Anda di halaman 1dari 4

DOKTRIN MENGENAI SORGA 16 APAKAH PERKAWINAN BERSIFAT KEKAL? (1) (By Dr.

Erastus Sabdono)

Adalah sangat penting dan menarik kalau Alkitab menginformasikan mengenai perbedaan jenis
kelamin seiring dengan penciptaan alam semesta ini (Kejadian 1:26-28; 2:18-25). Perbedaan jenis
kelamin ini merupakan kelengkapan dari karya agung Sang Khalik, yang karenanya setelah usai
penciptaan Allah mengevaluasi hasil karya-Nya sungguh amat baik (Kej 1:31). Maksud kelengkapan di
sini adalah bahwa dualitas manusia adalah bagian dari penciptaan yang harus ada. Jadi, harus
dimengerti diterima bahwa ketika Tuhan menyatakan bahwa hasil karyanya sungguh amat baik, maka di
dalamnya termasuk lembaga perkawinan yang dibangun oleh Allah berikut seks yang juga menjadi
perekatnya.

Fakta yang tidak dapat disangkal, alam semesta terasa hampa, khususnya bagi makhluk yang
disebut manusia kalau tidak ada perbedaan jenis kelamin ini (gender). Dari satu aspek, yaitu dari aspek
manusia itu sendiri hal ini tidak bisa dibantah. Perbedaan jenis kelamin merupakan keajaiban dari ide
dahsyat Sang Pencipta yang sangat cerdas dan sungguh-sungguh mengagumkan yang karenanya perlu
digali maknanya secara jujur dan adil. Jujur artinya cara kita memandang Alkitab harus apa adanya tanpa
dipengaruhi oleh suatu pandangan atau doktrin mana pun. Dengan demikian Tuhan bisa memberikan
hikmat dan wahyu-Nya. Kalau seseorang sudah terikat suatu pandangan maka Tuhan tidak bisa
membuka pikiran seseorang untuk menerima hal yang baru dari Tuhan. Adil artinya sebagaimana kita
memandang ciptaan Allah yang lain sebagai sesuatu yang istimewa dan kudus, demikian pula
perkawinan. Perkawinan di dalamnya terdapat unsur seks harus dipahami sebagai bagian dari realitas
creation ex nihilo (diciptakan dari tidak ada menjadi ada).

Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan segambar dengan diri-Nya bisa
menunjukkan bahwa di dalam Allah sebenarnya terdapat semacam unsur-unsur kelaki-lakian dan juga
kewanitaan (Kej 1:26-27). Unsur-unsur ini dimanifestasikan dalam karya-Nya menciptakan manusia
dengan keberadaan sebagai laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini bisa dimengerti mengapa dalam
beberapa bagian Alkitab sering Tuhan digambarkan perkasa seperti laki-laki (Maz 24:8; 89:14; Yes 9:5),
tetapi juga lembut penuh perhatian bagai wanita (Yesaya 49:14-16). Tentu saja unsur-unsur ini lengkap
ada pada Diri Allah semesta alam. Penjelasan ini sangat logis karena manusia diciptakan menurut rupa
dan gambar-Nya. Penjelasan ini bukan bermaksud hendak mengemukakan bahwa Allah memiliki gender,
tetapi unsur-unsur dalam spesifik masing-masing gender ada pada Allah.

Manusia yang terdiri dari dua gender yaitu laki-laki dan perempuan dirancang oleh Tuhan untuk
menjadi satu daging guna saling mengisi dan melengkapi (Kej 2:24). Hal ini juga bisa menunjuk atau
menggambarkan bahwa Allah yang jamak dalam keesaan itu juga pribadi yang saling mengisi, yaitu
antara Allah Anak dan Allah Bapa. Kedua pihak saling mengisi satu sama lain, ada percakapan di antara
keduanya, mufakat dan kerja sama. Sebagaimana Allah dalam seluruh kegiatan-Nya selalu bersama-
sama (Kej 1; Yoh 1), demikian pula manusia yang dualitas. Kedua pihak adalah satu team yang
terpisahkan. Pasangan manusia adalah kekuatan tunggal yang dapat menghasilkan karya-karya besar
yang tidak dapat dilakukan hanya oleh satu pihak. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bahwa tidak baik
Adam seorang diri dan hidup sendirian.

