Anda di halaman 1dari 10

Merawat Pasien Gangguan Jiwa (Ah.

Yusuf, dkk)

KOMPETENSI PERAWAT DALAM MERAWAT PASIEN GANGGUAN JIWA


(Nursing Competencies in Taking Care Patient with Mental Disorders)

Ah. Yusuf, Rizki Fitryasari, Hanik Endang Nihayati, Rr. Dian Tristiana
Fakultas Keperawatan Universitas AirlanggaKampus C Unair Jl. Mulyorejo Surabaya
Email: ah-yusuf@fkp.unair.ac.id

ABSTRAK
Pendahuluan: Kompetensi yang dimiliki perawat dapat menjadi sebuah kemampuan yang baik apabila didukung oleh
persepsi perawat yang positif tentang kompetensi itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kompetensi
perawat dalam merawat pasien gangguan jiwa dan hambatan yang ditemukan dalam pelaksanaan kompetensi tersebut.
Metode: Penelitian menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Populasi penelitian adalah
perawat yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa, sampel penelitian diperoleh dengan purposive sampling, Partisipan terdiri dari 17
perawat yang bekerja di dua Rumah Sakit Jiwa terbesar di Jawa Timur. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara
mendalam dan focus group discussion (FGD). Alat pengumpulan data yang digunakan adalah media player (MP-4), pedoman
FGD dan catatan lapangan. Data diolah dengan analisis tematik menurut Colaizzi. Hasil: Hasil penelitian meliputi 8 tema,
yaitu bahwa persepsi perawat tentang kompetensi perawat RSJ dalam merawat pasien gangguan jiwa adalah melaksanakan
asuhan keperawatan, melaksanakan Standar Prosedur Operasional (SPO) di ruangan dan melaksanakan terapi modalitas
keperawatan jiwa. Sementara perawat menjumpai hambatan saat mengaplikasikan kompetensi dalam pelaksanaan
dokumentasi keperawatan, keterbatasan fasilitas, kurang efektifnya pelakasanaan manajemen ruangan, keterbatasan sumber
daya manusia serta kondisi pasien yang dirawat. Diskusi: Temuan penelitian dapat dimanfaatkan oleh perawat sebagai bahan
untuk mengembangkan desain format dokumentasi pasien gangguan jiwa yang lebih efektif dan diharapkan manajemen
rumah sakit untuk lebih memperhatikan aspek pengarahan dan supervisi dalam pelaksanaan kompetensi perawat. Penelitian
yang disarankan untuk dikembangkan berdasarkan temuan penelitian adalah melihat hubungan pelaksanaan supervisi
keperawatan terhadap peningkatan kinerja dan kepuasan perawat
Kata kunci : kompetensi, perawat, gangguan jiwa.

ABSTRACT
Introduction: Competences of the nurse can be a good ability when supported with a positive perception of nurses about the
competence itself. This study describe the nurse competencies in taking care patients with mental disorders and barriers in
the implementation of these competencies. Methods: This study design used qualitative descriptive phenomenology.
Population was nurse who worked at the Mental Hospital. Participants were 17 nurses from two Mental Hospital in East
Java which obtained by purposive sampling. Data was collected by indepth interview and focus group discussion (FGD).
Equipment tools used media player, FGD guidelines and field notes. The data were analyzed by thematically analysis based
Colaizzi. Result: The results produce eight themes. The nurse's perception of competence in caring for patients with mental
disorders are implementing nursing care, Standard Procedures Operational (SPO) and nursing modality therapy. While
nurses encounter obstacles when applying competence in the implementation of nursing documentation, limited facilities, the
lack of effectiveness management system, limited human resource and the condition of the patient. Discussion: The findings
of this study can be used by nurses as a material to develop documentation formats more effectively and hospital
management are expected to pay more attention to aspects of the guidance and supervision of the implementation of
competence. Research suggested based on the findings is to analyze the relationship between supervision and nurses
performance and satisfaction
Keyword: Nurse, Competencies, Mental Disorder

PENDAHULUAN intelektual, teknikal, dan interpersonal serta


bertanggung jawab terhadap tindakan yang
Pelayanan keperawatan merupakan
dilakukan.
bagian tidak terpisahkan dari pelayanan
Kompetensi perawat berhubungan erat
kesehatan yang berperan dalam mencapai
dengan kemampuan dan motivasi kerja yang
derajat kesehatan yang optimal pada tatanan
kuat dalam memberikan pelayanan. Kompetensi
individu, keluarga dan masyarakat. Pelayanan
yang dimiliki perawat, tercermin pada
keperawatan di rumah sakit sebagai ujung
pelaksanaan tugas keperawatan dalam
tombak yang mampu menjadi daya ungkit
pelayanan kepada pasien, tidak terkecuali pada
yang besar dalam upaya pembagunan kesehatan
perawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
(Depkes RI, 1999). Profesionalisme perawat,
Kompetensi perawat jiwa dapat diperoleh
khususnya pelayanan keperawatan di rumah
melalui proses pendidikan formal maupun
sakit dimulai dari komitmen dan internalisasi
pelatihan dalam lingkup kesehatan jiwa.
perawat terhadap profesi keperawatan itu
Kompetensi yang dimiliki seoarang perawat
sendiri. Perawat dituntut memiliki kemampuan

