Anda di halaman 1dari 10

KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2

DI PUSKESMAS MULYOREJO SURABAYA


(Psychological Well Being In Type 2 Diabetes Mellitus Patients In Mulyorejo Public
Health Center Surabaya)

Rr Dian Tristiana*, Kusnanto*, Ika Yuni Widyawati*, Ah Yusuf*, Rizki Fitryasari*


Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga, Surabaya, Indonesia
Email: diantristiana@fkp.unair.ac.id

ABSTRAK
Pendahuluan: Hidup dengan penyakit kronis seperti diabetes mellitus tipe 2 akan membuat pasien mengalami perubahan
atau ketidakseimbangan antara biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Salah satu aspek psikologi pada pasien dengan
Diabetes mellitus tipe 2 adalah kesejahteraan psikologis (PWB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi
deskripsi PWB pada pasien tipe 2 Diabetes mellitus dalam enam aspek PWB dan PWB memfasilitasi dan faktor penghambat
pada pasien DM tipe 2. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif pendekatan studi kasus. Subjek
penelitian adalah 7 peserta yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur dan
observasi. Analisis data dilakukan dengan analisis tematik. Hasil dan Analisis Penelitian ini dihasilkan 14 tema. Hasil: Hasil
penelitian menunjukkan bahwa proses pasien DM tipe 2 mengalami proses transisi dari kondisi sehat dalam kondisi sakit.
Proses transisi dimulai dengan respon kehilangan siklik yang mempengaruhi tipe 2 DM pasien untuk kontrol diri dan
membuat hak pengambilan keputusan untuk perawatan diri. Pengendalian diri akan membuat tipe 2 pasien DM mampu
beradaptasi dan terlibat dengan pengalaman baru yang menjadi kebiasaan baru untuk tipe 2 pasien DM dan akan
memfasilitasi tipe 2 pasien DM dalam beradaptasi dengan lingkungan internal dan eksternal dan membuat pasien DM tipe 2
memiliki harapan positif dalam hidup mereka. Diskusi: Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi staf kesehatan profesional
untuk membuat penilaian tentang PWB di DM tipe 2 pasien, perawat diharapkan dapat membantu pasien dalam transisi
dengan kondisi DM tipe 2.
Kata kunci: psikologis kesejahteraan, tipe 2 Diabetes mellitus, kualitatif

ABSTRACT
Introduction: Living with chronic diseases such as Diabetes mellitus type 2 will make patients experience change or
imbalance include biological, psychological, social and spiritual. One of psychology aspects in patients with Diabetes
mellitus type 2 is psychological well being (PWB). The purpose of this research was to explore the description of PWB in
patients of type 2 Diabetes mellitus in six aspects of PWB and PWB facilitate and inhibitor factors in type 2 DM patients.
Methods: This research used qualitative design research with case studies approach. The subject of research was seven
participants who met the inclusion criteria. Data collection was done by structured interview and observation. Data analysis
was done by thematic analysis. Results: This study generated 14 themes. The result showed that the process of type 2 DM
patients subjected to the process of transition from a healthy condition into ill condition. The transition process started with
cyclic lose response which influence type 2 DM patient to self control and make a right decision-making to self care. Self-
control would make type 2 DM patients able to adapt and engage with new experiences that become a new habit for type 2
DM patients and will facilitate type 2 DM patients in adapting to the internal and external environment and make type 2 DM
patients have a positive hope in their life. Discussio: finding in this study would hopefully be beneficial for professional
health staff to make assessment about PWB in type 2 DM patients, nurse hopefully can assist patients in transition with the
condition of type 2 DM.
Key words: psychological well being, type 2 Diabetes mellitus, qualitative
_______________________________________________________________________________

PENDAHULUAN meliputi biologi, psikologi, sosial dan spiritual pasien


serta memberikan dampak pada kehidupan keluarga
Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu
pasien (WHO, 2014).
penyakit kronis dengan angka kejadian tinggi dimana
Variabel psikologis merupakan hal yang
WHO memperkirakan penyakit DM akan menjadi
penting karena kepercayaan akan kesehatan,
epidemi global pada abad 21 dan 70% kasus DM ada di
pengetahuan dan perilaku pada pasien DM akan
negara-negara berkembang (Tol et al., 2013) termasuk
mempengaruhi pasien DM dalam mengontrol
diantaranya adalah negara Indonesia. Diagnosa DM tipe
penyakitnya (Miley, 1999). Hasil wawancara
2 serta banyaknya perawatan yang dilakukan akan
yang dilakukan pada 18 April 2014 di
menimbulkan perubahan atau ketidakseimbangan yang
puskesmas Mulyorejo, didapatkan bahwa 3 dari
147
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 147-156

