Anda di halaman 1dari 4

DOKTRIN MENGENAI SORGA 18 APAKAH PERKAWINAN BERSIFAT KEKAL? (3) (By Dr.

Erastus Sabdono)

BERLIPAT GANDA

Dalam Injil Tuhan Yesus menyatakan bahwa Dia akan memberikan upah kepada orang yang
meninggalkan segala sesuatu karena mengikut Dia. Pernyataan tersebut terdapat dalam beberapa ayat
dalam Injil. Tuhan Yesus berkata: Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya,
saudaranya laki-laki atau perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima
kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:29). Ayat yang senada
terdapat dalam Markus 10:29-30, Tuhan Yesus berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap
orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya
perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga
menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang,
sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup
yang kekal.

Dalam dua ayat di atas tidak ada kata istri, kalimat seratus kali lipat ganda terjemahan dari
hekatontaplasiona atau yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan a hundred times as much. Hal ini
mengindikasikan seandainya di dunia yang akan datang ada perkawinan tentu pola perkawinannya
adalah monogami, maka seseorang tidak akan memiliki banyak istri. Seseorang bisa memiliki banyak
saudara dan anak-anak tetapi tidak bisa memiliki istri lebih dari satu.

Oleh karena tidak ada kata istri dalam kedua ayat tersebut, maka bisa dikatakan bahwa orang
yang telah meninggalkan segala sesuatu demi Tuhan Yesus akan memperoleh ganti seratus kali lipat dari
apa yang telah ditinggalkan. Kalau dalam teks-teks tersebut disebutkan adanya orang tua dan anak-anak
berarti ada keluarga. Tidak disebut dalam teks-teks tersebut bahwa itu adalah anak angkat atau orang
tua angkat, itupun tidak masalah sama sekali. Tetapi yang jelas tidak ada istri angkat. Istri adalah istri dan
hanya satu.

Berbeda dengan Injil Luk 18:29, ayat yang memiliki isi yang sama dengan Mat 19:29 dan Mark
10:29-30, tetapi bedanya dalam Luk 18:29-30 terdapat kata istri. Tertulis: Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya setiap orang yang karena kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, istrinya atau
saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga,
dan masa yang akan datang ia menerima hidup yang kekal.

Luar biasa sekali kecerdasan Alkitab yang diilhami oleh Roh Kudus, di dalam teks Luk 18:29 tidak
ada seratus kali lipat (hekatontaplasiona) seperti di Mat 19:29 dan Mark 10:30. Kata lipat ganda dalam
Lukas 18:29-30 teks aslinya terjemahan dari pollaplasiona, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan
manyfold, much, more (berlipat ganda, banyak, lebih) dalam terjemahan bahasa Indonesia
diterjemahkan lipat ganda, bukan seratus kali lipat. Jadi seorang yang meninggalkan pasangan hidupnya
karena pekerjaan Tuhan bukan berarti akan memperoleh seratus kali lipat dalam arti jumlah tetapi
mendapatkan lipat ganda kebahagiaannya. Kata pollaplasion tidak menunjuk atau berbicara mengenai
jumlah atau kuantitas tetapi menunjuk pada kualitas. Dalam Luk 18:29-30 yang hendak dikemukakan
adalah bahwa orang percaya yang rela meninggalkan kenyamanan hidup dan segala hak-hak dirinya,
maka ia akan beroleh berkali lipat ganda kualitas keindahannya.

Dalam Injil Markus 10:29-30, Tuhan Yesus berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau
saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada
masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: Rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan,
ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai dengan penganiayaan, dan pada jaman yang akan datang ia akan
menerima hidup yang kekal. Patut kita memperhatikan kalimat disertai berbagai penganiayaan. Kalimat
ini menunjukkan bahwa orang percaya yang teraniaya pada jamannya harus memikul salib, bahkan
mereka kehilangan segala harta benda mereka. Sangatlah bodoh kalau berpikir bahwa memperoleh
seratus kali lipat di dunia berarti memiliki rumah banyak, harta berlimpah, saudara banyak dan
seterusnya dalam konteks duniawi.

