Anda di halaman 1dari 5

Pengalaman Keluarga (Hanik Endang, dkk)

PENGALAMAN KELUARGA MERAWAT KLIEN GANGGUAN JIWA PASCA


PASUNG
(Family Experience In Taking Care Of Client Mental Disorders Post Restraint)

Hanik Endang Nihayati, Dwi Adinda Mukhalladah, Ilya Krisnana


Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga Mulyorejo Kampus C Unair Surabaya
Email: azzam_psik@yahoo.com

ABSTRAK
Pendahuluan: Pasca pasung sendiri adalah orang yang sudah terbebas dari pemasungan. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan gambaran tentang pengalaman keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa pasca pasung. Masalah terbesar
yang timbul pada keluarga yang memiliki pengalaman merawat klien gangguan jiwa pasca pasung antara lain selalu
mendampingi klien dalam kegiatan sehari-hari dan memastikan klien meminum obat. Metode: Penelitian ini menggunakan
studi fenomenologi dengan 6 partisipan yang di wawancara mendalam. Partisipan adalah anggota keluarga yang merawat
klien gangguan jiwa pasca pasung yang diperoleh melalui purposive sampling. Hasil: Setelah lepas pasung, klien gangguan
jiwa juga mengalami kemajuan dibandingkan saat dipasung. Walaupun ada kemajuan, keluarga tetap mengamati
perkembangan fisiknya, memberikan kegiatan kepada ODGJ, dan membawa ke pelayanan kesehatan. Selain itu, keluarga
mengalami hambatan selama merawat klien gangguan jiwa pasca pasung dan ada juga yang tidak mengalami hambatan.
Selama merawat klien, keluarga selalu berharap terjadi perubahan status kesehatan klien dan perubahan kesehatan. Keluarga
juga mendukung supaya klien gangguan jiwa cepat sembuh. Diskusi: Pengalaman keluarga merawat klien gangguan jiwa
pasca pasung yaitu merasa bersyukur karena setelah lepas pasung keadaan klien semakin membaik. Keluarga juga rutin
memeriksakan klien ke petugas kesehatan. Selain itu, keluarga tidak akan memasung lagi klien gangguan jiwa tersebut.
Keluarga membutuhkan intervensi untuk memperkuat mekanisme koping selama menghadapi berbagai masalah dalam
merawat klien gangguan jiwa pasca pasung. Kegiatan tersebut dapat direalisasikan melalui penyediaan jasa konseling dan
petugas kesehatan selalu mengkontrol keluarga serta klien tersebut.
Kata Kunci: Pengalaman Keluarga, Gangguan jiwa, Pasung

ABSTRACT
Introduction: Post restraint is a person who is free from restraint. This study aims to describe about family experience in
taking care of client mental disorders post restraint. The biggest problem in the family who has experience taking care of
client mental disorders post restraint, among others, always assisting client in their daily activities and ensuring client are
already taking the drugs. Method: This study used phenomenology design with six partisipan using indepth interview. The
participant of this study was a member family caring for client mental disorders post restraint. This study employs the
purposive sampling method. Result: After his release restraint , clients of mental disorders has also increased compared to
when the restraint. Despite progress, the family still observe physical development , provide activities to ODGJ , and bring to
healthcare. Families experiencing barriers for taking care of client mental disorders post restraint and some are not
experiencing barriers. During the care of the clients , the family hopes a change in the client's health status and health
change. The family also supports so that clients with mental disorders speedy recovery. Discussion: Family experience in
taking care of client mental disorders post restraint are grateful that after restraint off the client state is getting better. The
family also regularly check the client to the health worker. In addition, families will no longer restraint clients such mental
disorders. Family need an intervention for strengthen coping mechanisms for dealing with various problems in caring for
clients with mental disorders after restraint. These activities can be realized through the provision of counseling services and
health workers always control the family as well as the client.
Key words: Family Experience, Mental Disorders, Restraint