4 pasien menyatakan bahwa pasien jenuh penanganannya. Hidup dengan DM berarti beradaptasi
dengan rutinitas yang mereka lakukan sehingga dengan kondisi DM, mengembangkan pola dan
menyebabkan pasien tidak patuh dengan pola beradaptasi dengan perubahan.
diet dan aktivitas fisik yang dilakukan. Dua Psychological well being yang positif
orang pasien mengatakan putus asa dengan tidak muncul dengan sendirinya pada pasien
penyakit DM yang diderita, terkadang tidak DM tipe 2. Banyak faktor yang mempengaruhi
mau makan karena takut dengan komplikasi kondisi PWB pasien DM tipe 2. Respon
yang akan terjadi. Seorang pasien mengatakan psikologis pasien DM tipe 2 merupakan hal
mengurangi aktivitas berkumpul dengan teman- yang subyektif dan unik sesuai pengalaman
temannya. Seorang pasien masih belum mau individu. Proses transisi tiap individu juga
menerima jika dirinya terkena DM. merupakan hal yang subyektif, oleh sebab itu
Perawatan jangka panjang yang harus peneliti perlu untuk menggunakan penelitian
dijalani pasien DM sangat sulit dikontrol secara kualitatif untuk menggali PWB pada pasien
efektif, sehingga sangat penting memperhatikan DM tipe 2 serta faktor apa saja yang
aspek psikologis selain aspek fisik pasien DM mempengaruhi PWB pada pasien DM tipe 2.
tipe 2. Psychological Well Being (PWB)
merupakan salah satu bagian dari area psikologi BAHAN DAN METODE
positif umum yang disebut sebagai subjective
Peneliti ingin mengeksplorasi kondisi
well being (SWB) yang merupakan suatu
PWB pada pasien DM tipe 2 dari subyektivitas
ukuran berfungsi secara positif dalam tingkat
partisipan yang menderita DM tipe 2.
individu. Pasien DM tipe 2 yang memiliki PWB
Pengalaman partisipan bersifat unik sesuai
yang rendah akan berakibat pada rendahnya
dengan karakteristik partisipan sehingga tidak
tingkat perawatan diri (self care) (Peyrot et al.,
dapat digambarkan secara kuantitatif. Penelitian
2005). Tingkat perawatan diri yang rendah akan
ini menggunakan metode kualitatif dengan
mengakibatkan peningkatan terjadinya komplikasi
pendekatan case study.
(Davis, 2010; Kusnanto, 2013). Menurut WHO,
Alat bantu pangambilan data penelitian
Psychological Well Being adalah sebuah appraisal
pada penelitian kualitatif dengan pendekatan
subyektif fungsi seorang individu dalam realisasi-
studi kasus ini sebagai berikut: pedoman
diri (Keyes, 2013). Psychological Well Being
wawancara, catatan lapangan/field note (mencatat data yang
(PWB) merupakan salah satu bagian dari area
didapatkan ketika wawancara): seperti ekspresi partisipan
psikologi positif umum yang disebut sebagai
dan lainnya dan recorder/perekam berupa voice recorder.
subjective well being (SWB) yang mana
Panduan wawancara pada penelitian ini
merupakan suatu ukuran berfungsi secara
dikembangkan dari teori psychological well
positif dalam tingkat individu. Pengukuran
being dari Ryff dan berpedoman pada teori
PWB akan memberikan petunjuk mengenai apa
transisi Meleis.
yang sedang terjadi pada pasien dalam
Pengambilan data dengan metode
mengelola penyakitnya dan memberikan
triangulasi yaitu wawancara dan observasi.
gambaran pada petugas kesehatan tentang cara
Subyek penelitian yang menjadi partisipan
pendekatan kepada pasien dalam meningkatkan
sesuai dengan kriteria inklusi penelitian dan
kontrol (Miley, 1999).
diambil secara snowball sampling.
Konsep transisi memiliki kaitan yang erat
Tahapan analisis data pada penelitian ini
dengan kesehatan dan well being karena
menggunakan metode Colaizzi (1978) dalam
mencakup adaptasi proses psikologis yang
(Streubert & Carpenter, 2003).
harus dilakukan oleh pasien (Meleis, Sawyer,
Im, Messias, & Schumacher, 2000). Transisi
HASIL
dari kondisi sehat ke kondisi sakit pada pasien
DM tipe 2 diperlukan untuk keberhasilan Penelitian ini menghasilkan 14 (empat
manajemen diri pasien DM tipe 2 (McEwen, belas) tema yang dijabarkan sesuai tujuan
Baird, Pasvogel, & Gallegos, 2007). Proses penelitian. Gambaran kesejahteraan psikologis
transisi tersebut telah dijelaskan oleh Kralik et pasien Diabetes meliitus tipe 2 dapat
al (2004) dalam (Jutterstrom, 2013) sebagai digambarkan dari tema respons kehilangan,
sebuah proses yang harus dialami individu kontrol/kendali diri, pengambilan keputusan,
untuk mencapai keseimbangan dalam penyesuaian diri, keterlibatan, adaptasi
memaknai kehidupan dan pada waktu yang lingkungan, kemampuan berhubungan dengan
sama mengalami dampak dari penyakit dan orang lain dan kesembuhan. Faktor yang

