Anda di halaman 1dari 59

Perdarahan dan demam setelah melahirkan

Step 1

Lokhea purulenta
Cairan secret yang keluar dari cavum uteri pada masa nifas (berupa nanah)
Nifas
Suatu masa pulih kembali setelah masa persalinan, organ reproduksi kembali normal . sampai 8
minggu, jika lebih berarti patologis

Step 2

1. Kenapa ditemukan pendarahan semakin memberat disertai demam?


2. Jelaskan macam-macam kelainan masa nifas
3. Tindakan awal apa yang dilakukan dokter untuk menghentikan perdarahan?
4. Bagaimana penurunan tinggi fundus uteri setelah persalinan?
5. Apa saja perubahan fisiologis dan anatomi yang terjadi pada fase nifas? Bedanya multipara dan
nulipara
6. Bagaimana interpretasi dari PF yang didapat?
7. Jelaskan macam-macam lokhea
8. Bagaimana penatalaksanaan dari scenario setelah mengatasi perdarahan
9. Mengapa dokter memberikan paracetamol dan meminta pasien banyak minum?
10. Pemeriksaan penunjang dari scenario
11. DD

Step 3

1. Apa saja perubahan fisiologis dan anatomi yang terjadi pada fase nifas? Bedanya multipara dan
nulipara
Perubahan fisiologi masa nifas
1) Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil dengan berat 60 gram.Tabel 2.1 Perubahan uterus masa
nifas
Involusi uteri Tinggi
fundus uteri
Berat
uterus
Diameter
uterus
Palpasi servik
Plasenta lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm Lembut/lunak
7 hari
(1 minggu)
Pertengahan pusat
simfisis
500 gram 7,5 cm 2 cm
14 hari
(2 Minggu)
Tidak teraba 350 gram 5 cm 1 cm
6 Minggu Normal 60 gram 2,5 cm Menyempit
Sumber : Ambarwati dan Wulandari, 2010, p.76.
2) Bekas luka implantasi plasenta dengan cepat mengecil, pada minggu ke
2 sebesar 6-8 cm dan pada akhir masa nifas sebesar 2 cm (Anggraeni,
2010, p.36).
3) Luka-luka pada jalan lahir, seperti bekas episiotomi yang telah dijahit,
luka pada vagina dan serviks umumnya bila tidak disertai infeksi akan
sembuh per primam (Prawirohardjo, 2005, p.239).
4) Rasa sakit
Yang disebut after pain (meriang dan mules-mules) disebabkan
kontraksi rahim, biasanya berlangsung 3-4 hari pasca persalinan
(Anggraeni, 2010, p.35).
5) Lochea
Menurut Waryana (2010, p.60), lochea dibagi menjadi :
a) Lochea rubra
Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua,
vornik kaseosa, lanugo dan meconium, selama 2 hari pasca
persalinan.b) Lochea sanguilenta
Berwarna merah kuning berisi darah dan lendir hari 3-7 hari
persalinan.
c) Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi, pada hari ke 7-14 hari
pasca persalinan.
d) Lochea alba
Cairan putih setelah 2 minggu.
e) Lochea purulenta
Terjadi infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
f) Locheastasis
Lochea yang tidak lancar keluarnya.
6) Serviks
Setelah persalinan, bentuk serviks agak menganga seperti corong,
berwarna merah kehitaman, konsistennya lunak. Setelah bayi lahir
tangan masih bisa masuk rongga rahim, setelah 2 jam dapat dilalui oleh
2-3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari (Prawirohardjo,
2005, p.238).
7) Ligamen-ligamen
Ligamen, vasia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu
kehamilan dan persalinan, setelah bayi lahir secara berangsur-angsur
menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tidak jarang uterus jatuh
kebelakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum
menjadi kendur (Prawirohardjo, 2005, p.239).
d. Adaptasi psikologi masa nifas
1) Fase Taking in (1-2 hari post partum)
Wanita menjadi pasif dan sangat tergantung serta berfokus pada diri
dan tubuhnya sendiri. Mengulang-ulang, menceritakan pengalaman
proses bersalin yang dialami.
Wanita yang baru melahirkan ini perlu istirahat atau tidur untuk
mencegah gejala kurang tidur dengan gejala lelah, cepat tersinggung,
campur baur dengan proses pemulihan (Anggraeni, 2010, p.80).
2) Fase hold period (3-4 hari post partum)
Ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuan menerima tanggung jawab
sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi
sangat sensitif sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan
perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu (Waryana, 2010,
p.65).
3) Fase Letting go
Pada fase ini pada umumnya ibu sudah pulang dari RS. Ibu
mengambil tanggung jawab untuk merawat bayinya, dia harus
menyesuaikan diri dengan ketergantungan bayi, begitu juga adanya
grefing karena dirasakan dapat mengurangi interaksi sosial tertentu.
Depresi post partum sering terjadi pada masa ini (Anggraeni, 2010,
p.81).e. Perawatan pasca persalinan
1) Kebersihan diri menurut Abdul bari (2002, pp.N24-N25), yaitu :
a) Anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
b) Mengajarkan ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin
dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ibu mengerti untuk
membersihkan daerah di sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan
ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus.
Nasihatkan kepada ibu untuk membersihkan vulva setiap kali
selesai buang air kecil atau besar.
c) Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah
dicuci dengan baik dan dikeringkan dibawah matahari atau
diseterika.
d) Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum
dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya.
e) Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan
kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka.
2) Istirahat menurut Abdul bari (2002, p.N25), yaitu :
a) Anjurkan ibu agar istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan.
b) Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan rumah tangga secara
perlahan-lahan, serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi
tidur.c) Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal :
(1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi.
(2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan.
(3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat
bayi dan dirinya sendiri.
3) Latihan menurut Abdul bari (2002, p.N25), yaitu :
a) Diskusikan pentingnya otot-otot perut dan panggul kembali
normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan otot
perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada
punggung.
b) Jelaskan bahwa latihan tertentu beberapa menit setiap hari sangat
membantu, seperti :
(1) Dengan tidur terlentang dengan lengan disamping, menarik
otot perut selagi menarik nafas, tahan nafas ke dalam dan
angkat dagu ke dada, tahan satu hitungan sampai 5. Rileks dan
ulangi sebanyak 10 kali.
(2) Untuk memperkuat tonus otot jalan lahir dan dasar panggul
(latihan kegel).
c) Berdiri dengan tungkai dirapatkan. Kencangkan otot-otot pantat
dan pinggul dan tahan sampai 5 hitungan. Kendurkan dan ulangi
latihan sebanyak 5 kali.Mulai dengan mengerjakan 5 kali latihan untuk setiap gerakan.
Setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak. Pada minggu
ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap gerakan sebanyak
30 kali.
volume normal masing-masing lokhea
Cara mengukur volumenya

Beberapa jam setelah placenta keluar: HPL dalam serum tidak terdeteksi, HCG tidak terdeteksi
juga pada hari ke 10), estrogen kembali normal sebelum hari ke 7 masa nifas, prolaktin
meningkat, oksitosin meningkat (kontraksi uterus, ejeksi ASI)

Siklus oksitosin-prolaktin: 3hari pertama post partum

2. Bagaimana penurunan tinggi fundus uteri setelah persalinan?


Perubahan Fisiologis Masa Nifas
Perubahan sistem reproduksi
1) Involusi Uterus
Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke
kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera setelah
plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus (Ambarwati, 2010).
Perubahan-perubahan normal pada uterus selama postpartum dapat dilihat di
bawah ini:
Perubahan Uterus Masa Nifas

Berat Diameter
Involusi Uteri TFU Palpasi cervix
Uterus Uterus
Lembut/
Placenta lahir Setinggi pusat 1000 gr 12,5 cm
lunak
Pertengahan antara
7 hari 500 gr 7,5 cm 2 cm
simpisis dan pusat
14 hari Tidak teraba 350 gr 5 cm 1 cm
6 minggu Normal 60 gr 2,5 cm Menyempit
(Ambarwati, 2010)

Involusi uteri dari luar dapat diamati yaitu dengan memeriksa fundus uteri dengan cara:

a) Segera setelah persalinan, tinggi fundus uteri 2 cm di bawah pusat, 12 jam kemudian kembali 1
cm di atas pusat dan menurun kira-kira 1 cm setiap hari.

b) Pada hari kedua setelah persalinan tinggi fundus uteri 1 cm di bawah pusat. Pada hari ke 3-4
tinggi fundus uteri 2 cm di bawah pusat. Pada hari ke 5-7 tinggi fundus uteri setengah pusat
simpisis. Pada hari ke 10 tinggi fundus uteri tidak teraba.

Bila uterus tidak mengalami atau terjadi kegagalan dalam proses involusi disebut dengan
subinvolusi. Subinvolusi dapat disebabkan oleh infeksi dan tertinggalnya sisa
plasenta/perdarahan lanjut (postpartum haemorrhage).

SUBINVOLUSI :
Proses kembalinya ukuran uterus ke normal. Sesudah persalinan berat uterus 1000
gr akan mengecil sampai 40-60 gr dalam 6 minggu. Didahului oleh kontraksi uterus
yang kuat, yang menyebabkan berkurangnya peredaran darah dalam uterus.
Kontraksi ini dalam masa nifas berlangsung terus walaupun tidak sekuat
permulaan. Hal tersebut serta hilangnya pengaruh estrogen dan progesteron
menyebabkan autolisis dengan akibat sel sel otot pada dinding uterus menjadi
lebih kecil dan lebih pendek.
Pada subinvolusi, proses mengecilnya uterus terganggu, dapat disebabkan
berbagai faktor : tertinggalnya sisa plasenta dalam uterus, endometritis, mioma
uteri.
ILMU KEBIDANAN SARWONO P.

3. Jelaskan macam-macam kelainan masa nifas


1.Demam pasca persalinan
- Definisi :demam pasca persalinan atau demam nifas atau morbiditas peuerperalis
meliputi demam yang timbul pada masa nifas, demam > 38 selama 2 hari pada 10 hari pertama
pasca persalinan
2. Kelainan payudara saat nifas
-bendungan air susu
-mastitis
-galaktokel
-kelainanputing payudara
-kelainan keluarnya air susu
-penghentian laktasi
3. Kelainan pada uterus
-subinovolusi
sesudah persalinan uterus yang beratnya 1000 gram akan mengecil samape 40-60 gram
dalam 6 minggu involusi uterus.
beberapa faktor yang menyebabkan subinvolusi adalah tertinggalnya placenta,mioma
uteri.
4. Perdarahan nifas sekunder
bila terjadi 24 jam atau lebih sesudah persalinan. Perdarahan bsa timbul pada minggu
ke2 masa nifas. Sebabnya bisa subinvolusi uteri, inversi uteri,kelainan kongenital uterus
5.Kelainan-kelainan lain pada masa nifas
-trombosis dan emboli
trombosis dapat terjadi saat kehamilan, tetapi lebih sering terjadi pada saat masa nifas.
Penyebab trombosis ada 3 hal pokok
1.perubahan susunan darah
2.perubahan laju permukaan darah
3.perlukaan lapisan intima pembuluh darah
Ilmu kebidanan,Sarwono Prawirohardjo hal 643-656

4. Jelaskan macam-macam lokhea

Lochea

Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea mengandung darah dan sisa
jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Lochea mempunyai reaksi basa/alkalis yang
dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada
vagina normal. Lochea mempunyai bau amis/anyir seperti darah menstruasi, meskipun tidak
terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lochea yang berbau tidak
sedap menandakan adanya infeksi. Lochea mempunyai perubahan karena proses involusi.