230
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 230-239

dapat menjadi sebuah kemampuan yang adalah perawat yang bekerja di RSJ dengan
maksimal apabila didukung dengan persepsi kriteria: telah bekerja minimal 1 tahun,
perawat yang positif tentang kompetensi itu berpendidikan minimal DIII keperawatan,
sendiri. mampu berkomunikasi dengan baik serta sehat
Hasil wawancara pada beberapa perawat fisik dan mental saat dilakukan pengambilan
di RSJ di Jawa Timur terkait pandangan data.
perawat tentang profesi dan kemampuan kerja Partisipan terdiri dari 10 perawat dari
perawat di RSJ menunjukkan keanekaragaman RSJ Menur dan 7 perawat dari RSJ Lawang.
fakta. Ada yang menyampaikan bahwa selama Metode pengumpulan data yang digunakan
ini perawat masih berpikiran sebagai pembantu adalah indepth interview dan focus group
dokter, tidak jelas bidang garapnya, kurang discussion (FGD). Alat pengumpulan data
percaya diri bila berhadapan dengan profesi yang digunakan adalah Media Player (MP-4),
kesehatan yang lain, belum sepenuh hati dalam pedoman wawancara, catatan lapangan dan diri
menjalankan aktivitas keperawatan, belum peneliti. FGD dilaksanakan menjadi dua
optimal berinteraksi dengan pasien,terlalu kelompok, yaitu kelompok perawat RSJ Menur
banyak tugas dokumentasi dan masih belum dan kelompok RSJ Lawang di tempat dan waktu
memahami secara tuntas pemberian asuhan yang berbeda dengan menggunakan stimulasi
keperawatan secara holistik. Sementara disisi pertanyaan yang sama.Data yang diperoleh
lain ada perawat yang memiliki pandangan dari hasil FGD dan field note dibuat transkrip
positif bahwa menjadi perawat di RSJ verbatim selanjutnya proses analisa dalam
merupakan tugas mulia dan merasa senang penelitian ini menggunakan sembilan langkah
ketika pasien yang dirawat mampu mandiri dan menurut Colaizzi.
diijinkan pulang dari RSJ. Pihak RSJ juga
sangat menyadari keberagaman pandangan HASIL
perawat tersebut dan sudah berupaya untuk
Peneliti mengidentifikasi 8 tema sebagai
meminimalkan dampak yang terjadi terutama
hasil penelitian. Proses pemunculan tema
terhadap kinerja perawat. Pihak manajemen
tersebut diuraikan berdasarkan tujuan
RSJ sering melakukan pertemuan rutin dengan
penelitian.Tujuan penelitian pertama adalah
perawat, banyak berdiskusi dengan jajaran
persepsi perawat tentang kompetensi perawat
pimpinan RSJ dan mengirim perawat untuk
dalam merawat pasien gangguan jiwa, terdiri
mengikuti pelatihan serta menerapakan sistem
dari 3 tema, yaitu melaksanakan asuhan
reward.
keperawatan, melaksanakan standar prosedur
Fenomena dan fakta terhadap profesi
operasional (SPO) di ruangan dan melaksanakan
perawat tersebut merupakan permasalahan
terapi modalitas keperawatan jiwa. Tujuan
yang menarik untuk ditelusuri, sehingga
penelitian 2 adalah hambatan yang ditemui
peneliti ingin mendapatkan gambaran secara
dalam mengaplikasikan kompetensi sebagai
kualitatif terkait persepsi perawat RSJ terhadap
perawat jiwa meliputi 5 tema, yaitu hambatan
kompetensi merawat pasien gangguan jiwadan
dalam pelaksanaan dokumentasi keperawatan,
hambatan yang dirasakan selama
fasilitas yang terbatas, kurang efektifnya
mengaplikasikan kompetensi tersebut.
pelakasanaan manajemen di ruangan, kondisi
sumber daya manusia yang dimiliki serta
BAHAN DAN METODE
kondisi pasien yang dirawat.
Penelitian menggunakan desain
kualitatif dengan pendekatan fenomenologi Persepsi tentang kompetensi perawat
deskriptif untuk menggambarkan kompetensi dalam merawat pasien gangguan jiwa
perawat dalam pasien gangguan jiwa. Tema 1. Memberikan asuhan keperawatan
Kompetensi perawat diukur berdasarkan jiwa
persepsi perawat RSJ tentang kinerja yang Memberikan asuhan keperawatan jiwa
harus dimiliki selama bekerja di RSJ. Populasi kepada pasien merupakan kompetensi yang
penelitian adalah perawat yang bekerja di RSJ dilakukan perawat RSJ terdiri dari tahapan
Menur dan Lawang, pemilihan sampel asuhan keperawatan dan format dokumentasi
menggunakan purposive sampling yaitu askep. Tahapan dalam memberikan asuhan
metode pemilihan sampel yang sesuai dengan keperawatan meliputi pengkajian, perencanaan,
tujuan penelitian. Seluruh partisipan penelitian implementasi dan evaluasi.

