Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

Pembimbing :
dr. Hj. Rini Sulviani, Sp.A. M.Kes

Disusun oleh:
Khoirunnisa (2010730056)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


RSUD R. SYAMSUDIN, SH - SUKABUMI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2014
STATUS PASIEN

IDENTITAS PASIEN

Data Pasien Ayah Ibu


Nama An. F Tn. U Ny. W

Umur 1 tahun 3 bulan 28 Tahun 27 Tahun

Jenis
Perempuan Perempuan Laki-laki
kelamin
Golongan
A A O
darah

Alamat Babakan jaya, parung kuda Rt 009/003, kabupaten Sukabumi

Agama Islam Islam Islam

Suku Bangsa Sunda Sunda Sunda

Pendidikan (- ) SMK SMP


Karyawan Ibu rumah
Pekerjaan (-)
swasta tangga

Penghasilan (-) Rp 3.000.000 (-)

Masuk
10 juni 2014
Rumah Sakit
ANAMNESIS
Dilakukan alloanamnesis pada tanggal 11 juni 2014 jam 12.00 WIB di ruang PICU kelas 2
kepada ibu kandung pasien.
Keluhan Utama :
Penurunan kesadaran 1 hari sebelum masuk rumah sakit
Keluhan Tambahan :
Mencret, muntah, mual, demam, lemas, sesak.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit (SMRS) pasien mulai mengalami penurunan
kesadaran. Pasien tidak membuka mata secara spontan, pasien juga tidak merespon ketika
di panggil, kemudian pasien juga tidak merespon ataupun menggerakan anggota tubuhnya
ketika diberi rangsang nyeri, Pasien sulit untuk dibangunkan. Pasien tampak lemas dan sulit
untuk diajak berkomunikasi.

Keluhan pasien didahului oleh mencret, muntah, mual, demam, lemas, sesak sejak 2
minggu SMRS. Pasien buang air besar (BAB) sebanyak 4 5 kali perhari, banyaknya
setengah aqua gelas untuk sekali mencret, encer, cairan lebih banyak daripada ampas, tidak
ada lendir, tidak ada darah, berwarna kuning dan bau normal. Ubun-ubun tampak agak
cekung, kemudian mata agak cekung, dan mukosa bibir tampak kering, anak juga tampak
sulit atau tidak bisa minum. Kemudian muntah yang di sertai mual pada pasien tiap kali
selesai makan 3-5 x perharinya, banyaknya muntah tergantung pada apa yang dimakan
oleh anak.Muntah pasien berisikan makanan yang telah dimakan pasien sebelumnya
maupun minum yang di minum sebelumnya. Muntah pada pasien tidak disertai lendir dan
tidak disertai oleh darah. Muntah anak tidak berbau busuk maupun berbau asam.

Pasien juga mengalami demam tinggi yang datang secara tiba-tiba atau mendadak,
demam terjadi secara terus menerus dan tidak ada hari bebas demam. Pasien sudah diberi
obat penurun demam (dari dokter umum), namun hanya turun untuk beberapa saat dan lama
kelamaan suhunya naik lagi. Pasien tidak mengukur suhu saat demam terjadi.

Semenjak mencret dan demam pasien menjadi lemas, pasien tampak tidak
mempedulikan lingkungan sekitarnya, pasien hanya diam saja tidak melakukan aktifitas
sehari-hari dan pasien malas bermain tidak seperti biasanya. Nafsu makan pada pasien juga
menurun. Pasien tidak mau makan makanan yang dia konsumsi setiap harinya.

Pasien tidak memiliki keluhan nyeri pada mata, mengeluarkan sekret mata, dan benjolan
di mata disangkal. Keluhan nyeri telinga, keluar cairan dari telinga, ataupun gangguan
pendengaran disangkal. Keluhan nyeri menelan serta nyeri di tenggorokan disangkal.
Keluhan adanya benjolan di leher ataupun di daerah lipatan tubuh disangkal. Keluhan
munculnya bintik kemerahan / ruam pada kulit disangkal. Keluhan menderita flek paru
disangkal. Keluhan nyeri saat kencing disangkal. Keluhan adanya pembengkakan atau nyeri
pada persendian ataupun tulang disangkal. Riwayat alergi terhadap obat dan makanan
disangkal. Riwayat trauma sebelum pasien sakit juga disangkal. Pasien tidak memiliki
riwayat trauma pada daerah kepala, tidak ada riwayat perdarahan hebat, tidak menggunakan
obat-obatan, tidak keracunan gas, pasien juga tidak memiliki riwayat DM.

