Anda di halaman 1dari 123

ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF INVESTASI ALAT

MUAT DAN ALAT ANGKUT PADA PENAMBANGAN


BATUBARA DI PT. LAMINDO INTER MULTIKON
SITE BUNYU, KAB. BULUNGAN,
PROV. KALIMANTAN UTARA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat dalam Memperoleh Gelar Sarjana


Pada Jurusan Teknik Konsentrasi Pertambangan Umum

OLEH :

HENDRA SAPUTRA
2012 31 774

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


UNIVERSITAS PEJUANG REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2016
ANALISIS PEMILIHAN ALTERNATIF INVESTASI ALAT
MUAT DAN ALAT ANGKUT PADA PENAMBANGAN
BATUBARA DI PT. LAMINDO INTER MULTIKON
SITE BUNYU, KAB. BULUNGAN,
PROV. KALIMANTAN UTARA

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar Program Sarjana Strata
Satu (S1) Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas
Pejuang Republik Indonesia

Disusun dan Diajukan Oleh

Hendra Saputra
2012 31 774

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS PEJUANG REPUBLIK INDONESIA
MAKASSAR
2016
PERSETUJUAN PEMBIMBING

Judul Skripsi : Analisis Pemilihan Alternatif Investasi Alat Muat dan


Alat Angkut Pada Penambangan Batubara Di PT.
Lamindo Inter Multikon Site Bunyu, Kab. Bulungan,
Prov. Kalimantan Utara
Nama Penulis : Hendra Saputra

NIM : 2021 31 774

Telah diperiksa dan disetujui untuk diajukan pada Seminar Hasil

Makassar, 23 November 2016

Mengetahui

Pembimbing I Pembimbing II

Andi Ilham Samanlangi, ST., MT Enni Tri Mahyuni, ST., MT


NIP. 1971 0101 2005 001 005 NIDN : 09-1212-7301

Menyetujui,
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Teknik Universitas Pejuang R.I

Enni Tri Mahyuni, ST., MT


NIDN : 09-1212-7301
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI

Judul : Analisis Pemilihan Alternatif Investasi Alat Muat


dan Alat Angkut Pada Penambangan Batubara Di
PT. Lamindo Inter Multikon Site Bunyu,
Kab. Bulungan, Prov. Kalimantan Utara.
Nama : Hendra Saputra

Stambuk : 2021 31 774

Disetujui Tanggal : 03 Desember 2016

TIM PENGUJI

Ketua : Andi Ilham Samanlangi, ST.,MT ...

Sekertaris : Fatmawaty Rachim, ST.,MT ...

Penguji 1 : Andi Amrullah, ST.,MT ...

Penguji 2 : Enni Tri Mahyuni, ST.,MT ...

Penguji 3 : Ir. H. Abd. Majid Kasim, MM ...

Mengetahui

Dekan Fakultas Teknik


Universitas Pejuang Republik Indonesia Makassar

Andi Ilham Samanlangi, ST., MT


NIP. 1971 0101 2005 001 005
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Yang bertandatangan di bawah ini :

Nama : Hendra Saputra

NIM : 2012 31 774

Jurusan : Teknik Pertambangan Umum

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan

pengambilan tulisan atau pemikiran orang lain. Apabila dikemudian hari

terbukti atau dapat dibuktikan bahwa sebagian atau keseluruhan tesis ini

hasil karya orang lain, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan

tersebut.

Makassar, Desember 2016


Yang menyatakan,

Hendra Saputra

v
MOTTO DAN PERUNTUKAN

SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK AKAN MENGUBAH NASIB SUATU

KAUM KECUALI KAUM ITU SENDIRI YANG MENGUBAH APA

YANG ADA PADA DIRI MEREKA. (QS AR-RAD AYAT 11)

SKRIPSI INI KU PERSEMBAHKAN KEPADA :

AYAH DAN BUNDA KU TERCINTA

YANG TELAH MEMBERIKAN KASIH SAYANG

MENDIDIK DAN MEMBERIKAN KESEMPATAN KEPADAKU UNTUK

BELAJAR

GURU DAN DOSEN YANG TELAH MEMBERIKAN ILMU KEPADAKU

DENGAN TULUS DAN IKHLAS UNTUK BELAJAR

SERTA ORANG-ORANG YANG MEMBANTUKU BERJUANG UNTUK

MENGAPAI GELAR SARJANA TEKNIK (ST)

SERTA SESEORANG YANG KUHARAPKAN DAPAT MENJADI

SAHABAT UNTUK BERJUANG MENGGAPAI RIDHO-NYA.

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
kepada kita sekalian, khususnya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Pemilihan Alternatif Investasi
Alat Muat Dan Alat Angkut Pada Penambangan Batubara Di PT. Lamindo
Inter Multikon Site Bunyu, Kab. Bulungan, Prov. Kalimantan Utara dapat
terselesaikan dengan baik.

Segala usaha dan upaya telah dilakukan penulis untuk menyelesaikan


skripsi ini sebaik mungkin, namun penulis menyadari bahwa skripsi ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik serta
koreksi dari berbagai pihak demi perbaikan dan penyempurnaan akan
penulis terima dengan lapang dada.

Terima kasih yang sedalam-dalamnya dan sembah sujud Ananda


hanturkan kepada Ayahanda Sakarun Lahading dan Ibunda Siti
Zubaidah yang telah mencurahkan cinta dan kasih sayangnya serta
keikhlasan dalam membesarkan, mendidik dan membiayai penulis serta
doa restu yang tak henti-hentinya untuk keberhasilan penulis. Tak lupa
pula dengan segala hormat penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
tulus dan ikhlas kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan
dukungan baik moril maupun materi, terutama kepada :

Ibu DR. Hj. Andi Niniek Fariaty Lantara, SE.,MS, Rektor Universitas
Pejuang Republik Indonesia Makassar. Bapak Andi Ilham Samanlangi
ST.,MT, Dekan Fakultas Teknik Universitas Pejuang Republik Indonesia
Makassar. Ibu Enni Tri Mahyuni ST.,MT, selaku Ketua Jurusan Teknik
Pertambangan Universitas Pejuang Republik Indonesia Makassar. Bapak

vii
Andi Ilham Samanlangi ST.,MT, selaku Pembimbing I yang telah
meluangkan waktunya di sela kesibukan beliau untuk mengarahkan dan
membimbing penulis dalam penyusunan skripsi ini sampai tahap
penyelesaian. Ibu Enni Tri Mahyuni ST.,MT, selaku Pembimbing II yang
telah membimbing dan mengarahkan dalam upaya penyusunan skripsi ini
sampai tahap penyelesaian. Bapak dan Ibu Dosen pengajar dan Staf
pegawai Fakultas Teknik yang selalu memberikan ilmu kepada penulis
selama mengikuti perkuliahan serta membantu dan memberikan
dukungan dalam penyusunan skripsi ini. Bapak Arpen Sumantri, ST
selaku Kepala Teknik Tambang PT. Lamindo Inter Multikon yang telah
mengizinkan penulis meneliti di lokasi tambang tersebut. Bapak Aco
Amir, ST selaku Wakil Kepala Teknik Tambang PT. Lamindo Inter
Multikon yang telah membantu dan mengajarkan penulis dalam
melakukan penilitian. Bapak M.Sadaruddin, S.Sos selaku Kepala CSR
Comdev PT. Lamindo Inter Multikon yang telah menerima dan
mengizinkan penulis meneliti diperusahaan tersebut. Bapak Muhammad
Riyadi, Rahman, ST dan Sakarun Lahading selaku pembimbing
lapangan yang telah banyak membantu mengumpulkan data dan
mengajarkan ilmunya kepada penulis. Seluruh Departement dan Staf PT.
Lamindo Inter Multikon. Terutama kepada Departement Mining Survey,
Departement Mining, Departement CSR dan Departement HSE yang telah
banyak membantu dalam pengambilan data dan penyusunan laporan
Tugas Akhir.

Selanjutnya terima kasih pula penulis hanturkan kepada :

Keluarga besarku tercinta dan adikku tersayang Sirajul Arrahman yang


telah banyak membantu baik secara moril maupun materil. Adindaku
Widyasari Lasawedi atas bantuannya baik secara moril maupun materil
dan kesetiannya menemani penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Saudara seperjuangan (Asrul, Salman, Ibnu Mubarak, dan Abdul Mutalib)
atas segala bantuan dan kebersamaannya dalam melewati masa skripsi

viii
dan perkuliahan yang tidak singkat ini. Rekan-rekan Teknik Pertambangan
UPRI Makassar khususnya angkatan 2012 dan semua pihak yang tidak
bisa disebutkan satu persatu atas bantuannya dan dukungannya.

Akhir kata, penulis berharap semoga amal baik semua pihak yang turut
memberikan andil dalam penyusunan skripsi ini mendapat pahala dari
Allah SWT. Semoga kesalahan atau kekurangan dalam penyusunan
skripsi ini akan semakin memotivasi penulis dalam belajar, Amiin Amiin
Amiin Yaa Rabbal Alamin.

Makassar, Desember 2016


Penulis,

Hendra Saputra
2012 31 774

ix
ABSTRAK

Hendra Saputra. Analisis Pemilihan Alternatif Investasi Alat Muat dan Alat
Angkut Pada Penambangan Batubara Site Bunyu, Kab. Bulungan, Prov.
Kalimantan Utara. Dibimbing oleh Andi Ilham Samanlangi dan Enni Tri
Mahyuni.

PT. Lamindo Inter Multikon adalah salah satu perusahaan swasta nasional
yang bergerak di industri pertambangan Indonesia, yang terletak di Pulau
Bunyu Kecamatan Bunyu Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.
Di wilayah ini PT. Lamindo Inter Multikon mempunyai luas area
penambangan 844,759 Ha, untuk saat ini melakukan penambangan di tiga
Pit yaitu Pit Mitra, Pit Warga Utama dan Pit 10 dengan target produksi
sebesar 500.000 ton/bulan atau 6.000.000 ton/tahun yang hasil
produksinya akan di ekspor ke India.

Berdasarkan hasil penelitian, produksi yang dapat dicapai alat Muat


Excavator Doosan S500 LC-V dan Alat Angkut Mercedes Benz Actros
4046 AK yaitu, pada Pit Mitra untuk 1 unit alat muat adalah 351,48 ton/jam
dan untuk 10 unit alat angkut adalah 346,60 ton/jam, pada Pit Warga
Utama untuk 1 unit alat muat adalah 351,48 ton/jam dan untuk 6 unit alat
angkut adalah 334,44 ton/jam, pada Pit 10 untuk 1 unit alat muat adalah
351,48 ton/jam dan untuk 7 unit alat angkut adalah 347,62 ton/jam. Biaya
operasi untuk 3 unit alat muat Rp. 7.005.237.327 / tahun dan untuk 23 unit
alat angkut Rp. 36.480.403.246 / tahun, sedangkan biaya sewa alat untuk
3 unit alat muat Rp. 6.681.600.000 / tahun dan untuk 23 unit alat angkut
Rp. 38.419.200.000 / tahun. Dari hasil perhitungan menggunakan analisa
Present Worth Cost dan Future Worth Cost, biaya yang dikeluarkan untuk
alternatif beli alat adalah alat muat PWC = Rp. 42.167.033.200, FWC =
Rp. 204.090.893.239 dan untuk alat angkut PWC = Rp. 225.573.383.683,
FWC = Rp. 1.075.389.048.452 sedangkan biaya yang dikeluarkan untuk
alternatif sewa alat adalah alat muat PWC = Rp. 26.933.529.600, FWC =
Rp. 166.764.049.920 dan untuk alat angkut PWC = Rp. 154.867.795.200,
FWC = Rp. 958.893.287.040.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan analisa Present


Worth Cost dan Future Worth Cost maka alternatif yang akan dipilih
adalah menyewa alat karena Cost beli > Cost sewa. Dalam hal ini yang
dipertimbangkan hanya pada sisi biaya investasi operasional saja.

