Anda di halaman 1dari 7

FAKTOR PENCETUS GEJALA DAN PERILAKU PENCEGAHAN SYSTEMIC

LUPUS ERYTHEMATOSUS

(Precipitating Factors and Preventive Behavior towards the Exposures of Systemic Lupus
Erythematosus)

Ni Putu Wulan Purnama Sari


Fakultas Keperawatan, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya Telp. (031) 99005299
Email: moonygalz@yahoo.com

ABSTRAK
Pendahuluan: Systemic Lupus Erythematosus (lupus) dan kekambuhan gejalanya yang sulit diprediksi berpotensi
menurunkan kualitas hidup penderita lupus secara signifikan. Faktor pencetus gejala lupus perlu dikurangi paparannya
melalui perilaku pencegahan untuk menurunkan frekuensi kekambuhan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan
antara faktor pencetus gejala lupus dan perilaku pencegahan paparannya. Metode: Penelitian korelasional ini menggunakan
desain cross-sectional. Populasi adalah semua penderita lupus yang rawat jalan di Poli Rheumatologi RSUD Dr. Soetomo,
Surabaya. Sampel adalah penderita lupus yang rawat jalan pada bulan Oktober-Desember 2014 dan memenuhi kriteria
sampel. Besar sampel 36 dipilih dengan teknik total sampling. Variabel independen faktor pencetus gejala lupus; variabel
dependen pengetahuan lupus, sikap (efikasi diri) dan tindakan pencegahan. Instrumen penelitian meliputi kuesioner faktor
pencetus gejala lupus dan ODAPUS-HEBI (bagian 1,2,3). Analisis data dengan uji korelasi Spearman Rho dengan < 0.05.
Hasil: Mayoritas responden berusia dewasa akhir, sudah menikah, lulusan SMA dan masih aktif bekerja. Rentang lama sakit
lupus mayoritas 1-2 tahun. Faktor pencetus gejala lupus mayoritas adalah stres fisik (66,7%). Gejala lupus yang paling sering
kambuh adalah nyeri sendi. Tingkat pengetahuan seluruhnya tinggi, sikap mayoritas tinggi dan tindakan pencegahan
mayoritas optimal. Tidak ada hubungan antara faktor pencetus gejala dengan pengetahuan lupus (p = 0,342) dan dengan
sikap (p = 0,651). Ada hubungan yang lemah namun signifikan antara faktor pencetus gejala dengan tindakan pencegahan (r
= 0,360; p = 0,031). Diskusi: Faktor pencetus gejala lupus berbeda-beda di antara para penderita lupus sehingga tindakan
pencegahan yang dilakukan juga menyesuaikan dengan jenis paparan faktor pencetus. Tindakan pencegahan yang dilakukan
secara optimal dapat meminimalisir kekambuhan gejala lupus. Ada hubungan antara faktor pencetus gejala dengan tindakan
pencegahan paparannya pada penderita lupus.
Kata Kunci: Systemic Lupus Erythematosus (SLE), faktor pencetus gejala, perilaku pencegahan

ABSTRACT
Introduction: Systemic Lupus Erythematosus (lupus) and its unpredictable flares have lowering the patients quality of life
significantly. Precipitating factors exposures need to be reduced by doing preventive behaviors to reduce the frequency of
lupus flare. This study aimed to analyze the correlation between precipitating factors and preventive behavior in lupus
patients. Method: This is a cros-sectional study. Population was all lupus patients doing regular check-up in Rheumatology
Unit of Dr. Soetomo Public Hospital, Surabaya. Sample was lupus patients who did regular check-up in the period of
October-December 2014 and matched to samples criteria. Sample size was 36 enrolled by means of total sampling.
Independent variabel: precipitating factors of lupus flare; dependent variable: knowledge of lupus, attitude (self-efficacy)
and preventive action towards exposures. Instruments used were questionnaire of lupus precipitating factors and ODAPUS-
HEBI (part 1,2,3). Data analysis used Spearman Rho correlation with <0.05. Result: Most respondents are late adulthood,
get married, high school graduates and actively working. The majority had lupus for 1-2 years. Precipitating factors were
mostly physical stres (66.7%). Symptom of lupus that most often relapse was joint pain. Knowledge of lupus in all
respondents was high, as for attitude mostly were high and most respondents doing optimal preventive action. There was no
correlation between the precipitating factors of lupus flare with lupus knowledge (p=0.342) and attitude (p=0.651). There
was a weak but significant correlation between the precipitating factors with preventive action (r = 0.360; p=0.031).
Discussion: Precipitating factors of lupus flare vary among patients so that preventive actions taken adjust to the type of
exposure. The preventive action taken optimally could minimize the recurrence of lupus flare. There is a correlation between
the precipitating factors of flare with preventive action in lupus patients.
Keywords: Systemic Lupus Erythematosus (SLE), precipitating factors of lupus flare, preventive behavior