231
Merawat Pasien Gangguan Jiwa (Ah. Yusuf, dkk)

mulai dari pengkajian sampai yang telah di modifikasi dan disesuaikan


evaluasi. dengan kebutuhan akreditasi rumah sakit.
..asesmen sampai evaluasi. Beberapa jenis dokumentasi yang
tahapnya pengkajian, perencanaan, dikembangkan meliputi catatan
implementasi dan evaluasi perkembangan, catatan terintegrasi dan
Pengkajian yang dilakukan dibedakan pengkajian resiko khususnya pada pasien
berdasarkan lokasi pasien dirawat, seperti dengan perilaku kekerasan. Cara pengisian
pengkajian untuk pasien gangguan jiwa format pengkajian dan intervensi juga
dewasa, NAPZA, anak atau geriatri. mengalami modifikasi menjadi lebih sederhana
..ada format asesmen awalasesmen dengan model checklist.
dewasapoli dan IGD.. .catatan perkembangan.
asesmen unit khusus seperti NAPZA, .cppt
anak remaja, geriatri .pake model check list.
Aspek yang dikaji meliputi alasan
Tema 2 Melaksanakan Standar Prosedur
masuk, predisposisi, presipitasi, psikososial,
Operasional (SPO)
status mental, mekanisme koping dan
Perawat di RSJ menjalankan sejumlah
kebutuhan persiapan pulang. Seperti yang
SPO dalam merawat pasien gangguan jiwa.
dinyatakan oleh informan di bawah ini.
Beberapa jenis SPO menjadi wajib untuk
dikaji dulu alasan masuk,
dipahami dan dijalankan seluruh perawat
predisposisi, psikososial, status mental,
melalui proses sosialisasi secara bertahap dari
kebutuhan pulang, persiapan pulang
kepala ruangan ke perawat ruangan. SPO yang
anamnese status mentalnya dulu.
sudah tersedia meliputi SPO tentang pengisian
Perencanan asuhan keperawatan
format dokumentasi keperawatan dan
dilakukan secara manual berdasarkan 10
ditambahkan SPO sesuai dengan kebutuhan
Standar Asuhan Keperawatan yang meliputi
akreditasi rumah sakit dan saat ini sedang
masalah keperawatan Halusinasi, Waham,
dikembangkan SPO untuk keamanan pasien
Isolasi Sosial, Harga Diri Rendah, Resiko
dan perawat.
Bunuh Diri, Perilaku Kekerasan, Defisit
Standar operasional prosedur untuk
perawatan Diri: Mandi, Makan, Eliminasi,
askep sudah ada
Berhias. Sementara di RSJ Lawang telah
.SPO tersosialisasi rutin setiap rapat
dilakukan sistem komputerisasi khususnya
rutin
untuk di bagian rawat jalan.
sepuluh diagnosa keperawatan. Tema 3 Melakukan terapi modalitas
..sepuluh SAK. keperawatan jiwa.
sistem online untuk IGD (NIC Kompetensi melaksanakan terapi
NOC) modalitas keperawatan disampaikan berdasarkan
Implementasi yang dilakukan menggunakan jenis, pelaksana, waktu, fasilitas, tempat dan
pendekatan strategi pelaksanaan yang metode. Jenis yang paling sering dilaksanakan
dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang adalah Terapi Aktifitas Kelompok (TAK) dengan
telah di susun. Evaluasi asuhan keperawatan berbagai topik dan Pendidikan Kesehatan
dilaksanakan dengan membuat catatan Keluarga di Rumah Sakit (PKRS) dan di
perkembangan setiap shift yang diisi oleh masyarakat.
perawat pelaksana dengan format SOAP, berjalan rutin (TAK)
sementara perawat yang berperan sebagai TAK rutin
ketua tim akan melakukan evaluasi pendidikan ke keluarga sesuai SP
berdasarkan catatan perkembangan ke catatan (Obat)
terintergasi dengan format SBAR. Kedua jenis terapi modalitas tersebut
.CPPT diisi dalam bentuk pakem dilakanakan baik oleh perawat ruangan
yaitu SOAP.. maupun mahasiswa perawat yang telah
.kita pakai SOAP. terjadwal secara rutin. Fasilitas pendukung
.untuk komunikasi antardisiplin diisi untuk kedua terapi modalitasi ini sudah cukup
katim (SBAR) memadai seperti adanya SPO, format
Format yang digunakan dalam dokumentasi, leaflet dan alat terapi. TAK
melakukan asuhan keperawatan di RSJ menur dilaksanakan di ruangan maupun ruang
maupun Lawang menggunakan format standar rehabilitasi, sementara PKRS dilakukan di

232
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 230-239

ruang yang terdapat keluarga diijinkan untuk ada format untuk masalah nyeri pada pasien
menunggu seperti rawat jalan, ruang akut dan jiwa..
juga di lingkungan masyarakat yang menjadi Ketidaklengkapan juga termasuk banyak
wilayah kerja RSJ. Metode yang komponen format yang tidak terisi sesuai SPO
dikembangkan dalam pemberian terapi dan kosong tidak diisi.
modalitas berdasarkan tujuan, modifikasi cara, banyak yang kosong
tahapan dan bentuk terapi. TAK dapat banyak yang tidak diisi
diberikan dengan tujuan menciptakan Pengisian data dokumentasi yang
lingkungan yang terapeutik atau mengajarkan menjadi hambatan dan perlu perhatian khusus
life skill pada pasien, sehingga bentuk kegiatan adalah validitas data yang dituliskan oleh
TAK di modifikasi untuk mencapai tujuan dan perawat. Subjektivitas perawat dalam menuliskan
diberikan bertahap sesuai dengan kemampuan evaluasi asuhan keperawatan masih mendominasi
yang dicapai oleh pasien. sehingga evaluasi yang ada di catatan
perkembangan kurang menggambarkan kondisi
Persepsi perawat RSJ tentang hambatan yang pasien secara rinci.
dijumpai selama menerapkan kompetensi
dalam merawat pasien gagguan jiwa. Tema 5. Fasilitas
Fasilitas yang tersedia di RSJ masih
Tema 4. Dokumentasi Keperawatan menjadi salah satu hambatan yang dirasakan
Perawat RSJ dalam membuat saat perawat akan menerapkan tindakan sesuai
dokumentasi keperawatan menemui beberapa dengan SPO yang ada. Seperti SPO untuk
hambatan seperti ketidaklengkapan jenis menerapkan asuhan keperawatan ADL mandi
format SAK yang seharusnya ada, misalnya pada pasien belum ditunjang dengan
format di UGD, PICU, Poli Jiwa Anak dan kelengkapan alat mandi dan fasilitas
SPO khusus untuk ADL pasien. Hal ini sesuai kebersihan pribadi pasien. Sehingga perawat
yang disampaikan oleh partisipan banyak melakukan modifikasi sesuai dengan
format pengkajian di UGD masih ketersediaan yang ada.
belum ada. tidak ada sabun, handuk,
.lembar untuk mengkaji jiwa anak ..pasien tidak punya alat mandi
masih belum ada sendiri.
..belum ada standar operasional
prosedur untuk ADL pasien Tema 6. Manajemen Ruangan
RS belum ada pijakan paten untuk Pelaksanaan manajemen di ruangan
membuat PICUinstrument untuk terutama aspek perencanaan masih menjadi
keperawatan masih belum ada. hambatan yang mempengaruhi kinerja asuhan
Format yang digunakan masih dalam keperawatan pada perawat ruangan. Deskripsi
proses pengembangan dan evaluasi sehingga tugas yang tidak jelas terutama dalam
terkadang menimbulkan berbagai persepsi pelaksanaan terapi modalitas seperti TAK dan
yang beragam dan berdampak pada hasil PKRS menimbulkan ketidaknyamanan diantara
pengisian yang juga beranekaragam. perawat pelaksana sehingga mempengaruhi kinerja
.pengisian format pengkajian masih perawat. Selain itu keterbatasan kewenangan
Indonesia raya. perawat untuk melakukan terapi modalitas
.banyak yang tidak mengerti.. yang tidak dipayungi oleh kebijakan rumah
Kondisi tersebut dirasakan menjadi sakit dan ruangan membuat jenis terapi
hambatan terutama apabila harus modalitas yang dapat dilaksanakan baru
berkomunikasi dengan disiplin ilmu yang lain sebatas TAK dan PKRS.
seperti dengan pihak medis, psikolog maupun Aspek pengawasan dalam manajemen
okupasi terapis. Ketidaklengkapan juga masih ruangan juga menjadi hambatan bagi perawat
dijumpai pada simbol khusus yang perlu untuk ruangan dalam menjalankan kompetensi
dimodifikasi, misalnya untuk mengkaji sebagai perawat secara optimal. Kegiatan TAK
masalah nyeri pada pasien gangguan jiwa di ruang rehabilitasi telah dilakukan evaluasi,
belum ditemukan model yang tepat. namun tidak tersampaikan kepada perawat
kami masih bingung bagaimana sih pengelola pasien dan masih kurangnya aspek
triage untuk pasien jiwa. pengawasan untuk menindaklanjuti hasil
.karena ada akreditasi RS, ada yang evaluasi tersebut membuat kemajuan
namanya patient safety.nahkami belum kemampuan pasien tidak menjadi bagian dari

