Anda di halaman 1dari 5

DOKTRIN MENGENAI SORGA 12 LOKASI SORGA (By Dr.

Erastus Sabdono)

SORGA SEBUAH LOKASI

Seringkali muncul pertanyaan mengenai lokasi Sorga yang sangat sulit ditemukan jawabannya;
Dimanakah lokasi Sorga itu sebenarnya? Biasanya Sorga diidentifikasi sebagai lokasi yang terletak
diatas (Rat. 3:50). Kalau kemudian dipersoalkan diatas mana, sebab bumi ini bulat, maka akan
sangatlah sulit menjelaskan, pemahaman bahwa Sorga di atas bumi kita ini bisa sangat relatif,
tergantung dimana seseorang berdiri. Untuk menjawab pertanyaan dimana lokasi Sorga ini tidak
sederhana, kita harus membedah Alkitab dan menganalisa banyak teks yang berbicara atau memuat
mengenai langit atau Sorga.

Dalam kisah Rasul 1:9-10 tertulis: Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia terangkat disaksikan
oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit
waktu Ia naik ituYesus ini, yang terangkat ke Sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan
cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke Sorga. Yang menarik dari informasi diatas ini adalah
ketika Tuhan Yesus hendak kembali Ke Sorga, ia tidak menghilang atau lenyap begitu saja secara ajaib,
tetapi Ia secara fisik atau secara natural naik (seperti terbang) ke atas yang dilihat oleh mata jasmani
sampai awan menutup-Nya.

Kalau dikatakan bahwa Tuhan Yesus naik (Ing. was taken up; Yun. epairo) berarti Tuhan Yesus
melakukan suatu proses perjalanan. Hal ini mengisyaratkan dengan jelas bahwa Ia menuju suatu tempat
di luar bumi ini secara fisik. Dalam Markus 16:19, ia menulis bahwa Tuhan Yesus terangkat ke Sorga.
Dalam teks aslinya analambano, yang artinya naik atau dibawa ke atas (to take up, raise).

Pertanyaan yang bisa muncul adalah mengapa demikian (Ia harus naik disaksikan mata
telanjang sampai awan menutup-Nya)? Tentu ada pesan penting yang hendak disampaikan melalui
peristiwa tersebut yaitu bahwa Ia pergi ke suatu arah tertentu yang menunjuk adanya sebuah lokasi.
Pesan penting tersebut makin jelas maksudnya dengan pertanyaan dua malaikat: bahwa Tuhan Yesus
yang naik ke Sorga, akan datang kembali dengan cara yang sama.

Malaikat memberikan pesan kepada orang-orang yang menyaksikan kenaikan Tuhan Yesus ke
Sorga bahwa seperti Tuhan Yesus naik ke Sorga, demikianlah dengan cara yang sama Ia akan datang;
turun dari Sorga nampak di awan-awan dan semua mata akan melihat (Mat 24:30, Mark 13:26; Luk
21:27; Kis 1:10 dan lain sebagainya). Ini berarti cara kedatangan Tuhan Yesus nanti sama dengan seperti
ketika Ia naik ke Sorga. Kedatangan-Nya bukan muncul secara ajaib tetapi secara fisik dapat dilihat,
bahwa Ia dengan orang saleh datang menjemput orang percaya di awan-awan (1 Tes 4:17; Yud 1:14).
Kalau Sorga bukan tempat yang ada di alam semesta ini atau jagad raya ini maka kemungkinan
besar Tuhan Yesus pergi dengan cara lenyap menghilang seperti masuk alam lain, misalnya masuk alam
roh; suatu alam dengan dimensi yang berbeda dengan dimensi bumi ini. Tetapi sesungguhnya tidaklah
demikian, karena Alkitab mencatat bahwa Ia naik ke Sorga kemudian awan menutup-Nya. Perhatikan
fakta ini dapat menunjukan bahwa Ia terus naik sampai awan menutup-Nya. Berbicara mengenai
awan yang menutup berarti sangat besar kemungkinan Ia ada di langit atau Sorga dengan dimensi yang
sama atau tidak jauh berbeda, tetapi hanya tempat atau lokasinya yang berbeda.

