Anda di halaman 1dari 17

TUGAS KHUSUS

PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


PENYAKIT TUBERKULOSIS

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI DAN SAINS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA
JAKARTA
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis) yang menjadi salah
satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada semua kelompok umur di
dunia,terutama di negara berkembang. Sebagian besar kuman TB menyerang
paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya. TB Paru adalah penyakit
yang dapat menular melalui udara (airborne disease). Kuman TB menular dari
orang ke orang melalui percikan dahak (droplet) ketika penderita TB paru aktif
batuk, bersin, bicara atau tertawa. Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari
langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan
lembab. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat tertidur lama (domant) selama
beberapa tahun (Syam 2013).
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit kuno, semula dokter menyebut TB
sebagai penyakit paru-paru, karena presentasi klinis terdiri dari berat badan
kerugian, batuk, demam, dan hemoptisis. Meskipun karakteristiknya yang
terkenal, agen etiologi tidak jelas, hingga tahun 1882 ketika Robert Koch
mengisolasi dan mengembangbiakkan Mycobacterium TBC dan menunjukkan
sifat menular. Dengan pengetahuan ini, pengobatan dini pada pertengahan 1800-
an hingga 1900 mengatasi pasien TB dengan menjauhkannya dari masyarakat dan
menempatkan mereka di sanatorium untuk istirahat dan udara yang segar. Dengan
munculnya fradiographic film, cavitary paru lesi yang ditemukan menjadi
komponen penting dalam evolusi penyakit. Terapi akan mencakup
pneumoperitoneum, thoracoplasty, dan plombage untuk mengurangi ukuran lesi
dan beberapa terapi ini masih digunakan hari ini (Alldredge, et al 2013).
Mycobacteriumtuberculosis menginfeksi satu orang per detik di dunia.
Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium Tuberculosis.
World Health Organization (WHO) menyatakan kedaruratan dunia (global
emergency) terhadap penyakit tuberkulosis (TB) paru sejak tahun 1993 dan
merekomendasikan penanggulangan TB dengan strategi DOTS sejak tahun 1995.
Namun sebagian besar negara-negara di dunia belum mampu mengendalikan
penyakit TB paru (WHO 2007). Laporan WHO tahun 2006 menyimpulkan ada 22
negara dengan kategori beban tertinggi terhadap TB paru. Sekitar 80% penderita
TB paru di dunia berada pada 22 negara berkembang dengan angka kematian 3
juta setiap tahunnya dari 9 juta kasus baru dan secara global angka insidensi
penyakit TB meningkat 1% setiap tahun (WHO 2006).
Indonesia adalah negara terbesar ketiga di dunia dengan masalah
tuberkulosis setelah India (30%) dan China (15%). Angka estimasi tahun 2004
diperkirakan bahwa insidensi TB sekitar 530.000 kasus TB BTA positif
(245/100.000), prevalensi seluruh kasus TB diperkirakan 600.000 denganangka
kematian 101.000 orang (WHO 2006). Hasil survey insidensi dan prevalensi
tahun 2004 menunjukkan perbedaan yang nyata di beberapa wilayah, di Jawa dan
Bali 64/100.000, di Sumatera 160/100.000 dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)
210/100.000, yang terdapat daerah-daerah yang sulit terakses oleh pelayanan
kesehatan, sehingga diperkirakan banyak penderita TB yang tidak ditemukan dan
tidak dilaporkan. Oleh karena itu, TB masih merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat di Indonesia (DepKes 2005).
Strategi DOTS adalah satu-satunya strategi penanggulangan TB di
Indonesia yang paling efektif, Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB
antara lain adalah:
1. Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara yang
sedang berkembang.
2. Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh:
a. Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
b. Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh
masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak
terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan
pelaporan yang standar, dan sebagainya).
c. Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang
tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis).
d. Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG.
e. Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami
krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat.
f. Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan
perubahan struktur umur kependudukan.
g. Dampak pandemi HIV.