Pasien di rawat di RS Cikarang 2 minggu SMRS dengan keluhan mencret, demam dan
lemas. Pasien mengalami perbaikan yaitu mencret sudah berkurang yaitu pada BAB ampas
sudah lebih banyak dari air, warna kuning, tidak ada lender tidak ada darah dan bau normal.
Demam sudah mulai turun berangsur-angsur setelah 3 hari dirawat kemudian di perbolehkan
untuk pulang, namun pasien masih tampak lemas. Namun 4 hari setelah pasien keluar dari
RS, perut anak terasa kembung dan kembali datang ke sebuah klinik.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Anak pernah mengalami kejang ketika umur 6 bulan tanpa disertai oleh demam
sebelumnya, kejang terjadi untuk pertama kalinya, kejang tersebut terjadi sekali
30 menit dan di sarankan untuk melakukan EEG, namun EEG tidak dilakukan
karena kondisi anak tidak memungkinkan untuk di lakukan pemeiksaan.

RIWAYAT ALERGI
Pasien tidak memiliki riwayat alergi.

RIWAYAT KELUARGA

Pasien merupakan anak satu-satunya.


Tidak ada anggota keluarga yang memilili keluhan seperti ini.

RIWAYAT SOSIAL EKONOMI

Pasien merupakan anak tunggal dari keluarg kecil yang terdiri dari ayah yang
bekerja sebagai pegawai swasta di sebuah perusahaan swasta di daerah bekasi, dan
seorang ibu yang kesehariannya adalah seorang ibu rumah tangga. Makanan yang
dimakan oleh pasien sama dengan menu keluarga. Keadaan rumah pasien cukup
bagus, memilik ventilasi udara yang cukup dan beralaskan keramik.

RIWAYAT PENYAKIT PADA KELUARGA

Riwayat kejang disangkal


Riwayat batuk lama disangkal
Riwayat penyakit keganasan disangkal
Riwayat penyakit lainnya disangkal (tidak ada yang pernah masuk rumah sakit)

RIWAYAT KELAHIRAN
A. Riwayat Kehamilan
Perawatan Antenatal : Rutin periksa ke posyandu tiap 1 bulan sekali

B. Kelahiran
Tempat kelahiran : Puskesmas
Penolong persalinan : Bidan
Cara persalinan : Spontam pervaginam
Keadaan Bayi
Berat badan lahir : 2700 gram
Panjang badan lahir : 47 cm
: Langsung menangis dan bergerak aktif
C. Riwayat tumbuh kembang
MOTORIK KASAR

Pasien mulai bisa tengkurep pada usia 4-5 bulan


Pasien mulai bisa duduk dan merangkak pada usia 7 bulan
Pasien mulai bisa berdiri pada usia 9 bulan
Pasien mulai bisa berjalan pada usia 12 bulan
Pasien mulai bisa berlari pada usia 14 bulan

MOTORIK HALUS

Pasien mulai mencoba meraih benda yang dilihat pada usia 4 bulan
Pasien mulai memasukkan benda ke dalam mulutnya pada usia 6 bulan
Pasien mulai bisa melempar benda benda pada usia 8 bulan
Pasien mulai bisa mencoret-coret kertas pada usia 14 bulan

PERSONAL SOSIAL

Pasien dapat tersenyum pada usia 1 bulan


Pasien dapat tertawa pada usia 5 bulan
Pasien dapat bermain bola pada usia 12 bulan

BAHASA

Pasien mulai berteriak pada usia 3 bulan


Pasien mulai mengoceh pada usia 9 bulan
Pasien mulai berkata papa / mama pada usia 12 bulan
Pasien mulai mengerti apa yang dikatakan pada usia 20 bulan

Kesan : status tumbuh kembang anak sesuai dengan usianya.

D. Riwayat makanan
0 4 bulan : ASI + PASI
4 12 bulan : ASI + bubur susu, bubur nasi, biskuit
12 bulan sekarang : Menu keluarga
RIWAYAT IMUNISASI

Jenis Vaksin Jumlah pemberian Umur (bulan)


BCG 1 Kali 1 bulan
2 bulan, 4 bulan, 6
DPT 3 Kali
bulan
Lahir, 2 bulan,
POLIO 4 Kali
4 bulan, 6 bulan
Lahir, 1 bulan, 4
HEPATITIS 3 Kali
bulan
CAMPAK 1 Kali 9 bulan

Kesan : status imunisasi anak sesuai dengan usianya.

PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik ini dilakukan pada tanggal 11 juni 2014 jam 12:00 WIB

Keadaan Umum : tampak sakit berat


Kesadaran : soporocoma. GCS 4 (E1M2V1)
Data Antropometri`
Berat Badan : 10,8 kg
Tinggi Badan : 78 cm

10,8
WFA : x 100% = 103,8% ( normal)
10,4

78
HFA : : x 100% = 101,2 % ( normal)
77

10,8
WFH : : x 100% = 94,4 % ( normal)
10,2
Tanda Vital
Tekanan darah : 90/55 mm/Hg (95/65 mm/Hg)
Frekuensi nadi : 136x/menit (70120x/menit)
Frekuesi pernapasan : 60 x/menit (2550x/menit)
Suhu : 38,1 C ( 36,6C 37,2C)

Kepala : Normocephali, rambut warna hitam dan


tidak mudah di cabut.
Mata : pupil bulat isokor, reflex cahaya +/+,
konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik -/-,
sclera tampak kering.
Hidung : septum deviasi (-), napas cuping hidung (-
), secret -/-.
Telinga : serumen -/-
Mulut : bibir kering, sianosis (-), mukosa oral
merah muda dan basah, trismus (-).
Tenggorokan : sulit dinilai karena pasien tidak kooperatif
Leher : KGB tidak teraba membesar, kelenjar tiroid
tidak teraba membesar.