PENDAHULUAN menjadi hilang. Pemasungan dilakukan oleh


masyarakat disebabkan oleh beberapa alasan,
Gangguan jiwa berat ini merupakan
yaitu masyarakat dan keluarga takut Orang
bentuk gangguan dalam fungsi alam pikiran
Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) akan bunuh
berupa disorganisasi (kekacauan) dalam isi
diri dan mencederai orang lain, ketidakmampuan
pikiran yang ditandai antara lain oleh gejala
keluarga merawat ODGJ, dan juga karena pemerintah
gangguan pemahaman (delusi, waham), gangguan
tidak memberikan pelayanan kesehatan jiwa dasar
persepsi, serta dijumpai daya realitas yang
pada ODGJ yang berada di komunitas (Minas
terganggu yang ditandai dengan perilaku aneh
& Diatri, 2008).
(Ferry & Makhfudli, 2009). Pemasungan penderita
Pasca pasung sendiri adalah orang yang
gangguan jiwa adalah tindakan masyarakat
sudah terbebas dari pemasungan. Walaupun
terhadap penderita gangguan jiwa (biasanya yang berat)
ODGJ sudah bebas dari pemasungan, beban
dengan cara dikurung, dirantai kakinya dimasukan
pada keluarga klien ODGJ belum selesai. Hasil
kedalam balok kayu sehingga kebebasannya
283
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 283-287

evaluasi dari 9 orang klien yang sudah lepas terlepas dari pasung, Puskesmas Rambipuji
dari pemasungan, kemandirian mereka dalam memberikan pengobatan kepada klien tersebut.
perawatan diri sudah cukup optimal sehingga Upaya lain Puskesmas Rambipuji sendiri
intervensi yang diberikan lebih berfokus kepada klien pasca pasung adalah perawat
kepada cara mempertahankan kepada status selalu mengunjungi rumah klien tersebut untuk
kemandirian tersebut (Sari, 2009). mengontrol obatnya masih tersedia atau tidak
Berdasarkan data dari World Health dan mengontrol klien tersebut apakah rutin
Organisasi (WHO) ada sekitar 450 juta orang meminum obat yang diberikan. Selain itu, klien
di dunia yang mengalami gangguan jiwa. Hasil pasca pasung sudah bisa diajak berkomunikasi,
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, sudah mulai berani untuk keluar rumah, dan
menunjukkan bahwa prevalensi gangguan berkebun bersama keluarga.
mental emosional yang ditunjukkan dengan Upaya pemerintah mengatasi masalah
gejala-gejala depresi dan kecemasan adalah pemasungan dengan mencanangkan Indonesia
sebesar 6% untuk usia 15 tahun ke atas atau sekitar Bebas Pasung 2014 sudah cukup baik. Hal ini
14 juta orang. Sedangkan, prevalensi gangguan jiwa dilakukan agar orang yang dipasung bisa
berat, seperti schizophrenia adalah 1,7 per bebas, karena kegiatan pasung adalah kegiatan
1000 penduduk atau sekitar 400.000 orang. yang melanggar Hak Asasi Manusia.
Prevalensi gangguan jiwa di Jawa Timur pada
gangguan jiwa berat (psikosa/skizofrenia) METODE PENELITIAN
sebanyak 0,22% dan gangguan mental emosional
Penelitian ini menggunakan desain riset
sebesar 6,5%. Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten
kualitatif, yaitu suatu proses penelitian dan
