Anda di halaman 1dari 26

TUGAS REFRAT

Ensefalitis

Pembimbing :

dr. Hj. Rini Sulviani, Sp.A. M.Kes

Disusunoleh:

Khoirunnisa (2010730056)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK

RSUD R. SYAMSUDIN, SH - SUKABUMI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2014
ENSEFALITIS

Definisi Ensefalitis

Ensefalitis adalah suatu peradangan pada otak, yang biasanya disebabkan oleh

berbagaimacam mikroorganisme yaitu seperti virus, bakteri, jamur, protozoa atau parasit.

Penyebab tersering dan terpenting adalah virus. Berbagai jenis virus dapat menimbulkan

ensefalitis dengan gejala yang sama.

Ensefalitis merupakan suatu inflamasi parenkim otak yang biasanya disebabkan oleh

virus. Ensefalitis berarti jaringan otak yang terinflamasi sehingga menyebabkan masalah pada

fungsi otak. Inflamasi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan kondisi neurologis anak

termasuk konfusi mental dan kejang.

Ensefalitis terdiri dari 2 bentuk, dikategorikan menjadi 2 jalan virus bisa menginfeksi otak :

yaitu:

- Ensefalitis primer

Ensefalitis primer (acute viral ensefalitis) disebabkan oleh infeksi virus langsung ke otak dan

medulla spinalis. Ini bisa terjadi pada orang kapan saja setiap tahun (sporadic ensefalitis) atau

ini bisa menjadi bagian dari out break (epidemik ensefalitis)

- Ensefalitis sekunder

Ensefalitis sekunder (post infeksi ensefalitis) dapat merupakan hasil dari komplikasi infeksi

virus saat itu.ensefalitis bentuk ini terjadi ketika virus pertama menginfeksi bagian dari tubuh

dan sekundernya masuk ke otak.


Epidemiologi

Menurut statistik dari 214 ensefalitis,54% (115 orang) dari penderitanya ialah anak-anak.

Virus yang paling sering ditemukan ialah virus herpes simpleks (31%) yang disusul oleh virus

ECHO (17%). Statistik lain mengungkapkan bahwa ensefalitis primer yang disebabkan oleh

virus yang dikenal mencakup 19%. Ensefalitis primer dengan penyebab yang tidak diketahui dan

ensefalitis para-infeksiosa masing-masing mencakup 40% dan 41% dari semua kasus ensefalitis

yang telah diselidiki.

Virus japanese ensefalitis adalah abovirus yang paling umum didunia (virus yang

ditularkan oleh nyamuk penghisap atau kutu) dan bertanggungn jawab untuk 50.000 kasus dan

15.000 kematian pertahun disebagian besar dari Cina, Asia tenggara, dan anak benua india.

Kejadian terbesar adalah pada anak-anak dibawah 4 tahun dengan kejadian tertinggi pada

mereka yang berusia 3-8 bulan.

Untuk Indonesia perlu dipikirkan virus Rabies, Mumps (penyebab parotitis) dan mungkin

Herpes Simpleks. Penyebab dari ensefalitis adalah paling sering infeksi virus beberapa contoh

termasuk virus herpes; arbovirus diperantarai oleh nyamuk, dan serangga lain dan rabies

Etiologi

Berdasarkan klasifikasi Steigman, etiologi ensefalitis:

1. Infeksi- infeksi virus

a. Penyebaran hanya dari manusia ke manusia

- Parotitis

- Campak
- Kelompok virus entero

- Rubella

- Kelompok virus herpes : Herpes Simplek (tipe 1 dan 2), virus varicella zooster,

virus CMV kongenital, virus epstein bar

- Kelompok virus poks: vaksinia dan variola

b. Agen-agen yang ditularkan oleh antropoda

- Virus arbo

- Caplak

c. Penyebaran oleh mamalia berdarah panas

- Rabies

- Virus herpes simiae ( virus B)

- Koriomeningitis limfositik

2. Infeksi-infeksi non virus

- Riketsia

- Mycoplasma pneumoniae

- Bakteri

- Spirochaeta : sifilis, kongenital, atau akuisita, leptospirosis

- Jamur : candida albicans, cryptococcus neoformans, coccidiodes immitis,

aspergilus fumagatus, mucor, mycosis

- Protozoa : plasmadium Sp, tryphanosoma Sp, naegleria Sp, achantamoeba,

toxoplasma gondii

- Metazoa : trikinosis, ekinokokosis, sistiserkosis, skistosomiasis

3. Parainfeksiosa-pascainfeksiosa, alergi
a. Berhubungan dengan penyakit-penyakit tertentu :

Campak , Rubella , Pertusis , Gondongan , Varisella zooster, Influenza , M.