Paru-paru
Inspeksi : gerakan dada kiri dan kanan terlihat
simetris, retraksi (-)
Palpasi : gerakan dada teraba simetris kiri dan kanan
Perkusi : sonor di semua lapang paru
Auskultasi : suara napas vesikuler , ronchi -/-, wheezing
-/- .

Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
Palpasi : ictus cordis tidak teraba
Perkusi : kardiomegali (-)
Batas atas : ICS II
Batas kiri : linea midclavicularis sinistra
Batas kanan : linea parasternalis dextra
Auskultasi : s1 normal, s2 normal, regular, murmur (-),
gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : datar
Palpasi : supel, hepatomegali (-) 1/3-1/3, lien tidak
teraba
Perkusi : timpani di semua kuadaran abdomen
Auskultasi : bising usus + 6x/ menit

Genitalia : labia major menutupi labia minor


Ekstremitas
Ekstremitas bawah : akral dingin +/+, oedem -/- , CRT = 3detik
(normal CRT 2 detik).
Ekstremitas atas : akral dingin +/+, oedem -/- , CRT = 3detik
(normal CRT 2 detik).
Kulit : ikterik (-), sianosis (-), turgor baik,.
PEMERIKSAAN NEUROLOGIS

Kesadaran (GCS) : soporocoma / E1M1V2

Eye response
Spontaneous 4
To speech / sound 3
To pain 2
None 1
Verbal response
Coos / babbles 5
Irritable cry 4
Cries to pain 3
Moans to pain 2
None 1
Motor response
Spontaneous 6
Withdraws to touch 5
Withdraws to pain 4
Abnormal flexion (decorticate) 3
Abnormal extension (decerebrate) 2
No response 1

1. Rangsang meningeal :
- Kaku kuduk (-) (normal)
- Brudzinski I (-) (normal)
- Brudzinski II (-) (normal)
- Kernig (-) (normal)
2. Tanda peningkatan tekanan intracranial :
- Muntah proyektil (-)
- Sakit kepala progresif : tidak dapat dinilai
3. Pemeriksaan saraf kranialis :
Saraf kranial I : penilaian fungsi penghidu/ bau, tidak dapat dinilai .
Saraf kranial II : menentukan visus, lapang pandang dan penglihatan retina
menggunakan funduskopi, tidak dapat dinilai dan tidak ada alat.
Saraf kranial III, IV, VI : Kedudukan bola mata simetris ditengah, tidak ada deviasi
konjugat, tidak ada exoftalmus dan enoftalmus. Gerak bola mata ada. Refleks cahaya
langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+. Tes akomodasi tidak bisa dinilai.
Saraf kranial V : menilai sensorik dan motorik wajah tidak dapat dinilai, refleks
kornea +/+.
Saraf kranial VII : menilai sensoris saraf cranial VII (2/3 anterior lidah), menilai
motorik wajah (ekspresi wajah) tidak dapat dinilai.
Saraf kranial VIII : menilai keseimbangan dan fungsi pendengaran, tidak dapat
dinilai.
Saraf kranial IX dan X : menelan, batuk, berbicara, pemeriksaan arkus faring, dan
refleks muntah tidak dapat dinilai.
Saraf kranial XI : Otot sternocleidomastoideus dan otot trapezius tidak ada atrofi,
fasikulasi -/-. Kekuatan otot tidak bisa dinilai karena pasien tidak sadar.
Saraf kranial XII : Gerakan lidah +
4. Koordinasi : tidak dapat di nilai
5. Motorik : tidak dapat dinilai
6. Sensorik : tidak dapat dinilai
7. Fungsi otonom :
8. Refleks :
Refleks fisiologis
- Refleks bisep +/+ (normal)
- Refleks trisep +/+ (normal)
- Refleks patella +/+ (normal)
- Refleks achilles +/+ (normal)

Refleks patologis :

- Babinski -/- (normal)


- Chaddock -/- (normal)
- Oppenheim -/- (normal)
- Gordon -/- (normal)
- Schaeffer -/- (normal)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 10 juni 2014
Lab darah
Nama Test Hasil Nilai normal
Hemoglobin 8,0 14-18 g/dl
Leukosit 14.100 7000-17000/ul
Hematrokit 23,7 40 -50%
Trombosit 242.000 150000-350000

GDS 179 < 120 mg/dl


Natrium 131 137 147
Kalsium 6,31 8,1 - 10,8
Kalium 1,18 3,6 - 5,4
Klorida 111 94 111
RESUME
ANAMNESIS
Pasien An. F, 1 tahun 3 bulan masuk ke IGD RS R. SYAMSUDDIN, SH. dengan
keluhan penurunan kesadaran sejak 1 hari SMRS. Pasien mulai tidak merespon panggilan.
Pasien sulit untuk dibangunkan.. Pasien tampak lemas dan sulit untuk diajak berkomunikasi.

