Anda di halaman 1dari 6

Peran Asah (3A) Pengasuh (Ilya Krisnana, dkk)

PERAN ASAH (3A) PENGASUH DENGAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK


USIA TODDLER DI TAMAN PENITIPAN ANAK
(Role Of Care Giver Stimulation On Toddlers Language Development in Day Care)

Ilya Krisnana, Praba Diyan Rachmawati, Maratus Sholihah


Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga
Kampus C Unair Jalan Mulyorejo Surabaya 60115
Email: ilyakrisnana28@gmail.com

ABSTRAK
Pendahuluan: Pengasuh di TPA memegang peranan penting dalam mengasah seluruh aspek perkembangan anak. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis hubungan peran pengasuh dalam pemberian asah dengan perkembangan bahasa di 3 Taman
Penitipan Anak (TPA) di Surabaya. Metode: Desain penelitian ini menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross
sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pengasuh dan anak di TPA dengan teknik purposive sampling. 16 pengasuh
dan 33 anak menjadi responden yang ditentukan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel dependen yang diukur
adalah pemberian asah pengasuh. Variabel independen yang diukur adalah perkembangan bahasa anak. Pengumpulan data
dilakukan dengan menggunakan observasi responden pengasuh dan Denver II pada responden anak. Data dianalisis dengan
menggunakan analisis korelasi non parametrik (Spearman rho) dengan nilai signifikansi = 0,05. Hasil: Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pemberian asah pengasuh berhubungan dengan perkembangan bahasa anak, nilai p=0,002 dan r=0,0510.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat dan signifikan antara pemberian asah pengasuh dengan
perkembangan bahasa anak. Diskusi: Hubungan peran pengasuh dalam pemberian asah dengan perkembangan bahasa anak
di tempat penitipan anak signifikan dan berhubungan cukup kuat. Penilti selanjutnya diharapkan dapat mengidentifikasi
faktor genetik, dan faktor lingkungan lainnya.
Kata kunci: perkembangan bahasa, asah, taman penitipan anak, pengasuh, toddler

ABSTRACT
Introduction: Role of caregiver in the day care is really important in every aspect of children development, especially
language development. This study aimed to analyze the relationship between role of caregiver in giving stimulation and
language development toddler in 3 day care in Surabaya. Methods: This study was using cross-sectional study. The
population were children and caregivers in day care with purposive sampling. 16 caregivers and 33 children as respondents,
taken according to inclusion and exclusion criteria. The dependent variable was role of cargiver in giving stimulation. The
independent variable was the toddler language development. Data collection for caregivers stimulation through observation
sheets and for language development children through Denver II, and were analyzed by using non-parametric correlation
analysis (Spearman rho) with significance value =0.05. Result: The result showed that caregiver in giving stimulation has
correlate with language development toddler (p-value = 0.002, r = 0.0510). Discussion: It can be concluded that correlation
between role of cargiver in giving stimulation with language development toddler was significant and has strong enough
correlation. Further research need to identify more factors such as genetic factor and the other aspects of environmental
factor.
Keywords: language development, stimulation, children day care center, caregiver, toddler

PENDAHULUAN dan 2,3-19% mengalami keterlambatan verbal


(Soetjiningsih 2013). (Hartanto 2011)
Peningkatan prosentase ibu bekerja
menerangkan selama tahun 2007 di poliklinik
diikuti dengan peningkatan jumlah anak yang
tumbuh kembang anak RS Dr. Kariadi Semarang
dititipkan di TPA (Kusumastuti 2013).
didapatkan 22,9% dari 436 kunjungan baru,
Pengasuh di TPA memegang peranan penting
datang dengan keluhan terlambat bicara, 13
dalam proses tumbuh kembang anak terutama
(2,98%) diantaranya didapatkan gangguan
perkembangan bahasa (KEMENDIKBUD
perkembngan bahasa. Berdasarkan hasil survei
2015). Keterlambatan perkembangan bahasa
dari 17 TPA di Surabaya, terdapat 3 TPA yang
pada anak dapat menyebabkan learning
belum mempunyai kurikulum pembelajaran dan
disabilities yang akan membuat anak
belum rutin melakukan stimulasi dalam bentuk
mengalami masalah perilaku dan penyesuaian
bermain sambil belajar. Hasil pengukuran
psikososial (Wijaya 2015).
perkembangan bahasa menggunakan Denver
Prevalensi keterlambatan kemampuan
Development Screening Test (DDST)
berbahasa dilihat pada anak usia dini menurut
menunjukkan 25% termasuk kategori suspek
studi Cochrane terakhir, pada usia 2-4,5 tahun
keterlambatan perkembangan bahasa dari 20
adalah 5-8% mengalami keterlambatan bicara
anak di ketiga TPA.

