Anda di halaman 1dari 18

TITRASI IODOMETRI

PRINSIP PERCOBAAN

a. Reaksi oksidasi dan reduksi (redoks)

b. Dalam suasana asam, kalium iodat atau kalium bromida atau kalium dikromat akan
mengoksidasikan kalium iodida menjadi iod bebas. Kemudian iod bebas di titrasi dengan
larutan baku natrium tio sulfat.

MAKSUD DAN TUJUAN

a.praktikan pemahaman konsep dasar reaksi oksidasi dan reduksi

b. untuk memahami konsentrasi larutan sampel secara oksidimetri

REAKSI PERCOBAAN

K2Cr2O7 + 6KI + 14 HCl 3I2 + 2 CrCl3 + 8 KCL + & H2O

I2 + 2 Na2S2O3 2 NaI + Na2S4O6

TEORI PERCOBAAN

Valensi dan bilangan Oksidasi (BO) merupakan pengertian yang tidak sama. Valensi
dalam perkembangan historis Ilmu Kimia diartikan sebagai daya ikat atau berapa banyak
atom H diikat oleh suatu atom unsur yang bersangkutan (atau, sebagai ganti atom H,
berapa atom univalen lain atau 2x jumlaah atom O). Bilangan oksidasi (atau tingkat
oksidasi) ialah berapa elektron (muatan) dianggap ada atau dipunyai dari atom satu ke
atom lai, tetapi sedemikian rupa, sehingga molekul secara keseluruhan tak bermuatan.

Oksidasi ialah reaksi yang menaikkan BO suatu unsur dalam zat yang mengalami
oksidasi, dapat juga dilihat sebagai kenaikan muatan positif(penurunan muatan negatif)
dan umumnya juga kenaikan valensi. Sebaliknya ialah reduksi, yaitu reaksi yang
menurunkan BO atau muatan positif (menaikkan muatan negatif) dan umumnya
menurunkan valensi unsur dalam zat yang direduksi. Misalnya :
MnO2 + 4HCl MnCl2 + Cl2 + 2H2O

Dalam reaksi ini, MnO2 ialah Oksidator, sedang HCl mereduksi atau dioksidasi oleh
MnO2. Tetapi, seperti disebut di atas, yang dioksidari ataupun direduksi ialah suatu unsur
dalam persenyawaan-persenyawaan yang bersangkutan. Dalam hal ini, yang dioksidasi
ialah unsur Cl- karena tampakberubah (naik muatan positifnya) dari Cl- di dalam HCl,
menjadi Cl dalam molekul Cl2. Yang direduksi ialah unsur Mn karena berubah (turun
muatan positifnya) BO-nya dari +4 dalam MnO2 menjadi +2 dalam MnCl2.

Titrasi redoks dapat dibedakan menjadi beberapa cara berdasarkan


pemakaiannya :

1. Na2S2O3 sebagai titran : dikenal sebagaiiodometri tak langsung.

Analat harus berbentuk suatu oksidator yang cukup kuat, karena dalam metode ini
analat selalu direduksi dulu dengan KI sehingga terjadi I2. I2 inilah dititrasi dengan
Na2S2O3.

Oksanalat + I Redanalat I2 (....1)

2S2O32- + I2 S4O62- + 2I- (....2)

Daya reduksi ion iodida cukup besar dan titrasi ini bayak diterapkan. Redaksi
S2O3 dengan I2 berlangsung baik dari segi kesempurnaannya, berdasarkan potensial
redoks masing-maisng :

S4O62- + 2s- 2S2O32- E = 0,08 volt (....3)

I2 + 2e- 2I- E = 0,536 volt (....4)

Selain itu, reaksi berjalan cepat dan bersifat unik karena oksidator lain tidak
mengubah S2O32- menjadi S4O62- melainkan menjadi SO32- seluruhnya atau sebagian
menjadi SO42-.