233
Merawat Pasien Gangguan Jiwa (Ah. Yusuf, dkk)

evaluasi perawat ruangan. Selain itu sistem PEMBAHASAN


reward yang masih belum sesuai dengan
Kompetensi perawat merupakan
kinerja pelaksanaan terapi modalitas seperti
tingkatan kinerja (performance) dasar perawat
TAK, menjadi salah satu alasan perawat untuk
dalam tatanan klinis yang harus dimiliki perawat
tidak bekerja secara maksimal.
untuk dapat mengaplikasikan pengetahuan,
Tema 7. Sumber Daya Manusia keterampilan, pengambilan dan penguasaan
Pelaksanaan kompetensi perawat di RSJ dalam melaksanakan tugas sebagai seorang
dirasakan menemui hambatan akibat dari perawat. Kompetensi merupakan campuran dari
keberagaman kondisi sumber daya manusia sebuah keterampilan (skill) dengan karakteristik
yang tersedia. Tingkat pendidikan yang personal (Hye-Won & Mi-Ran 2014;
bervariasi dari tingkat SPK, DIII, S1 Ners, Mohtashami et al. 2013). Hasil penelitian ini
Magister dan Spesialis mempengaruhi tingkat didapatkan beberapa tema terkait dengan
pengetahuan perawat dalam menerapkan kompetensi perawat dalam merawat pasien
asuhan keperawatan. Perbedaan persepsi masih dengan gangguan jiwa.
sering ditemukan dalam hal menentukan diagnosa
Tema 1 Memberikan asuhan keperawatan
keperawatan dan menuliskan di format
jiwa
dokumentasi keperawatan. Masa kerja perawat
Asuhan keperawatan adalah tindakan
yang juga bervariasi juga menjadi kendala
mandiri perawat profesional atau ners melalui
dimana perawat yang masih baru perlu
kerjasama yang bersifat kolaboratif, baik
mempelajari kebiasaan yang telah ada dan seni
dengan klien maupun tenaga kesehatan lainnya
dalam mengatasi permasalahan selama
dalam upaya memberikan asuhan keperawatan
berhadapan dengan pasien gangguan jiwa.
yang holistik sesuai dengan wewenang dan
Jumlah perawat yang terbatas apabila di
tanggung jawabnya pada berbagai tatanan
bandingkan dengan jumlah pasien, terutama
pelayanan termasuk praktik keperawatan
pada shift sore dan malam hari di ruang akut
individu dan berkelompok (Nursalam, 2003
menyebabkan beban kerja perawat yang tinggi.
dalam Muhith, 2015). Hasil penelitian
Beban kerja perawat selain akibat dari ketidak
menunjukkan tahapan yang dilakukan dalam
seimbangan tersebut juga akibat dari beberapa
melakukan asuhan keperawatan adalah
perawat harus menjabat secara struktural
pengkajian, perencanaan, implementasi dan
sehingga waktu banyak tersita untuk kegiatan
evaluasi. Berdasar Ruang lingkup dan standar
selain di ruang rawat. Selain itu duplikasi
praktik keperawatan jiwa, ruang lingkup dan
beberapa format dokumentasi keperawatan
standar praktik dibagi menjadi dua yaitu
yang harus dilengkapi selama merawat pasien
standar praktik dan standar kinerja professional
masih menjadi hambatan untuk dapat bekerja
(professional performance). Standar praktik
secara efisien meskipun beberapa format sudah
merujuk pada perawatan yang klien terima dari
dimodifikasi dengan bentuk yang lebih
perawat kesehatan jiwa yang telah teregistrasi
sederhana.
dan berdasarkan proses keperawatan. Standar
Tema 8 Kondisi pasien praktik ini meliputi pengkajian, diagnosis,
Perawat RSJ dalam menjalankan perencanaan, implementasi dan evaluasi
kompetensi sebagai perawat ruangan juga (Ballard 2012). Secara garis besar tahapan
mendapatkan hambatan akibat dari ketidakpatuhan yang dilakukan sudah sesuai dengan standar
pasien dalam menjalani program pengobatan di rumah praktik keperawatan.
sakit. Kondisi penyakit yang dialami pasien gangguan Pengkajian yang dilakukan dibedakan
jiwa membuat pasien memiliki pola pikir, pengendalian berdasar lokasi yaitu unit Napza, unit anak dan
emosi dan perilaku yang unik, sehingga perawat harus remaja, dan unit geriatri. Masing-masing unit
memiliki kemampuan untuk mengarahkan agar pasien memiliki kekhususan terkait fokus pengkajian
mau mengikuti program terapi yang telah direncanakan yang harus dilakukan. Pengkajian dilakukan
bersama tim kesehatan yang lain. Bagi sebagian perawat untuk mendapatkan data subyektif dan
perawat ketidakpatuhan merupakan tantangan data obyektif termasuk di dalamnya obeservasi
tersendiri, namun tetap menjadi faktor klien selama proses wawancara. Pengkajian juga
penghambat dalam menjalankan peran dan meliputi keluhan utama atau masalah utama,
fungsi sebagai perawat di tatanan RSJ. kondisi fisik secara umum, status kesehatan
mental dan emosional, riwayat keluarga dan
klien, sistem dukungan dalam keluarga,

