Anda di halaman 1dari 6

Abstrak

Latar belakang: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan invasi patogen yang tejadi pada
saluran kemih. Dapat terjadi pada saluran kemih atas atau bawah, tergantung pada dimana
terjadinya infeksi, dapat terjadi di ginjal, atau kandung kemih dan uretra. Infeksi saluran
kemih mempengaruhi 10% penyakit pada anak dan paling banyak terjadi pada bayi dan anak-
anak usia muda di seluruh dunia. Prevalensi ISK adalah 3-5% pada anak perempuan dan 1%
pada anak laki-laki. Kultur urin merupakan bahan pertimbangan sebagai gold standart
diagnostic untuk ISK. Namun, pewarnaan gram urin yang tidak disentrifuse telah dilakukan
di pusat-pusat kesehatan pedesaan dan laboratorium di daerah pinggiran yang tidak memiliki
sarana untuk mengevaluasi spesimen urin. Pewarnaan gram urin mungkin merupakan metode
yang efektif untuk mendiagnosis ISK pada pasien di puskesmas yang berada di pedesaan,
sehingga dapat menghemat waktu dan uang.

Tujuan: Untuk membandingkan pewarnaan gram urin dan kultur urin sebagai tes diagnostik
untuk ISK pada anak-anak.

Metode Penelitian: Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode cross-sectional


yang diadakan di rumah sakit H. Adam Malik dari Mei hingga Juni 2010. Dari 54 partisipan
yang berusia 0-14 tahun, yang dicurigai memiliki ISK dan dimasukkan sebagai sample. Urin
dikumpulkan setelah lubang uretra eksterna dibersihkan. Setetes spesimen urine digunakan
sebagai spesimen pewarnaan gram dan diperiksa dengan mikroskop cahaya, sedangkan sisa
spesimen digunakan untuk kultur urin di laboratorium . Jika pada hasil pewarnaan gram
didapati bakteri gram negatif, maka peneliti mempertimbangkan subjek menderita ISK.

Hasil: sensitivitas dan spesifisitas pewarnaan gram urin dibandingkan dengan kultur urin
masing-masing memiliki 80% dan 100%. Nilai prediksi positif (NPP) dan nilai prediksi
negatif (NPN) masing-masing sebesar 100% dan 90%.

Kesimpulan: pewarnaan gram urin mungkin dapat menjadi pemeriksaan alternatif yang baik
dibandingkan dengan kultur urin untuk mendiagnosis ISK pada anak-anak yang tinggal di
daerah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan.

Kata kunci: pewarnaan gram, kultur urin, infeksi saluran kemih


Infeksi saluran kemih (ISK) didefinisikan sebagai adanya bakteri pada ginjal atau kandung
kemih, yang mengenai hingga 10% anak-anak. Infeksi pada saluran kemih adalah infeksi
bakteri yang paling umum terjadi pada bayi dan anak-anak di seluruh dunia. Angka kejadian
pastinya masih tidak jelas, tetapi di Northern inggris terjadi pada 3,6% anak laki-laki dan
11,3% pada anak perempuan. Sebuah kolaborasi dari tujuh rumah sakit di Indonesia
melaporkan bahwa insiden kasus baru ISK sebesar 0,1-1,9% dalam periode lebih dari 5
tahun. Terdapat 212 kasus ISK di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan lebih dari 70 kasus
baru tiap tahunnya. Infeksi saluran kemih menunjukkan berbagai macam manifestasi,
termasuk gejala minor hingga gejala serius yang memerlukan rawat inap. Dalam periode
menengah dan jangka panjang, episode berulang ISK dapat menyebabkan gagal ginjal kronis
dan hipertensi arteri. Untuk mencegah komplikasi ini, ISK harus didiagnosis dan diobati
secara dini. Klinis dan data eksperimental telah menunjukkan bahwa tertundanya pengobatan
ISK dapat meningkatkan risiko dari kerusakan ginjal.

Standard diagnosa ISK didasarkan pada kultur urin. Interpretasi dari kultur tergantung pada
Metode dan waktu pengumpulan urine, serta pengaturan klinis. Kriteria biakan urin yang
digunakan pada pengambilan urin pancaran tengah (midstream urin) dianggap positif apabila
dengan didapatinya 100.000 kuman/mL urin. Sebuah studi terakhir menunjukkan bahwa
perhitungan jumlah kuman dari urine yang tidak di sentrifus pada pewarnaan gram memiliki
hasil yang mirip pada pemeriksaan kultur urin, akan tetapi hasil kultur urin dapat baru dapat
diperoleh beberapa hari kemudian.

