Anda di halaman 1dari 21

Kegiatan Sesama Pengungsi Serta

Perubahan Sosial Yang Terjadi Akibat


Erupsi Gunung Sinabung Di GBKP
Simpang VI Kabanjahe

Disusun oleh:

Supriyadi Sitepu

XII IPS 1
SMA Negeri 2 Kabanjahe
Kata pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan.Berkat limpahan karunianya kami
dapat menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia
,mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini memuat tentang Kegiatan Sesama Pengungsi Serta perubahan Sosial yang
Terjadi Akibat Erupsi Gunung Sinabung DI GBKP Simpang VI Kabanjahe yang
menjelaskan bagaimana perubahan sosial yang terjadi selama di pengungsian serta kegiatan
yang dilakukan para pengungsi di tempat pengungsian di GBKP Simpang VI Kabanjahe
Yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Makalah ini di susun oleh penulis dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri penulis maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan
terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.Oleh karena
itu,penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak
demi kesempurnaan makalah ini.
Penyelesaian makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak,sehingga pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu susi br sembiring,selaku pengungsi dari desa Gurukinayan.
2. Ibu Kristina br sembiring,selaku pengungsi dari desa Gurukinayan.
3. Yohana br sinulingga,selaku Tim relawan dari desa Lingga.
4. Para pengungsi di GBKP Simpang VI yang telah ikut berperan dalam
menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata penulis berharap Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang
lebih luas kepada kita. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Terima
kasih.

Kabanjahe, januari 2014

Penulis

i
DAFTAR ISI
Kata pengantar......................................................................................................................................i

DAFTAR ISI........................................................................................................................................ii

BAB I...................................................................................................................................................1

PENDAHULUAN...............................................................................................................................1

1.1Latar Belakang............................................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah......................................................................................................................2

1.3Tujuan Penelitian........................................................................................................................2

BAB II.................................................................................................................................................3

LANDASAN TEORI...........................................................................................................................3

2.1 Sejarah Gunung Sinabung..........................................................................................................3

2.2 Sejarah Desa Gurukinayan.........................................................................................................5

2.3. Perubahan sosial........................................................................................................................9

(2.3.1) Pengertian perubahan sosial.............................................................................................9

(2.3.2) Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan.......................................................................10

BAB III..............................................................................................................................................11

PROSES PENELITIAN.....................................................................................................................11

3.1 Lokasi Penelitian......................................................................................................................11

3.2 Waktu penelitian.......................................................................................................................11

3.3 Cara Pengambilan Data............................................................................................................11

3.4 Bentuk Penelitian.....................................................................................................................11

3.5 Teknik pengumpulan data..................................................................................................11

(3.5.1) Wawancara mendalam....................................................................................................11

(3.5.2) Observasi langsung........................................................................................................11

BAB IV..............................................................................................................................................12

HASIL PENELITIAN........................................................................................................................12

4.1 Hasil Observasi.......................................................................................................................12

4.2 Hasil Wawancara......................................................................................................................12


ii
4.3 Bukti Penelitian........................................................................................................................14

KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................................................................16

5.1 Kesimpulan..............................................................................................................................16

5.2Saran-Saran...............................................................................................................................16

Daftar Pustaka...................................................................................................................................17

iii
iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Gunung Sinabung adalah sebuah gunung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten
Karo,Sumatera Utara, Indonesia. Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak adalah dua gunung
berapi aktif di Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter. Gunung ini
menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak
tahun 1600. Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 3 derajat 10 menit LU, 98 derajat 23
menit BT. (Wikipedia B)
Berbagai aktivitas Gunung Sinabung tentu saja memberikan dampak positif maupun dampak
negatif pada penduduk sekitar tersebut. Dampak negatif ada yang secara langsung dapat
dirasakan oleh penduduk sekitar Gunung Sinabung, misalnya pada saat Gunung Sinabung
meletus mengeluarkan awan panas dan lahar yang mengalir dengan membawa panas/energi
yang cukup besar. Dampak negatif yang tidak langsung dirasakan adalah apabila terjadi
peristiwa letusan yang menyebabkan material-material vulkanik maupun radioaktivitas
dikeluarkan oleh Gunung Sinabung tersebut. Debu vulkanik atau pasir vulkanik adalah
bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi suatu letusan. Debu
maupun pasir vulkanik terdiri dari batuan berukuran besar sampai berukuran halus, yang
berukuran besar biasanya jatuh disekitar kawah sampai 5-7 km dari kawah, sedangkan yang
berukuran halus dapat jatuh pada jarak mencapai puluhan kilometer bahkan ribuan kilometer
dari kawah disebabkan oleh adanya hembusan angin. Radiokativitas mempunyai dampak
negatif pada kesehatan makhluk hidup di sekitarnya.
Gunung sinabung pertama kali erupsi Pada tanggal 3 September 2010, terjadi 2 letusan.
Letusan pertama terjadi sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua terjadi sekitar
pukul 18.00 WIB. Letusan pertama menyemburkan debu vuklkanis setinggi 3 kilometer.
Letuasn kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa hingga 25
kilometer di sekitar gunung ini.
Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali meletus. Ini merupakan letusan
terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini
terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter di
udara.
Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali, sampai 18 September 2013, telah
terjadi 4 kali letusan. Letusan pertama terjadi ada tanggal 15 September 2013 dini hari,
kemudian terjadi kembali pada sore harinya. Pada 17 September 2013, terjadi 2 letusan pada
siang dan sore hari Letusan ini melepaskan awan panas dan abu vulkanik. Tidak ada tanda-
tanda sebelumnya akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada peringatan dini
sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan Berastagi. Tidak ada korban jiwa
dilaporkan, tetapi ribuan warga pemukiman sekitar terpaksa mengungsi ke kawasan aman.
Akibat peristiwa ini, status Gunung Sinabung dinaikkan ke level 3 menjadi Siaga.
Setelah aktivitas cukup tinggi selama beberapa hari, pada tanggal 29 September 2013 status
diturunkan menjadi level 2, Waspada. Namun demikian, aktivitas tidak berhenti dan
kondisinya fluktuatif.
Memasuki bulan November, terjadi peningkatan aktivitas dengan letusan-letusan yang
semakin menguat, sehingga pada tanggal 3 November 2013 pukul 03.00 status dinaikkan
kembali menjadi Siaga, dan pada tanggal 24 November 2013 menjadi Awas. Pengungsian
penduduk di desa-desa sekitar berjarak 5 km dilakukan.