240
Jurnal Ners Vol. 11 No.2 Oktober 2016: 240-245

Proses pembelajaran perkembangan kriteria inklusi dan eksklusi dengan teknik


bahasa menurut kaum behavioris diperoleh purposive sampling. Variabel dependen yang
melalui rangsangan dari lingkungan. Menurut diukur adalah pemberian asah pengasuh.
salah satu tokoh behavioris (Thorndike 1913) Variabel independen yang diukur adalah
belajar merupakan peristiwa terbentuknya perkembangan bahasa anak. Pengumpulan data
asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang dilakukan dengan menggunakan observasi
disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang responden pengasuh dan Denver II pada
diberikan atas stimulus tersebut. Stimulus yang responden anak. Data dianalisis dengan menggunakan
didapatkan seorang anak di tempat penitipan analisis korelasi non parametrik (Spearman
anak dari pengasuh berupa asah yang rho) dengan nilai signifikansi = 0,05.
kemudian anak memberikan respon berupa
perkembangan anak. Proses asosiasi yang HASIL
terjadi antara stimulus dan respon menurut
Tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian
Thorndike akan mengikuti law of readiness,
besar (37,6%) responden pengasuh di TPA
law of excercise, dan law of effect. Ketiga
memenuhi kebutuhan asah dalam kategori
hukum tersebut membuat stimulasi rutin
kurang, dan mayoritas (63,6%) responden anak di
meningkatkan respon perkembangan anak
TPA memiliki perkembangan bahasa dalam
termasuk perkembangan bahasa (Thorndike
kategori normal.
1913). Berdasarkan data, teori, dan penelitian
Tabel 2 menunjukkan bahwa ada
sebelumnya, peneliti memandang perlu untuk
hubungan antara peran pengasuh dalam
melakukan penelitian tentang hubungan peran
pemberian asah di tempat penitipan anak
pengasuh dalam pemberian asah dengan
dengan perkembangan bahasa anak usia todler.
perkembangan bahasa anak usia todler di TPA.
Dengan menggunakan uji statistik Spearmens
Rho (r) dengan tingkat kemaknaan < 0,05
METODE
didapatkan hasil korelasi r = 0,510 dan nilai p
Desain penelitian ini menggunakan = 0,002.
deskriptif korelasi dengan pendekatan cross Nilai p tersebut berarti H1 diterima dan
sectional. Dilaksanakan di 3 TPA Surabaya H0 ditolak. Hasil statistik tersebut menunjukan
yakni TPA Masha, Cemerlang, Dharma Wanita. hubungan yang kuat antara pemberian asah
Populasi dalam penelitian ini adalah pengasuh pengasuh dengan perkembangan bahasa anak
dan anak di TPA. 16 pengasuh dan 33 anak pada usia todler.
menjadi responden yang ditentukan berdasarkan

Tabel 1 Pemberian asah pengasuh dan perkembangan bahasa anak di TPA Surabaya, Juni 2016
Variabel yang diukur Kategori f %
Baik 5 31,2
Pemberian Asah Cukup 5 31,2
Kurang 6 37,6
Total 16 100
Normal 21 63,6
Perkembangan Bahasa Suspect 11 33,3
Untestable 1 3,1
Total 33 100

Tabel 2 Peran Pengasuh dalam Pemberian Asah dengan Perkembangan Bahasa Anak Usia Todler
Perkembangan Bahasa
Peran Pengasuh dalam Total
Untestable Suspect Normal
Pemberian Asah
F % f % f % f %
Kurang 1 3 7 21,2 4 12,1 12 36,4
Cukup 0 0 3 9,1 7 21,2 10 30,3
Baik 0 0 1 3 10 30,3 11 33,3
Total 1 3 11 33,3 21 63,6 33 100
p = 0,002
Koefisien Korelasi Spearmans Rho = 0,510