Didalam kitab Kejadian 1 disingkapkan mengenai peristiwa penciptaan manusia pada mulanya:
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia;
laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Dualitas manusia ini hasil dari rekayasa Allah sendiri
dengan sengaja. Itu berarti di dalamnya mengandung maksud tujuan Ilahi. Pada umumnya maksud
tujuan Ilahi selalu bersifat permanen atau kekal.

Pengakuan tentang penciptaan dualitas manusia ini tidak boleh atau tidak dapat ditukar
dengan konsep lain. Sebab kenyataan inilah yang menjadi dasar dari hakekat perkawinan manusia. Atas
dasar inilah selanjutnya dapat dibangun konsep etis teologis tentang tanggung jawab manusia atas
perilaku seksualnya serta rencana Allah dibalik kenyataan adanya dualitas manusia tersebut. Kalau kita
mengakui (karena memang demikian) bahwa dualitas manusia adalah karya yang luar biasa dari Sang
Pencipta, suatu penciptaan dengan kualitas cretio ex nihilo, apakah dengan mudah Tuhan meniadakan
gender ini di dunia yang akan datang?

Kalau kita memperhatikan 2 Korintus 6:18, Firman Tuhan tertulis: Dan Aku akan menjadi
Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah
firman Tuhan, Yang Mahakuasa. Secara tidak langsung di dalam teks ini dipersoalkan gender. Bahwa
Allah memiliki anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Persoalannya adalah apakah ini hanya
berlaku di bumi atau sampai di kekalan? Memang tidak ada penjelasan yang kuat mengenai hal ini,
tetapi kalau kita mempertimbangkan bahwa hal menjadi anak-anak Allah bukan hanya sementara di
bumi tetapi di kekalan juga, berarti ini bisa juga menyangkut realitas kekekalan.

Perkawinan adalah rekayasa Allah, gagasan Allah dan merupakan bagian dari tatanan
penciptaan, oleh sebab itu selanjutnya dapat kita simpulkan bahwa perkawinan merupakan institusi
Ilahi. Pengertian institusi Ilahi maksudnya bahwa institusi ini merupakan bentuk dari karya Tuhan yang
mempunyai nilai permanen, kudus serta memiliki sifat-sifat hakiki (essential propriety) dan tujuan yang
digariskan atau ditetapkan oleh Allah sendiri. Oleh sebab itu harus diterima dan dipercayai, seandainya
manusia tidak jatuh dalam dosa, maka di bumi terdapat perkawinan yang bersifat kekal.

Oleh karena institusi atau lembaga ini adalah lembaga Ilahi maka bisa diterima kalau
perkawinan adalah konsep kekal. Itulah sebabnya dalam rumusan awal mengenai manusia, manusia
ditetapkan hanya memiliki satu istri (monogami) dan Tuhan melarang keras terjadinya perceraian.

Allah adalah kudus (1 Petrus 1:16) maka hasil karya-Nya juga kudus. Unsur Ilahi inilah yaitu
kekudusan terdapat pada institusi yang disebut perkawinan. Jadi, harus diingat terus bahwa predikat
sangat baik bagi hasil ciptaan Tuhan termasuk di dalamnya fakta adanya perkawinan dalam dunia
ciptaan Sang Elohim ini. Dengan demikian tidak bisa dikatakan bahwa seks adalah sesuatu yang kotor,
najis dan hina atau rendah.

Seks tidak bisa dikatakan duniawi atau tidak rohani, sebab seks eksis sebelum manusia jatuh di
dalam dosa, bagian dari karya Tuhan bersamaan dengan segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan.
Seks adalah bagian dari design atau rancangan awal Allah. Kalau seks adalah sesuatu yang rendah, maka
perkawinan juga sesuatu yang hina pula.