B . Tujuan
Mengetahui apa yang dimaksud dengan penyakit Tuberculosis Paru, dan
penatalaksanaan prngobatan TB serta bagaimana mencegah dan mengawasinya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tuberkulosis merupakan adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan
olehMycobacterium tuberculosis. Kuman Mycobacterium tuberculosis biasanya
80% menyerang paru-paru. Infeksi dapat bersifat silent, latent, atau aktif.
Mycobacterium tuberculosisditularkan dari orang ke orang melalui batuk atau
bersin, kontak atau dekat dengan pasien tuberculosis (Dipiro 2009).
Mycobacterium tuberculosis termasuk basil gram positif, berbentuk
batang, dinding selnya mengandung komplek lipida-glikolipida serta lilin yang
sulit ditembus zat kimia. Kuman ini mempunyai sifat khusus, yakni tahan
terhadap asam pada pewarnaan, hal ini dipakai untuk identifikasi sputum secara
mikroskopis. Sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA).
Kelompok yang beresiko tinggi dapat terkena TBC adalah anak dibawah 2
tahun dan lansia. Kelompok ini kemungkinan terkena TBC 2-5 kali dibandingkan
kelompok lain. Kelompok yang beresiko tinggi lainnya yaitu orang yang
menderita supresi imunitas, gagal ginjal, kanker dan penderita HIV. Penderita
HIV kemungkinan terkena TBC sekitar 100 kali dibandingkan dengan kelompok
lain. Pembelahan atau pertumbuhan sel TBC lambat, memerlukan waktu 24 jam
untuk membelah menjadi dua kalinya sedangkan untuk mikroba lain hanya
memerlukan waktu 20-40 menit (Priyanto, 2009).

B. Patofisiologi
Sumber infeksi dari tuberkulosis yang paling utama adalah manusia yang
mengeksresi baksil tuberkel dalam jumlah besar dari saluran pernafasan pada saat
bersin atau batuk. Kontak yang intensif (dalam keluarga) dan kontak secara massif
(misalnya diantara tenaga kesehatan) menyebabkan banyak kemungkinan terjadi
penularan melalui percikan inti droplet. Berkembang atau tidaknya penyakit
secara klinik setelah infeksi dapat dipengaruhi oleh umur, kekurangan gizi, status
imunologik, penyakit yang menyertai (misalnya diabetes), dan factor resistensi
individual dari inang (Priyanto, 2009).
Makrofag adalah sel utama yang terinfeksi oleh Mycobacterium
tuberculosis. Diawal infeksi, basil tuberculosis pada dasarnya berkembang biak
tanpa kendali, sedangkan pada tahap infeksi selanjutnya, respon sel T merangsang
makrofag untuk menahan poliferasi bakteri.Mycobacterium tuberculosis yang
masuk kedalam makrofag dan berkembang biak didalam fagosom dengan
menghambat fusi fagosom dan lisosom.Bakteri tuberkulosis dapat
menghambatpembentukan fagolisosom. Tahap paling awal tuberculosis primer (<
3 minggu) pada orang yang belum tersensitasi ditandai oleh poliferasi bakteri
didalam makrofag alveolus paru dan rongga udara, yang menyebabkan bakteremia
dan pembenihan diberbagai tempat. Sebagian besar pasien pada tahap ini tidak
memeperlihatkan gejala atau mengalami gejala mirip flu ringan (Kumar 2009).
Sekitar 3 minggu setelah infeksi terbentuk respon TH1 terhadap
Mycobacterium tuberculosis yang mengaktifkan makrofag untuk menjadi bersifat
bakterisidal. Sel TH1 matang, di kelenjar limfe dan paru, menghasilkan IFN-
yang akan mendorong makrofag menjadi kompeten untuk menahan infeksi
Mycobacterium tuberculosis, serta merangsang pembentukan fagolisosom
dimakrofag yang terinfeksi (Kumar 2009).