Pesan penting yang kita dapat peroleh dari peristiwa tersebut adalah adanya arah ke Sorga.
Arah tersebut adalah ke langit. Maksud ke Sorga atau ke langit ini adalah adanya suatu tempat di
alam semesta, di luar bumi, atau kemungkinannya ada di luar tata surya kita ini, dimana Tuhan Yesus
menetap. Oleh karena hal tersebut, maka sangatlah logis kalau Sorga diidentifikasikan sebagai terletak
di atas. Di atas disini mempunyai pengertian ada di luar bumi kita atau bisa juga di galaxy kita.

Kejadian kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga, bukanlah sebuah penglihatan atau mimpi tetapi
sebuah realitas fisik. Dalam teks aslinya (Kis 1:10) kata melihat adalah ateniszontes dari akar kata
atenizo yang berarti to gaze intently (memandang dengan penuh perhatian secara terus menerus),
behold earnestly (steadfastly), fasten (eyes), look (earnestly, steadfastly, up steadfastly), set eyes. Dalam
terjemahan Alkitab versi King James, bagian ayat tersebut diterjemahkan: looked steadfastly toward
heaven as he went up (melihat secara intensif, tetap atau terus-menerus ke langit, ketika Ia naik ke
atas). Jadi, hal ini benar-benar merupakan fakta empiris (kenyataan pengalaman kongkrit), bukan suatu
penglihatan.

TINGKATAN LANGIT ATAU SORGA

Dalam teks bahasa Ibrani, kata Sorga diterjemahkan dari shamayim, yang artinya langit
(Heavens). Dalam teks perjanjian baru diterjemahkan ouranos yang juga berarti langit atau heavens.
Dari terjemahan teks asli tersebut, shamayim atau ouranos mengisyaratkan bahwa Sorga ada di sebuah
tempat di atas, yaitu di langit, di luar atmosfir bumi ini. jadi, tegasnya sorga untuk manusia bukan di
dalam roh dibalik dunia yang kelihatan ini, melainkan di bagian dari jagad raya yang bersifat materi ini.

Berbicara mengenai lokasi sorga, Paulus menyaksikan adanya tingkat ketiga dari sorga atau
langit ketiga (2 Kor 12:2-4). Apakah tingkat ketiga sorga atau langit ketiga itu? Menjawab pertanyaan
mengenai langit ketiga ini, perlulah kita hubungkan dengan pernyataan adanya langit pertama yang
dinyatakan dalam Wahyu 21. Kalau ada langit ketiga, berarti ada langit pertama dan kedua. Menjelaskan
ketiga tingkatan langit dapat diuraikan panjang lebar di bawah ini.
Langit pertama, kemungkinan menunjuk langit di sekitar bumi dimana masih dalam jangkauan
manusia dan hewan seperti burung-burung. Dalam Kejadian 1:26 terdapat kata shamayim, sebuah
wilayah dimana burung-burung bisa terbang. Dalam terjemahan bahasa Indonesia diterjemahkan
udara. Tuhan Yesus juga menyebut kata langit dalam Matius 6:26, yaitu ouranos, wilayah dimana
burung-burung bisa terbang (Kej 7:3; Maz 8:9). Ini berarti langit pertama adalah langit di atas bumi ini
yang masih merupakan wilayah dimana atmosfir masih ada; atmosfir adalah lapisan gas yang melingkupi
bumi. Para ahli mengukur bahwa lapisan atmosfir bumi bisa setinggi kira-kira 600 KM atau lebih dari
atas permukaan bumi. Langit lebih sering diterjemahkan sky dalam bahasa Inggris.

Memahami langit kedua paling sulit, sebab Alkitab tidak berbicara jelas mengenai langit kedua
ini, tetapi bisa diperkirakan bahwa langit kedua ini kemungkinan besar adalah wilayah di luar atmosfir
bumi, dimana banyak terdapat bintang-bintang (matahari), planet-planet dan galaksi-galaksi. Dalam
Kejadian 15:5 tertulis: Lalu Tuhan membawa Abraham keluar serta berfirman: Coba lihat ke langit,
hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. Kata langit dalam teks ini juga adalah
shamayim. Hal ini menunjukkan bahwa bintang-bintang yang adalah benda-benda yang bercahaya di
langit adalah bagian dari lapisan langit atau sorga di jagad raya ini.