241
Peran Asah (3A) Pengasuh (Ilya Krisnana, dkk)

PEMBAHASAN termasuk kategori usia dewasa muda. Supartini


(2014) menjelaskan bahwa rentang usia yang
Berdasarkan hasil penelitian, responden
tidak terlalu tua atau terlalu muda adalah baik
pengasuh dalam memberikan asah yang
untuk menjalankan peran pengasuhan karena
termasuk kategori kurang memiliki proporsi
memiliki kekuatan fisik dan psikososial, sehingga
paling besar, kemudian yang kategori baik dan
dapat menjalankan peran pengasuhan secara
cukup memiliki proporsi yang sama besar.
optimal. Usia pengasuh mempengaruhi
Pembarian asah pengasuh dalam kategori baik
kesiapan mereka untuk menjadi pengasuh dan
karena pengasuh memberikan asah dengan
menjalankan tugas sebagai pengganti orang tua
memberi contoh, pembiasaan, latihan, dan
sementara. Berdasarkan data demografi yang
kompetisi secara rutin. Menurut KEMENDIKBUD
diperoleh, mayoritas orang tua responden anak
(2015) dalam Juknis TPA, pengasuh dalam
juga pada masa dewasa muda. Pengasuh dan
memberikan asah artinya pengasuh memberi
orang tua yang terlalu muda cenderung belum
dukungan kepada anak untuk dapat belajar
memiliki kesiapan untuk mendidik dan
melalui bermain yang bermakna, menarik, dan
mengarahkan pendidikan anak, mereka beberapa kali
merangsang imajinasi, kreativitas anak untuk
tidak menghiraukan anak dan lebih memilih untuk
melakukan, mengekplorasi, memanipulasi, dan
bersenang-senang sendiri karena masih ingin
menemukan inovasi sesuai dengan minat dan
menikmati masa muda seperti bermain hp saat
gaya belajar anak. Pengasuh yang memberikan
sedang mengasuh anak.
asah dalam kategori baik, dapat menciptakan
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan
beberapa komunikasi ketika bermain menjadi
bahwa mayoritas responden anak memiliki
bentuk asah untuk perkembangan bahasa.
perkembangan bahasa normal. Anak yang
Bentuk asah yang mayoritas dilakukan oleh
mengalami suspect keterlambatan perkembangan
semua pengasuh adalah mengasah dengan
bahasa dan untestable hanya sebagian kecil.
membiasakan menyebut nama anak ketika
Mayoritas anak dengan perkembangan bahasa
bermain dan menyebut nama permainan/
normal dapat melewati satu atau lebih
barang saat memberikan ke anak atau meminta
komponen 25-75% menyentuh garis. (Sulistyawati
anak mengambilnya. Thorndike (1913) menyebutkan
2014) menjelaskan bahwa jika anak dapat
dalam law of excercise bahwa hubungan
melewati komponen 25-75% maka artinya
stimulus dan respon akan bertambah erat jika
anak dapat melakukan komponen yang baru
sering digunakan atau dilatih dan akan lenyap
bisa dilakukan oleh 25-75% anak. Perkembangan
sama sekali jika jarang digunakan. Bentuk
bahasa anak yang termasuk kategori normal
pembiasaan pengasuh sebagai salah satu upaya
terlihat berbeda dari anak yang suspect
pemberian asah agar respon perkembangan
keterlambatan perkembangan bahasa. Perbedaan terlihat
anak berjalan dengan normal.
saat dilakukan tes pada setiap komponen, anak dapat
Berdasarkan hasil observasi selama
menjawab lebih cepat dan tepat. Anak dengan
penelitian, pengasuh dalam memberikan asah
perkembangan bahasa normal juga tetap bisa
termasuk kategori cukup, karena pengasuh
melakukan komponen yang anak-anak lain
memberikan asah dengan memberi contoh,
sudah tidak bisa, bahkan terdapat anak dengan
pembiasaan, dan latihan, tetapi tidak memberikan
interpretasi skor advance karena anak dapat
asah dengan kompetisi. Fakta ini sesuai dengan
lulus pada komponen yang terletak di kanan
pernyataan dari Afin (2014) yang menyatakan
garis.
bahwa memberikan asah melalui kompetisi
Mayoritas anak dengan suspect keterlambatan
dilakukan setelah anak cukup mampu menguasai
perkembangan bahasa gagal melewati komponen di
satu bidang yang bisa diandalkan maka bisa
sebelah kiri garis. Sulistyawati (2014) menjelaskan
diikutkan dalam kompetisi yang ada di sekitar.
bahwa bila anak gagal atau menolak melakukan
Penyebab pemberian asah pengasuh termasuk
komponen tes yang terletak berada di sebelah
kategori cukup adalah beberapa pengasuh
kiri garis umur, maka termasuk mengalami
beranggapan bahwa anak usia todler belum
delayed, karena 90 persen anak pada sampel
siap untuk diajak berkompetisi antar terman.
standar telah dapat melewati komponen tersebut. Anak
Berdasarkan hasil peneilitian pemberian
yang mengalami suspect keterlambatan perkembangan
asah oleh pengasuh termasuk dalam kategori
bahasa selain mengalami delayed juga memiliki
kurang karena pengasuh hanya memberikan
interpretasi skor caution, sehingga perlu
asah dengan pembiasaan. Mayoritas pengasuh
dilakukan uji ulang dalam 1-2 pekan untuk
yang memberikan asah dalam kategori kurang
menghilangkan faktor sesaat seperti rasa takut,

