Anda di halaman 1dari 11

RESPONSI

PITIRIASIS VERSICOLOR

Oleh :

Salsha Amalia

G99142022

Pembimbing :

Dr. Triasari Oktavriana, MSc., SpKK.

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI

SURAKARTA

2017
STATUS RESPONSI

ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN

Pembimbing : Dr. Triasari Oktavriana, MSc., SpKK.


Nama Mahasiswa : Salsha Amalia
NIM : G99161090

PITIRIASIS VERSICOLOR
1. DEFINISI
Pitiriasis versikolor adalah infeksi jamur superfisial oleh jamur
Malassezia spp, mikroflora pada kulit yang biasa ada pada manusia dan
hewan berdarah panas (Romano et al., 2013). Pitiriasis versikolor juga
disebut tinea versikolor, kromofitosis, dermatomikosis furfuracia, liver
spots, tinea flava (Banerjee, 2016).
Diagnosis ditegakkan berdasarkan penampilan klinis lesi (makula
bersisik hipopigmentasi atau hiperpigmentasi) dan pemeriksaan
mikroskopis langsung pada sisik, menunjukkan gambaran Spora bulat dan
hifa melengkung pendek (spaghetti dan meatball appearance) (Romano et
al., 2013)
2. EPIDEMIOLOGI
Pitiriasis versikolor memiliki distribusi di seluruh dunia, namun
penyakit ini lebih umum di daerah tropis karena suhu hangat dan
kelembaban yang lebih tinggi (Habib, 2014)
Predileksi untuk tinea versicolor untuk tipe kulit yang lebih gelap
di tenggara London; sebanyak 48% pada orang kulit hitam dan 35% pada
orang kulit putih. Ada bukti yang menunjukkan prevalensi tinea versicolor
lebih tinggi pada pria, terlepas dari etnisitas, karena adanya peningkatan
aktivitas sebaceous (Kallini et al., 2014).
Pitiriasis versicolor mengenai terutama remaja dan dewasa muda
berusia 10 sampai 30 tahun. Di iklim tropis, PV lebih sering terjadi pada
semua kelompok usia, namun kebanyakan kasus terjadi pada individu
berusia 10-19 tahun (Rasi et al., 2009). Predileksi yang lebih tinggi untuk
remaja, menunjukkan adanya kemungkinan hubungan dengan hormon dan

2
androgen (Kallini et al., 2014). Prevalensi keseluruhan 30-40% atau lebih
mungkin terjadi di daerah tropis (Krisanty et al., 2009).

3. ETIOLOGI
Genus Malassezia saat ini termasuk sembilan spesies lipofilik
jamur basidiomiseta: M. furfur, M. globosa, , M. sympodialis, , M.
restricta, M. sloofflae, M. obtusa, menyebabkan penyakit pada manusia.
M. pachydermatis biasanya pada hewan, M. dermatis, jarang ditemukan
dari lesi pada manusia (Romano et al., 2013).
Beberapa studi telah menunjukkan M. globosa, M. Sympodialis dan
M. furfur sebagai tiga spesies dominan Malassezia yang diisolasi dari lesi
PV. Sebuah studi di Indonesia adalah yang pertama yang melaporkan
isolasi dan identifikasi Malassezia spp. dari PV di negara tropis. Isolat
yang ditemukan adalah Malassezia furfur (42,9%), M. sympodialis
(27,5%), M. globosa (13,3%), M. slooffiae (7,7%), M. obtusa (7,7%) dan
M. restricta (2,2%) , dan 7,14% spesimen tidak teridentifikasi (Krisanty et
al., 2009)

4. PATOGENESIS
Malassezia furfur dapat dikultur dari kulit yang terinfeksi pitiriasis
versikolor maupun kulit sehat dan merupakan flora normal yang umum
berada pada kulit yang kaya akan sebum. Pada kulit terdapat flora normal
yang berhubungan dengan timbulnya pitiriasis versikolor ialah
Pityrosporum orbiculare yang berbentuk bulat atau Pityrosporum
ovaleyang berbentuk oval. Malassezia furfur merupakan organisme
dismorfik dan lipofilik yang tumbuh in vitro hanya dengan penambahan
asam lemak C12 sampai C14 seperti minyak zaitun dan lanolin (Janik,
2008). Malassezia furfur merupakan fase spora dan miselium. Malassezia
berubah dari bentuk blastospora menjadi bentuk miselial dibawah
pengaruh faktor predisposisi. Faktor yang memengaruhi perubahan
tersebut meliputi lingkungan hangat, lembab, kontrasepsi oral, herediter,
penggunaan kortikosteroid sistemik, penyakit Cushings, imunosupresan,
hiperhidrosis, dan malnutrisi. Patogenesis dari makula hipopigmentasi oleh

3
adanya toksin yang langsung menghambat pembentukan melanin dan
adanya asam dekarbosilat yang dihasilkan oleh Pityrosporum yang
merupakan inhibitor kompetitif dari tirosinase. Tirosinase adalah enzim
yang berperan dalam pembentukan melanin (Kallini et al., 2013)