Proses keluarnya darah nifas atau lochea terdiri atas 4 tahapan, yaitu:
a) Lochea Rubra/Merah (Kruenta)

Lochea ini muncul pada hari ke 1 sampai hari ke 4 masa postpartum. Cairan yang keluar
berwarna merah karena berisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak
bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium.

b) Lochea Sanguinolenta

Cairan yang keluar berwarna merah kecoklatan dan berlendir. Berlangsung dari hari ke 4
sampai hari ke 7 postpartum.

c) Lochea Serosa

Lochea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit dan
robekan/laserasi plasenta. Muncul pada hari ke 7 sampai hari ke 14 postpartum.

d) Lochea Alba/Putih

Mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang
mati. Lochea alba bisa berlangsung selama 2-6 minggu postpartum.

(Ambarwati, 2010).

Tanda dan gejala sepsis puerpuralis./ infeksi nifas


a. Demam.
b. Nyeri pelviks.
c. Nyeri tekan di uterus.
d. Lokia berbau menyengat.
e. Terjadi keterlambatan dalam penurunan uterus.
f. Pada laserasi terasa nyeri., bengkak dan mengeluarkan darah.

Sumber : Ambarwati, Eny Retna. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Jogjakarta: Nuha
Medika
5. Kenapa ditemukan pendarahan semakin memberat disertai demam?

Ada 4 masalah yang mungkin timbul pada masa nifas

a. Perdarahan post partum


- Yaitu perdarahan per vaginam > 500ml yang terjadi dalam 24 jam pertama setelah
melahirkan post partum primer
- Atau pada masa nias setelah 24 jam disebut perdarahan post partum sekunder
- Etiologi
Normalnya stlh melahirkan bayi. Tjd kehilangan darah sebanyak 200-400ml sebelum
retraksi miometrium dan dilengkapi uterus yang kuat menyebabkan pemendekan
dan penyempitan pembuluh darah uterus dan retraksi jaringan plasenta
perubahan ini mencegah perdarahan lebih lanjut
Jika uterus tdk berkontraksi secara efekti ( atonia uteri) / jika sisa plasenta
mencegah retraksi tempat plasenta secara baik , perdarahan dpt terjadi 2
penyebab ini menjadi dan bertanggung jawab atas 80% kasus PPP
20% kasus karena laserasi traktus genitalis, biasanya vagina / serviks, tapi jarnag
jugta karena rupture uterus
Perdarahan kala 3 ( plasenta masih di dalam uterus )
Perdarahn postpartum sejati ( placenta sudah keluar )
Perdarahan post partum sekundr mencakup semua kejadian PPH yang terjadi
antara 24 jam setelah kelahiran bayi dan 6 minggu masa post partum. (
penyebabnya adalah epitelisasi yang buruk pada t4 plasenta sekitar 80%, fragmen
plasenta dan / bekuan darah yang tertahan dalam uterus
b. Infeksi masa nifas
Infeksi nifas adalah infeksi luka pada jalan lahir setelah melahirkan, yang kadang kala
meluas, menyebabkan flebitis atau peritonitis (Reeder, 2011).

Kenaikan suhu tubuh sampai 38 derajat / lebih yang berlangsung selama 24 jam atau
kambuh kembali sejak akhir hari 1 akhir hari 10setelah melahirkan atau setelah
abortus

Macam2 jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan

- Eksogen (kuman datang dari luar)


- Autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh)
- Endogen (dari jalan lahir sendiri)
- Paling banyak kasus ineksi berasal dari infeksi ascenderens
ETIOLOGI :

Yang paling terbanyak dan lebih dari 50% : streptococcus anaerob yang sebenarnya
tidak pathogen sebagai penghuni normal jalan lahir
Kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain :
1. Streptococcus haemoliticus aerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari penderita lain,
alat2 yang tidak suci hama, tangan penolong, dan sebagainya.
2. Staphylococcus aureus
Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di
rumah sakit.
3. Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rectum, menyebabkan infeksi terbatas.
4. Clostridium welchii
Kuman anaerobic yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus kriminalis dan
partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit.

c. Tromboemboli
Trombosis pada sebuah vena yg dpt terjadi saat kehamilan/ lebih sering terjadi pada
masa nifas antara hari 5 dan 15
Terjadi pada wanita gemuk, usia > 35 tahun, dan punya riwayan seksio sesaria
sebelumnya
Biasanya dimulai dari vena profunda tungkai bawah
Diagnosis Trombosis vena profunda pireksi derajat rendah , denyut nasi meningkat
dan gelisah
d. Masalah psikatri post partum
Murung 3 hari 50-70% ibu mengalami emosi labil, mudah tersinggung, dimulai hari
ketiga dan kelima setelah kelahiran bayi emosi labil biasanya kurang dari 1 minggu
Depresi postnatal 8-12% wanita mengalami depresi klinis pada 3 bulan pertama stlah
melahirkan . Terjadi karena mempunyai masalh social dengasn peristiw akehidupan
penuh dengan stres

Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis
Obstetri : Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC , Derek Llewellyn-
Jones, Obstetri dan Ginekologi Ed.6 ,
DIAGNOSIS
GEJALA & TANDA TANDA & GEJALA LAIN
KERJA
Uterus tidak berkontraksi Syok
dan lembek Bekukan darah pada
Perdarahan segera sete- serviks / posisi terlen- Atonia uteri
lah anak lahir tang akan menghambat
aliran darah keluar
Darah segar yang meng- Pucat
alir segera setelah bayi Lemah
lahir Menggigil Robekan
Uterus kontraksi dan jalan lahir
keras
Plasenta lengkap
Plasenta belum lahir Tali pusat putus akibat
setelah 30 menit traksi berlebihan
Retensio
Perdarahan segera (P3) Inversio uteri akibat
Uterus berkontraksi dan tarikan plasenta
keras Perdarahan lanjutan

TANDA & GEJALA


GEJALA & TANDA DIAGNOSIS KERJA
LAIN
Plasenta / sebagian Uterus berkontraksi
selaput (mengan- tetapi tinggi fundus Tertinggalnya
dung pembuluh da- tidak berkurang
rah) tidak lengkap
sebagian plasenta
Perdarahan segera atau ketuban
(P3)
Uterus tidak teraba Neurogenik syok
Lumen vagina terisi Pucat dan limbung
masa
Tampak tali pusat
Inversio uteri
(bila plasenta belum
lahir)
Sub-involusi uterus Anemia Endometritis atau sisa
Nyeri tekan perut Demam fragmen plasenta
bawah dan uterus Late postpartum
Perdarahan hemorrhage
Lokhia mukopurulen Perdarahan
dan berbau postpartum sekunder

Demam :
Infeksi oleh mikroorganisme

Menghasilkan pyrogen (eksogen pyrogen)

Hypothalamic endothelium

PGE 2

Cyclic AMP

Increased thermoreguatory set point

FEVER

Terjadinya demam atau panas tinggi dan cairan berwarna kuning keruh dan berbau
disebabkan oleh karena infeksi. Infeksi terbanyak disebabkan oleh bakteri yang aslinya
memang ada di jalan lahir. Bila dilakukan isolasi bakteri penyebab infeksi nifas biasanya
akan terisolasi berbagai spesies bakteri. Meskipun bakteri tersebut sebenarnya mempunyai
virulensi rendah, bila terdapat pada hematom atau jaringan yang rusak akan menjadi
patogen.

Aerob Anaerob Lain-lain


Streptokokus Peptokokus sp Mikoplasma sp
group A,B,D
Enterokokus Peptostreptokokus Klamidia
sp trakomatis
Bakteri gram Bakterioidis fargilis Neisseria
negatif grup gonnorrea
Ekserisia
Koli, Klebsiella Prevotella sp
dan Proteus sp
Stafilokokus Klostridium sp
aureus
Stafilokokus Fusobakterium sp
epidermidis
Gardnerella Mobilunkus sp
vaginalis

Jika mikroba yang masuk ke dalam tubuh lebih banyak dari jumlah yang dapat ditangani
makrofag, maka akan disekresikan suatu zat khusus pirogen endogen sebagai tanda
bahaya.

Pirogen endogen di otak, akan merangsang pusat peningkatan panas pada otak. Yang
menyebabkan tubuh mengalami demam tinggi. Pasien yang menderita demam tinggi
biasanya merasa perlu beristirahat. Dengan demikian energi yang dibutuhkan untuk
sistem imunitas tidak dikeluarkan untuk hal lain.

Ilmu Kebidanan, prof. Dr. Sarwono

Badan panas tinggi


Pasien badan panas tinggi setelah melahirkan dan perdarah post partum karena
infeksi bakteri

Mekanisme Kerja Pirogen Dalam menyebabkan demam peranan interleukin 1


Terjadinya demam disebabkan oleh pelepasan zat pirogen dari dalam lekosit
yang sebelumnya telah terangsang baik oleh zat pirogen eksogen yang dapat berasal
dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak
berdasarkan suatu infeksi (Benneth, et al, 1996; Gelfand, et al, 1998). Dan dapat
bekerja secara langsung pada hipotalamus dan meningkatkan set point

Pirogen berfungsi secara tidak langsung dan mungkin membutuhkan periode laten
selama beberapa jam sebelum sebelum menimbulkan efek ini. Hal ini dapat terjadi pada
sebagian besar bakteri pirogen terutama endotoksisn dari bakteri gram negative
Bakteri atau pemecahan hasil bakteri masuk dalam jaringan / dlm darah difagositosis
makrofag jaringan dlm limfosit pembunuh bergranula besar dan mengeluarkan IL-1 (
pirogen endogen ) kedalam cairan tubuh merangsang hipotalamus Di dalam
hipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam arakhidonat mengakibatkan
peningkatan sintesis PGE-2 yang langsung dapat menyebabkan suatu pireksia/
demam

Sumber : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran , Ed. 11.EGC dan Dr. Suryo Wibowo, MKK,
SpOG
Pada kasus post SC (perdarahan dan TFU) bedanya sama pervaginam
Perawatan masa nifas (post natal care)
6. Tindakan awal apa yang dilakukan dokter untuk menghentikan perdarahan?
3 Tahap penghentian perdarahan kala IV (post partum ):
1. Pemberian uterotonika (pada akhir kala II)mengurut uterus dimassage agar uterus
terstimulasi untuk kontraksi (kala III)
Jika belum berhenti perdarahannyadiinfus darah
2. Diberi injeksi ergotamin
3. Jika belum berhentimenghilangkan sumber darahligasi a. hypogastrica

Penyebab PPP, bagaimana penatalaksanaannya


Pada skenario bagaimana penataalaksanaannya? karena sudah tidak dalam masa
pengawasan (dirumah)

7. Bagaimana interpretasi dari PF yang didapat?


Suhu:
Sesudah partus, suhu tubuh wanita dapat naik 0,50C dari keadaan normal, tapi tidak
melebihi 380C. sesudah 12 jam pertama post partum, umumnya suhu kembali normal.
Bila suhu > 380C, maka mungkin ada infeksi.

Nadi:

- Nadi umumnya 60-80 denyut per menit.


- Segera setelah partus dapat terjadi takiikardi.
- Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan
atau ada penyakit jantung.
- Pada masa nifas, umumnya senyut nadi lebbih labil dibanding suhu badan.

