Anda di halaman 1dari 55

SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas segala karunia dan
rahmat-Nya sehingga booklet ini dapat tersusun. Booklet ini disusun untuk membantu
kelancaran penyelenggaraan Seminar Nasional Kimia tahun 2017 dengan tema Optimalisasi
Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan
Indonesia yang Berkelanjutan.
Seminar Nasional ini berupa diskusi panel. Pembicara mempresentasikan makalahnya
yang dilanjutkan tanya jawab dengan peserta seminar. Seminar Nasional Kimia ini bertujuan
untuk memotivasi mahasiswa kimia khususnya untuk berpikir kreatif dalam mengaplikasikan
ilmunya, meningkatkan ilmu pengetahuan kimia tentang mineral kepada masyarakat luas
khususnya mahasiswa kimia, serta untuk memberikan gambaran tentang pengaplikasian
pemanfaatan mineral untuk pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.
Pada kesempatan ini panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang
mengikuti Seminar Nasional Kimia 2017 dan mengucapkan selamat menerima ilmu yang
bermanfaat serta panitia meminta maaf apabila terdapat salah dan kekurangan. Selamat
mengikuti seminar.

Yogyakarta, 20 Mei 2017

Panitia

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

i
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................................. ii
Sambutan Ketua Panitia ..................................................................................................... iii
Susunan Acara Seminar Nasional Kimia 2017 .................................................................. v
Peraturan Seminar Nasional Kimia 2017 ............................................................................ vi
1. Materi 1 Prof. A.K Prodjosantoso, Ph.D .................................................................... 1

2. Materi 2 Prof. Dr. Ir. C.Danisworo, M.Sc.................................................................. 15

3. Materi 3 Ir. Suganal.................................................................................................... 25


Curiculum Vitae Pembicara ................................................................................................ 46

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

ii
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
SAMBUTAN KETUA PANITIA
Assalamualaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Yang terhormat Rektor UNY. Yang kami hormati Dekan FMIPA UNY, Kajurdik Kimia
FMIPA UNY dan jajarannya, Dosen Pembimbing Hima Kimia FMIPA UNY, Bapak Ir.
Suganal, Bapak Prof. Dr. Ir. Conradus Danisworo, M.Si, Bapak Prof. A.K. Prodjosantoso,
M.Sc., Ph.D., dan tamu undangan serta peserta Seminar Nasional Kimia 2017.
Alhamdulillahirrabilalaamiin,
Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Seminar
Nasional Kimia ini tanpa ada halangan sedikitpun.
Hadirin yang kami hormati,
Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah, salah satunya
mineral, tetapi masih sangat jarang adanya pemanfaatan secara optimal dari semua pihak
sehingga Indonesia masih banyak tertinggal dengan negara-negara lain. Hampir semua
mineral ada di Indonesia, dan dapat dimanfaatkan untuk pembangunan indonesia yang lebih
baik, sehingga perlu adanya sebuah metode yang tepat untuk mengelolahnya. Selain itu,
peran pendidikan baik pengelolahan dalam skala laboratorium maupun yang lebih komplek
juga sangat diperlukan.
Oleh karena itu, dalam acara Seminar Nasional Kimia 2017 mengambil tema Optimalisasi
Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan
Indonesia yang Berkelanjutan. sebagai sarana diskusi dan sebagai upaya nyata partisipasi
masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa kimia. Dengan harapan peserta seminar,
khususnya mahasiswa kimia dapat menjadi generasi yang mampu memanfaatkan mineral-
mineral yang ada dengan lebih optimal untuk pembangunan Indonesia yang berkelanjutan..
Kegiatan Seminar Nasional Kimia ini tidak dapat berjalan lancar tanpa ada dukungan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih kepada Rektor UNY, Dekan
FMIPA UNY, Jurusan Pendidikan Kimia, pihak sponsor dan pihak-pihak lain yang tidak
dapat kami sebutkan satu persatu. Kami juga menyampaikan terimakasih kepada rekan-rekan
panitia yang telah menyiapkan dan bekerja keras untuk mensukseskan acara ini.
Kami mohon maaf, jika dalam acara ini terdapat kesalahan atau kekurangan maupun hal-hal

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

iii
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
yang kurang berkenan di hati Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian.
Selamat berseminar, kurang lebihnya mohon maaf.

Wallahul Muwafiq ila aqwamith thoriq.


Wassalamualaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, 20 Mei 2017


Ketua Panitia,

Fakhrizal Naufal

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

iv
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

SUSUNAN ACARA SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017


Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pengelolaan Mineral untuk
Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan

No Waktu Kegiatan
1 06.45-07.30 Registrasi peserta
2 07.30-08.10 Pembukaan
3 08.10-08.20 Persembahan Tari
4 08.20-08.25 Pengondisian
08.25-09.25 Materi pembicara I
5
Prof. A.K Prodjosantoso, Ph.D
6 09.25-10.05 Coffee break
7 10.05-10.20 Hiburan
8 10.20-10.25 Pengondisian
10.25-11.10 Materi pembicara II
9
Prof. Dr. Ir. C.Danisworo,M.Sc
11.10-11.55 Materi pembicara III
10
Ir. Suganal
11.55-12.25 Tanya Jawab dan Penyerahan Kenang-
11
kenangan
12 12.25-selesai Penutupan dan pengambilan sertifikat

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

v
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Peraturan Acara Seminar Nasional Kimia 2017

1. Dimohon ketepatan waktu peserta dalam mengikuti seluruh rangkaian acara Seminar
Nasional Kimia 2017.

2. Dimohon ketertiban peserta selama acara seminar berlangsung.

3. Peserta diharapkan hadir dalam ruangan 10 menit sebelum acara seminar dimulai.

4. Peserta dimohon menonaktifkan telepon genggam selama acara seminar berlangsung.

5. Peserta dilarang makan di dalam ruangan seminar.

6. Syarat peserta yang mendapat sertifikat :

a. peserta yang mengikuti seluruh rangkaian acara Seminar Nasional Kimia 2017,

b. peserta yang telah mendapatkan izin kepada panitia untuk meninggalkan rangkaian
acara seminar dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan

c. bagi peserta yang berhalangan hadir pada saat Seminar Nasional Kimia 2017 dapat
membuat surat izin resmi serta merangkum materi dari semua pembicara.
pengumpulan surat izin maksimal H+7 disertai dengan resume materi melalui
email: semnas.himakiuny@gmail.com konfirmasi: 085743262566 (Nana) dengan
format: NAMA LENGKAP_INSTANSI_EMAIL_NO HP
7. Materi lengkap Seminar Nasional Kimia 2017 dapat di unduh di website Himpunan
Mahasiswa Kimia UNY (www.himakiuny.com)

8. Bagi peserta yang tidak mengambil sertifikat selama waktu 3 bulan, maka bukan tanggung
jawab panitia.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

vi
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

MATERI I
DEEP SEA MINING
Oleh: Prof. A.K Prodjosantoso, Ph.D
(Guru Besar Kimia Anorganik FMIPA UNY)

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

1
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

2
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

3
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

4
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

5
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

6
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

7
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

8
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

9
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

10
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

11
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

12
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

13
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

14
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

MATERI II

OPTIMALISASI APLIKASI ILMU KIMIA DALAM PEMANFAATAN


SUMBERDAYA MINERAL
UNTUK PEMBANGUNAN INDONESIA
YANG BERKELANJUTAN*)

Oleh: Prof. Dr. Ir. C.Danisworo, MSc**)

PENDAHULUAN

Indonesia dengan kekayaan sumberdaya mineralnya, semestinya dapat menjadi bangsa


yang hidup lebih sejahtera, maju, modern dan mandiri. Pemanfaatan sumberdaya mineral
untuk mendukung pembangunan nasional Indonesia yang berkelanjutan menjadi hal yang
perlu mendapat perhatian pertama dan utama. Namun tidak cukup hanya dengan pakar-pakar
ilmu kimia dan memahami teknologi mineral, tetapi dalam dibutuhkan pakar-pakar ilmu
kimia dan teknologi mineral yang mempunyai semangat kebangsaan yang kental, kesadaran
bela negara yang tinggi. Tentu ada yang perlu dibenahi, perlu diperbaiki, apakah sumberdaya
manusianya, atau dalam pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineralnya.
Bangsa yang maju, modern, dan mandiri adalah bangsa yang dapat menguasai
pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineral di negaranya, bahkan banyak yang
memanfaatkan sumberdaya mineral dari negara lain. Negara tetangga, Singapura, walau tidak
mempunyai sumberdaya mineral, namun rakyatnya dapat hidup sejahtera, maju, dan modern,
walau tidak mungkin dapat mandiri.
Dalam pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineral di Indonesia, yang diharapkan
tentunya tidak hanya tergantung pada jumlah, letak keterdapatan cadangan sumberdaya
mineralnya, tetapi yang jauh lebih penting, pertama dan utama adalah diperlukan sumberdaya
manusia yang menguasai ilmu kimia dan teknologi nineral yang kompeten dan
bertanggungjawab dalam pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineral.
Letak geografi, kekayaan sumberdaya mineral, dan sumberdaya manusia Negara

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

15
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai Negara Kepulauan dengan kebhinnekaan,
kemajemukan masyarakatnya, merupakan kekuatan yang dapat terus dikembangkan dan
dimanfaatkan untuk mencapai cita-cita bangsa.