Pneumoniae , Infeksi riketsia , Hepatitis

b. Berhubungan dengan vaksin:

Rabies , Campak , Influenza , Vaksinis , Pertusis , Yellow fever , Typhoid

4. Penyakit-penyakit virus manusia yang lambat

- Panensefalitis sklerosis sub akut (PESS) campak, rubella

- Penyakit Jakob-Crevtzfeldt (ensefalitis spongioformis)

- Leukoensefalopati multifokal progresif

5. Kelompok kompleks yang tidak diketahui

- Sindrom Reye

- Ensefalitis von economo, dll

Klasifikasi encephalitis berdasar jenis virus serta epidemiologinya ialah:

Infeksi virus yang bersifat endemik

1. Golonganenterovirus : Poliomyelitis, virus Coxsackie, virus ECHO.

2. Golongan virus Arbo : Western equine encephalitis, St. Louis encephalitis, Eastern

equine encephalitis, Japanese B encephalitis, Russian spring summer encephalitis,

Murray valley encephalitis.

Infeksi virus yang bersiatsporadik : rabies, Herpes simpleks, Herpes zoster,

Limfogranuloma, Mumps, Lymphocytic choriomeningitis, danjenis lain yang dianggap

disebabkan oleh virus tetapi belumjelas.


Encephalitis pasca-infeksi : pasca-morbili, pasca-varisela, pasca-rubela, pasca-vaksinia,

pasca-mononukleosis infeksius, dan jenis-jenis lain yang mengikuti infeksi traktus

respiratorius yang tidak spesifik.

KLASIFIKASI BERDASARKAN PENYEBAB

Ensefalitis supurativa

Bakteri penyebab Ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E. Coli, M.

Tuberculosa dan T. Pallidum. Encephalitis bakterial akut sering disebut encephalitis supuratif

akut .

Ptogenesis :

Peradangan dapat menjalar ke jaxringan otak, dari otoitis media, mastoiditis, sinusitis, atau

piema yang berasal dari radang, abses didalam paru, bronchiectasis, empiema, osteomyelitis

cranium, fraktur terbuka, trauma yang menembus kedalam otak dan tromboflebitis. Reaksi dini

jaringan otak terhadap kuman yang bersarang adalah edema, kongesti, yang disusul dengan

pelunakan dan pembentukan abses. Disekelilingi daerah yang meradang berproliferasi jaringan

ikat dan atrosit yang membentuk kapsula. Bila kapsula pecah terbentuknya abses yang masuk ke

ventrikel.

Manifestasi klinis (trias gejala khas ensefalitis):

1. Demam

2. Kejang

3. Penurunan kesadaran
Bila berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum, tanda-tanda

meningkatnya tekanan intrakranial yaitu : nyeri kepala yang kronik dan progresif, muntah,

penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun, pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil.

Tanda-tanda defisit neurologis tergantung pada lokasi dan luas abses.

Ensefalitis virus

Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia :

1. Virus RNA

Paramikso virus : virus parotis, virus morbili

Rabdovirus : virus rabies

Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis jepang B, virus dengue)

Picornavirus : enterovirus (virus polio, coxsackie A,B,echovirus)

Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoria

2. Virus DNA

Herpes virus : herpes zooster-varicella, herpes simpleks, sitomegalovirus, virus epstein-

barr

Poxivirus : varioal, vaksinia

Rotavirus :AIDS

Manifestasi klinis : dimulai dengan demam, nyeri kepala, vertigo, nyeri badan, nausea,

kesadaran menurun, timbul serangan kejang-kejang, kaku kuduk, hemiparesis dan

paralysis bulbaris.
Penyebab lain adalah keracunan arsenik dan reaksi toksin dari thypoid fever, campak dan

chicken pox/cacar air. Penyebab encephalitis yang terpenting dan tersering ialah virus. Infeksi

dapat terjadi karena virus langsung menyerang otak, atau reaksi radang akut infeksi sistemik atau

vaksinasi terdahulu.

3. Ensefalitis karena parasit

a. Malaria serebral

Plasmodium falsiparum penyebab terjadinya malaria serebral. Gangguan utama

terdapat didalam pembuluh darah mengenai parasit.sel darah merah yang

terinfeksi plasmodium falsiparum akan melekat satu sama lainnya sehingga

menimbulkan penyumbatan-penyumbatan. Hemorrhagic petechia dan nekrosis

fokal yang tersebar secara difuss ditemukan pada selaput otak dan jaringan otak.