PENDAHULUAN dengan lupus). Kehidupan odapus bisa berubah


drastis sejak sakit lupus dan mereka merasa
Lupus adalah penyakit dimana sistem
sangat sulit untuk mengelola penyakit ini (De
imun, yang normalnya memerangi infeksi,
Barros et al. 2012). Dalam kehidupannya,
mulai menyerang sel sehat dalam tubuh.
odapus akan beberapa kali mengalami suatu
Fenomena ini disebut autoimun dan apa yang
periode kemunculan gejala lupus yang parah
diserang oleh sistem imun disebut autoantigen
(lupus flares) dan periode lainnya dimana
(Laura K. DeLong, MD 2012). Para penderita
gejalanya lebih ringan. Sebenarnya gejala
lupus sering disebut dengan odapus (orang
lupus bisa diatasi secara efektif dengan terapi

213
Jurnal Ners Volume 11 No. 2: 213-219

yang sudah ada sekarang, namun untuk saat ini organ tubuh, seperti persendian, kulit, ginjal,
belum ditemukan obat apapun yang dapat jantung, paru-paru, pembuluh darah, dan otak
menyembuhkan penyakit lupus (Ferenkeh- (NIAMS 2012; Ferenkeh-Koroma 2012; Nery
Koroma 2012). et al. n.d.). Gejala lupus yang paling sering
Lupus merupakan penyakit autoimun dilaporkan oleh odapus adalah demam, ruam
kronis yang tanda dan gejalanya dapat menetap kulit karena fotosensitif, sendi yang
selama lebih dari enam minggu dan seringnya bengkak/nyeri, kelemahan/kelelahan, dan
hingga beberapa tahun (Lupus Foundation of gangguan ginjal (Gallop et al. 2012; Ferenkeh-
America 2012). Namun demikian, ada juga Koroma 2012; NIAMS 2012; Nery et al. n.d.).
odapus yang berhasil mengendalikan gejala Komplikasi renal, neurologikal, dan
lupus dengan baik sehingga tampak seperti hematologikal adalah yang paling sering
orang sehat (kategori Quiescent). Memang ditemukan pada odapus (Kannangara et al.
kemunculan gejala lupus tidak akan selalu 2008).
sama antara odapus satu dengan yang lain, ada Baik manifestasi klinis maupun
banyak faktor yang dapat mempengaruhi hal komplikasi penyakit lupus keduanya
ini. Peningkatan intensitas paparan faktor berpotensi menurunkan derajat kesehatan
pencetus tentunya akan menyebabkan gejala odapus, dan dapat berakibat fatal hingga
lupus lebih sering muncul. Untuk menyebabkan kematian. Gejala lupus yang
mengantisipasi hal ini maka odapus perlu muncul sewaktu-waktu sangat berpotensi
memiliki pengetahuan sensoris yang memadai untuk mengganggu aktivitas sehari-hari dan
tentang penyakit lupus dan efikasi diri yang menimbulkan banyak masalah lain. Agar dapat
tinggi guna memfasilitasi tindakan pencegahan mencapai status kesehatan yang optimal dan