Kata kunci : Produksi, alat muat, alat angkut, biaya, sewa dan beli

x
ABSTRACT

Hendra Saputra. Analysis of Alternative Investments Selection Tool Load


and Transportation Equipment In Coal Mining Site Bunyu, Kab. Bulungan,
Prov. North Kalimantan. Supervised by Andi Ilham Samanlangi and Enni
Tri Mahyuni.

PT. Lamindo Inter Multikon is one of the national private company


engaged in the Indonesian mining industry, which is located on the island
Bunyu Bunyu Bulungan District of North Kalimantan province. In this
region PT. Lamindo Inter Multikon has an area of 844.759 hectares of
mining, this time to mine in three Pit Pit Partners namely, Pit and Pit
Residents Top 10 with a production target of 500,000 tons / month or
6,000,000 tons / year production results will be exported to India.

Based on the research, production can be achieved Load tool Excavator


Doosan S500 LC-V and Transport Equipment Mercedes Benz Actros 4046
AK namely, the Pit Partners for 1 unit loading tool is 351.48 tons / hour
and for 10 units of conveyance is 346, 60 tons / hour, at Pit Top Citizens
for 1 unit loading tool is 351.48 tons / hour and for 6 units of conveyance is
334.44 tons / hour, at Pit 10 for 1 unit loading tool is 351.48 tons / hour
and to 7 units of conveyance is 347.62 tons / hour. Operating costs for the
third and unloading equipment unit Rp. 7,005,237,327 / year and for 23
units of conveyance Rp. 36,480,403,246 / year, while the cost of rental
equipment to fit tool unit 3 Rp. 6.6816 billion / year and for 23 units of
conveyance Rp. 38.4192 billion / year. From the calculation using analysis
Cost Present Worth and Future Worth Cost, costs incurred for the
purchase of alternative tool is a tool unloading PWC = Rp.
42,167,033,200, FWC = Rp. 204 090 893 239 and for conveyance PWC =
Rp. 225 573 383 683, FWC = Rp. 1,075,389,048,452 while the cost
incurred to lease an alternative tool is a tool unloading PWC = Rp.
26,933,529,600, FWC = Rp. 166 764 049 920 and for conveyance PWC =
Rp. 154 867 795 200, FWC = Rp. 958 893 287 040.

Based on calculations using analysis Cost Present Worth and Future


Worth Cost, the alternative would have is to hire a tool for purchasing
Cost> Cost lease. In this case that is considered only on the operational
investment costs alone.

Keywords: Production, tool loading, transportation, fees, rent and buy

xi
DAFTAR ISI

Halaman
SAMPUL .. i
HALAMAN JUDUL .. ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING iii
HALAMAN PENGESAHAN DEWAN PENGUJI iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .. v
HALAMAN MOTTO DAN PERUNTUKAN . vi
KATA PENGANTAR .. vii
ABSTRAK x
ABSTRACT . xi
DAFTAR ISI . xii
DAFTAR GAMBAR xiv
DAFTAR TABEL . xv
DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG . xvi
DAFTAR LAMPIRAN . xvii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1-1
1.2 Rumusan Masalah ... 1-3
1.3 Tujuan Penelitian . 1-4
1.4 Manfaat Penelitian .. 1-4
1.5 Kerangka Pikir . 1-5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum ... 2-1
2.2 Penelitian Relevan .. 2-11
2.3 Landasan Teori ... 2-15
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian . 3-1
3.2 Jenis Penelitian ...... 3-1
3.2 Waktu dan Lokasi Penelitian . 3-2

xii
3.3 Jenis dan Sumber Data . 3-4
3.4 Defenisi Operasional Variabel .. 3-6
3.5 Teknik Pengumpulan Data 3-7
3.6 Populasi dan Sample . 3-7
3.7 Instrumen Penelitian .. 3-8
3.8 Metode Pengelolaan .. 3-9
3.9 Analisis Data 3-10
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Perhitungan Jumlah Produksi Alat 4-1
4.2 Perhitungan Biaya Beli dan Sewa Alat 4-2
4.3 Perbandingan Antara Beli dan Sewa Alat .. 4-6
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan .. 5-1
5.2 Saran 5-1
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xiii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1.1 Kerangka Pikir 1-4
2.1 Stratigrafi Regional IUP PT. LIM 2-3
2.2 Cara Penentuan Fill Factor 2-16
3.1 Ruang Lingkup Penelitian 3-1
3.3 Peta Lokasi 3-3

xiv
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1 Data Curah Hujan 2-2
2.2 Data Kualitas Batubara 2-6
2.3 Penelitian Relevan 2-9
3.1 Cycle Time Alat Muat 3-8
3.2 Cycle Time Alat Angkut 3-9
3.3 Fill Factor 3-9
3.4 Daftar Biaya Alat 3-9
4.1 Produksi Pit Mitra 4-1
4.2 Produksi Pit Warga Utama 4-1
4.3 Produksi Pit 10 4-2
4.4 Investasi Alat 4-2
4.5 Nilai Sisa Alat 4-3
4.6 Biaya Kepemilikan Alat 4-3
4.7 Biaya Operasi Alat Muat 4-4
4.8 Biaya Operasi Alat Angkut 4-4
4.9 Biaya Sewa Alat 4-5
4.10 Analisa PWC Beli Alat Muat 4-7
4.11 Analisa PWC Beli Alat Angkut 4-7
4.12 Analisa FWC Beli Alat Muat 4-8
4.13 Analisa FWC Beli Alat Angkut 4-9
4.14 Analisa PWC Sewa Alat Muat 4-10
4.15 Analisa PWC Sewa Alat Angkut 4-10
4.16 Analisa FWC Sewa Alat Muat 4-11
4.17 Analisa FWC Sewa Alat Angkut 4-12
4.18 Perbandingan Alternatif Beli dan Sewa Alat 4-12

xv
DAFTAR SIMBOL/ISTILAH

Lambang/Singkatan Keterangan

MIS Management Information System

IUP Izin Usaha Pertambangan

LIM Lamindo Inter Multikon

a.r As Received

a.d.b Air Dried

BCM Bank Cubik Meter

PWC Present Worth Cost

FWC Future Worth Cost

SPSS Statistical Product and Service


Solutions

C Cost

OC Opportunity Cost

C Karbon

H Hidrogen

N Nitrogen

O Oksigen

P Nilai Sekarang

F Nilai Yang Akan datang

i Suku Bunga

L Nilai Sisa

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Koordinat Wilayah Izin Pertambangan PT. LIM L 1-1
2. Data Jam Kerja PT. Lamindo Inter Multikon .. L 2-1
3. Daftar Harga Beli dan Sewa Alat Muat dan Alat Angkut ... L 3-1
4. Perhitungan Jumlah dan Produksi Alat L 4-1
5. Perhitungan Biaya Beli dan Sewa Alat L 5-1
6. Perbandingan Antara Beli Alat Dan Sewa Alat .. L 6-1
7. Data Pengamatan Cycle Time Alat Muat ... L 7-1
8. Data Pengamatan Cycle Time Alat Angkut . L 8-1
9. Data Pengamatan Fill Factor Alat Muat ... L 9-1
10. Faktor Pengembang (Swell Factor) .. L 10-1
11. Data Perhitungan Effisiensi Kerja Alat Muat ... L 11-1
12. Data Perhitungan Effisiensi Kerja Alat Angkut L 12-1
13. Faktor Perbaikan Alat Berat .. L 13-1
14. Spesifikasi Alat Muat Excavator Doosan S500 LC-V L 14-1
15. Spesifikasi Alat Angkut Mercedes Benz Actros .. L 15-1
16. Peta Lokasi Penelitian L 16-1

xvii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT. Lamindo Inter Multikon adalah salah satu perusahaan swasta nasional
yang bergerak di industri pertambangan Indonesia, yang terletak di Pulau
Bunyu Kecamatan Bunyu Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.
Di wilayah ini PT. Lamindo Inter Multikon mempunyai luas area
penambangan 844,759 Ha, untuk saat ini melakukan penambangan di tiga
Pit yaitu Pit Mitra, Pit Warga Utama dan Pit 10 dengan target produksi
sebesar 500.000 ton/bulan atau 6.000.000 ton/tahun yang hasil
produksinya akan di ekspor ke India. Kegiatan penambangannya
menggunakan sistem tambang terbuka (surface mining) dengan metode
open pit. Tahap-tahap penambangan yang dilakukan adalah pembersihan
lahan (land clearing), pengupasan tanah pucuk (stipping top soil),
pengupasan tanah penutup (stripping overburden), pembersihan batubara
(coal cleaning up), penggalian batubara (coal getting), pemuatan dan
pengangkutan batubara (coal getting), pengolahan batubara (coal
crushing), pengangkutan batubara ke stockpile (coal hauling &
rehandling), dan penjualan/pemasaran (coal loading).

Batubara merupakan pilihan alternatif sebagai pengganti dari minyak bumi


dimana cadangan minyak bumi semakin menipis karena permintaan
konsumen yang terus meningkat. Batubara juga salah satu bahan galian
yang strategis dan salah satu bahan baku energi nasional yang
mempunyai peran yang besar dalam pembangunan nasional.

Usaha penambangan tidaklah sama dengan mengelola usaha


sumberdaya yang lain mengingat pengelolaan usaha pertambangan
adalah bersifat padat modal, berisiko tinggi dan waktu kerjanya lama,
sehingga dibutuhkan perencanaan yang baik dengan konsep konsep
yang sesuai dengan keuntungan sehingga pengendalian biaya dalam

1-1
setiap tahapan kegiatannya, dapat menghasilkan keuntungan sebesar
besarnya dengan tetap memperhatikan faktor sosial dan lingkungan. Pada
kegiatan penambangan itu sendiri, keberadaan alat mekanis memegang
peranan penting untuk menunjang keberhasilan kegiatan penambangan
sehingga dibutuhkan perancangan yang tepat agar penggunaan alat
menjadi optimal. Selain itu, rancangan yang tepat juga dibutuhkan dalam
menganalisa segi investasi terhadap pemilihan alat mekanis yang akan
digunakan apakah ingin membeli atau dengan sewa, berdasarkan biaya
operasi alat yang ditinjau dari biaya terkecil yang dikeluarkan perusahaan
dengan tetap memperhitungkan pencapaian target produksi.

Hal inilah yang menjadi dasar bagi penulis untuk mengajukan judul tugas
akhir dengan judul Analisis Pemilihan Alternatif Investasi Alat Muat dan
Alat Angkut Pada Penambangan Batubara Di PT. Lamindo Inter Multikon
Site Bunyu Kabupaten Bulungan Provinsi Kalimantan Utara.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan tolak ukur dari latar belakang di atas dapat dirumuskan


masalah sebagai berikut :
1. Berapa jumlah dan produksi alat yang diperlukan pada alat muat dan
alat angkut untuk mencapai target produksi ?
2. Berapa biaya operasi alat muat dan alat angkut yang akan dikeluarkan
selama kegiatan penambangan ?
3. Manakah yang lebih baik digunakan antara beli atau sewa alat muat
dan alat angkut dalam melakukan penambangan batubara ?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :


1. Jumlah dan produksi alat yang diperlukan pada alat muat dan alat
angkut untuk mencapai target produksi.

1-2
2. Biaya operasi alat muat dan alat angkut yang akan dikeluarkan
selama penambangan.
3. Biaya yang paling ekonomis yang akan dikeluarkan antara investasi
alat baru dengan sewa alat.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Dapat memberikan usulan dan rekomendasi dalam peningkatan
pencapai target produksi yang diinginkan perusahaan.
2. Dapat dijadikan bahan referensi perusahaan untuk mengetahui
analisa biaya yang paling ekonomis yang akan dikeluarkan antara beli
atau sewa alat dalam kegiatan penambangan.

