Anda di halaman 1dari 4

DOKTRIN MENGENAI SORGA 10 DINAMIKA MASYARAKAT KERAJAAN SORGA (4) (By Dr.

Erastus
Sabdono)

Apakah semua orang yang ada di Sorga berada di tempat yang sama? Untuk dapat menjawab
masalah ini dengan tuntas kita harus bisa membedakan antara Yerusalem Baru dan bumi-bumi atau
wilayah-wilayah yang luas tanpa batas dalam Kerajaan Sorga nanti. Banyak orang menyamakan
Yerusalem Baru sebagai ibukota kerajaan dengan wilayah-wilayah yang luas dalam Kerajaan Allah
tersebut. Biasanya kalau orang berbicara mengenai Sorga asumsinya adalah suatu tempat tinggal yang
terlokalisir dimana hanya orang-orang tertentu yang masuk kesana.

Mengapa hal ini perlu dipaparkan? Ya sebenarnya hal ini tidak terlalu prinsip untuk
dipersoalkan, tetapi bila kita mengerti jawabannya, maka kita dapat melihat keunggulan umat pilihan
yang tampil sebagai pemenang dan berhasil menjadi corpus delicti. Pemahaman ini akan bisa menjadi
pemicu untuk memperjuangkan kehidupan sekarang ini sebagai anak-anak Allah yang memenuhi
rencana-Nya, yaitu membinasakan pekerjaan iblis dan mempercepat kedatangan Tuhan. Hal yang sama
dengan mengumpulkan harta di Sorga.

Satu hal yang harus dimengerti bahwa Sorga terdiri dari bermacam-macam tingkat masyarakat
atau jenjang. Mengapa ada bermacam-macam tingkatan? Dalam Injil kita menemukan fakta-fakta yang
sulit membantah bahwa di Sorga ada jenjang atau seperti sebuah hirarki atau tingkatan.

Dalam injil, Tuhan Yesus sering menyebut mengenai upah yang besar. Bicara mengenai
kuantitas upah berarti juga kualitasnya dan jelas sekali Tuhan membedakan upah (Mat 5:12; 6:1 dan lain
sebagainya). Dalam Kerajaan Sorga juga terdapat kedudukan yang berbeda (Mat 20:23; Mark 10:40).

Dalam Kerjaan Sorga juga Tuhan mempercayakan kepada masing-masing hamba-Nya jumlah
kota yang berbeda-beda (Luk 19:12-19). Jumlah kota-kota ini bisa menunjuk posisi dalam kerajaan-Nya
nanti. Tetapi secara garis besar, pada dasarnya pembagiannya bisa dibagi dua, yaitu pertama keluarga
kerajaan yang disebut sebagai memiliki karunia sulung roh (Roma 8:23) yaitu mereka yang mengalami
keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan semula Allah. Kedua, adalah anggota masyarakat yang
diperintah. Mereka adalah orang-orang yang diperkenankan masuk dunia yang akan datang.

Persoalan berikut adalah apakah mereka berada di tempat yang sama? Logikanya, sebagaimana
ibu kota kerajaan, sangat besar kemungkinan atau bisa dipastikan bahwa Yerusalem Baru hanya dihuni
oleh orang-orang terkemuka, yaitu anggota keluarga kerajaan. Yerusalem Baru hanya dihuni oleh
mereka yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba (Wah 21:1-27).
Dalam hal ini harus bisa membedakan orang-orang yang namanya tertulis dalam kitab
kehidupan (Wah 20:12-15) dan orang-orang yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba
(Wah 21:27). Orang-orang yang namanya tertulis dalam kitab kehidupan Anak Domba adalah orang-
orang yang sudah sempurna. Mereka adalah orang-orang yang tidak bercacat dan tidak bercela.

Spesifikasi kota itu sungguh sangat luar biasa. Kota ini dihiasi secara menakjubkan, turun dari
takhta Allah Bapa. Turun dari takhta bisa berarti bahwa pemerintahan tersebut di bawah kekuasaan
atau otoritas Allah Bapa. Tentu saja keindahan yang digambarkan dalam Wahyu 21 merupakan figuratif
yang pada intinya hanya mau menunjukkan bahwa kota itu sangat sempurna.

Kota Yerusalem Baru di dunia yang akan datang akan menjadi lambang kehadiran Allah di
tengah-tengah manusia yang adalah tempat Tuhan Yesus bertakhta sebagai Raja. Hal ini sama dengan
kota Yerusalem di bumi ini yaitu di Yehuda pada jaman sebelum pembuangan. Kota Yerusalem di bumi
dimana istana Daud dibangun merupakan kota yang menjadi simbol kehadiran Allah, sebab di sana juga
ada bait Allah.

Kota Yerusalem Baru di dunia yang akan datang adalah kota dimana tidak ada perkabungan
sama sekali. Sangat besar kemungkinan ini adalah kota dimana para pemenang yang menjadi corpus
delicti diperkenan menetap. Mereka adalah orang-orang yang saleh yang kudus yang akan selalu
bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

Sesuai dengan Firman Tuhan dalam wahyu 21, bahwa tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu
yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis
di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu. Kota itu adalah pusat pemerintahan, sedangkan masyarakat
yang lain akan tinggal di banyak wilayah yang tidak terbatas, yang disebut ge, yang juga berarti wilayah
atau region (Wahyu 21:24).