KU: somnolen dan tampak lemah


Perdarahan hebat menyebabkan penurunan volume sirkulasi sehingga terjadi respons
simpatis. Terjadi takikardia, kontraktilitas otot jantung meningkat dan vasokonstriksi
perifer. Sementara volume darah beredar menurun, kemampuan sel darah merah untuk
mengangkut oksigen juga menurun sedang kenaikkan kontratilitas otot jantung
membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak. Keadaan ini cepat memacu terjadinya
kegagalan miokardium. Vasokonstriksi perifer ditambah dengan menurunnya
kemampuan darah membawa oksigen menyebabkan terjadinya hipoperfusi dan
hipoksia jaringan. Hipoksia jaringan memacu metabolisme anaerob dan terjadilah
asidosis. Asidosis inilah yang memacu terlepasnya berbagai mediator kimiawi dan
memacu respons inflamasi sistemik. Keadaan ini menyebabkan terlepasnya radikal
oksigen yang berakibat kematian sel. Kematian sel menyebabkan lemahnya sistem
barier mukosa sehingga mikroorganisme dan endotoksin mudah tersebar ke seluruh
jaringan dan organ. Keadaan inilah yang mengakibatkan terjadinya systemic
inflammatory response syndrome (SIRS) dan kegagalan multiorgan yang berakhir
dengan kematian

(Wiknjosastro, Hanifa, 2002)

8. DD
PERDARAHAN POST PARTUM
Definisi

Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan atau hilangnya darah 500 cc atau lebih yang
terjadi setelah anak lahir. Perdarahan dapat terjadi sebelum, selama, atau sesudah lahirnya
plasenta.

Definisi lain menyebutkan Perdarahan Pasca Persalinan adalah perdarahan 500 cc atau lebih
yang terjadi setelah plasenta lahir

Etiologi

Banyak faktor potensial yang dapat menyebabkan hemorrhage

postpartum, faktor-faktor yang menyebabkan hemorrhage postpartum adalah

atonia uteri, perlukaan jalan lahir, retensio plasenta, sisa plasenta, kelainan

pembekuan darah.(4,5,7)

1. Tone Dimished : Atonia uteri


Atonia uteri adalah suatu keadaan dimana uterus gagal untuk berkontraksi

dan mengecil sesudah janin keluar dari rahim.

Perdarahan postpartum secara fisiologis di control oleh kontraksi serat-serat myometrium


terutama yang berada disekitar pembuluh darah yang mensuplai darah pada tempat
perlengketan plasenta. Atonia uteri terjadi ketika myometrium tidak dapat berkontraksi. Pada
perdarahan karena atonia uteri, uterus membesar dan lembek pada palpusi. Atonia uteri juga
dapat timbul karena salah penanganan kala III persalinan, dengan memijat uterus dan
mendorongnya kebawah dalam usaha melahirkan plasenta, sedang sebenarnya bukan terlepas
dari uterus. Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum.

Disamping menyebabkan kematian, perdarahan postpartum memperbesar kemungkinan


infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang. Perdarahan yang banyak bisa
menyebabkan Sindroma Sheehan sebagai akibat nekrosis pada hipofisis pars anterior
sehingga terjadi insufiensi bagian tersebut dengan gejala : astenia, hipotensi, dengan anemia,
turunnya berat badan sampai menimbulkan kakeksia, penurunan fungsi seksual dengan atrofi
alat-alat genital, kehilangan rambut pubis dan ketiak, penurunan metabolisme dengan
hipotensi, amenorea dan kehilangan fungsi laktasi.

Beberapa hal yang dapat mencetuskan terjadinya atonia meliputi :

Manipulasi uterus yang berlebihan,

General anestesi (pada persalinan dengan operasi ),

Uterus yang teregang berlebihan :

o Kehamilan kembar

o Fetal macrosomia ( berat janin antara 4500 5000 gram )

o polyhydramnion

Kehamilan lewat waktu,

Portus lama

Grande multipara ( fibrosis otot-otot uterus ),


Anestesi yang dalam

Infeksi uterus ( chorioamnionitis, endomyometritis, septicemia ),

Plasenta previa,

Solutio plasenta,

2. Tissue

a. Retensio plasenta

b. Sisa plasenta

c. Plasenta acreta dan variasinya.

Apabila plasenta belum lahir setengah jam setelah janin lahir, hal itu dinamakan retensio
plasenta. Hal ini bisa disebabkan karena : plasenta belum lepas dari dinding uterus atau
plasenta sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan.

Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena :

- kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta ( plasenta adhesiva )

- Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vilis komalis

menembus desidva sampai miometrium sampai dibawah peritoneum ( plasenta akreta


perkreta )

Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar disebabkan oleh tidak
adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III. Sehingga terjadi
lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarnya plasenta (
inkarserasio plasenta ).

3. Trauma

Sekitar 20% kasus hemorraghe postpartum disebabkan oleh trauma jalan

lahir
a. Ruptur uterus

b. Inversi uterus

c. Perlukaan jalan lahir

d. Vaginal hematom

Ruptur spontan uterus jarang terjadi, faktor resiko yang bisa menyebabkan antara lain grande
multipara, malpresentasi, riwayat operasi uterus sebelumnya, dan persalinan dengan induksi
oxytosin. Repture uterus sering terjadi akibat jaringan parut section secarea sebelumnya.

Laserasi dapat mengenai uterus, cervix, vagina, atau vulva, dan biasanya terjadi karena
persalinan secara operasi ataupun persalinan pervaginam dengan bayi besar, terminasi
kehamilan dengan vacuum atau forcep, walau begitu laserasi bisa terjadi pada sembarang
persalinan. Laserasi pembuluh darah dibawah mukosa vagina dan vulva akan menyebabkan
hematom, perdarahan akan tersamarkan dan dapat menjadi berbahaya karena tidak akan
terdeteksi selama beberapa jam dan bisa menyebabkan terjadinya syok.

Episiotomi dapat menyebabkan perdarahan yang berlebihan jika mengenai artery atau vena
yang besar, jika episitomi luas, jika ada penundaan antara episitomi dan persalinan, atau jika
ada penundaan antara persalinan dan perbaikan episitomi.

Inversio uteri dapat dibagi :

- Fundus uteri menonjol kedalam kavum uteri tetapi belum keluar dari

ruang tersebut.

- Korpus uteri yang terbalik sudah masuk kedalam vagina.

- Uterus dengan vagina semuanya terbalik, untuk sebagian besar terletak

diluar vagina.

4. Thrombin : Kelainan pembekuan darah

Gejala-gejala kelainan pembekuan darah bisa berupa penyakit keturunan

ataupun didapat, kelainan pembekuan darah bisa berupa :

Hipofibrinogenemia,
Trombocitopeni,

Idiopathic thrombocytopenic purpura,

HELLP syndrome ( hemolysis, elevated liver enzymes, and low

platelet count ),

Disseminated Intravaskuler Coagulation,

Dilutional coagulopathy bisa terjadi pada transfusi darah lebih dari 8

unit karena darah donor biasanya tidak fresh sehingga komponen

fibrin dan trombosit sudah rusak.

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22337/.../Chapter%20II.pdf

Klasifikasi

Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian:

a. Perdarahan postpartum primer (early postpartum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam
setelah anak lahir.

b. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang terjadi antara 24 jam
dan 6 minggu setelah anak lahir.

repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22337/.../Chapter%20II.pdf

Manifestasi klinis
a. Atonia Uteri:
Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan
perdarahan segera setelah anak lahir (perarahan postpartum primer)
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut
nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)
b. Robekan jalan lahir
Gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar mengalir segera
setelah bayi lahir, kontraksi uteru baik, plasenta baik.
Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah, menggigil.
c. Retensio plasenta
Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan
segera, kontraksi uterus baik
Gejala yang kadang-kadang timbul: tali pusat putus akibat traksi
berlebihan, inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan
d. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)
Gejala yang selalu ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung
pembuluh darah ) tidak lengkap dan perdarahan segera
Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi
fundus tidak berkurang.

Gejala dan tanda yang Gejala dan tanda yang Diagnosis kemungkinan
selalu ada kadang-kadang ada
Uterus tidak Syok Atonia uteri
berkontraksi dan
lembek
Perdarahan segera
setelah anak lahir
(Perdarahan
Pascapersalinan
Primer (P3))
Perdarahan segera Pucat Robekan jalan lahir
Darah segar yang Lemah
mengalir segera Menggigil
setelah bayi lahir
Uterus kontraksi baik
Pasenta lengkap
Plasenta belum lahir Tali pusat putus akibat Retensio plasenta
setelah 30 menit traksi berlebihan
Perdarahan segera Inversio uteri akibat
Uterus kontraksi baik tarikan
Perdarahan lanjutan
Plasenta atau Uterus berkontraksi Tertinggalnya sebagian
sebagian selaput tetapi tinggi fundus plasenta
(mengandung uteri tidak berkurang
pembuluh darah) tidak
lengkap
Perdarahan segera
Uterus tidak teraba Syok neurogenik Inversio uteri
Lumen vagina terisi Pucat dan limbung (menyebabkan
massa endometritis)
Tampak tali pusat (jika
plasenta belum lahir)
Perdarahan segera
Nyeri sedikit atau
berat
Sub involusi uterus Anemia Perdarahan terlambat
Nyeri tekan perut Demam Endometritis atau sisa
bawah plasenta (terinfeksi atau
Perdarahan > 24 jam tidak)
setelah persalinan.
Perdarahan sekunder
atau P2S. perdarahan
bervariasi (ringan atau
berat, terus-menerus
atau tidak teratur )
dan berbau (jika
disertai infeksi)
Perdarahan segera Syok Robekan dinding uterus
(perdaran Nyeri tekan perut (Ruptura uteri)
inraabdominal Denyut nadi ibu cepat
dan/vaginum)
Nyeri perut berat
(kurangi dengan
ruptur)

(Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawirodhardjo)

Infeksi Nifas

1. Definisi
kenaikan suhu badan sampai 38oC atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama postpartum,
kecuali pada hari pertama

Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis Obstetri :
Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC

Infeksi nifas adalah infeksi bakteri pada traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan, ditandai
kenaikan suhu sampai 38 derajat selsius atau lebih selama 2 hari dalam 10 hari pertama pasca
persalinan, dengan mengecualikan 24 jam pertama.

Sumber : Kapita Selekta Kedokteran. Editor Mansjoer Arif (et al.) Ed. III, cet. 2. Jakarta : Media
Aesculapius. 1999.

2. Etiologi
MACAM-MACAM JALAN KUMAN MASUK KE DALAM ALAT KANDUNGAN :

- Eksogen (kuman datang dari luar)


- Autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh)
- Endogen (dari jalan lahir sendiri)
ETIOLOGI :

Yang paling terbanyak dan lebih dari 50% : streptococcus anaerob yang sebenarnya
tidak pathogen sebagai penghuni normal jalan lahir
Kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain :
5. Streptococcus haemoliticus aerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari penderita lain,
alat2 yang tidak suci hama, tangan penolong, dan sebagainya.
6. Staphylococcus aureus
Masuk secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di
rumah sakit.
7. Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rectum, menyebabkan infeksi terbatas.
8. Clostridium welchii
Kuman anaerobic yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus kriminalis dan
partus yang ditolong dukun dari luar rumah sakit.

Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis Obstetri :
Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC

Tanda dan gejala sepsis puerpuralis.


a. Demam.
b. Nyeri pelviks.
c. Nyeri tekan di uterus.
d. Lokia berbau menyengat.
e. Terjadi keterlambatan dalam penurunan uterus.
f. Pada laserasi terasa nyeri., bengkak dan mengeluarkan darah.