242
Jurnal Ners Vol. 11 No.2 Oktober 2016: 240-245

keadaan sakit, dan kelelahan pada waktu skrining sehingga perkembangan bahasa anak berjalan
perkembangan. dengan optimal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Mayoritas responden anak yang memiliki
anak dengan hasil penilaian perkembangan bahasa perkembangan bahasa normal lebih sering
yang untestable. Pada responden anak yang diasuh oleh pengasuh dengan pemberian asah
mendapatkan intrepretasi hasil untestable, dalam kategori baik dan cukup. Hasil penelitian
terdapat satu komponen delay dan tiga caution bahwa perkembangan bahasa anak yang diasuh
karena anak menolak melakukan bukan karena anak oleh pengasuh yang memberikan asah dengan
gagal melakukan. (Sulistyawati 2014) menyebutkan baik termasuk kategori normal sesuai dengan
bahwa langkah penilaian perkembangan harus diawali pernyataan (Soetjiningsih 2013) bahwa
dengan pemeriksa membangun hubungan yang baik memenuhi kebutuhan asah merupakan cikal
dengan anak dan pengasuh karena saat telah terbina bakal dalam proses belajar (pendidikan dan
hubungan saling percaya maka akan meminimalisir pelatihan) pada anak termasuk belajar memaksimalkan
terjadi penolakan saat dilakukan tes perkembangan. perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa anak
Penyebab hasil penilaian perkembangan bahasa yang periode todler yang harus mencapai banyak kemampuan
untestable menunjukkan kesesuian dengan dibandingkan periode lain, membuat pemberian asah
penjelasan Sulistywati. Waktu penelitian yang diperlukan, karena dengan pengasuh yang
terbatas membuat tidak semua anak dengan mudah mempunyai durasi cukup lama berinteraksi
menerima kehadiran peneliti. Perilaku anak dalam dengan anak, mengasah kemampuan secara rutin
beradaptasi dengan orang baru tidak dapat maka perkembangan bahasa anak tidak akan
dianggap sama karena berdasarkan pengalaman saat mengalami keterlambatan.
proses penelitian meskipun peneliti telah Berdasarkan hasil peneilitian pemberian
berusaha membangun hubungan dengan semua asah oleh pengasuh dalam kategori kurang
anak sejak studi pendahuluan, terdapat satu menunjukkan hasil skrining perkembangan
responden anak yang hasil penilaian perkembangan bahasa mayoritas suspect keterlambatan
bahasanya tetap untestable dari sejak studi perkembangan bahasa. Hasil penelitian ini
pendahuluan sampai tes kembali saat penelitian. selaras dengan penelitian Zukhrifatin tahun
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui 2006 bahwa anak yang mendapat stimulasi
tingkat korelasi yang cukup artinya hubungan kurang, mayoritas anak mengalami gangguan
antara kedua variabel cukup kuat dan perkembangan. Hasil tersebut menunjukkan
menunjukkan arah yang searah yaitu jika peningkatan kejadian penyimpangan perkembangan
pemberian asah lebih baik maka perkembangan pada anak yang mendapat stimulasi kurang.
bahasa akan normal. Nilai signifikansi yang Disisi lain, fakta di ketiga TPA menunjukkan
cukup signifikan bermakna hubungan antara bahwa meskipun pengasuh pemberian asah
kedua variabel signifikan. Pernyataan diatas dalam kategori kurang, tidak selalu hasil skrining
menunjukkan bahwa hubungan pemberian asah perkembangan bahasa menunjukkan dicurigai
pengasuh dengan perkembangan bahasa anak keterlambatan tetapi juga ada yang normal.
cukup kuat, signifikan dan searah. Berdasarkan Fakta ini menunjukkan ketidaksesuaian dengan
teori(Thorndike 1913) bahwa perkembangan penjelasan yang dikemukakan oleh (Soetjiningsih
bahasa dikendalikan oleh rangsangan dari 2013) bahwa anak yang mendapat stimulasi
lingkungan, karena belajar merupakan peristiwa kurang dan tidak teratur akan mengalami keterlambatan
terbentuknya asosiasi antar stimulus dengan perkembangan termasuk perkembangan bahasa. Hal
respon yang diberikan atas stimulus tersebut. ini dipengaruhi oleh beberapa faktor lain
Maka dari itu, stimulus yang didapatkan seperti kesehatan anak, peran orang tua di
seorang anak di tempat penitipan anak dari rumah dalam berinteraksi dengan anak.
pengasuh berupa asah yang baik direspon oleh Berdasarkan data demografi yang didapatkan,
anak dengan perkembangan yang normal. mayoritas orang tua responden anak memiliki
Hasil penelitian ini selaras dengan penelitian pendidikan terkahir S1 dan pekerjaan swasta/
(Maria 2009) yang menunjukkan terdapat pegawai negeri sipil. (Kliegman 2012) menjelaskan
hubungan antara asah dengan perkembangan orang tua dengan tingkat pendidikan tinggi akan
karena responden anak yang terasah secara memiliki pengetahuan yang lebih luas tentang
terarah dan penuh kasih sayang akan dapat perkembangan anak, seperti mengetahui cara
mengendalikan dan mengkoordinasi otot-otot bertanya dan memberi perintah pada anak yang
yang melibatkan perasaan emosi dan pikiran tepat sehingga perkembangan bahasa anak
sesuai tahap perkembangan. Orang tua dengan