148
Kesejahteraan Psikologis Pasien DM Tipe 2 (Rr. Dian, dkk)

mempengaruhi kondisi kesejahteraan psikologi saya makan pokoknya saya kalo di


pasien Diabetes mellitus tipe 2 dapat mantenan gitu saya nggak pernah ngambil
digambarkan melalui tema dukungan sosial, mbak (P2)
sumber informasi, pengetahuan, sikap, persepsi . suami saya tak kasih tahu kamu
dan kepercayaan/keyakinan, ketersediaan kalo pengen njajan gak popo titipo aku tak
sumber daya pribadi, dan layanan kesehatan. nganu aku tak gak, punya panganan sego
jagung tak urap kelopo saya gitu gak pa pa
Penerimaan diri daripada saya sakit mbak jadi saya legowo.
(P1)
Tema 1: Respon Kehilangan
..kadang menerima kadang kalo
Hubungan Positif dengan Orang Lain
waktu pas rodok rodok galau yo gitu cik enakee
(Positive relation with other)
orang yang nggak berpenyakit. (P7)
.dijalani saja mbakhidup mati kan Tema 7: Hubungan dengan orang lain
takdir allah (P4) sekarang tambah semangat
Otonomi (Autonomy) (kegiatan di luar rumah) (P2)
Tema 2: Kendali/kontrol pribadi .kadang gitu heem menyesuaikan
iya saya ngatur sendiri (diet). (P1) heem kalau pas endak gitu (hubungan seks) ya
.daripada ngobatin mending saya gulanya bagus gitu ya anu santai gitu,
nggak makan (makanan yang dilarang dokter) pokoknya kudu nyadar.. (P1)
wis. (P3)
.kalo bisa saya menjaga sampai
Tujuan Hidup (Purpose of life)
akhir hayat saya kalo bisa dijaga. (P4)
Tema 3: Pengambilan keputusan Tema 8: Harapan
.saya sendiri sebagai pelakunya . aku tak diet supoyo engko sampe
saya kan yang tahu diri saya yang lebih saya iso jalan-jalan maneh karo cucu ambek anak
sendiri (berkaitan dengan perawatan) gitu (P1)
(P1)
Faktor Pendorong dan Penghambat
. daripada saya mengobati itu lebih lebih
baik saya taat (P3) Tema 9: Dukungan social
.tambah anak anak ini tambah buk
Pertumbuhan pribadi (Personal growth) ati ati lho yo iyo hehehemalah makan ati ati
Tema 4: Penyesuaian diri buk biar sehat iya anak anak begitu, (P1)
trus sekarang saya pegang dokter nah saya itu dah semangat
pokoknya saya kalo makan gini tu gitu jadi saya semangat hidup harus terus saya itu wis
trus tak buat kunci gitu lho mbak, heheh...kunci aksaya kalo terasa itu tho ibu ndak boleh
tak buat kunci oo berarti aku sekarang sudah (mengibaskan tangan) kepikiran begitu, orang
lain mungkin (P1) hidup harus semangat ininya (P3)
.makan gorengan orang yang jual itu Cuma mengingatkan bu ati-ati.. (P2)
tapi yo tetep aja nyamilnya itu saya nggak bisa setiap bulan tu ada yang mbantu
dok saya lebih baik ndak makan pokoknya lebih susu ituuu diabetes yang satu bantu anlene.
baik meninggalkan makan daripada (P4)
meninggalkan nyamilnya itu aku bilang gitu
(P7) Sumber Informasi
Tema 5: keterlibatan Tema 10: Sumber informasi
.diibaratkan kayak ikut KB aja kalo dokter, heem, dokter, (informasi
saya ikut KB kan setiap hari (minum obat), oo yang diperoleh) (P1)
gitu, (P4) .ahli gizi di puskesmas itu suruh
..dari dulu saya tetap gak bisa makan ini lho apa sego jaguung sego jaguung
merubah pola makan. (P7) sudah ya. (P2)
Penguasaan Lingkungan (Environment
mastery) Pengetahuan
Tema 6: Adaptasi Lingkungan Tema 11: Pengetahuan
Makannya itu kalo peraturannya tujuh
sendok , jadi kalo pagi ya pagi jam umpamanya
149
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 147-156

saya sarapan jam tujuh ya lima jam jadi PEMBAHASAN


delapan Sembilan sepuluh (menghitung
menggunakan tangan) sepuluh ini snak, heemm Respons Kehilangan
jadi nggak boleh makan snek snek lain, jadi nek
Penelitian ini menemukan bahwa tahapan
kalo sudah sarapan ya jam tujuh ya jam
pada respons kehilangan mulai terjadi saat
sepuluh itu makan roti apa makan apa gitu kalo
pasien mendengar diagnosa penyakit DM tipe 2.
buah mungkin habis makan nasi nggak pa pa
Tahapan atau fase dari kehilangan ini
heem tapi sneknya tiga jam sesudah itu tiga jam
teridentifikasi terdiri dari lima tahap yaitu
ya jadi jam tujuh ya lapan Sembilan sepuluh
menyangkal, marah, menawar, depresi dan
sebelas dua belas lima jam ini makan lagi tapi
menerima. Tahapan ini sama dengan tahapan
minum obat dulu heem gitu (P1)
proses kehilangan yang dikembangkan oleh
Sikap, Persepsi dan Kepercayaan (Kubbler-Ross, 2005) yang terdiri dari lima
Komitmen tahap. Partisipan tujuh telah berada dalam fase
penerimaan, namun belum mengakhiri respon
Pada sub tema komitmen, partisipan
kehilangan pada tahap menerima namun
menyampaikan komitmennya dalam melakukan
perasaan tersebut kembali dirasakan oleh
perawatan yang diungkapkan melaui transkrip
partisipan kembali yaitu pada tahap tawar
wawancara di bawah ini:
menawar.
jadi apapun pokoknya saya
Partisipan tujuh mengalami masalah yang
jalankan perintahnya dokter saya diet gitu
berkaitan dengan kondisi penyakitnya. Temuan
aja (P1)
penelitian ini sejalan dengan penelitian Blaska
jangan sampe sakit lagi jangan
(1998) dalam (Fitryasari, 2009) tentang model
sampe makan makanan yang menimbulkan
siklus berduka, yaitu suatu model dimana
sakit.... (P3)
mengalami perasaan berduka sesaat namun
Hal yang sulit dipatuhi
terus berulang. Mallow dan Betchel (1999)
.orang diabetes itu ya emang
dalam Collins (2008) juga menyatakan hal yang
gejalanya tidak bisa untuk mengendalikan diri
sama yaitu merupakan bentuk berduka kronis,
dalam hal makan itu ya iya kalo makan makan
yaitu perasaan berduka yang dialami secara
yang biasa tu utuh nggak tak jamah aku yo
pervasif, permanen, berulang dan terus dialami
ngombe es teh halah es teh apa malah malah
sepanjang masa. Hal ini sejalan dengan
penyakit tapi kalo enak enak es teller
penelitian (Nash, 2014) yang menunjukkan
apamakan akuu yaa percuma ngombe gak
bahwa proses kehilangan berlangsung seumur
enak nggarai penyakit lah sing enak sisan gitu
hidup, pasien yang didiagnosa DM tipe 2 dapat
aku (P5)
kembali lagi pada tahapan sebelumnya, terjebak
Strategi meningkatkan kesehatan pada tahapan menyangkal maupun tahapan
diminumi atau kadang itu minum itu lainnya. Partisipan yang masih belum ke
lho mahkota dewa itu bisa, bisa turun (P6) tahapan penerimaan masih memiliki tingkat
perawatan diri yang rendah. Hal ini sejalan
Ketersediaan Sumber Daya Pribadi dengan penelitian (Schmitt et al., 2014) yang
saya sakit itu langsung beli alatnya menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat
saya cek sendiri (P6) penolakan diagnosa Diabetes mellitus tipe 2
didukung kalo misalnya saya minta berkaitan erat dengan koping yang rendah,
cek up gitu ya dikasih uang Sembilan ratus penurunan tingkat perawatan diri, peningkatan
tujuh ratus tapi gak mau mengantar (P4) distres DM tipe 2 dan penurunan kontrol
glikemik.
Layanan kesehatan
dokter umum (P2) Kontrol Pribadi
dokter spesialis (P3)
.ke puskesmas (P7) Martin dan Pear (1999) menjelaskan
.apotek (P1) bahwa kontrol diri adalah ketika individu
rumah sakit (P4) melakukan upaya tertentu yang dapat
mengatur lingkungan sekitarnya untuk
mengarahkan konsekuensi perilakunya sendiri.
Kendali diri diartikan sebagai pengaturan diri