C. Manifestasi Klinik
Gejala umum TBC paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau
tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam derajat rendah, nyeri dada dan batuk
darah. Gejala klinik TBC dimulai dari asimtomatis, gejala paru yang khas,
kemudian stagnasi dan regresi, aksaserbasi yang memburuk, gejala berulang, dan
menjadi kronik. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan :
1. Tanda-tanda infiltrate (redup, bronchial, ronki basah, dan lain-lain)
2. Tanda-tanda penarikan paru, diagfarma dan mediastrum.
3. Secret disaluran nafas dan ronki
4. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung
dengan bronkus.
D. Data yang Diperlukan untuk Diagnosis TBC
1. Amnanesis dan pemeriksaan fisik
2. Pemeriksaan darah, pada awal penyakit didapatkan jumlah leukosit sedikit
meningkat tetapi jumlah limfosit masih dibawah normal dan laju endap
darah mulai meningkat.
3. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah
limfosit tetap tinggi. Laju endap darah mulai turun kembali ke normal.
4. Bakteri tahan asam (BTA) sputum positif. Pemeriksaan sputum dianjurkan
3 hari berturut-turutuntuk mencari bukti adanya infeksi.
5. Tes tuberculin atau mantoux yaitu dengan menyuntikan intra dermal PPD
(purified protein derivative) dengan kekuatan 5 TU sebanyak 0,1 ml. tes
dibaja 48-72 jam setelah infeksi, positif atau negative ditunjukan dengan
mengukur diameter zona indurasi.
6. Pemeriksaan radiologi untuk mencari adanya lesi tuberculosis.
7. Deteksi growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metbolisme
asam lemak oleh Mycobacterium tuberculosis.

E. Pelaksanaan Diagnosis
1. Diagnosis TBC paru
a. Semua suspek TBC diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari,
yaitu sewaktu-pagi-sewaktu
b. Diagnosis TB paru pada orang dewasa ditegakan dengan
ditemukannya kuman TB bakteri tahan asam (BTA). Pada program TB
nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis
merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks,
biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis
sesuai dengan indikasinya.
c. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TBC
paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis.
Gambar 1. Alur Diagnosis TBC Paru

2. Diagnosis TBC Ekstra Paru


a. Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku
kuduk pada Meningitis TBC, nyeri dada pada TBC pleura (Pleuritis),
pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TBC dan
eformitas tulang belakang pada spondilitis TBC.
b. Ketepatan diagnosis tergantung pada metode pengambilan bahan
pemeriksaan dan ketersediaan alat-alat diagnostic, misalnya uji
mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto toraks dan lain-lain.

F. Riwayat Pengobatan
Penting diketahui apakah sebelumnya pasien telah mendapatkan anti TBC
atau belum, dengan alas an untyk mengetahui kemungkinan terjadinya resistensi
terhadap obat atau panduan terapi. Data epidemiologi, bermanfaat dalam
pemilihan obat. Secara epidemiologi kasus TBC dapat digolongkan :
1. Kasus baru : pasien yang belum pernah mendapatkan anti TB atau
mendapatkan anti TB kurang dari 4 minggu.
2. Relap : pasien yang sudah dinyatak sembuh setelah menyelesaikan
regimen pengobatan atau pengobatan lengkap, tetapi BTA sputum kembali
positif.
3. Kasus gagal : Pasien yang tetap positif BTA-nya atau menjadi positif
kembali setelah pengobatan selama 5 bulan pengoatan atau lebih.
4. Pengobatan terputus : pasien yang terputus berobat selama 2 bulan atau
lebih dan kembali dengan BTA positif, atau kadang-kadang negative tetapi
pemeriksaan radiologis menunjukan TB aktif.
5. Kasus kronik : pasien dengan BTA tetap positif atau menjadi positif lagi
setelah menjalani pengobatan ulang dibawah pengawasan.
6. Kasus pindah : adalah pasien yang dipindahakan dari unit pelayanan
kesehatan yang mempunyai register TBC ketempat lain untuk melanjutkan
pengobatan.