SUMBERDAYA MINERAL

Sejak awal peradaban manusia, mineral-mineral logam sudah banyak dimanfaatkan


untuk keperluan kehidupan sehari-hari, sehingga mempunyai nilai tinggi. Misal mineral
emas, sebagai logam dasar, yang berwarna kuning ini bernilai tinggi karena langka, indah dan
tahan lama. Apalagi di jaman modern ini, kebutuhan dan pemanfaatan mineral logam untuk
dunia industri dan pembangunan sudah menjadi keharusan, mutlak diperlukan.
Sampai dengan saat ini memang masih belum ada definisi mineral yang baku dan dapat
diterima oleh seluruh masyarakat dunia yang berkecimpung dalam dunia mineralogi. Namun
sudah ada beberapa definisi mineral menurut para ahli mineral, antara lain :
1. L.G. Berry dan Brian Mason (1959) : Mineral adalah suatu benda padat homogen yang
terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas batas
tertentu dan mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.
2. D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks (1972) : Mineral adalah suatu bahan padat yang
secara structural homogen mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam
yang anorganik.
3. A.W.R. Potter dan H. Robinson (1977) : Mineral adalah suatu bahan atau zat yang
homogen mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas batas dan mempunyai sifat
sifat tetap, dibentuk dialam dan bukan hasil suatu kehidupan.
Dari ketiga definisi tersebut, yang lebih banyak diterima secara internasional,
walaupun dengan beberapa pengecualian, adalah definisi mineral menurut Berry dan Mason
(1959). Keduanya adalah ahli mineral sekaligus ahli kimia.
Secara geologi Indonesia adalah negara yang unik, merupakan salah satu kawasan di
dunia di mana terdapat tumbukan tiga lempeng tektonik. Lempeng Euroasia yang stabil, dan
dua lempeng lainnya yang selalu bergerak, yaitu Lembeng Indoaustralia bergerak ke utara
atau timur laut dengan kecepatan 7,7 cm/tahun, dan Lempeng Pasifik bergerak ke barat atau
barat laut dengan kecepatan 10,2 cm/tahun. Tumbukan tiga lempeng tektonik tersebut

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

16
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
membentuk busur magmatik, ring of fire, yang sangat menguntungkan Indonesia.
Sepanjang jalur tersebut berpeluang besar terhadap kehadiran berbagai sumberdaya mineral
logam berharga, termasuk bahan baku batumulia. Tumbukan tiga lempeng tektonik juga
berdampak munculnya 129 gunungapi aktif di Indonesia, sehingga sekaligus menempatkan
Indonesia sebagai kawasan yang rawan terhadap bencana gempa tektonik, letusan gunungapi,
lahar dan gempa vulkanik. Oleh karena itu Bangsa Indonesia harus memahami dan dapat
hidup harmoni dengan alam sekitarnya.
Indonesia kaya akan sumberdaya mineral. Lokasi mineral-mineral yang mengandung
emas, perak, tembaga, nikel, besi, timah, bauksit, magnesium, uranium, titanium, merkuri,
dan yang lain tersebar di berbagai pulau. Kondisi ini cukup rumit, tidak mudah untuk
ditambang, diolah, kemudian konsentratnya dikirim ke luar negeri. Demi untuk kemakmuran
rakyat Indonesia, perlu mengkaitkan antara lokasi keterdapatan dan jumlah cadangan
sumberdaya mineral dengan sumberdaya manusia yang menguasai ilmu kimia dan teknologi
mineral yang cinta tanah air, yang berwawasan Kebangsaan Indonesia demi keberhasilan
pembangunan nasional yang berkelanjutan.

PENGOLAHAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA MINERAL


Agar lebih optimal dan berhasil guna dalam mengolah dan mengelola sumberdaya
mineral Indonesia, maka para pakar ilmu kimia diharapkan dalam mengaplikasikan ilmunya
dalam pemanfaatan mineral untuk lebih mengenal dan menguasai jenis, sifat fisik dan kimia
mineral-mineral terutama yang mengandung logam. Mineral-mineral tersebut antara lain
yang mengandung :
Tembaga
Tembaga, Cu, logam dasar tembaga;
Azurit, Cu3(CO3)2(OH)2, karbonat tembaga berwarna biru tua, sering bersama Malahit,
Cu2(CO3)(OH)2, karbonat tembaga warna hijau;
Kalkopirit, CuFeS2, sulfida tembaga dan besi, sering disebut pirit tembaga;
Kalkosit, Cu2S, sulfida tembaga, adalah mineral tembaga yang penting;
Kuprit, Cu2O, oksida tembaga, termasuk mineral mengandung tembaga penting yang;

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

17
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Timah hitam
Galena, PbS, sulfida timah, mineral mengandung timah hitam utama;
Magnesium
Magnesit, MgCO3, karbonat magnesium, mineral utama dari metal magnesium yang ringan;
Timah putih
Kasiterit, SnO2, oksida timah, sering dinamakan pula batu timah, kasiterit yang berwarna
hitam adalah mineral mengandung timah utama;
Besi
Hematit, Fe2O3, oksida besi atau mineral besi utama;
Magnetit, Fe3O4, oksida besi, bersifat magnet alam;
Pirit, FeS2, sulfida besi, mineral sulfida paling banyak ditemukn dalam kerak bumi;
Markasit, FeS2, sulfida besi, mempunyai rumus kimia, polimorf dengan pirit;
Siderit, FeCO3, karbonat besi, mineral mengandung besi penting, ditemukan baik di dalam
urat maupun dalam endapan sedimen;
Titanium
Rutil, TiO2. dioksida titanium, salah satu mineral penghasil titanium yang penting di
samping mineral Ilmenit, FeTiO3;
Uranium
Uraninit, UO2, dioksida uranium, penghasil utama logam radioaktif uranium, bahan dasar
uranium yang mengandung radio aktif
Emas dan perak
Emas, Au, logam dasar, mineral berwarna kuning, bernilai tinggi dan mahal;
Perak, Ag, logam dasar, juga salah satu logam mahal;
Air raksa
Sinabar, HgS, sulfida air raksa, mineral mengandung air raksa utama;
Seng
Sphalerit, ZnS2, sulfida seng, warna abu-abu sampai kehitaman;

Selanjutnya diharapkan dalam pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineral untuk


mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan, maka diperlukan kebijakan yang
bertujuan akhir untuk kesejahteraan, kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. Kebijakan

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

18
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
pemerintah di bidang sumberdaya mineral sudah seharusnya didasarkan atas kepentingan
bangsa dan negara lndonesia. Semua peraturan yang menyangkut pengelolaan sumberdaya
mineral harus dibuat dengan bener, pinter dan pener. Hasil dari pengolahan dan pengelolaan
sumberdaya mineral harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Di samping itu nilai-nilai
kebangsaan, yang dilandasi cinta tanah air dan semangat bela negara perlu dipakai dasar
utama pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineral. Kedaulatan sumberdaya mineral
bukan sekedar perihal lokasi keterdapatan dan jumlah cadangan sumberdaya mineral, serta
teknologinya, namun sangat tergantung/ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusianya,
para pakar ilmu kimia dan teknologi mineral. Mereka harus berpola pikir, pola sikap, dan
pola tindak yang menunjukkan kecintaan pada tanah air.
Marilah kita belajar dari sejarah, bagaimana Kejayaan Kerajaan Sriwijaya (Abad
VII), Singosari dan Majapahit (Abad XIV) terwujud karena upaya yang dijiwai semangat
cinta nusantara, semangat persatuan dan kesatuan bangsa.
Bangsa Indonesia walau terdiri dari berbagai suku dan agama, ragam budaya dan
golongan tetapi kalau mempunyai prinsip satu untuk semua, semua untuk satu, niscaya
Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang besar, berkualitas, kompeten, dan akhirnya
jayalah Indonesiaku tercinta.
Semangat dan dorongan yang dapat menyatukan Bangsa Indonesia dan menumbuhkan
jiwa kebangsaan yang tinggi dalam wadah NKRI berdasar Pancasila dan UUD 1945 adalah
adanya Gerakan Kebangkitan Nasional 1908, Soempah Pemoeda 1928, dan Proklamasi
Kemerdekaan 17Agustus 1945.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineral
di Indonesia masih banyak yang dikuasai oleh perusahaan asing. Jika kita ingin menguji
karakter/kemampuan sumberdaya manusia Indonesia, berilah mereka kesempatan.
Sumberdaya manusia Indonesia perlu mengambil alih teknologi, kita belajar dengan prinsip
tiga N-nya Ki Hajar Dewantoro yakni Niteni, Niroke dan Nambahi. Banyak sumberdaya
manusia terampil Indonesia lulusan perguruan tinggi di bidang keteknologi mineralan,
pertambangan, geologi, metalurgi, ilmu kimia, dan bidang-bidang terkait teknologi mineral
yang siap untuk mengeksplotasi, mengolah dan mengelola sumberdaya mineral Indonesia.
Peningkatan sumberdaya manusia Indonesia menjadi sumberdaya manusia yang kompeten,
berdaya saing tinggi secara internasional, sebagai modal dasar untuk mendorong keunggulan