Faktor terjadi sepsis puerpuralis.


a. Anemia/kurang gizi.
b. Higieneyang buruk.
c. Tekhnik asptik yang buruk.
d. Manipulasi yang sangat banyak pada jalan lahir.
e. Adanya jaringan mati pada jalan lahir.
f. Inersi tangan, instrumen atau pembalutyang tidak steril.
g. Ketuban pecah lama.
h. Pemeriksaan vagina yang sering.
i. Kielahiran melalui SC.
j. Laserasi vagina/serviks yang tidak di perbaiki.
k. PMS yang di derita.
l. Hemorragi post partum.
m. Tidak imunisasi tetanus.
n. Diabetes mellitus.

Faktor resiko di masyarakat.


a. Tidak adanya transportasi dan sarana lain.
b. Jarak yang jauh dari fasilitas kesehatan.
c. Status kesehatan wanita yang rendah.
d. Kurangnya pengetahuan tentang sepsis puerpuralis.

Faktor di pelayanan kesehatan.


a. Pemantauan suhu badan yang tidak adekuat setelah persalinan lama dan kelahiran.
b. Tidak adanya asepsis selama persalinan.
c. Pemeriksaan bakteriologis yang tidak adekuat dengan antibiotik yang tepat atau intervensi
operatif selanjutnya.
d. Ketidaktersediaan antibiotik yang tepat.

3. Kelainan payudara.
1. Bendungan air susu ibu.
Selama 24-48 jam pertama sesudah terlihatnya sekresi lakteal, payudara sering mengalami
distensi menjadi keras dan berbenjol-benjol. Keadaan ini yang disebut bendungan air susu atau
caked breast, sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat dan bisa disertai dengan
kenaikan suhu. Kelainan tersebut menggambarkan aliran darah vena normal yang berlebihan
dan penggembungan limfatik dalam payudara, yang merupakan prekuser regular untuk terjadi
laktasi. Keadaan ini bukan merupakan overdestensi sistem lakteal oleh susu.

Penatalaksanaan:
a. Keluarkan ASI secara manual/ASI tetpa diberikan pada bayi.
b. Menyangga payudara dengan BH yang menyokong.
c. Kompres dengan kantong es.
d. Pemberian analgesik.

2. Mastitis.
Inflamasi perinkimatosa glandula mammaemerupakan komplikasi ante partum yang jarang
terjadi tetapi kadang-kadang dijumapi dalam masa nifas dan laktasi.
Gejala mastitis supuratif jarang terlihat sebelum akhir minggu pertama masa nifas dan
umumnya baru ditemukan setelah minggu ketiga atau keempat. Bendungan yang mencolok
biasanya mendahului inflamasi dengan keluhan pertamanya berupa menggigil atau gejala grigor
yang sebenarnya, yang segera di ikuti oleh kenaikan suhu tubuh dan peningkatan frekuensi
denyut nadi. Payudara kemudian menjadi keras serta kemerahan, dan pasien mengeluhkan rasa
nyeri.
Gejala mastitis.
a. Gejala mastitis non-infeksius adalah:
1) Ibu memperhatikan adanya bercak panas, atau area nyeri tekan yang akut.
2) Ibu dapat merasakan bercak kecil yang keras didaerah nyeri tekan tersebut.
3) Ibu tidak mengalami demam dan merasa baik-baik saja.

b. Gejala mastitis infeksius adalah :


1) Ibu mengeluh lemah dan sakit pada otot seperti flu.
2) Ibu dapat mengeluh sakit kepala.
3) Ibu demam.
4) Terdapat area luka yang terbatas atau lebih luas pada payudara.
5) Kulit pada payudara dapat tampak kemerahan atau bercahaya.
6) Terjadi pembengkakan pada payudara.

Penatalaksanaan.
Bila payudara tegang dan kemerahan maka:
a. Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.
b. Sangga payudara.
c. Kompres dingin.
d. Bila diperlukan, berikan paracetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
e. Ibu harus di dorong menyusui meskipun ada pus.
f. Jika bersifat infeksius, berikan analgesik non narkotik, antipiretik untuk mengurangi demam
dan nyeri.
g. Pantau suhu tubuh akan adanya demam. Jika ibu demam tinggi (>39 0C), periksa kultur susu
terhadap kemungkinan adanya infeksi streptokokal.
h. Pertimbangkan pemberian antibiotik antistafilokokus kecuali jika demam dan gejala
berkurang.
i. Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan.

3. Klasifikasi
Infeksi terbatas lokalisasinya pada perineum, vulva, serviks dan endometrium
Infeksi yang menyebar ke tempat lain melalui : pembuluh darah vena, pembuluh limfe,
dan endometrium
Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis Obstetri :
Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC

4. Manifestasi
Infeksi nifas dapat dibagi atas 2 golongan, yaitu :
1. Infeksi yang terbatas pada perineum, vulva, vagina, serviks, dan endometrium.

2. Penyebaran dari tempat-tempat tersebut melalui vena-vena, jalan limfe dan

permukaan endometrium.

Infeksi perineum, vulva, vagina, dan serviks :


Gejalanya berupa rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi, kadang-kadang perih saat
kencing. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38
derajat selsius dan nadi dibawah 100 per menit. Bila luka yang terinfeksi, tertutup jahitan dan
getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39-40 derajat selsius, kadang-
kadang disertai menggigil.

Infeksi yang terlokalisir di jalan lahir karena tindakan persalinan dan pada bekas insersi
plasenta

1. vulvitis luka bekas episiotomi atau robekan perineum yang kena infeksi
2. vaginitis luka karena tindakan persalina terinfeksi
3. servisitisinfeksi pada serviks agak dalam dapat menjalar ke lig. latum dan
parametrium
4. endometritis infeksi pada tempat insersi plasenta dan bisa mengenai endometrium

Endometritis :
Kadang-kadang lokia tertahan dalam uterus oleh darah, sisa plasenta dan selaput ketuban
yang disebut lokiometra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus agak membesar,
nyeri pada perabaaan dan lembek.

Septikemia :
Sejak permulaan, pasien sudah sakit dan lemah. Sampai 3 hari pasca persalinan suhu
meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Suhu sekitar 39-40 derajat selsius,
keadaan umum cepat memburuk, nadi cepat (140-160 kali per menit atau lebih). Pasien dapat
meninggal dalam 6-7 hari pasca persalinan.

Piemia :
Tidak lama pasca persalinan, pasien sudah merasa sakit, perut nyeri dan suhu agak meningkat.
Gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman dengan emboli
memasuki peredaran darah umum. Ciri khasnya adalah berulang-ulang suhu meningkat
dengan cepat disertai menggigil lalu diikuti oleh turunnya suhu. Lambat laun timbul gejala
abses paru, pneumonia dan pleuritis.

Peritonitis :
Pada peritonotis umum terjadi peningkatan suhu tubuh, nadi cepat dan kecil, perut kembung
dan nyeri, dan ada defense musculaire. Muka yang semula kemerah-merahan menjadi pucat,
mata cekung, kulit muka dingin; terdapat fasies hippocratica. Pada peritonitis yang terbatas
didaerah pelvis, gejala tidak seberat peritonitis umum. Peritonitis yang terbatas : pasien
demam, perut bawah nyeri tetapi keadaan umum tidak baik. Bisa terdapat pembentukan
abses.

Selulitis pelvik :
Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri
pada pemeriksaan dalam, patut dicurigai adanya selulitis pelvika. Gejala akan semakin lebih
jelas pada perkembangannya. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri
di sebelah uterus. Di tengah jaringan yang meradang itu bissa timbul abses dimana suhu yang
mula-mula tinggi menetap, menjadi naik turun disertai menggigil. Pasien tampak sakit, nadi
cepat, dan nyeeri perut.

Sumber : Kapita Selekta Kedokteran. Editor Mansjoer Arif (et al.) Ed. III, cet. 2. Jakarta : Media
Aesculapius. 1999.

Metritis
Infeksi uterus saat pascapersalinan yang dikenal sebagai endometritis,endomiometritis
dan paraaendometritis. Karena infeksi yang timbul tidak hanya mengenai
desidua,miometrium dan jaringan parametrium, maka terminologi yang disukai ialah
metritis disertai selulitis pelvis.
Faktor predisposisi
o Persalinan pervagina
o Persalinan seksio sesarea
o bakteriologi
Patogenesis:

Infeksi uterus pada persalinan pervagina terutama terjadi pada tempat implantasi
placenta,desidua dan miometrium yang berdekatan. Bakteri berkoloni di serviks dan vagina
mendapatkan akses ke cairan ketuban pada waktu persalinan & pasca persalinan akan
menginvasi tempat implantasi plasenta, sebuah luka dengan diameter 4 cm, permukaan luka
berbenjol-benjol karna banyak vena yang ditutupi trombus . Daerah ini merupakan tempat yg
baik untuk tumbuhnya kuman2 patogen.

Gejala klinik:

Demam merupakan gejala klinik terpenting utk mendiagnosis metritis


Suhu tubuh penderita umumnya berkisar melebihi 38-39oC.
Demam yg terjadi juga sering disertai menggigil, timbul pd hari ke-3 disertai nadi cepat
Penderita biasanya mengeluh adanya nyeri abdomen yg pd px. Bimanual teraba agak
membesar, nyeri, dan lembek.
Lokhia yg berbau menyengat sering menyertai timbulnya metritis, tetapi bukan
merupakan tanda pasti.
Pada infeksi oleh grup A -hemolitik streptokokus sering disertai lokhia bening yg tdk
berbau.

5. Cara penularan
CARA TERJADINYA INFEKSI

- Memanipulasi penolong yang tidak suci hama, atau pemeriksaan dalam yang berulang-
ulang dapat membawa bakteri yang sudah ada ke dalam rongga rahim
- Alat-alat yang tidak suci hama
- Infeksi droplet, sarung tangan dan alat-alat terkena infeksi kontaminasi yang berasal
dari hidung, tenggorokan dari penolong dan pembantunya atau orang lain
- Infeksi rumah sakit (hospital infection)
- Koitus pada akhir kehamilan sebenarnya tidak begitu berbahaya, kecuali bila ketuban
sudah pecah
- Infeksi inpartum, sering dijumpai pada partus lama
Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis Obstetri :
Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC

Penatalaksanaan?
Apa yang harus dilakukan dokter untuk menangani perdarahan?
Tujuan utama penanganan perdarahan postpartum ada 3 yakni pencegahan, penghentian
perdarahan dan mengatasi syok.
Pasien dengan perdarahan post partum harus ditangani dalam 2 komponen, yaitu: (1)
resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik dan
(2) identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan post partum.
Smith,J.R.Brennan,B.G.2004Postpartum Hemorrhage.