1.5 Kerangka Pikir

Kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antara variable


yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan tersebut
selanjutnya dianalisa secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan
sintesa tentang hubungan antara variable yang diteliti. Sintesa tentang
hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan
hipotesis. Berikut ini adalah kerangka pikir dari penelitian yang dilakukan
untuk menganalisa pemilihan alternatif investasi alat muat dan alat angkut
pada penambangan batubara, apakah dengan membeli alat baru ataupun
dengan menyewa alat ditinjau dari biaya yang paling ekonomis.

1-3
Analisis Pemilihan
Alternatif Investasi Alat
Muat Dan Alat Angkut

Pemuatan Pengangkutan

Cycle Fill Effisiensi Effisiensi Cycle


Time Factor Kerja Kerja Time
Target
Produksi

Jumlah Alat Muat dan Alat Angkut

Beli Alat Pemilihan Sewa Alat


Alternatif

Investasi alat Biaya sewa alat


Nilai sisa alat Biaya operasi
Biaya kepemilikan (ditanggung pihak
Biaya operasi yang menyewakan)

Analisa Ekonomi
Present Worth Cost
(PWC) dan Future
Worth Cost (FWC)

Biaya yang paling ekonomis

Sumber : Hasil Penelitian

Gambar 1.1 Kerangka Pikir

1-4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum


2.1.1 Geografi Daerah Penelitian
2.1.1.1 Penduduk

Penduduk yang tinggal disekitar lokasi penambangan terdiri dari berbagai


suku, antara lain suku Tidung, suku Banjar dan suku Dayak yang
merupakan penduduk asli Kalimantan Utara serta lainya sebagai
pendatang yang sudah cukup lama menetap di daerah tersebut seperti
Jawa, Sumatera, Bugis, Toraja, Makassar dll, yang dapat ditempuh
dengan menggunakan mobil 20 menit dari lokasi penambangan. Mata
pencaharian masyarakat setempat adalah bertani, berdagang, pegawai
negeri sipil serta ada yang bekerja diperusahaan di sekitar daerah
tersebut yang dapat di tempuh dengan menggunakan mobil dari lokasi
tambang.

2.1.1.2 Iklim Dan Curah Hujan

Berdasarkan letak geografisnya maka daerah penelitian merupakan


daerah beriklim tropis, karena posisinya berdekatan dengan garis
khatulistiwa. Secara umum daerah penelitian berdasarkan nilai curah
hujan terbagi dalam dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan
seperti halnya daerah tropis lainya. Berdasarkan data curah hujan dari
Depertemen M.I.S PT. LIM dan kriteria penilaian bulan basah (>100 ml),
bulan lembab (60-100 ml), dan bulan kering (<60 ml) selama periode 4
tahun (2013 2016) maka di peroleh rata rata curah hujan antara
1.706,5 - 4.257,1 mm/tahun (Lihat Tabel 2.1).

2-1
Tabel 2.1 Data Curah Hujan Tahun 2013 2016
2013 2014 2015 2016

No Bulan CH CH CH CH
Hari Hari Hari Hari
(mm) (mm) (mm) (mm)

1 Januari 259,56 14 322,04 19 276,4 14 114,5 9

2 Februari 324,85 18 144,47 9 99,85 5 71 4

3 Maret 244,48 14 205,47 9 159,4 13 129,55 10

4 April 636,78 26 333,15 22 147,8 15 59,2 6

5 Mei 454,38 25 236,17 15 471,8 18 262,5 17

6 Juni 293,83 15 197,54 15 219,8 12 358,8 22

7 Juli 520,29 25 385,69 22 221 10 403,6 17

8 Agustus 267,95 12 167,31 15 179,3 10 307,4 17

9 September 266,02 22 106,25 12 219,7 14 - -

10 Oktober 298,64 16 265,6 20 210,25 19 - -

11 November 297,03 20 247,2 12 223,2 18 - -

12 Desember 393,3 23 341,2 22 211,8 9 - -

Total 4.257,13 230 2.952,09 192 2.640,30 157 1.706,55 102

Sumber : Departemen M.I.S PT. LIM

2.1.1.3 Topografi

Topografi daerah penambangan pada umumnya adalah daerah


perbukitan dengan ketinggian antara 30 80 m di atas permukaan air laut.
Bentuk relief daerah tidak rata dimana di antara bukit terdapat dataran dan
rawa-rawa, yang pada umumnya ditumbuhi oleh pepohonan dan semak
belukar.

2-2
2.1.1.4 Keadaan Flora Dan Fauna

Keadaan flora di daerah sekitar wilayah penelitian hampir sama dengan


daerah lain di Indonesia. Tumbuhan yang banyak di daerah ini adalah
pohon karet, rumput ilalang, pohon rambutan, kayu jati dan lain-lain, yang
tumbuh subur sesuai daerah iklim tropis.

Satwa liar yang ada di wilayah pertambangan penelitian adalah satwa


yang dilindungi, seperti ular, buaya, kijang, burung beo, dan musang.

2.1.2 Geologi Daearah Penelitian


2.1.2.1 Stratigrafi Daerah Penelitian

Formasi batuan yang menyusun daerah penelitian yaitu terdiri dari batu
lempung pasiran, batupasir dengan selingan batubara. Batupasir
penyusunnya adalah batupasir kuarsa, batupasir yang mengandung
kepingan batubara dan batupasir dengan struktur lapisan bersusun dari
penyebaran jenis batuan dapat ditunjukan bahwa proses pengendapan
berada didaerah delta dan laut dangkal.

MASA ZAMAN KALA FORMASI


ERA PERIOD EPOCH SEDIMEN VULKANIK
Holosen Aluvium
Kuarter

Pleitosen

Akhir
Tengah
Sajau
Awal
Sinjin
Pleitosen
KENOZOIKUM

Akhir Tabul
Miosen

Tengah Meliat
Tersier

Awal
Naintipo Jelai
Oligosen
Eosen Sembakung
Paleosen
Bengara
Kapur

Akhir
Bawah
Sumber : PT. LIM

Gambar 2.1 Stratigrafi Regional IUP PT. LIM

2-3
2.1.2.2 Geologi Regional

Berdasarkan atas ciri litologinya, batuan-batuan yang terendapkan pada


daerah penelitian dikelompokkan menjadi beberapa formasi, yaitu :
Formasi Aluvium, Formasi Sajau, Formasi Sijin, Formasi Tabul, Formasi
Meliat, Formasi Naintipo, Formasi Jelai, Formasi Sembakung dan Formasi
Bengara.
Uraian dari setiap formasi tersebut :
1. Formasi Aluvium, tersusun oleh litologi lumpur, lanau, pasir, kerikil,
dan koral yang merupakan endapan pantai, sungai dan rawa.
2. Formasi Sajau, yang tersusun oleh batupasir kuarsa, batu lempung,
batu lanau, batubara, lignit dan konglomerat, perlapisan sedimen
silang siur planar dan mangkok, bioturbasi, perarian sejajar, nodul
besi dan fosil kayu.
3. Formasi Tabul, tersusun oleh litologi persilangan batu lempung, batu
lumpur, batupasir, batugamping, dan batubara di bagian atas, umur
formasi ini miosen akhir.
4. Formasi Meliat, tersusun oleh perselingan batupasir, batu lempung,
dan serpih dengan sisipan batubara, berstruktur lapisan bersusun,
bioturbasi dan mengandung bintal batu gamping, formasi ini berumur
miosen tengah dan endapan pada lingkaran laut dangkal.
5. Formasi Naintipo, berumur oligosen dan miosen awal, yang bersusun
oleh litiologi perselingan napal, batupasir dan batu lempung dengan
sisipan batu gamping dan konglomerat, formasi ini diendapkan pada
laut dangkal.
6. Formasi sinjin, formasi ini tersusun oleh litologi persilangantuf, formasi
ini berumur pleitosen.
7. Formasi Sembakung, terendapkan secara tidak selaras diatas formasi
danau, memiliki umur Eosen tengah. Pada bagian bawah, formasi ini
terdiri atas batupasir merah dan konglomerat. Pada bagian atas terdiri
dari batu lumpur yang kaya karbon dan fosil.

2-4
2.1.2.3 Struktur Geologi

Sturkur geologi yang menonjol di daerah ini berupa struktur homoglin


dimana lapisan batuan miring seragam ke arah barat laut. Sesar turun
pada umumnya dijumpai dalam bentuk sesar-sesar minor dengan besar
pergerakan kurang dari satu meter. Sesar naik dijumpai di beberapa
tempat dengan pergerakan sebesar 2 5 cm, dengan arah memanjang
searah dengan strike perlapisan batuan. Di beberapa lokasi sesar ini
menyebabkan perlapisan batubara terpotong dan terbelokkan bahkan ada
yang menghancurkan batubara.

2.1.3 Genesa Dan Kualitas Batubara


2.1.3.1 Genesa Batubara

Batubara berasal dari tumbuh tumbuhan yang hidup di air tawar pada
daerah tropis atau sub tropis dimana tumbuhan tumbuhan yang
mengandung karbon (C), hidrogen (H), dan sedikit nitrogen (N) yang
paling banyak adalah Cellulosa (C6H10O5), kemudian tumbuh
tumbuhan tersebut mati tumbang dan terendam air. Dengan terbentuknya
endapan sisa tumbuh tumbuhan tersebut di dalam lingkungan hampa
udara (anaerob) maka terjadi proses biokimia atau hasil kerja organisme.

Skema proses kimia :


Bakteri Anaerob Akumulasi Dan Pemadatan
Tumbuh tumbuhan Gelly Peat

Setelah terjadi proses biokimia maka tahap selanjutnya terjadi proses


termodinamika dimana proses geologi terjadi kenaikan tekanan dan
temperatur akibat dari pemadatan, maka hal ini disebut pembatubaraan.

Proses pembatubaraan akan semakin meningkat kadar C (zat karbon)


dan semakin kurang kadar hidrogen (H) dan oksigen (O) atau dengan
keluarnya CO2, H2O dan CH4 dari dalam sisa tumbuhan, maka zat kayu

2-5
akan mengalami perubahan yakni mulai dari peat, lignit, sub bitumious,
bituminous, dan antrasit sampai pada meta antrasit.

2.1.3.2 Kualitas Batubara

Untuk memperoleh batubara dengan kualitas tertentu sesuai dengan


keinginan konsumen maka dilakukan blending dari tambang, dimana
kualitas abu, sulfur, dan kalorinya diketahui dari sampel yang diambil pada
setiap Pit yang berbeda, setelah itu dilakukan proses penganalisaan kadar
di laboratorium maka sehingga dari data tersebut dapat ditentukan
kualitas batubara yang diambil. Berikut kualitas batubara pada daerah
penelitian adalah termasuk kedalam rank lignit.
Tabel 2.2 Data Kualitas Batubara
Parameter Nilai
Total Moisture 49.40 % (a.r)
Ash Content 3.74 % (a.d.b)
Volatile Matter 44.03 % (a.d.b)
Fixed Carbon 40.16 % (a.d.b)
Total Sulfur 0.36 % (a.d.b)
Caloric Value 5.305 kcal/kg
Sumber : Laboratorium PT. LIM

2.1.4 Penambangan
2.1.4.1 Sistem Penambangan

Berdasarkan bentuk dan karakteristik cadangan batubara serta tanah


penutupnya, maka sistem tambang terbuka yang dapat diterapkan adalah
metode open pit dengan menambang lapisan batubara dari singkapan
sampai dengan kedalaman tertentu dan sepanjang daerah tambang
dengan memperhatikan Stripping OF Ratio (SR).