paparan faktor pencetus. Namun demikian, kualitas hidup yang tinggi maka odapus harus
hubungan antara faktor pencetus gejala dan bersikap proaktif dalam pengelolaan
perilaku pencegahan paparannya pada penyakitnya. Salah satu caranya adalah dengan
penderita lupus masih belum jelas. berperilaku sehat dan mengelola penyakit
Lupus telah diderita setidaknya oleh lupus secara mandiri melalui tindakan
lima juta orang di seluruh dunia. Lupus dapat pencegahan paparan faktor pencetus. Untuk itu
menyerang pria dan wanita di semua usia, diperlukan pengetahuan yang memadai dan
namun 90% dari orang yang terdiagnosis lupus sikap yang positif (L.W. Green & Kreuter
adalah wanita, dan usia rentan lupus adalah 15- 1991). Hubungan antara faktor pencetus gejala
44 tahun. 70% kasus lupus berupa SLE dan perilaku pencegahan paparannya pada
(Systemic Lupus Erythematosus), 10% berupa penderita lupus perlu diteliti lebih lanjut.
CLE (Cutaneous Lupus Erythematosus), 10% Penelitian ini bertujuan menganalisis
berupa drug-induced lupus, dan 5% lainnya hubungan antara faktor pencetus gejala lupus
berupa neonatal lupus (S.L.E. Lupus dan perilaku pencegahan paparannya.
Foundation 2012). Di Indonesia, estimasi
jumlah penderita lupus sekitar 200-300 ribu BAHAN DAN METODE
orang, perbandingan jumlah penderita lupus
Penelitian ini merupakan penelitian
pria dan wanita adalah 1:6-10, sehingga lupus
korelasional dengan pendekatan cross-
sering disebut penyakit kaum wanita. Tren
sectional. Populasi adalah semua penderita
penyakit lupus di negara kita terus
lupus murni (tanpa komplikasi organ) yang
menunjukkan peningkatan setiap tahunnya
rawat jalan di Poli Rheumatologi RSUD Dr.
(Yayasan Lupus Indonesia 2012; Utomo
Soetomo Surabaya. Populasi terjangkau
2012).
adalah semua penderita lupus murni yang
Penyebab lupus masih belum
rawat jalan di Poli Rheumatologi RSUD Dr.
sepenuhnya dimengerti, namun beberapa ahli
Soetomo Surabaya pada bulan Oktober-
berpendapat bahwa penyebab lupus berasal
Desember 2014, sebanyak 54 orang. Kriteria
dari beberapa faktor, yaitu: genetik,
sampel: 1) kriteria inklusi: sakit lupus minimal
lingkungan (sinar UV, obat-obatan, infeksi,
6 bulan, usia dewasa (19-44 tahun), minimal
trauma/kecelakaan), faktor internal (stres
lulusan SMP, pernah mengikuti Pelatihan
emosional, stres fisik, demam, dan hormon
Manajemen Perawatan Diri untuk Penderita
estrogen) (Lupus Foundation of America 2012;
Lupus yang dilaksanakan peneliti (Sari, 2015);
Stichweh & Pascual 2005). Lupus dapat
2) kriteria eksklusi: hospitalisasi, mengalami
menyebabkan inflamasi dan merusak berbagai