G. Tujuan Terapi
Terapi atau pengobatan penderita TB dimaksudkan untuk (DepKes RI, 2005) :
1. Memastikan penderita TBC memperoleh pengobatan hingga sembuh
2. Mencegah penyakit TBC kambuh kembali
3. Menurunkan tingkat penularan TBC di masyarakat
4. Menururnkan angka kematian akibat TBC
H. Terapi Non Farmakologi TBC
1. Berolahraga secara teratur, berjemur dibawah sinar matahari dibawah jam
8 pagi.
2. Mengkonsumsi makanan yang sehat serta menjaga pola makan yang baik.
3. Menjaga kebersihan diri dan tempat tinggal terutama kamar pasien.
4. Berhenti merokok
I. Terapi Farmakologi TBC
1. Prinsip Terapi
Regimen pengobatan terdiri dari fase awal (intensif) selama 2 bulan dan
fase lanjutan selama 4-6 bulan. Selama fase intensif biasanya menggunakan 4
macam obat. Pengobatan awal akan terjadi pengurangan jumlah kuman disertai
perbaikan klinis atau pasien yang infeksi menjadi non infeksi dalam waktu 2
minggu.
Sebagian pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negative dalam
waktu 2 bulan. Selama fase lanjutan diperlukan obat lebih sedikit, tetapi dalam
waktu yang lebih panjang. Pengobatan lanjutan bertujuan untuk membersihkan
kuman dan mencegah kambuh. Keberhasilan terapi sangat tergantung pada
kepatuhan pasien, maka pasien perlu diawasi kepatuhannya. Terapi kombinasi
diberikan karena :
a. Mikobakteria penyebab TBC tumbuh sangat lambat, menyebabkan terapi
perlu kontinyu dan waktu yang panjang
b. Untuk mencegah timbulnya resistensi perlu terapi minimal penggunaan 2
antibakteri dan sering 4 macam.
Ada 2 kelompok obat, first-line dan second-line. Penggunaan obat TBC di
Indonesia secara resmi menggunakan kelompok obat first-line.
a. Obat first-line : INH (isoniazid), rifampisin, etambutol, pirazinamid,
streptomisin.
b. Obat second-line : Para amino salisilat (PAS), capreomisin, ethionamide,
quinolon, rifabutin, kanamisin dan amikasin.

2. Obat-obatan Untuk TBC (first-line)


a. Isoniazid (INH)
Mekanisme kerja dari isoniazid adalah menghambat sintesis asam mikolat,
yaitu komponen esensial dari dinding sel mikobakteria. Mekanisme isoniazid
bersifat kompleks, disertai pemetaan resistensi terhadap mutasi pada sedikitnya
lima gen yang berbeda (Hardman 2012).
Diseluruh dunia, isoniazid merupakan obat paling penting untuk
pengobbatan semua jenis tuberculosis. Efek toksik dapat ditekan serendah
mungkin dengan pemberian terapi profilaktik piridoksin dan pemantauan pasien
secara seksama. Piridoksin harus diberikan bersama dengan isoniazid untuk
menekan serendah mungkin reaksi-reaksi yang merugikan pada pasien yang mal
nutrisi dan yang memiliki kecendrungan neuropati.
b. Rifampisin
Mekanisme kerja rifampisin yaitu menghambat RNA polymerase yang
tergantung-DNA pada mikobakteri dan mikoorganisme lain dengan cara
membentuk suatu kompleks obat-enzim yang stabil, mengakibatkan supresi pada
awal pembentukan rantai saat sintesis RNA. Rifampisin jika digunakan sendirian
tanpa kombinasi dapat menyebabkan resistensi kuman berkembang secara cepat.
Rifampisin dapat menyebabkan keringat, air mata, feses, dan saliva
berwarna kemerha-merahan. Hepatitis akibat penggunaan rifampisin jarang terjadi
pada pasien yang fungsi hatinya normal, demikian pula kombinasi isoniazid dan
rifampisin pada umumnya tampak aman pada pasien tersebut (Hardman 2012).
c. Pirazinamid
Pirazinamide diabsorpsi dengan baik dari saluran gastrointestinal dan
didistribusikan keseluruh tubuh. Obat ini dieksresikan terutama melalui filtrasi
glomerulus ginjal. Pirazinamide terdistribusi secara luas termasuk Sistem saraf
pusat, paru-paru, dan hati setelah pemberian oral. Obat ini dapat menembus sawar
otak dengan sangat baik.
Efek samping pirazinamid yang paling berbahaya adalah cedera hati.
Peningkatan alanin dan aspartat aminotransferase dalam plasma merupakan gejala
abnormalitas paling awal yang diakibatkan oleh obat ini. Semua pasien yang
sedang diobati dengan pirazinamide wajib menjalani pemeriksaan fungsi hati
sebelum obat diberikan, pemeriksaan harus sering dilakukan secara berkala
sepanjang seluruh periode pengobatan. Jika terbukti adanya kerusakan yang
signifikan pada hati, terapi harus dihentikan.
d. Etambutol
Etambutol telah digunakan dengan keberhasilan yang nyata dalam terapi
berbagai bentuk tuberculosis jika diberikan bersamaan dengan isoniazid. Karena
insiden efek toksiknya lebih rendah dan dapat diterima oleh pasien dengan baik,
etam butol pada dasarnya telah menggantikan asam amino salisilat.Etambutol
dapat terakumulasi pada pasien yang mengalami kerusakan fungsi ginjal sehingga
perlu dilakukan penyesuaian dosis. Etambutol tidak dianjurkan untuk anak-anak
berusia dibawah 5 tahun, karena dikhawatirkan terjadi gangguan pada penglihtan.
Efek samping yang paling penting adala neuritis optic. Efek ini
mengakibatkan penurunan ketajaman penglihatan dan hilangnya kemampuan
membedakan warna merah dengan hijau. Uji ketajaman penglihatan dan uji
kemampuan membedakan warna merah-hijau dianjurkan sebelum memulai terapi
dan dilakukan secara berkala. Biasanya kesembuhan terjadi jika pemberian
etambutol dihentikan.
Efek samping lain yang teramati adalah pruritus, nyeri persendian,
gangguan pencernaan, nyeri abdomen, dan mungkin halusinasi. Kadang-kadang
terjadi mati rasa dan kesemutan pada jari-jari tangan yang disebabkan oleh
neuritis perifer. Terapi dengan etambutol mengakibatkan peningkatan konsentrasi
garam urat didalam darah. Hal ini disebabkan oleh penurunan eksresi asam urat di
ginjal.
e. Streptomisin
Efek samping yang sering terjadi dari penggunaan streptomisin adalah
hipersensitifitas. Sterptomisin merupakan golongan aminoglikosida tidak
diabsorpsi dalam saluran pencernaan dan termasuk kedalam indeks terapi sempit.
Streptomisin dapat menyebabkan ototoksik atau toksik pada saraf otak ke 8 dapat
menimbulkan vertigo, sempoyongan dan tuli, neprotoksik yang dapat menurunkan
fungsi ginjal.
J. Regimen Terapi TBC