Penatalaksanaan metritis :
1. Pada penderita metritis ringan pengobatan antibiotik oral biasanya memberikan hasil
yang baik.
2. pada penderita metritis sedang dan berat termasuk pasca SC perlu diberikan
antibiotik dengan spektrum luas secara intravena dan biasanya penderita akan
membaik dalam waktu 48-72 jam, bila tidak baik maka perlu diteliti penyebabnya
karna demam yang menetap jarang disebabkan oleh resistensi bakteri terhadap
antibiotik atau suatu efek samping obat
Ilmu kebidanan,Sarwono Prawirohardjo hal 647-649

Atonia uteri
Perbaiki KUnya
Bila pasien syok lakukan sebagai berikut
1. Sikap trendelenburg, pasang venous line dan berikan oksigen
2. Sekaligus merangsang kontraksi uterus
3. Bila semua tindakan itu gagal ,maka persiapkan tindakan operatif laparotomi dengan
pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus ) atau histerektomi
Ilmu kebidanan,Sarwono Prawirohardjo hal 525

1. Komplikasi?
- Kematian
- Perdarahan kurang darah respon simpatis meningkatkan denyut
djantung karena perdarahan pembuluh darah perifer vasokontriksi
hipoperfusi / hipoksia jaringan merangsang metabolisme anaerob
kelelahan myocardium asidosis metabolik kematian sel dalam tubuh
death
- Metritis (endometritis , endomyometritis, parametritis)

2. Patogenesis terjadinya post partum


1. PATOFISIOLOGI (SECARA ANATOMI JUGA )
Sebagian besar kasus Perdarahan postpartum terjadi selama persalinan kala tiga. Selama
jangka waktu tersebut, otot-otot rahim berkontraksi dan plasenta mulai memisahkan diri
dari dinding rahim. Jumlah darah yang hilang tergantung pada seberapa cepat hal ini terjadi.
Persalinan kala tiga biasanya berlangsung antara 5 sampai 15 menit. Bila lewat dari 30
menit, maka persalinan kala tiga dianggap panjang/lama yang berarti menunjukkan
masalah potensial. Bilamana rahim lemah dan tidak berkontraksi secara normal, maka
pembuluh darah di daerah plasenta tidak terjepit dengan cukup,hal ini akan mengakibatkan
perdarahan yang berat

( Hanifa Wiknjosastro 2002 )


Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan
sirkulasi ke sana, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus
menurun sehingga pembuluh darah-pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup
sempurna sehingga perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti
epiostomi yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan
perdarahan karena terbukanya pembuluh darah, penyakit darah pada ibu; misalnya
afibrinogemia atau hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya fibrin untuk
membantu proses pembekuan darah juga merupakan penyebab dari perdarahan
postpartum. Perdarahan yang sulit dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock
hemoragik.
( Rustam Mochtar 1998)
a. Perdarahan Postpartum akibat Atonia Uteri
Perdarahan postpartum dapat terjadi karena terlepasnya sebagian plasenta dari
rahim dan sebagian lagi belum; karena perlukaan pada jalan lahir atau karena
atonia uteri. Atoni uteri merupakan sebab terpenting perdarahan postpartum.
Atonia uteri dapat terjadi karena proses persalinan yang lama; pembesaran
rahim yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada hamil kembar atau janin
besar; persalinan yang sering (multiparitas) atau anestesi yang dalam. Atonia
uteri juga dapat terjadi bila ada usaha mengeluarkan plasenta dengan memijat
dan mendorong rahim ke bawah sementara plasenta belum lepas dari rahim.
Perdarahan yang banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi bila
perdarahan sedikit dalam waktu lama tanpa disadari penderita telah kehilangan
banyak darah sebelum tampak pucat dan gejala lainnya. Pada perdarahan karena
atonia uteri, rahim membesar dan lembek.

b. Perdarahan Pospartum akibat Retensio Plasenta


Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir selama 1 jam
setelah bayi lahir.
Penyebab retensio plasenta :

a. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan tumbuh
lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya :
i. Plasenta adhesiva : plasenta yang melekat pada desidua
endometrium lebih dalam.
ii. Plasenta inkreta : vili khorialis tumbuh lebih dalam dan
menembus desidua endometrium sampai ke miometrium.
iii. Plasenta akreta : vili khorialis tumbuh menembus miometrium
sampai ke serosa.
iv. Plasenta perkreta : vili khorialis tumbuh menembus serosa atau
peritoneum dinding rahim.
b. Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena
atoni uteri atau adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim
(akibat kesalahan penanganan kala III) yang akan menghalangi plasenta
keluar (plasenta inkarserata).
Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila
sebagian plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan
indikasi untuk segera mengeluarkannya.
Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum penuh.
Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan

c. Perdarahan Postpartum akibat Inversio Uteri


Inversio Uteri adalah keadaan dimana fundus uteri terbalik sebagian atau
seluruhnya masuk ke dalam kavum uteri. Uterus dikatakan mengalami inverse
jika bagian dalam menjadi di luar saat melahirkan plasenta. Reposisi sebaiknya
segera dilakukan dengan berjalannya waktu, lingkaran konstriksi sekitar uterus
yang terinversi akan mengecil dan uterus akan terisi darah.
Pembagian inversio uteri :
a. Inversio uteri ringan : Fundus uteri terbalik menonjol ke dalam kavum
uteri namun belum keluar dari ruang rongga rahim.
b. Inversio uteri sedang : Terbalik dan sudah masuk ke dalam vagina.
c. Inversio uteri berat : Uterus dan vagina semuanya terbalik dan sebagian
sudah keluar vagina.
d. Perdarahan Postpartum Akibat Hematoma
Hematoma terjadi karena kompresi yang kuat disepanjang traktus genitalia, dan
tampak sebagai warna ungu pada mukosa vagina atau perineum yang ekimotik.
Hematoma yang kecil diatasi dengan es, analgesic dan pemantauan yang terus
menerus. Biasanya hematoma ini dapat diserap kembali secara alami.
(Williams, 1998)

2. Gejala Klinis berdasarkan penyebab:


a. Atonia Uteri:
Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan
segera setelah anak lahir (perdarahan postpartum primer)
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi
cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah, mual dan lain-lain)
b. Robekan jalan lahir
Gejala yang selalu ada: perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah
bayi lahir, kontraksi uteru baik, plasenta baik.
Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah, menggigil.
c. Retensio plasenta
Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan
segera, kontraksi uterus baik
Gejala yang kadang-kadang timbul: tali pusat putus akibat traksi berlebihan,
inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan
d. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)
Gejala yang selalu ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh
darah ) tidak lengkap dan perdarahan segera
Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus berkontraksi baik tetapi tinggi fundus
tidak berkurang.
e. Inversio uterus
Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak
tali pusat (jika plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau
berat.
Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat

Proses terbentuk pirogen dsb.


Demam :
Infeksi oleh mikroorganisme

Menghasilkan pyrogen (eksogen pyrogen)

Hypothalamic endothelium

PGE 2

Cyclic AMP

Increased thermoreguatory set point

FEVER
Terjadinya demam atau panas tinggi dan cairan berwarna kuning keruh dan berbau
disebabkan oleh karena infeksi. Infeksi terbanyak disebabkan oleh bakteri yang aslinya
memang ada di jalan lahir. Bila dilakukan isolasi bakteri penyebab infeksi nifas biasanya
akan terisolasi berbagai spesies bakteri. Meskipun bakteri tersebut sebenarnya mempunyai
virulensi rendah, bila terdapat pada hematom atau jaringan yang rusak akan menjadi
patogen.

Aerob Anaerob Lain-lain


Streptokokus Peptokokus sp Mikoplasma sp
group A,B,D
Enterokokus Peptostreptokokus Klamidia
sp trakomatis
Bakteri gram Bakterioidis fargilis Neisseria
negatif grup gonnorrea
Ekserisia
Koli, Klebsiella Prevotella sp
dan Proteus sp
Stafilokokus Klostridium sp
aureus
Stafilokokus Fusobakterium sp
epidermidis
Gardnerella Mobilunkus sp
vaginalis

Jika mikroba yang masuk ke dalam tubuh lebih banyak dari jumlah yang dapat ditangani
makrofag, maka akan disekresikan suatu zat khusus pirogen endogen sebagai tanda
bahaya.

Pirogen endogen di otak, akan merangsang pusat peningkatan panas pada otak. Yang
menyebabkan tubuh mengalami demam tinggi. Pasien yang menderita demam tinggi
biasanya merasa perlu beristirahat. Dengan demikian energi yang dibutuhkan untuk
sistem imunitas tidak dikeluarkan untuk hal lain.

Ilmu Kebidanan, prof. Dr. Sarwono

Badan panas tinggi


Pasien badan panas tinggi setelah melahirkan dan perdarah post partum karena
infeksi bakteri

Mekanisme Kerja Pirogen Dalam menyebabkan demam peranan interleukin 1


Terjadinya demam disebabkan oleh pelepasan zat pirogen dari dalam lekosit
yang sebelumnya telah terangsang baik oleh zat pirogen eksogen yang dapat berasal
dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak
berdasarkan suatu infeksi (Benneth, et al, 1996; Gelfand, et al, 1998). Dan dapat
bekerja secara langsung pada hipotalamus dan meningkatkan set point

Pirogen berfungsi secara tidak langsung dan mungkin membutuhkan periode laten
selama beberapa jam sebelum sebelum menimbulkan efek ini. Hal ini dapat terjadi pada
sebagian besar bakteri pirogen terutama endotoksisn dari bakteri gram negative
Bakteri atau pemecahan hasil bakteri masuk dalam jaringan / dlm darah difagositosis
makrofag jaringan dlm limfosit pembunuh bergranula besar dan mengeluarkan IL-1 (
pirogen endogen ) kedalam cairan tubuh merangsang hipotalamus Di dalam
hipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam arakhidonat mengakibatkan
peningkatan sintesis PGE-2 yang langsung dapat menyebabkan suatu pireksia/
demam

Sumber : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran , Ed. 11.EGC dan Dr. Suryo Wibowo, MKK, SpOG
1. Perdarahan Post partum
a. Fisiologis (nifas)

Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah
kira-kira 6 minggu. Dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu
(42 hari) setelah itu.

Perawatan selama nifas

- Wanita pascapersalinan harus cukup istirahat


- 8 jm pascapersalinan, ibu tidur terlentang mencegah perdarahan
- Stlh 8jm, ibu boleh miringh ke kiri atau ke kanan mencegah trombosis
- Hari kedua, lakukan latihan senam (bila perlu)
- Hari ketiga, sdh dapat duduk (umumnya)
- Hari keempat, berjalan
- Hari kelima, dapat dipulangkan
- Makanan : mutu tinggi dan cukup kalori, cukup protein, banyak buah