5. GAMBARAN KLINIS
Temuan khas adalah makula, berbatas tegas bulat atau oval, ukuran
bervariasi, bersisik hiperpigmentasi (PV nigra) atau hipopigmentasi (PV
alba), biasanya pada trunkus, lengan atas, leher, perut, aksila, lipat paha,
paha, alat kelamin. Bila lesi dikerok dengan scalpel, bercak putih akan
terlepas dan tampak terlihat seperti debu atau bulu halus Ada sedikit gatal
tapi hampir tidak ada gejala subjektif (Morishita, 2006). Individu dengan
PV biasanya berobat karena kekhawatiran kosmetik tentang pigmentasi.
Pada kulit tidak coklat, lesi coklat muda. Pada kulit kecokelatan, putih.
Dalam berkulit gelap individu, makula coklat gelap. Seiring waktu, lesi
individu dapat membesar, konfluen, membentuk wilayah geografis yang
luas (Kallini et al., 2014).

6. DIAGNOSIS
PV didiagnosis dengan penampilan klinis dan pengamatan banyak
sel ragi dan hifa (disebut spaghetti and meatball) dalam skuama diwarnai
dengan metilen biru atau Parker KOH dalam pemeriksaan mikroskopis.
Skuama diperoleh dengan dua slide objek, menggunakan salah satu
untuk meningkatkan skuama dan memindahkannya ke yang lain. Skuama
dipindahkan ke tengah slide dan ditutup dengan kaca penutup setelah
ditambahkan tetesan KOH (15 sampai 20%). Hifa berserabut dan bentuk
ragi bulat disebut spaghetti and meatball.
Kisaran perubahan patologis diamati oleh fluoresensi dalam lampu
pemeriksaan Wood. Pemeriksaan lampu Wood menunjukkan fluoresensi
kekuningan dari skuama. (Habib, 2014).

7. DIAGNOSIS BANDING
1. Vitiligo
2. Hipopigmentasi Post Inflamasi
3. Pitiriasis Alba
4. Tinea Korporis

4
8. TERAPI

Berbagai macam obat topikal dapat digunakan dalam mengobati


tinea versikolor. Obat yang paling sering digunakan adalah sampo
selenium sulfid 2,5%, dan sampo ketokonazol 2% dioleskan pada area
yang terinfeksi dan didiamkan 5-10 menit kemudian dibilas. Pengobatan
ini dilakukan setiap hari selama 1 4 minggu. Seluruh obat antifungi
golongan azol topikal efektif dalam terapi tinea versikolor.
Walaupun terapi topikal ideal untuk lesi lokal, terapi sistemik
mungkin dibutuhkan untuk pasien dengan lesi luas atau kekambuhan, atau
untuk lesi yang tidak membaik dengan obat topikal. Ketokonazol oral (200
400 mg sehari selama 7 10 hari), itrakonazol oral (200mg sehari
selama 5-7 hari) atau flukonazol juga efektif dan dapat diberikan dengan
dosis 300 mg per minggu selama 2 4 minggu (Habib, 2014; Gupta,
2015).

9. PROGNOSIS
Prognosis dari penyakit ini adalah baik jika dilakukan pengobatan
tekun. Pengobatan ini harus diteruskan selama 2 minggu hingga
fluoresensi negatif dengan pemeriksaan lampu Wood dan tidak ditemukan
hifa pada pemeriksaan sediaan langsung kerokan kulit. Infeksi berlangsung
menahun jika faktor predisposisi tidak dihindari. Bila tidak diberi
pengobatan, infeksi mungkin bisa terasa berkurang pada cuaca dingin
namun akan kambuh lagi pada cuaca panas (Habib, 2014).

5
DAFTAR PUSTAKA

Banerjee, S. (2016). Clinical profile of pityriasis versicolor in a referral hospital of


West Bengal. Journal of Pakistan Association of Dermatology, 21(4), 248-
252.

Gupta, A. K., & Lyons D. C. A. (2014). Pityriasis versicolor: an update on


pharmacological treatment options. Mediprobe Research,15(12), 1707-
1713.

Habib, N., & Bigby, M. (2014). Pityriasis Versicolor. Evidence-Based


Dermatology, 3, 345-348.

Janik, M. P., & Heffernan, M. P. (2008). Yeast infections: candidiasis and tinea
(pityriasis) versicolor. Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA,
Paller AS, Leffell DJ. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 7th
Edition. New York: Mc Graw Hill, 189, 1828-1830.

Kallini, J. R., Riaz, F., & Khachemoune, A. (2014). Tinea versicolor in dark
skinned individuals. International journal of dermatology, 53(2), 137-141.

Krisanty, R. I. A., Bramono, K., & Made Wisnu, I. (2009). Identification of


Malassezia species from pityriasis versicolor in Indonesia and its
relationship with clinical characteristics. Mycoses, 52(3), 257-262.