243
Peran Asah (3A) Pengasuh (Ilya Krisnana, dkk)

pengetahuan yang luas lebih terlibat aktif dengan lingkungan keluarga terutama orang tua
dalam setiap upaya pendidikan anak, yang mengajar, melatih dan memberikan contoh
mengamati segala sesuatu dengan berorientasi berbahasa kepada anak menentukan perkembangan
pada masalah anak, dan selalu menyediakan waktu bahasa anak. Hubungan yang sehat antara orang tua
untuk anak, karena mereka mengetahui kualitas dan anak akan memfasilitasi perkembangan bahasa
interkasi orang tua dan anak sangat menentukan anak, sedangkan hubungan yang tidak sehat
perkembangan anak. (KEMENKES 2013) mengakibatkan anak mengalami kesulitan dalam
menyebutkan bahwa salah satu faktor yang perkembangan bahasa.
mempengaruhi perkembangan anak adalah
pekerjaan orang tua, karena menentukan tingkat SIMPULAN DAN SARAN
sosio-ekonomi yang dimiliki. Anak dari orang tua
Simpulan
yang memiliki penghasilan diatas rata-rata akan
memiliki lingkungan yang baik dan mendapatkan Penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian
pemeriksaan perkembangan secara reguler sehingga besar pemberian asah pengasuh dalam kategori kurang
jika ada gangguan perkembangan dapat dideteksi terutama pada kegiatan mengasah dengan kompetisi.
secara dini. Mayoritas responden anak di tempat penitipan anak
Mayoritas responden anak yang perkembangan memiliki perkembangan bahasa dalam kategori
bahasa normal menerima pemberian asah baik karena normal. Pemberian asah pengasuh mempengaruhi
kegiatan pemberian asah dengan contoh, pembiasaan, perkembangan bahasa anak di tempat penitipan anak.
latihan dan kompetisi diberikan secara rutin. Mayoritas Pemberian asah yang semakin baik akan menyebabkan
anak yang dicurigai mengalami keterlambatan hasil skrining perkembangan bahasa anak termasuk
perkembangan bahasa menerima pemberian asah yang kategori normal. Pemberian asah yang baik adalah
kurang karena kegiatan mengasah dengan memberi pengasuh mengasah perkembangan bahasa dengan
contoh, kompetisi dan latihan tidak semua dilakukan. memberi contoh, pembiasaan, latihan dan kompetisi
Hasil penilitian ini selaras dengan teori (Thorndike 1913) secara rutin dan optimal.
yang menyebutkan bahwa proses asosiasi dalam
Saran
stimulus dan respon memenuhi ketiga hukum yakni law
of readiness, law of excercise, dan law of effect, dengan Perawat diharapkan dapat memberikan
state of affairs yang memuaskan, agar hubungan pengetahuan kepada pengasuh bahwa pemberian asah
menjadi lebih kuat. Pemberian asah yang baik akan secara rutin dan optimal kepada anak dapat mencegah
menyebakan perkembangan bahasa normal karena keterlambatan perkembangan bahasa anak. Tempat
ketiga hukum terpenuhi. Law of readiness terpenuhi dari penitipan anak sebaiknya membuat standar operasional
bentuk kegiatan mengasah dengan memberi contoh. prosedur pemberian asah kepada anak sesuai dengan