Titras dapat dilakukan tanpa indikator dari luar karena warna I2 yang dititrasi itu
akan lenyap bila titik akhir tercapai : warna itu mula-mula cokelat agak tua, menjadi
lebih muda, lalu kuning, kuning-muda, dan seterusnya, sampai akhirnya lenyap.
Larutan Na2S2O3

Larutan ini biasanya terbuat dari garam, Na2S2O3 . %H2O. Karena BE = BM-nya
(248,17) maka dari segi ketelitian penimbangan, hal ini menguntungkan. Larutan
ini perlu distandarisasi. Kestabilan larutan dapat dipengaruhi oleh pH rendah,
sinar matahari, dan terutama adanya bakteri yan memanfaatkan S. Pada pH
rendah (<5),

S2O32- + H+ HSO32+

18

Tetapi karena reaksi ini berjalna lambat, kesalahan tidak perlu dikhawatirkan
walaupun larutan ini dititrasi cukup asam asal titrasi diklakukan dengan
penambahan titran yang tidak terlalu cepat. Bakteri dapat menyebabkan
perubahan S2O3 menjadi SO3, SO4 dan S.

Sumber Kesalahan Titrasi

Kesalahan Oksigen : Oksigen di udara dapat menyebabkan hasil titrasi


terlalu tinggi karena dapat mengoksidasi ion iodida menjadi I 2 juga sebagai
berikut :

O2 + 4I- + 4H+ 2I2 + 2H2O

Pada pH tunggi muncul bahan lain, yaitu bereaksinya I 2 yang berbentuk


dengan air (hidrodisa) dan hasil reaksinya lanjut :

I2 + H2O HOI + I- + 6H+ .....(a)

4HOI + S2O32- + H2O 2SO42- + 4I- + 6H+ .....(b)

Di atas sudah disebutkan bahaya kesalahan karena pemberian amilum


terlalu awal.

Banyak reaksi analat dengan KI yang berjalan agak lambat. Karena itu
sering kali harus ditunggu sebelum titrasi, sebalikany menunggu terlalu
lama tidak baik karena kemungkinan iod menguap.
Bahan Baku Primer

I2 murni atau dimurnikan dengan jalan disublimasikan. BE cukup tinggi


(126,9). Iod mudah meguap, maka bahan ini harus ditimbang dalam botol
tertutup.

KIO3 kemurniannya baik, tetapi BE agak terlalu rendah (35,67).

K2Cr2O7 juga mudah sekali diperoleh dalam keadaan murni, tetapi juga agak
rendah BE-nya (49,03). Reaksinya dengan KI harus ditunggu beberapa lama
sebelum dititrasi.

2. I2 sebagai titran : dikenal sebagai titrasi iodometri langsun dan kadang-kadang


dinamakan iodometri

Dalam metode ini, analat dioksidasi oleh I2 sebagai I2 tereduksi menjadi ion iodida :

Ared + I2 Aoks + I

Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang
merupakan dari tak berwarna menjadi warna biru.

Larutan Baku Iod

Iod (I2) sebagai zat padat sukar larut dalam air, yaitu hanya sekitar 0,0013 mol
per liter pada 25 C, tetapi saagt mudah larut dalam larutan KI karena
membentuk ion I2 sebagai berikut :

I2 + I + I3 (Ion tri-iodida)

Maka larutan dibuat dengan KI sebagai pelarut. Larutan iod ini tidak stabil,
sehingga stadarisasi perlu dilakukan berulang kali.

Kesempurnaan Reaksi

Sebagai oksidator lemah, iod tidak dapat bereaksi terlalu sempurna. Karena itu
sering dibuat kondisi yang menggeser kesetmbangan ke arah hasil reaksi antara
lain dengan mengatur pH atau menambahkan bahan pengompleksan seperti yang
dilakukan pada titrasi Fe dengan pemberian EDTA atau P2O7.