Jember tahun 2014 menyebutkan jumlah klien
pemahaman yang berdasarkan pada metodologi
gangguan jiwa di Kabupaten Jember sebanyak
yang menyelidiki suatu fenomena sosial dan
17.451 orang. Kementerian Kesehatan memperkirakan
masalah manusia. Pendekatan yang digunakan
jumlah ODGJ yang mengalami pemasungan di
dalam penelitian ini adalah fenomenologi,
seluruh Indonesia mencapai lebih 18 ribu jiwa.
yaitu cabang dari filosofi yang menekankan
Proporsi keluarga yang memiliki ODGJ psikosis dan
pengalaman manusia sebagai objek penelitian.
pernah melakukan pemasungan 14,3% atau
Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan
sekitar 237 keluarga dari 1.655 keluarga yang
istilah populasi, tetapi oleh Spradley dinamakan
memiliki ODGJ yang dipasung dan terbanyak
social situtation atau situasi sosial yang
pada keluarga di pedesaan (18,2%) (Riskesdas,
terdiri atas tiga elemen yaitu: tempat (place),
2013). Prosentase keluarga yang memiliki ODGJ
pelaku (actors), dan aktivitas (activity) yang
yang dipasung di Jawa Timur sebanyak 16,3%
berinteraksi secara sinergis. Sampel dalam
(Riskesdas, 2013). Menurut data dari Dinas
penelitian kualitatif bukan dinamakan responden,
Kesehatan Kabupaten Jember, kasus pasung di
tetapi sebagai narasumber, atau partisipan,
Kabupaten Jember sampai pada tahun 2016
informan, teman dan guru dalam penelitian.
sebanyak 124 kasus dan pada wilayah kerja
Pengambilan sampling dalam penelitian ini
Puskesmas Rambipuji ada 10 kasus pasung
menggunakan teknik sampling secara Purposive
yang 7 diantaranya ada di Desa Pecoro.
Sampling. Purposive Sampling adalah suatu
Beban yang ditanggung oleh keluarga
teknik penetapan sampel dengan cara memilih
yang hidup bersama penderita gangguan jiwa
sampel diantara populasi sesuai dengan yang
berat meliputi beberapa faktor, baik secara
dikehendaki peneliti (tujuan/masalah dalam
ekonomi maupun sosial. Selain itu, beban yang
penelitian), sehingga sampel tersebut dapat
ditangguang keluarga berupa beban subjektif
mewakili karakteristik populasi yang telah
dan objektif, pengalaman stress seumur hidup,
dikenal sebelumnya (Nursalam, 2008).
sehingga membuat koping tidak efektif (Yusuf,
Peneliti menggunakan alat bantu pengumpul
2012). Kurangnya pengetahuan tentang gangguan
data berupa alat perekam berupa video kamera
jiwa serta motivasi keluarga untuk melakukan
atau recorder dan catatan lapangan. Jika partisipan
perawatan yang tepat pada klien gangguan
tidak bersedia menggunakan video kamera,
jiwa menjadikan beban keluarga semakin
peneliti merekam wawancara menggunakan
kompleks.
recorder. Pada penelitian ini peneliti melakukan
Pada awalnya, ODGJ ini dipasung selama
wawancara di Desa Pecoro Kecamatan Rambipuji
bertahun-tahun oleh keluarga. Akhirnya, oleh
Kabupaten Jember. Tahap penelitian berupa
perangkat desa dan pemerintah Kabupaten
wawancara akan membutuhkan waktu satu
Jember ODGJ di lepas pasungnya. Setelah