214
Faktor Pencetus Gejala dan Perilaku Pencegahan SLE (Ni Putu Wulan P.S.)

gangguan jiwa, bekerja sebagai tenaga terhadap 18 responden yang rawat jalan di Poli
kesehatan (khususnya dokter / perawat). Dari Rheumatologi RSUD Dr. Soetomo pada bulan
54 orang anggota populasi terjangkau Februari 2015 menunjukkan hasil sebagai
diperoleh 36 orang yang memenuhi kriteria berikut.
sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah
total populasi (total sampling), sehingga 36 Tabel 1.Hasil Uji Instrumen ODAPUS-HEBI
orang penderita lupus yang memenuhi kriteria Instrumen Validitas Reliabilitas
sampel dijadikan responden penelitian ODAPUS-HEBI (r) ()
Bagian 1. Pengetahuan 0,477 - 0,774 0,519
seluruhnya. Bagian 2. Efikasi Diri 0,503 0,903 0,927
Variabel independen dalam penelitian Bagian 3. Tindakan 0,547 0,908 0,945
ini adalah faktor pencetus gejala lupus. Pencegahan Paparan
Variabel dependen terdiri dari tiga domain
perilaku, yaitu: pengetahuan tentang lupus, Tabel di atas menunjukkan instrumen
sikap (efikasi diri) dan tindakan pencegahan ODAPUS-HEBI valid dan reliabel. Setelah
paparan. Peneliti mengembang-kan sendiri alat data perilaku pencegahan paparan di-scoring
ukur untuk mengidentifikasi semua variabel maka masing-masing bagian dikategorikan
penelitian. berdasarkan domain:
Berdasarkan literatur, faktor pencetus 1. Pengetahuan:
gejala lupus terdiri dari sinar UV (dari a. Rendah (0-15).
matahari dan/atau bola lampu fluorosens), b. Cukup (16-30).
obat-obatan (golongan antibiotika: Tetrasiklin, c. Tinggi (31-47).
Penicillin, anti-fungal, golongan sulfa; dan 2. Sikap (efikasi diri):
golongan non-antibiotika: anti-convulsan, anti- a. Rendah (20-60).
hipertensi, pil kontrasepsi), infeksi, demam, b. Cukup (61-90).
trauma/kecelakaan, stres emosional (perceraian, c. Tinggi (91-120).
kematian anggota keluarga, kondisi sakit, atau 3. Tindakan pencegahan paparan:
masalah kehidupan lainnya), dan stres fisik a. Kurang (25-65).
(kelelahan, pembedahan, kekerasan, kehamilan, b. Cukup (66-105).
persalinan) (Lupus Foundation of America c. Optimal (106-150).
2012; Nadhiroh 2007; Stichweh & Pascual Setelah semua data penelitian
2005). Peneliti kemudian membuat pertanyaan terkumpul maka dilakukan editing, scoring,
sesuai dengan faktor pencetus di atas dalam tabulating dan uji hipotesis. Uji korelasi
bentuk kuesioner pertanyaan tertutup dengan Spearman Rho digunakan untuk menganalisis
pilihan jawaban ya (nilai 1) dan tidak (nilai 0). hubungan antara faktor pencetus gejala lupus
Jumlah pertanyaan 26 item dan diperlukan dan perilaku pencegahan paparannya, yang
waktu 30 menit untuk menjawab semuanya. terdiri dari domain pengetahuan, sikap dan
Setelah di-scoring maka data faktor pencetus tindakan. Hipotesis penelitian diterima jika
dikategorikan berdasarkan intensitas paparannya: signifikansi data kurang dari nilai (0,05).
1) paparan minimal (0-9) ; 2) paparan sedang
(10-18) ; 3) paparan tinggi (19-26). HASIL
Peneliti mengembangkan sendiri alat
ukur untuk menilai perilaku kesehatan pada Jumlah responden penelitian sebanyak
odapus dan memberinya nama ODAPUS- 36 orang. Mayoritas responden berusia dewasa
HEBI (Odapus Health Behaviour) (Sari, 2015). akhir (44,4%), sudah menikah dan tinggal
Instrumen ini pada awalnya terdiri dari empat bersama suaminya (77,8%), lulusan SMA
bagian, yaitu: 1) 20 pertanyaan pilihan ganda (83,3%), aktif bekerja sebagai wirausaha
untuk mengkaji pengetahuan lupus, 2) 20 (33,3%) dan pegawai swasta (33,3%) dengan
pernyataan untuk mengkaji efikasi diri, 3) 25 penghasilan mandiri lebih dari Rp. 1,5 2 juta
pernyataan untuk mengkaji tindakan perbulan (33,3%). Pada penelitian ini, lupus
pencegahan paparan faktor pencetus dan 4) 25 banyak diderita oleh wanita usia produktif
pernyataan untuk mengkaji aktivitas perawatan dengan latar belakang pendidikan SMA yang
diri. Dalam penelitian ini, peneliti hanya sudah menikah dan masih aktif bekerja. Data
menggunakan instrumen ODAPUS-HEBI demografi responden sebagai berikut.
bagian 1, 2 dan 3 disesuaikan dengan variabel
penelitian. Uji coba instrumen yang dilakukan