Pasien mengalami mencret sekitar 2 minggu lalu sebelum masuk rumah sakit. BAB
encer, cairan lebih banyak daripada ampas, tidak ada lender, tidak ada darah, berwarna
kuning dan bau normal. Pasien juga mengalami demam yang datang secara tiba-tiba atau
mendadak, demam terjadi secara terus menerus dan tidak ada hari bebas demam. Semenjak
mencret dan demam pasien menjadi lemas, tidak melakukan aktifitas sehari-hari . Nafsu
makan pada pasien juga menurun. Kemudian pasien mengalami mual dan muntah setelah
makan. Muntah pasien berisikan makanan yang telah dimakan pasien sebelumnya, tidak ada
lendir, dan tidak ada darah.

PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan, didapatkan keadaan umum pasien tampak sakit berat, dengan
kesadaran sopor, nilai GCS 4 (E1V1M2). Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan darah
98/55 mmHg, HR 142x/menit , frekuensi napas 60 kali / menit, dan suhu tubuh 38,1C.
sclera tampak kering, bibir kering, akral terasa dingin, CRT 3 detik.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan laboratorium, didapatkan nilai hematologi yang bermakna yaitu
peningkatan kadar gula darah sewaktu 179 mg/dl, penurunan kadar hemoglobin 8,0 g/dl,
penurunah hematokrit 23,7% dan penurunan jumlah kadar kalium 1,18 mEq/L penurunan
kadar natrium 131 mEq/L.

DIAGNOSIS KERJA
Penurunan kesadaran ec hiponatremia
DIAGNOSIS BANDING
Penurunan kesadaran ec hipokalemia
Penurunan kesadaran ec hipokalsemia
PENATALAKSANAAN
Umum
Rawat PICU
Diet : puasa, pemasangan NGT dialirkan
Monitoring tanda-tanda vital
Cek elektrolit

Khusus
Koreksi natrium : NaCl 3% 1,08 mEq/L + NaCl 0,9 % 45 ml/ jam
Koreksi kalium : KCl 7,46 % i.v. 10,8 mEq diberikan selama 2 jam
Koreksi kalsium : CaCl2 10% 1 ml iv dengan kecepatan 0,5 ml/ menit
Inj.dexamethasone 1 x 600 mg perhari
Ceftriaxone 1 x 600 mg perhari
Inj. Ranitidine 2 x 7 mg perhari
Transfuse PRL 10 cc/4 jam

USULAN PEMERIKSAAN :

EKG
BUN/kreatinin
Urinalisis
Analisis gas darah

PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsionam : dubia ad malam
Quo ad sanactionam : dubia ad malam
Analisa Kasus

DIAGNOSIS

Anak perempuan, usia 1 tahun 3 bulan, dengan berat badan 10,2 kg, hari rawat
kedua, dengan penurunan kesadaran hari ke-2, dengan status imunisasi lengkap, status
gizi sesuai usia, status pertumbuhan sesua i usia, status perkembangan sesui usia, dengan
diagnosis :
Penurunan kesadaran ec hiponatremia
Penurunan kesadaran ec hipokalemia

Diagnosis diambil berdasarkan gejala klinis, dimana pada kasus ini di temukan :
Anamnesis :
Pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak 1 hari sebelum di rawat
di rumah sakit.
Pasien mencret sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit.
Pasien juga mengalami demam yang datang secara tiba-tiba dan tidak ada hari
bebas demam, demam turun hanya pada saat setelah minum obat, namun kembali
naik lagi setelah beberapa saat.

Pemeriksaan fisik :
Kesadaran : GCS 4 (E1M2V1)
Tandatanda vital :
- Tekanan darah : 98/55 mmHg
- HR : 142x/menit
- Frekuensi napas : 60x/menit
- Suhu : 38,1C
- Sclera : tampak kering
- Mukosa bibir : tampak kering
- Akral : terasa dingin
- CTR : 3 detik
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan laboratorium :
- Gula darah sewakktu : 179 mg/dl
- Hb : 8,0 g/dl
- Kadar kalium : 1,18 mmol/L
- Kadar natrium : 131 mmol/L
- Kadar kalsium : 6,35 mmol/L
DIAGNOSIS BANDING
Diagnosis banding didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik yang merujuk pada
gejala- gejala hipokalmia dan hipokalsemia yaitu berupa :

Anamnesis :

Diare
Muntah
Kehilangan keringat berlebihan

Pemeriksaan fisik :

Pemeriksaan penunjang :

Kadar kalium < 3,5 mEq/L

USULAN PEMERIKSAAN :