284
Pengalaman Keluarga (Hanik Endang, dkk)

minggu yang dimulai awal bulan Juni 2016 merupakan akumulasi dari perasaan takut,
dan pengolahan data awal minggu ketiga bulan khawatir, berat/sulit terhadap perilaku klien.
Juni 2016. Partisipan mengungkapkan sekarang
Peneliti melakukan analisis data dalam klien pasca pasung sudah bisa bekerja,
beberapa tahap (Hasbiansyah, 2008) yaitu: membantu memenuhi kebutuhan anggota
Tahap Awal, Tahap Horizonalization, dan keluarga, dan membantu partisipan mengerjakan
Tahap Cluster of Meaning. Prinsip etik berdasarksn pekerjaan rumah. Bekerja yang dimaksud
Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan adalah klien sudah bisa mendapatkan penghasilan
(PNEPK) tahun 2004 terdiri atas tiga prinsip yaitu sehingga bisa membantu memenuhi keperluan
menghormati seseorang (Respect for persons), keluarga. Klien juga bisa membantu mengerjakan
kemanfaatan (Beneficence), dan Keadilan (Justice). Ada pekerjaan rumah seperti menyapu, mengepel,
empat kriteria untuk memperoleh keabsahan data yaitu menjaga warung, dan lain-lain. Keluarga juga
derajat kepercayaan (credibility), keteralihan tak lupa untuk memeriksakan klien ke
(transferability), kebergantungan (dependability), pelayanan kesehatan dan mengambil obat
dan kepastian (cofirmability) (Guba dan untuk klien.
Lincoln (1994) dalam Moleong, 2010). Pengalaman keluarga yang lain selama
merawat klien gangguan jiwa pasca pasung
HASIL adalah keluarga merasakan perasaan bersyukur.
Perasaan ini muncul karena selama pasca
Hasil menelitian ini menunjukkan
pasung, klien mengalami perubahan kearah
bahwa 6 partisipan dalam penelitian ini semua
yang lebih baik. Partisipan juga mengungkapkan
berjenis kelamin perempuan, beraga Islam,
bahwa ini cobaan dari Allah dan partisipan
Suku Madura dengan usia 48-80 tahun.
harus melalui ujian ini dengan penuh kesabaran.
Dalam fikiran beberapa keluarga, jika
Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa
tidak dipasung dan klien ditinggal bekerja
keluarga mampu mengidentifikasi adanya
klien gangguan jiwa akan jalan-jalan, marah-
gangguan terhadap perkembangan fisiknya.
marah, dan mencelakai orang lain sehingga
Menurut peneliti, anggota keluarga seharusnya
keluarga tidak tenang. Selama merawat klien
mengenali perubahan kesehatan anggota keluarga
gangguan jiwa yang dipasung, anggota keluarga
lainnya sekecil apapun perubahan itu.
saling membantu dalam merawat klien
tersebut. Jika keluarga ada yang bekerja, maka
PEMBAHASAN
anggota keluarga yang lainnya yang membantu
merawat memenuhi kebutuhan klien seperti Kondisi Orang Dengan Gangguan Jiwa
makan dan minum. Selain itu, keluarga juga (ODGJ) pasca pasung yang belum pulih total
menceritakan sekalipun klien tersebut dipasung, klien menjadi dasar pertimbangan keluarga untuk
juga bisa menciderai dirinya sendiri. Contohnya, menyajikan variasi kegiatan dalam bentuk
klien akan memukulkan kepalanya ke tembok. aktivitas apapun. Aktivitas ini dapat menurunkan
Pengalaman keluarga yang lainnya kejenuhan dan mengisi waktu luang ODGJ.
dalam merawat klien gangguan jiwa saat Penelitian ini juga menemukan beberapa upaya
dipasung dirasakan sebagai beban psikologis. keluarga dalam memberikan perawatan bagi
Beban psikologis dinyatakan oleh partisipan ODGJ pasca pasung dengan memenuhi aturan
dalam bentuk takut, khawatir, berat/sulit. perawatan yang disarankan dokter atau petugas
Perasaan takut disini disebabkan misalnya kesehatan lainnya.
klien akan marah-marah dan menciderai orang Hambatan adalah hal yang ditemui dan
lain yang ada disekitarnya. Perasaan khawatir menimbulkan kesulitan bagi keluarga selama
juga dirasakan partisipan karena takut klien merawat klien gangguan jiwa pasca pasung.
jika jalan-jalan dan partisipan takut jika dia Pada penelitian ini, peneliti menemukan ada
mendapat masalah. Perasaan berat/sulit dirasakan partisipan yang mengalami hambatan dan ada
partisipan karena tidak bisa bekerja. Partisipan tidak bisa juga yang tidak mengalami hambatan. Keluarga yang
bekerja karena selalu memikirkan klien jika ditinggal tidak mengalami hambatan mengungkapkan
bekerj oleh partisipan. Penelitian ini menyebutkan bahwa klien sekarang sudah bisa kerja, sudah
keluarga merasakan beban psikologis yang bisa mandiri, dan sudah bisa ditinggal oleh
dinyatakan dalam bentuk takut, khawatir, orang tuanya. Peneliti mendapatkan keluarga yang
berat/sulit selama merawat klien gangguan mengalami hambatan dalam hal pekerjaan dan
jiwa saat dipasung. Beban psikologis ini pengobatan.