Gejala-gejala yang timbul : demam tinggi, kesadaran menurun hingga koma,

kelainan neurologil tergantung pada lokasi krusakan-kerusakan.

b. Toxoplasmosis

toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak menimbulkan gejala-gejala

kecuali dalam keadaan dengan daya imunitas menurun. Didalam tubuh manusia

parasit ini dapat bertahan dalam bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak.

c. Amebiasis

Amuba genus Naeglaria dapat masuk ke tubuh manusia melalui hidung ketika

berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan meningoensefalitis

akut. Gejala-gejala adalah demam akut, nausea, muntah, nyeri kepala, kaku kuduk

dan kesadaran menurun.

d. Sistiserkosis
Cysticercus cellulosae ialah stadium larva taenia. Larva menembus mukosa dan

masuk dalam pembuluh darah, menyebar ke seluruh badan. Larva dapat tumbuh

menjadi sistiserkus, berbentuk kista didalam ventrikel dan parenkim otak. Bentuk

rasemosanya tumbuh didalam meningens atau tersebar didalam sisterna. Jaringan

akan bereaksi dan membentuk kapsula disekitarnya.

Gejala-gejala neurologik : tergantung pada lokasi kerusakan.

Ensefalitis karena fungus

Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : candida albians,

cryptococcus neoformans, coccidiodis, Aspergillus, fumagatus dan mucor mycosis.

Gambaran yang ditimbulkan infeksi fungus pada sistim saraf pusat ialah meningo-

ensefalitis purulenta. Faktor yang memudahkan timbulnya infeksi adalah daya imunitas

yang menurun.

Riketsio serebri

Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan kutu dan dapat

menyebabkan ensefalitis. Didalam dinding pembuluh darah timbul noduli yang terdiri

atas sebukan sel-sel mononuklear, yang terdapat pula disekitar pembuluh darah didalam

jaringan otak. Didalam pembuluh darah yang terkena akan terjadi trombosis.

Gejala-gejalanya ialah nyeri kepala, demam, mula-mula sukar tidur, kemudian mungkin

kesadaran dapat menurun. Gejala-gejala neurologik menunjukan lesi yang tersebar.


Ada beberapa penyebab dari ensefalitis, yaitu :

Herpes Virus

Beberapa virus herpes bisa menyebabkan infeksi yang menyebabkan ensefalitis ini termasuk :

1. Herpes simplex virus

Ada 2 type dari herpes simplex virus (HSV) infections HSV type 1 (HSV-1)

menyebabkan cold sores ( menyerupai jagung atau gandum semacam tetes) atau fever blisters di

sekitar mulut. HSV type 2 (HSV-2) menyebabkan genital herpes. HSV 1 adalah sangat penting

menyebabkan ensefalitis sporadic yang fatal di united states tetapi ini juga sangat jarang kira-kira

2 kasus terjadi tiap juta orang setiap tahunnya.

Ensefalitis herpes simpleks (EHS) disebabkan oleh virus herpes simpleks dan merupakan

ensefalitis yang paling sering menimbulkan kematian. Angka kematian 70% bila tidak diobati.

Keberhasilan pengobatan ensefalitis herpes simpleks tergantung pada diagnosis dini dan waktu

memulai pengobatan. Virus herpes simpleks tipe I umumnya ditemukan pada anak, sedangkan

tipe II banyak ditemukan pada neonatus.

Asiklovir harus diberikan sesegera mungkin walaupun hanya secara empirik, bila ada

dugaan ensefalitis herpes simpleks berdasarkan penampilan klinis dan gambaran laboratorium.

Asiklovir memiliki toksisitas minimal.

Ensefalitis primer ensefalitis viral herpes simpleks

Virus herpes simpleks tidak berbeda secara morfologik dengan virus varisela, dan

sitomegalovirus. Secara serologik memang dapat dibedakan dengan tegas. Neonatus masih

mempunyai imunitas maternal. Tetapi setelah umur 6 bulan imunitas itu lenyap dan bayi dapat
mengidap gingivo-stomatitis virus herpes simpleks. Infeksi dapat hilang timbul dan berlokalisasi

pada perbatasan mukokutaneus antara mulut dan hidung. Infeksi-infeksi tersebut jinak sekali.

Tetapi apabila neonatus tidak memperoleh imunitas maternal terhadap virus herpes simpleks atau

apabila pada partus neonatus ketularan virus herpes simpleks dari ibunya yang mengidap herpes

genitalis, maka infeksi dapat berkembang menjadi viremia. Ensefalitis merupakan sebagian dari

manifestasi viremia yang juga menimbulkan peradangan dan nekrosis di hepar dan glandula

adrenalis.

Pada anak-anak dan orang dewasa, ensefalitis virus herpes simpleks merupakan

manifestasi reaktivitasi dari infeksi yang latent. Dalam hal tersebut virus herpes simpleks

berdiam didalam jaringan otak secara endosimbiotik, mungkin digangglion Gasseri dan hanya

ensefalitis saja yang bangkit.

Reaktivitas virus herpes simpleks dapat disebabkan oleh faktor-faktor yang pernah

disebut diatas, yaitu penyinaran ultraviolet dan gangguan hormonal. Penyinaran ultraviolet dapat

terjadi secara iatrogenik atau sewaktu berpergian ke tempat-tempat yang tinggi letaknya.