Fase Intensif
Kategori Kasus Fase Intermiten
(Awal)
Kasus baru BTA positif
BTA negative/rontgen 4H3R3 (kombipak III),
2 HRZE
I positif dengan kelainan pada bayi/anak dapat
(Kombipak II)
parenkim yang luas menggunakan 4HR
TB ekstra paru berat
Relaps BTA positif 2 HRZES /
5H3R3, pada bayi/anak
II (kombipak II + pengobatan HRZE
dapat menggunakan 4HR
terputus) (kombipak IV)
Kasus baru, BTA
2 HRZ 4H3R3pada bayi/anak
III negative/rontgen positif, dan
(kombipak I) dapat menggunakan 4HR
TB ekstra paru ringan
BTA masih positif, pada akhir
Sisipan fase awal, pada pasien kategori HRZE
I dan II

Keterangan :
H = isoniazid R = rifampisin Z = pirazinamidE = etambutolS = streptomisin

2HRZE = selama 2 bulan setiap hari minum obat isoniazid, rifampisin, etambutol,
dan pirazinamide.
4H3R3 = selama 4 bulan minum rifampisin dan isoniazid tiga kali perminggu
4HR = setiap hari selama 4 bulan minum rifampisisn dan isoniazid.

K. Peran Apoteker
Dalam mengimplementasikan konsep Pharmaceutical Care,
Apotekermempunyai tanggung jawab sebagai berikut :
1. Memastikan bahwa terapi obat penderita sesuai indikasi, paling efektif,
palingaman, dan dapat dilaksanakan sesuai tujuan
2. Mengidentifikasi, memecahkan, dan mencegah masalah terapi obat yang
akan mengganggu.
3. Memastikan bahwa tujuan terapi penderita tercapai dan hasil yang optimal
terealisasi.