Terdapat beberapa blok penambangan yang direncanakan dimana


setelah blok awal dibuka dilanjutkan dengan membuka blok selanjutnya

2-6
sehingga terdapat kemudahan dalam membuang overburden dalam
jumlah yang besar ke dalam pit yang telah ditinggalkan. Sistem ini lebih
dikenal dengan sistem Back Filling.

2.1.4.2 Metode Penambangan

Metode penambangan yang cocok untuk diterapkan di daerah prioritas


adalah metode konvesional dengan menggunakan kombinasi Excavator
Back Hoe dengan Dump Truck. Metode ini memiliki kelebihan dalam
fleksibilitas dan selektifitas dalam penggalian serta tersediannya dalam
berbagai jenis dan ukuran peralatan pasaran.

2.1.4.3 Tahapan Kegiatan Penambangan


A. Pembersihan Lahan (Land Clearing)

Pembersihan lahan merupakan kegiatan awal dari kegiatan penambangan


yaitu membersihkan pohon-pohon, baik yang besar maupun yang kecil
yang tumbuh pada lokasi kegiatan penambangan. Pada tahap ini
dilakukan dengan menggunakan bulldoser, yaitu dengan menggilas akar
pepohonan berkali-kali sehingga akar tersebut menjadi putus atau juga
dengan mendorong pohon tersebut hingga roboh.

B. Pengupasan Tanah Pucuk (Top Soil)

Pengupasan tanah pucuk ini dilakukan terlebih dulu ditempatkan terpisah,


agar pada saat pelaksanaan reklamasi dapat dimanfaatkan kembali.
Pengupasan top soil ini dilakukan sampai pada batas lapisan subsoil,
yaitu pada kedalaman dimana telah sampai di lapisan yang tidak
mengandung unsur hara. Tanah pucuk ini dikupas dengan menggunakan
bulldozer.

C. Pengupasan Tanah Penutup (Stripping Overburden)

Pengertian kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup yaitu pemindahan


suatu lapisan tanah atau batuan yang berada diatas cadangan bahan

2-7
galian, agar bahan galian tersebut menjadi tersingkap. Untuk mewujudkan
kondisi kegiatan pengupasan lapisan tanah penutup yang baik diperlukan
alat yang mendukung dan sistimatika pengupasan yang baik.

Pekerjaan pengupasan lapisan tanah penutup merupakan kegiatan yang


mutlak harus dikerjakan pada pertambangan terutama pada kegiatan
penambangan yang menggunakan sistim tambang terbuka. Kegiatan
pengupasan lapisan tanah penutup ditentukan oleh rencana target
produksi, semakin baik rancangan pada pengupasan lapisan tanah
penutup maka rencana target produksi semakin baik. Untuk mewujudkan
kondisi tersebut diperlukan metode dan alat yang mendukung
pengupasan lapisan tanah penutup.

Adapun pola teknis dari pengupasan lapisan tanah penutup yaitu :


1. Back filling digging method Pada cara ini tanah penutup di buang ke
tempat sudah digali.
2. Benching System Cara pengupasan lapisan tanah penutup dengan
sistem jenjang (benching). Cara ini pada waktu pengupasan lapisan
tanah penutup sekaligus sambil membuat jenjang.
3. Multi Bucket Exavator System Pada pengupasan cara ini tanah
penutup dibuang ke tempat yang sudah digali atau ke tempat
pembuangan khusus. Cara ini ialah dengan menggunakan Bucket
Wheel Exavator ( BWE).
4. Drag Scraper System Cara ini biasanya langsung diikuti dengan
pengambilan bahan galian setelah tanah penutup dibuang, tetapi bisa
juga tanah penutupnya dihabiskan terlabih dahulu, kemudian baru
bahan galiannnya ditambang. Sistem ini cocok untuk tanah penutup
yang materialnya lunak dan lepas (loose).

D. Pembersihan Batubara (Coal Cleaning)

Setelah pengupasan tanah penutup selesai dan lapisan batubara mulai


terekspose, maka kegiatan penambangan berikutnya adalah proses

2-8
pembersihan lapisan batubara dari unsur pengotor (sisa lapisan tanah
penutup/parting). Proses pembersihan batubara ini dilakukan oleh alat
excavator yang telah dilengkapi dengan cutting blade pada sisi luar kuku
bucket. Hal ini menjadikan ujung bucket bukan berupa kuku tajam,
melainkan berupa ujung bucket yang datar rata.

E. Pemuatan Dan Pengangkutan

Proses pemuatan batubara dilakukan engan alat muat Excavator Doosan


S500 LC-V, dimana alat angkut yang digunakan Dump Truck Mercedes
Benz Actros 4043 AK dan 4046 AK. Selanjutnya batubara diangkut
menuju ke stockpile mini tambang (ROM). Hal ini dilakukan agar proses
penambangan batubara di front tambang dapat berlangsung lebih cepat.

2.2 Penelitian Relevan

Dalam penelitian ini penulis memaparkan lima penelitian terdahulu yang


relevan dengan permasalahan yang akan diteliti tentang analisis pemilihan
alternatif investasi alat muat dan alat angkut pada penambangan
batubara, yaitu :
Tabel 2.3 Penelitian Relevan
Tahun Peneliti Hasil Peneliti

2014 Riki Rizki Ilahi, PT Bukit Asam menargetkan peningkatan


Eddy Ibrahim, volume penjualan batubara tahun 2014
Fuad Rusydi S sebesar 24,56 juta ton, naik 38% (6,76 juta
Vol 2, No 3 ton) dibandingkan rencana volume penjualan
(2014) tahun 2013 sebesar 17,8 juta ton. Salah satu
ISSN: 2338- Pit yang dimiliki oleh PT. Bukit Asam (Persero)
7459 Tbk adalah Pit 3 Banko Barat. Target produksi
pengupasan tanah penutup pada Pit 3 Barat
pada bulan September 2013 adalah sebesar
720.000 BCM, dan pada akhir September
kombinasi kerja antara bulldozer, excavator
dan dump truck yang beroperasi dapat
menghasilkan ketercapaian produksi nyata
sebesar 747.188 BCM. Namun terdapat
beberapa faktor yang menyebabkan tidak
optimalnya efektifitas dan efisiensi kerja

2-9
dari excavator dan dump truck sehingga
ketercapaian produksi tidak maksimal.
Sehingga diperlukan adanya optimasi terhadap
waktu kerja efektif, yaitu dengan cara
memperkecil waktu hambatan yang tidak
direncanakan agar produksi
dapat meningkat. Secara teoritis ketercapaian
produksi pada Pit 3 Banko Barat adalah
sebesar 780.975,79 BCM/bulan, kemudian
dilakukan perbaikan pada waktu kerja efektif.
Perbaikan pada waktu kerja efektif dapat
meningkatkan ketercapaian produksi menjadi
872.080,59 BCM/bulan (121,12%) dari target
produksi, dan dengan keserasian kerja alat
sebesar 1,02.
2015 Mayyondra PT. Karbindo Abesyapradhi adalah salah satu
Vol 3, No 03 tambang batubara yang terletak di provinsi
(2015) Sumatera Barat Sijunjung. Dalam
ISSN: 2302- pertambangan PT. Karbindo Abesyapradhi
3333 bekerjasama dengan PT. Pasura Bina
Tambang sebagai kontraktor sub yang
merupakan anak perusahaan dari Srikandi
Group. Berdasarkan pengamatan di stripping
overburden di PT. Karbindo Abesyapradhi,
ditemukan bahwa kegiatan produksi
overburden tidak optimal. Hal ini disebabkan
oleh peralatan yang bekerja pada bidang non
optimal ketika digunakan, yang terlihat dari alat
bongkar muat sedang menunggu di lapangan.
Sebenarnya total produksi bongkar muat
adalah 104.910 BCM / bulan, dan alat angkut
84.590 BCM / bulan, menyebabkan tidak
tercapainya target produksi overburden yang
telah direncanakan tidak tercapai. Setelah
analisis ditemukan bahwa penyebab efisiensi
kerja produksi rendah rendah dan kurangnya
transportasi yang digunakan. Dengan
meningkatkan efisiensi kerja dan membuat
angkut tambahan, maka diperoleh total
produksi 131.090 BCM alat bongkar / bulan
dan angkut 123.436 BCM / bulan. Dari hasil
perhitungan, biaya produksi dan alat angkut
dan bongkar muat alat untuk stripping
overburden sebelum dianalisis adalah
Rp.2,511,980,033 / bulan atau Rp.29,696 /
BCM, dan setelah menganalisis biaya alat

2-10
produksi dan alat angkut cocok ke
Rp.3,022,347,665 / bulan atau Rp.24,485 /
BCM, sehingga untuk strip overburden sesuai
dengan biaya yang diperlukan target produksi
yang direncanakan Rp.2,938,200,000.
2014 Androly PT. Semen Padang (Persero) merupakan
Andreas, salah satu perusahaan pertambangan yang
Sumarya ., berlokasi di Sumatera Barat. Pada saat ini
Dedi Yulhendra penambangan dilakukan pada front IV tapi
Vol 1, No 1 karena kadar silika pada front tersebut sudah
(2014) menurun perusahaan mempunyai rencana
ISSN: 2302- melakukan penambangan pada area
3333 242,3Ha yang belum pernah dilakukan
penambangan sebelumnya. Penambangan di
kuari bukit karang putih mengunakan
kombinasi antara alat muat (Excavator Hitachi)
dan alat angkut (Dump Truck Komatsu). Untuk
mencapai target produksi yang ditetapkan
perusahaan maka pada area 242,3Ha
penambangan mengunakan kombinasi alat
mekanis yang berupa Excavator dan Dump
Truck dimana Excavator yang ada saat ini
sebanyak 2 buah sedangkan Dump Truck yang
dibutuhkan sebanyak 7 buah untuk shift I
yang terdiri dari 4 buah Dump Truck
berkapasitas 100 ton dan 3 buah yang
berkapasitas 80 ton sedangkan untuk shift II
mengunakan 2 buah Excavator dan 6 buah
Dump truk yang terdiri dari 3 buah untuk
yang berkapasitas 100 ton dan 3 buah untuk
berkapsitas 80 ton. Secara teoritis kemampuan
produksi yang dapat dihasilkan alat mekanis
jika dilakukan penambangan pada area
242,3Ha dengan kondisi seperti saat ini adalah
sebesar 33214,654 ton perhari sedangkan
target produksi yang ditargetkan perusahaan
adalah sebesar 30.000 ton perhari dengan
demikian target produksi yang dihasilkan nanti
akan tercapai. Biaya yang dibutuhkan jika
dilakukan penambangan pada area 242,3Ha
ini untuk alat muat pada shift I adalah sebesar
Rp 2668,377/ton, dan untuk alat angkut pada
shift I adalah Rp 5841,278/ton sedangkan
pada shift II biaya pemuatan sebesar Rp
2668,377/ton dan untuk biaya pengangkutan
Rp 5476,955/ton.