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

19
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
bangsa dalam keberlangsungan pembangunan nasional. Pengolahan dan pengelolaan
sumberdaya mineral dan semangat kebangsaan para pakar keteknologi mineralan adalah dua
kutub yang saling menguatkan, keduanya tidak boleh saling berseberangan.
Pembangunan Nasional Indonesia yang berkelanjutan tidak boleh mengabaikan tiga
aspek yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain : 1). Sumberdaya Manusia
Indonesia, yang merupakan negara dengan jumlah penduduk nomor empat terbesar di dunia,
sekitar 240 juta; 2). Sumberdaya Mineral Indonesia, baik sumberdaya mineral, kehutanan,
kelautan dan yang lain; dan 3). Lokasi Geografi Indonesia, yang sangat strategis di antara
dua samodra Hindia dan Pasifik, serta di antara dua benua Asia dan Australia.
Apabila kekayaan sumberdaya mineral di Indonesia masih dikelola oleh perusahaan
asing, atau dikelola oleh sumberdaya manusia Indonesia sendiri yang tidak cinta tanah air,
pasti hasilnya tidak akan dapat optimal untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Bagaimana pun
juga perusahaan asing pasti lebih mempertimbangkan keuntungan ekonomi ketimbang untuk
kemakmuran Bangsa Indonesia. Kalau sampai Indonesia kehilangan kedaulatan dalam
pengolahan dan pengelolaan sumberdaya mineral, kita akan menjadi kuli, jongos di negara
sendiri. Bung Karno mengingatkan Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah,
tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.
Kita ingat pula trilogi Bung Karno, bahwa Bangsa Indonesia harus sebagai bangsa yang
berpedoman tiga prinsip dasar, yaitu : 1). Kedaulatan dalam bidang politik; 2).
Kemandirian dalam bidang ekonomi; dan 3). Kepribadian dalam bidang budaya.
Peraturan perundangan harus diatur untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat
Indonesia, harus pro rakyat Indonesia. Bunyi pasal 33 UUD 1945, ayat (3) jelas sudah
menyebutkan : Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sebagai
penjabarannya pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
mencanangkan kebijakan peningkatan nilai tambah mineral atau program hilirisasi mineral
(pembangunan smelter). Langkah tersebut dinilai tepat, patut dihargai, dan didukung, karena
diharapkan akan benar-benar untuk kemakmuran rakyat, menciptakan lapangan kerja baru,
dan bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Selanjutnya masih banyak dibutuhkan pakar-pakar ilmu kimia dan teknologi mineral
dalam rangka optimalisasi aplikasi ilmu kimia dalam pemanfaatan mineral untuk

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

20
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Untuk mendukung program tersebut, tepatlah
beberapa peraturan perundang-undangan yang telah diterbitkan oleh pemerintah Indonesia,
antara lain :

1. UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara


Pasal 103: Pemegang IUP/IUPK Operasi Produksi wajib melakukan pengolahan dan
pemurnian hasil penambangan di dalam negeri.
Pasal 170 : Pemegang KK wajib melakukan pemurnian di dalam negeri dalam jangka waktu
5 (lima) tahun.
Di sini jelas ada kewajiban bagi perusahaan tambang untuk membangun smelter di dalam
negeri dan melarang ekspor minerba mentah yang berlaku sejak 12 Januari 2014.
2. PP No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan
Mineral dan Batubara.
Pelaksanaan kewajiban pengolahan pemurnian bagi pemegang IUP/IUPK yang berasal dari
hasil penyesuaian Kuasa Pertambangan paling lambat 12 Januari 2014.
Pasal 84 ayat menyatakan bahwa Pemegang IUP/IUPK Operasi Produksi dapat melakukan
ekspor mineral atau batubara yang diproduksi setelah terpenuhinya kebutuhan mineral dan
batubara di dalam negeri.
3. PP No. 1 Tahun 2014 tentang Perubahan kedua atas PP 23/2010
Pelaksanaan kewajiban pengolahan pemurnian bagi pemegang IUP/IUPK paling lambat 12
Januari 2017. Di sini masih mengizinkan ekspor konsentrat dengan kadar tertentu. Izin
ekspor tersebut dikeluarkan pada setiap tahun berdasarkan hasil evaluasi atas kemajuan
pembangunan smelter di dalam negeri, yang dipersyaratkan.
4. PP No. 1 Tahun 2017 tentang Perubahan Keempat atas PP No. 23/2010
5. Permen ESDM No. 5 Tahun 2017 tentang Peningkatan Nilai tambah Mineral
Melalui kegiatan Pengolahan dan Pemurnian
6. Permen ESDM No. 6 Tahun 2017 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian
Rekomendasi Ekspor.
Diterbitkannya PP No 14 Tahun 2009, sudah tepat, berpihak pada rakyat Indonesia,
diberlakukan pada tanggal 12 Januari 2014. Perusahaan-perusahaan Nasional sudah
mematuhi, dampaknya perusahaan nasional banyak yang terpaksa tutup karena tidak mampu

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

21
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
membangun smelter di Indonesia. Sementara perusahaan asing yang karena ketergantungan
pada kontrak, masih ada relaksasi tetap diizinkan mengekspor bahan galian/mineral mentah
berupa batu dan tanah. Ini ada ketidakadilan, maka relaksasi ini tidak boleh dibiarkan.
Indonesia jangan lagi mengekspor bahan galian/mineral mentah, tapi wajib diolah di
dalam negeri untuk menciptakan lapangan kerja baru dan nilai tambah yang lebih besar bagi
Bangsa lndonesia. Beri kesempatan para pakar ilmu kimia dan teknologi mineral mengolah
dan mengelola symberdaya mineral Indonesia.

KESIMPULAN

Kunci keberhasilan dalam menuju pembangunan nasional yang berkelanjutan adalah


mengkaitkan tiga aspek sumberdaya manusia, sumberdaya mineral, dan lokasi geografi
Indonesia.
Upaya optimalisasi aplikasi ilmu kimia dalam pemanfaatan sumberdaya mineral guna
mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan maka pengolahan dan pengelolaan
sumberdaya mineral di Indonesia harus didasarkan pada pengelolaan yang berpihak bagi
kemakmuran rakyat Indonesia dengan wawasan cinta tanah air.
Berilah kesempatan kepada para pakar ilmu kimia dan teknologi mineral untuk mengolah
dan mengelola sumberdaya mineral Indonesia seluas-luasnya.
Indonesia jangan lagi mengekspor bahan galian atau mineral mentah, tapi wajib
diolah di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi Bangsa
lndonesia. Peningkatan nilai tambah mineral dengan mewajibkan pengusaha pertambangan
untuk mengolah hasil tambang di dalam negeri berupa program hilirisasi mineral
(pembangunan smelter) sudah tepat, perlu diteruskan dan ditingkatkan, sehingga dapat
meningkatkan lapangan kerja baru, dan bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi derah dan
nasional.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

22
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

DAFTAR PUSTAKA

Berry, L.G.,and Mason, B.,1959 : Mineralogy. Concepts, Descriptions, Determinations.