Kerusakan pada jaringan otak berupa nekrosis di substansia alba dan grisea serta infark

iskemik dengan infiltrasi limpositer sekitar pembuluh darah intraserebral. Didalam nukleus sel

saraf terdapat inclusion body yang khas bagi virus herpes simpleks.

Gambaran penyakit ensefalitis virus herpes simpleks tidak banyak berbeda dengan

ensefalitis primer lainnya. Tetapi yang menjadi ciri khas bagi ensefalitis virus herpes simpleks

ialah progresivitas perjalanan penyakitnya. Mulai dengan sakit kepala, demam dan muntah-

muntah. Kemudian timbul acute organic brain syndrome yang cepat memburuk sampai koma.
Sebelum koma dapat ditemukan hemiparesis atau afasia. Dan kejang epileptik dapat timbul sejak

permulaan penyakit. Pada fungsi lumbal ditemukan pleiositosis limpositer dengan eritrosit.

2.Ensefalitis Arbo-virus

Arbovirus atau lengkapnya arthropod-borne virus merupakan penyebab penyakit

demam dan adakalanya ensefalitis primer. Virus tersebut tersebar diseluruh dunia. Kutu dan

nyamuk dimana virus itu berbiak menjadi penyebarannya.

Ciri khas ensefalitis primer arbo-virus ialah perjalanan penyakit yang bifasik. Pada

gelombang pertama gambaran penyakitnya menyerupai influensa yang dapat berlangsung 4-5

hari. Sesudahnya penderita mereka sudah sembuh. Pada minggu ketiga demam dapat timbul

kembali. Dan demam ini merupakan gejala pendahulu bangkitnya manifestasi neurologik, seperti

sakit kepala, nistagmus, diplopia, konvulsi dan acute organic brain syndrome

3. Ensefalitis Parainfeksiosa

Ensefalitis yang timbul sebagai komplikasi penyakit virus parotitis epidemika,

mononukleosis infeksiosa, varisela dan herpes zooster dinamakan ensefalitis para-infeksiosa.

Tetapi ensefalitis ini sebenarnya tidak murni. Gejala-gejala meningitis, mielitis, neuritis

kranialis, radikulitis dan neuritis perifer dapat bergandeng dengan gambaran penyakit ensefalitis.

Bahkan tidak jarang komplikasi utamanya berupa radikulitis jenis Guillain Barre atau meilitis

transversa sedangkan manifestasi ensefalitisnya sangat ringan dan tidak berarti. Maka untuk

beberapa jenis ensefalitis para-infeksiosa, diagnosis mielo- ensefalitis lebih tepat daripada

ensefalitis. Salah satu jenis- ensefalitis viral yang fatal perlu disinggung dibawah ini, yaitu

rabies.
Rabies

Rabies disebabkan oleh virus neurotrop yang ditularkan kepada manusia melalui gigitan

anjing atau binatang apapun yang mengandung virus rabies. Setelah virus melakukan penetrasi

kedalam sel tuan rumah, ia dapat menjalar melalui serabut saraf perifer ke susunan saraf pusat.

Sel-sel saraf (neuron) sangat peka terhadap virus tersebut. Dan sekali neuron terkena infeksi

virus rabies proses infeksi itu tidak dapat dicegah lagi. Dan tahap viremia tidak perlu dilewati

untuk memperluas infeksi dan memperburuk keadaan, neuron-neuron diseluruh susunan saraf

pusat dari medula spinalis sampai di korteks tidak bakal luput dari daya destruksi virus rabies.

Masa inkubasi rabies ialah beberapa minggu sampai beberapa bulan. Jika dalam masa itu dapat

diselenggarakan pencegahan supaya virus rabies tidak di neuron-neuron maka kematian dapat

dihindarkan. Jika gejala-gejala prodromal sudah bangkit tidak ada cara pengobatan yang dapat

mengelakkan progresivitas perjalanan penyakit yang fatal dan menyedihkan ini.

Gejala-gejala prodromalnya terdiri dari lesu dan letih badan, anoreksia, demam, cepat

marah-marah dan nyeri pada tempat yang telah digigit anjing. Suara berisik dan sinar terang

sangat mengganggu penderita. Dalam 48 jam dapat bangkit gejala-gejala hipereksitasi. Penderita

menjadi gelisah, mengacau, berhalusinasi meronta-ronta, kejang opistotonus dan hidrofobia.

Tiap kali ia melihat air, otot-otot pernafasan dan laring kejang, sehingga ia menjadi sianotik dan

apnoe. Air liur tertimbun didalam mulut oleh karena penderita tidak dapat menelan. Pada

umumnya penderita meninggal karena status epileptikus. Masa penyakit dari mula-timbulnya

prodromal sampai mati adalah 3 sampai 4 hari saja.