Langit kedua, kemungkinan juga bisa menunjuk adalah lapisan langit yang menjadi tempat
kuasa-kuasa kegelapan bertakhta. Itulah sebabnya kuasa kegelapan disebut sebagai penguasa-
penguasa di udara (Efe 6:12). Kata di udara dalam teks aslinya adalah epouranios yang bisa
diterjemahkan celestial (sesuatu yang bertalian dengan angkasa) atau above the sky (di atas langit),
artinya bisa saja di atas atmosfir kita ini; langit di atas langit atmosfir bumi. Hal ini bisa bertalian dengan
Ulangan 17:3 (. dan yang pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, atau
kepada matahari atau bulan atau segenap tentara langit, hal yang telah Kularang itu). Tentara langit
yang dalam bahasa Ibraninya tsaba shamayim dalam teks ini menunjuk benda-benda langit di atas
atmosfir bumi ini juga bisa merupakan personifikasi dari oknum-oknum di langit kedua.

Masih bertalian dengan langit kedua, Tuhan Yesus menyebut adanya kuasa-kuasa langit dalam
Matius 24:29 (Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak
bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang). Dalam
teks aslinya adalah dunameis ton ouranon. Kuasa-kuasa langit memang lebih dekat berarti secara
natural adalah kekuatan dari hukum alam, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan menunjuk adanya
kekuatan supranatural di langit kedua.

Langit ketiga adalah surga. Disebut sebagai langit ketiga menunjuk tempat yang terbaik dan
tertinggi. Orang-orang Yahudi memandang angka ketiga adalah angka sempurna. Kemungkinan besar
disinilah tempat Allah bertahta, juga dimana makhluk sorgawi dan para malaikat berada (Ayub 1). Dalam
Mazmur 2:4 tertulis kata shamayim yang berindikasi di atas. Tempat inilah tempat dimana Allah
berada. Diteguhkan oleh pernyataan Tuhan Yesus di Matius 23:22 mengenai tempat tahta Allah yaitu di
ouranos (sorga). Adapun kalau Yohanes menyebut mengenai tahta di surga dan seorang yang duduk di
tahta tersebut, hal itu menunjuk Tuhan Yesus sebagai raja (Wah 4:2).

Langit tingkat ketiga inilah yang dimaksud oleh Alkitab sebagai langit mengatasi segala langit,
artinya tingkatan langit tertinggi (Ul 10:14). Dalam teks bahasa Indonesia tertulis: Sesungguhnya, Tuhan,
Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala
isinya. Ada tiga kata langit atau sorga di teks ini. Pertama adalah shamayim berarti jamak, tetapi kata
langit atau sorga yang kedua adalah samay berarti tunggal, dan kata langit atau sorga yang ketiga adalah
shamayim yang artinya juga jamak. Teks ini penting untuk dianalisa guna memahami lebih lengkap dan
akurat mengenai sorga.

Teks Ulangan 10:14 mengungkap suatu rahasia bahwa langit atau sorga yang berlapis-lapis atau
memiliki tingkatan. Ada sorga (tunggal) diterjemahkan samay tetapi juga ada sorga (jamak) shamayim.
Dikatakan dalam Ulangan 10:14, bahwa ada langit atau sorga di atas langit atau di atas sorga.

Adanya Sorga (bentuk tunggal) di atas sorga (bentuk jamak) bisa menunjuk takhta Allah Bapa. Bisa
Bapa sendiri atau bersama dengan Tuhan Yesus. Di langit baru dan bumi nanti, Sorga (tunggal) tersebut
adalah tempat yang kemungkinan tidak mudah atau tidak bisa terjamah oleh siapa pun, tentu kecuali
oleh Tuhan Yesus sendiri. Kita ada di Shamayim (Sorga), sedangkan Allah Bapa ada di Sorga yang
khusus. Dengan demikian harus ditambahkan di sini bahwa langit ketiga pun kemungkinan juga
bertingkat. Tidaklah mungkin takhta Bapa satu level atau dicampur dengan makhluk Sorgawi lainnya
apalagi dengan manusia.