1
Letusan-letusan terjadi berkali-kali setelah itu, disertai luncuran awan panas sampai 1,5
km. Pada tanggal 20 November 2013 terjadi enam kali letusan sejak dini hari. Erupsi
(letusan) terjadi lagi empat kali pada tanggal 23 November 2013 semenjak sore, dilanjutkan
pada hari berikutnya, sebanyak lima kali. Terbentuk kolom abu setinggi 8000 m di atas
puncak gunung. Akibat rangkaian letusan ini, Kota Medan yang berjarak 80 km di sebelah
timur terkena hujan abu vulkanik. Pada tanggal 24 November 2013 pukul 10.00 status
Gunung Sinabung dinaikkan ke level tertinggi, level 4 (Awas). Penduduk dari 21 desa dan 2
dusun harus diungsikan. Status ini terus bertahan hingga memasuki tahun 2014. Guguran
lava pijar dan semburan awan panas masih terus terjadi sampai 3 Januari 2014. Mulai
tanggal 4 Januari 2014 terjadi rentetan kegempaan, letusan, dan luncuran awan panas terus-
menerus sampai hari berikutnya. Hal ini memaksa tambahan warga untuk mengungsi,
hingga melebihi 25 ribu orang.
Bencana inilah salah satu faktor penyebab perubahan sosial yang sangat besar.
Lingkungan alam sangatlah mempengaruhi sendi kehidupan suatu masyarakat sehingga bila
terjadi perubahan pada lingkungan maka dampaknya adalah terjadinya perubahan sosial
terhadap masyarakat tersebut.Kedaan masyarakat yang tadinya teratur, memiliki sistem, dan
terdapat stratifikasi di dalamnya kini sudah tidak terlihat lagi.Saat ini mungkin sangat sulit
membedakan mana penduduk kaya dan miskin, mana penduduk berkedudukan tinggi dan
rendah. Kini semuanya sama tidak ada yang lebih kaya dan tidak ada yang kedudukannya
lebih tinggi, semuanya hanya bisa hidup dengan mengandalkan bantuan dari pihak LSM
maupun pemerintah.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang masalah yang ada,yang menjadi rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah Apakah kegiatan sesama pengungsi erupsi gunung sinabung di GBKP
simpang VI kabanjahe serta perubahan social yang terjadi.

1.3Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dilakukannya penelitian ini adalah: Untuk mengetahui
bagaimana kegiatan dan perubahan social serta keadaan ekonomi yang terjadi akibat erupsi
gunung sinabung.

2
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Gunung Sinabung


Gunung Sinabung yang terletak di Tanah Karo Sumatra Utara adalah salah satu dari
30 Gunung api yang ada di atas Sesar Besar Sumetra dan adalah Gunung Api Aktif yang
terdekat dengan Gunung Super purba yaitu supervulcano TOBA.
Gunung Sinabung sebuah gunung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo,Sumatera
Utara, Indonesia. Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak adalah dua gunung berapi aktif di
Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter. Gunung ini menjadi puncak
tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600.
Koordinat puncak gunung Sinabung adalah 3 derajat 10 menit LU, 98 derajat 23 menit BT.
(Wikipedia B)
Dan kalau dilihat letaknya, Sinabung yang aktif kembali sejak 2010, yang selama 600
tahun ini tertidur pulas, posisinya lebih TEPAT diatas Sesar Besar Sumatera dari pada
mamanya sendiri yaitu Gunung Toba. Dan sesar ini adalah salah satu dari dua sesar
/patahan teraktif di dunia.
Sinabung mulai bangun setelah Gempa Bumi disertai tsunami dahsyat yang
mengguncang Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, disusul kemudian dengan gempa Nias
Maret 2005 dan Juli 2006 , diikuti Gempa Padang pada Maret 2007 yang berulang pada
September 2009 yang diikuti Gempa Nias lagi Oktober 2009.Setahun kemudian, 29
Agustus 2010 Gunung Sinabung Meletus untuk pertama kali setelah 600 tahun diam.
Patahan Besar Sumatra yang terbentang sepanjang 1700 km telah mencatatkan
sejarah yang mengguncang seluruh dunia:
Letusan Karakatau di ujung Sesar ini pada akhir Agustus 1883 telah mencatatkan
betapa hebatnya prahara yang bisa dihadirkan dari patahan ini ke seluruh dunia.
Tsunami yang ditimbulkannya sampai di Hawai, Selat Inggris dan Prancis, dan
bahkan di pantai-pantai sekitar Sumatera dan jawa ketinggian gelombang Tsunami mencapai
40 m. Bayangkan. Korban yang mencapai 36.000 jiwa. Ini jumlah orang yang tewas ditahun
1883, dimana populasi manusia belum sepadat sekarang. Jumlah korban mungkin bepuluh
kali lipat jika terjadi sekarang.
Cuaca seluruh dunia berubah, atmosfer Bumi tertutup debu, cahaya matahari redup
selama setahun, penyakit sampar meraja lela, kekurangan pangan menyertai kegagalan
pertanian akibat debu karakatau. Dan banyak lagi fenomena yang terjadi yang
mempengaruhi dunia masa itu. Dan itu semua dimulai disini, di titik hunjaman lempeng
Indo-Australia dan lempeng Eurasia, dimana Gunung Sinabung sedang bergemuruh
diatasnya hari-hari ini.
Jika Gempa yang mengakibatkan tsunami Aceh terjadi akibat aktivitas
lempeng di kedalaman 10 Km di 160 km dari pantai Barat Aceh, ternyata gempa-
gempa vulkanik dangkal sekitar kedalaman 3 Km dibawah Sinabung yang tercatat
berpuluh kali dalam sehari, disertai juga oleh beberapa Gempa Tektonik dikedalaman
10 Km. Adakah sesuatu dikedalaman itu dibawah Pulau Sumatra ?
Dan pada salah satu letusan besar belakangan ini, dikatakan oleh petugas Pos
Pemantau Sinabung akibat TIBANYA MAGMA BARU. Adakah magma lain yang sedang
dalam perjalanan dan mereka dalam jumlah lebih besar ?
Supervulcano Toba yang dikatakan masih memiliki dapur magma dibawahnya
memang sedang diam. Yang ada diatasnya adalah keindahan danau Toba. Dan kalau danau
itu adalah kaldera, maka Gunung Sinabung adalah anaknya.