234
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 230-239

kelompok sosial atau komunitas, ADL (Activity Daily Tema 3 Melakukan terapi modalitas keperawatan
Living), kebiasaan kesehatan dan kepercayaan, jiwa.
penyalahgunaan obat, penggunaan obat, hubungan
Terapi modalitas yang dilakukan
interpersonal, resiko menciderai diri sendiri dan
jenisnya berupa TAK (Terapi aktivitas
orang lain, koping, kepercayaan dan spiritual dan
Kelompok) dan PKRS (Penyuluhan).
faktor lain yang mempengaruhi kemampuan
Pemberian terapi baik psikofarmaka maupun
klien untuk berfungsi dan berespons pada
keperawatan yang tepat dan akurat saja
perawatan (Ballard 2012; Yusuf et al. 2014).
tidaklah cukup pada klien gangguan jiwa,
Perencanaan dilakukan secara manual
tetapi harus disusul atau bahkan paralel dengan
dan terkomputerisasi. Pelaksanaan dengan cara
terapi modalitas salah satunya dengan TAK
manual memang lebih banyak menghabiskan waktu
yang secara kontinue dan teratur sampai
perawat.Proses implementasi sama-sama
berfungsinya kembali perilaku normatif yang stabil
menggunakan SP (Strategi Pelaksanaan).
atau dalam istilah keperawatan perilakunya adaptif
Tahapan evaluasi masih ada beberapa hal yang
(Susana, 2007). Pelaksanaan yang rutin diharapkan
berbeda seperti jenis format evaluasi dan cara
akan meningkatkan hasil di pasien. Pelaksana
mengisi. Hasil penelitian (Rutledge et al. 2013)
terapi modalitas adalah perawat dan
menyatakan bahwa perawat jiwa mampu
mahasiswa keperawatan. Pelaksana terapi
melakukan pengkajian pada pasien dengan
modalitas harus mengetahui proses dan cara
gangguan jiwa namun tidak percaya diri dalam
pelaksanaan terapi modalitas. Sedangkan ECT
memberikan intervensi terkait perawatan
dilakukan oleh dokter dengan perawat
pasien.
memberikan asistensi. Waktu pelaksanaan
TAK adalah rutin dan terjadwal sedangkan
Tema 2 Melaksanakan Standar Prosedur
untuk PKRS sesuai dengan kebutuhan klien.
Operasional (SPO)
Edukasi dan pemberian informasi sudah
Hasil penelitian didapatkan terkait SPO dilakukan, namun belum berupa psikoterapi.
berupa jenis dan pelaksanaan. Jenis SPO berisi Hal ini berkaitan dengan tingkat pengetahuan
tentang asuhan keperawatan pada klien dan perawat dan belum adanya SPO tentang
beberapa dimodifikasi disesuaikan dengan JCI pelaksanaannya. Fasilitas pendukung dalam
terkait akreditasi RSJ. Sebuah SPO adalah pelaksanaan terapi modalitas ini berupa leaflet,
suatu set instruksi yang memiliki kekuatan format dokumentasi dan adanya SPO. Tempat
sebagai suatu petunjuk atau direktif. Hal ini pelaksanaan di dalam rumah sakit dan luar
mencakup proses pelayanan yang memiliki suatu rumah sakit. Metode pemberian berdasarkan
prosedur pasti atau terstandardisasi, tanpa dari tujuan, modifikasi, dan bertahap.
kehilangan keefektifannya. SPO lebih spesifik
dari guideline dan dijelaskan dengan lebih Tema 4. Dokumentasi Keperawatan
detail. SPO menjelaskan kriteria tertentu secara Pelaksanaan dokumentasi keperawatan
komprehensif tentang langkah-langkah suatu menemui hambatan dalam bentuk ketidaklengkapan
kondisi klinis tertentu (Rao et al. 2011). SPO format Standar Asuhan Keperawatan (SAK) terutama
juga sesuai dengan rumah sakit masing- untuk ruangan dengan karakteristik khusus dan
masing. Setiap sistem manajemen kualitas perbedaan persepsi perawat dalam proses
yang baik selalu didasari oleh SOP yang pendokumentasian. Dokumentasi keperawatan sangat
kemudian disosialisasikan kepada seluruh pihak penting (Iyer & Comp, 2005) menurut ANA (2000
yang berkompeten untuk melaksanakannya secara dalam Nursalam, 2008) dokumentasi merupakan
rutin. Sosialisasi rutin ini perlu dilakukan agar pernyataan bahwa perawat bertanggung jawab dalam
perawat mengetahui dan mampu mengaplikasikan melakukan asuhan keperawatan, termasuk dalam
keterampilannya sesuai SPO yang telah dibuat. mengumpulkan data, mengkaji status kesehatan klien,
SPO diperlukan untuk memastikan bahwa menentukan rencana asuhan keperawatan, mengevaluasi
strategi implementasi tidak diabaikan. SPO efektivitas asuhan dan mengkaji ulang serta merevisi
sebaiknya tersedia di tempat konsultasi pasien, kembali rencana asuhan keperawatan. Keberadaan
di unit rawat jalan serta di ruang rawat inap ruangan dengan karakteristik khusus di RSJ seperti ruang
serta tempat yang berkaitan dengan perawatan gawat darurat(UGD), ruang intensif (PICU), ruang
pasien (Rao et al. 2011). khusus anak, geriatri dan ruang khusus NAPZA,
menjadikan perlu untuk dikembangkan format
dokumentasi khusus yang menjawab