Hal-hal yg terjadi selama nifas

1. Genitalia eksternal dan internal


Alat-alat genitalia interna dan eksterna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan
sebelum hamil involusi
Setelah janin lahir TFU : setinggi pusat. Setelah plasenta lahir TFU : 2 jari di
bawah pusat. Hari ke-5 pascapersalinan TFU : 7cm di atas symphisis/setengah
sympisis-pusat. Sesdah 12 hari uterus tdk dapat diraba lagi di atas symphisis
Bagian bekas implantasi plasenta luka kasar dan menonjol ke dalam cavum uteri,
diameter(d) 7,5cm, sering disangka bagian plasenta yg tertinggal. Sesudah 2 minggu
d : 3,5cm. Pd 6 minggu d : 2,4cm
Berat uterus gravidus aterm 1000g. 1mgg pascapersalinan 500g, 2mgg
pascapersalinan 300g. Stlh 6mgg pascapersalinan 40-60g (berat uterus
normal 30g)
Pd pascapersalinan cerviks agk terbuka seperti corong dan konsistensi lunak.
Segera stlh melahirkan tangan pemeriksa dpt dimasukkan ke dlm cavum uteri.
Setlh 2jam hnya dpt dimasukkan 2-3 jari. Stlh 1 mgg hnya dimasukakn 1 jari
Ligament, diafragma pelvis, serta fasia yg meregang waktu kehamilan kembali
seperti semula
Luka jalan lahir (seperti episiotomi yg telah dijahit), luka pd vagina dan cerviks yg
tidak luas akan sembuh primer
2. Suhu badan pascepersalinan dpt naik >0,5oC dr keadaan normal tp tdk > 39oC. Stlh 12
jam I melahirkan t normal. Bila >38oC mungkin infeksi
3. Nadi 60-80 denyut/menit (umumnya), setelah partus dpt terjadi takikardi. Pd masa
nifas denyut nadi lbh stabil dibanding suhu badan
4. Hemokonsentrasi terjadi pd hari ke-3 15 pascapersalinan
5. Laktasi. Kelenjar mammae tlh disiapkan semenjak kehamilan. Umunya ASI keluar 2/3
hari pascapersalinan. Pd hari pertama kolustrum cairan kuning lebih kental dari
air susu, mengandung banyak protein albumin, globulin, dan benda-benda kolustrum
6. Perasaan mulas sesudah partus kontraksi uterus kg sangat menggangguslma 2-3 hari
pascapersalinan, lebih sering pd multipara dri primipara. Perasaan mulas lebih terasa
saat menyusui, dpt pula timul bila masih ada sisa selaput ketuban, sisa plasenta, atau
gumpalan darah dlm cavum uteri. Pasien dpt diberi analgetik atau sedatif
7. Keadaan cerviks, uterus dan adneksa. Perdarahan (karena involusi uteri) tablet
ergometrin dan tirah baring u/hentikan perdarahan. Cerviks hiperemis, meradang, erosi
curiga keganasan px sitologi.
8. Lokia
o Hari pertama : lokia rubra atau kruenta darah segar bercampur sisa selaput
ketuban, sel desidua, sisa verniks kaseosa, lanugo, mekoneum
o Hari berikutnya : lokia sanguinolenta darah bercampur lendir
o Stlh 1 minggu : lokia serosa warna kuning, tdk mengandung darah
o Stlh 2 minggu : lokia alba cairan putih
9. Miksi harus cepat dilakukan sendiri. VU penuh dan tidak bs miksi sendiri kateterisasi
10. Defekasi harus ada dlm 3 hari pascapersalinan. Obstipasi, timbul koprotase hingga
skibala tertimbun rektum, febris lakukan klisma /beri laksan peroral
11. Latihan senam dpt diberikan mulai hari kedua misal ;
a. Ibu telentang lalu kedua telapak kaki ditekuk, kedua tangan ditaruh di atas dan
menekan perut. Lakukan pernapasan dada lalu pernapasan perut
b. Dengan posisi yg sama, angkat bokong lalu taruh kembali
c. Kedua kaki diluruskan dan disilangkan, lalu kencangkan otot seperti menahan
miksi dan defekasi
d. Duduklah pd kursi, perlahan bungkukkan badan sambil tangan berusaha
menyentuh tumit
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

Berdasarkan periode:
(1) Puerperium dini yaitu kepulihan di mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40
hari.
(2) Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamanya
6-8 minggu.
(3) Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna
terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk
sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, atau tahunan.
Mochtar Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Cetakan I, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta
b. Patologis
Perdarahan post partum
Adalah kehilangan darah melebihi 500 ml yg terjadi setelah bayi lahir.
Klasifikasi :
- Perdarahan primer : terjadi dlm 24 jam pertama
- Perdarahan sekunder : terjadi setelah 24 jam pertama

Etiologi :

- Atonia uteri
- Retensio plasenta
- Trauma jalan lahir
- Inversio uteri
- Ruptur uteri
- Gangguan sistem pembekuan darah

Faktor predisposisi :

- Riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya


- Multiparitas
- Perdarahan antepartum
- Partus lama

Diagnosis :

- Perdarahan banyak terus menerus setelah bayi lahir


- Pd perdarahan melebihi 20% volume total, tombul gejala penurunan tekanan darah,
nadi dan napas cepat, pucat, ekstremitas dingin, sampai terjadi syok
- Perdarahan sebelum plasenta lahir biasanya disebabkan retensio plasenta atau laserasi
jalan lahir. Bila karena ada retensio plasenta, perdarahan berhenti setelah plasenta
lahir
- Pd perdarahan setelah plasenta lahir, perlu dibedakan sebabnya antara atonia uteri,
sisa plasenta, atau trauma jaan lahir. Pd px obstetri, mungkin kontraksi uterus lembek
dan membesar jika da atonia uteri. Bila kontraksi uterus baik, eksplorasi untuk
mengetahui adanya sisa plasenta atau trauma lahir
- Riwayat partus lama, partus presipitatus, perdarahan antepartum, atau etiologi lain

Komplikasi :

- Syok, KID, syndrom sheehan (nekrosis hipofisis pars anterior)

PP :

- Darah : kadar hb, ht, masa perdarahan, masa pembekuan


- USG : bila perlu u/menentukan adanya sisa jaringan konsepsi intrauterin

Penanganan :

- Pencegahan
o Obati anemia dalam kehamilan
o Pd pasien dg riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya, persalinan
harus berlangsung di rumah sakit
o Jgn memijat dan mendorong uterus ke bawah sebelum plasenta lepas
o Berikan 10 unit oksitosin im setelah anak lahir dan 0,2 mg ergometrin im
setelah plasenta lahir
- Penanganan
o Tentukan apakah terdapat syok, bila ada segera berikan transfusi cairan/darah,
kontrol perdarahan dan O2
o Bila keadaan umum telah membaik, lakukan pemeriksaan untuk menentukan
etiologi
o Pd retensio plasenta, bila plasenta belum lahir dlm 30 menit, lahirkan plasenta
dg plasenta manual. Bila plasenta akreta, segera hentikan plasenta manual dan
lakukan histerektomi. Bila hanya sisa plasenta, lakukan pengeluaran plasenta
dg digital/kuretase, sementara infus oksitosin diteruskan
o Pd trauma jalan lahir, segera lakukan reparasi
o Pd atonia uteri, lakukan masase uterus dan penyuntikan 0,2 mg ergometrin iv
atau prostaglandin parenteral. Jika tidak berhasil, lakukan kompresi bimanual
pd uterus dg cara memasukkan tangan kiri ke dalam vagina dan dalam posisi
mengepal diletakkan di forniks anterior; tangan kanan diletakkan di dinding
perut memegang fundus uteri. Bila tetap gagal, dapat dipasang tampon
uterovaginal, dg cara mengisi cavum uteri dg kasa sampai padat selama 24 jam
atau dipasang kateter folley. Bila tindakan tersebut tidak dapat menghentikan
perdarahan juga, terapi definitif yg diberikan adalah histerektomi, atau ligasi
a.uterina
o Bila disebabkan gangguan pembekuan darah, berikan transfusi plasma segar

Pada perdarahan pascapersalinan sekunder :

o Kompresi bimanual sedikitnya selama 30 menit


o Antibiotik spektrum luas
o Oksitosin 10U im tiap 4 jam atau 10-20 U/l iv dg tetesan lambat, 15-metil PGF2a
0,25 mg im tiap 2 jam atau ergot alkaloid tiap 6 jam sedikitnya selama 2 hari

Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

2. Infeksi puerperium
a. Definisi
Infeksi nifas : infeksi bakteri pd traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan ditandai
kenaikan suhu sampai 38oC atau lebih selama 2 hari dlm 10 hari pertama pascapersalinan,
dg mengecualikan 24 jam pertama.
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga
puerperium : episode tugas fisiologi wanita sesudah melahirkan untuk kembali ke keadaan
semula

Infeksi terbatas lokalisasinya pada perineum, vulva, serviks dan endometrium


Infeksi yang menyebar ke tempat lain melalui : pembuluh darah vena, pembuluh limfe,
dan endometrium
Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis
Obstetri : Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC
b. Etiologi
Lebih dari 1 spesies. Kuman anaerob adalah kokus gram + (peptostreptokok, peptokok,
bakteriodes, clostridium). Kuman aerob adalah bermacam gram + dan E.coli. mikoplasma
(dlm laporan terakhir) berperan penting sbg etiologi infeksi nifas
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

c. Predisposisi
Semua keadaan yg dapat menurunkan daya tahan penderita, misal : perdarahan banyak,
preeklamsi, infeksi lian (misal: pneumonia, pnykt jantung, dsb)
Partus lama, terutama dg ketuban pecah lama
Tindakan bedah vagina perlukaan jalan lahir
Tertinggalnya sisa placenta, selaput ketuban dan bekuan darah
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

d. Patogenesis
CARA TERJADINYA INFEKSI
- Memanipulasi penolong yang tidak suci hama, atau pemeriksaan dalam yang berulang-
ulang dapat membawa bakteri yang sudah ada ke dalam rongga rahim
- Alat-alat yang tidak suci hama
- Infeksi droplet, sarung tangan dan alat-alat terkena infeksi kontaminasi yang berasal
dari hidung, tenggorokan dari penolong dan pembantunya atau orang lain
- Infeksi rumah sakit (hospital infection)
- Koitus pada akhir kehamilan sebenarnya tidak begitu berbahaya, kecuali bila ketuban
sudah pecah
- Infeksi inpartum, sering dijumpai pada partus lama
Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis Obstetri :
Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC

e. Gejala
Temperatur naik pada hari kedua post partum diatas 38 C
Mengeluarkan lokia kotor, berbau dan mungkin masih bercampur darah
Involusi uterus terlambat (sub involusi uteri) karena sisa plasenta yang menyebabkan
perdarahan sekunder.
Sumber : Manuaba, I.B.G., 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Cetakan I, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta

a. Sapremia ("retention fever")


- Demam karena retensi gumpalan darah atau selaput janin.
- Demam ini dapat turun segera setelah darah dan selaput keluar.
- Keadaan ini dicurigai jika pasien yang demam dan merasakan his royan.
- Jika penderita demam dan perdarahan agak banyak, mungkin ada jaringan plasenta
yang tertinggal.
b. Luka perineum, vulva, vagina, serviks
- Perasaan nyeri dan panas timbul pada luka yang terinfeksi
- jika terjadi pernanahan dapat disertai dengan suhu tinggi dan menggigil.
c. Endometritis
Gambaran klinis endometritis berbeda-beda bergantung pada virulensi kuman
penyebabnya.
- Biasanya demam mulai 48 jam pascapersalinan dan bersifat naik turun (remittens).
- His royan lebih nyeri dari biasa dan lebih lama dirasakan.
- Lokia bertambah banyak, berwarna merah atau coklat, dan berbau. Lokia yang
berbau tidak selalu rnenyertai endometritis sebagai gejala.
- Sering ada subinvolusi.
- Leukosit naik antara 15000-30000/mm3.
- Sakit kepala
- kurang tidur
- kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita.
- Jika infeksi tidak meluas
- suhu turun berangsur-angsur dan normal pada hari ke-7-10.
d. Tromboflebitis pelviks
- Biasanya terjadi pada minggu ke-2, seperti demam menggigil;
- biasanya pasien sudah memperlihatkan suhu yang tidak tenang seperti pada
endometritis sebelumnya.
- Penyakit berlangsung antara 1-3 bulan dan angka kematian tinggi.
- Kematian biasanya karena penyulit paru.
e. Tromboflebitis femoralis
- Terjadi antara hari ke-10-20 yang ditandai dengan kenaikan suhu dan nyeri pada
tungkai, biasanya yang kiri.
- Tungkai biasanya tertekuk dan terputar ke luar dan agak sukar digerakkan.
- Kaki yang sakit biasanya lebih panas dari kaki yang sehat.
- Palpasi menunjukkan adanya nyeri sepanjang salah satu vena kaki yang teraba
sebagai alur yang keras biasanya pada paha.
- Timbul edema yang jelas, yang biasanya mulai pada ujung kaki atau pada paha dan
kemudian naik ke atas. Edema ini lambat sekali hilang.
- Keadaan umum pasien tetap baik.
- Kadang-kadang terjadi tromboflebitis pada kedua tungkai.
f. Sepsis puerperalis
- Suhu tinggi (40 atau lebih, biasanya remittens)
- menggigil
- keadaan umum buruk (nadi kecil dan tinggi, napas cepat, dan gelisah)
- Hb menurun karena hemolisis dan lekositosis.
g. Peritonitis
- Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi
- demam menggigil
- nadi tinggi dan kecil
- perut gembung (kadang-kadang ada diare)
- muntah
- pasien gelisah dan mata cekung
- dan sebelum mati ada delirium dan koma.
h. Parametritis (Cellulitispelvica)
- Parametritis harus dicurigai bila suhu pascapersalinan tetap tinggi, lebih dari satu
minggu.
- nyeri pada sebelah atau kedua belah perut bagian bawah sering memancar pada
kaki.
- Setelah beberapa waktu pada pemeriksaan dalam, dapat teraba infiltrat dalam
parametrium yang kadang-kadang mencapai dinding panggul. Infiltrat ini dapat
diresorpsi kembali, tetapi lambat sekali, menjadi keras, dan tidak dapat digerakkan.
Kadangkadang infiltrat ini menjadi abses.
i. Salpingitis
- Sering disebabkan oleh gonore; biasanya terjadi pada minggu ke-2.
- Pasien demam menggigil
- nyeri pada perut bagian bawah biasanya kiri dan kanan.
- Salpingitis dapat sembuh dalam 2 minggu, tetapi dapat mengakibatkan
kemandulan.
Sumber : Sastrawinata Sulaiman, 2005, Obstetri Patologi, Cetakan I, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta

f. Pencegahan
Selama kehamilan bila pasien anemia, diperbaiki. Berikan diet yg baik. Koitus pd
hamil tua sebaiknya dilarang
Selama persalinan, batasi masuknya kuman di jalan lahir. Jaga persalinan agar tidak
berlarut-larut. Selesaikan persalinan dengan trauma sesedikit mungkin. Cegah
perdarahan banyak dan penularan penyakit dari petugas dalam kamar bersalin. Alat-
alat persalinan harus steril dan lakukan pemeriksaan hanya bila perlu dan atas
indikasi yang tepat
Selama nifas, rawat higiene perlukaan jalan lahir. Jangan merawat pasien dengan
tanda-tanda infeksi nifas dengan wanita dalam nifas yang sehat
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

g. Penanganan
Suhu diukur dari mulut sedikitnya 4x sehari, berikan terapi antibiotik, perhatikan diet.
Lakukan transfusi darah bila perlu. Hati-hati bila ada abses, jada supaya nanah tidak masuk
ke dalam rongga perineum
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

9. Pemeriksaan penunjang dari scenario


Pemeriksaan Lab hb, ht, faktor pembekuan
USGmelihat sisa jaringan di intra uterin
Urinalisismenyingkirkan DD dari kanding kemih
Kultur jaringan uterus dan vagina melihat adanya infeksi
10. Bagaimana penatalaksanaan dari scenario setelah mengatasi perdarahan
Tujuan utama penanganan perdarahan postpartum ada 3 yakni pencegahan, penghentian
perdarahan dan mengatasi syok.
Pasien dengan perdarahan post partum harus ditangani dalam 2 komponen, yaitu: (1)
resusitasi dan penanganan perdarahan obstetri serta kemungkinan syok hipovolemik dan
(2) identifikasi dan penanganan penyebab terjadinya perdarahan post partum.
Smith,J.R.Brennan,B.G.2004Postpartum Hemorrhage.

Penatalaksanaan metritis :
3. Pada penderita metritis ringan pengobatan antibiotik oral biasanya memberikan hasil
yang baik.
4. pada penderita metritis sedang dan berat termasuk pasca SC perlu diberikan
antibiotik dengan spektrum luas secara intravena dan biasanya penderita akan
membaik dalam waktu 48-72 jam, bila tidak baik maka perlu diteliti penyebabnya
karna demam yang menetap jarang disebabkan oleh resistensi bakteri terhadap
antibiotik atau suatu efek samping obat
Ilmu kebidanan,Sarwono Prawirohardjo hal 647-649

11. Mengapa dokter memberikan paracetamol dan meminta pasien banyak minum
Deskripsi:
Paracetamol adalah derivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesik
Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan mekanismenya diduga
berdasarkan efek sentral.
Sifat analgesik parasetamol dapat menghilangkan rasa nyeri ringan sampai sedang.
Sifat antiinflamasinya sangat lemah sehingga sehingga tidak digunakan sebagai
antirematik.
Indikasi:
Sebagai antipiretik/analgesik, termasuk bagi pasien yang tidak tahan asetosal.
Sebagai analgesik, misalnya untuk mengurangi rasa nyeri pada sakit kepala, sakit gigi,
sakit waktu haid dan sakit pada otot.menurunkan demam pada influenza dan setelah
vaksinasi.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap parasetamol dan defisiensi glokose-6-fosfat dehidroganase. Tidak
boleh digunakan pada penderita dengan gangguan fungsi hati.

www.pps.unud.ac.id/.../pdf.../unud-290-1606964304-bab%20ii%20revisi.pdf

sifat : Parasetamol adalah drivat p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik /


analgesik. Paracetamol utamanya digunakan untuk menurunkan panas badan yang
disebabkan oleh karena infeksi atau sebab yang lainnya. Disamping itu, paracetamol
juga dapat digunakan untuk meringankan gejala nyeri dengan intensitas ringan sampai
sedang

MEKANISME REAKSI
Paracetamol bekerja dengan mengurangi produksi prostaglandins dengan
mengganggu enzim cyclooksigenase (COX). Parasetamol menghambat kerja COX pada
sistem syaraf pusat yang tidak efektif dan sel edothelial dan bukan pada sel kekebalan
dengan peroksida tinggi. Kemampuan menghambat kerja enzim COX yang dihasilkan
otak inilah yang membuat paracetamol dapat mengurangi rasa sakit kepala dan dapat
menurunkan demam tanpa menyebabkan efek samping

Perdarahan Post partum


c. Fisiologis (nifas)

Masa nifas atau masa puerperium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah
kira-kira 6 minggu. Dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu
(42 hari) setelah itu.
Perawatan selama nifas

- Wanita pascapersalinan harus cukup istirahat


- 8 jm pascapersalinan, ibu tidur terlentang mencegah perdarahan
- Stlh 8jm, ibu boleh miringh ke kiri atau ke kanan mencegah trombosis
- Hari kedua, lakukan latihan senam (bila perlu)
- Hari ketiga, sdh dapat duduk (umumnya)
- Hari keempat, berjalan
- Hari kelima, dapat dipulangkan
- Makanan : mutu tinggi dan cukup kalori, cukup protein, banyak buah

Hal-hal yg terjadi selama nifas

1. Genitalia eksternal dan internal


Alat-alat genitalia interna dan eksterna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan
sebelum hamil involusi
Setelah janin lahir TFU : setinggi pusat. Setelah plasenta lahir TFU : 2 jari di
bawah pusat. Hari ke-5 pascapersalinan TFU : 7cm di atas symphisis/setengah
sympisis-pusat. Sesdah 12 hari uterus tdk dapat diraba lagi di atas symphisis
Bagian bekas implantasi plasenta luka kasar dan menonjol ke dalam cavum uteri,
diameter(d) 7,5cm, sering disangka bagian plasenta yg tertinggal. Sesudah 2 minggu
d : 3,5cm. Pd 6 minggu d : 2,4cm
Berat uterus gravidus aterm 1000g. 1mgg pascapersalinan 500g, 2mgg
pascapersalinan 300g. Stlh 6mgg pascapersalinan 40-60g (berat uterus
normal 30g)
Pd pascapersalinan cerviks agk terbuka seperti corong dan konsistensi lunak.
Segera stlh melahirkan tangan pemeriksa dpt dimasukkan ke dlm cavum uteri.
Setlh 2jam hnya dpt dimasukkan 2-3 jari. Stlh 1 mgg hnya dimasukakn 1 jari
Ligament, diafragma pelvis, serta fasia yg meregang waktu kehamilan kembali
seperti semula
Luka jalan lahir (seperti episiotomi yg telah dijahit), luka pd vagina dan cerviks yg
tidak luas akan sembuh primer
2.Suhu badan pascepersalinan dpt naik >0,5oC dr keadaan normal tp tdk > 39oC. Stlh 12
jam I melahirkan t normal. Bila >38oC mungkin infeksi
3. Nadi 60-80 denyut/menit (umumnya), setelah partus dpt terjadi takikardi. Pd
masa nifas denyut nadi lbh stabil dibanding suhu badan
4. Hemokonsentrasi terjadi pd hari ke-3 15 pascapersalinan
5. Laktasi. Kelenjar mammae tlh disiapkan semenjak kehamilan. Umunya ASI keluar 2/3
hari pascapersalinan. Pd hari pertama kolustrum cairan kuning lebih kental dari
air susu, mengandung banyak protein albumin, globulin, dan benda-benda kolustrum
6. Perasaan mulas sesudah partus kontraksi uterus kg sangat menggangguslma 2-3
hari pascapersalinan, lebih sering pd multipara dri primipara. Perasaan mulas lebih
terasa saat menyusui, dpt pula timul bila masih ada sisa selaput ketuban, sisa
plasenta, atau gumpalan darah dlm cavum uteri. Pasien dpt diberi analgetik atau
sedatif
7. Keadaan cerviks, uterus dan adneksa. Perdarahan (karena involusi uteri) tablet
ergometrin dan tirah baring u/hentikan perdarahan. Cerviks hiperemis, meradang,
erosi curiga keganasan px sitologi.
8. Lokia
o Hari pertama : lokia rubra atau kruenta darah segar bercampur sisa selaput
ketuban, sel desidua, sisa verniks kaseosa, lanugo, mekoneum
o Hari berikutnya : lokia sanguinolenta darah bercampur lendir
o Stlh 1 minggu : lokia serosa warna kuning, tdk mengandung darah
o Stlh 2 minggu : lokia alba cairan putih
9. Miksi harus cepat dilakukan sendiri. VU penuh dan tidak bs miksi sendiri
kateterisasi
10. Defekasi harus ada dlm 3 hari pascapersalinan. Obstipasi, timbul koprotase hingga
skibala tertimbun rektum, febris lakukan klisma /beri laksan peroral
11. Latihan senam dpt diberikan mulai hari kedua misal ;
a. Ibu telentang lalu kedua telapak kaki ditekuk, kedua tangan ditaruh di atas dan
menekan perut. Lakukan pernapasan dada lalu pernapasan perut
b. Dengan posisi yg sama, angkat bokong lalu taruh kembali
c. Kedua kaki diluruskan dan disilangkan, lalu kencangkan otot seperti menahan miksi
dan defekasi
d. Duduklah pd kursi, perlahan bungkukkan badan sambil tangan berusaha menyentuh
tumit
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

Berdasarkan periode:
(1) Puerperium dini yaitu kepulihan di mana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah
40 hari.
(2) Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang
lamanya 6-8 minggu.
(3) Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan, atau tahunan.
Mochtar Rustam, 1998, Sinopsis Obstetri, Cetakan I, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta

d. Patologis
Perdarahan post partum
Adalah kehilangan darah melebihi 500 ml yg terjadi setelah bayi lahir.
Klasifikasi :
- Perdarahan primer : terjadi dlm 24 jam pertama
- Perdarahan sekunder : terjadi setelah 24 jam pertama

Etiologi :

- Atonia uteri
- Retensio plasenta
- Trauma jalan lahir
- Inversio uteri
- Ruptur uteri
- Gangguan sistem pembekuan darah