Yerusalem Baru adalah kota yang penuh kemuliaan yang dihiasi dengan permata serta batu
berharga. Ada dua belas pintu gerbangnya. Kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk
menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya. Dan bangsa-
bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya;
dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi disana;
dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya. Semua ini merupakan gambaran dari
kesempurnaan ibu kota dunia yang akan datang nanti.

Apakah Yerusalem Baru ini sama dengan rumah Bapa. Bisa saja sama, sebab ketika Tuhan Yesus
berbicara mengenai Rumah Bapa, Tuhan sedang berbicara dalam situasi genting dimana Tuhan Yesus
akan meninggalkan mereka. Ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai Rumah Bapa, yang hendak
ditekankan disini adalah adanya dunia lain yang nyaman dimana mereka akan bersama-sama tidak akan
berpisah lagi.

Rumah Bapa berbicara mengenai tempat khusus dimana hanya orang-orang pilihan yang boleh
masuk. Oleh karenanya kita harus dapat membedakan Yohanes 14:6 dengan Kisah Para Rasul 4:12.
Kalau Yohanes 14:6 menunjuk jalan untuk memiliki persekutuan dengan Allah Bapa secara khusus.
Hanya orang-orang tertentu yang sampai kepada Bapa. Sedangkan Kisah Rasul 4:12, bisa menunjuk
pengorbanan Kristus untuk semua orang. Bahwa hanya karena pengorbanan Kristus, maka ada
penebusan dosa semua manusia. Penebusan itu memungkinkan adanya penghakiman. Penghakiman
membuka kemungkinan orang-orang di luar orang kristen yang tidak mendengar Injil bisa masuk dunia
yang akan datang. Mereka pasti dihakimi menurut perbuatannya. Dalam hal ini perbuatan baik mereka
terhadap sesama memungkinkan mereka mendapat kesempatan hidup di dunia yang akan datang.

Sedangkan orang-orang yang mengalami keselamatan di dalam Yesus Kristus, artinya


dikembalikan kepada rancangan-Nya adalah orang-orang yang menjadi anggota keluarga Kerajaan.
Mereka bisa menempati Yerusalem Baru, tetapi mereka yang dihakimi menurut perbuatannya menjadi
anggota masyarakat yang mendiami banyak wilayah yang tidak terbatas dalam dunia yang akan datang.
Mereka adalah anggota masyarakat yang diperintah atau dibawahi suatu pemerintahan.

Ada pula wilayah yang tidak terbatas di luar tembok Yerusalem Baru, yaitu bumi (ge) yang
menunjuk wilayah (region) di dunia yang akan datang (Wah 21:24). Wilayah-wilayah di luar Yerusalem
Baru adalah wilayah dimana bangsa-bangsa yang akan diperkenankan masuk dunia yang akan datang
bisa menetap. Tuhan juga menghapus air mata mereka. Mereka diperkenan masuk dalam kemerdekaan
anak-anak Allah (Roma 8:19-23). Kata makhluk dalam teks aslinya disini adalah ktisis yang memiliki
beberapa pengertian diantaranya adalah of individual things (sesuatu yang bersifat individu), juga
berarti creature (ciptaan). Makhluk disini bisa menunjuk manusia-manusia lain yang tidak terpilih
sebagai umat pilihan tetapi yang berkesempatan masuk dunia yang akan datang (nama mereka tertulis
dalam kitab kehidupan). Mereka adalah anggota masyarakatnya.

Masyarakat dunia yang akan datang adalah masyarakat yang belum sempurna, jadi
kemungkinan melakukan pelanggaran bukan sesuatu yang tidak mungkin. Tentu saja bukan pelanggaran
seperti manusia berdosa di bumi kita hari ini. Pelanggaran itu juga bukan dosa atau kejahatan yang
membahayakan orang lain, sebab yang tinggal disana adalah orang-orang yang sudah menunjukkan
kasih kepada sesamanya (Mat 25:31-46). Pelanggaran tersebut bukan sesuatu yang fatal, bisa saja
karena kebodohan mereka. Bisa dibayangkan kalau mereka yang masuk dunia yang akan datang ketika
di dunia lahir pada jaman batu. Mereka perlu dididik dan diajar masuk dunia yang lebih beradab. Oleh
karenanya masyarakat tersebut membutuhkan penertiban dalam pemerintahan.
Dengan penjelasan ini, maka sulit menolak kenyataan bahwa di dunia yang akan datang tidak
ada proses progresifitas, baik secara material maupun non material. Material berarti hal-hal yang
menyangkut ilmu pengetahuan yaitu yang bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, adapun
non material menyangkut moral atau mental atau kedewasaan. Mereka yang masih harus diatur dan
diperintah (reign) adalah orang-orang yang tinggal di luar wilayah Yerusalem Baru.

Menjadi pertanyaan yang harus dipecahkan pula adalah apakah di Sorga nanti kehidupan
dimulai seperti pada jaman batu (manusia pertama yang pernah hidup di bumi) atau sudah ada pada
standar peradaban modern? Jawabannya sulit ditemukan. Tetapi logikanya kalau manusia sudah hidup
dengan peradaban modern seperti yang kita alami hari ini, sangatlah sulit untuk kembali ke jaman batu.
Tuhan yang Maha Bijaksana yang mengerti kebutuhan manusia pasti menyesuaikan dengan teknologi
dan budaya hidup yang manusia pernah jalani.