Pengasuh yang memberikan contoh dapat membuat tahap perkembangan bahasa. Pengasuh diharapkan
anak memiliki kecenderungan bertindak menirukan untuk lebih memperhatikan perkembangan anak
pengasuh. Law of excercise terpunuhi dari dengan meningkatkan pemberian asah yang diberikan.
bentuk kegiatan mengasah dengan pembiasaan Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan
dan mengasah dengan latihan, karena hubungan penelitian mengenai f aktor -faktor lain
antara asah dari pengasuh dan respon perkembangan yang mempengaruhi perkembanan anak,
bahasa akan semakin kuat jika sering dilatih dan misalnya factor genetik, lingkungan prenatal,
digunakan. Law of effect terpenuhi dari kegiatan dan faktor lingkungan postnatal yang lainnya.
mengasah dengan kompetisi karena dapat menimbulkan
state of affairs berupa feedback yang menyenangkan KEPUSTAKAAN
atau menganggu. Anak yang segera mengetahui hasil
belajar dari pengasuh akan dapat meningkatkan Eka, W.H., 2008. Hubungan pola asuh orang tua
motivasi anak dalam belajar. terhadap perkembangan bicara dan bahasa pada
Kedekatan hubungan antara variabel anak usia 2 tahun. Jurnal kesehatan, 1(1).
pemberian asah pengasuh dengan perkembangan Hartanto, F., 2011. Pengaruh Perkembangan Bahasa
bahasa termasuk cukup kuat karena nilai koofisien terhadap Perkembangan Kognitif Anak,
korelasi r=0,510. Kedekatan yang cukup kuat Semarang: Sari Pediatri.
menunjukkan pengasuh memang berperan terhadap KEMENDIKBUD, 2015. NSPK (Norma, Standar,
terhadap perkembangan anak di TPA, tetapi orang tau Prosedur, dan Kriteria) Petunjuk Teknis
maupun lingkungan keluarga juga sangat menentukan. Penyelenggaraan Taman Penitipan Anak,
Fakta ini sesuai dengan pernyataan Yusuf dalam (Eka KEMENKES, 2013. Pedoman Pelaksanaan: Stimulasi,
2008) bahwa proses berinteraksi dan berkomunikasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbu Kembang

244
Jurnal Ners Vol. 11 No.2 Oktober 2016: 240-245

Anak Ditingkat Pelayanan Kesehatan Dasar,


Jakarta.
Kliegman, R.., 2012. Ilmu Kesehatan Anak Nelson 1st
ed., Jakarta: EGC.
Kusumastuti, N.I., 2013. Fenomena taman penitipan
anak bagi perempuan yang bekerja. Jurnal ilmiah
Pendidikan Sosial Antropologi, 3(2).
Maria, F.N., 2009. Hubungan Pola Asah, Asih, Asuh
dengan Tumbuh Kembang Balita Usia 1-3
Tahun. Universitas Airlangga.
Soetjiningsih, 2013. Tumbuh Kembang Anak, Jakarta:
EGC.
Sulistyawati, A., 2014. Deteksi Tumbuh Kembang Anak,
Jakarta: Salemba Medika.
Thorndike, E.., 1913. The psychology of learning 2nd ed.,
New York: Teachers College Press.
Wijaya, S., 2015. Efektivitas Pelatihan Identifikasi Dini
Keterlambatan Bicara pada Anak Usia Pra
Sekolah untuk Meningkatkan Kompetensi
Pedagogik Guru PAUD. In Seminar Nasional
Psikologi - Jilid I. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

245