215
Jurnal Ners Volume 11 No. 2: 213-219

Tabel 2. Data Demografi Responden terhitung sejak awal diagnosis lupus hingga
Karakteristik Frekuensi Persentase saat penelitian. Data primer meliputi lama sakit
1. Usia lupus, gejala yang pernah dialami dan faktor
a. 17-25 tahun 8 22,2
(remaja akhir)
pencetus gejala lupus yang disadari. Data
a. 26-35 tahun 12 33,3 primer penting untuk dikaji karena
(dewasa awal) kekambuhan lupus bisa diprediksi melalui
b. 36-45 tahun 16 44,4 paparannya atau dapat diperoleh gambarannya
(dewasa akhir) secara umum. Berdasarkan data primer sebagian
2. Status Pernikahan 28 77,8
a. Menikah 8 22,2 besar responden sakit lupus sejak 1-2 tahun
b. Single yang lalu (33,3%). Gejala lupus terbanyak
3. Pendidikan adalah arthritis (61,1%). Faktor pencetus
a. SMA 30 83,3 mayoritas adalah stres fisik/kelelahan (66,7%).
b. S1 6 16,7
4. Pekerjaan
Berdasarkan gejala yang dialami dan
a. Ibu rumah tangga 8 22,2 terapi yang didapatkan, seluruh responden
b. Mahasiswa 4 11,1 penelitian ini masuk kategori stabil menurut
c. Wirausaha 12 33,3 Ferenkeh-Koroma (2012) dengan indikator:
d. Pegawai swasta 12 33,3 jarang mengalami lupus flare, gejala yang
5. Penghasilan mandiri
perbulan dialami dapat berupa ruam kulit dan/atau nyeri
a. Belum/tidak dada, terkadang menghubungi petugas kesehatan
berpenghasilan 12 33,3 untuk meminta bantuan, terapi yang didapat
b. 500 ribu 1 juta 2 5,6 berupa obat kortikosteroid kontinum
c. >1 1,5 juta 6 16,7
d. >1,5 2 juta 12 33,3
(Methylprednisolone) dan imuno-supresan
e. > 2 juta 4 11,1 (Cyclosporine). Berdasarkan standard
6. Tinggal serumah Perhimpunan Rheumatologi Indonesia (PRI,
dengan 28 77,8 2011), seluruh responden masuk kategori lupus
a. Suami 20 55,6
ringan dengan indikator: mengalami arthritis
b. Anak
c. Orangtua 10 27,8 dan/atau ruam kulit, secara klinis tenang, tidak
d. Saudara 2 5,6 terdapat gejala lupus yang mengancam nyawa,
fungsi organ normal/stabil. Arthritis
Tabel 3. Data Primer Penelitian teridentifikasi sebagai gejala lupus mayoritas
Karakteristik Frekuensi Persentase (61,1%), hal ini sesuai dengan pendapat Dias
1. Lama sakit lupus & Isenberg (2014) bahwa pada gejala lupus
a. < 1 tahun 4 11,1 ringan, persendian adalah organ utama yang
b. >1-2 tahun 12 33,3
c. >2-3 tahun 8 22,2 terkena dampak penyakit lupus. Kelelahan fisik
d. >4-5 tahun 2 5,6 juga teridentifikasi sebagai faktor pencetus
e. > 5 tahun 10 27,8 gejala lupus mayoritas (66,7%), hal ini sesuai
2. Gejala lupus yang dengan pendapat Gordon (2013) bahwa
pernah dialami
a. Demam 8 22,2
kelelahan fisik adalah pencetus gejala lupus
b. Pusing 6 16,7 yang paling umum dimana kelelahan ini tidak
c. Kebingungan 2 5,6 selalu hilang dengan istirahat dan dapat
d. Arthritis 22 61,1 berlangsung lama.
e. Fatigue 12 33,3 Data khusus penelitian terkait variabel
f. Malar rash 6 16,7
g. Nyeri dada saat yang diteliti yang meliputi paparan faktor
nafas dalam 2 5,6 pencetus gejala, pengetahuan tentang lupus,
h. Myalgia 2 5,6 efikasi diri, dan tindakan pencegahan paparan
i. Anemia 4 11,1 faktorpencetus disajikan dalam tabel 4.
3. Faktor pencetus gejala
lupus yang disadari
Mayoritas responden cukup terpapar
a. Stres emosional 16 44,4 oleh faktor pencetus gejala lupus dalam enam
b. Stres fisik 24 66,7 bulan terakhir (88,9%). Semua responden
c. Sinar matahari 4 11,1 memiliki pengetahuan yang tinggi tentang
d. Makan tidak teratur 4 11,1 penyakitnya (100%). Efikasi diri responden
e. Kurang tidur 4 11,1
f. Perubahan hormon 2 5,6 mayoritas juga tinggi (72,2%). Tindakan
pencegahan paparan faktor pencetus gejala
Data primer mencerminkan aktivitas lupus mayoritas optimal (77,8%).
penyakit lupus pada diri responden selama ini, Tabel 4. Data Khusus Penelitian

