisi pada Bayi Berat Lahir Rendah. Sari Pediatri.
2004; 5(4): 165-70.

3. Nutritional Management. In: Gomella TL, Eyal FG, Zenk KE, editors.
Neonatology: Management, Procedures, On-Call Problems, Diseases, and
Drugs. 5th ed. New York: Lange; 2004.