3. Suatu oksidator kuat sebagai titran diantaranya yang paling sering dipakai ialah :
KmnO4, K2Cr2O7, dan Ce(IV).

Larutan bahan pereduksi sering penggunaannya karena sagat mudah teroksidasi oleh
udara. Akibatnya, kadang-kadang titrasi hasur dilakukan dalam atmosfer inert,
misalnya dengan mengalirkan N2 atau CO2 ke dalam atau ke atas titrat. Juga
penyimpangan larutan memerlukan lingkarang inert. Cara lain adalah dengan
menambahkan pereduksi berlebih, lalu menitrasikannya kembali dengan
oksidatoruntuk menentukan kelebihannya, oksidator yang dipakai misalnya kalium
bikromat baku. Di samping itu dilakukan titrasi blangkoatas pereduksi tersebut untuk
menentukan konsentrasinya yang tepat.

1) Pereduksi-pereduksi kuat yang dapat dipakai sebagai titran antara lain ialah titran
(III) dan khrom (II) yang cepat sekali breaksi degan udara sehingga harus digunaka
dengan gas inert N2 atau CO2.

2) Natrium tiosulfat sebagai titran untuk iodometri tak langsung.

3) Larutan Fe dengan mudah dapat dibuat dari garam Mohr, Fe(NH 4)2(SO4)2 . 6H2O
atau garam Oesper, FeC2H4(NH4)2 . 4H2O (ferro etilendiammoniumsulfat). Dalam
larutannetral, Fe(II) cepat teroksidasi oleh udara, tetapi hal itu dapat dicegah bila
larutan diasami dan larutan paling stabil dibuat dengan H2SO4 sekitar 0,5 M.
Larutan demikian perlu distandarisasi setiap kali hendak dipakai.

Beberapa contoh standar utama iodometri adalah :

1. Kalium Dikromat (K2Cr2O7)

2. Kalium Iodat (KIO3)

3. Kalium Bromat (KbrO3)

4. Kalium Klorat (KclO3)


Terdapat dua jenis indikator redoks :

1. Indikator spesifik, yaitu indikator yang bereaksi hanya dengan salah satu komponen
yang berhubungan dalam titrasi. Contoh : amilum, KSCN.

2. Indikator redoks asli, yaitu indikator yang peka terhadap potensi sistem.

Biasanya dua jenis indikator digunakan untuk menentukan titik akhir. Indikator
tersebut adalah indikator eksternal maupun indikator internal. Biasanya indikator
eksternal digunakan dalam uji bercak. Contohnya : K3Fe(CN)6 untuk Fe dan
UO2(NO3)2 untuk Zn. Indikator eksternal dapat digantikan oleh indikator redoks
internal. Indikator terdiri dari jenis ini harus menghasilkan perubahan potensil
oksidasi di sekitar titik ekivalen reaksi redoks. Yang terbaik adalah indikator 1.10-
fenantrolin, indikator yang mempunyai potensial larutan yang titrasi dan
penitrannya sehingga memberikan titik akhir yang jelas.

I2 adalah oksidator lemah sedangkan iodida secara relatif merupakan reduktor


lemah. Kelarutannya cukup baik dalam air dengan pembentukan tri-iodida (KI3).
Oleh karena itu,

I1 +2e- 2I-, E = 6,21

adalah reaksi pada permulaan reaksi. Iodium dapat dimurnikan dengan sublimasi.

Adapun sifat fisika dan kimia dari bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan
titrasi iodometri ini sebagai berikut,

K2Cr2O7

No Sifat Fisika Sifat Kimia


1 Berbentuk padat Merupakan agen
pengoksidasi dalam kimia
organik
2 Berwarna kuning Mengubah alkohol primer
menjadi aldehida dan dalam
kondisi yang lebih memaksa,
menjadi asam karboksilat
3 Tidak berbau Menghambat pengaturan
campuran dan meningkatkan
densitas dan terkstur,
biasanya menyebabkan
dermatitis kontak dalam
pekerja konstruksi
4 pH = 9.0-9.8