Patogenesis

Virus dapat masuk tubuh pasien melalui kulit, saluran napas, dan saluran cerna. Setelah

masuk kedalam tubuh, virus akan menyebar keseluruh tubuh dengan beberapa cara :

Setempat : virus hanya terbatas menginfeksi selaput lendir permukaan atau organ tertentu

Penyebaran hematogen primer : virus masuk kedalam darah kemudian menyebar ke organ dan

berkembang biak di organ tersebut

Penyebaran hematogen sekunder : virus berkembang biak didaerah pertama kali masuk

(permukaan selaput lendir) kemudian menyebar ke organ lain.

Penyebaran melalui saraf : virus berkembang biak dipermukaan selaput lendir dan menyebar

melalui sistem saraf

Pada keadaan permulaan timbul demam, tapi belum ada kelainan neurologis. Virus akan

terus berkembang biak, kemudian menyerang susunan saraf pusat dan akhrinya diikuti kelainan

neurologis.

Kelainan neurologis pada ensefalitis disebabkan oleh :

Invasi dan perusakan langsung pada jaringan otak oleh virus yang sedang berkembang biak

Reaksi jaringan saraf pasien terhadap antigen virus yang akan berakibat demielinisasi,

kerusakan vaskular, dan paravaskular. Sedangkan virusnya sendiri sudah tidak ada dalam

jaringan otak

Reaksi aktivasi virus neurotropik yang bersifat laten


Tingkat diemilinasi yang mencolok pada pemeliharaan neuron dan aksonnya terutama di

anggap menggambarkan ensefalitis pasca infeksi atau alergi. Korteks serebri terutama lobus

temporalis, sering terkena oleh virus herpes simpleks,arbovirus cenderung mengenai seluruh

otak, rabies mempunyai kecendrungan pada struktur basal.

Seberapa kuat kerusakan yang terjadi pada SSP tergantung dari virulensi virus, kekuatan

terapeutik dari sistem imun dan agen-agen tubuh yang dapat menghambat multiplikasi virus.

Banyak virus yang penyebarannya melalui manusia. Nyamuk atau kutu menginokulasi

virus arbo, sedangkan virus rabies ditularkan melalui gigitan binatang. Pada beberapa virus

seperti virus varisella-zooster dan citomegalovirus, pejamu dengan sistem imun yang lemah,

merupakan faktor risiko utama.

Pada umumnya, virus bereplikasi diluar SSP dan menyebar baik melalui peredaran darah

atau melalui sistem neural ( virus herpes simpleks dan virus varicell-zooster). Patofisiologi

infeksi virus lambat seperti subakut skelosing panensefalitis (SSPE) sampai sekarang ini masih

belum jelas.

Setelah melewati sawar darah otak, virus memasuki sesl-sel neural yang mengakibatkan fungsi-

fungsi sel menjadi rusak. Kongesti perivaskular, dan respons inflamasi yang secara difus

menyebabkan ketidakseimbangan substansi abu-abu (nigra) dengan substansi putih (alba).

Adanya patologi fokal disebabkan karena terdapat reseptor-reseptor membran sel saraf

yang hanya ditemukan pada bagian-bagian khusus otak. Sebagai contoh herpes simplek

mempunyai predileksi pada lobus temporal medial dan inferior.


Patogenesis dari virus herpes simpleks sampai sekarang masih belum jelas dimengerti.

Infeksi otak diperkirakan terjadi karena adanya tranmisi neural secara langsung dari perifer ke

otak melalui saraf trigeminus atau olfaktorius.

Virus herpes simpleks tipe 1 di transfer melalui jalan napas dan ludah. Infeksi primer

biasanya terjadi pada anak-anak dan remaja. Biasanya subklinis atau berupa somatitis, faringitis

atau penyakit saluran napas. Kelainan neurologis merupakan komplikasi dari reaktifitas virus.

Pada infeksi primer, virus menjadi laten dalam ganglia trigeminal. Beberapa tahun kemudian,

rangsangan non spesifik menyebabkan reaktivasi yang biasanyan bermanifestasi sebagai herpes

labialis.

Plasmodium falsiparum menyebabkan eritrosit yang terinfeksi menjadi lengket. Sel-sel

darah yang lengket satu sama lainnya dapat menyumbat kapiler-kapiler dalam otak. Akibatnya

timbul daerah-daerah mikro infark. Gejala-gejala neurologis timbul karena kerusakan jaringan

otak yang terjadi. Pada malaria serebral ini, dapat timbul konvulsi dan koma.