150
Kesejahteraan Psikologis Pasien DM Tipe 2 (Rr. Dian, dkk)

dalam berperilaku (Ningrum & Hasanat, 2010). tingkat usaha dalam pengambilan keputusan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol dalam melakukan suatu perilaku (Evans et al.,
diri yang rendah berhubungan dengan 2011).
penurunan tingkat kepatuhan terhadap aktivitas
dan diet (Hagger, Panetta, Leung, & G.Wang,
Penyesuaian Diri
2013).
Hasil penelitian (Basyiroh, 2011) Menurut White dalam (Bharatasari,
menunjukkan bahwa pasien dengan kontrol diri 2008), penyesuaian diri atau disebut juga
yang baik cenderung lebih mampu mematuhi adaptasi adalah proses penyesuaian terhadap
pengobatan. Empat partisipan mampu suatu perubahan. Penyesuaian diri pasien DM
mengontrol dirinya dalam hal diet sedangkan tipe 2 yang efektif terukur dari seberapa baik
ketiga partisipan cenderung tidak mampu seseorang mengatasi perubahan yang terjadi
mengontrol dirinya sehingga tidak mampu dalam hidupnya. Menurut Haber dan Runyon
mengatur diet yang dianjurkan. Hal ini sejalan dalam (Hasibuan, 2010), penyesuaian diri yang
dengan hasil penelitian yang telah dilakukan efektif adalah dengan menerima keterbatasan
Hagger et al (2013) dan Basyiroh (2011). yang tidak bisa berubah dan secara aktif
memodifikasi keterbatasan yang masih bisa
Pengambilan Keputusan diubah. Keterbatasan yang tidak bisa diubah
pada pasien DM tipe 2 adalah kondisi penyakit
Pasien DM tipe 2 yang memiliki kontrol
DM tipe 2 yang diderita. Pasien DM tipe 2
diri maka pengambilan keputusannya juga
harus melakukan penyesuaian diri yang bisa
positif hal ini sesuai dengan penelitian
diubah seperti melakukan perubahan pola
sebelumnya dimana kontrol diri mempengaruhi
makan, aktivitas, obat, kontrol serta perawatan
tingkat usaha dalam pengambilan keputusan
lain sesuai dengan yang dianjurkan dalam
dalam melakukan suatu perilaku (Evans, Dillon,
perawatan diri pasien DM tipe 2.
Goldin, & Krueger, 2011).
Tahapan pengambilan keputusan menurut
Keterlibatan
Simon (1980) dalam Kadarsah (2002) terdiri
dari empat tahap yaitu: (1) Intelligence, tahap Perubahan dalam identitas, peran,
ini merupakan proses penelusuran dan hubungan, kemampuan dan pola perilaku
pendeteksian dari lingkup problematika serta diharapkan membawa ke dalam perubahan
proses pengenalan masalah; (2) Design, tahap proses internal sama halnya dengan proses
ini adalah proses menemukan, mengembangkan, dan eksternal (Tomey & Alligood, 2010). Partisipan
menganalisis alternatif tindakan yang bisa yang sudah terlibat dengan perubahan perilaku
dilakukan. Tahap ini meliputi proses untuk yang baru menganggap perubahan tersebut
mengerti masalah, menurunkan solusi, dan sebagai suatu kebiasaan baru. Hal ini sejalan
menguji kelayakan solusi, (3) Choice, tahap ini dengan hasil penelitian (Graffigna, Barello,
dilakukan proses pemilihan diantara berbagai Libreri, & Bosio, 2014) yang menyatakan
alternatif tindakan yang mungkin akan bahwa keterlibatan (engagement) memainkan
dijalankan. Tahap ini meliputi pencarian, peran penting dalam meningkatkan perilaku
evaluasi, dan rekomendasi solusi yang sesuai kesehatan dan keluaran klinis.
untuk model yang telah dibuat; (4) Penyesuaian diri pasien DM tipe 2 yang
Implementation, tahap ini adalah tahap efektif terukur dari seberapa baik seseorang
pelaksanaan dari keputusan yang telah diambil. mengatasi perubahan yang terjadi dalam
Pada tahap ini diperlukan untuk menyusun hidupnya. Menurut Haber dan Runyon dalam
serangkaian tindakan yang terencana, sehingga Hasibuan (2010), penyesuaian diri yang efektif
hasil keputusan dapat dipantau dan disesuaikan adalah dengan menerima keterbatasan yang
apabila diperlukan perbaikan. tidak bisa berubah dan secara aktif
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua memodifikasi keterbatasan yang masih bisa
partisipan sudah dalam tahap implementasi diubah. Keterbatasan yang tidak bisa diubah
yaitu dengan menerapkan perawatan diabetes. pada pasien DM tipe 2 adalah kondisi penyakit
Pasien DM tipe 2 yang memiliki kontrol diri DM tipe 2 yang diderita. Pasien DM tipe 2
yang baik maka pengambilan keputusannya harus melakukan penyesuaian diri yang bisa
juga positif hal ini sesuai dengan penelitian diubah seperti melakukan perubahan pola
sebelumnya dimana kontrol diri mempengaruhi makan, aktivitas, obat, kontrol serta perawatan