5 Massa molar : 294.185 g/mol


Tidak larut dalam alkohol

Na2S2O3

No Sifat Fisika Sifat Kimia


1 Berupa padatan putih Beracun
2 Larut dalam air Digunakan sebagai pereaksi

3 Massa molar : 158.11 g/mol Larutan standar sekunder

4 Titik lebur ; 48.3C Mudah teroksidasi oleh udara

5 Titik didih : 100C

KI

No Sifat Fisika Sifat Kimia


1 Bentuk : Kristal Larut dalam air

2 pH = 7-9 Tidak bersifat reaktif

3 Titik diidh : 1330 C Stabil di bawah suhu


normal dan tekanan

4 Densitas spesifik : 3.13 Zat pengoksidasi kuat

5 Berat molekul : 166.0028


g
/mol

HCl

No Sifat Fisika Sifat Kimia


1 Massa atom : 36.45 HCl akan berasap tebal di
udara lembab
g
2 Massa jenis : 3.21 /cm Gasnya berwarna kuning
kehijauan dan berbau
merangsang
3 Titik leleh : -1010 C Dapat larut dalam alkali
hidroksida, kloroform, dan
eter
4 Pada suhu kamar, HCl Merupakan oksidator kuat
membentuk gas yang tak
berwarna
5 Berbau tajam Berfinitasbesar sekali
terhadap unsur-unsur
lainnnya, sehingga dapat
beracun bagi pernapasan

ALAT DAN BAHAN

ALAT

1. Neraca atau Timbangan 1. Labu Ukur


2. Erlenmeyer 2. Pipet Ukur
3. Buret 3. Corong
4. Labu Semprot 4. Plastik wrapped
5. Bulp 5. Kertas Karbon
6. Statif + Klaim buret
BAHAN

1. Padatan K2Cr2O7
2. Larutan Na2S2O3
3. KI 10%
4. Larutan HCl 4N
5. Larutan Kanji

PROSEDUR KERJA

Penetapan Konsentrasi Na2S2O3 dengan Bahan Baku Primer K2Cr2O7

1. Buat 100mL larutan baku primer K2Cr2O7.

2. Pipet 10mL larutan tersebut ke dalam labu erlenmeyer.

3. Tambahkan 10mL larutan HCL 4N + 10 mL larutan KI 10%

4. Larutan di titar dengan Na2S2O3 di dalam buret sampai warna kuning cokelat tua menjadi
hijau lumut.

5. Tunggu selama 10-15 menit dalam keadaan gelap

6. Tambahlam larutan amilum sebagai indikator sebanyak 3-5 tetes

7. Titrasi di lanjutkan sampai titik akhir (hijau terang atau hijau tosca)

8. lakukan minimal 3x

DATA PENGAMATAN

Dalam waktu 13 Menit

Standarisasi Na2S2O3 dengan bahan baku primer K2Cr2O7

Volume K2Cr2O7 = 10 mL

Normalitas K2Cr2O7= 0,1 N


Pengerjaan Vol. Na2S2O3 (mL) N. Na2S2O3
Simplo 10,3 mL 0,0971 N
Duplo 10,4 mL 0,0962 N
Triplo 10,3 mL 0,0971 N
Rata-Rata 10,3 mL 0,0968 N

Menentukan Konsentrasi Na2S2O3:

V1 x N1 =V2 x N2

Keterangan:

V1 = Volume Na2S2O3

N1 = Normalitas Na2S2O3

V2 = Volume K2Cr2O7

N2 = Normalitas K2Cr2O7

Standarisasi Na2S2O3 dengan bahan baku primer K2Cr2O7

Volume K2Cr2O7 = 10 mL

Normalitas K2Cr2O7= 0,1 N

PERHITUNGAN

Simplo:

Volume KMnO4 titrasi= 10,3 mL

V1 x N1 = V2 x N2

10,3 mL x N1 = 10 mL x 0,1 N

10 mL x 0,1 N
N1=
10,3 mL

N1= 0,0971 N
Duplo:

Volume KMnO4 titrasi= 10,4 mL

V1 x N1 = V2 x N2

10,4 mL x N1 = 10 mL x 0,1 N

10 mL x 0,1 N
N1=
10,4 mL

N1= 0,0962 N

Triplo:

Volume KMnO4 titrasi= 7,2 mL

V1 x N1 = V2 x N2

10,3 mL x N1 = 10 mL x 0,1 N

10 mL x 0,1 N
N1=
10,3 mL

N1= 0,0971 N

Normalitas Rata-Rata

0,0971 N +0,0962 N +0,0971 N


Ntotal =
3

Ntotal= 0,0968 N

Pengerjaan Vol. Na2S2O3 (mL) N. Na2S2O3


Simplo 10,3 mL 0,0971 N
Duplo 10,4 mL 0,0962 N
Triplo 10,3 mL 0,0971 N
Rata-Rata 10,3 mL 0,0968 N

PEMBAHASAN

Titrasi iodometri yaitu titrasi tidak langsung dimana oksidator yang dianalisis kemudian
direaksikan dengan ion Iodida berlebih dalam keadaan yang sesuai yang selanjutnya Iodium
dibebaskan secara kuantatif dan dititrasi dengan larutan standar atau asam. Titrasi Iodometri ini
termasuk golongan titrasi redoks dimana mengacu pada transfer electron.

I2+ 2e- --> 2I-

(Day & Underwood,2001).

Disini Iod merupakan oksidator lemah sedangkan ion Iodida sering bertindak sebagai reduktor .
Oleh karena itu iodium dapat digunakan sebagai reduktor dan oksidator.
Pada percobaan ini akan menentukan konsentrasi larutan kalium iodat dengan larutan natrium
tiosulfat menggunakan sebuah indikator kanji yang tentunya menggunakan metode titrasi
iodometri yang berprinsipkan berdasarkan reaksi redoks yaitu serah terima elektron dimana
elektron diberikan oleh pereduksi dan diterima oleh pengoksidasi. Dalam prosedurnya akan
melakukan dua titrasi yaitu standarisasi larutan natrium tiosulfat oleh larutan kalium iodat dan
penentuan kadar sampel kalium iodat oleh larutan natrium tiosulfat.

Sebelum melakukan percobaan, semua alat gelas yang akan digunakan dalam percobaan harus
dicuci terlebih dahulu dan setelah itu dikeringkan. Alat gelas yang digunakan dalam percobaan
harus dalam keadaan bersih dan kering agar kuantitatif, bebas dari zat-zat pengotor yang dapat
mengganggu percobaan sehingga hasilnya tidak akurat.

Titrasi pertama yaitu stadarisasi disini menggunakan larutan kalium iodat sebagai larutan standar
atau larutan baku primer karena sudah diketahui konsentrasinya dan sifat-sifatnya sesuai dengan
syarat larutan baku primer yaitu tidak higrokopis( stabil terhadap udara) dan kemurniannya yang
baik. Larutan kalium iodat dipipet dan dimasukan kedalam labu titrasi, setelah itu ditambahkan
padatan kalium iodida. Padatan kalium iodida ini sangat bersifat higrokopis oleh karena itu
setelah penimbangan padatan kalium iodida harus ditutup dengan plastik karena berkurangnya
iodium akibat penguapan dan oksidasi udara dapat menyebabkan banyak kesalahan untuk
analisis selanjutnya. Fungsi penambahan padatan kalium iodida ini untuk memperbesar kelarutan
iodium yang sukar larut dalam air dan kalium iodida ini untuk mereduksi analit sehingga bisa
dijadikan standarisasi. Kemudian ditambahkan larutan asam sulfat karena titrasi ini dilakukan di
suasana asam (pH < 8,0), bila pada pH > 8,0 maka akan bereaksi dengan hidroksida, dengan
reaksi :

I2 + 2OH- --> I- + IO- + H2O


3IO- --> 2I- + IO3-

(Day & Underwood,2001).

Larutan kalium iodat asam mulai dititrasi dengan larutan baku sekunder natrium tiosulfat.
Larutan natrium tiosulfat perlu distandarisasikan karena sifatnya belum stabil dalam waktu yang
lama dan larutan ini bersifat reduktor didalam air dengan adanya CO2 terjadi reaksi:

S2O3 + H+ --> HSO3- + S (endapan koloid yang dapat membuat larutan keruh)

(Svehla, 1990).