EKG
BUN/kreatinin
Urinalisis
Analisis gas darah
Penurunan kesadaran

Kesadaran ditentukan oleh kondisi pusat kesadaran yang berada di kedua hemisfer
serebridan Ascending Reticular Activating System (ARAS) Jika terjadi kelainan pada kedua
sistem ini, baik yang melibatkan sistem anatomi maupun fungsional akan mengakibatkan
terjadinya penurunan kesalpmdaran dengan berbagai tingkatan.Ascending Reticular Activating
System merupakan suatu rangkaian atau network system yang dari kaudal berasal dari medulla
spinalismenuju rostral yaitu diensefalon melalui brain stem sehingga kelainan yang mengenai
lintasanARAS tersebut berada diantara medulla, pons, mesencephalon menuju ke
subthalamus,hipothalamus, thalamus dan akan menimbulkan penurunan derajat kesadaran.
Neurotransmiter yang berperan pada ARAS antara lain neurotransmiter kolinergik,
monoaminergik dan gammaaminobutyric acid (GABA) Respon gangguan kesadaran pada
kelainan di ARAS ini merupakan kelainan yang berpengaruh kepada sistem arousal yaitu respon
primitif yang merupakan manifestasi rangkaianinti-inti di batang otak dan serabut-serabut saraf
pada susunan saraf. Korteks serebri merupakan bagian yang terbesar dari susunan saraf pusat di
mana kedua korteks ini berperan dalamkesadaran akan diri terhadap lingkngan atau input-input
rangsangan sensoris, hal ini disebut jugasebagai awareness.
Kesadaran adalah pengetahuan penuh atas diri, lokasi dan waktu. ( Corwin, 2001 )
Penurunan kesadaran adalah keadaan dimanapenderita tidak sadar dalam arti tidak
terjaga / tidak terbangun secara utuh sehingga tidak mampu memberikan respons yang normal
terhadap stimulus.
Kesadaran secara sederhana dapat dikatakan sebagai keadaan dimana seseorang
mengenal /mengetahui tentang dirinya maupun lingkungannya. (Padmosantjojo, 2000 )
Dalam menilai penurunan kesadaran dikenal beberapa istilah yaitu :

1. Kompos mentis
Kompos mentis adalah kesadaran normal, menyadari seluruh asupan dari panca indra dan
bereaksi secara optimal terhadap seluruh rangsangan baik dari luar maupun dalam. GCS Skor
14-15
2. Somnelen / drowsiness / clouding of consciousness
Mata cenderung menutup, mengantuk, masih dapat dibangunkan dengan perintah, masih dapat
menjawab pertanyaan walau sedikit bingung, tampak gelisah dan orientasi terhadap sekitarnya
menurun. Skor 11-12 : somnolent
3. Stupor / Sopor
Mata tertutup dengan rangsang nyeri atau suara keras baru membuka mata atau bersuara satu
dua kata . Motorik hanya berupa gerakan mengelak terhadap rangsang nyeri. Skor 8-10 : stupor
4. Soporokoma / Semikoma
Mata tetap tertutup walaupun dirangsang nyeri secara kuat, hanya dapat mengerang tanpa arti,
motorik hanya gerakan primitif.
5. Koma
Dengan rangsang apapun tidak ada reaksi sama sekali, baik dalam hal membuka mata, bicara
maupun reaksi motorik. . Skor < 5 : koma
( Harsono , 1996 )