235
Merawat Pasien Gangguan Jiwa (Ah. Yusuf, dkk)

kebutuhan tersebut. Format khusus telah bahwa dokumentasi yang telah dilakukan
dicoba untuk dikembangkan untuk proses merupakan kinerja yang harus diperbaiki.
Traigedi UGD, namun masih belum jelas Sehingga kemampuan dokumentasi asuhan
untuk mengukur tingkat kegawatan pasien. keperawatan di RSJ menjadi aspek yang perlu
Format Standar Asuhan Keperawatan di ruang diperhatikan untuk menunjang pencapaian
PICU dan poli khusus Anakmasih belum kompetensi perawat dalam melaksanakan
lengkap karena dalam proses pengembangan asuhan keperawatan secara menyeluruh.
termasuk cara pengisian dengan benar.
Dinamika perubahan dan perkembangan Tema 5. Fasilitas
format dokumentasi menuntut perawat untuk
Fasilitas yang tersedia di RSJ mesih
mudah beradaptasi dan segera memahami
menjadi salah satu hambatan yang dirasakan
perubahan tersebut. Kenyataan yang dihadapi
saat perawat akan menerapkan tindakan sesuai
belum 100% format dokumentasi keperawatan
dengan SPO yang ada. Perawat dalam
tersisi lengkap dan benar, hal tersebut bisa
melaksanakan SPO untuk merawat pasien
disebabkan oleh perbedaan persepsi perawat
gangguan jiwa membutuhkan dukungan fasilitas
dalam pengisian format. Persepsi merupakan
rumah sakit. Fasilitas yang dibutuhkan sebaiknya
proses dimana individu menyeleksi dan
diidentifikasi dan direncanakan berdasarkan kebutuhan
memilih aspek khusus dari berbagai situasi
(Depkes RI, 2008). Dalam upaya tersebut
yang diterima lalu mengorganisasikannya
dibutuhkan perencanaan dari kepala ruangan
dalam sebuah pola yang diwujudkan dalam
untuk menyusun sumber daya yang dimiliki
bentuk sikap dan perilaku.Perbedaan informasi
dan dibutuhkan, menentukan strategi sehingga
yang diterima oleh perawat terkait pengisian
tujuan dapat tercapai(Simamora, 2012).
format dapat menyebabkan cara pengisian
Pelaksanaan kegiatan asuhan keperawatan
yang berbeda bahkan kebingungan sehingga
yang sering terkendala dengan fasilitas
perawat cenderung tidak mengisi format
ruangan adalah pemenuhan kebutuhan
dengan lengkap. Sehingga setiap perubahan
kebersihan diri yang belum dapat dilaksanakan
format yang terjadi harus dilakukan secara
sesuai dengan SPO yang ada. Keterbatasan
terencana dan tersosialisasi dengan baik di
peralatan mandi seperti sabun, shampo,
seluruh personil perawat yang berdinas di
handuk, sikat dan pasta gigi untuk setiap
ruangan rawat pasien.
pasien menstimulasi perawat untuk melakukan
Hambatan lain yang ditemukan dalam
modifikasi sehingga kebutuhan tersebut dapat
melakukan dokumentasi adalah validitas data
terpenuhi. Kondisi pasien gangguan jiwa yang
yang dituliskan masih berdasarkan
belum dapat menjaga barang pribadi untuk
rutinitas.Pelaksanaan asuhan keperawatan
kebersihan diri menjadi faktor yang harus
masih bersifat rutin sehingga tidak sesuai
dipertimbangkan agar kebutuhan kebersihan
prioritas masalah dan kebutuhan pasien,
diri pasien dapat terpenuhi.
sementara evaluasi hanya melakukan evaluasi
formatif yaitu evaluasi yang dilakukan setelah
Tema 6. Manajemen Ruangan
dilaksanakan intervensi keperawatan tertentu,
namun jarang melakukan evaluasi sumatif Manajemen ruangan yang telah
sehingga perkembangan atau kemajuan dilakukan dengan baik masih perlu
masalah keperawatan tidak ditindaklanjuti. Hal mendapatkan perhatian dalam aspek
ini sangat prinsip sehingga bila tidak dilakukan perencanaan, khususnya terkait dengan
akan mempengaruhi kinerja perawat secara deskripsi tugas dalam pelaksanaan terapi
keseluruhan dalam merawat pasien. Kinerja modalitas keperawatan seperti TAK dan
perawat khususnya dalam melakukan PKRS. Uraian tugas tenaga perawatan sangat
dokumentasi keperawatan dapat dipengaruhi penting dan bermanfaat untuk membantu
oleh motivasi(Budiawan, Suarjana & Wijaya, tenaga perawatan mengetahui dengan pasti
2015). Salah satu bentuk motivasi adalah tugasnya, apa yang akan dicapai dan
adanya reward dan punisment yang efektif. mencegah tumpang tindih maupun
Situasi yang didapatkan bahwa dokumentasi terlupakannya suatu tugas (Depkes RI, 1999).
berdasarkan rutinitas yang telah dilakukan oleh Deskripsi tugas sebagai pelaksana kegiatan
perawat belum bersentuhan dengan aspek TAK dan PKRS yang tidak jelas dan tidak
motivasi baik yang bersifat reward maupun terjadwal dengan baik menimbulkan ketidaknyamanan
punishment, sehingga perawat tidak merasakan diantara perawat pelaksana, perawat yang

236
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 230-239

berperan sebagai pemimpin kegiatan berpusat pengawasan sehingga dapat meningkatkan