Penguraian ini dapat juga ditimbulkan oleh mikroba Thiobacillus thioparus bila larutan dibiarkan
lama, selain itu kestabilan larutan natrium tiosulfat dipengaruhi oleh pH rendah dan lamanya
terkena sinar matahari oleh karena itu pada penyimpanan natrium tiosulfat ditempat dengan pH
7-10 karena pada pH yang berkisar sekitar itu aktivitas bakteri minimal. Sehingga pada saat
pembuatannya, natrium tiosulfat ditambahkan dengan natrium karbonat untuk menjadikan pH
larutan berkisar antara 7-10.

Titrasi iodometri dilakukan pada suasana asam. Pereaksi yang digunakan untuk membuat
suasana larutan menjadi asam adalah asam sulfat 2N yang dibuat dari pengenceran asam sulfat
pekat. Pengenceran harus dilakukan dalam ruang asam, karena asam sulfat bersifat eksotermis.
Penambahan sedikit demi sedikit asam sulfat pekat ke dalam air akan menyebabkan pelepasan
kalor dan gas sulfide yang berbahaya bila terhirup manusia, maka pengenceran asam sulfat
dilakukan dalam ruang asam. Penambahan asam sulfat dalam pelarut air dilakukan melalui
dinding gelas kimia dan sedikit demi sedikit. Karena bila ditambahkan langsung pada pelarut
tanpa melalui dinding dikhawatirkan akan terjadi percikan karena sifat eksotermis tadi. Asam
sulfat yang ditambahkan air bukan sebaliknya. Air memiliki massa jenis yang lebih rendah dari
asam sulfat dan cenderung mengapung di atasnya, sehingga apabila air ditambahkan kedalam
asam sulfat pekat, akan mendidih dan bereaksi dengan keras. Asam sulfat adalah zat penhidrasi
yang sangat baik, afinitas asam sulfat terhadap air cukuplah kuat sedemikian hingga atom
hydrogen dan oksigen dari suatu senyawa dapat terpisah.

Proses titrasi harus cepat dilakukan karena kalium iodida dalam larutan masih bisa menguap
yang dapat mengakibatkan warna titik akhir akan hilang sebelum waktunya. Warna awal yaitu
cokelat menuju jingga yang setelah dititrasi menjadi warna kuning. Pada kondisi ini ditambahkan
indikator kanji. Indikator kanji ini digunakan karena sensitivitas warna biru-tua yang
mempermudah pengamatan perubahan pada titik akhit titrasi selain itu kompleks antara iodium
dan amilum memiliki kelarutan yang amat kecil dalam air apalagi dalam larutan asam iodida
mudah untuk dioksidasikan menjadi iod bebas dengan sejumlah zat pengoksid, sehingga iod
bebas ini mudah diidentifikasi dengan larutan indikator sebagai uji kepekaan terhadap iod dari
pewarnaan biru-tua yang dihasilkan oleh indikator kanji. Indikator kanji ditambahkan pada saat
akan menjelang titik akhir agar amilum tidak mengikat atau membungkus Iodida yang dapat
menyebabkan sulit untuk lepas kembali sehingga warna biru sulit untuk lenyap atau hilang
sehingga dapat menganggu pengamatan perubahan warna pada titik akhir yaitu larutan yang tak
berwarna. Perubahan warna itu terjadi dari warna biru karena masih ada iodium, dimana larutan
sampel kalium iodat dipipet dan dimasukan kedalam labu titrasi kemudian diencerkan dengan air
suling jangan terlalu banyak kemudian ditambahkan padatan kalium iodida agar iodium larut
dalam air dan tambahkan juga asam sulfat agar media bersifat asam sehingga iodida dapat
dioksidasikan menjadi iod-iod bebas yang mudah untuk diidentifikasi nantinya kemudian mulai
dititrasi cepat-cepat dengan larutan natrium tiosulfat sebagai peniter, titrasi cepat-cepat agar
kalium iodida tidak habis menguap, pada titik akhir berubah menjadi warna kuning kemudian
ditambahkan indikator kanji sehingga kanji dengan adanya iodida, ioidum dapat bereaksi
membentuk kompleks berwarna biru tua disebabkan iodium diadsorpsi oleh larutan kanji
kemudian dititrasi lagi sehingga warna dari biru menjadi tak berwarna menandakan iodium hasil
reaksi habis semua dititrasi oleh larutan natrium tiosulfat.