2-11
2015 Elvhyn Novan Tujuan penelitian ini adalah, Untuk mengetahui
Ananda alternatif yang lebih menguntungkan antara
Vol 3, No 3 : membeli atau menyewa Bulldozer pada CV.
531-545 (2015) Putri Dita di Tenggarong. Untuk menganalisis
ISSN 2355- permasalahan maka alat analisis yang penulis
5408 kemukakan mengacu pada akuntansi
manajemen dalam menganalisis biaya
differensial dalam memilih alternatif membeli
atau menyewa alat berat bulldozer dengan
membandingkan biaya-biaya yang relevan dari
kedua alternatif. Untuk menghitung modal dan
biaya-biaya relevan membeli alat berat yang
ditaksir mempunyai umur ekonomis selama 5
tahun, digunakan perhitungan nilai waktu uang
dimasa sekarang (present value) dari masa
manfaat alat berat dimasa yang akan datang
sebagai alat bantu dalam pengambilan
keputusan. Nilai waktu uang sekarang untuk
umur ekonomis 5 tahun dapat dihitung dengan
menggunakan discount factor dari jumlah biaya
modal rata-rata tertimbang. Lebih dahulu
dihitung nilai sekarang dari harga beli dan
biaya-biaya relevan yang berhubungan dengan
membeli alat berat dengan umur ekonomis.
Nilai sekarang dihitung dengan menggunakan
discount factor berdasarkan modal
perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian
diketahui bahwa dalam pemilihan alternatif
membeli atau menyewa alat berat mayoritas
lebih menguntungkan untuk membeli
menggunakan kredit bank dibandingkan
dengan menyewa dengan menggunakan sewa
guna usaha dengan selisih nilai total PV arus
kas keluar sebesar Rp 76,257,322.93 dimana
hasil tersebut merupakan selisih dari selisih
nilai tunai arus kas keluar antara alternatif
kredit bank sebesar Rp 1,307,217,877.07 dan
Alternatif menyewa dengan sewa guna usaha
sebesar Rp 1,383,475,200.00.
2016 Hj. Rezky Kegiatan Pengupasan Lapisan Tanah Penutup
Anisari, merupakan suatu proses pemindahan lapisan
Vol 16 , No. 1 tanah penutup yang bertujuan mengambil
(2016) bahan galian yang berada di bawahnya. Untuk
melaksanakan kegiatan produksi pengupasan
lapisan tanah penutup di perlukan alat mekanis
seperti alat gali muat dan alat angkut. Untuk

2-12
mengetahui alat muat dan alat angkut bekerja
maksimal maka diperlukan perhitungan
produktivitas alat. Produktivitas alat merupakan
kemampuan kerja alat yang dihitung dalam
satuan jam. Untuk menghitung Produktivitas
alat diperlukan beberapa data diantaranya
waktu siklus alat. Penelitian dilakukan dengan
metode observasi lapangan dan wawancara
dengan objek studi adalah kegiatan
pengupasan dan pengangkutan pada material
lapisan tanah penutup di pit 8 fleet D PT.
Jhonlin Baratama job site Satui. Dari hasil
penelitan didapatkan rata-rata waktu siklus alat
muat aktual yang dihitung berdasarkan data
penelitian di lapangan sebanyak 209 data
adalah 20,68 detik/siklus. Sedangkan rata-rata
waktu siklus alat angkut yang dihitung
berdasarkan data di lapangan dengan 100
data adalah 518,35 detik/siklus. Produktivitas
aktual alat muat Excavator CAT 390 D adalah
457,32 Bcm/jam dari target yang di
rencanakan 427 Bcm/jam maka target telah
tercapai. Sedangkan Produktivitas alat angkut
Heavy Duty CAT 773 E adalah 126,01
Bcm/jam/unit dari target yang direncanakan
127 Bcm/jam/unit maka target tidak tercapai.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
adalah kondisi jalan angkut yang
bergelombang dikarenakan kurangnya
perawatan pada jalan angkut sehingga
mengakibatkan Waktu siklus alat angkut Heavy
Duty CAT 773 E mencapai 518,35 detik/siklus

2.3 Landasan Teori


2.3.1 Faktor-faktor Pemilihan Alat Mekanis

Pada proses dan penggunaan alat-alat mekanis sangat bergantung pada


keputusan manajemen yang akan menggunakan alat tersebut. Analisa
untuk dasar pengambilan keputusan dalam penentuan alat-alat mekanis
harus mencakup pada segi teknik dan biaya yang akan digunakan. Hal ini
sangat menentukan dalam pertimbangan pengambilan keputusan

2-13
pengadaan alat mekanis, apakah dengan cara membeli alat atau
menyewa alat.

Segi teknik dan biaya pengadaan peralatan mekanis secara garis besar
meliputi beberapa hal :
a. Tujuan Dan Sasaran Penggunaan
Tujuan dan sasaran penggunaan alat mekanis dapat mencerminkan
jenis alat yang akan digunakan, sehingga dapat membatasi lingkup
pertimbangan hanya kepada alat yang benar-benar dapat digunakan
dan diperkirakan berdaya guna sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
b. Data Unjuk Kerja
Data unjuk kerja alat mekanis yang sering digunakan antara lain
berupa data operasi, waktu operasi dan produksi peralatan mekanis
dimana data tersebut bergantung pada jenis pekerjaan dan tujuan
penggunaannya.
c. Pendanaan
Pengadaan alat mekanis secara umum dapat diadakan dengan cara
membeli atau menyewa alat. Pembelian dapat dilakukan secara
langsung ke pabrik pembuat atau melalui agen resmi.
d. Pemilihan Spesifikasi
Pemilihan spesifikasi merupakan daya guna dari segi ekonomis pada
pelaksanaan pekerjaan yang sebagian besar bergantung dari
pemilihan spesifikasi alat berat secara tepat. Penggunaan alat berat
harus menguntungkan pada biaya perawatan, tetapi tingkat produksi
tinggi.
e. Despresiasi
Despresiasi merupakan penurunan atau penyusutan ekonomis dari
suatu alat berat yang dapat dipengaruhi oleh pemakaian alat,
kehausan alat dan usia alat yang digunakan.
f. Perawatan Dan Perbaikan

2-14
Perawatan harus meliputi seluruh kegiatan mulai dari perawatan yang
sifatnya pencegahan dari permasalahan kecil sampai yang besar
sehingga perlu adanya program perawatan dan perbaikan secara
kontinyu.
g. Penggantian Peralatan
Penggantian peralatan alat berat benar-benar sangat tergantung dari
waktu dan jadwal yang tepat dalam pelaksanaannya. Dimana umur
ekonomis alat sangat dipengaruhi oleh jenis, model, merek, cara
penggunaan, keterempilan operator dan mekanik alat.
h. Penyediaan Suku Cadang
Penyediaan suku cadang dimaksudkan untuk menjaga keseimbangan
pelaksanaan perawatan dan perbaikan, sehingga kegiatan produksi
tidak tergangu.

Dari data tersebut di atas maka dipilih atau digunakan alat-alat produksi
yang sesuai pada front penambangan, dilihat dari type, ukuran dan
kemampuan produksinya yang sesuai dengan kondisi endapan dan
medan kerja.

2.3.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Produksi Alat Mekanis


2.3.2.1 Faktor Pengembang (Swell Factor)

Swell faktor adalah faktor pengembangan volume material dari volume asli
yang dapat mengakibatkan bertambahnya jumlah material yang harus di
pindahkan dari kedudukan aslinya. Ketika digali, material akan terlepas
dan terberai sedemikian rupa dan tidak akan kembali ke bentuk rongga-
rongga udara atau voids di antara partikel-partikel material lepas tersebut.
Besarnya perubahan volume sebelum dan sesudah digali ini disebut
dengan faktor pengembangan. Secara matematis dapat dirumuskan
sebagai berikut :

Vi
Swell Factor x 100% ......(2.1)
Vl

2-15
Dimana : SF = Sweel faktor
Vi = Volume insitu
VI = Volume loose

2.3.2.2 Faktor Pengisian (Fill Factor)

Faktor pengisian merupakan perbandingan antara kapasitas nyata suatu


alat dengan kapasitas teoritis alat tersebut. Besarnya faktor pengisian
suatu alat muat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran
butir material, kondisi material dan jumlah stock material yang sedang
dikerjakan (angle of refuse), keterampilan dan pengalaman operator. Jika
dilakukan perhitungan langsung di lapangan, maka faktor pengisian alat
muat dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Gambar 2.2 Cara Penentuan Fill Faktor

Kapasitasnyata
Fill Factor x 100% ...(2.2)
Kapasitas teoritis

Cara penentuan fill faktor dari bucket alat muat, yaitu dengan pengamatan
dan perbandingan langsung pada saat pemuatan di lapangan. Dimana

2-16
terlihat adanya variasi pengisian bucket alat muat baik pada material yang
sama maupun pada material yang berbeda.

2.3.2.3 Effesiensi Kerja Alat Mekanis

Effisiensi Kerja adalah perbandingan antara waktu kerja efektif yang


digunakan untuk berproduksi dengan waktu kerja yang tersedia dalam
satuan waktu tertentu. Hal ini merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi besar kecilnya produksi alat, semakin banyak waktu yang
efektif digunakan oleh alat untuk beroperasi maka semakin basar produksi
yang dapat dicapai. Dalam perhitungan effisiensi kerja ada beberapa
komponen waktu yang dapat diperhatikan antara lain :
1. Waktu Kerja (W) yaitu waktu yang digunakan alat untuk berproduksi
sampai akhir operasi. Dalam waktu produktif terdapat beberapa
variabel waktu meliputi :
Waktu Efektif (We) yaitu waktu yang benar-benar digunakan oleh
alat untuk berproduksi secara efektif.
Alat muat contohnya : menggali - isi bucket, swing isi, dumping,
swing kosong.
Alat angkut contohnya : Manuver kosong, waktu pengisian,
waktu angkut, manuver isi waktu menumpah, kembali kosong.
Waktu Delay (Wd) yaitu waktu yang terjadi akibat adanya
hambatan-hambatan seperti melumasi kendaraan, mengisi bahan
bakar dan pelumas, membersihkan bagian-bagian terpenting
setelah sekian lama beroperasi, memindahkan ketempat lain, dan
menunggu perbaikan jalan produksi.
2. Waktu Repair (R) yaitu waktu kerja yang tidak digunakan karena
perbaikan alat pada saat jam operasi berlangsung
3. Waktu Standby (S) yaitu jam yang tidak dipakai padahal alat tidak
rusak sedang tambang dalam keadaan beroperasi.

2-17
Secara umum, untuk menentukan effisiensi kerja alat dapat di gunakan
persamaan :

We
Effesiensi Kerja x 100% ........(2.3)
Wt
Dimana :
Ek = Effisiensi kerja
We = Waktu efektif
Wt = Waktu kerja tersedia

2.3.2.4 Waktu Edar (Cycle Time)

Waktu Edar merupakan kemampuan suatu alat dalam melakukan satu kali
daur produksi. Waktu edar alat muat dan alat angkut sangat berpengaruh
terhadap kemampuan produksi alat tersebut, dimana jika waktu edar dari
masing-masing alat besar maka kemampuan produksinya akan semakin
kecil. Waktu edar dapat dipengaruhi oleh kondisi jalan, jarak, kondisi
mekanis suatu alat, skil operator, dll.

2.3.2.5 Keadaan Jalan Angkut

Keadaan jalan angkut sangat menunjang dalam bekerjanya alat-alat


mekanis. Pembuatan jalan angkut ini disesuaikan dengan lebar alat
angkut atau alat mekanis lainnya. Konstruksi jalan angkut pada daerah
kegiatan penambangan tersebut sudah bagus karena sudah dipadatkan.
Lebar jalan di daerah penelitian dapat dilalui dengan dua kendaraan
secara berpapasan.

2.3.2.6 Pengaruh Cuaca

Dalam keadaan panas dan berdebu sangat mengganggu kerja operator,


sehingga mengurangi kelincahan gerak peralatan, begitu pula dalam
musim hujan, kondisi tempat kerja dan jalan angkut yang tidak diperkeras

2-18
akan menjadi licin, sehingga peralatan mekanis yang digunakan tidak
dapat bekerja dengan maksimal.

2.3.2.7 Jenis Material

Jenis material mempengaruhi kemampuan produksi alat mekanis.