Freeman W.H., and Co, San Fransisco.
Bonewitz, R.L., 2008 : Rocks and Minerals. Dorling Kindersley Limited. London.
Danisworo, C., 2009 : Mineralogi. Laboratorium Mineralogi, Jurusan Teknik Geologi,
Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran, Yogyakarta.
Danisworo, C., 2017 : Sumberdaya Mineral dan Kebangsaan. Mustinya, Dua Kutub
Saling Menguatkan. Di sampaikan pada Serial Diskusi Kebangsaan oleh Persatuan
Wartawan Sepuh, di Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta, tanggal
21 Maret 2017. Jurnal Serial Diskusi Kebangsaan. Nomor 03/2017. Hal 7-11.

Catatan :
*) Materi diskusi dipresentasikan pada diskusi Seminar Nasional Kimia,, diselenggarakan
oleh HIMA KIMIA FMIPA UNY, tanggal 20 Mei 2017 di UNY.
**) Prof. Dr. Ir. C. Danisworo, MSc : Guru Besar Program Studi Teknik Geologi, Fakultas
Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta. Email : conrad_danis@yahoo.com

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

23
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Gambar 2. Peta sebaran gunung api aktif di Indonesia.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

24
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
MATERI III

SINERGISITAS PEMANFAATAN MINERAL DAN BATUBARA UNTUK


PEMBANGUNAN INDONESIA YANG BERKELANJUTAN
oleh
Suganal, Hadi Purnomo, Isyatun Rodliyah
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINERAL DAN
BATUBARA
Jalan Jenderal Sudirman 623, Bandung 40211
Telp. 022 6030483, Fax. 022 6003373
e-mail : suganal@tekmira.esdm.go.id

Abstrak
Cadangan mineral dan batubara (minerba) di Indonesia tersebar di seluruh pulau-pulau
dengan rincian mineral logam sebagian besar terdapat di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,
Maluku dan Papua. Sebaran batubara utamanya terdapat di Sumatera dan Kalimantan.
Cadangan batubara mencapai 32,27 milyar ton dan dapat bertahan selama 70 tahun dengan
laju produksi sebanyak 498 juta ton per tahun seperti saat sekarang. Cadangan mineral logam
antara lain nikel sejumlah 3,7 milyar ton dan dapat menghasilkan logam nikel sejumlah 54,5
juta ton logam nikel, bijih besi dan pasir besi sebanyak 1.784 juta ton.

Minerba merupakan kekayaan nasional yang penting untuk mewujudkan kesejahteraan


dan kemakmuran rakyat secara optimal. Secara umum, minerba sangat penting sebagai
sumber energi, bahan baku, bahan penolong imbuh dari industri yang berujung pada
perkembangan dan pertumbuhan ekonomi nasional. Sejalan dengan pelaksanaan Undang
Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dengan beberapa
peraturan pendukungnya, isu atau target utama minerba secara nasional adalah peningkatan
nilai tambah (PNT) agar diperoleh manfaat dan efek ganda yang lebih optimal.

Realisasi proses PNT minerba berkaitan erat dengan implementasi hasil litbang, sumber
dana dan sumber daya manusia.Dalam rangka realisasi PNT minerba, Puslitbangtek Minerba
sesuai tugas dan fungsi yang diemban telah aktif melakukan litbang dan inovasi proses

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

25
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
pengolahan minerba. Beberapa obyek litbang sangat mendesak adalah mineral bauksit, nikel,
tembaga, bijih besi/pasir besi dan logam tanah jarang juga batubara untuk energi dan bahan
baku kimia.

Kata Kunci : mineral dan batubara, PNT, energi, bahan baku

1. PENDAHULUAN
Potensi cadangan mineral dan batubara (minerba) di Indonesia, terutama mineral logam
dan batubara dapat dikembangkan untuk kemakmuran nasional melalui proses pengolahan
dan pemurnian terhadap kedua sumber daya alam tersebut. Mineral logam yang telah
mengalami proses pengolahan dan pemurnian dapat menjadi bahan baku industri logam dasar
maupun industri hilir logam tersebut, selanjutnya sangat mendukung industri manufaktur.
Batubara akan berfungsi sebagai sumber energi pada industri kecil menengah maupun
industri besar disamping dapat menjadi sumber bahan baku industri kimia. Integrasi dan
sinergitas pemanfaatan mineral dan batubara merupakan modal pengembangan industri
nasional dan menunjang pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.Cadangan batubara
Indonesia mencapai 32,28 juta ton tersebar terutama di Kalimantan Timur, Kalimantan
Selatan dan Sumatera Selatan. Mineral logam yang utama antara lain bauksit, nikel, besi,
tembaga dan lain lain serta mineral pembawa logam tanah jarang yang terdapat pada buang
pengolahn mineral logam, keterdapatannya tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia.
Sebaran mineral bauksit sebagian besar terdapat di Kalimantan Barat, nikel di daerah
Sulawesi dan Maluku, besi berada di Kalimantan, Sumatera (Lampung), Maluku (dalam
bentuk pasir besi) dan Sulawesi, tembaga sangat besar cadangan di Papua, sedangkan mineral
pembawa logam tanah jarang banyak terkandung pada tailing pengolahan timah di Bangka.
Sejalan dengan penerapan Undang Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral
dan Batubara, proses peningkatan nilai tambah mineral dan batubara menjadi bagian penting
untuk mendapat nilai maksimal dari kedua kekayaan alam tersebut. Dengan demikian
pengembangan dan penerapan sistem proses dan teknologi pengolahan dan pemurnian
mineral dan batubara menjadi sangat penting sebagai penopang cita cita yang tertuang pada
Undang Undang tersebut di atas beserta semua peraturan yang penyertaianya.
Pengembangan dan pemanfaatan potensi mineral dan batubara melalui proses
peningkatan nilai tambah akan dapat memberikan efek ganda antara lain :

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

26
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan value added dari produk industri


pengolahan dan pemurnian mineral logam dan batubara,
peningkatan kualitas sumber daya manusia setempat,
perluasan kegiatan ekonomi kreatif berbasis sumber daya alam setempat dan produk
samping kegiatan pengolahan mineral logam dan batubara.

Pola kegiatan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara akan lebih optimal
(efektif dan efisien) jika sumber mineral dan sumber batubara saling berdekatan sehingga
batubara dapat digunakan sebagai energi yang murah untuk pembangkit listrik dan
pembangkit thermal pada operasi kegiatan tersebut.Tujuan penelitian dan penulisan
mendapatkan pola pemanfaatan mineral dan batubara untuk pembangunan indonesia yang
berkelanjutan melalui upaya pengolahan dan pemurnian mineral dan pemanfaatan batubara
yang optimal secara terintegrasi.

2. METODE

Data dan informasi merupakan kebutuhan utama pada kegiatan ini. Umumnya berupa
data sekunder yang diperoleh melalui pencarian ke unit unit terkait antara lain perusahaan
pertambangan mineral dan batubara berupa BUMN, swasta dan instansi pemerintah yang
relevan untuk memperoleh gambaran mengenai perkembangan pengelolaan potensi batubara
serta mineral di Indonesia. Data yang diperoleh dikompilasi dan disajikan dalam bentuk
matrik maupun narasi untuk diekstrak sehingga diperoleh suatu sinergitas antara potensi
sumber daya alam minerba sebagai energi dan bahan baku proses peningkatan nilai tambah
minerba untuk menopang industri dalam negeri.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Potensi Mineral Indonesia
Jenis mineral di Indonesia sangat beragam. Pada studi saat ini sementara dibatasi pada
mineral logam antara bauksit, bijih besi/pasir besi, tembaga, nikel dan mineral pembawa
logam tanah jarang.Data sumber daya mineral berasal dari Pusat Sumber Daya Geologi
dikelompokkan per kepulauan terlihat pada gambar 1.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

27
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Gambar 1. Penyebaran Berbagai Jenis Sumber Daya Mineral Di Indonesia


(Badan Geologi Kementerian ESDM, 2013)
Berdasarkan data tahun 2014, sumber daya bijih besi terbesar terdapat di Pulau
Kalimantan sebesar 423,23 juta ton, sedang lokasi lainnya yaitu Kepulauan Maluku
merupakan daerah dengan sumber daya berupa pasir besi terbesar, yaitu 550 juta ton. Untuk
wilayah Lampung, estimasi keberadaan bijih besi berkisar 392 juta m3 (Irsyad, S, 2015).
Bauksit merupakan mineral yang sumber dayanya hanya terdapat di pulau tertentu di
Indonesia. Sumber daya bauksit terdapat di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan dengan
sumber daya terbesar adalah di pulau Kalimantan sebanyak 424 juta ton. Sumber daya nikel
yang terdapat di Sulawesi yaitu sebanyak 750.713.191 ton bijih nikel sementara di Maluku
hampir sepertiganya yaitu sebesar 276.717.616 ton. Sumber daya nikel di Papua Barat dan
Papua pun melimpah yaitu sebesar 153.749.600 ton dan 49.240.000 ton. Selain di empat
lokasi tersebut, Kalimantan pun menyimpan kekayaan sumber daya nikel sebanyak 36 juta
ton. Sumber daya bijih tembaga terbesar di Indonesia terdapat di Pulau Papua, yaitu sekitar
3.030 juta ton. Kepulauan Nusa Tenggara berada di posisi kedua terbesar penghasil bijih
tembaga di Indonesia.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