216
Faktor Pencetus Gejala dan Perilaku Pencegahan SLE (Ni Putu Wulan P.S.)

Variabel Kategori Frekuensi Persentase secara optimal. Masih ada 22,8% responden
Paparan faktor Minimal 4 11,1 yang tidak melaksanakan tindakan pencegahan
pencetus gejala Sedang 32 88,9
secara optimal. Hal ini potensial disebabkan
Tinggi 0 0
Pengetahuan Rendah 0 0 karena para responden tersebut efikasi dirinya
tentang lupus Cukup 0 0 tidak tinggi (masih cukup/ rendah). Ditemukan
Tinggi 36 100 27,8% responden yang efikasi dirinya cukup
Efikasi diri Rendah 2 5,6 rendah pada saat penelitian. Bila seorang
Cukup 8 22,2 individu memiliki pengetahuan yang sudah
Tinggi 26 72,2
memadai namun keyakinan dirinya
Tindakan Kurang 2 5,6
pencegahan Cukup 6 16,7 kurang/rendah karena berbagai faktor, maka
paparan faktor Optimal 28 77,8 tindakan yang diambilpun menjadi kurang
pencetus maksimal.
Hasil penelitian ini menunjukkan
Hasil uji korelasi Spearman Rho efikasi diri tidak berhubungan dengan faktor
menunjukkan tidak ada hubungan antara faktor pencetus gejala lupus. Efikasi diri merupakan
pencetus gejala dengan pengetahuan lupus cerminan rasa percaya diri seseorang terhadap
(p=0,342) dan dengan sikap (efikasi diri) kemampuan yang dimilikinya untuk dapat
(p=0,651). Ada hubungan yang lemah namun melakukan dan melaksanakan suatu tindakan
signifikan antara faktor pencetus gejala lupus untuk mencapai sebuah tujuan. Mayoritas
dengan tindakan pencegahan paparannya responden yang memiliki efikasi diri tinggi
(r=0,360; p=0,031). (72,2%) mengalami paparan sedang (88,9%)
dan melakukan tindakan pencegahan paparan
PEMBAHASAN faktor pencetus gejala lupus secara optimal
Di dalam penelitian ini, pengetahuan (77,8%). Tinginya efikasi diri responden
tentang lupus tidak berhubungan dengan faktor memfasilitasi optimalnya tindakan pencegahan
pencetus gejala lupus. Dari 100% responden yang diambil.
yang pengetahuannya tinggi, terdapat 88,9% Berdasarkan Precede Proceed Model
responden yang mengalami paparan sedang. dari Green & Kreuter (1991), efikasi diri
Berdasarkan kerangka konseptual yang termasuk sikap yang telah diidentifikasi secara
digunakan dalam penelitian ini, khususnya spesifik dalam domain faktor predisposisi
Precede Proceed Model dari L.W. Green & perilaku kesehatan yang dapat secara langsung
Kreuter (1991), pengetahuan telah diidentifikasi mempengaruhi gaya hidup/tindakan yang
secara spesifik dalam domain faktor diambil individu. Jadi, efikasi diri potensial
predisposisi perilaku kesehatan yang dapat berhubungan dengan tindakan pencegahan
secara langsung mempengaruhi gaya hidup/ yang dilakukan odapus, namun tidak
tindakan yang diambil individu. Pengetahuan berhubungan dengan faktor pencetus gejala
berhubungan dengan tindakan yang diambil lupus.
seseorang untuk mempertahankan status Hasil penelitian ini menunjukkan
kesehatannya. Hal ini selaras dengan hasil tindakan pencegahan paparan faktor pencetus
penelitian yang menunjukkan tidak ada berhubungan dengan faktor pencetus gejala
hubungan signifikan antara pengetahuan dan lupus. Mayoritas responden mengalami paparan
faktor pencetus gejala lupus, namun sedang (88,9%) dan melakukan tindakan
pengetahuan potensial berhubungan dengan pencegahan paparan faktor pencetus gejala
tindakan pencegahan yang dilakukan odapus. lupus secara optimal (77,8%). Ada 11,1%
Pengetahuan merupakan suatu responden yang mengalami paparan sedang
perwujudan dari faktor internal individu yang namun belum melaksanakan tindakan
mempermudah individu untuk berperilaku. pencegahan secara optimal.
Penerapan pengetahuan odapus dalam Faktor pencetus gejala lupus yang
kehidupannya sehari-hari bisa ditunjukkan teridentifikasi dalam penelitian ini meliputi
dalam tindakan pencegahan paparan faktor stres fisik (mayoritas), stres emosional, sinar
pencetus gejala lupus. Hasil penelitian matahari, makan tidak teratur, kurang tidur dan
menunjukkan dari 100% responden yang perubahan hormon (terkait siklus menstruasi
pengetahuannya tinggi, hanya 77,8% dan proses kehamilan). Para responden penelitian
responden yang melakukan tindakan pencegahan menyatakan beberapa kesulitan dalam usahanya
mencegah paparan faktor-faktor pencetus ini