285
Jurnal Ners Vol. 11 No. 2 Oktober 2016: 283-287

Hasil penelitian ini mengidentifikasi bahwa keluarga yang merawat klien gangguan jiwa
cara menghadapi hambatan adalah dengan cara pasca pasung.
membujuk klien dan modifikasi dalam meminum Selain itu, dari penelitian ini dapat
obat. Partisipan membujuk klien untuk bekerja disimpulkan juga bahwa keluarga tidak akan
agar bisa memenuhi kebutuhan klien. Partisipan memasung lagi klien gangguan jiwa tersebut.
lainnya adalah dengan cara pendampingan Keluarga juga mendukung supaya klien gangguan
dalam pengobatan. Partisipan memastikan klien jiwa cepat sembuh. Misalnya dengan cara tidak
meminum obatnya dengan cara memodifikasi cara lupa untuk memberi obat kepada klien
meminum obatnya. gangguan jiwa dari petugas kesehatan.
Pemberdayaan keluarga merupakan salah satu
Saran
cara juga yang digunakan untuk menghadapi
permasalahan selama merawat klien gangguan Pihak rumah sakit atau perawat jiwa,
jiwa pasca pasung. Salah satu pemberdayaan hendaknya melakukan intervensi untuk memperkuat
keluarga yang ditemukan dalam penelitian ini mekanisme koping keluarga selama menghadapi
adalah pembagian peran. berbagai masalah dalam merawat klien
Penelitian ini mengidentifikasi harapan gangguan jiwa pasca pasung. Kegiatan
keluarga selama merawat klien gangguan jiwa tersebut dapat direalisasikan melalui penyediaan
pasca pasung antara lain harapan akan status jasa konseling dan petugas kesehatan selalu
kesehatan klien dan perubahan kesehatan mengkontrol keluarga serta klien tersebut.
klien. Keluarga selalu menaruh harapan bahwa Pihak pelayanan kesehatan sebaiknya
klien bisa sembuh total seperti dahulu lagi. menyusun program untuk menurunkan stigma
Keluarga tidak menginginkan apa-apa selain di masyarakat guna memperkuat sistem
klien tersebut sembuh seperti dahulu. Ketika dukungan sosial bagi keluarga yang merawat
klien sudah sembuh, partisipan juga klien gangguan jiwa pasca pasung. Hal
menginginkan klien bekerja lebih baik lagi. tersebut dapat diwujudkan melalui penyebaran
leaflet dan penyuluhan.
SIMPULAN DAN SARAN Perawat seharusnya dapat memanfaatkan
penelitian ini sebagai pedoman untuk mengembangkan
Simpulan
pendekatan dalam hal mengajarkan keluarga untuk
Setelah lepas pasung, klien gangguan memilih strategi koping yang tepat serta
jiwa juga mengalami kemajuan dibandingkan memberdayakan kondisi psikologis keluarga
saat dipasung. Keluarga merasa sangat besyukur sekali selama merawat klien gangguan jiwa pasca
dengan keadaan yang sekarang. Keluarga dalam pasung.
merawat klien gangguan jiwa pasca pasung sebaiknya Peneliti disarankan untuk melanjutkan
menggunakan metode-metode untuk mencapai tujuan dan menggali lebih dalam tentang pemberdayaan
kesehatan keluarga. Metode merawatnya adalah dengan keluarga dalam mengelola berbagai beban
mengamati perkembangan fisiknya. Selain mengamati yang dihadapi sebagai dampak yang dirasakan
perkembangan fisiknya, keluarga juga memberikan dalam merawat klien gangguan jiwa pasca
kegiatan kepada klien gangguan jiwa pasca pasung melalui penelitian kualitatif. Selain itu,
pasung. pola koping keluarga untuk menghadapi
Gangguan jiwa pasca pasung, ada berbagai masalah dalam merawat klien gangguan
keluarga yang tidak mengalami hambatan dan jiwa pasca pasung dapat digali lebih jauh
ada juga keluarga yang mengalami hambatan. melalui penelitian kualitatif.
Hambatan tersebut muncul pada saat tertentu
saja. Tetapi hambatan tersebut bisa dilalui oleh KEPUSTAKAAN
keluarga. Ketika hambatan itu datang, keluarga Efendi, F & Makhfudli. 2009. Keperawatan
memiliki cara tersendiri untuk melewatinya. Kesehatan Komunitas Teori dan
Selama merawat klien gangguan jiwa Praktik dalam Keperawatan. Jakarta :
pasca pasung, keluarga menyampaikan harapan Salemba Medika
yang berhubungan dengan perkembangan klien. Hasbiansyah, O. 2008. Pendekatan Fenomenologi :
Perkembangan klien itu berupa perubahan Pengantar PraktikPenelitian dalam Ilmu
status kesehatan klien dan perubahan Sosial dan Komunikasi. Mediator. Vol 9
kesehatan. Perkembangan klien ke arah yang (1) Hal. 171-172
lebih baik memang menjadi harapan utama Minas, H., & Diatri, H. 2008. Pasung: Physical
restraint and confinement of the mentally ill in the

286
Pengalaman Keluarga (Hanik Endang, dkk)

community. International Journal of Mental Sari, H. 2009. Pengaruh Family Psychoeducation


Health Systems. Vol 2(1), 1-5. doi: 10.1186/1752- terhadap beban dan kemampuan
4458-2-8 keluarga dalam merawat klien pasung
Moleong, L J. 2010. Metodologi Penelitian di Kabupaten Bireun. Thesis. Depok :
Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Universitas Indonesia
Offset Yusuf, A., Putra S.T., & Probowati, Y. 2012.
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Peningkatan Coping Keluarga Dalam
Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Merawat Pasien Gangguan Jiwa Melalui
Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Terapi Spiritual Direction, Obedience,
Penelitian Keperawatan Edisi 2. Jakarta Dan Acceptance (Doa). Jurnal Ners. Vol 7 (2)
: Salemba Medika

287