3
Dan karena lubang semburan di puncak Sinabung terus bertambah banyak dan
bertambah besar (sedang terjadi), masuk akal bahwa dorongan magma akan semakin tertarik
untuk berpusat pada titik keluar ini jika memang ada Magma terjebak yang volumenya terus
bertambah dengan magma baru akibat hunjaman-hunjaman lempeng sejak 2004 lalu.
Danau Toba di Sumatera Utara diperkirakan terbentuk sekitar 74.000 tahun yang lalu
dari hasil letusan supervolcano (gunung api super). Ketika terjadi ledakan ini, sekitar
wilayah tersebut luluh lantah disapu oleh muntahan meteorit dan debu vulkaniknya yang
menyebar ke separuh belahan dunia dari China sampai ke Afrika Selatan. Kedahsyatan
letusan Gunung Toba dikabarkan menyebabkan matahari tertutup selama 6 tahun. Letusan
Gunung Toba ini bahkan hampir memusnahkan umat manusia di sekitarannya saat itu.
Berdasarkan catatan jurnal Nature Geoscience 25 Mei 2010 disebutkan bahwa
letusan Gunung Toba merupakan salah satu letusan gunung api terbesar di dunia. Danau
Toba berasal yang dari letusan Gunung Toba yang memiliki kantong magma besar sehingga
jika meletus maka kalderanya besar sekali. Gunung Toba yang berada di dasar Danau Toba
diperkirakan masih dapat meletus hingga saat ini. Gunung Toba memiliki anak gunung yaitu
Gunung Sibayak dan gunung sinabung.
Dalam sejarahnya Gunung Toba pernah meletus tiga kali yaitu pertama sekitar 800
ribu tahun lalu yang menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat
dan Porsea. Kemudian letusan kedua yang lebih kecil, terjadi 500 ribu tahun lalu dan
membentuk kaldera di utara Danau Toba yaitu di daerah antara Silalahi dengan Haranggaol.
Dari dua letusan ini, letusan ketigalah yang paling dahsyat pada 74.000 tahun yang lalu
menghasilkan kaldera besar dan menjadi Danau Toba sekarang dengan Pulau Samosir di
tengahnya.
Letusan gunung tersebut berlangsung selama satu minggu dan letusan debunya
mencapai 10 km di atas permukaan laut. Bahan-bahan vulkanik yang dimuntahkan gunung
tersebut sebanyak 2.800 km yang terdiri dari materi batuan dan abu vulkanik dan terbawa
angin ke arah barat selama dua minggu. Letusan gunung ini memakan korban sampai 60%
dari jumlah populasi manusia di bumi pada saat itu. Selain itu juga memusnahkan beberapa
spesies hewan dan mengubah pola kehidupan manusia saat itu. Bahkan letusan gunung ini
dianggap beberapa ahli memicu terjadinya zaman es dan mempengaruhi cuaca bumi.
Danau Toba adalah danau berkawah yang sangat besar, pusat pulaunya di tengah
danau tersebut sangat seluas. Dengan luas 1.145 kilometer persegi, Danau Toba sebenarnya
lebih menyerupai lautan daripada danau. Adapun keberadaan Pulau Samosir, berasal dari
hasil tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar sehingga menyebabkan munculnya
Pulau Samosir. Danau Toba adalah danau terluas di Asia Tenggara dan terdalam di dunia
sekitar 450 meter. Danau bertipe vulkanik ini merupakan danau terbesar kedua di dunia
sesudah Danau Victoria di Afrika. Saat ini letusan Gunung Toba telah menyebabkan
timbulnya Danau Toba yang memiliki pemandangan sangat indah.
Seiring penjelasan ilmiah mengenai Danau Toba, ada beberapa cerita rakyat setempat
tentang asal-usul Danau Toba. Salah satunya adalah legenda yang menyertai keberadaannya
tentang seorang pemuda miskin bernama Toba yang hidupnya bertani dan menangkap ikan.
Suatu hari ia menangkap seekor ikan mas ajaib yang dapat berbicara sebagaimana layaknya
manusia. Bingung dengan bentuknya yang tidak biasa, kemudian dia membawanya pulang
dan ternyata ikan tersebut berubah bentuk menjadi seorang gadis cantik. Ikan ini dikutuk
karena melanggar aturan yang dibuat oleh para dewa sehingga mengubahnya menjadi seekor
ikan. Si gadis yang berubah bentuk dari ikan itu meminta Toba agar tidak akan
membocorkan rahasiannya itu. Toba bersedia memegang janji menyimpan rahasia itu
asalkan si gadis mau menikah dengannya. Setelah disetujui maka Toba menikahinya dan
gadis itu diberi nama Mina. Keduanya hidup rukun bahagia meski miskin dan memiliki
seorang putra yang diberi nama Samosir.
4
Suatu hari, Toba diperintahkan ibunya mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya.
Mulanya dia menolak. Akan tetapi, karena terus dipaksa maka dengan kesal ia
mengantarkannya. Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk pauk itu dimakan Samosir
akibatnya setibanya di ladang pun terlambat. Toba marah pada anaknya tersebut dan karena
terlambat dan menerima makanan yang tinggal sedikit. Toba memukul anaknya sambil
mengatakan, Anak kurang ajar, betul-betul kau anak keturunan perempuan yang berasal
dari ikan!. Seketika itu juga sang anak sambil menangis pergi menemui ibunya dan
menanyakan apakah benar dirinya adalah anak keturunan ikan. Mendengar hal tersebut, sang
ibu pun terkejut karena suaminya telah melanggar janjinya. Mina kemudian melompat ke
dalam sungai dan berubah kembali menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai
itu pun meluapkan banjir besar dan turun hujan sangat lebat sehingga tergenanglah lembah
tempat sungai itu mengalir air, Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam.
Desa sekitarnya terendam air yang meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk
sebuah telaga dan akhirnya membentuk danau raksasa yang dikenal dengan nama Danau
Toba, sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.
Dan karena pada masa lampau pernah terjadi ledakan super dahsyat sebuah gunung
di Bumi ini, dan gunung itu adalah ibu Kandung Sinabung sendiri, maka wajarlah jika
Sinabung, khususnya nasib pengungsinya lebih diperhatikan.