pada beberapa orang saja, sementara dampak kinerja perawat (Mandagi, Umboh & Rattu,
finansial dikenakan untuk seluruh perawat. 2015). Hasil supervisi tersebut dapat diikuti
Kondisi tersebut menyebabkan ketimpangan oleh sistem reward dan punisment yeang jelas,
dimana perawat yang tidak bertugas menjadi sehingga akan dirasakan efektif dan
enggan untuk bergantian menjadi pemimpin memberikan dampak yang jelas terhadap
TAK maupun PKRS. Situasi tersebut kinerja perawat ruangan.
menumbuhkan ketidaknyamanan dan
mempengaruhi kinerja perawat. Tema 7. Sumber Daya Manusia
Selain itu keterbatasan kewenangan
Pelaksanaan kompetensi perawat di RSJ
perawat untuk melakukan terapi modalitas
dirasakan menemui hambatan akibat dari
yang tidak dipayungi oleh kebijakan rumah
keberagaman kondisi sumber daya manusia
sakit dan ruangan membuat jenis terapi
yang tersedia. Tingkat pendidikan yang
modalitas yang dapat dilaksanakan baru
bervariasi di RSJ dari tingkat SPK, DIII, S1
sebatas TAK dan PKRS. Kepala Ruangan
Ners, Magister dan Spesialis mempengaruhi tingkat
memiliki kewenangan untuk merencanakan
pengetahuan perawat dalam menerapkan asuhan
dan menentukan jenis kegiatan asuhan
keperawatan. Pendidikan merupakan salah satu
keperawatan yang akan diselenggarakan sesuai
kebutuhan dasar manusia yang diperlukan untuk
kebutuhan pasien (Depkes RI, 1999). Kegiatan
pengembangan diri dimana semakin tinggi tingkat
terapi modalitas merupakan salah satu
pendidikan, semakin mudah mereka menerima serta
kebutuhan pasien gangguan jiwa untuk
mengembangkan pengetahuan dan teknologi
mengembalikan fungsi sosial yang hilang
(Grossmann, 1999) dan mendukung mendukung
akibat proses penyakit. Beberapa jenis terapi
produktivitas kerja (Arfrida, 2003). Pencapaian
modalitas seperti terapi kognitif, terapi
kinerja asuhan keperawatan dengan situasi variasi tingkat
perilaku dan terapi keluarga merupakan
pendidikan harus didukung dengan persamaan persepsi
kebutuhan bagi pasien gangguan jiwa, dilain
terhadap pekerjaan yang akan dilakukan. Hambatan
sisi adanya pembatasan kewenangan bahwa
yang ditemui, bahwa perbedaan persepsi masih
terapi modalitas tersebut hanya boleh
sering ditemukan dalam hal menentukan
dilakukan oleh Ners Spesialis Jiwa (Konsesnsus
diagnosa keperawatan dan cara menuliskan di
konferensi nasional keperawatan jiwa) menjadi
format dokumentasi keperawatan perlu
kendala karena jumlah Ners Spesialis yang
dijembatani dengan kegiatan penyamaan
sangat terbatas, terutama di RSJ. Sehingga
persepsi serta didukung oleh ketersediaan
diperlukan adanya kebijakan rumah sakit yang
format dokumentasi dan manual pengisian
dapat memfasilitasi kepala ruangan untuk
yang jelas dan terstandar.
dapat merencanakan kebutuhan terapi
Perbedaan dan variasi masa kerja
modalitas sesuai dengan kebutuhan pasien.
perawat juga mempengaruhi pencapaian
Aspek pengawasan dalam manajemen
kinerja perawat. Pengalaman bekerja
ruangan juga menjadi hambatan bagi perawat
menumbuhkan sikap kerja, kecakapan dan
ruangan dalam menjalankan kompetensi
ketrampilan kerja yang berkualitas (Harsiwi,
sebagai perawat secara optimal. Kepala
2003) dan mempengaruhi kinerja perawat
ruangan berperan dalam melakukan
(Faizin & Winarsih, 2008). Perawat di RSJ
pengawasan dan penilaian pelaksanaan asuhan
dengan masa kerja kurang dari 3 tahun perlu
keperawatan yang telah ditentukan termasuk
mempelajari kebiasaan yang telah ada dan seni
sistem pencatatan dan pelaporan asuhan
dalam mengatasi permasalahan selama
keperawatan dan kegiatan yang dilakukan di
berhadapan dengan pasien gangguan jiwa.
ruang rawat (Depkes RI, 1999). Kegiatan TAK
Sementara perawat yang sudah bekerja lebih
di ruang rehabilitasi telah dilakukan dan hasil
dari 5 tahun juga perlu mendapatkan informasi
evaluasi kemampuan juga telah
terkait penanganan pasien yang efektif
didokumentasikan, namun tidak tersampaikan
berdasar kemajuan informasi dan teknologi,
kepada perawat pengelola pasien. Belum
sehingga pelaksanaan asuhan keperawatan
efektifnya fungsi pengawasan yang sudah
pasien gangguan jiwa menjadi lebih optimal.
dilaksanakan tidak memberikan dampak bagi
Ketersediaan jumlah perawat RSJ
perawat untuk menindaklanjuti hasil evaluasi
apabila di bandingkan dengan jumlah pasien,
yang telah ada. Kepala ruangan perlu untuk
terutama pada shift sore dan malam hari
meningkatakan kegiatan supervisi dalam rangka

237
Merawat Pasien Gangguan Jiwa (Ah. Yusuf, dkk)

menyebabkan beban kerja perawat yang pengobatan. Perawat sebagai tenaga kesehatan
tinggi.Kurniadi (2013) menyebutkan bahwa memiliki peranan penting untuk menjadikan
beban kerja perawat RSJ dipengaruhi oleh pasien patuh terhadap proses pengobatan.
kondisi pasien yang selalu berubah, jumlah Parashos & Xiromeritis (2000) menyebutkan
rerata jam perawatan yang dibutuhkan untuk 54% pasien gangguan jiwa patuh terhadap
pelayanan langsung pasien dan dokumentasi pengobatan akibat adanya hubungan saling
asuhan keperawatan serta banyaknya tugas percaya antara pasien dan tenaga kesehatan.
tambahan yang harus dikerjakan oleh perawat Hubungan saling percaya dapat dibina melalui
sehingga dapat mempengaruhi kinerja perawat kepedulian dan ketulusan perawat dalam
tersebut. Ketidakseimbangan jumlah perawat memahami kondisi sakit pasien. Selain itu
dan pasien yaitumenyebabkan waktu perawat harus memiliki strategi unik untuk
pelayanan langsung ke pasien dirasakan menciptakan kondisi yang nyaman dan tidak
terbatas terutama pada shift sore dan malam menimbulkan kejenuhan selama pemberian
hari. Sementara shift pagi, meskipun jumlah TAK dan Terapi Rehabilitasi, sehingga pasien
perawat yang bertugas lebih banyak, tetapi mau mengikuti program terapi yang telah
beberapa perawat harus merangkap sebagai direncanakan bersama tim kesehatan yang lain.
pejabat struktural atau sebagai penanggung Perawat harus memiliki persepsi positif
jawab dalam kegiatan rumah sakit, sehingga terhadap perilaku pasien dan tidak menyerah
waktu banyak tersita untuk kegiatan selain di untuk melaksanakan TAK dan Terapi
ruang rawat. Selain itu duplikasi beberapa Rehabilitasi sebagai bagian dari komptensi
format dokumentasi keperawatan yang harus perawat di tatanan RSJ.
dilengkapi selama merawat pasien, meskipun
beberapa format sudah dimodifikasi dengan SIMPULAN DAN SARAN
lebih sederhana, menyebabkan semakin
Simpulan
terbatasnya jumlah waktu dalam pelayanan
Persepsi perawat tentang kompetensi
langsung ke pasien. Situasi dan kondisi
perawat dalam merawat pasien gangguan jiwa
tersebut dirasakan sebagai beban oleh perawat
adalah melaksanakan asuhan keperawatan,
dan dapat mempengaruhi kinerja perawat
melaksanakan Standar Prosedur Operasional
dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada
(SPO) di ruangan dan melaksanakan terapi
pasien gangguan jiwa.
modalitas keperawatan jiwa. Perawat dalam
mengaplikasikan kompetensi sebagai perawat jiwa
Tema 8 Kondisi pasien
menjumpai hambatan dalam pelaksanaan dokumentasi
Perawat RSJ dalam menjalankan keperawatan, keterbatasan fasilitas, kurang efektifnya
kompetensi sebagai perawat ruangan juga pelakasanaan manajemen ruangan, keterbatasan
mendapatkan hambatan akibat dari sumber daya manusia serta kondisi pasien yang
ketidakpatuhan pasien dalam menjalani program dirawat.
pengobatan di rumah sakit. Kepatuhan merupakan tingkat
perilaku klien dalam hal pengobatan yang terkait Saran
kemauan mengikuti saran petugas kesehatan
Temuan penelitian ini dapat
(Kyngas, Duffy & Kroll, 2000) . Pasien
dimanfaatkan oleh perawat sebagai bahan
gangguan jiwa cenderung mengalami
untuk mengembangkan desain format
ketidakpatuhan terhadap pengobatan yang
dokumentasi pasien gangguan jiwa yang lebih
telah direncanakan oleh perawat, seperti TAK
efektif dan diharapkan manajemen rumah sakit
dan Terapi Rehabilitasi saat pasien masih
untuk lebih memperhatikan aspek pengarahan
menjalani rawat inap di RSJ. Gangguan jiwa
dan supervisi dalam pelaksanaan kompetensi
yang bersifat kronis dan membutuhkan
perawat. Penelitian yang disarankan untuk
pengobatan dalam jangka waktu lama
dikembangkan berdasarkan temuan penelitian
menumbuhkan ketegangan dan tingkat
adalah melihat hubungan pelaksanaan
kejenuhan pasien sehingga menyebabkan
supervisi keperawatan terhadap peningkatan
ketidakpatuhan. Hussar (1995) menjelaskan
kinerja dan kepuasan perawat.
bahwa pasien dengan penyakit kronis
kemungkinan besar menunjukkan sikap
kooperatif yang rendah terhadap pengobatan
akibat dari perasaan rendah diri akan lamanya