Terkait dengan hal ini harus diingat bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk sesaat, tetapi
manusia adalah makhluk kekal yang dirancang tidak mengalami kematian. Sangat besar pula perkawinan
ini juga sebenarnya dirancang Tuhan untuk menjadi realitas yang bersifat kekal sejak semula. Memang
pada kenyataannya semua yang diciptakan oleh Allah sejak semula adalah pola permanen yang bersifat
kekal. Apakah Allah mengubah rancangan ini setelah manusia jatuh dalam dosa?

Perkawinan adalah sesuatu yang kudus sebab Allah yang kudus itu sendiri yang
menciptakannya. Seks ada di dalam dunia ini diciptakan oleh Allah sebelum manusia jatuh dalam dosa.
Gairah seksual manusia itu adalah sesuatu yang kudus dan mulia hasil karya tangan Allah yang tidak
nampak. Oleh sebab itu patut dipertimbangkan bahwa perkawinan adalah sesuatu yang tetap memiliki
nilai tinggi, sakral dan mulia, sekalipun pelaku-pelakunya telah dicemari oleh dosa. Oleh karena manusia
telah rusak, maka perkawinan juga tidak menjadi ideal. Manusia memilih pasangan sesuka hatinya
sendiri. Jarang sekali orang yang sungguh-sungguh dijodohkan oleh Allah, artinya Tuhan yang
menghendaki dua insan itu sebagai pasangan yang ideal menurut Allah. Perceraian pun bisa terjadi dan
dilegalkan.

Jadi, seks adalah anugerah Tuhan yang hebat yang didahului cinta sehingga terbangun keluarga
dalam lembaga perkawinan. Apakah itu akan lenyap di dunia yang akan datang? Apakah Allah
menciptakan cinta dan seks hanya di bumi sebatas manusia tidak berbuat dosa? Bagaimana seandainya
manusia tidak jatuh dalam dosa, apakah seks dan cinta yang membangun sebuah perkawinan? Tentu
saja tidak. Harus jujur mengakui betapa indahnya cinta (eros) dan seks itu. Sangat kecil kemungkinan
Tuhan menciptakan hal ini untuk masa tertentu. Keindahan cinta dirancang Tuhan untuk waktu yang
tidak berakhir. Juga tidak bisa dibantah bahwa relasional hubungan pria dan wanita ini membantu
manusia untuk menghayati betapa indah sebuah relasi itu. Hal ini bisa direfleksikan hubungan antara
Tuhan dan jemaat (Ef 5:32).

Seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa, seks dan cinta akan tetap eksis. Perkawinan juga
tetap eksis, hanya pemilihan jodoh dalam control dan kendali Allah. Allah yang menjodohkan setiap
pasangan, atau paling tidak manusia dalam menurut kehendak Allah akan selalu bertindak sesuai
keinginan Tuhan, termasuk di dalamnya hal pemilihan jodoh. Manusia hidup dalam penurutan terhadap
Tuhan artinya sungguh-sungguh bisa menghadirkan pemerintahan Allah secara mutlak di bumi ini
sehingga dalam memilih jodoh pun dalam kedaulatan Allah yang absolut. Mengapa demikian? Sebab
perkawinan dapat menciptakan makhluk baru. Allah sangat berkepentingan dalam hal ini. Tentu saja
tidak ada perceraian dan masalah keluarga yang menyengsarakan, karena semua manusia bermental
menjadi seperti Allah penciptanya.

Hal tersebut di atas harus dipertimbangkan, sebab keluarga adalah institusi buatan Allah pasti
dirancang untuk kekekalan sebagaimana segala hukum alam yang dikatakan oleh Tuhan sungguh amat
baik juga dirancang untuk kekekalan. Seperti yang telah disinggung di pembahasan terdahulu bahwa di
dunia yang akan datang adalah kelanjutan dunia ini yang sudah menjadi produk gagal oleh karena
kejatuhan manusia ke dalam dosa. Dunia yang akan datang adalah pengulangan bumi pertama yang
diciptakan oleh Allah. Kalau perkawinan bisa diterima sebagai tatanan Allah yang kudus dan kekal, maka
bisa dipertimbangkan adanya perkawinan di langit baru dan bumi yang baru. Tetapi hal ini hendaknya
tidak dimutlakkan atau dipastikan.