2.2 Sejarah Desa Gurukinayan


Pada umumnya, menurut kebiasaan masyarakat suku Karo pada jaman dahulu kala
untuk membangun suatu desa dimulai oleh seorang/ keluarga yang tentunya mempunyai
marga/ merga merantau ke satu daerah untuk membuka hutan untuk dijadikan ladang baru.
Dalam ...setiap pembukaan ladang baru, biasanya dibangun terselbih dahulu "barung" atau
rumah darurat untuk dijadikan tempat berteduh. Pada waktu pembukaan ladang tersebut
datang seorang/ keluarga yang ber marga berbeda dari yang pertama yang ingin membantu
pembukaan ladang baru tersebut, dan selanjutnya dikuti lagi oleh seorang yang bermarga
lain, yang berarti dalam kelompok yang merintis pembukaan ladang baru tersebut telah
terdapat 3 (tiga) merga yang berbeda.
Pada waktu pembukaan perladangan tersebut telah selesai atau dalam proses
perluasan maka mereka sepakat untuk membangun desa sehingga mereka dan keluarganya
tidak perlu lagi pulang balik dari ladang baru tersebut ke desa asalnya yang dahulu kala
melewati hutan yang cukup lebat. Tentunya sebelum tercapai kesepakatan tersebut, mereka
ber-tiga berunding (runggu) untuk menentukan siapa diantara mereka (marga) yang menjadi
Kalimbubu Tua Kesain, Sukut dan Anak Beru Tua desa tersebut.
Pada umumnya, siapa yang lebih dahulu memulai / merintis untuk membuka hutan
untuk dijadikan perladangan baru maka marganya secara otomatis yang menjadi "Sukut"
atau dalam bahasa Karo disebut "merga simanteki kuta" atau marga yang membangun desa
atau juga yang punya desa. Jadi pada waktu penentuan sebagai Kalimbubu Tua dan Anak
Beru Tua belum ada hubungan darah ataupun silsilah karena ada perkawinan antar ke tiga
merga tersebut, yang hanya adalah hubungan kekerabatan pada umumnya karena didasari
senasib sepenanggungan.
Pembangunan desa baru tidak mutlak harus dilakukan oleh 3 (tiga) kelompok marga
(merga) seperti yang dimaksud dengan "rakut sitelu", tapi juga dapat dilakukan hanya
dengan 2 (dua) marga yang berbeda, dimana dengan kesepakatan yang pertama membangun
ladang baru maka marganya-lah sebagai "simanteki kuta" sedangkan yang ke dua adalah
sebagai Kalimbubu, dan setelah berkembang datang merga lain yang datang merantau ke
desa tersebut untuk bergabung dan dijadikanlah sebagai Anak Beru Tua Kesain. Agar Anak
Beru-nya tersebut loyal kepada dia dan keluarganya maka diberilah tanah garapan
5
kepadanya agar dia dan keluarganya betah tinggal di desa tersebut (lihat merga silima rakut
sitelu tutur siwaluh). Agar hubungan kekerabatan tersebut semakin kuat dan berakar, anak
beru tersebut apabila masih bunjangan atau ada anak laki-klakinya memperistri anak dari
"merga simanteki kuta" atau pemilik desa. Disebut pemilik desa karena marganya dan
kelompoknyalah yang biasanya memiliki ladang dan persawahan yang paling luas dan
berlokasi disekitar desa, kalaupun ada yang lebih jauh dari desa hal ini bisa terjadi karena
dilakukan perluasan perladangan/ persawahan di kemudian hari.
Perlu dijelaskan bahwa penyebutan Kalimbubu Tua maupun Anak Beru Tua
Kampung/ Desa pada awalnya tidak mutlak telah terjalin hubungan darah atau karena
perkawinan, tapi lebih didasarri karena kesepakatan atau penobatan antar yang membuat
kesepakatan. Sedangkan marga yang secara turun temurun atau generasi ke generasi telah
memperistri marga tertentu maka telah memenuhi syarat dijadikan sebagai Kalimbubu Tua
(yang memberi dara/ anak perempuan) maupun Anak beru Tua (yang menerima dara/ anak
perempuan), hanya penyebutan "Tua" bukan untuk kuta/ desa (kelurahan) tapi hanya untuk
Kesain (rukun warga) dan lebih terendah adalah jabu (rukun tangga). Apabila sudah
dinobatkan atau disebut "Tua" baik untuk Kalimbubu Tua maupun Anak Beru Tua, maka
penyebutan tua tersebut akan berlaku mutlak dan seterusnya dan tidak dapat lagi diganti
dengan merga lain baik oleh generasi sekarang maupun generasi-generasi berikutnya.
Penambahan Tua hanya berlaku untuk tingkat kesain (rukun waga) maupun jabu
(rukun tangga), sedangkan untuk merga yang telah merintis pembangunan desa/ kampung
tetap abadi selamanya yang disebut dengan "Kalimbubu Tua Kuta/ Desa" maupun "Anak
Beru Tua Kuta/ Desa", sebagai wujud penghormatan kepada leluhur merga yang telah
merintis dalam pembangunan desa tersebut. Walaupun demikian, terdapat banyak desa yang
ada di Taneh Karo (bukan hanya di Kabupaten Karo) pada saat ini yang tidak mutlak karena
di bangun oleh merga-merga tertentu seperti diuraikan tersebut di atas, karena banyak juga
desa/ kampung yang tidak diketahui dengan pasti merga apa yang pertama yang telah
merintis dan membangun desa tersebut.
Adapun contoh desa yang tidak jelas merga yang merintisnya adalah desa "Payung"
Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, dimana pada waktu itu desa ini belum berkembang
seperti sekarang. Karena pada waktu itu lokasinya di jalan raya yang menghubungan
Kabanjahe (ibu kota Kabupaten Karo) dengan desa Kuta Buluh yang tidak jauh dari
perbatasan dengan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, maka banyak berdiri kedai kopi
dilokasi tersebut, Karena mobilitas penduduk semakin tinggi akhirnya lokasi tersebut lebih
banyak berdiri kedai kopi dan juga pembangunan rumah untuk keluarganya dan seterusnya