Faktor predisposisi :
- Riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya
- Multiparitas
- Perdarahan antepartum
- Partus lama

Diagnosis :

- Perdarahan banyak terus menerus setelah bayi lahir


- Pd perdarahan melebihi 20% volume total, tombul gejala penurunan tekanan darah,
nadi dan napas cepat, pucat, ekstremitas dingin, sampai terjadi syok
- Perdarahan sebelum plasenta lahir biasanya disebabkan retensio plasenta atau laserasi
jalan lahir. Bila karena ada retensio plasenta, perdarahan berhenti setelah plasenta
lahir
- Pd perdarahan setelah plasenta lahir, perlu dibedakan sebabnya antara atonia uteri,
sisa plasenta, atau trauma jaan lahir. Pd px obstetri, mungkin kontraksi uterus lembek
dan membesar jika da atonia uteri. Bila kontraksi uterus baik, eksplorasi untuk
mengetahui adanya sisa plasenta atau trauma lahir
- Riwayat partus lama, partus presipitatus, perdarahan antepartum, atau etiologi lain

Komplikasi :

- Syok, KID, syndrom sheehan (nekrosis hipofisis pars anterior)

PP :

- Darah : kadar hb, ht, masa perdarahan, masa pembekuan


- USG : bila perlu u/menentukan adanya sisa jaringan konsepsi intrauterin

Penanganan :

- Pencegahan
o Obati anemia dalam kehamilan
o Pd pasien dg riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya, persalinan
harus berlangsung di rumah sakit
o Jgn memijat dan mendorong uterus ke bawah sebelum plasenta lepas
o Berikan 10 unit oksitosin im setelah anak lahir dan 0,2 mg ergometrin im
setelah plasenta lahir
- Penanganan
o Tentukan apakah terdapat syok, bila ada segera berikan transfusi cairan/darah,
kontrol perdarahan dan O2
o Bila keadaan umum telah membaik, lakukan pemeriksaan untuk menentukan
etiologi
o Pd retensio plasenta, bila plasenta belum lahir dlm 30 menit, lahirkan plasenta
dg plasenta manual. Bila plasenta akreta, segera hentikan plasenta manual dan
lakukan histerektomi. Bila hanya sisa plasenta, lakukan pengeluaran plasenta
dg digital/kuretase, sementara infus oksitosin diteruskan
o Pd trauma jalan lahir, segera lakukan reparasi
o Pd atonia uteri, lakukan masase uterus dan penyuntikan 0,2 mg ergometrin iv
atau prostaglandin parenteral. Jika tidak berhasil, lakukan kompresi bimanual
pd uterus dg cara memasukkan tangan kiri ke dalam vagina dan dalam posisi
mengepal diletakkan di forniks anterior; tangan kanan diletakkan di dinding
perut memegang fundus uteri. Bila tetap gagal, dapat dipasang tampon
uterovaginal, dg cara mengisi cavum uteri dg kasa sampai padat selama 24 jam
atau dipasang kateter folley. Bila tindakan tersebut tidak dapat menghentikan
perdarahan juga, terapi definitif yg diberikan adalah histerektomi, atau ligasi
a.uterina
o Bila disebabkan gangguan pembekuan darah, berikan transfusi plasma segar

Pada perdarahan pascapersalinan sekunder :

o Kompresi bimanual sedikitnya selama 30 menit


o Antibiotik spektrum luas
o Oksitosin 10U im tiap 4 jam atau 10-20 U/l iv dg tetesan lambat, 15-metil PGF2a
0,25 mg im tiap 2 jam atau ergot alkaloid tiap 6 jam sedikitnya selama 2 hari

Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

Infeksi puerperium
a. Definisi
Infeksi nifas : infeksi bakteri pd traktus genitalia, terjadi sesudah melahirkan ditandai
kenaikan suhu sampai 38oC atau lebih selama 2 hari dlm 10 hari pertama pascapersalinan,
dg mengecualikan 24 jam pertama.
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga
puerperium : episode tugas fisiologi wanita sesudah melahirkan untuk kembali ke keadaan
semula

Infeksi terbatas lokalisasinya pada perineum, vulva, serviks dan endometrium


Infeksi yang menyebar ke tempat lain melalui : pembuluh darah vena, pembuluh limfe,
dan endometrium
Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis
Obstetri : Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC

3. Etiologi
Lebih dari 1 spesies. Kuman anaerob adalah kokus gram + (peptostreptokok, peptokok,
bakteriodes, clostridium). Kuman aerob adalah bermacam gram + dan E.coli. mikoplasma
(dlm laporan terakhir) berperan penting sbg etiologi infeksi nifas
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga
4. Predisposisi
Semua keadaan yg dapat menurunkan daya tahan penderita, misal : perdarahan banyak,
preeklamsi, infeksi lian (misal: pneumonia, pnykt jantung, dsb)
Partus lama, terutama dg ketuban pecah lama
Tindakan bedah vagina perlukaan jalan lahir
Tertinggalnya sisa placenta, selaput ketuban dan bekuan darah
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

5. Patogenesis
CARA TERJADINYA INFEKSI
- Memanipulasi penolong yang tidak suci hama, atau pemeriksaan dalam yang berulang-
ulang dapat membawa bakteri yang sudah ada ke dalam rongga rahim
- Alat-alat yang tidak suci hama
- Infeksi droplet, sarung tangan dan alat-alat terkena infeksi kontaminasi yang berasal
dari hidung, tenggorokan dari penolong dan pembantunya atau orang lain
- Infeksi rumah sakit (hospital infection)
- Koitus pada akhir kehamilan sebenarnya tidak begitu berbahaya, kecuali bila ketuban
sudah pecah
- Infeksi inpartum, sering dijumpai pada partus lama
Sumber : Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH. Editor : Dr. Delfi Lutan, DSOG. Sinopsis Obstetri :
Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi. Jillid 1. Edisi 2. EGC

6. Gejala
Temperatur naik pada hari kedua post partum diatas 38 C
Mengeluarkan lokia kotor, berbau dan mungkin masih bercampur darah
Involusi uterus terlambat (sub involusi uteri) karena sisa plasenta yang menyebabkan
perdarahan sekunder.
Sumber : Manuaba, I.B.G., 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Cetakan I, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta

j. Sapremia ("retention fever")


- Demam karena retensi gumpalan darah atau selaput janin.
- Demam ini dapat turun segera setelah darah dan selaput keluar.
- Keadaan ini dicurigai jika pasien yang demam dan merasakan his royan.
- Jika penderita demam dan perdarahan agak banyak, mungkin ada jaringan plasenta
yang tertinggal.
k. Luka perineum, vulva, vagina, serviks
- Perasaan nyeri dan panas timbul pada luka yang terinfeksi
- jika terjadi pernanahan dapat disertai dengan suhu tinggi dan menggigil.
l. Endometritis
Gambaran klinis endometritis berbeda-beda bergantung pada virulensi kuman
penyebabnya.
- Biasanya demam mulai 48 jam pascapersalinan dan bersifat naik turun (remittens).
- His royan lebih nyeri dari biasa dan lebih lama dirasakan.
- Lokia bertambah banyak, berwarna merah atau coklat, dan berbau. Lokia yang
berbau tidak selalu rnenyertai endometritis sebagai gejala.
- Sering ada subinvolusi.
- Leukosit naik antara 15000-30000/mm3.
- Sakit kepala
- kurang tidur
- kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita.
- Jika infeksi tidak meluas
- suhu turun berangsur-angsur dan normal pada hari ke-7-10.
m. Tromboflebitis pelviks
- Biasanya terjadi pada minggu ke-2, seperti demam menggigil;
- biasanya pasien sudah memperlihatkan suhu yang tidak tenang seperti pada
endometritis sebelumnya.
- Penyakit berlangsung antara 1-3 bulan dan angka kematian tinggi.
- Kematian biasanya karena penyulit paru.
n. Tromboflebitis femoralis
- Terjadi antara hari ke-10-20 yang ditandai dengan kenaikan suhu dan nyeri pada
tungkai, biasanya yang kiri.
- Tungkai biasanya tertekuk dan terputar ke luar dan agak sukar digerakkan.
- Kaki yang sakit biasanya lebih panas dari kaki yang sehat.
- Palpasi menunjukkan adanya nyeri sepanjang salah satu vena kaki yang teraba
sebagai alur yang keras biasanya pada paha.
- Timbul edema yang jelas, yang biasanya mulai pada ujung kaki atau pada paha dan
kemudian naik ke atas. Edema ini lambat sekali hilang.
- Keadaan umum pasien tetap baik.
- Kadang-kadang terjadi tromboflebitis pada kedua tungkai.
o. Sepsis puerperalis
- Suhu tinggi (40 atau lebih, biasanya remittens)
- menggigil
- keadaan umum buruk (nadi kecil dan tinggi, napas cepat, dan gelisah)
- Hb menurun karena hemolisis dan lekositosis.
p. Peritonitis
- Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi
- demam menggigil
- nadi tinggi dan kecil
- perut gembung (kadang-kadang ada diare)
- muntah
- pasien gelisah dan mata cekung
- dan sebelum mati ada delirium dan koma.
q. Parametritis (Cellulitispelvica)
- Parametritis harus dicurigai bila suhu pascapersalinan tetap tinggi, lebih dari satu
minggu.
- nyeri pada sebelah atau kedua belah perut bagian bawah sering memancar pada
kaki.
- Setelah beberapa waktu pada pemeriksaan dalam, dapat teraba infiltrat dalam
parametrium yang kadang-kadang mencapai dinding panggul. Infiltrat ini dapat
diresorpsi kembali, tetapi lambat sekali, menjadi keras, dan tidak dapat digerakkan.
Kadangkadang infiltrat ini menjadi abses.
r. Salpingitis
- Sering disebabkan oleh gonore; biasanya terjadi pada minggu ke-2.
- Pasien demam menggigil
- nyeri pada perut bagian bawah biasanya kiri dan kanan.
- Salpingitis dapat sembuh dalam 2 minggu, tetapi dapat mengakibatkan
kemandulan.
Sumber : Sastrawinata Sulaiman, 2005, Obstetri Patologi, Cetakan I, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta

7. Pencegahan
Selama kehamilan bila pasien anemia, diperbaiki. Berikan diet yg baik. Koitus pd
hamil tua sebaiknya dilarang
Selama persalinan, batasi masuknya kuman di jalan lahir. Jaga persalinan agar tidak
berlarut-larut. Selesaikan persalinan dengan trauma sesedikit mungkin. Cegah
perdarahan banyak dan penularan penyakit dari petugas dalam kamar bersalin. Alat-
alat persalinan harus steril dan lakukan pemeriksaan hanya bila perlu dan atas
indikasi yang tepat
Selama nifas, rawat higiene perlukaan jalan lahir. Jangan merawat pasien dengan
tanda-tanda infeksi nifas dengan wanita dalam nifas yang sehat
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

8. Penanganan
Suhu diukur dari mulut sedikitnya 4x sehari, berikan terapi antibiotik, perhatikan diet.
Lakukan transfusi darah bila perlu. Hati-hati bila ada abses, jada supaya nanah tidak masuk
ke dalam rongga perineum
Sumber : kapita selekta kedokteran, jilid I, edisi ketiga

Step 4

Nifas

Lokhea purulenta Perdarahan Post


Partum

Infeksi
Primer : atonia uteri Sekunder : Retensio
Placenta

Pemeriksaan
penunjang :Kultur
darah, darah rutin,
USG

Terapi : sesuai hasil


Lab

Anda mungkin juga menyukai