28
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

3.1.1. Peranan Mineral Sebagai Komoditas Ekspor Dan Bahan Baku Industri
Mineral belum dapat digunakan secara langsung sebagai bahan baku industri dan/atau
komoditas perdagangan yang benilai tinggi. Mineral tersebut perlu dilakukan proses
pengolahan dan pemurnian agar terbentuk bahan yang sesuai dengan spesifikasi umpan
industri. Amanat Undang Undang No. 4 secara jelas mengharuskan adanya proses
peningkatan nilai tambah mineral pada mineral. Bagan alir umum proses pengolahan mineral
terlihat pada gambar 2. Dalam kasus mineral logam, perubahan nilai dari suatu mineral
setelah mengalami proses pengolahan dapat dilihat pada gambar 3. Berdasarkan gambar 3
terlihat bahwa peranan proses pengolahan sangat menonjol dalam meningkatkan nilai mineral
sehingga keuntungan optimal dapat diraih untuk kesejahteraan rakyat.

Gambar 2. Bagan Alir Pengolah Gambar 3. Bagan Alir Pengolah


Pengolahan Mineral Pengolahan Mineral

3.1.2. Peranan Proses Peningakatan Nilai Tambah Mineral


3.1.2.1. Bauksit

Bauksit merupakan sumber logam Aluminium.Bauksit terupa campuran mineral antara


lain gibbsite, hematite, goethite, Al-goethite, anatase,rutile, ilmenite, kaolin, dan kuarsa
(Donoghue, AM, 2014). Pemrosesan bauksit terdiri dari dua tahap utama, yaitu pengolahan
bauksit menjadi alumina (proses Bayer) seperti ditunjukkan oleh Gambar 4, kemudian
pengolahan alumina menjadi logam aluminium (proses Hall-Heroult) seperti ditunjukkan

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

29
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
oleh Gambar 5.

Sumber: http://www.alteo- Sumber:


alumina.com/en/alumina-refining http://glencoe.mheducation.com
Gambar 4. Proses Bayer; Pengolahan Bauksit Gambar 5. Proses Hall-Heroult; Pengolahan
Menjadi Alumina Alumina Menjadi Aluminium.
Secara umum, untuk memproduksi 1 kg logam aluminium membutuhkan 4 kg bauksit,
0,5 kg Carbon, 20 graluminium flourida, 50 gr cryolite dan energi listrik 15 kwh (Kvande, H,
2015).Proyeksi kebutuhan alumina dan aluminium nasional untuk tahun 2015 sampai dengan
tahun 2025 ditunjukkan pada Gambar 6, sementara proyeksi kebutuhan energi pada masa
tersebut ditunjukkan oleh Tabel 1.

Sumber :Olahan dari berbagai sumber, 2015

Gambar 6. Proyeksi Kebutuhan Aluminium Dan Alumina Nasional

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

30
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Tabel 1. Proyeksi Kebutuhan Energi Untuk Menghasilkan Logam Aluminium

Produk Aluminium
Asumsi kebutuhan energi (MWh/ton produk) 21,61
Sumber asumsi PT.Inalum
Asumsi kebutuhan produk tahun 2020 (ton) 1.180.000
Asumsi kebutuhan energi tahun 2020 (MWh) 25.505.202
Asumsi kebutuhan daya tahun 2020 (MW) 2.912
Asumsi kebutuhan produk tahun 2025 (ton) 1.250.000
Asumsi kebutuhan energi tahun 2025 (MWh) 27.018.222
Asumsi ke-butuh-an daya tahun 2025 (MW) 3.084
Sumber :Olahan dari berbagai sumber, 2015

Terlihat bahwa pemrosesan alumina menjadi aluminum membutuhkan energi yang


sangat besar. Oleh karena itu, pabrik smelter aluminium sebaiknya didirikan di daerah yang
memungkinkan dibangun PLTA kapasitas besar. Daerah Papua memiliki potensi sumber
daya air besar yaitu Daerah Aliran Sungai Mamberamo di Papua memiliki potensi energi
hingga 3,38 GW. Bijih bauksit setelah diolah menjadi alumina akan mengalami peningkatan
nilai tambah sebesar 20 kali lipat sementara jika diolah lagi menjadi aluminium, peningkatan
nilai tambahnya bahkan menjadi 147 kali lipat. Hal ini seharusnya menjadi pendorong
pemrosesan mineral di dalam negeri.

3.1.2.2. Nikel

Secara garis besar, struktur supply chain industri nikel dibedakan menjadi kelompok
industri hulu, industri antara dan industri hilir seperti terlihat pada Gambar 7. Pada gambar
tersebut terlihat bahwa beberapa industri berbasis nikel, belum ada di Indonesia. Pada masa
yang akan datang diharapkan industri ini dapat tumbuh, untuk menopang ketahanan industri
dalam negeri, antara lain industri paduan logam nikel non-ferrous, paduan logam nikel dan
baterai.

Salah satu kegiatan pengolahan bijih nikel di Indonesia adalah pembuatan Ferronikel
oleh PT Aneka Tambang di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, dengan bagan alir proses seperti

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

31
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
pada gambar 8.

Rencana proyeksi kebutuhan Ferronickel dan Nickel Pig Iron nasional ditunjukkan
pada Gambar 9, sementara proyeksi kebutuhan energinya berkisar 11 MWh/ton.Sumber
asumsi yang digunakan untuk memperoleh data ini adalah pemrosesan yang dilakukan oleh
PT Antam dengan kapasitas produksi sebesar 26.000 ton/tahun memerlukan energi sebesar
108 MW (Balitbang ESDM, 2011).

Gambar7. Pohon Industri Nikel di Indonesia

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

32
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Gambar 8. Bagan alir proses pengolahan mineral laterit nikel komersial di PT


Antam dengan produk ferronikel

1,600,000
1,400,000
Jumlah (Ton/tahun)

1,200,000
877.840 703.840
1,000,000 1,200,000
Rencana
800,000
Produksi
600,000
Kelebihan Produksi
400,000 772,800
598,800
200,000
276,640
-
2015 2020 2025

Sumber : Diolah dari berbagai sumber, Kementerian Perindustrian


Gambar 9. Proyeksi Kebutuhan Ferronickel dan Nickel Pig Iron Nasional

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

33
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

3.1.2.3. Tembaga

Proses pengolahan mineral tembaga dapat dibagi menjadi tiga metode, yaitu
pirometalurgi, hidrometalurgi, dan elektrometalurgi. Metode pirometalurgi memerlukan suhu
yang tinggi namun relatif singkat waktu prosesnya. Metode hidrometalurgi menggunakan
pelarut kimia untuk menangkap atau melarutkan logamnya. Sedangkan metode
elektrometalurgi menggunakan teknik elektrolisis untuk memperoleh logamnya. Pada tulisan
ini, teknologi pemrosesan tembaga yang dibahas adalah metode pirometalurgi. Secara ringkas
diagram alir metode pirometalurgi ditunjukkan pada Gambar 10.