berkembang menjadi desa walaupun tidak diketahui dengan jelas marga mana yang
merintisnya menjadi desa, karena didesa tersebut banyak dihuni oleh merga Bangun dan
Sembiring Pandia. Kejadian yang terbaru adalah desa "Sebintun" yang lokasinya sebagai
pintu masuk ke desa Berastepu, Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo yang tahun
1960 hanya tempat persinggahan atau tempat permberhentian untuk menunggu bus ke arah
Kabanjahe maupun Kuta Buluh. Karena bus yang berangkat dari Berastepu ke Kabanjahe
atau daerah lainnya terbatas yang hanya dilayani oleh bus PO. Sinabung Jaya 2 kali sehari
itupun pada hari pekan/ pasar di Tiga Nderket (hari Kamis), Berastagi (hari Rabu dan Sabtu)
dan Kabanjahe (hari Senin dan Kamis) , banyak penduduk desa Berastepu, Gamber dan
Kuta Tengah yang harus berjalan kaki ke jalan raya tersebut yang kesiangan untuk
menunggu bus ke arah Kutabuluh maupun Kabanjahe. Akhirnya lokasi yang dulunya hanya
tempat pemberhentian bus dengan faslitas kedai kopi yang dibangun masyarakat setempat,
pada saat ini telah berkembang seperti awal berdirinya desa Payung dan sekarang telah
mengarah sebagai salah satu desa baru, dimana desa tersebut tidak jelas siapa sebagai
kalimbubu Tua Kuta, Sukut maupun Anak Beru Tua, karena penduduknya tidak hanya
bermarga Sembiring Meliala maupun Sitepu yang merupakan merga yang merintis
6
pembangunan desa Berastepu, tapi juga telah berbaur dengan merga maupun sub merga
lainnya yang ada di masyarakat suku Karo.
Menurut sejarah, kampung/ desa Gurukinayan pertama sekali dibangun oleh seorang
dukun (guru mbelin) bernama Guru Nayan yang berasal dari desa/ kampung Kubucolia.
Beliau sering meninggalkan kampung Kubucolia menyelusuri kaki gunung Sinabung untuk
melakukan pengobatan ke berbagai tempat mengingat dia mempunyai ilmu atau kemampuan
untuk mengobati (sebagai guru mbelin).
Orang tua dari Guru Nayan bernama Colia, dan di masyarakat keturunannya
mengikuti garis keturunan ayah maka semua diberi marga Sembiring Colia kemudian Bapak
Colia mempunyai 3 orang anak yang semua laki-laki dan dikenal dengan "nini sitelu (3)"
atau tiga kakek leluhur yaitu bernama :
1. Guru Nayan Sembiring Colia (akhirnya mendirikan kampung Gurukinayan).
2. Guru Nebek Sembiring Colia (meninggalkan Kubucolia menuju kampung Seberaya).
3. Guru Pagar Batak Sembiring Colia (tetap tinggal di Kubucolia).
Guru Nayan Sembiring Colia yang mendirikan desa Gurukinayan bersama marga
Sitepu dan Ginting, keturunannya tetap memakai marga Sembiring Colia sebagai
penghormatan dan agar generasinya akan tetap mengingat dan mengenang bahwa mereka
berasal dari desa Kubucolia, sehingga sampai dengan tahu 1960 semua merga Sembiring di
desa Gurukinayan tetap memakai merga Sembiring Colia.
Salah satu contoh adalah Alm. Kueteh Sembiring ( Pa Bas Ukurta) yang tamatan
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada Tahun 1960 dalam Ijazahnya namanya
tercantum "Kueteh Sembiring Colia". Walupun jarak desa antara desa Kubu Colia dengan
desa Gurukinayan cukup jauh untuk ukuran genersi perintis tersebut karena sarana hubungan
antar desa tersebut dahulu kala hanya dengan berjalan kaki dan melewati hutan lebat,
hubungan kekerabatan tersebut sampai saat ini tetap terjaga dan berjalan dengan baik, dalam
arti apabila ada hajatan di desa Kubu Colia mereka masih tetap mengundang saudaranya dari
desa Gurukinayan dan demikian juga sebaliknya.
Akan tetapi semenjak tahun 1970, karena pertambahan penduduk desa Gurukinayan
semakin besar dengan tingkat kelahiran yang cukup tinggi dimana antara lain setiap keluarga
memiliki anak paling tidak 5 (lima) anak maka semua penduduknya yang tadinya memakai
marga Sembiring Colia berubah menjadi Sembiring Gurukinayan yang berarti menunjukkan
bahwa mereka memang berasal dari desa Gurukinayan.
Dalam adat istiadat masyarakat suku Karo, hal tersebut sah-sah saja dan merupakan
hal yang biasa dilakukan untuk lebih menunjukkan identitas diri atau kelompok desanya
yang juga merupakan kebanggaan tersendiri bagi desanya, walaupun demikian dalam acara
adat istiadat mereka tetap bersatu dan bersama dalam satu kelompok dengan sub merga asal
(leluhur) marganya. Hal ini dapat di lihat dengan marga Surbakti yang merupakan bagian
dari marga Karo-karo, karena telah membentuk / membangun desa Surbakti dan
berkembang membuat mereka membentuk submarga sendiri berdasarkan asal desanya
menjadi marga Surbakti, yang walaupun demikian tetap merupakan bagian dari kelompok
besar merga Karo-karo.
Demikian juga selanjutnya, marga Surbakti yang merantau dan membangun desa
Torong di Kecamatan Simpang Empat kabupaten Karo, yang tidak terlalu jauh dari desa
Surbakti, pada beberapa puluh tahun belakangan ini telah menunjukkan identitas jati dirinya
menjadi marga "Torong" yang berasal dari desa Torong, yang juga tetap merupakan bagian
dari sub merga Surbakti dan marga Karo-karo. Dalam kehidupan sehari-hari baik dalam
pelaksanaan adat istiadat khususnya di Taneh Karo dan sekitarnya penyebutan Sembiring
Colia tetap digabung dengan Sembiring Gurukinayan dengan sebutan Sembiring Colia
Gurukinayan baik dalam acara pesta perkawinan maupun prosesi adat kematian dan lain