Selanjutnya yang patut dipertimbangkan kalau tidak ada kemungkinan adanya perkawinan pasti
Tuhan Yesus tidak menyebut adanya istri maupun anak. Upah seratus kali lipat ini lebih menunjuk upah
yang diberikan di dunia yang akan datang bukan dunia ini, sebab kenyataannya lebih banyak orang
percaya yang sampai mati malah menghadapi kesulitan demi pekerjaan Tuhan. Justru di dunia ini kita
diajar untuk berprinsip serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang tetapi anak manusia
tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala dan asal ada makanan dan pakaian cukup. Semua yang
kita miliki di bumi ini adalah milik Tuhan sedang harta kita sendiri nanti di Kerajaan Sorga (Luk 16:11-13).
Tetapi walau demikian orang percaya dapat menikmati kebahagiaan dan sukacita yang berlipat ganda
dibanding orang yang tidak mengikut Tuhan Yesus. Inilah damai sejahtera yang melampaui segala akal
yang Tuhan Yesus janjikan (Yoh 14:27). Tidak heran kalau Paulus menganjurkan agar kita bersukacita
senantiasa.

BATAS IKATAN PERKAWINAN

Ikatan perkawinan hanya berlaku ketika masih ada di dunia (1 Kor 7:39, istri terikat selama
suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang
dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya). Jelas sekali maksud berita utama ayat ini
bahwa istri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin
dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya, pernyataan ini
bukan bermaksud seseorang yang pasangannya meninggal boleh menikah lagi atau dianjurkan menikah
lagi. Harus ingat bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus dalam kehendak Tuhan (Coram Deo).
Dalam penjelasan ini yang hendak ditekankan adalah bebasnya seseorang dari ikatan perkawinan kalau
pasangannya meninggal dunia.

Kata terikat di dalam teks aslinya adalah dedetai yang artinya bound by law (terikat oleh hukum)
juga berarti tertangkap dan terpenjara (of arrest and imprisonment). Dari pernyataan firman Tuhan ini
maka jelas sekali kebenaran ini: bahwa kematian memutuskan ikatan tali perkawinan. Kalau kematian
tidak memutuskan tali perkawinan sebab akan dilanjutkan di dunia yang akan datang maka Firman
Tuhan tidak berkata demikian. Jadi memang ada kemungkinan atau peluang yang diberikan Tuhan
kepada mereka yang ditinggal mati atau meninggalkan pasangannya untuk menikah lagi. Sedangkan kata
bebas dalam teks aslinya adalah eleuthera yang artinya freeborn (dilahirkan sebagai orang bebas), tidak
bergantung siapapun, merdeka, tidak diperbudak, tidak terikat. Kata-kata ini menunjuk suatu keadaan
dimana seseorang terbebas dari ikatan atau belenggu secara hukum.

Dengan penjelasan diatas ini nyatalah bahwa ikatan perkawinan hanya sampai pada kematian.
Tentu saja cinta sejati yang terbangun antara dua individu tidak terputus walaupun kematian
memisahkan, kecuali kalau sudah tidak ada lagi cinta di antara keduanya. Jadi, bila nanti kita bertemu
dengan pasangan hidup kita, maka hubungan perkawinan sudah putus. Apakah tidak bisa bersama lagi,
tentu bisa. Jika ada perkawinan maka Tuhanlah yang menetapkan atau mempersatukan (Mat 19: 6;
10:9). Dengan penjelasan diatas ini, maka kemungkinan kecil ikatan perkawinan di bumi dilanjutkan di
Sorga.