Sumber : Office of Technology Assessment,2015


Gambar 10. Teknologi pengolahan tembaga dengan metode Pirometalurgi

Struktur industri tembaga dibedakan menjadi kelompok industri hulu, industri antara dan
industri hilir seperti tertulis pada gambar 11.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

34
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Sumber : Ditjen Basis Industri Manufaktur Kementerian Perindustrian, 2013

Gambar 11. Pohon Industri Dari Logam Tembaga

Pengolahan konsentrat tembaga telah dilakukan oleh PT Smelting Gresik sejak tahun
1999. Perusahaan ini adalah perusahaan smelter dan refinery yang pertama di Indonesia dan
didirikan pada tahun 1996. Pabriknya terletak di Kota Gresik, sekitar 25 kilometer dari kota
Surabaya di Jawa Timur.
Proyeksi kebutuhan katoda tembaga nasional sampai tahun 2025 ditunjukkan oleh
Gambar 12. Berdasarkan data dari Dirjen Minerba tahun 2015 smelter untuk katoda tembaga
hanya ada di PT Smelting (Mitsubishi Flash) daerah Gresik Provinsi Jawa Timur sebesar
250.000 ton/tahun (data tahun 2014). Kapasitas awal dari PT Smelting Gresik adalah 200.000
ton/tahun dan sekarang kapasitas produksi sebesar 300.000 ton/tahun dengan optimalisasi
pabrik pemurnian. Bahan baku konsentrat tembaga didatangkan dari PT Freeport Indoneia
dan PT Newmont Nusa Tenggara sebanyak 1.000.000 ton/tahun. Pendirian pabrik tembaga
harus dekat dengan pabrik pupuk dan semen untuk menampung produk samping dari pabrik
tembaga berupa asam sulfat, gipsum, terak tembaga dan lumpur anoda.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

35
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Gambar 12. Proyeksi Kebutuhan Katoda Tembaga Nasional

Berdasarkan data proyeksi kebutuhan katoda tembaga nasional di tahun 2015, tahun
2020 dan tahun 2025, proyeksi kebutuhan energi yang diperlukan untuk memenuhi
permintaan katoda tembaga nasional pada ketiga periode tersebut dapat dihitung. Adapun
hasil perhitungannya disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Proyeksi kebutuhan energi untuk menghasilkan tembaga katoda

Produk Tembaga katoda


Asumsi kebutuhan energi (MWh/ton) 0,95
Sumber asumsi PT Smelting Gresik
Asumsi kebutuhan produk tahun 2020 (ton) 190.000
Asumsi kebutuhan energi tahun 2020 (MWh) 181.133
Asumsi kebutuhan daya tahun 2020(MW) 21
Asumsi kebutuhan produk tahun 2025 (ton) 430.000
Asumsi kebutuhan energi tahun 2025 (MWh) 409.933
Asumsi kebutuhan daya tahun 2025 (MW) 47

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

36
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

3.1.2.4. Besi

Proses pengolahan bijih besi dan pasir besi menjadi baja cukup panjang, dimulai dari
hulu sampai hilir. Gambar 13., menunjukkan pohon industri besi baja yang terbagi dalam
industri hulu, industri antara dan industri hilir.

Sumber: Kementerian Perindustrian. 2014. Profil Industri Baja


Gambar 13. Pohon Industri Besi Baja

Pada tahun 2015 pengolahan pasir besi belum ada yang beroperasi sedangkan untuk
pengolahan bijih besi menjadi besi spons (sponge iron) terdapat dua buah perusahaan yaitu
PT Meratus Jaya Iron Steel yang berlokasi di Tanah Bambu, Kalimantan Selatan yang
mengolah bijih besi sebanyak 656.250 ton/tahun yang menghasilkan 315.000 ton/tahun
sponge iron dan PT Delta Prima Steel dengan kapasitas produksi sebesar 105 ribu ton/tahun
sponge iron dengan bahan baku bijih besi sebanyak 220.000 ton/tahun, sedangkan PT
Krakatau Posco mengolah bijih besi (impor) sebanyak 16.330.000 ton/tahun menjadi slab dan
plat sebesar 3.000.000 ton/tahun seperti ditunjukan pada Gambar. 14.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

37
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Sumber: Dirjen Minerba. 2014. Rencana Pembangunan Fasilitas Pemurnian Mineral


Nasional

Gambar 14. Smelter Bijih Besi di Indonesia

Awalnya Indonesia hanya mempunyai satu perusahaan yang memproduksi Slab dan
Billet yaitu PT Krakatau Steel, di Cilegon, Banten. Belakangan karena adanya masalah PT
Krakatau Steel tidak lagi memproduksi Slab dan Billet. Untuk memenuhi kebutuhan PT
Krakatau Steel mengimpor slab dan billet. Perusahaan dalam negeri lainnya yang
memproduksi produk hilir baja, juga mengimpor slab sebagai bahan bakunya. Dalam
beberapa tahun terakhir PT Krakatau Steel bekerja sama dengan Posco Korea Selatan
membangun pabrik baja di Banten Indonesia dengan nama PT Krakatau Posco. Perusahaan
ini mengimpor material selanjutnya diproses sebagai bahan baku untuk memproduksi slab
dan plate. Slab yang diproduksi oleh PT KP didistribusikan ke PT KS. Selain perusahan baja
yang disebutkan tadi terdapat perusahaan baja lainnya tetapi dengan menggunakan bahan
baku dari scrap. Total produksi baja dalam negeri berdasarkan data dari Kementerian
Perindustrian sampai saat ini sebesar 10.840.000 ton/tahun. Baja tersebut tidak hanya
digunakan untuk keperluan dalam negeri saja tetapi ada juga yang dieksport.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

38
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

3.2. Potensi Batubara Indonesia


Sumberdaya batubara relatif cukup besar, sekitar 161,34 milyar ton dan cadangan
sebanyak 32,28 milyar ton yang berada di Pulau Sumatera (terutama Sumatera Selatan)
sebesar 53% berada dan 47% berada di Pulau Kalimantan serta pulau lainnya (ESDM, 2015).
Namun dalam hal penambangan batubara, umumnya terkonsentrasi di Pulau Kalimantan,
yaitu sebesar 92%, sedangkan 8% sisanya berasal dari Pulau Sumatera.Dari sisi kualitas,
sebagian besar batubara Indonesia termasuk kalori rendah dan sedang (94% dari total
cadangan batubara Indonesia).Sebaran potensi batubara terlihat pada gambar 15.

Gambar15. Sebaran potensi batubara Indonesia

Berdasarkan klasifikasi itu maka batubara Indonesia dibagi menjadi empat macam yaitu :
Batubara Kalori Rendah, adalah jenis batubara yang paling rendah peringkatnya, bersifat
lunak-keras, mudah diremas, mengandung kadar air tinggi (10-70%), memperlihatkan
struktur kayu, nilai kalorinya < 5,100 kkal/kg (adb).
Batubara Kalori Sedang, adalah jenis batubara yang peringkatnya lebih tinggi, bersifat
lebih keras, mudah diremas-tidak bisa diremas, kadar air relatif lebih rendah, umumnya
struktur kayu masih tampak, nilai kalorinya 5.100 6.100 kkal/kg (adb).
Batubara Kalori Tinggi, adalah jenis batubara yang peringkatnya lebih tinggi, bersifat
lebih keras, tidak mudah diremas, kadar air relatif lebih rendah, umumnya struktur kayu
tidak tampak, nilai kalorinya 6.100 - 7.100 kkal/kg (adb).
Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia
dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

39
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Batubara Kalori Sangat Tinggi, adalah jenis batubara dengan peringkat paling tinggi,
umumnya dipengaruhi intrusi ataupun struktur lainnya, kadar air sangat rendah, nilai
kalorinya >7.100 kkal/kg (adb).

3.2.1. Peranan Batubara sebagai sumber energi dan komoditas ekspor

Batubara sebagai produk pertambangan dimanfaatkan pula sebagai komoditi ekspor,


bahkan jumlah ekspor melebihi jumlah pemanfaatan dalam negeri.Produksi batubara berjalan
naik dalam setiap tahunnya, yaitu selama kurun waktu 2014-2050 akan meningkat dengan
pertumbuhan rata-rata 1,53% per tahun atau meningkat hampir dua kali lipat dari sekitar 498
juta ton pada tahun 2014 menjadi 861 juta ton pada tahun 2050. Ekspor batubara diperkirakan
mengalami penurunan dari 382 juta ton pada tahun 2014 akan menjadi hanya 209 juta ton
untuk tahun 2050. Walaupun ekspor batubara menurun, namun pada tahun 2014 sampai
dengan 2026, ekspor batubara masih lebih besar dibanding konsumsi batubara(Anomim,
2016, BPPT).Pangsa pasar ekspor batubara Indonesia adalah Tiongkok, India dan Jepang.
Padahal, cadangan dan tingkat produksi batu bara dari kedua negara tersebut jauh lebih besar
daripada Indonesia. Permintaan batu bara dari Jepang juga masih cukup besar karena
pengalihan pembangkit listriknya dari nuklir ke batu bara akibat kerusakan pembangkit nuklir
saat bencana tsunami pada 2011 di negara tersebut. Negara tujuan ekspor batu bara Indonesia
lainnya adalah Malaysia, Korea, serta negara-negara Eropa dan Afrika (Daulay, B.2011)

Dalam hal pemanfaatan di dalam negeri, batubara sebagian besar digunakan sebagai
bahan bakar pembangkit listrik, baik pembangkit yang dioperasikan oleh PT. PLN (Persero),
maupun oleh IPP, setidaknya akan berlangsung selama periode 2014 sampai 2050. Pada
selang waktu tersebut diproyeksikan akan meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 4,78%
per tahun, sehingga konsumsi batubara meningkat lebih dari lima kali lipat dari hampir 66
juta ton pada 2014, menjadi hampir 354 juta ton pada 2050. Posisi tersebut tergambarkan
pada gambar 16.