7
sebagainya, yang semua ini menunjukkan bahwa marga Sembiring Colia dengan Sembiring
Gurukinayan adalah saudara kandung.
Hal ini dapat dilihat dalam tingkat kedudukan adat antara Sembiring Colia dan
Sembiring Gurukinayan, dimana karena leluhurnya (kakeknya) bernama Colia Sembiring
yang memiliki tiga anak, dimana anak sulungnya merantau ke gunung Sinabung bernama
Guru Nayan Sembiring Colia yang mempunyai keahlian untuk mengobati orang yang sakit
(guru mbelin/ dukun besar) dan membangun desa Gurukinayan, maka semua keturunannya
akhir dalam tingkat adat masyarakat suku Karo menjadi rendah, sedangkan keturunan dari
saudaranya Guru Nebek Sembiring Colia (yang mendirikan/ membangun desa Seberaya)
dan saudara bungsunya bernama Guru Pagar Batak Sembiring Colia yang tetap tinggal di
Kubucolia, maka tingkat kedudukannya dalam adat bila dibandingkan khusus dengan
saudaranya yang tinggal di desa Gurukinayan semakin tinggi. Hal ini dapat dibuktikan yaitu
anak yang seumur antara Sembiring Colia (anak bungsu) dan Gurukinayan (anak sulung)
dalam tingkat adat, marga Sembiring Gurukinayan harus memanggil bapak/ kakek kepada
saudaranya yang bermarga Sembiring Colia, padahal mereka masih sebaya atau kadang kala
yang bermarga Gurukinayan jauh lebih tua tapi sudah harus memanggil bapak/ kakek
kepada yang jauh lebih muda, itulah adat masyarakat suku Karo.
Guru Nayan Sembiring Colia mempunyai anak laki-laki bernama Pa Kilap
Sembiring Colia, dan selanjutnya Pa Kilap memiliki 2 (dua) anak laki-laki, yang anak tertua
akhirnya tinggal di desa Jandimeriah, sedangkan anak bungsunya tetap tinggal di desa
Gurukinayan. Anak tertuanya (sulung) yang tinggal di desa Jandimeriah memiliki 3 (tiga)
orang anak yaitu :
1. Ninggep Sembiring Colia.
2. Taneh Sembiring Colia.
3. Kelang Sembiring Colia.
Sedangkan anak bungsunya (muda) yang tetap tinggal di desa Gurukinayan memiliki
3 (tiga) oang anak yaitu :
1. Pa Lantak Sembiring Colia.
2. Pa pangguhen Sembiring Colia.
3. Pa Makul Sembiring Colia.
Keenam cucu dari Guru Nayan Sembiring Colia tersebut sering disebut "nini si
enem" atau "kakek yang enam".
Desa Gurukinayan merupakan gabungan dari 3 (tiga) desa kecil yaitu desa :
1. Kutambaru, Terletak di Jumalepar, mulai dari sebintun sampai perbatasan Payung,
dimana setelah desa Gurukinayan terbentuk, penduduk dari desa Kutambaru ini menjadi
"Kesain Rumah Julu" yang berlokasi mulai dari los/jambur/ gedung pertemuan desa sampai
kearah Timur (kenjulu), yang disebut dengan "silima (5) indung" (lima kakek leluhur).
2. Kuta Suah. Terletak di sebelah Selatan kampung Gurukinayan sekarang ini,
dengan pemandian Lau Melas dihuni marga Karo-karo Sitepu yg semula berasal dari
Sigarang-garang. Setelah kampung Gurukinayan terbentuk maka penduduk kampung
Kutasuah ini mendiami "Kesain Ulunjandi" yang juga terdiri dari "silima (5) indung" (lima
kakek leluhur).
3.Kuta Jahe dan Kembilik Terletak di sebelah Barat kampung Gurukinayan sekarang
ini dengan permandian Lau Perka-perka (Lau Pirik). Kampung ini dihuni oleh Sembiring
Pelawi dan keturunan Guru Nayan yang kawin dengan beru Bangun dari Batukarang.
Setelah kampung Gurukinayan didirikan penduduk Kutajahe dan Kembilik ini menempati
"Kesain Rumah Tengah" yang berlokasi mulai dari los/jambur/ gedung pertemuan desa
sampai kearah Utara dan Barat, yang disebut dengan "sipitu (7) indung" (tujuh kakek
leluhur).

8
Kesain adalah bagian dari desa / atau kelurahan di pulau Jawa pada umumnya
setingkat Rukun Warga, dimana pada umumnya desa yang terdapat di Taneh Karo (bukan
hanya Kabupaten Karo) di provinsi Sumatera Utara terdapat beberapa "kesain/ rukun warga"
yang di bagi dapat berdasarkan merga maupun sub merga atau kelompok merga yang
membentuk koloni sendiri dalam desa, dimana hal ini dimungkinkan pada waktu pertama
kali desa di bangun/ dibentuk "leluhurnya/ merganya" merupakan salah satu perintis
pembangunan desa tersebut.
Sedangkan Jabu/ rumah, adalah bagian dari Kesain yang di desa/ kelurahan di pulau
Jawa pada umumnya setingkat dengan Rukun Tangga, dimana pada umumnya kelompok
yang sudah memiliki hubungan darah yang karena pertambahan anggota keluarga meningkat
dengan signifikan maka mereka membentuk sub.koloni dalam koloni yang ada di desa
tersebut, misalnya Kesain Rumah Pudung (rukun tangga) adalah bagian dari kesain Rumah
Tengah (rukun warga) di desa Gurukinayan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat "Terombo /
Silsilah Kesain Rumah Pudung Sembiring Gurukinayan, Rumah Tengah di Desa
Gurukinayan" DISINI" Adapun Kesain yang terdapat di desa Gurukinayan, Kecamatan
Payung, Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara adalah sebanyak 3 (tiga) kelompok besar
yaitu sebagai berikut :
A. KESAIN RUMAH JULU
B. KESAIN RUMAH TENGAH
C. KESAIN ULUJANDI
Di desa Gurukinayan juga terdapat Kesain di luar marga Sembiring Gurukinayan
yang dihuni oleh marga Sitepu yang berasal dari desa Sigarang-garang yang berlokasi
disebelah selatan desa Gurukinayan atau Kuta Suah yang disebut dengan Kesain Ulunjandi.
Karena pertambahan marga Sitepu cukup signifikan maka marga ini membentuk 5
kelompok keluarga atau disebut dengan si 5 (lima) indung atau kakek yaitu sebagai berikut :
1. Rumah Sendi : Salah satu keturunannya adalah Pa Medang Sitepu.
2. Rumah Balai : Salah satu keturunannya adalah Pa Diken Sitepu.
3. Rumah Pa Bena : Salah satu keturunannya adalah Pa Bena Sitepu.
4 .Rumah Pa Gitar : Salah satu keturunannya adalah Pa Gitar Sitepu.
5. Rumah Pa Darma : Salah satu keturunannya adalah Pa Darma Sitepu.