Sangat besar kemungkinan bahwa langit ketiga yang dilihat oleh Paulus (2 Kor 12:1-4) ada di
wilayah para makhluk Sorgawi berada, dimana iblis pernah menghadap Yahwe. Bisa jadi, tempat yang
sama dimana ada takhta yang dimunculkan dalam kitab Ayub 1:6. Besar kemungkinan itulah takhta Allah
Anak sebelum berinkarnasi sebagai manusia. Ketika Tuhan (Yahwe) tampil tentu Ia tampil atas nama
lembaga Allah (Elohim). Harus diingat bahwa Allah Anak atau Logos yang menciptakan langit dan bumi
(Yoh 1:1) serta memerintah (Mikha 5:1-2), Dialah Yahwe itu sendiri. Setelah Ia mengosongkan diri dan
kembali ke Sorga Ia menerima kembali kemuliaan yang telah dimiliki sebelum dunia di jadikan.

LOKASI

Bertalian dengan tema lokasi Sorga, pertanyaan yang perlu dipersoalkan juga adalah dimana
lokasi neraka (gehenna)? Jika dipersoalkan di bagian mana di jagad raya ini yang akan menjadi neraka
(gehenna) atau lautan api atau lautan danau api (Yun. Limne tou puros) (2 Pet 3:9-11; Wah 20:14-15),
maka jawabannya adalah: Bumi dan sekitar atmosfirnya atau seluruh keluarga matahari (solar system)
atau bahkan seluruh galaxy Milkyway. Kemungkinan juga sebagian langit tingkat kedua secara terbatas
artinya tidak semua bagian langit kedua akan terbakar, sebab langit kedua juga wilayah yang tidak
terbatas.

Dalam hal tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa neraka juga bukan alam roh, neraka
adalah alam materi. Karena semua manusia akan dibangkitkan, mereka yang berbuat baik akan
menerima kemuliaan tetapi yang berbuat jahat akan masuk kehinaan kekal (Dan 12:1-2). Kalau neraka
berdimensi materi atau fisik maka paralel dengan ini sorga pun juga berdimensi materi atau fisik.

Jadi dimana lokasi Sorga itu? Pertama, tidak mungkin ada di langit yang pertama atmosfir kita
ini. Sebab langit dan bumi pertama, yaitu bumi yang kita huni ini akan menjadi lautan api (lebih tepat
diterjemahkan danau api). Bumi dan langit atmosfir kita akan terbakar dalam nyala api yang hebat (2 Pet
3:9-1). Inilah yang dikatakan oleh Petrus dalam suratnya: Tetapi oleh Firman itu juga langit dan bumi
yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang
fasik (2 Pet 3:7).

Selanjutnya dalam Wahyu 21:1, Yohanes di pulau Patmos menunjukkan bahwa langit pertama
lenyap. Lenyap bukan berarti hilang tetapi tidak akan ada lagi bentuknya seperti sekarang sebab sudah
menjadi lautan api atau neraka (gehenna). Keindahan bumi ini bahkan seluruh keluarga matahari atau
mungkin juga seluruh gugusan galaxy Milkyway menjadi kacau balau seperti sebelum penciptaan. Pada
waktu itu kita sudah berada di langit baru dan bumi yang baru (Wah 21:1-4).

Kemungkinan sorga kita atau sorganya manusia ada di langit kedua, atau bagian dari langit
kedua yang tidak dibinasakan menjadi lautan api oleh Tuhan. Sebab di langit kedua inilah tempat atau
wilayah milyaran galaxy dan planet yang tidak terbatas, yang merupakan fasilitas wilayah sorga. Tetapi
bukan tempat makhluk sorgawi yang berdimensi roh menetap. Bisa juga sorga untuk manusia ada
dibagian lain langit ketiga yang berdimensi materi atau fisik. Itulah yang disebut oleh Tuhan Yesus
sebagai Rumah Bapa; bahwa di rumah Bapa banyak tempat tinggal (Yoh 14:1-3).

Sangatlah sulit untuk mengatakan bahwa sorga bagi manusia ada di langit ketiga dimana dihuni
oleh para malaikat dan makhluk-makhluk sorgawi yang berdimensi roh yang tidak sama dengan dimensi
manusia (Ibr 1:14). Pertimbangan ini juga didasarkan pada kenyataan bahwa sorga adalah tempat
dimana tubuh kebangkitan manusia akan berinteraksi dengan alam fisik bukan alam roh. Sorga bagi
manusia adalah alam fisik dimana tubuh kebangkitan bisa berinteraksi yaitu di banyak gugusan-gugusan
planet dan galaxi yang tidak terbatas di jagad raya ini.