Larutan I2 dalam larutan KI encer bewarna coklat muda. Bila 1 tetes larutan I2 0,1 N dimasukkan
kedalam 100 ml aquades akan memberikan warna kuning muda, sehingga dapat dikatakan bahwa
dalam suatu larutan yang tidak berwarna I2 dapat berfungsi sebagai indicator. Namun demikian,
warna terjadi dalam larutan terszebut akan lebih sensitive dengan menggunakan larutan kanji
sebagai katalisatornya, karena kanji dengan I2 dalam larutan KI bereaksi menjadi suatu kompleks
Iodium yang berwarna biru.

Amilum dengan iodium dapat membentuk kompleks biru. Hal ini disebabkan karena dalam
larutan pati, terdapat unit-unit glukosa membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan
konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Betuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks
dengan molekul iodium yang dapat masuk kedalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru
tua pada kompleks tersebut(Sumardjo,2009).

Kalium iodide merupakan yang higroskopis, mudah dioksidasi oksigen dari udara dengan reaksi
berikut :

4H+ + 4I- + O2 --> 2I- + 2H2O

(Sumardjo, 2009).

Reaksi berjalan cepat dalam suasana asam. Sehingga saat kalium iodide dimasukkan kedalam
larutan kalium iodat dalam suasana asam, harus terhindar dari kontak dengan udara, karena akan
mengakibatkan iodium yang terbentuk akan lebih banyak dari yang seharusnya, yaitu iodium
hasil dari reaksi redoks antara kalium iodat dan kalium iodide, juga iodium dari hasil reaksi
oksidasi kalium iodide oleh udara.

Pada titrasi iodometri ini, standarisasi natrium tiosulfat dapat juga digunakan kalium dikromat
yang berwarna jingga sebagai larutan baku primer. Pada titik akhir terjadi perubahan warna dari
biru menjadi hijau. Warna hijau ini berasal dari ion Cr 3+ hasil dari oksidasi dikromat. Sebelum
ditambah amilum pada saat mendekati titik ekivalen, warna larutan adalah kuning kehijauan,
karena masih terkandung iodium didalam larutan yang akan membentuk kompleks amilum-iod
yang berwarna biru dengan penambahan amilum pada saat mendekati titik ekivalen. Pada saat
dititrasi kembali dengan natrium tiosulfat maka akan terjadi reaksi redoks antara iodium dan
tiosulfat sehingga yang tersisa hanya larutan Cr3+ yang berwarna hijau saat titik akhir.

Perbedaan antara titrasi standarisasi natrium tiosulfat oleh kalium iodat dan kalium dikromat
adalah pereaksi pembuat suasana asamnya. Pada kalium iodat digunakan asam sulfat, sedangkan
pada kalium dikromat digunakan asam klorida pekat. Pada reaksi redoks antara kalium dikromat
dengan kalium iodide, reaksi berjalan pada suasana asam, dibutuhkan 14H+.
Cr2O72- + 14H+ + 5e- --> 2Cr3+ + 7H2O

(Day & Underwood, 2001).

Ion klorida tidak akan mempengaruhi reaksi redoks antara dikromat dengan iodide, karena
kalium dikromat merupakan oksidator kuat, dan energy potensial reduksi iodide lebih kecil dari
klorida, sehingga iodide lebih mudah mengalami oksidasi dibandingkan dengan klorida. Selain
itu ion klorida juga membantu dalam penentuan titik akhir. Ion Cr 3+ akan bereaksi dengan ion
klorida membentuk kompleks berwarna hijau, yang akan terlihat jelas bila iodium yag terikat
oleh amilum tepat bereaksi (redoks) dengan tiosulfat.