Pada toxoplasmosis kongenital, radang terjadi pada pia-arakhnoid dan tersebar dalam

jaringan otak terutama jaringan korteks. Sangatlah sukar untuk menentukan etiologi dari

ensefalitis, bahkan pada postmortem. Kecuali pada kasus-kasus non viral seperti malaria

falsiparum dan ensefalitis fungal, dimana dapat ditemukan identifikasi morfologik. Pada kasus

viral, gambaran khas dapat dijumpai pada rabies (badan negri) atau virus herpes (badan inklusi

intranuklear).
Manifestasi klinis

Ensefalitis mempunyai berbagai penyebab, namun gejala klinis ensefalitis kurang lebih

sama dan khas. Sehingga gejala klinis tersebut dapat dipergunakan sebagai penegak diagnosis:

Trias ensefalitis terdiri dari:

Demam

Kejang

Kesadaran menurun.

Manifestasi klinis tergantung pada :

1. Berat dan susunan saraf yang terlibat, misalnya :

- Virus herpes simpleks yang kerap kali menyerang korteks serebri, terutama lobus

temporalis

- Virus ARBO cenderung menyerang seluruh otak

2. Patogenesis agen yang menyerang

3. Kekebalan dan mekanisme reaktif lain pendrita

Umumnya diawali dengan suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia.

Kesadaran dengan cepat menurun. Anak besar, sebelum kesadaan menurun sering mengeluh

nyeri kepala. Muntah sering ditemukan. Pada bayi, terdapat jeritan dan perasaan tidak enak

dperut. Kejang kejang dapat bersifat umum atau fokal atau hanya twitching saja. Kejang dapat

berlangsung berjam-jam. Gejala serebrum yang beraneka ragam dapat timbul sendiri-sendiri atau

bersama-sama, misalnya paresis atau paralisis, afasia dan sebagainya.


Gejala batang otak meliputi perubahan refleks pupil, defisit saraf kranial dan perubahan

pola pernapasan. Tanda rangsangan meningeal dapat terjadi bila peradangan mencapai

meningen.

Pada kelompok infeksi , gejala penyakit primer sendiri dapat membantu diagnosis. Pada

japanese B ensefalitis, semua bagian susunan saraf pusat daat meradang. Gejalanya yaitu nyeri

kepala, kacau mental, tremor lidah, bibir dan tangan, rigiditas pada lengan dan seluruh badan,

kelumpuhan dan nystagmus. Rabies memberi gejala pertama yaitu depresi dan gangguan tidur,

suhu meningkat, spastis,koma pada stadium paralisis.

Ensefalitis herpes simpleks dapat bermanisfestasi sebagai bentuk akut atau subakut. Pada

fase awal, pasien mengalami malaise dan demam yang berlangsung 1-7 hari. Manifestasi

ensefalitis dimulai dengan sakit kepala, muntah, perubahan kepribadian dan gangguan daya

ingat. Kemudian pasien mengalami kejang dan penurunan kesadaran. Kejang dapat berupa fokal

atau umum. Kesadaran menurun sampai koma dan letargi. Koma adalah faktor prognosis yang

sangat buruk, pasien yang mengalami koma sering kali meninggal atau sembuh dengan gejala

sisa yang berat. Pemeriksaan neurologis sering kali menunjukan hemiparesis. Beberapa kasus

dapat menunjukan afasia, ataksia, paresis saraf kranial, kaku kuduk dan papil edema.

Manifestasi Klinik Ensefalitis Virus

Bentuk asimtomatik

- Gejala ringan sekali, kadang ada nyeri kepala ringan atau demam tanpa tanpa diketahui

sebabnya. Diplopia, vertigo, dan parestesi juga berlangsung sepintas saja. Diagnosis

hanya ditegakkan atas pemeriksaan CSS.


Bentuk abortif

- Gejala-gejala berupa nyeri kepala, demam yang tidak tinggi dan kaku kuduk ringan.

Umumnya terdapat gejala-gejala seperti infeksi saluran pernafasan bagian atas atau

gastrointestinal.

Bentuk fulminan

- Beberapa jam beberapahari ->kematian. Stadium akut :demamtinggi, nyerikepaladifus

yang hebat, apatis, kakukuduk, disorientasi, sangat gelisah dan dalam waktu singkat

masuk kedalam koma yang dalam. Kematian biasanya terjadi dalam 2-4 hari akibat

kelainan bulbar atau jantung.

Bentuk khas ensefalitis

- Mulai bertahap, gejala awal nyeri kepala ringan, demam, gejala, ISPA atau

gastrointestinal selama beberapa hari. Muncul tanda radang SSP ( kaku kuduk, tanda

kernig positif, gelisah, lemah, dan suka tidur). Defisit neurologic yang timbul bergantung

pada tempat kerusakan. Kesadaran -> koma, dapat terjadi kejang fokal atau umum,

hemiparesis, gangguan koordinasi, kelainan kepribadian, disorientasi, gangguan bicara,

dan gangguan mental

Ensefalitis herpes simpleks dapat bersifat akut atau subakut. Fase prodromal menyerupai

influenza, kemudian diikuti dengan gambaran khas ensefalitis. Empat puluh persen kasus

datang dalam keadaan komat atau semi-koma. Manifestasi klinis juga dapat menyerupai

meningitis aseptik
Manifestasi klinis tidak spesifik, karena itu diperlukan ketrampilan klinis yang tinggi.