Semakin kompak material semakin sukar untuk digali, sehingga waktu
siklus makin tinggi. Juga material yang dalam keadaan basah dan lengket
membutuhkan waktu dumping yang lama.

2.3.3 Kemampuan Produksi Alat Mekanis

Penggunaan alat-alat mekanis pada setiap tahap kegiatan memerlukan


pertimbangan yang matang, oleh karena kemampuan produksi pada
setiap tahap akan mempengaruhi tahap kegiatan selanjutnya, bahkan
seluruh rangkaian kegiatan penambangan. Begitu juga dengan pemilihan
jenis dan kapastitas produksi alat yang akan digunakan perlu disesuaikan
dengan target produksi yang ingin dicapai.

2.3.3.1 Kemampuan Produksi Alat Muat

Produksi alat muat pada pemuatan material ke atas alat angkut


dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keseragaman ukuran butir
material yang akan dimuat, kemampuan operator, ketersediaan stock
material yang akan dimuat (hasil pembongkaran). Faktor-faktor ini secara
langsung mempengaruhi waktu edar alat muat dalam melakukan satu
siklus pemuatan dan juga jumlah material yang terambil ke dalam bucket
alat muat.

Sehingga untuk memperoleh jumlah material yang dihasilkan perlu


dikoreksi dengan memperhitungkan jumlah faktor pengisian untuk tiap kali
melakukan pengisian bucket. Untuk menghitung kemampuan produksi alat
muat tersebut digunakan rumus sebagai berikut :

2-19
Kb x sf x ff x eff x 3600 detik/jam
PE ....(2.4)
CT (detik)
Dimana :
PE = Produksi alat muat ( m3/jam )
Eff = Effisiensi kerja ( % )
Kb = Kapasitas Bucket ( m3 )
Sf = Swell factor ( % )
Ff = Fill factor ( % )
Ct = Cycle time ( detik )

2.3.3.2 Kemampuan Produksi Alat Angkut

Produksi pada pengangkutan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor


antara lain :
1. Pada saat pengisian material ke alat angkut akan terjadi pertambahan
volume material.
2. Keadaan jalan pengangkutan.
3. Kemampuan operator dan jumlah alat angkut yang digunakan.

Untuk menghitung jumlah produksi pengangkutan material dengan


menggunakan alat angkut dump truck digunakan rumus sebagai berikut :

Kb x sf x ff x n x eff x 3600 detik/jam


PD ...(2.5)
CT (detik)
Dimana :
PD = Produksi dump truck ( m3/jam )
Kb = Kapasitas bak ( m3 )
Eff = Effisiensi kerja ( % )
Ct = Cycle time ( detik )
n = Jumlah pengisian
sf = Swell factor ( % )
ff = Fill factor ( % )

2-20
2.3.4 Kebutuhan Alat Muat Dan Alat Angkut

Penentuan jumlah alat mekanis berkaitan erat dengan target produksi


yang ingin diraih perusahaan. Bila target produksi tinggi maka jumlah alat
yang dibutuhkan lebih besar pula. Demikian pula sebaliknya, jika target
produksi rendah maka jumlah alat yang dibutuhkan lebih kecil.

Dari hasil perhitungan kemampuan produksi alat mekanis maka jumlah


alat yang dibutuhkan dalam pencapaian target produksi dapat ditentukan.
Persamaan yang digunakan untuk menghitung berapa jumlah alat
mekanis yang dibutuhkan untuk mencapai target produksi yaitu :

Target Produksi /hari


Jumlah alat Mekanis ...(2.6)
Target Produksi alat /hari

2.3.5 Kajian Ekonomi


2.3.5.1 Alternatif Beli Alat Baru

A. Investasi Alat

Investasi alat ialah biaya yang harus dikeluarkan guna melaksanakan


kegiatan penambangan batubara, besarnya biaya investasi alat
berdasarkan harga di tempat yang telah ditetapkan.

B. Nilai Sisa Peralatan

Nilai sisa peralatan adalah nilai sisa peralatan bekas pakai, dimana umur
ekonomisnya sudah habis. Secara umum bahwa nilai sisa peralatan
dihargai 10% dari harga barunya. Berikut cara menghitung nilai sisa alat :

Nilai sisa = 10 % x harga alat ...(2.7)

2-21
C. Perhitungan Biaya Kepemilikan Dan Biaya Operasi
1. Biaya Kepemilikan

Biaya kepemilikan adalah biaya dari pembelian alat yang seharusnya


diterima kembali dan dihitung perjam serta dihitung selama umur
ekomonisnya. Pemilihan suatu alat bukan hanya didasarkan atas
besarnya produksi atau kapasitas dari alat tersebut, tetapi didasarkan juga
besar kecilnya biaya operasi yang akan dikeluarkan tiap jamnya. Oleh
karena itu harus diketahui untuk memperkirakan biaya operasi dari semua
alat yang digunakan. Ongkos-ongkos yang perlu dipergunakan sebagai
berikut :

Biaya-biaya yang diperhitungkan untuk memperoleh biaya suatu alat yaitu:

Penyusutan Peralatan (Depresiasi)

Penyusutan peralatan (depresiasi) merupakan investasi pada setiap


periode baik bulan, tahun dan selama umur ekomonisnya, dengan kata
lain harus disisipkan guna memperoleh barang yang sama bila umur
ekomonisnya habis. Perhitungan biaya penyusutan menggunakan
metode garis lurus (straight line) dengan cara mengurangi harga alat
ditempat dengan nilai sisa peralatan dibagi umur ekonomisnya.

Harga alat ditempat - nilai sisaalat


Biaya penyusutan ...(2.8)
Umur alat (jam)

Bunga, pajak, asuransi dan sewa diambil 10% (bunga 5%, pajak 2%,
dan asuransi 3%) dari penanaman modal tahunan yang dapat dihitung
dengan persamaan :

(1 n) x 100%
Modal tahunan .....(2.9)
2 (n)
= n adalah umur alat

Sehingga biaya total untuk bunga, pajak dan lain-lain :

2-22
10% x penanamanmodal tahunan x harga alat
..(2.10)
Umur ekonomisalat (jam)

Jadi total biaya kepemilikan = Despresiasi + Bunga, Pajak, dan Biaya


gudang.

2. Biaya Operasi

Didalam memperkirakan biaya operasi setiap tahunannya dilakukan


perhitungan secara estimasi yang disesuaikan dengan data ketetapan dari
perusahaan yang merupakan hasil penelitian sebelumnya dan dianggap
konstan pada kondisi normal.

Biaya operasi alat adalah biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan


pengoperasian yang terdiri dari :
Untuk pembelian bahan bakar
Untuk pembelian pelumas mesin dan hydrolik
Untuk pembelian grease
Untuk pembelian filter, terdiri dari :
Oli filter
Engine filter
Hydrolik filter
Transmisi filter
Air cleare
Untuk pembelian ban Dump truck
Untuk pembelian suku cadang khusus
Untuk upah operator, safety dan pakaian.

2-23
2.3.5.2 Alternatif Sewa Alat
A. Sewa Alat

Pembatasan sumber finansial yang ada di dalam pemanfaatannya adalah


sangat penting. Ini dilakukan untuk mencari cara mendapatkan
penyelesaian yang terbaik pada masalah-masalah dengan memilih dari
sekian alternatif yang ada untuk memperoleh keuntungan semaksimal
mungkin dengan pengeluaran biaya kecil. Dalam hal ini penyewaan alat-
alat perlu dipertimbangkan dalam usaha mencapai dan meningkatkan
target produksi yang telah ditetapkan pertahunnya dengan
memperhitungkan dan mempertimbangkan biaya-biaya operasi alat sewa
yang akan dikeluarkan. Untuk itu, perlu diketahui harga sewa alat dari
pihak yang menyewakan.

B. Perhitungan Biaya Operasi

Pihak penyewa alat yang ditanggung hanya biaya sewa alat. Biaya
operasi dan lain-lainnya ditanggung oleh pihak yang menyewakan.

2.3.5.3 Analisis Pemilihan Alternatif

Kegiatan investasi merupakan kegiatan penting yang memerlukan biaya


besar dan berdampak jangka panjang terhadap kelayakan usaha. Oleh
karena itu analisis yang sistematis dan rasional sangat dibutuhkan
sebelum kegiatan direalisasi.

Sebelum keputusan diambil hal-hal yang perlu diperhatikan adalah:


1. Apakah investasi tersebut akan memberikan manfaat ekonomis
terhadap perusahaan.
2. Apakah investasi tersebut merupakan pilihan yang optimal dari
berbagai kemungkinan yang ada.

Untuk mengambil keputusan diperlukan analisis evaluasi investasi yang


bisa menjelaskan apakah investasi tersebut menjanjikan suatu

2-24
keuntungan dalam jangka panjang atau tidak. Untuk menjelaskan apakah
pilihan yang diambil sudah merupakan pilihan yang terbaik dari alternatif
yang tersedia perlu dilakukan analisis pemilihan alternatif.

Suatu investasi merupakan kegiatan menanamkan modal jangka panjang,


dimana selain investasi awal dan akan diikuti sejumlah pengeluaran yang
secara periodik perlu disiapkan. Pengeluaran tersebut terdiri dari biaya
operasional (operational cost), biaya perawatan (maintenance cost) dan
biaya-biaya lain yang tidak dapat dihindari. Disamping pengeluaran
investasi akan menghasilkan keuntungan atau manfaat mungkin dalam
bentuk penjualan produk atau jasa atau penyewaan fasilitas sehingga
kegiatan investasi akan menghasilkan komponen cash flow.

2.3.5.4 Analisa Beli Dan Sewa Alat

Dalam memilih alternatif investasi alat baru atau menyewa alat, tidak
terlepas dari pertimbangan biaya yang dikeluarkan, disamping itu juga
perlu diperhatikan mengenai umur tambang, dimana umur tambang yang
singkat sebaiknya menyewa alat, tetapi jika umur tambangnya cukup lama
perlu diadakan kajian ekonomis, apakah diperlukan penyewaan alat atau
membeli alat.

Pada penelitian ini memilih alternatif apakah membeli atau sewa alat yang
lebih efektif digunakan pada penambangan batubara. Dengan
menggunakan analisa ekonomi Present Worth Cost (PWC) dan Future
Worth Cost (FWC) ditinjau dari biaya terkecil yang akan dikeluarkan.

Berikut ini adalah rumus dasar yang berkaitan dengan penentuan nilai
Present Worth dan Future Worth, yaitu :
a) Singel Payment Present Worth Factor (mencari nilai sekarang
berdasarkan nilai yang akan datang)

2-25
P = F (P/Fi.n)

P = F (P/Fi.n) F ...(2.11)

0 1 2 ..... ..... n...

b) Single Payment Compound-Amount Factor (mencari nilai yang akan


datang F berdasarkan nilai sekarang)
F = P (F/Pi.n)

P F = P (F/Pi.n) ..(2.12)

0 1 2 ..... ..... n.....

2-26
BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian

PT. Lamindo Inter Multikon

Observasi Analisis Pemilihan Pemilihan


Alternatif Investasi Alat Muat dan Studi Literatur
Lapangan
Alat Angkut

Pengambilan Data

Alat Muat Alat Angkut

Pengolahan Data

Penyusunan Laporan

Sumber : Hasil Penelitian

Gambar 3.1 Ruang Lingkup Penelitian

3.2 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yaitu penelitian yang data-


datanya berhubungan dengan angka-angka, baik yang diperoleh dari
pengukuran maupun dari nilai suatu data yang diperoleh dengan
jalan mengubah kualitatif ke dalam data kuantitatif (Sugiyono, 2006).
Selain itu penelitian ini juga dimaksudkan untuk memberikan deskripsi
secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan fenomena
yang diselidiki, maka penelitian ini memakai metode deskriptif.