Pemeriksaan mikroskopis urin yang segar, dan tidak disentrifus dapat memberikan informasi
yang berguna, memungkinkan dokter untuk memulai pengobatan, sementara menunggu hasil
kultur urin. Menemukan kuman dalam spesimen pewarnaan gram terbukti memiliki
sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi untuk memprediksi positif pada kultur urin. Metode
ini, merupakan metode yang efektif tanpa penggunaan media centrifuge di laboratorium dan
kultur medium dalam membuat sebuah praktek yang ideal di laboratorium yang kurang dalam
sumber daya atau fasilitas untuk menangani ini umumnya.

Tujuan dari studi ini adalah untuk membandingkan pewarnaan gram urin dengan kultur urin
sebagai tes diagnostik untuk ISK.
Metode

Dengan menggunakan studi cross-sectional untuk membandingkan pewarnaan gram urin


dengan kultur urin sebagai tes diagnostik untuk ISK. Penelitian dilakukan dari Mei-Juni 2010
pada pasien rawat inap dan pasien rawat jalan di Rumah Sakit H.Adam Malik, Sumatra
Utara.

54 responden direkrut dengan menggunakan metode consecutive sampling. Kriteria inklusi


dalam penelitian ini adalah anak dengan usia 0-14 tahun dengan suspek ISK dengan atau
tanpa penyakit lain. Kriteria esklusi dalam penelitian ini adalah pasien yang telah mendapat
pengobatan kortikosteroid dalam 3 bulan atau lebih, telah mendapat antibiotik kurang dari 48
jam sebelum penelitian dan mereka yang menjalani tatacara pengambilan urin yang salah.
Peneliti menjelaskan semua prosedur penelitian ini pada responden dan orang tua / wali.
Orang tua/wali responden telah menyetujui lembar informed consents. Status karakteristik
subjek dan pemeriksaan fisik semuanya telah direkam. Setiap subjek memberikan dua tabung
urin untuk pengujian.

Semua spesimen urin dikumpulkan tanpa menggunakan kateter. Spesimen urin tersebut
digunakan untuk pewarnaan gram dan kultur urin. Urin dikumpulkan dari kantong urin (urin-
bag) dari anak-anak yang tidak terlatih menggunakan toilet (di bawah usia 2 tahun). Urin
pancaran tengah (midstream) dikumpulkan dari anak-anak yang telah terlatih menggunakan
toilet setelah membersihkan perineum dengan air sabun atau bahan pembersih kulit yang
antibakteri. Spesimen diambil untuk diperiksa sedini mungkin. Kultur urin dilakukan di
laboratorium rumah sakit dengan menggunakan cystine-lactose-electrolyte-deficient (CLED)
/ agar brocalin. Pewarnaan Gram dilakukan oleh dokter, menggunakan urine segar yang tidak
disentrifus. Semua preparat diperiksa di bawah mikroskop cahaya dan pasien dianggap
memiliki ISK jika terdapat bakteri gram negatif.

Penelitian ini disetujui oleh Komite Etika Penelitian dari fakultas kedokteran, Universitas
Sumatera Utara, Indonesia, dan dilakukan tindak lanjut pengobatan yang tepat diberikan
untuk semua anak yang dikonfirmasi di diagnosis ISK.

Peneliti menggunakan SPSS versi 14.0 untuk analisis statistik dari hubungan antara
Pewarnaan urin gram dengan kultur urin, dimana kultur urin merupakan gold standart dalam
diagnosis ISK. Peneliti menghitung sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi positif (NPP) dan
nilai prediksi negatif (NPN) dari pewarnaan Gram dibandingkan dengan kultur urin sebagai
referensi.