238
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 230-239

KEPUSTAKAAN Kurniadi, A., 2013. Manajemen Keperawatan dan


Prospektifnya: Teori, Konsep dan Aplikasi,
Arfrida, 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia,
Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
Jakarta: Ghalia Indonesia.
Kyngas, H., Duffy, M.E. & Krol, T., 2000. Review
Ballard, K.A., 2012. Issues and Trends in Psychiatric
Conceptual Analysis of Compliance. Journal
Mental Health Nursing. In Psychiatric
of Clinical Nursing, 5(3).
Nursing. Jones and Barlett Publisher, pp. 21
38. Available at: Mandagi, F.M., Umboh, J.M.L. & Rattu, J.A.M.,
http://nursing.jbpub.com/book/psychiatric. 2015. Analisis Faktor-Faktor yang
Berhunungan dengan Kinerja Perawat dalam
Budiawan, I.N., Suarjana, I.K. & Wijaya, I.P.G.,
Menerapkan Asuhan Keperawatan di RSU
2015. Hubungan Kompetensi , Motivasi dan
Bathesda GMIM Tomohon. Jurnal e-
Beban Kerja dengan Kinerja Perawat
Biomedik, 3(3).
Pelaksana di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali.
Public Health and Preventive Medicine Mohtashami, J. et al., 2013. Competency-based
Archive, 3(2). curriculum education in mental health nursing.
Open Journal of Nursing, 3, pp.545551.
Depkes RI, 1999. Pedoman Uraian Tugas Tenaga
Available at:
Keperawatan di Rumah Sakit, Jakarta:
(http://www.scirp.org/journal/ojn/).
Direktorat Pelayanan Medik.
Muhith, A., 2015. Pendidikan Keperawatan Jiwa:
Depkes RI, 2008. Standar Pelayanan Minimal
Teori dan Aplikasi M. Bendetu, ed.,
Rumah Sakit, Jakarta: Departemen Kesehatan
Yogyakarta: CV Andi Offset (Penerbit Andi).
Republik Indonesia.
Nursalam, 2008. Proses Dan Dokumentasi
Faizin, A. & Winarsih, 2008. Hubungan Tingkat
Keperawatan: Konsep dan Praktik, Jakarta:
Pendidikan dan Lama Kerja Perawat dengan
Salemba Medika.
Kinerja Perawat di RSU Pandan Arang
Kabupaten Boyolali. Berita Ilmu Parashos, I.A. & Xiromeritis, K.O., 2000. The
Keperawatan, 1(3), pp.137142. Problem of Non-Compliance in Skizofrenia:
Opinion of Patients and Their Relatives.
Grossmann, M., 1999. The Human Capital Model of
Journal of Clinical Nursing, 4(3).
The Demand for Health, Cambridge: National
Bureau of Economic Research. Rao, T.S.S., Radhakrishnan, R. & Andrade, C.,
2011. Standard operating procedures for
Harsiwi, A.M., 2003. Hubungan Kepemimpinan
clinical practice. Indian Journal of Psychiatry,
Transformasional dan Karekteristik Personal
15(1), pp.13.
Pemimpin. Journal Bisnis dan Ekonomi, 5(1).
Rutledge, D.N. et al., 2013. Hospital Staff Nurse
Hussar, S.A., 1995. Patient Compliance in
Perceptions of Competency to Care for
Remington: The Science and Practice of
Patients With Psychiatric or Behavioral Health
Pharmacy 2nd ed., Philadephia: The
Concerns. Journal for Nurses in Professional
Philadelphia Collage of Pharmacy and
Development, 29(5), pp.255262. Available at:
Science.
www.jnpdonline.com.
Hye-Won, K. & Mi-Ran, K., 2014. Nursing
Simamora, H., 2012. Manajemen Sumber Daya
Competency as Experienced by Hospital
Manusia 3rd ed., Bandung: Pustaka Setia.
Nurses in a Clinical Nursing Unit.
International Journal of Bio-Science and Bio- Yusuf, A., Fitryasari, R. & Nihayati, H.E., 2014.
Technology, 6(4), pp.235244. Buku Ajar Keperawatan Jiwa 1st ed.,
Surabaya: Salemba.
Iyer, P.W. & Comp, N.H., 2005. Dokumentasi
Keperawatan: Suaru Proses Pendekatan
Proses Keperrawatan 3, ed., Jakarta: EGC.

239