Bagi pasangan yang dipersatukan Allah atau Allah yang menentukan bisa saja bersama lagi,
tetapi bagaimana kalau pasangannya tidak bertobat atau selama hidup di dunia tidak memiliki kualitas
yang pantas untuk hidup bersama? Itulah sebabnya seperti yang dijelaskan terdahulu bahwa di dunia
yang akan datang kita mendapat identitas baru. Ikatan darah dan keluarga sangat besar kemungkinan
tidak lagi dominan. Semua menjadi baru.

Kalau kita mengamati kehidupan tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama, ternyata di antara mereka
memiliki beberapa istri seperti misalnya Yakub, Musa, Daud dan lain sebagainya. Tentu tidak diragukan,
mereka orang-orang yang pasti masuk dunia yang akan datang. Kalau ikatan perkawinan berkelanjutan di
dunia yang akan datang maka dengan demikian banyak istri akan menjadi masalah. Yang jelas Tuhan
telah menentukan pola perkawinan adalah perkawinan monogami.

Kalau kita mengamati kehidupan Ayub yang saleh, kita bisa memastikan tokoh ini pasti masuk
dunia yang akan datang. Masalahnya adalah seandainya ada perkawinan di dunia yang akan datang.
Apakah istri pertamanya yang mendampingi? Hal ini menjadi pertanyaan banyak orang. Jawaban yang
lebih dekat adalah: tidak. Beberapa alasan dapat dikemukakan: pertama, semua sahabat-sahabat Ayub
yang saleh menilai Ayub diberi kesempatan Tuhan untuk bertobat sehingga tidak di hukum Tuhan oleh
doa permintaan ampun Ayub kepada Tuhan atas kesalahan mereka (Ayub 42:7-9). Tetapi istri Ayub yang
menyerang Ayub tidak memperoleh kesempatan untuk bertobat dan dipulihkan (Ayub 2:9-10).

Alasan kedua, ketika Ayub dipulihkan, semua saudara-saudara Ayub datang menghibur dan
memberikan sejumlah uang, tetapi tidak dikatakan bahwa istrinya datang kepadanya. Kalau ditinjau
secara logis, istri Ayub yang menganjurkan Ayub mengutuki Allahnya menunjukkan bahwa ia tidak
sepaham lagi dengan Ayub. Lebih besar kemungkinan ia meninggalkan Ayub, sebab ia sendiri juga
mengharapkan kematian suaminya (Ayub 2:9-10). Aspek lain juga bisa menjadi alasan yang ketiga, sangat
besar kemungkinan istri Ayub tidak dapat lagi melahirkan 10 anak untuk Ayub (Ayub 42:13-14).
Kemungkinan kecil lainnya adalah bahwa anak Ayub kali ini paling cantik di antara anak-anak gadis di
seluruh negeri. Kalau istri pertamanya cantik sangat besar kemungkinan anaknya juga cantik. Rupanya
(sangat besar kemungkinan) istri kedua Ayub lebih cantik dari istri pertamanya atau sangat cantik.

Dari kisah Ayub ini kita mendapat inspirasi, bahwa tidak mungkin Ayub akan dipertemukan
dengan istri pertamanya sebagai suami istri di dunia yang akan datang; dengan istri model istri pertama
yang menyuruh Ayub mengutuki Allah dan segera mati. Kalau istri di bumi juga menjadi pasangan di
langit baru dan bumi baru (seandainya ada perkawinan) betapa celaka yang memiliki pasangan yang
salah atau jahat.

Kalau mengamati pertanyaan Tuhan Yesus bahwa Tuhan akan memberikan pasangan di dunia
yang akan datang (jika benar demikian ada perkawinan) seperti yang tertulis dalam Lukas 18:29-30,
maka bisa terjadi pasangan yang di bumi belum tentu menjadi pasangan di keabadian. Belum tentu
berarti bisa ya juga bisa tidak. Seandainya benar maka pasangan yang diberikan Tuhan nanti pasti
pasangan yang sempurna yang kesempurnaannya atau kebaikannya lipat ganda dari yang diperoleh atau
dipilihnya di bumi.