2.3. Perubahan sosial

(2.3.1) Pengertian perubahan sosial


Perubahan sosial adalah perubahan- perubahan yang terjadi pada masyarakat yang
mencakup aspek- aspek struktur dari suatu masyarakat karena terjadinya perubahan dari
faktor lingkungan, karena berubahnya komposisi penduduk, keadaan geografis ,serta
berubahnya keadaan sistem hubungan sosial, maupun perubahan pada lembaga
kemasyarakatannya.
Gillin dan gillin menyatakan bahwa perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-
cara hidup yang telah diterima, yang disebabkan karena perubahan-perubahan kondisi
geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi
ataupun penemuan- penemuan baru dalam masyarakat tersebut.
Wiliam F. Ogburn berusaha memberikan sesuatu pengertian bahwa ruang lingkup
perubahan sosial meliputi unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial,
dimana yang ditekankan adalah pengaruh besar unsur-unsur kebudayaan material terhadap
immaterial.

9
(2.3.2) Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan
Bentuk perubahan sosial dan kebudayaan diantaranya adalah perubahan perubahan
sosial yang tidak dikehendaki. Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak
direncanakan merupakan perubahan yang terjadi di luar jangkauan pengawasan masyarakat
dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat socialyang tidak diharapkan oleh
masyarakat.
(2.3.3) Kejutan kebudayaan atau cultural shock
Culture Shock adalah perubahan nilai budaya seiring dengan perkembangan jaman
dan wawasan yang makin berkembang ini biasanya terjadi pada orang-orang yang secara
tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke lingkungan yang baru

BAB III

PROSES PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan cara langsung terjun ke lokasi pengambilan data yaitu
didesa GBKP Simpang VI kabanjahe ,agar dapat melihat langsung hal-hal yang akan diteliti.
10
3.2 Waktu penelitian
Waktu penelitian dilakukan pada hari jumat,17 Januari 2014

3.3 Cara Pengambilan Data


Pengambilan data dilakukan dengan beberapa cara yaitu wawancara,observasi,dan
pengambilan foto.

3.4 Bentuk Penelitian


Bentuk penelitian ini kualitatif untuk mengetahui kondisi di pengungsian di GBKP
Simpang VI Kabanjahe ,khususnya mengenai perubahan social dan budaya yang terjadi.

3.5 Teknik pengumpulan data

(3.5.1) Wawancara mendalam


Wawancara mendalam dilakukan dengan mengajukan pertanyaan mendalam
mengenai hal yang berhubungan dengan perubahan sosial budaya kepada penduduk yang
berada di tempat pengungsian GBKP Simpang VI.

(3.5.2) Observasi langsung


Observasi langsung dilakukan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dengan
mendatangi langsung tempat yang menjadi kajian observasi lapangan yaitu tempat
pengungsian GBKP simpang VI kabanjahe.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Hasil Observasi


Desa Lingga merupakan wilayah bekas Kerajaan Lingga Tanah Karo, yang berada di
Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Meski hanya sebuah kampung kecil yang berada tak jauh
dari kaki Gunung Sinabung, salah satu puncak tertinggi di Sumatera Utara, ternyata desa ini
cukup terkenal dengan objek wisata sejarah yaitu rumah adat dan kesenian karo lainnya..
Hal yang membuat desa ini terkenal, karena masih terdapat sejumlah bangunan

11
tradisional adat Batak Karo yang sudah berusia ratusan tahun. Bangunan utamanya adalah
rumah adat Batak Karo Siwaluh Jabu yang berusia sekitar 250 tahun. Selain itu, sejumlah