3-1
3.3 Waktu Dan Lokasi Penelitian
3.3.1 Waktu Penelitian

Sesuai dengan surat permohonan, waktu penelitian dilaksanakan pada


tanggal 18 September - 18 Oktober.

3.3.2 Lokasi Penelitian


3.3.2.1 Lokasi

Secara administrasi posisi PT. Lamindo Inter Multikon terletak di bagian


timur Pulau Bunyu yang secara astronomis berada pada 0 0 31 41 LU dan
1170 49 2 BT, kemudian secara geografis daerah penelitian berbatasan
dengan :
Sebelah Timur dibatasi oleh laut Sulawesi.
Sebelah Selatan dibatasi oleh Desa Gunung Daeng.
Sebelah Utara dibatasi oleh lahan tambang PT. Lamindo Inter Multikon
bagian Utara.
Sebelah Barat dibatasi oleh KP Mitra Niaga Mulia.

3.3.2.2 Kesampaian Daerah Penelitian

PT. Lamindo Inter Multikon berada di wilayah Kecamatan Bunyu,


Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, sebagaimana ditujukan
pada peta lokasi kesampaian daerah (Lampiran 16) maka Lokasi/Site
Bunyu dapat dicapai dari :
1. Makassar Balikpapan Tarakan dengan menggunakan transportasi
udara dengan waktu tempuh 3 jam
2. Tarakan ke Bunyu dengan menggunakan transportasi laut dengan
waktu tempuh 1 jam .

3-2
Sumber : Departemen Mining Survey PT. LIM

Gambar 3.2 Peta Lokasi PT. Lamindo Inter Multikon

3-3
3.4 Jenis Dan Sumber Data
3.4.1 Jenis Data

Jenis penelitian ini adalah kuantitatif yaitu data yang diperoleh dalam
bentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan/scoring. Adapun data
kuantitatif dalam penelitian ini adalah :
a. Waktu edar (cycle time) alat muat dan alat angkut yang digunakan oleh
perusahaan untuk memuat dan mengangkut batubara dari front ke
ROM.
b. Waktu kerja efektif (We), seperti jumlah waktu kerja (W) dan jumlah
waktu delay (Wd), serta waktu standby dan waktu repair alat mekanis.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja alat mekanis, seperti faktor
pengisian (fill factor), dan faktor pengembangan (swell factor).
d. Jumlah alat muat dan alat angkut yang digunakan pada kegiatan
penambangan batubara di setiap pit.
e. Biaya operasi alat muat dan alat angkut, seperti bahan bakar,
pelumas-pelumas, grease, filter-filter, perbaikan dan pemeliharaan,
pergantian ban, dan upah operator.
f. Daftar harga beli alat dan sewa alat .
g. Spesifikasi alat muat dan alat angkut.
h. Data curah hujan.

Dan adapun data pendukung yang di ambil dalam penelitian ini, yaitu:
a. Peta kesampaian wilayah IUP PT. Lamindo Inter Multikon.
b. Penelitian terdahulu.
c. Profil perusahaan.
d. Kondisi geologi daerah penelitian.
e. Kualitas batubara.
f. Luas areal penambangan dan peta daerah penelitian.

3-4
3.4.2 Sumber Data
3.4.2.1 Data Primer

Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari pengamatan


lapangan pada objek penelitian, antara lain :
1. Data produksi alat muat dan alat angkut.
2. Data waktu edar (cycle time) alat muat dan alat angkut, seperti :
Alat muat seperti, pengamatan isi bucket, waktu swing isi, waktu
dumping, dan waktu swing kosong.
Alat angkut seperti, waktu putar (manuver), waktu pengisian, waktu
angkut, waktu menumpah (dumping), dan kembali kosong.
3. Data Efesiensi kerja alat muat dan alat angkut.
4. Data jumlah alat yang dibutuhkan pada penambangan batubara.
5. Data biaya operasi alat muat dan alat angkut.

3.4.2.2 Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sudah ada, baik yang bersumber dari
studi literatur, hasil penelitian sebelumnya ataupun instansi yang
memberikan penjelasan atau gambaran umum mengenai lokasi penelitian
dan informasi-informasi yang terkait dengan permasalahan dalam
penelitian ini, data-data sekunder antara lain :
1. Profil Perusahaan.
2. Data curah hujan.
3. Data peta lokasi dan kesampaian daerah penelitian.
4. Kondisi geologi daerah penelitian.
5. Kualitas batubara.
6. Luas areal penambangan dan peta daerah penelitian.
7. Data jam kerja PT. Lamindo Inter Multikon.
8. Harga beli dan sewa alat.

3-5
3.5 Defenisi Operasional Variabel

Dalam penelitian ini digunakan beberapa variabel yang didefinisikan


secara operasional sehingga dapat dijadikan petunjuk dalam
melakukan penelitian juga sebagai petunjuk bagi yang membaca yaitu
sebagai berikut :
a. Alat muat
Salah satu alat berat multifungsi yang banyak digunakan pada
pekerjaan konstruksi dan juga kehutanan. Sedangkan dalam
pertambangan batubara alat ini berfungsi sebagai pengangkat
material seperti tanah dan bebatuan. Pada tambang terbuka,
excavator tergolong dalam alat berat gali dan muat.
b. Alat angkut
Biasanya digunakan untuk mengangkut material bahan bangunan
pada proyek konstruksi, seperti pasir, kerikil, batubara, dan lain-lain.
dilengkapi dengan hidrolik dengan tidur terbuka-kotak yang
dioperasikan berengsel di bagian belakang.
c. Target
Mempunyai kesamaan dengan sasaran, yaitu penjabaran dari tujuan
secara teratur, yang akan dicapai atau dihasilkan secara nyata oleh
suatu organisasi dalam jangka tahunan, semesteran, triwulanan, atau
wulanan.
d. Produksi
Segala kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan atau menambah
guna atas suatu benda, atau segala kegiatan yang ditujukan untuk
memuaskan orang lain melalui pertukaran.
e. Biaya
Semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses
produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar
yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi.

3-6
f. Investasi
Suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan
keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi
suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan
pada masa depan.
g. Alternatif
Satu dari dua atau lebih cara untuk mencapai tujuan atau akhir yang
sama. Alternatif tidak harus menjadi pengganti dekat untuk pilihan
pertama (atau alternatif lain), atau harus memecahkan masalah
dengan cara tertentu.

3.6 Teknik Pengumpulan Data


3.6.1 Observasi Lapangan

Melakukan pengamatan secara langsung di lapangan dan mencari


informasi pendukung yang berkaitan dengan permasalahan yang akan
dibahas. Mencocokkan dengan perumusan masalah yang bertujuan agar
peneliti yang dilakukan tidak meluas.

3.6.2 Studi Literatur

Dilakukan dengan mengumpulkan sumber informasi yang berkaitan


dengan kegiatan penelitian yang berasal dari referensi berhubungan
dengan masalah yang dihadapi, diperoleh dari perpustakaan dan sumber
lain.

3.7 Populasi Dan Sample


3.7.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
penelitian yang mempunyai kualitas dan karakteritik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan.
Dengan kata lain populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Apabila

3-7
seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah
penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian populasi.

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah alat muat Excavator
Doosan S500 LC-V dan alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros
4046 AK.

3.7.2 Sample

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Dikarenakan terbatasnya waktu, tenaga dan biaya yang
dimiliki peneliti, maka peneliti hanya mengambil sampel sebanyak 150
sampel dari populasi yang ada dengan pertimbangan bahwa jumlah
tersebut sudah melebihi jumlah sampel minimal dalam penelitian (n =
30).

3.8 Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mendapatkan dan


mengumpulkan data penelitian, sebagai langkah untuk menemukan hasil
atau kesimpulan dari penelitian. Adapun instrument penelitian yang
digunakan adalah Observasi, yaitu :

a. Cycle Time Alat Muat

Tabel 3.1 Cycle Time Alat Muat

Isi Bucket Swing Isi Menumpah Swing Kosong


No
(detik) (detik) (detik) (detik)
1
2
3
4

3-8
b. Cycle Time Alat Angkut

Tabel 3.2 Cycle Time Alat Angkut


Isi
Angkut Manuver Isi Dumping Kembali Manuver
No Bucket
(detik) (detik) (detik) (detik) Kosong (detik)
(detik)
1
2
3
4

c. Fill Factor

Tabel 3.3 Fill Factor


No Faktor Pengisian Volume Bucket ( m3 )
1
2
3
4

d. Daftar Biaya Alat

Tabel 3.4 Daftar Biaya Alat


No Uraian Beli (Rp) Sewa (Rp)
1 Harga alat
2 Bahan Bakar
3 Pelumas-pelumas
4 Grease
5 Filter-filter
6 Pergantian ban
7 Upah operator
8 Perlengkapan operator

3.9 Metode Pengelolaan

Pada Tahap ini dilakukan pengolahan data terhadap data yang telah
dikumpulkan. Tahapan proses ini mencakup :

3-9
a. Perhitungan waktu kerja efektif dan efisiensi kerja terhadap alat muat
Excavator Doosan S500 LC-V dan alat angkut Mercedes Benz Actros
4046 AK.
Untuk menghitung waktu kerja efektif dapat dirumuskan sebagai
berikut :
Waktu Efektif = Waktu Kerja Tersedia Waktu Hambatan
Untuk menghitung effisiensi kerja dapat dihitung dengan menggunakan
rumus pada (Persamaan 2.3).
b. Kemampuan Produksi Alat Muat
Dalam menentukan kemampuan produksi alat muat dapat dihitung
dengan menggunakan rumus pada (Persamaan 2.4).
c. Kemampuan Produksi Alat Angkut
Dalam menentukan kemampuan produksi suatu alat angkut dapat
dihitung dengan menggunakan rumus pada (Persamaan 2.5).
d. Kebutuhan Alat Muat Dan Alat Angkut
Dalam menentukan kebutuhan alat mekanis dalam pencapaian target
produksi dapat dihitung dengan menggunakan rumus pada
(Persamaan 2.6).
e. Analisa Beli Dan Sewa Alat
Pada penelitian ini memilih alternatif apakah membeli atau sewa alat
yang lebih efektif digunakan pada penambangan batubara. Dengan
menggunakan analisa ekonomi Present Worth Cost (PWC) dan Future
Worth Cost (FWC) ditinjau dari biaya terkecil yang akan dikeluarkan.
Untuk analisa Present Worth Cost (PWC) dan Future Worth Cost
(FWC) dapat dihitung menggunakan rumus pada (Persamaan 2.11 -
2.12).

3.10 Analisis Data

Dari hasil pengolahan data, maka analisa data yang dilakukan adalah
perhitungan cycle time alat muat dan alat angkut, fill factor alat muat
dengan menggunakan Software pengolah data statistik yaitu SPSS

3-10
(Statistical Product and Service Solutions), perhitungan waktu kerja efektif
dan efesiensi kerja, perhitungan produksi dan jumlah alat untuk mencapai
target produksi, perhitungan biaya operasi alat muat dan alat angkut,
menganalisa biaya yang paling ekonomis yang akan dikeluarkan antara
beli alat dan sewa alat.