Untuk sektor industri, penggunanya adalah industri-industri besi dan baja, semen, pulp
dan kertas, briket, serta tekstil.Penggunaan batubara pada sektor industri diperkirakan akan
meningkat sedikit lebih pesat lagi, yaitu dengan pertumbuhan rata-rata hampir 5% per tahun,
sehingga konsumsi batubara pada sektor tersebut meningkat dari 52,53 juta ton pada 2014

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

40
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
menjadi 296,77 juta ton pada 2050. Selain itu, pengguna batubara lainnya adalah pembuatan
batubara cair yang baru akan diperkenalkan pada tahun 2040. Namun pemanfaatan batubara
untuk Coal To Liquid (CTL) tersebut masih di bawah satu persen dengan jumlah 4,45 juta ton
dari tahun 2040 sampai akhir periode 2050(Anonim, 2016).Kondisi tersebut terlihat pada
gambar17.

Gambar 16. Proyeksi Pemanfaatan Batubara Gambar 17. Proyeksi Kebutuhanan


Indonesia Energi di Sektor Industri

Penggunaan batu bara pada pembangkit listrik terbukti mampu bersaing dengan
sumber energi lain, seperti bahan bakar minyak (BBM). Sebagai contoh, biaya pokok
produksi (BPP) listrik dari batubara adalah Rp700 per kwh, sedangkan dari BBM lebih
besar dari Rp2.000 per kwh (Daulay, B. 2011).

Demi menjamin keamanan pasokan batu bara di dalam negeri secara berkelanjutan,
termasuk program percepatan pembangunan PLTU, telah diberlakukan domestic market
obligation (DMO) batu bara. Kebijakan penerapan DMO batu bara tertuang dalam Permen
ESDM Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pengutamaan Pemasokan Kebutuhan Mineral dan
Batubara untuk Kepentingan Dalam Negeri.

3.2.2. Peranan Batubara Sebagai Bahan Baku Industri Kimia

Kenyataan menunjukan bahwa penggunaan batubara di Indonesia masih terbatas


sebagai sumber energi termal pada PLTU maupun industri.Pada penggunaan tersebut
batubara, batubara dibakar langsung untuk mendapatkan panas yang selanjutnya
dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan system operasi pada industri yang bersangkutan.Lembaga
penelitian dan pengembangan baik milik pemerintah maupun perusahaan swasta telah pula
Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia
dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

41
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
menjajagi pemanfaatan batubara melalui proses konversi dirubah menjadi gas, cairan maupun
padatan. Namun demikian, hanya sebagian kecil realisasi pemanfaatan proses konversi
tersebut. Pemanfaatan proses gasifikasi batubara untuk mendapatkan gas batubara (coal gas)
dan dibakar sebagai bahan bakar telah digunakan di pabrik keramik Semarang (Keramik
Sango) dan Medan (PT Jui Shin) (Nurhadi, 2011).Konversi batubara melalui gasifikasi
sedang di ujicoba di pabrik pupuk Kujang Cikampek pada kapasitas 50 ton batubara per hari.
Gasifikasi tersebut menghasilkan syngas yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan
ammonia dan diteruskan menjadi urea. Kegitan di pabrik pupuk Kujang dilaksanakan oleh PT
Pupuk Kujang bekerjasama dengan New Energy and Industrial Technology Development
Organization (NEDO), yang diawali dari kerjasama NEDO dengan Puslitbangtek Minerba.

Upaya lainnya dalam penerapan konversi batubara yang berkaitan dengan peningkatan
nilai tambah batubara adalah pencairan batubara untuk mendapat bahan bakar cair seperti
bahan bakar minyak.Kegiatan litbang pencairan batubara telah dimulai tahun 1984 dan
berakhir 2011. Realisasi pendirian pabrik pencairan batubara terkendala besarnya investasi
dan hanya satu perusahaan di dunia ini yang telah komersil memproduksi bahan bakar cair
dari batubara, akhirnya menyulitkan proses pengadaan barang dan jasa. Tekad masih
berjalan, namun berdasarkan kajian BPPT masih mentargetkan rendah pemanfaatn batubara
pada kegiatan ini.

Upaya pemanfaatan batubara melalui konversi dapat berupa padatan yang dapat
digunakan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif. Karbon aktif dibuat melalui dua
proses utama, yaitu proses karbonisasi dan aktivasi. Proses karbonisasi adalah proses
pemanasan bahan baku pada suhu 400600C dengan kondisi udara yang sangat terbatas
sehingga dihasilkan arang atau semikokas. Tahap kedua adalah aktivasi, berupa proses
lanjutan terhadap bahan yang telah dikarbonisasi (char) agar permukaan dan pori-pori
semakin aktif. Aktivasi dilakukan dengan dua cara, yaitu secara kimia dan fisika. Pada
aktivasi kimia bahan dasar direndam dengan bahan kimia HCl, H3PO4, H2SO4, ZnCl2,
MgCl2, KOH, dan NaOH yang dapat meluruhkan senyawa-senyawa organik dan
menghilangkan oksida logam dalam arang yang menutupi pori. Selanjutnya diaktifkan
dengan menggunakan aliran uap air atau gas lain, seperti CO2 atau N2 pada suhu pemanasan
700C sampai 1.000C. Aktivasi fisika dilakukan dengan mengalirkan gas, seperti kar-bon

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

42
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
dioksida ataupun uap air, pada suhu tinggi (9001.000C) dalam kondisi udara terbatas.
Aktivasi fisika dengan uap air merupakan proses gasifikasi yang menghasilkan gas dalam
bentuk CO, CO2, H2, H2O, dan CH4 (Baron, 1978).

Produksi karbon aktif di Indonesia umumnya terbuat dari tempurung kelapa. Di dalam
negeri, belum ada produsen yang membuat karbon aktif dari batu bara Indonesia secara
komersial. Kalaupun ada, masih dalam skala kecil dan bersifat musiman atau menggunakan
batu bara yang diimpor dari negara lain (BPS, 2008). Namun demikian, kegiatan
pengembangan produksi karbon aktif dari batubara telah cukup banyak dikerjakan lembaga
penelitian Pemerintah, antara lain Puslitbangtek Minerba dengan kapasitas 1 ton per batch
(Monika, I. 2011).

3.3. Sinergisitas Pemanfaatan Mineral Dan Batubara

Mineral dan batubara merupakan dua komponen yang bisa saling mengisi untuk
produksi suatu barang dan bahan.Perubahan mineral dan batubara menjadi barang dan/bahan
pada intinya merupakan upaya peningkatan nilai tambah pada kedua sumber daya alam
tersebut. Batubara menjadi strategis karena dapat bertindak sebagai bahan bakar dan bahan
baku/bahan penolong proses peningkatan nilai tambahan mineral. Sebagai bahan
baku/penolong umumnya setelah mengalami proses konversi menjadi gas yang berguna
untuk proses reduksi konsentrat mineral menjadi bahan metal. Pada hakekatnya potensi
sumber daya alam air juga merupakan potensi untuk membangkitkan tenaga listrik melalui
pembangunan Pembangkit listrik Tenaga Air (PLTA). Pemanfaatan sumber daya air melalui
PLTA memiliki kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan energi lainnya, meskipun
biaya investasinya tergolong mahal sekitar US$ 0,8 juta sampai dengan US$ 1,5 juta per
MW, namun biaya operasionalnya termasuk paling murah yaitu sekitar US$ 1 cent/kWh
(PLN, 2014).