151
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 147-156

lain sesuai dengan yang dianjurkan dalam Kondisi transisi adalah keadaan yang
perawatan diri pasien DM tipe 2. mempengaruhi cara seseorang melalui sebuah
proses transisi. kondisi transisi ini diartikan
Adaptasi Lingkungan sebagai faktor pendorong dan penghambat
proses transisi. Kondisi transisi ini mencakup
Seseorang yang sehat dapat mengenali
faktor personal, faktor komunitas, atau faktor
kebutuhan personalnya dan juga merasa mampu
sosial yang mungkin memfasilitasi atau
untuk berperan aktif dalam mendapatkan apa
menghambat proses transisi dan hasil yang
yang diinginkan dari lingkungannya (Keyes,
sehat. Dalam penelitian ini didapatkan faktor
2005). Partisipan dengan penguasaan
internal dan eksternal seperti dukungan sosial,
lingkungan yang negatif cenderung tidak
sumber informasi, pengetahuan, sikap, nilai dan
mampu berperan aktif dalam mendapatkan apa
keyakinan, ketersedian sumber daya pribadi,
yang diinginkan, partisipan cenderung
dan layanan kesehatan. Indikator hasil yang
mengikuti lingkungannya. Pasien DM tipe 2
akan dicapai berupa kondisi PWB yang baik
harus mampu mengatur lingkungan internal dan
yang diartikan sebagai pencapaian suatu
eksternal agar dapat mendukung perawatan diri
keterampilan peran dan kenyamanan dengan
terkait penyakit DM tipe 2 yang diderita.
perilaku yang diperlukan dengan situasi yang
Hubungan dengan Orang Lain baru . Keperawatan terapeutik yang diharapkan
(Ryff, 1989) menggambarkan individu dalam penelitian ini yaitu kemampuan perawat
yang memiliki hubungan yang positif dengan dalam pengkajian kesiapan dan persiapan
orang lain sebagai individu yang memiliki proses transisi pasien DM tipe 2.
hubungan yang hangat, memuaskan, dan saling Dukungan sosial merupakan bentuk
percaya satu sama lain, memperhatian interaksi antar individu yang memberikan
kesejahteraan orang sekitarnya, mampu kenyamanan fisik dan psikologis melalui
berempati dan mengasihi serta terlibat dalam terpenuhinya kebutuhan akan afeksi serta
hubungan timbal balik. Relasi yang positif keamanan. Hasil penelitian Yuan et al (2009)
dengan orang lain juga menyatakan adanya dalam (Antari, Rasdini, & Triyani, n.d.)
kepuasan terhadap kontak sosial dan relasi Dukungan sosial dapat berperan meningkatkan
(Keyes, 2005). kualitas hidup pada penderita Diabetes mellitus
Kemampuan berhubungan dengan orang tipe 2 dengan meregulasi proses psikologis dan
lain tidak berkaitan dengan diagnosa DM tipe 2. memfasilitasi perubahan perilaku. Bentuk-
Partisipan tetap mampu berhubungan dengan Bentuk Dukungan Sosial menurut Sarafino
orang lain walaupun terjadi perubahan emosi (2002) dalam (Pudner, 2005) yaitu: 1)
yang dirasakan seperti yang diungkapkan oleh Dukungan emosional yang mencakup ungkapan
partisipan dua dan tujuh. Rasa cepat marah dan empati, kepedulian dan perhatian terhadap
tidak mampu mengendalikan diri setelah orang yang bersangkutan. Dukungan emosional
didiagnosa DM tipe 2 diungkapkan oleh merupakan ekspresi dari afeksi, kepercayaan,
partisipan tujuh, namun partisipan masih bisa perhatian, dan perasaan didengarkan. Kesediaan
berhubungan baik dengan orang lain. Kondisi untuk mendengar keluhan seseorang akan
hubungan dengan orang lain, adanya konflik memberikan dampak positif sebagai sarana
dan masalah antara pasien DM tipe 2 dengan pelepasan emosi, mengurangi kecemasan,
orang lain yang mempengaruhi pasien DM tipe membuat individu merasa nyaman, tenteram,
2 dalam melakukan perawatan diri. diperhatikan, serta dicintai saat menghadapi
berbagai tekanan dalam hidup mereka;
Harapan 2)Dukungan instrumental mencakup bantuan
Seligman (2005) dalam (Maghfirah, langsung, dapat berupa jasa, waktu, atau uang.
2013) menyatakan bahwa optimisme dan Misalnya pinjaman uang bagi individu atau
harapan memberikan daya tahan yang lebih baik menghibur saat individu mengalami stres.
dalam menghadapi depresi ketika musibah Dukungan ini membantu individu dalam
terjadi di masa depan. Individu dikatakan melaksanakan aktivitasnya; 3) Dukungan
memiliki tujuan dalam hidup dan perasaan informatif mencakup pemberian nasehat,
terarah, merasakan makna dan tujuan dari petunjuk-petunjuk, saran-saran, informasi atau
kehidupan yang sedang dan telah dilaluinya umpan balik. Dukungan ini membantu individu
serta mempunyai tujuan hidup. mengatasi masalah dengan cara memperluas
wawasan dan pemahaman individu terhadap