Umumnya dipertimbangkan EHS bila dijumpai demam, kejang fokal, dan tanda neurologis

seperti hemiparesis dengan penurunan kesadaran yang progresif.

Pemeriksaan Penunjang

Biakan: Dari darah ; viremia berlangsung hanya sebentar saja sehingga sukar untuk

mendapatkan hasil yang positif. Dari likuor serebrospinalis atau jaringan otak (hasil

nekropsi), akan didapat gambaran jenis kuman dan sensitivitas terhadap antibiotika. Dari

feses, untuk jenis enterovirus sering didapat hasil yang positif Dari swap hidung dan

tenggorokan, didapat hasil kultur positif

Pemeriksaan serologis : uji fiksasi komplemen, uji inhibisi hemaglutinasi dan uji neutralisasi.

Pada pemeriksaan serologis dapat diketahui reaksi antibodi tubuh. IgM dapat dijumpai pada

awal gejala penyakit timbul.

Pemeriksaan darah : terjadi peningkatan angka leukosit.

Punksi lumbal Likuor serebospinalis sering dalam batas normal, kadang-kadang ditemukan

sedikit peningkatan jumlah sel, kadar protein atau glukosa.

EEG/ Electroencephalography EEG sering menunjukkan aktifitas listrik yang merendah

sesuai dengan kesadaran yang menurun. Adanya kejang, koma, tumor, infeksi sistem saraf,

bekuan darah, abses, jaringan parut otak, dapat menyebabkan aktivitas listrik berbeda dari

pola normal irama dan kecepatan.

Brain Imaging Menunjukkan gambaran oedema otak. pada ensefalitis herpes simplex

pemeriksaan CT scan hari ke-3 menunjukkan gambaran hipodens pada daerah fronto
temporal. Computerized Tomography (CT) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI) scan

bisa swelling dari otak atau ini dengan kondisi lain dengan tanda dan gejala mirip

encephalitis seperti geger otak . Jika ensefalitis dicurigai, brain imaging adalah sering

sebelum spinal tap dan adanya peningkatan tekanan intrakranial. CT scan Pemeriksaan CT

scan otak seringkali didapat hasil normal, tetapi bisa pula didapat hasil edema diffuse, dan

pada kasus khusus seperti Ensefalitis herpes simplex, ada kerusakan selektif pada lobus

inferomedial temporal dan lobus frontal.

Biopsi Otak Paling sering digunakan untuk diagnosis dari herpes simplex ensefalitis bila

tidak mungkin menggunakan metode DNA atau CT atau MRI scan. Dokter boleh mengambil

sample kecil dari jaringan otak. Sampel ini dianalysis dilaboratorium untuk melihat virus

yang ada.

LCS pada berbagai infeksi

Penyakit Tekanan LCS Protein Hitung sel Glukosa

Meningitis sedang tinggi >50 PMN Rendah

bakteri

Meningitis virus N sedikit - normal Limfosit Normal

Meningitis N sedang Pleositosis atau Rendah

tuberkulosis limfositosis

Ensefalitis /N sedikit normal Limfositosis Normal


Skrining dan Diagnosis

- Spinal tap (lumbal puncture) :

1. Cairan jernih

2. Jumlah sel diatas normal 50-500/mm3

3. Hitung jenis didominasi sel imfosit, protein dan glukosa (normal) / .

Untuk mendiagnosa ensefalitis adalah menganalisis cairan cerebrospinal otak dan sumsum

tulang.

Jarum dimasukkan kedalam extract spine terbawah dari sample cairan untuk analysis laboratory

menunjukkan infeksi atau peningkatan jumlah sel darah putih

Penatalaksanaan

1. Mengatasi kejang

- Fenobarbital 5-8 mg/kgBB/24jam

- Jika kejang sering terjadi beri diazepam 0,1-0,2 mg.kgBB IV, dalam bentuk infus selama

3 menit

2. Memperbaiki homeostatisInfus D5-1/2S atau D5-1/4S dan Pemberian Oksigen

3. Menurunkan tekanan intrakranial: Manitol iv 1,5-2,0 g/kgBB selama 30-60 menit diulang

setiap 8-12 jam

4. mengurangi edema serebri Deksametason 0,15-1,0 mg.kgBB/hari iv dibagi 3 dosis

5. Pengobatan Kausatif
- antbiotik parenteral untuk menyingkirkan etiologi bakteri

- Asiklovir 10 30 mg/kgBB tiap 8 jam IV dalam infus, perlahan, 10hari.