217
Jurnal Ners Volume 11 No. 2: 213-219

karena tuntutan peran, keterbatasan diri maupun KEPUSTAKAAN


sumberdaya yang dimiliki. Namun demikian,
America, L.F. of, 2012. Understanding Lupus.
mayoritas responden bisa melakukan tindakan
Available at: www.lupus.org.
pencegahan secara optimal.
De Barros, B.P., De Souza, C.B. & Kirsztajn,
Faktor pencetus stress fisik relatif sulit
G.M., 2012. The structure of the lived-
dicegah karena responden merasa sulit menjaga
experience: analysis of reports from women
tubuh dari rasa lelah akibat bekerja maupun
with systemic lupus erythematosus. Journal
menjalankan perannya sebagai ibu yang harus
of Nursing Education and Practice, 2 (3), p.p
menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Hal
120. Available at:
ini potensial terjadi akibat tingginya tuntutan
http://www.sciedu.ca/journal/index.php/jnep/
peran dan kurangnya dukungan keluarga dalam
article/view/594 [Accessed October 28,
hubungan sosialnya.
2016].
Hasil penelitian lain mendukung hasil
Dias, S.S. et al., 2014. Advances in systemic
penelitian Dias et al. (2014) yang berpendapat
lupus erythematosus. Medicine, 42(3),
bahwa tindakan yang ditujukan untuk
pp.126133. Available at:
meminimalisir paparan faktor pencetus gejala
http://linkinghub.elsevier.com/retrieve/pii/
lupus dapat mengurangi kekambuhan lupus.
S1357303913003666 [Accessed October
Tindakan pencegahan ini diperlukan untuk
28, 2016].
mengendalikan kekambuhan gejala lupus dan
Ferenkeh-Koroma, A., 2012. Systemic lupus
mempertahankan status kesehatan odapus tetap
erythematosus: nurse and patient
baik. Green & Kreuter (1991) berpendapat
education. Nursing Standard, 26(39),
bahwa tindakan spesifik yang ditujukan untuk
pp.4957. Available at:
meningkatkan/mempertahankan status kesehatan
http://rcnpublishing.com/doi/abs/10.7748/
dapat mempengaruhi kualitas hidup individu.
ns2012.05.26.39.49.c9134 [Accessed
Tindakan pencegahan paparan faktor
October 28, 2016].
pencetus yang dilakukan oleh odapus dapat
Foundation, S.L.E.L., 2012. About lupus.
memberi perbaikan yang bermakna pada
Available at: www.lupusny.org.
kekambuhan gejala lupus bila dilakukan
Gallop, K. et al., 2012. Development of a
dengan benar dan rutin. Namun demikian, ada
conceptual model of health-related quality
beberapa jenis faktor pencetus yang dirasa sulit
of life for systemic lupus erythematosus
dicegah, misalnya stres fisik (tergantung
from the patients perspective. Lupus,
tuntutan peran), stres emosional (tergantung