ETIOLOGI PENURUNAN KESADARAN


Kemungkinan kemungkinan penyebab penurunan kesadaran di singkat dengan istilah
SEMENITE yaitu :
1. S : Sirkulasi
Meliputi stroke dan penyakit jantung, Syok (shock) adalah kondisi medis tubuh yang
mengancam jiwa yang diakibatkan oleh kegagalan sistem sirkulasi darah dalam
mempertahankan suplai darah yang memadai. Berkurangnya suplai darah mengakibatkan
berkurangnya suplai oksigen ke jaringan tubuh. Jika tidak teratasi maka dapat menyebabkan
kegagalan fungsi organ penting yang dapat mengakibatkan kematian. Kegagalan sistem
sirkulasi dapat disebabkan oleh Kegagalan jantung memompa darah, terjadi pada serangan
jantung.
Berkurangnya cairan tubuh yang diedarkan. Tipe ini terjadi pada perdarahan besar
maupun perdarahan dalam, hilangnya cairan tubuh akibat diare berat, muntah maupun luka
bakar yang luas.
Shock bisa disebabkan oleh bermacam-macam masalah medis dan luka-luka traumatic,
tetapi dengan perkecualian cardiac tamponade dan pneumothorax, akibat dari shock yang paling
umum yang terjadi pada jam pertama setelah luka-luka tersebut adalah haemorrhage
(pendarahan).
Shock didefinasikan sebagai cellular hypoperfusion dan menunjukan adanya
ketidakmampuan untuk memelihara keseimbangan antara pengadaan cellular oxygen dan
tuntutan oxygen. Progress Shock mulai dari tahap luka hingga kematian cell, kegagalan organ,
dan pada akhirnya jika tidak diperbaiki, akan mengakibatkan kematian organ tubuh. Adanya
peredaran yang tidak cukup bisa cepat diketahui dengan memasang alat penerima
chemosensitive dan pressure-sensitive pada carotid artery. Hal ini, pada gilirannya dapat
mengaktivasi mekanisme yang membantu mengimbangi akibat dari efek negative, termasuk
pelepasan catecholamines (norepinephrine dan epinephrine) dikarenakan oleh hilangnya syaraf
sympathetic ganglionic; tachycardia, tekanan nadi yang menyempit dan hasil batasan
disekeliling pembuluh darah (peripheral vascular) dengan mendistribusi ulang aliran darah pada
daerah sekitar cutaneous, splanchnic dan muscular beds. Dengan demikian, tanda-tanda awal
dari shock tidak kentara dan mungkin yang tertunda hanyalah pemasukkan dari pengisian
kapiler, tachycardia yang relatip dan kegelisahan.
2. E : Ensefalitis
Dengan tetap mempertimbangkan adanya infeksi sistemik / sepsis yang mungkin
melatarbelakanginya atau muncul secara bersamaan.
3. M : Metabolik
Misalnya hiperglikemia, hipoglikemia, hipoksia, uremia, koma hepatikum
Etiologi hipoglikemia pada DM yaitu hipoglikemia pada DM stadium dini, hipoglikemia
dalm rangka pengobatan DM yang berupa penggunaan insulin, penggunaan sulfonil urea, bayi
yang lahir dari ibu pasien DM, dan penyebab lainnya adalah hipoglikemia yang tidak berkaitan
dengan DM berupa hiperinsulinisme alimenter pos gastrektomi, insulinoma, penyakit hati yang
berat, tumor ekstrapankreatik, hipopitiutarism
Gejala-gejala yang timbul akibat hipoglikemia terdiri atas 2 fase. Fase 1 yaitu gejala-
gejala yang timbul akibat aktivasi pusat autonom di hipotalamus sehingga dilepaskannya
hormon efinefrin. Gejalanya berupa palpitasi, keluar banyak keringat, tremor, ketakutan, rasa
lapar dan mual. gejala ini timbul bila kadar glukosa darah turun sampai 50% mg. Sedangkan
Fase 2 yaitu gejala-gejala yang terjadi akibat mulai terjadinya gangguan fungsi otak , karena itu
dinamakan juga gejala neurologi. Gejalanya berupa pusing, pandang kabur, ketajam mental
menurun, hilangnya keterampilan motorik halus, penurunan kesadaran, kejang-kejang dan
koma.gejala neurologi biasanya muncul jika kadar glukosa darah turun mendekati 20% mg.
Pada pasien ini menurut gejalanya telah memasuki fase 2 karena telah terjadi gangguan
neurologik berupa penurunan kesadaran, pusing, dan penurunan kadar glukosa plasma
mendekati 20 mg%.dan menurut stadiumnya pasien telah mengalami stadium gangguan otak
karena terdapat gangguan kesadaran.
Pada pasien DM yang mendapat insulin atau sulfonilurea diagnosis hipoglikemia dapat
ditegakan bila didapatkan gejala-gejala tersebut diatas. Keadaan tersebut dapat dikonfirmasikan
dengan pemeriksaan glukosa darah. Bila gejalanya meragukan sebaiknya ambil dulu darahnya
untuk pemeriksaan glukosa darah. Bila dengan pemberian suntik bolus dekstrosa pasien yang
semula tidak sadar kemudian menjadi sadar maka dapat dipastiakan koma hipogikemia.sebagai
dasar diagnosis dapat digunakan trias whipple, yaitu gejala yang konsisten dengan
hipoglikemia, kadar glukosa plasma rendah, gejala mereda setelah kadar glukosa plasma
meningkat
Prognosis dari hipoglikemia jarang hingga menyebabkan kematian. Kematian dapat
terjadi karena keterlambatan mendapatkan pengobatan, terlalu lama dalam keadaan koma
sehingga terjadi kerusakan jaringan otak.
4. E : Elektrolit
Misalnya diare dan muntah yang berlebihan. Diare akut karena infeksi dapat disertai
muntah-muntah, demam, tenesmus, hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut. Akibat
paling fatal dari diare yang berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian
akibat dehidrasi yang menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa
asidosis metabolik yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat
badan berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit
menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang
isotonik.
Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat
berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga
frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul). Gangguan
kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda
denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur. Pasien mulai
gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis. Karena kekurangan kalium pada
diare akut juga dapat timbul aritmia jantung. Penurunan tekanan darah akan menyebabkan
perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan
timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
5. N : Neoplasma
Tumor otak baik primer maupun metastasis, Muntah : gejala muntah terdapat pada 30%
kasus dan umumnya meyertai nyeri kepala. Lebih sering dijumpai pada tumor di fossa posterior,
umumnya muntah bersifat proyektil dan tak disertai dengan mual. Kejang : bangkitan kejang
dapat merupakan gejala awal dari tumor otak pada 25% kasus, dan lebih dari 35% kasus pada
stadium lanjut. Diperkirakan 2% penyebab bangkitan kejang adalah tumor otak. Bangkitan
kejang ditemui pada 70% tumor otak di korteks, 50% pasien dengan astrositoma, 40% pada
pasien meningioma, dan 25% pada glioblastoma.
Gejala Tekanan Tinggi Intrakranial (TTIK) : berupa keluhan nyeri kepala di daerah
frontal dan oksipital yang timbul pada pagi hari dan malam hari, muntah proyektil dan
penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan diketemukan papil udem.
6. I : Intoksikasi
Penurunan kesadaran disebabkan oleh gangguan pada korteks secara
menyeluruhmisalnya pada gangguan metabolik, dan dapat pula disebabkan oleh gangguan
ARAS di batangotak, terhadap formasio retikularis di thalamus, hipotalamus maupun
mesensefalon Pada penurunan kesadaran, gangguan terbagi menjadi dua, yakni gangguan
derajat(kuantitas, arousal wake f ulness) kesadaran dan gangguan isi (kualitas, awareness
alertness kesadaran). Adanya lesi yang dapat mengganggu interaksi ARAS dengan korteks
serebri, apakahlesi supratentorial, subtentorial dan metabolik akan mengakibatkan menurunnya
kesadaran.
Intoksikasi berbagai macam obat maupun bahan kimia dapat menyebabkan penurunan
kesadaran, Menentukan kelainan neurologi perlu untuk evaluasi dan manajemen penderita. Pada
penderita dengan penurunan kesadaran, dapat ditentukan apakah akibatkelainan struktur, toksik
atau metabolik. Pada koma akibat gangguan struktur mempengaruhi fungsi ARAS langsung
atau tidak langsung. ARAS merupakan kumpulanneuron polisinaptik yang terletak pada pusat
medulla, pons dan mesensefalon, sedangkan penurunan kesadaran karena kelainan metabolik
terjadi karena memengaruhi energi neuronal atau terputusnya aktivitas membran neuronal atau
multifaktor. Diagnosis banding dapat ditentukan melalui pemeriksaan pernafasan, pergerakan
spontan, evaluasisaraf kranial dan respons motorik terhadap stimuli.
7. T : Trauma
Terutama trauma kapitis : komusio, kontusio, perdarahan epidural, perdarahan subdural,
dapat pula trauma abdomen dan dada. Cedera pada dada dapat mengurangi oksigenasi dan
ventilasi walaupun terdapat airway yang paten. Dada pasien harus dalam keadaan terbuka sama
sekali untuk memastikan ada ventilasi cukup dan simetrik. Batang tenggorok (trachea) harus
diperiksa dengan melakukan rabaan untuk mengetahui adanya perbedaan dan jika terdapat
emphysema dibawah kulit. Lima kondisi yang mengancam jiwa secara sistematik harus
diidentifikasi atau ditiadakan (masing-masing akan didiskusikan secara rinci di Unit 6 -
Trauma) adalah tensi pneumothorax, pneumothorax terbuka, massive haemothorax, flail
segment dan cardiac tamponade. Tensi pneumothorax diturunkan dengan memasukkan suatu
kateter dengan ukuran 14 untuk mengetahui cairan atau obat yang dimasukkan kedalam urat
darah halus melalui jarum melalui ruang kedua yang berada diantara tulang iga pada baris mid-
clavicular dibagian yang terkena pengaruh. Jarum pengurang tekanan udara dan/atau menutupi
luka yang terhisap dapat memberi stabilisasi terhadap pasien untuk sementara waktu hingga
memungkinkan untuk melakukan intervensi yang lebih pasti. Jumlah resusitasi diperlukan untuk
suatu jumlah haemothorax yang lebih besar, tetapi kemungkinannya lebih tepat jika intervensi
bedah dilakukan lebih awal, jika hal tersebut sekunder terhadap penetrating trauma (lihat
dibawah). Jika personalia dibatasi melakukan chest tube thoracostomy dapat ditunda, tetapi jika
pemasukkan tidak menyebabkan penundaan transportasi ke perawatan yang definitif, lebih
disarankan agar hal tersebut diselesaikan sebelum metransportasi pasien.
8. E : Epilepsi
Pasca serangan Grand Mall atau pada status epileptikus dapat menyebabkan penurunan
kesadaran. ( Harsono , 1996 )