4.2 Hasil Wawancara


Berdasarkan hasil wawancara kami dengan pengungsi dari desa gurukinayan,yang
merupakan desa yang masuk zona merah artinya daerah rawan,bahwa diperoleh informasi
mengenai kegiatan yang dilakukan pengungsi di tempat pengungsian.
Ibu susi br sembiring milala ,pengungsi dari desa gurukinayan ,yang hanya memakai
jaket ungu yang memudar warnanya,yang sudah hampir 2 bulan jaket penghalau dingin itu
tidak dilepasnya dia juga mengatakan bahwa dia juga sudah mulai stress sebab sudah lama
tinggal di tempat pengungsian, ditambah lagi dengan keadaan ekonomi yang
memburuk,sebab lahan kebun sayur seluas 600 meter 2 milik ibu susi rusak akibat tertutup
abu vulkanik.Pada masa awal mengungsi ,dia masih bisa menjadi buruh tani (aron) dengan
penghasilan sekitar Rp.50.000 per hari di lahan-lahan tersisa yang terhindar dari hujan
abu.Namun sebulan terakhir pemilik lahan itupun ikut mengungsi.
Ibu ini juga menambahkan,bahwa sekarang kegiatannya bersama warga desa
gurukinayan di tempat pengungsian ini ialah menganyam(mbayu) yang bahan dasarnya
langsung diberikan oleh pihak GBKP simpang VI dan hasilnya akan kami serahkan kepada
klasis GBKP untuk dijual,Ujar ibu susi 1 anak ini.
Ibu Kristina br sembiring yang berasal dari desa gurukinayan juga menambahkan
bahwa saat ini pengungsi yang berada di GBKP simpang VI sudah mulai terserang
penyakit. Penyakit yang lebih dominan dialami pengungsi seperti tensi tinggi,sesak dan flu.
Selain itu juga ibu Kristina juga mengatakan bahwa biasanya tahun baru dia
menyisihkan uang Rp.2000.000,00 untuk membeli baju dan sepatu anak-anaknya,juga
menyiapkan kue kering dan makanan untuk tahun baru.Tapi sekarang uang untuk bayar
toilet saja tidak ada lagi.ujar ibu tiga anak ini.
Ibu ini juga menambahkan bahwa rasa kekerabatan mereka sesama pengungsi di GBKP
simpang VI ini baik-baik saja, sebab mereka meyakini bahwa Tuhan akan memberi
anugerah lewat sejumlah ujian yang saat ini mereka hadapi. Mereka yakin bahwa dibalik ini
semua pasti akan ada hikmatnya.Kami hanya dapat pasrah karena kami tidak dapat berbuat
apa-apa kami hanya dapat berserah kepada tuhan dan berharap agar erupsi gunung sinabung
tidak terjadi lagi,agar kami dapat pulang kerumah,dan memulai dari nol lagi ,sebab rumah
kamipun saat ini sudah rusak dan lahan pertanian kami pun ikut rusak akibat abu vulkanik
ujar ibu Kristina.
Dan kamipun mewawancarai seorang relawa dari desa lingga yang kebetulan juga
alumni dari SMA Negeri 2 Kabanjahe yaitu Yohana br sinulingga,dia menjelaskan kepada
kami bahwa jumlah pengungsi di GBKP simpang VI saat ini berjumlah 168 KK (513 jiwa)
dari 3 desa yaitu kuta rayat,kuta tengah,dan gurukinayan.Pengungsi di GBKP simpang VI
kebnyakan beragama Kristen (mayoritas Kristen) adapun pengungsi yang beragama Islam
berjumlah 74 orang.
Yohana juga menjelaskan kepada kami bahwa kegiatan sehari-hari yang dilakukan
pengungsi saat ini ialah: Laki-laki bekerja di ladang jemaat GBKP (ngemo),Ibu-ibu bekerja
membersihkan rumah jemaat GBKP ,dan bagi yang sudah lansia,pihak GBKP memberikan
kegiatan menganyam dan hasilnya akan diserahkan ke moderamen,dan pihak moderamen
12
menjual hasil dari anyaman tersebut.Dia juga menambahkan ,sekarang ini pihak GBKP
mengusulkan kepada pemerintah untuk membuat kegiatan menyulam.
Yohana juga mengatakan kepada kami bahwa jam makan pengungsi dipercepat sebab
anak pengungsi yang masih bersekolah harus juga tetap sekolah agar tidak ketinggalan
pelajaran meskipun situasi belajar mereka saat ini berbeda dengan situasi belajar mereka
sebelum mengungsi.Adapun jadwal jam makan pengunsi saat ini ialah:
Pagi-pagi 07.00 wib
Siang 11.30 wib Yohana juga memberikan data kepada kami
Malam 07.00 wib tempat anak pengungsi bersekolah saat ini adalah:

SD SDN 3
berada

Desa gurukinayan:
SMP/SMA GBKP

SMP Kuta
Terbagi atas 2 lokasi sekolah tengah : SMP Simpang
empat

Simpang empat
SMA berada

Keterangan :
Siswa/I pengungsi tingkat SD sekolah di SDN 3
Siswa/I pengungsi tingkat SMP dari desa gurukinayan sekolah di SMP/SMA GBKP
& dari desa kuta tengah sekolah di SMP simpang empat
Siswa/I pengungsi tingkat SMA sekolah di simpang empat
Yohana juga menambahkan bahwa biaya sekolah mereka semua di geratiskan oleh
pemerintah ,dan diantar jemput oleh pemerintah daerah dan klasis GBKP.Dan juga yohana
menambahkan bahwa pemerintah sudah memberikan bantuan sebesar Rp.1.000.000,00
setiap kepala keluarga(KK),dan juga baru-baru ini pengungsi di GBKP simpang VI kembali
mendapatkan bantuan sebesar Rp.50.000,00 setiap kepala keluarga(KK).

4.3 Bukti Penelitian

13
Gambar 1. Foto bersama di depan kantor Relawan GBKP simpang VI Kabanjahe

Gambar 2.Foto dengan ibu susi br sembiring bersama


pengungsi dari desa gurukinayan Gambar 3. Supriyadi sitepu,Ilham Chandra sembiring, Aga
& Yoko syahputra berfoto bersama pengungsi yang
sedang menganyam

Gambar 5.Pengungsi yang sudah mulai stres


akibat beban pikiran
Gambar 4.Ibu susi br sembiring sedang menganyam
(mbayu)

Gambar 6.Keadaan pengungsi di tempat pengungsian Gambar 7.Tempat penampungan pengungsi Warga
yang sudah mulai stress akibat erupsi gunung desa gurukinayan,kuta tengah,& kuta rayat
sinabung

14
Gambar 8.Erupsi gunung sinabung Gambar 9.Kondisi gunung sinabung dari desa perteguhen

Gambar 16.Warga beserta tim tv one berada di desa perteguhen melihat erupsi gunung sinabung

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1) Akibat dari erupsi gunung sinabung ,daerah di sekitar gunung sinabung harus
mengungsi dan lahan pertanian milik masyarakat mengalami kerusakan Luas lahan
pertanian yang mengalami kerusakan tersebut diperkirakan mencapai puluhan ribu
hektar.sebab pada umumnya Mayoritas penduduk di daerah ini berprofesi sebagai
petani. Saat ini, masyarakat sudah resah akibat erupsi gunung sinabung tersebut.
2) Bencana alam akan datang secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan kita. Maka dari itu
dalam kondisi apapun kita harus tetap waspada terhadap lingkungan sekitar kita. Dari
bencana alam yang sudah terjadi pasti melahirkan dampak dan akibat bagi
masyarakat yang berkelanjutan pada hubungan social masyarakat. Jadi dimana pun
kita berada pasti tidak jauh dari interaksi sosial.

15
5.2Saran-Saran
Kita sebaiknya membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana karena
sesama manusia harus saling tolong menolong tanpa membeda-bedakan, karena
manusia itu semua sama. Dan kita juga harus lebih taat beribadah pada sang Maha
Kuasa karena hidup ini diatur oleh-Nya.

Daftar Pustaka

Sembiring, Samsul. 2007. Bahasa Daerah Karo.Medan:Yrama Widya.


Sitepu, Bujur. 1993 .Tanah Karo Simalem.Medan:Nusa Indah.

Sumber Internet
www.Budaya Karo.com
www.Desa lingga.com

16