Komplikasi

Susunan saraf pusat ->kecerdasan,motoris, psikiatris, epileptik, penglihatan dan

pendengaran

Sistem kardiovaskular, intraokuler, paru, hati, dan sistem lain dapat terlibat secara menetap

Gejala sisa ->defisit neurologik (paresis/paralisis, pergerakan koreotetoid), hidrosefalus

maupun gangguan mental sering terjadi

Komplikasi pada bayi biasanya berupa hidrosefalus, epilepsi, retardasi mental karena

kerusakan SSP berat

Ensefalitis virus berat bisa menyebabkan gagal nafas, koma dan kematian. Ini juga

membuat mental impairment termasuk kehilangan memori, ketidakmampuan bicara,

kurang koordinasi otot, paralisis, atau defek dengan penglihatan dan pendengaran.

Prognosis

Prognosis sukar diramalkan

1. Sembuh tanpa gejala sisa

2. Sembuh dengan gejala sisa 20-40% berupa paresis/ paralisis, gangguan penglihatan, dan

kelainan neurologis lain. Pasien yang sembuh tanpa kelainan yang nyata, dalam

perkembangan selanjutnya masih mungkin mengalami retardasi mental, gangguan watak,

dan epilepsi.

3. Kematian 35 %-50%
Angka kematian untuk ensefalitis berkisar antara 35-50%.Pasien yang pengobatannya

terlambat atau tidak diberikan antivirus (pada ensefalitis Herpes Simpleks) angka kematiannya

tinggi bisa mencapai 70-80%.Pengobatan dini dengan asiklovir akan menurukan mortalitas

menjadi 28%.Sekitar 25% pasien ensefalitis meninggal pada stadium akut. Penderita yang hidup

20-40%nya akan mempunyai komplikasi atau gejala sisa.

Gejala sisa lebih sering ditemukan dan lebih berat pada ensefalitis yang tidak

diobati.Keterlambatan pengobatan yang lebih dari 4 hari memberikan prognosis buruk, demikian

juga koma.Pasien yang mengalami koma sering kali meninggal atau sembuh dengan gejala sisa

yang berat.

Banyak kasus ensefalitis adalah infeksi dan recovery biasanya cepat ensefalitis ringan

biasanya pergi tanpa residu masalah neurologi.Dan semuanya 10% dari kematian ensefalitis dari

infeksinya atau komplikasi dari infeksi sekunder .Beberapa bentuk ensefalitis mempunyai bagian

berat termasuk herpes ensefalitis dimana mortality 15-20% dengan treatment dan 70-80% tanpa

treatment.

Pencegahan

Ensefalitis merupakan infeksi. Ini bisa dicegah dengan penyebaran infeksi dan

meminimalkan kontak.Cara terbaik untuk mencegah ensefalitis adalah menghindari virus yang

menyebarkan penyakit. Ini berarti membuat langkah untuk mencegah genital herpes, yang

pertama. Ini juga berarti membuat yakin anak untuk diimunisasi chicken pox, measles berbeda,

mumps dan rubella ( german measles)


Ensefalitis tidak bisa dicegah kecuali mencoba untuk mencegah penyakit dapat

menyebar. ensefalitis bisa dilihat pada anak pada penyakit measles, mumps dan chicken pox,

bisa dicegah dengan imunisasi MMR. Penyemprotan terhadap vektor serangga


DAFTAR PUSTAKA

1. Dworkin, Paul H. National medical series for independent study pediatrics.4th edition.2000

2. IDAI. Standar pelayanan medis kesehatan anak.edisi 1.2004

3. Mansjoer, arif,Suprohaita, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek setiowulan ,editor. Kapita selekta

Kedokteran edisi ketiga jilid kedua.media aesculapius. FKUI. Jakarta 2000.

4. Mardjono, Mahar Prof DR, Sidharta Priguna Prof DR .Neurologi klinis dasar. Dian rakyat.

Jakarta. 2000.

5. Rudolpd, Abraham M,dkk. Buku Ajar Ilmu Pediatri Rudolph volume 3. jakarta: EGC.2006

6. Saharso, Darto. Hidayati, Siti Nurul. Infeksi Virus Pada Susunan Saraf Pusat. Soetomenggolo,

Taslim S. Ismael, Sofyan. Dalam: Buku Ajar Neurologi Anak. Cetakan ke-2. Jakarta. Ikatan

Dokter Indonesia. 2000

7. Prober, Charles G. Meningoensefalitis. Nelson, Waldo E. Dalam: Nelson Ilmu Kesehatan

Anak ed. 15 vol 2. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC. 1996

8. Sevign, Jeffery MD. Frontera, Jennifer MD. Acute Viral Enchepalitis. Brust, John C.M. In:

Current Doagnosis & Treatment In Neurology. International Edition.New York. Mc Graw Hill.

2007.

9. Markam,S.Ensefalitis dalam Kapita Selekta Neurologi Ed ke-2, Editor : Harsono., Gadjah

Mada University Press, Yogyakarta.2000.