Dalam proses produksi pengolahan dan pemurnian mineral akan ditemui kemudahan
dan kesulitan pengadaan bahan baku (raw material) dan bahan bakar dan bahan penolong,
listrik, bahan bakar dan infrastruktur lainnya. Industri pengolahan dan pemurnian mineral
logam umumnya padat energi termal dan energi listrik. Hal demikian memerlukan kedekatan
dengan sumber energi listrik dan juga sumber bahan bakar untuk pembangkit listriknya.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

43
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Indonesia sebetulnya memiliki potensi sumber daya air terbilang raksasa di Papua yaitu
Sungai Mamberamo. Inventarisasi dari BPPT menunjukkan bahwa potensi Daerah Alirah
Sungai Mamberamo yang dapat dikonversi menjadi listrik mencapai 12.284 MW tersebar di
34 lokasi (Sugiyono, 1999).
Atas dasar lokasi sumber mineral dan sumber energi maka dapat ditentukan lokasi
yang paling layak untuk pengolahan dan pemurnian mineral. Pengolahan bauksit menjadi
alumina telah dilaksanakan di Kalimantan Barat dan dapat ditingkatkan lagi khusus alumina
bahan baku logam aluminium. Sehubungan kebutuhan listrik untuk produksi logam
aluminium sangat besar maka lokasi pabrik akan lebih bagus dekat dengan sumber listrik dari
PLTA Mamberamo nantinya. Demikian pula untuk bijih nikel sekitar Maluku dan Halmahera
dapat memanfaatkan PLTA Mamberamo yang perlu dialirkan ke pantai utara Papua. Untuk
Pengolahan mineral besi terlihat sumber bahan bakar pembangkit listrik dapat memanfaatkan
batubara melalui pembangunan PLTU di mulut tambang.
Optimasi pemanfaatan mineral dan batubara melalui proses pengolahan dan
pemurniannya untuk mendapatkan nilai tambah yang maksimal memerlukan dukungan dan
penerapan hasil penelitian dan pengembangan yang telah dilakukan oleh lembaga litbang
yang relevan. Hasil litbang mineral dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana
penggunaan teknologi proses yang akan diterapkan secara komersil disamping juga untuk
mendukung pembuatan kebijakan mineral dan batubara secara nasional.

4. PENUTUP
Integrasi pemanfaatan batubara dan sumber daya air dengan pengolahan dan pemurnian
mineral merupakan optimasi dari penerapan peningkatan nilai tambah mineral dan batubara
untuk mendapatkan kemandirian bahan baku industri secara total dari industri hulu sampai
industri hilir. Pertumbuhan industri berbasis mineral dan batubara tersebut secara langsung
akan meninmbulkan efek ganda pertumbuhan ekonomi di daerah maupun nasional.
Penerapan hasil litbang pengolahan dan pemurnian mineral sangat mendukung pelaksanaan
PNT mineral termasuk penentuan kebijakan sub sektor mineral dan batubara.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

44
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

PUSTAKA
Anonim, 2008.Ekspor impor karbon aktif Indonesia. Jakarta: Biro Pusat Statistik
Anonim, 2013. Peta sebaran mineral Indonesia, Badan Geologi.
Anonim, 2013.Badan Geologi Kementerian ESDM, 2013
Anonim, 2016.Outlook energi Indonesia 2016, Pusat Teknologi Sumber Daya Energi Dan
Industri Kimia, BPPT
Daulay, B., 2011. Perkembangan industri batu bara Indonesia, dalam buku Teknologi
Pemanfaatan Batubara Indonesia, Puslitbangtek Minerba.
Donoghue, AM., Frisch, N. dan Onley, D., 2014.Bauxite mining and alumina refining,
Journal of Occupational and Environmental Medicine, Vol. 56, Number 5 S, p. S12-S18.
Irsyad, S., Iryanti, M. dan Wardhana, D.D., 2015. Estimasi zona bijih besi di daerah
Lampung menggunakan pemodelan magnetic, Fibusi (JoF), Vol. 3, No. 3, 2015.
Kvande, H., Drablos, PA, 2014. The aluminium smelting process and innovative alternative
technologies, Journal of Occupational and Environmental Medicine Vol. 56, Number 5
S, p. S23-S32.
Monika, I., 2011. Pembuatan karbon aktif dari batubara, dalam buku Teknologi Pemanfaatan
batubara Indonesia, Puslitbangtek Minerba.
Nurhadi, 2011.Gasifikasi batubara, dalam buku Teknologi Pemanfaatan Batubara Indonesia,
Puslitbangtek Minerba.
Sugiyono, A., 1999. Pengembangan industri padat energi di DAS Mamberamo sebagai pusat
pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia, Prosiding Teknologi, Ekonomi dan
Otonomi Daerah, BPPT, ISBN 979-9344-01-08, hal. 89-96.
Anonim, 2011. Rare earth elements, Natural Environment Research Council, British
Geological Survey,WWW Minerals UK.com

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

45
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

CURRICULUM VITAE
A. Identitas
1. Nama dan Gelar : Prof. Anti Kolonial Prodjosantoso, Ph.D.
2. NIDN : 0028106005
3. NIP : 19601028 198503 1 002
4. NPWP : 59.744.390.2-542.000
5. Tempat & Tanggal lahir : Purworejo, 28 Oktober 1960
6. Pangkat, Gol/Ruang : Pembina Utama, IV/e
7. Jabatan fungsional : Guru Besar
8. Bidang Ilmu/Mata Kuliah : Kimia Anorganik
9. Jurusan/Fakultas : Jurusan Pendidikan Kimia, FMIPA UNY Yogyakarta
10. Alamat Rumah/Telp : Plosokuning II, Minomartani, Ngaglik, Sleman DIY 55581
Telp. 0274-882613 HP. 08174124317

11. Kantor/Telp/Fax : Jl. Colombo 1, DI Yogyakarta 55281,


Telp. 0274-586168, Fax. 0274-586500

B. Riwayat Pendidikan
Tahun
No. Universitas/Institut Program Bidang Ilmu
Lulus
1. IKIP Yogyakarta, Indonesia S-1 Pendidikan Kimia 1984
2. University of Sydney, Australia S-1 (Graduate.Dip.Sc.) Inorganic Chemistry 1994
3. University of Sydney, Australia S-2 (M.Sc.) Inorganic Chemistry 1996
4. University of Sydney, Australia S-3 (Ph.D.) Inorganic Chemistry 2002

C. Karya ilmiah:

Penelitian
1. AK. Prodjosantoso, Cahyorini, K. dan M. Pranjoto U, Pemanfaatan Senyawa Ca1-xCoxTiO3
sebagai Fotokatalis pada Reaksi Degradasi Polutan Organik (Tahun 2), 2016.

2. Cahyorini K., K.H. Sugiyarto dan A.K. Prodjosantoso, Development of Solid State Dye-
Sensitized Solar Cell Based on Nitrogen-Doped TiO2 (Tahun 3), 2016.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

46
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Journal Ilmiah Internasional
1. A.K. Prodjosantoso, and B.J. Kennedy, Synchrotron X-Ray Diffraction Studies of -Ca2-xMxSiO4
(M = Mg and Sr), Turkish Journal of Chemistry, 2017, DOI: 10.3906/kim-1701-28 (Accepted
manuscript for publication).

2. A.K. Prodjosantoso, C. Kusumawardani, and M.P. Utomo, C.T. Handoko, Synthesis and
Characteization of Ca1-xCoxTiO3 and Its Photocatalytic Activity on Methylene Blue
Photodegradation, Asian Journal of Chemistry, 2017 (29) 1270-1274.

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

47
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

CURRICULUM VITAE

A. Identitas
Nama : Prof. Dr. Ir. C.Danisworo, MSc
Profesi : Guru Besar pada Program Studi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi
Mineral, Universias Pembangunan Nasional "Veteran"Yogyakarta.
Alamat : UPN "Veteran" Yogyakarta, Jalan Lingkar Utara SWK104, Condongcatur,
Yogyakarta 55283.
Telpon : 0811293410
Email : conrad_danis@yahoo.com

B. Pendidikan :
1. Sarjana Muda Teknik Geologi, UPN "Veteran" Yogyakarta, Indonesia,
2. Sarjana Teknik Geologi, UPN "Veteran" Yogyakarta, Indonesia, .
3. Master of Science Degree in Quaternary Geology, Vrije Universiteit Brussel, Belgium, .
4. Doctorate Degree in Quaternary Geology, Vrije Universiteit Brussel, Belgium, .

C. Jabatan :
1. Ketua Dewan Pendidikan DIY 2017- Sekarang
2. Wakil Ketua Dewan Pendidikan DIY 2011-2016
3. Direktur Program Pascasarjana UPN Veteran Yogyakarta 2001-2009
4. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian, UPN Veteran Yogyakarta 1992-2001

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

48
SEMINAR NASIONAL KIMIA 2017
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

CURRICULUM VITAE
A. Identitas
Nama :Ir. Suganal
Tempat /Tanggal lahir : Banyumas, 05 Juni 1957
Pekerjaar/jabatan : peneliti utama pada Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Teknologi Mineral Dan Batubara
Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral
Pendidikan : Pendidikan : S-1 Teknologi Kimia ITB, tahun 1984
Lain lain : Maret 2013 mendapatkan paten : kokas pengecoran dari
batubara non coking dan proses pembuatannya

Optimalisasi Ilmu Kimia dan Pendidikan Kimia


dalam Pemanfaatan Mineral untuk Pembangunan Indonesia yang Berkelanjutan
Yogyakarta, 20 Mei 2017

49