152
Kesejahteraan Psikologis Pasien DM Tipe 2 (Rr. Dian, dkk)

masalah yang dihadapi. Informasi tersebut Ketersediaan Sumber Daya Pribadi


diperlukan untuk mengambil keputusan dan
(Cumming & Mays, 2011) mengungkapkan
memecahkan masalah secara praktis. Dukungan
bahwa kemampuan individu membayar biaya
informatif ini juga membantu individu
pelayanan dan pemeliharaan kesehatan akan
mengambil keputusan karena mencakup
mempengaruhi bagaimana mereka menggunakan
mekanisme penyediaan informasi, pemberian
pelayanan kesehatan. Penelitian serupa juga
nasihat, dan petunjuk; 4) ukungan persahabatan
sejalan dengan (Clark & Utz, 2014) yang
mencakup kesediaan waktu orang lain untuk
menyatakan bahwa biaya berkaitan dengan
menghabiskan waktu atau bersama dengan
manajemen diabetes yang dilakukan oleh pasien
individu, dengan demikian akan memberikan
DM tipe 2.
rasa keanggotaan dari suatu kelompok yang
saling berbagi minat dan melakukan aktivitas
Layanan Kesehatan
sosial bersama.
Beberapa alasan memilih layanan kesehatan
Sumber Informasi adalah dari faktor biaya, kelengkapan sarana
pemeriksaan dan jarak tempuh serta keramahan
Peran sumber informasi adalah meningkatkan
petugas kesehatan. Komunikasi antara pasien
pengetahuan pasien. Pengetahuan dan informasi
dengan petugas kesehatan juga mempengaruhi
dapat memotivasi pasien untuk mencari
pemilihan sarana kesehatan oleh pasien DM
perawatan yang tepat dan menginspirasi pasien
tipe 2.
melakukan sesutau yang berkaitan dengan penyakitnya
(Kiberenge, Ndegwa, & Muchemi, 2010).
Integrasi Hasil Penelitian pada Model Teori
Transisi Meleis
Sikap, Persepsi dan Kepercayaan
Transisi dari kondisi sehat ke kondisi sakit akan
Green dalam Nursalam (2013) menjelaskan
mempengaruhi pasien Diabetes mellitus tipe 2.
faktor-faktor predisposisi merupakan faktor internal
Suatu proses transisi dipengaruhi oleh faktor
yang ada pada diri individu, keluarga, kelompok atau
pendorong dan faktor penghambat dalam
masyarakat yang mempermudah individu untuk
transisi itu sendiri. Suatu proses transisi diawali
berperilaku yang terwujud dalam pengetahuan,
dengan tipe dan pola transisi, dimana dalam
sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan
penelitian ini diartikan sebagai perubahan dari
norma.
kondisi sehat dan sakit yaitu diagnosa penyakit
Kegagalan untuk mematuhi seharusnya
DM tipe 2. Perubahan tersebut menyebabkan
tidak semata mata disalahkan pada pasien,
suatu respons terhadap kondisi transisi yaitu
karena kepatuhan adalah produk dari perilaku
suatu respons kehilangan kondisi sehat dimana
dalam kaitannya dengan pengobatan, perilaku
setiap orang memiliki respons yang berbeda.
penyedia perawatan kesehatan, serta kondisi
Kondisi transisi adalah keadaan yang
lingkungan dimana pasien dan penyedia bekerja
mempengaruhi cara seseorang melalui sebuah
secara individual dan bersama sama. Kepatuhan
proses transisi. kondisi transisi ini diartikan
harus dilihat sebagai akhir produk dari
sebagai faktor pendorong dan penghambat
hubungan yang dibangun atas hormat,
proses transisi. Kondisi transisi ini mencakup
partisipasi aktif dan kemitraan antara pasien dan
faktor personal, faktor komunitas, atau faktor
perawatan kesehatan professional, yang tidak
sosial yang mungkin memfasilitasi atau
melibatkan paksaan atau manipulasi dari salah
menghambat proses transisi dan hasil yang
satu pihak (Melastuti, 2013). Kamaluddin
sehat. Dalam penelitian ini didapatkan faktor
(2009) juga menjelaskan ada beberapa faktor
internal dan eksternal seperti dukungan sosial,
yang bisa mempengaruhi kepatuhan pasien
sumber informasi, pengetahuan, sikap, nilai dan
diantaranya faktor pendidikan, konsep diri,
keyakinan, ketersedian sumber daya pribadi,
pengetahuan pasien, keterlibatan tenaga
dan layanan kesehatan. Indikator hasil yang
kesehatan dan keterlibatan keluarga. Diperlukan
akan dicapai berupa kondisi PWB yang baik
kerja sama antara pasien, keluarga dan tenaga
yang diartikan sebagai pencapaian suatu
kesehatan untuk tetap memberikan dukungan
keterampilan peran dan kenyamanan dengan
kepada pasien agar pasien mempunyai motivasi
perilaku yang diperlukan dengan situasi yang
dalam meningkatkan kepatuhan.
baru . Keperawatan terapeutik yang diharapkan
dalam penelitian ini yaitu kemampuan perawat