Gangguan elektrolit

Gangguan keseimbangan elektrolit merupakan suatu keadaan dimana kadar elektrolit di


dalam darah berada dalam rentang nilai yang tidak normal. Bisa melebihi nilai normal atau
dibawah nilai normal. Implikasi dari keadaan ini berpengaruh dalam hal keseimbangan cairan
dan fungsi fungsi organ tubuh lainnya. Berbagai macam hal dapat menyebabkan
ketidakseimbangan ini. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan asupan serta ekskresi
adalah penyebab utamanya. Adanya gangguan dari sistem regulasi yang berperan, juga
memberikan dampak dalam keseimbangan elektrolit.

Hiponatremia

Hiponatremia ( natrium < 135 mmol/L) disebabkan oleh keadaan-keadaan yang


menimbulkan defisit natrium primer mengakibatkan kehabisan natrium, peningkatan air tubuh
total dan kombinasi kelainan air dan natrium. Hiponatremia juga dapat di artikan keadaan yang
disebabkan oleh kelebihan asupan air dan atau ketidakmampuan ginjal mengekskresikan air,
atau karena kekurangan asupan Na (asupan tidak cukup atau kehilangan Na berlebihan).
Kehilangan natrium dari luar ginjal sering menyertai kehilangan cairan gastrointestinal
melalui kehilangan cairan nasogastrik yang tidak diganti atau gastroenteritis. Gastroenteritis
jenis ini berhubungan dengan kehilangan cairan intestinal dan kehilangan natrium bermakna,
meliputi muntah dan diare. Hiponatremia yang diakibatkan oleh kehilangan natrium yang lebih
besar daripada air akan lebih diperberat dengan masukan minuman rendah solute.

Gejala klinis :
- Disorientasi
- Penurunan kesadaran
- Irritable
- Kejang
- Letargi
- Mual
- Muntah
- Kelumpuhan
- Henti napas
Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
- Tekanan darah rendah
- Takikardia
- Capillary refill time (CRT)
- Selaput lender kering
- Turgor kulit
Pemeriksaan penunjang :
- Cek elektrolit
- Cek glukosa
- BUN / kreatinin
- Urinalisis

Hipokalsemia
Kalsium
Kalsium diperlukan untuk kontraksi otot, transmisi impuls saraf, sekresi hormone,
pembekuan darah, pembelahan sel, pergerakan sel dan penyembuhan luka. Penilaian paling baik
kadarnya dalam darah adalah dengan kadar kalsium yang terionisasi. Jika penanganan
didasarkan pada kalsium darah total, maka konsentrasi albumin harus dipertimbangkan. Pada
umumnya untuk setiap peningkatan atau penurunan 1 gr/dl, albumin serum, kalsium darah
meningkat atau menurun 0,8 mg/dl (0,2 mmol/L). Walaupun demikian, hubungan antara
kalsium darah dan albumin tidak digunakan dalam penanganan pasien yang kritis
Hipokalsemia adalah keadaan dimana kadar kalsium (Ca) total < 2,12 mmol/L ( < 8 mg/dl)
Gejala klinis :
- Hipotensi
- Bradikardi
- Aritmia
- Gagal jantung
- Kelumpuhan
- Spasme otot
- Laringospasme
- Hiperfleksia
- Kejang
- Tetani
- Parestesia
Hipokalemia

Kalium
Kalium merupakan unsur yang amat penting untuk mempertahankan membran potensial
elektrik. Perubahan pada ion ini akan berdampak terutama pada kardiovaskular,
neuromuskular dan gastrointestinal.

Hipokalemia adalah keadaan dimana kadar kalium (K) dalam darah < 3,5 mEq/L .
Penurunan konsentrasi kalium serum 1 mEq/L akibat kehilangan kalium biasanya sebanding
dengan kehilangan sekitar 10-30% kalium tubuh. Hubungan antara konsentrasi kalium
intraseluler dan ekstraseluler sangat menentukan fungsi sel. Depolarisasi membran, suatu proses
yang bertanggung jawab untuk memulai kontraksi otot memerlukan aliran cepat natrium
kedalam sel, diikuti aliran keluar kalium yang sebanding. Proses ini dibalik pada saat
repolarisasi. Pada hipokalemia rasio konsentrasi kalium intraseluler dan ekstraseluler akan
meningkat.
Hipokalemia mengakibatkan perubahan fungsional otot rangka, otot polos, dan jantung.
Manifestasi jantung hipokalemia yang paling mudah diliht adalah perubahan EKG yaitu
pemanjangan interval QT dan perataan gelombang T. gejala lainnya dari hipokalemia adalah
gejala neurologis berat, termasuk insufisiensi autonomik, yang bermanifestasi sebagai hipotensi
ortostatik, tetati dan penurunan eksitabilitas neuromuskuler. Kemudian bisa didapatkann
kelemahan dan penurunan motilitas usus
FOLLOW UP
Hasil laboratorium

Tanggal Natrium Kalsium Kalium Chloride


11-06-2014 149,8 9,24 1,69 121,6
12-06-2014 150 9,4 1,91 121
13-06-2014 154 9,80 2,95 124
14-06-2014 142,4 8,51 2,99 117,5
15-06-2014 143 7,85 3,81 116
16-06-2014 (-) (-) (-) (-)
17-06-2014 (-) (-) (-) (-)
18-06-2014 141 (-) 4,28 121

Ket : nilai normal Natrium ( 137 - 147 )


Kalsium ( 8,1 - 10,8 )
Kalium ( 3,6 - 5,4 )
Chloride ( 94 - 111 )