Masalah terapi obat adalah hal-hal berikut ini : (DepKes, 2005)


1. Indikasi yang tidak tepat ; membutuhkan tambahan terapi obat, tidak
memerlukan terapi obat
2. Terapi obat yang tidak efektif ; minum obat yang salah, minum obat
dengan dosis terlalu kecil
3. Terapi obat tidak aman
4. Minum obat dengan dosis terlalu besar
5. Mengalami adverse drug reaction: alergi, idiosinkrasi, toksisitas,
interaksiobat, makanan
6. Tidak patuh minum obat TBC

L. Medication Error

Kesalahan yang terjadi dalam proses peresepan, penyaiapan atau


pemberian suatu obat yang baik menimbulkan dampak merugikan atau tidak.
Kemungkinan terjadinya medication error dalam pelayanan resep dapat terjadi,
antara lain :

a) Resep yang tidak terbaca


b) Salah pasien
c) Salah obat
d) Salah dosis, kekuatan,frekuensi
e) Salah peracikan
f) Salah instruksi/labeling
g) Salah kuantitas
h) Obat kadaluarsa
i) Kepatuhan pasien rendah

Dengan adanya kemungkinan terjadinya medication error, maka harus ada


perhatian khusus untuk lebih teliti lagi dengan cara :
Skrining resep
Mengevaluasi pasien dengan obat-obatnya
Menanyakan riwayat penggunaan obat
Mengenal dengan baik obat diresepkan
Dilakukan double check saat penyiapan hingga penyerahan obat sampai ke
tangan pasien yang tepat.

M. Pemantauan Terapi Obat

Pemantauan terapi obat bertujuan untuuk memastikan bahwa pasien


mendapat obat yang paling sesuai, dalam bentuk dosis yang tepat, dimana waktu
pemberian dan lamanya terapi dapat dioptimalkan, dan DRP (drug related
problem) diminimalkan.
BAB III
KESIMPULAN

Tuberkulosis (TB) penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium


tuberculosis yang mampu menginfeksi secara laten ataupun progresif. Indoneisa
menduduki urutan ketiga dalam jumlah tertinggi penderita tuberculosis setelah
India dan Cina.

Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) disediakan dalam bentuk paket,


dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan
(kontinuitas) pengobatan sampai selesai. Satu paket untuk satu pasien dalam satu
masa pengobatan. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) mempunyai beberapa
keuntungan dalam pengobatan TB, yaitu:

Dosis obat dapat disesuaikan sehingga menjamin efektifitas obatdan


mengurangi efek samping.
Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko
terjadinya resistensiobat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan
resep.
Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat
menjadisederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. MIMS Indonesia. Edisi 128. UBM Medica.

Anonim. 2009. British National Formulary. BMJ Group, London.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2005. Pharmaceutical Care Untuk


Penyakit Tuberkulosis. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan
Klinik Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian Dan Alat Kesehatan.
Jakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2004.Survei Prevalensi


Tuberkulosis di IIndonesia, 2004. Badan Penelitian dan
Pengembangan, Departemen Kesehatan. Jakarta.
Bahar, Asril. 2001. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II Edisi ketiga. Balai Penerbit
FKUI. Jakarta.

Dipiro J.T. dan Wells B.G.2009. Pharmacotherapy Handbook Seventh Edition.


The McGraw-Hill Companies, Inc. USA
Hardman J.G, Limbird L.E, Gilman A.G. 2012. Goodman and Gilman Dasar
Farmakologi terapi. Edisi 10. Vol 3. Ahli bahasa : Amalia H.
Hadinata. Penerbit Buku Kdokteran EGC. Jakarta.
Kumar V, AK Abbas, N Fausto. 2009. Robbin dan Cotran Dasar Patologis
Penyakit. Edisi 7. Ahli bahasa: Brahm U. Pendit. Penerbit Buku
Kdokteran EGC. Jakarta.
Lacy, Charles F. dkk. 2009. Drug Information Handbook 17th edition. Ohio. Lexi-
Comp for the American Pharmacists Association
Priyanto. 2009. Toksikologi: Mekanisme, Terapi Antidotum, dan Penilaian
Resiko. Leskonfi, Depok.
Syam, Muh Suyuti, dkk. 2013. Artikel : Dukungan Sosial Penderita Tuberculosis
Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Ajangale Kabupaten Bone.

WHO Report, Global tuberculosis control, surveillance, planning, financing:


Geneva, 2007; Maret.

WHO Report, Global tuberculosis control, urveillance, planning, financing:


WHO/HTM/TB/ 2006.362.WHO, Geneva, 2006