153
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 147-156

dalam pengkajian kesiapan dan persiapan perawatan diri merupakan suatu proses
proses transisi pasien DM tipe 2. penyesuaian diri dimana pasien secara bertahap
akan terlibat. Petugas kesehatan juga sebaiknya
SIMPULAN DAN SARAN mengkaji prioritas seseorang dan menemukan
cara agar prioritas itu dapat sejalan dengan
Pasien dengan DM tipe 2 akan mengalami proses
perawatan diri yang akan dilakukan oleh pasien
transisi dari kondisi sehat ke kondisi sakit yang akan
DM tipe 2.
mempengaruhi kesejahteraan psikologisnya. Sejak awal
Pendidikan ilmu keperawatan diharapkan
mengetahui diagnosa terkena DM tipe 2, pasien
mampu memanfaatkan hasil penelitian ini
DM tipe 2 akan mengalami respons kehilangan
sebagai topik bahasan dalam kelas maupun
melalui lima tahapan yaitu menyangkal, marah,
praktik di masyarakat secara langsung. Proses
menawar, depresi dan menerima. Perasaan
transisi diperlukan oleh pasien dengan penyakit
kehilangan ini kembali terjadi secara fluktuatif
kronis yaitu DM tipe 2 untuk mencapai kondisi
dan berulang meskipun pasien DM tipe 2 telah
pencapaian penuh dan keterampilan yang
mencapai tahapan menerima yaitu pada saat
optimal. Perawat dapat mengembangkan
pasien DM tipe 2 menemui suatu keadaan yang
pendekatan psikologis pada pasien yang baru
menyebabkan kembali perasaan kehilangan
didiagnosa DM tipe 2 serta mendampingi
tersebut.
proses transisi hingga pasien DM tipe 2 dapat
Pasien dengan DM tipe 2 dalam mencapai kondisi
mandiri melakukan perawatan diri.
PWB yang positif dipengaruhi oleh faktor internal
Peneliti disarankan juga menggali lebih
dan faktor eksternal. Faktor internal berupa
jauh lagi hubungan antara penerimaan diri
pengetahuan, sikap, nilai dan kepercayaan,
pasien DM tipe 2 dengan kontrol diri, proses
ketersediaan sumber daya pribadi. Faktor
aktivasi pasien DM tipe 2 hingga terjadi
internal ini berasal dari diri pasien DM tipe 2
engagement perawatan diri, dimensi-dimensi
sendiri serta dari keluarga. Faktor eksternal
engagement pada pasien DM tipe 2, waktu yang
berupa dukungan sosial, sumber informasi, dan
diperlukan pasien DM tipe 2 untuk melalui
layanan kesehatan.
tahapan kehilangan, melakukan adaptasi dengan
Secara umum dapat disimpulkan, bahwa
perilaku baru, waktu yang diperlukan pasien
seluruh tema yang didapat dari penelitian ini
DM tipe 2 dalam proses engagement, perceived
dapat dijelaskan dalam teori transisi Meleis.
support yang dirasakan oleh pasien DM tipe 2
Seseorang yang didiagnosa penyakit DM tipe 2
terhadap kondisi PWB dan kepatuhan
memerlukan suatu proses transisi agar mencapai
mengikuti perawatan diri.
suatu keterampilan peran dan kenyamanan
Metodologi penelitian yang telah
dengan perilaku yang diperlukan dengan situasi
digunakan dalam penelitian ini disarankan
yang baru. Proses transisi ini diawali oleh
untuk lebih ditingkatkan untuk menambah
adanya dasar transisi yaitu tipe transisi yang
variasi data penelitian yang diperoleh. Terutama
berupa diagnosa penyakit DM tipe 2, kondisi
dalam hal penetapan sampel seperti keluarga
transisi yang berupa faktor pendorong dan
pasien, lingkungan sekitar pasien serta paetugas
penghambat proses transisi, pola respons pasien
kesehatan.
DM tipe 2 yang merupakan cara pasien
memanajemen diri dalam melakukan perubahan
ETHICAL CLEARANCE
serta indikator hasil yang berupa kesejahteraan
psikologis (PWB) yang positif. Penelitian ini telah menerima ethical
Pihak puskesmas sebagai tempat pasien approval oleh komisi etik penelitian kesehatan
DM tipe 2 melakukan pemeriksaan terutama fakultas kesehatan masyarakat universitas
perawat hendaknya menyediakan waktu untuk airlangga Surabaya No 421-KEPK
melakukan pengkajian terkait perubahan yang
akan dilakukan oleh pasien DM tipe 2 sejak KEPUSTAKAAN
awal dilakukan diagnosis hingga mencapai
Antari, G. A. A., Rasdini, I. G. A., & Triyani,
tahap pencapaian yang ingin dicapai. Peran
G. A. P. (n.d.). Besar Pengaruh
petugas kesehatan cukup penting dalam proses
DUkungan Sosial Terhadap Kualitas
penyesuaian diri pasien DM tipe 2 yaitu dengan
Hidup Pada Penderita DM tipe 2 di
membantu pasien DM tipe 2 dengan
Poliklinik Interna RSUP Sanglah.
memberikan edukasi tentang kondisi penyakit
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
kronis yaitu DM tipe 2 dan menjelaskan bahwa
Kedokteran Universitas Udayana.