Kekurangan kanji sebagai indicator adalah :

kanji tidak larut dalam air dingin

1. Suspensinya dalam air tidak stabil

2. Bila penambahan kanji dilakukan pada awal titrasi dengan I 2 akan membentuk kompleks
Iod-amilum.jika dalam titrasi menggunakan indicator kanji maka penambahan kanji
dilakukan pada saat mendekati ttitik ekivalen.

3. Karena hal-hal diatas maka, dalam proses titrasi iodo dan iodimetri sebaiknya
menggunakan indicator larutan Natrium Amylumglikolat. Indicator ini dengan I 2 tidsk
akan membentuk kompleks Iod-amilum sehingga dapt ditambahkan pada awal titrasi.

KESIMPULAN

Melalui titrasi iodometri yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata
konsentrasi KMnO4 yang didapat adalah 0,0968 N dengan rata-rata volume larutan KMnO 4 yang
dipakai adalah 10,3 ml.

TUGAS

1. Apakah titrasi iodometri harus menggunakan erlenmeyer asah atau tertutup? Jelaskan!

2. Mengapa indikator kanji tidak di tambahkan sebelum titrasi? Jelaskan!

3. Apa fungsi penambahan HCL pada titrasi iodometri?

4. Bisakah titrasi iodometri tidak menggunakan indikator kanji?


5. Reaksi apa yang membuat reaksi menjadi biru?

Jawaban

1. Iya, karena reaksi percobaan ini menghasilkan hasil iod bebas apabila tidak ditutup atau tidak
menggunakan Erlenmeyer asah maka iod bebas ini akan bereaksi dengan oksigen diudara. Jika
oksigen masuk maka ia akan bereaksi dengan I2- pada larutan makan akan menyebabkan
terbentuknya I2. Jadi, penggunaan Erlenmeyer asah atau tutup berguna untuk mengurangi jumlah
oksigen yang masuk ke dalam sampel.

2. Penambahan kanji yang dilakukan saat mendekati titik akhir titrasi dimaksudkan agar kanji
tidak membungkus iod karena akan menyebabkan kanji sukar dititrasi untuk kembali ke senyawa
semula. Proses titrasi harus dilakukan sesegera mungkin, hal ini disebabkan sifat I2 yang mudah
menguap.

3. Fungsi dari penambahan HCl yaitu hanya sebagai katalis atau mempercepat suatu reaksi. Dan
fungsi dari penambahan amylum yaitu untuk mempermudah dan memperjelas melihat perubahan
warna saat titik akhir titrasi.

4. Bisa, dengan menggunakan tepung Natrium glikolat (sebagai pengganti amilum) yang sifatnya
lebih baik dari pada amilum :

a. Tidak higroskopis

b. Mudah larut dalam air

c. Lebih stabil

d. Dengan iodium tidak membentuk kompleks yang sukar larut, sehingga penambahanya tidak
perlu mendekat.

e. Pada larutan yang encer, tidak terjadi pergeseran.

5. karena kanji dengan I2 dalam larutan KI bereaksi menjadi suatu kompleks Iodium yang
berwarna biru.

Amilum dengan iodium dapat membentuk kompleks biru. Hal ini disebabkan karena dalam
larutan pati, terdapat unit-unit glukosa membentuk rantai heliks karena adanya ikatan dengan
konfigurasi pada tiap unit glukosanya. Betuk ini menyebabkan pati dapat membentuk kompleks
dengan molekul iodium yang dapat masuk kedalam spiralnya, sehingga menyebabkan warna biru
tua pada kompleks tersebut(Sumardjo,2009).

Kalium iodide merupakan yang higroskopis, mudah dioksidasi oksigen dari udara dengan reaksi
berikut :

4H+ + 4I- + O2 --> 2I- + 2H2O

(Sumardjo, 2009).

DAFTAR PUSTAKA

http://evelyta-appe.blogspot.com/2013/06/iodimetri-iodometri.html
http://lathiefmahmudy.blogspot.com/