Morishita, N., & Sei, Y. (2006). Microreview of Pityriasis versicolor and


Malassezia species. Mycopathologia, 162(6), 373-376.

Romano, C., Mancianti, F., Nardoni, S., Ariti, G., Caposciutti, P., & Fimiani, M.
(2013). Identification of Malassezia species isolated from patients with
extensive forms of pityriasis versicolor in Siena, Italy. Revista
Iberoamericana de Micologa, 30(4), 231-234.

6
STATUS PENDERITA

I. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. S
Umur : 65 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Gawangan, Colomadu
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status : Menikah
Tanggal Periksa : 16 Mei 2017
No. RM : 01109xxx
II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Gatal di kedua lengan.

B. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien merupakan konsulan dari TS Interna dengan diagnosa
hipertensi grade II terkontrol. Pasien dikonsulkan karena keluhan gatal
pada kedua lengannya. Gatal pada lengan dirasakan pertama kali 1
bulan yang lalu. Rasa gatal biasanya muncul dan dirasakan oleh pasien
terutama saat panas dan pasien berkeringat. Awalnya gatal dirasakan di
lengan kanan atas, lama kelamaan pasien juga merasa gatal di lengan
kiri. Pada kedua lengan pasien juga muncul bercak-bercak putih. Bila
terasa gatal, pasien sering menggaruk lengannya namun tidak sampai
lecet. Pasien pernah periksa ke puskesmas dan mendapat obat oles yang
digunakan setiap habis mandi, setelah dipakai beberapa kali pasien
merasa tidak ada perubahan sehingga tidak digunakan lagi.

C. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat sakit serupa sebelumnya : (-)
Riwayat alergi obat/makanan : (-)
Riwayat atopi : (-)
Riwayat DM : (-)
D. Riwayat Penyakit Keluarga dan lingkungan
Riwayat sakit serupa pada anggota keluarga : (-)

7
Riwayat alergi obat / makanan : (-)
Riwayat urtikaria : (-)
Riwayat atopi : (-)
Riwayat DM : (-)

E. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien saat ini tinggal bersama anaknya di dalam satu kompleks RT.
Pasien berobat dengan menggunakan BPJS.

F. Riwayat Gizi dan Kebiasaan


Pasien makan 3 kali sehari, dengan nasi, lauk-pauk, serta sayur.
Lauk pauk berupa tahu, tempe, daging ayam dan terkadang ikan dan
daging sapi. Nafsu makan pasien baik. Pasien memiliki kebiasaan mandi
air hangat saat pagi dan air dingin pada sore hari dengan sabun batangan
dari warung. Pasien biasa bertukar baju dengan saudara-saudara yang
kebeteulan tinggal di satu kawasan yang sama.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalis
Keadaan umum : tampak sehat, compos mentis GCS E4V5M6, gizi
kesan cukup

Vital Sign : TD : 130/80 mmhg


Frekuensi nadi : 84x/menit
Frekuensi napas : 18 x / menit
Suhu : 36,6oC
Antropometri : Berat badan : 58 kg
Tinggi badan : 150 cm
Kepala : normocephal
Wajah : dalam batas normal
Leher : dalam batas normal
Mata : dalam batas normal
Telinga : dalam batas normal
Thorax : dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal

8
Ekstremitas Atas : lihat status dermatologis
Ekstremitas Bawah : dalam batas normal

B. Status Dermatologis
Regio ekstremitas superior dekstra et sinistra
Tampak makula dan patch hipopigmentasi, berbatas tegas, multipel
disertai dengan skuama tipis di atasnya.
Pemeriksaan finger nail test : (+)

Gambar 1. Status dermatologis regio ekstremitas superior dekstra et


sinistra

IV. DIAGNOSIS BANDING


1.Pitiriasis versicolor
2.Vitiligo
3.Tinea corporis

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Lampu wood : Berwarna kuning keemasan

9
Gambar 2.Kuning keemasan pada lampu Wood

Pemeriksaan KOH parker : Gambaran spaghetti and meatball (+)

Gambar 3.Spaghetti and meatball

VI. DIAGNOSIS
Pitiriasis versicolor

VII. TERAPI
1. Non Medikamentosa
Edukasi pasien:
- Menghindari gosokan dan garukan pada lesi
- Menjaga kebersihan dan kelembaban pada lesi dan bagian kulit
lain

10
- Lebih sering untuk mengganti handuk dan diusahakan handuk
sering dijemur agar kering.
- Menggunakan pakaian yang berbahan menyerap keringat dan
tidak ketat/menempel kulit
- Melakukan terapi yang diberikan dengan rutin, teratur dan
sesuai dosis
2. Medikamentosa
- Ketomed shampoo, dioles 1 kali sehari selama 15 menit sebelum
mandi, lalu dibilas mandi seperti biasa, setiap hari selama 1 minggu.
Pada minggu kedua dan seterusnya digunakan 3x seminggu.

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad sanam : bonam
Ad fungsionam : bonam
Ad kosmetikum : bonam

11