154
Kesejahteraan Psikologis Pasien DM Tipe 2 (Rr. Dian, dkk)

Retrieved from portalgaruda.org Psychology of Stress (pp. 115). New


York: Nova Science Publishers.
Basyiroh, A. N. (2011). Hubungan antara
kontrol diri dengan kepatuhanterhadap Keyes, C. L. (2013). Gender and Subjective
pengobatan pada pasien diabetes melitus Well Being in The United States: From
tipe 2di rsud dr. Moewardi surakarta. Subjective Well Being To Complete
Mental Health. In Kimberly V. Oxington
Bharatasari, T. A. (2008). Strategi Koping
(Ed.), Psychology of Stress (pp. 115).
Pengidap Diabetes Mellitus.
New York: Nova Science Publisher.
Clark, M. L., & Utz, S. W. (2014). Social
Kiberenge, M. W., Ndegwa, Z. M., &
determinants of type 2 diabetes and health
Muchemi, E. W. (2010). Knowledge,
in the United States. World J Diabetes,
attitude and practices related to diabetes
5(3), 296304.
among community members in four
Cumming, J., & Mays, N. (2011). New provinces in Kenya: a cross-sectional
Zealands Primary Health Care Strategy: study. The Pan African Medical Journal.
early effects of the new financing and
Kubbler-Ross, E. (2005). On Grief and
payment system for general practice and
Grieving: Finding The Meaning of Grief
future challenges. Health Economics,
Through The Five Stages of Loss.
Policy, and Law, 6(1), 121.
Retrieved August 20, 2014, from
http://doi.org/http://dx.doi.org/10.1017/S1
www.proquest.umi.com
744133109990260
Kusnanto. (2013). Pengembangan Model Self
Davis, M. (2010). Psychological aspects of
Care Management-Holistic
Diabetes Management. UK: Elsevier.
Psychospiritual Care Terhadap Respon
Evans, A. M., Dillon, K. D., Goldin, G., & Holistik Penderita Diabetes mellitus Tipe
Krueger, J. I. (2011). Trust and self- 2. Dissertation. Universitas Airlangga.
control: The moderating role of the
Maghfirah, S. (2013). Optimisme Dan Stres
default. Judgement and Decision Making
Pada Pasien Diabetes Mellitus. Jurnal
Journal, 6(7), 697705.
Florence.
Fitryasari, R. (2009). Pengalaman Keluarga
McEwen, M., Baird, M., Pasvogel, A., &
dalam Merawat Anak dengan Autisme di
Gallegos, G. (2007). Health-illness
Sekolah Kebutuhan Khusus Bangun
transition experiences among Mexican
Bangsa Surabaya. Universitas Indonesia.
immigrant women with diabetes. Fam
Graffigna, G., Barello, S., Libreri, C., & Bosio, Community Health, 30(3), 20112.
C. A. (2014). How to engage type-2
Meleis, A. I., Sawyer, L. M., Im, E.-O.,
diabetic patients in their own health
Messias, D. K., & Schumacher, K. (2000).
management: implications for clinical
Experiencing Transitions: An Emerging
practice. BMC Public Health, 14, 648.
Middle-Range Theory. Adv Nurs Sci,
Hagger, M., Panetta, G., Leung, C.-M., & 23(1), 1228.
G.Wang, G. (2013). Chronic Inhibition,
Miley, W. (1999). The Psychology of Well
Self-Control and Eating Behavior: Test of
Being. British: Praeger Publisher.
a Resource Depletion Model. Ploss One.
Nash, J. (2014). Understanding the
Hasibuan, C. (2010). Penyesuaian Diri
psychological impact of diabetes and the
Penderita Komplikasi Diabetes.
role of clinical psychology. Journal of
Jutterstrom, L. (2013). Illness integration, self- Diabetes Nursing, 18(4), 137142.
management and patient-centred support
Ningrum, R. P., & Hasanat, N. (2010).
in type 2 diabetes. Sweden: Umea
Dinamika Regulasi Diri Pada PEnderita
University. Dissertation.
Diabetes Mellitus Tipe 2. In First National
Keyes, C. L. (2005). Gender and Subjective Conference on Biopsychology (pp. 235
Well Being in The United States: From 246).
Subjective Well Being To Complete
Peyrot, M., Rubin, R. R., Lauritzen, T., Snoeks,
Mental Health. In K. V. Oxington (Ed.),
F. J., Matthews, D. R., & Skovlund, S. E.

155
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 147-156

(2005). Psychosocial problems and


barriers to improved diabetes
management: results of the Cross-National
Diabetes Attitudes, Wishes and Needs
(DAWN) Study. Diabetic Medicine,
13791385.
Pudner, R. (2005). Nursing The Surgical
patients (2nd ed.). Elsevier.
Ryff, C. (1989). Happiness is everything, or is
it? Explorations on the meaning of
psychological well-being. Journal of
Personality and Social Psychology, 1069
1081.
Schmitt, A., Reimer, A., Kulzer, B., Haak, T.,
Gahr, A., & Hermans, N. (2014).
Assessment of diabetes acceptance can
help identify patients with ineffective
diabetes self-care and poor diabetes
control. Diabetic Medicine.
Streubert, H., & Carpenter, D. (2003).
Qualitative Research in Nursing:
Advancing The Humanistic Imperative.
Philadelphia: Lippincott Williams &
Wilkins.
Tol, A., Baghbanian, A., Mohebbi, B.,
Shojaeizadeh, D., Azam, K., & Esmaeeli,
S. (2013). Empowerment Assessment and
Influential Factors Among Patients with
Type 2 Diabetes. J Diabetes Metab Disord
.
Tomey, A., & Alligood, M. (2010). Nursing
Theorists and Their Work (7th ed.).
Missouri: Mosby Elsevier.
WHO. (2014). Diabetes: the cost of diabetes.
Retrieved March 28, 2014, from
http://www.who.int/mediacentre/factsheet
s/fs236/en/

156