Hasil
Karakteristik dari subjek ditampilkan pada Tabel 1. Sebanyak 54 anak yang ikut
berpartisipasi dalam penelitian ini. Sebagian besar anak merupakan perempuan (29 subjek,
53,7%) dan median dari usia yaitu 4,3 ( antara 0-14) tahun. Terdapat 22 anak (40,7%)
memiliki mikro organisme gram negatif dalam pewarnaan gramnya dengan kultur urin yang
positif. Kami menggolongkan kelompok subjek ini memiliki hasil positif dalam spesimen
urin. Dan juga, kami juga menemukan 3 subjek (5,6%) memiliki mikro organisme gram
positif dari pewarnaan urin gram dengan kultur urin yang positif. Kami menggolongkan
kelompok subjek ini memiliki hasil negatif dalam spesimen urin. 29 subjek (53,7%) tidak
memiliki mikro organisme pada pewarnaan urin gram dengan hasil negatif pada kultur urin.
Kami menghitung bahwa sensitivitas dan spesifisitas pewarnaan urine Gram dibandingkan
dengan kultur urin sebesar 88% dan 100%. Dengan PPV dan NPV 100% dan 90% yang dapat
dilihat pada tabel 2.
Pembahasan
Lebih banyak anak perempuan dibandingkan anak laki-laki yang menderita ISK. Dengan
usia nilai tengah adalah 4,3 (antara 0-14) tahun. ISK pada pediatri biasanya terjadi pada bayi
dan anak-anak usia muda. Usia yang paling sering untuk terjadinya ISK simtomatik adalah
pada tahun pertama kehidupanan, khususnya pada anak laki-laki, kejadian yang paling
banyak terjadi yaitu yang mempengaruhi saluran kemih bagian atas. Risiko dari ISK
simtomatik sebelum usia 14 tahun adalah 1-2% pada anak laki-laki dan 3-8% pada anak
perempuan.
Kuman yang paling banyak ditemukan dalam penelitian ini adalah Escherichia coli, yang
diikuti oleh Klebsiella sp, Citrobacter sp dan Enterobacter sp ( Table 3 ). Bakteri gram
positif seperti Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis juga ditemukan pada
kultur. Dalam penelitian Minnesota, sebagian besar kasus ISK karena gram negativ
disebabkan oleh E.coli. Demikian pula, sebuah studi prospektif melaporkan bahwa yang
paling umum penyebab ISK pada bayi dan anak-anak adalah Escherichia coli (88%), diikuti
dengan Klebsiella pneumoniae (7%) dan bakteri lain seperti Enterobacter (2%) serta
Staphylococcus aureus (2%).
Peneliti menggunakan spesimen urin segar yang tidak disentrifus. Sebuah meta-analisis
menyimpulkan bahwa pemeriksaan pewarnaan gram urin yang tidak disentrifus dengan
dipstick urine analisis nitrit atau leukosit esterase, sama baiknya untuk mendeteksi ISK pada
anak-anak. kedua teknik tersebut merupakan teknik yang unggul pada mikroskopis untuk
analisis piuria.

Urin pancaran tengah (midstream urin) dari anak-anak yang terbiasa menggunakan toilet
dikumpulkan setelah anak-anak tersebut membersihkan alat kelamin. Sebuah random
sampling melaporkan bahwa tingkat kontaminasi urin lebih tinggi dalam urin midstream dari
anak-anak yang pertama-tama tidak bersihkan perineum/daerah genital mereka. Pembersihan
daerah tersebut dapat mengurangi kejadian untuk melakukan uji kultur berulang dan
penerimaan antibiotik yang tidak perlu. Selain itu, sebuah penelitian prospektif
merekomendasikan agar beberapa tetes pertama atau mililiter urin dibuang ketika
dikumpulkan oleh kateterisasi dari anak-anak.

Hasil analisa statistik mengungkapkan bahwa sensitifitas dan spesifitas pewarnaan gram urin
adalah 88% dan 100%. Dan NPP dan NPN memiliki 100% dan 90%. Selain itu, sebuah
penelitian cross-sectional di Turki melaporkan bahwa pewarnaan gram memiliki sensitifitas,
spesifitas yang tinggi, NPP dan PPN juga direkomendasikan sebagai alat yang cepat untuk
menyingkirkan diagnosa ISK pada gejala klinis dan laboratorium. Selain itu, penelitian di
jepang juga menyimpulkan bahwa pemeriksaan mikroskopis urin dengan minyak imersi
merupakan pemeriksaan yang sederhana, dan merupakan tindakan diagnostik yang akurat
untuk mengevaluasi bakteriuria secara signifikan dan berguna karena kecepatannya.

Keterbatasan penelitian ini adalah tidak mengevaluasi status sirkumsisi pada anak atau
sejarah kosntipasi pada subjek. Pada intinya, pewarnaan gram urin mungkin dapat menjadi
alternatif sebagai dasar tes diagnostik pada ISK, khususnya pada pusat kesehatan dengan
keterbatasan sumber daya.