21(9), pp.93443. Available at:
mekanisme koping), sinar matahari (tergantung
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/224
aktivitas), dan lain-lain.
33917 [Accessed October 28, 2016].
Indonesia, Y.L., 2012. Info tentang Lupus.
SIMPULAN DAN SARAN
Available at:
Simpulan www.yayasanlupusindonesia.org.
Faktor pencetus gejala lupus mayoritas Kannangara, L. et al., 2008. A study on
adalah stres fisik / kelelahan. Ada hubungan aggravating factors for exacerbations,
antara faktor pencetus gejala dengan tindakan complications and hospital prevalence of
pencegahan paparannya pada penderita lupus. systemic lupus erythematosus (SLE).
Tidak ada hubungan antara faktor pencetus Available at:
gejala dengan pengetahuan dan efikasi diri http://pgimrepository.cmb.ac.lk:8180/han
(sikap) pada penderita lupus. dle/123456789/2862 [Accessed
November 1, 2016].
Saran
L.W. Green & Kreuter, M.W., 1991. Health
Pendekatan multi-center study dapat Promotion Planning: An Educational and
dilakukan untuk menjangkau jumlah Environmental Approach 2nd ed.,
responden yang lebih besar. Paradigma Mountain View: Mayfield Publishing
penelitian mixed-methods dapat diterapkan Company.
untuk memperoleh hasil penelitian yang lebih Laura K. DeLong, MD, M., 2012. Vitamin D
akurat. Instrumen baru yang dikembangkan Status, Disease Specific and Quality of
dapat diuji dalam skala yang lebih besar Life Outcomes in Patients With Cutaneous
sehingga bisa distandardisasi. Lupus-Full Text View-ClinicalTrials.gov,

218
Faktor Pencetus Gejala dan Perilaku Pencegahan SLE (Ni Putu Wulan P.S.)

Atlanta, Georgia, United States, 30322. NIAMS, N.I. of A. and M. and S.D., 2012.
Available at: Handout on health: systemic lupus
https://clinicaltrials.gov/ct2/show/NCT01 erythematosus. Available at:
498406. www.niams.nih.gov.
Nadhiroh, F., 2007. Lupus: penyakit seribu Stichweh, D. & Pascual, V., 2005. Systemic
wajah dominan menyerang wanita. lupus erythematosus in children. An
Available at: http://surabaya.detik.com. Pediatr (Barc), 63(4), pp.321329.
Nery, F.G. et al., Major depressive disorder Available at:
and disease activity in systemic lupus www.analesdepediatria.org/en/pdf/13079
erythematosus. Comprehensive 815/S300/.
psychiatry, 48(1), pp.149. Available at: Utomo, Y.W., 2012. Tingkatkan Riset dasar
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/171 Tentang Lupus. Available at:
45276 [Accessed October 28, 2016]. www.health.kompas.com.

219