3-11
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Jumlah Produksi Alat Muat Dan Alat Angkut

Berikut ini adalah data perhitungan hasil produksi dan jumlah alat muat
dan alat angkut yang di dapat dari lapangan yaitu :

4.1.1 Produksi Alat Pada Pit Mitra

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, maka produksi untuk alat muat


Excavator Doosan S500 LC-V dan alat angkut Mercedes Benz Actros
4046 AK pada Pit Mitra dengan jarak 3000 meter adalah :
Tabel 4.1 Produksi Pit Mitra
Jumlah Produksi Produksi Produksi
No Ket
Alat (Jam) (Hari) (Bulan)
1 Alat Muat 1 Unit 351,48 ton 5.623,86 ton 163.086,72 ton
2 Alat Angkut 10 Unit 346,60 ton 5.545,60 ton 160.822,40 ton
Sumber : Hasil Penelitian

Jadi produksi yang dapat dicapai pada Pit Mitra dengan efesiensi kerja
untuk alat muat 65% adalah 163.086,72 ton / bulan dan alat angkut 70%
adalah 160.822,40 ton / bulan, sedangkan jumlah alat yang digunakan 10
unit. Hasil perhitungan dapat dilihat pada ( Lampiran 4).

4.1.2 Produksi Alat Pada Pit Warga Utama

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, maka produksi untuk alat muat


Excavator Doosan S500 LC-V dan alat angkut Mercedes Benz Actros
4046 AK pada Pit Warga Utama dengan jarak 1500 meter adalah:
Tabel 4.2 Produksi Pit Warga Utama
Jumlah Produksi Produksi Produksi
No Ket
Alat (Jam) (Hari) (Bulan)
1 Alat Muat 1 Unit 351,48 ton 5.623,86 ton 163.086,72 ton
2 Alat Angkut 6 Unit 334,44 ton 5.351,04 ton 155.180,16 ton
Sumber : Hasil Penelitian

4-1
Jadi produksi yang dapat dicapai pada Pit Warga Utama dengan efesiensi
kerja untuk alat muat 65% adalah 163.086,72 ton / bulan dan alat angkut
70% adalah 155.180,16 ton / bulan, sedangkan jumlah alat yang
digunakan 6 unit. Hasil perhitungan dapat dilihat pada (Lampiran 4).

4.1.3 Produksi Pada Pit 10

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, maka produksi untuk alat muat


Excavator Doosan S500 LC-V dan alat angkut Mercedes Benz Actros
4046 AK pada Pit 10 dengan jarak 2000 meter adalah:
Tabel 4.3 Produksi Pit 10
Jumlah Produksi Produksi Produksi
No Ket
Alat (Jam) (Hari) (Bulan)
1 Alat Muat 1 Unit 351,48 ton 5.623,86 ton 163.086,72 ton
2 Alat Angkut 7 Unit 347,62 ton 5.561,92 ton 161.295,68 ton
Sumber : Hasil Penelitian

Jadi produksi yang dapat dicapai pada Pit 10 dengan efesiensi kerja untuk
alat muat 65% adalah 163.086,72 ton / bulan dan alat angkut 70% adalah
161.295,68 ton / bulan, sedangkan jumlah alat yang digunakan 7 unit.
Hasil perhitungan dapat dilihat pada (Lampiran 4).

4.2 Perhitungan Biaya Beli Dan Sewa Alat


4.2.1 Perhitungan Biaya Beli Alat
4.2.1.1 Investasi Alat

Dari hasil penelitian di lapangan investasi peralatan yang harus


dikeluarkan oleh PT. Lamindo Inter Multikon berdasarkan harga ditempat
yaitu :
Tabel 4.4 Investasi Alat
No Uraian Harga (Rp)
Excavator Doosan S500 LC-V Rp. 2.500.000.000 / unit
1
Untuk 3 Unit Rp. 10.200.000.000
Mercedes Benz Actros 4046 AK Rp. 3.400.000.000 / unit
2
Untuk 23 Unit Rp. 57.500.000.000
Biaya Investasi Alat Rp. 67.700.000.000
Sumber : PT. LIM
4-2
4.2.1.2 Nilai Sisa Peralatan

Nilai sisa peralatan bekas pakai dimana umur ekonomisnya sudah habis,
secara umum bahwa nilai sisa peralatan dihargai 10% dari harga barunya.
Tabel 4.5 Nilai Sisa Alat
Umur
No Uraian Alat Nilai Sisa Alat 10%
(Tahun)
Excavator Doosan S500 LC-V Rp. 250.000.000
1 10
Untuk 3 Unit Rp. 1.200.000.000
Mercedes Benz Actros 4046 AK Rp. 340.000.000
2 10
Untuk 23 Unit Rp. 5.750.000.000
Total Nilai Sisa Alat Rp. 6.770.000.000
Sumber : PT. LIM

Dari table di atas dapat lihat bahwa total nilai sisa alat untuk 3 unit alat
muat Excavator Doosan S500 LC-V dan 23 unit alat angkut Mercedes
Benz Actros 4046 AK adalah Rp. 6.770.000.000. Untuk hasil perhitungan
nilai sisa alat dapat dilihat pada (Lampiran 5).

4.2.1.3 Biaya Kepemilikan Dan Biaya Operasi

Biaya kepemilikan alat adalah biaya dari pembelian alat yang seharusnya
diterima kembali dan hitung perjam serta diperhitungkan selama umur
ekonomisnya.

4.2.1.3.1 Biaya Kepemilikan Alat

Tabel 4.6 Biaya Kepemilikan Alat


Umur Pajak, bunga,
Jumlah Depresiasi
Uraian Alat asuransi 10%
Alat (Jam)
(Thn) (Jam)
Excavator Doosan S500
10 3 Rp. 164.870,70 Rp. 10.075,44
LC-V
Mercedes Benz Actros
10 23 Rp. 929.418,04 Rp. 56.797,81
4046 AK
Sumber : Hasil Penelitian

4-3
Dari table di atas biaya kepemilikan untuk 3 unit alat muat adalah Rp.
174.946,14 / jam dan untuk 23 unit alat angkut Rp. 986.215,85 / jam. Hasil
perhitungan biaya kepemilikan dapat dilihat pada (Lampiran 5).

4.2.1.3.2 Biaya Operasi Alat Muat

Tabel 4.7 Biaya Operasi Alat Muat

Kebutuhan
No Jenis Biaya Harga /Jam
(Jam)

1 Pemakaian Solar 30 Liter Rp. 360.000


2 Pelumas-pelumas
Mesin 0,12 Liter Rp. 3.221,06
hidraulik 0,20 Liter Rp. 3.960
Final drive 0,036 Liter Rp. 1.002,8
3 Grease 0,180 kg Rp. 6.278,58
4 Filter-filter :
Oli filter 256 Jam Rp. 954,86
Engine filter 256 Jam Rp. 954,86
Hidrolik filter 1.856 Jam Rp. 129,45
Air cleaner 928 Jam Rp. 3.965,34
5 Perbaikan & Pemeliharaan - Rp. 24.425,28
6 Upah operator 232 Jam Rp. 14.130,39
7 Perlengkapan operator 2784 Jam Rp. 352,22
Total Biaya Operasi Rp. 419.374,84 / jam
Untuk 3 Unit Rp. 1.258.124,52 / jam
Sumber : Hasil Penellitian

Dari table di atas biaya operasi yang dikeluarkan untuk 3 unit alat muat
Excavator Doosan S500 LC-V setiap tahunnya adalah Rp.
7.005.237.327,36 / tahun. Hasil perhitungan biaya operasi alat muat dapat
dilihat pada (Lampiran 5).

4-4
4.2.1.3.3 Biaya Operasi Alat Angkut

Tabel 4.8 Biaya Operasi Alat Angkut

Kebutuhan
No Jenis Biaya Harga /Jam
(Jam)

1 Pemakaian Solar 20 Liter Rp. 240.000


2 Pelumas-pelumas
Mesin 0,086 Liter Rp. 2.308,42
Hidraulik 0,092 Liter Rp. 1.788,53
Difensial 0,054 Liter Rp. 1.385,03
Transmisi 0,022 liter Rp. 661,98
3 Grease 0,180 kg Rp. 5.393,88
4 Filter-filter :
Oli filter 256 Jam Rp. 215,51
Engine filter 256 Jam Rp. 215,51
Air cleaner 928 Jam Rp. 413,03
5 Perbaikan & Pemeliharaan - Rp. 22.449,71
6 Pergantian Ban 6496 Jam Rp. 994,39
7 Upah operator 232 Jam Rp. 14.130,39
8 Perlengkapan operator 2784 Jam Rp. 352,22
Total Biaya Operasi Rp. 284.860,72 / jam
Untuk 23 Unit Rp. 6.551.796,56 / jam
Sumber : Hasil Penelitian

Dari table di atas biaya operasi yang dikeluarkan untuk 23 unit alat angkut
Mercedes Benz Actros 4046 AK setiap tahunnya adalah Rp.
36.480.403.246,08 / tahun. Hasil perhitungan biaya operasi alat angkut
dapat dilihat pada (Lampiran 5).

4.2.2 Perhitungan Biaya Sewa Alat

Salah satu alternatif dalam penyediaan alat muat dan alat angkut untuk
melakukan penambangan batubara untuk mencapai target produksi yang
telah ditetapkan PT. Lamindo Inter Multikon adalah dengan menyewa alat.
Oleh karena itu perlu diketahui harga sewa alat dari pihak yang
menyewakan, dalam hal ini PT. Karebet Mas Indonesia dan PT. Alam

4-5
Bumi Jasindo yang merupakan mitra kerja PT. Lamindo Inter Multikon.
Berikut ini adalah harga sewa alat dari pihak penyewa, yaitu :
Tabel 4.9 Biaya Sewa Alat
Harga Sewa Harga Sewa Harga Sewa
No Uraian
( / jam ) ( / hari) ( / bulan)
Alat Muat Rp. 400.000 Rp. 6.400.000 Rp. 185.600.000
1
3 Unit Rp. 1.200.000 Rp. 19.200.000 Rp. 556.800.000
Alat Angkut Rp. 300.000 Rp. 4.800.000 Rp. 139.200.000
2
23 Unit Rp. 6.900.000 Rp. 110.400.000 Rp. 3.201.600.000
Sumber : PT. LIM

Dimana harga di atas sudah termasuk ongkos bahan bakar, pelumas-


pelumas, filter-filter, grease, sperpart, perbaikan, upah operator dan
maintenance. Pihak PT. Karebet Mas Indonesia dan PT. Alam Bumi
Jasindo tidak memberlakukan biaya pembayaran dimuka. Hasil
perhitungan biaya sewa alat dapat dilihat pada (Lampiran 5).

4.3 Perbandingan Antara Beli Alat Dan Sewa Alat


4.3.1 Alternatif Beli Alat Baru

PT. Lamindo Inter Multikon menyediakan alat untuk kegiatan


penambangan batubara adalah dengan membeli alat. Untuk
memperkirakan biaya yang dikeluarkan dari semua alat yang digunakan
harus dapat mengetahui ongkos-ongkos seperti : biaya kepemilikan yang
terdiri dari biaya penyusutan (depresiasi), bunga modal, pajak dan
asuransi. Sedangkan biaya operasi alat yang terdiri dari pembelian bahan
bakar, pelumas, grease, filter, ban biaya perbaikan, pembelian suku
cadang dan upah operator.

Dari hasil perhitungan diperoleh biaya kepemilikan dan biaya operasi yang
dikeluarkan untuk 3 unit alat muat Excavator Doosan S500 LC-V dari
tahun ke 1 sampai tahun ke 9 adalah sebesar Rp. 7.979.337.435 / tahun
sedangkan untuk 23 unit alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros

4-6
4046 AK dari tahun ke 1 sampai tahun ke 9 adalah sebesar Rp.
41.971.653.109 / tahun.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan Analisa Present


Worth Cost (PWC) adalah sebagai berikut :
a. Untuk Alat Muat
Tabel 4.10 Analisa PWC Beli Alat Muat
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
Investasi Awal - 10.200.000.000 - 10.200.000.000
1 7.979.337.435 0,8333 6.649.181.885
2 7.979.337.435 0,6944 5.540.851.915
3 7.979.337.435 0,5787 4.617.642.574
Biaya 4 7.979.337.435 0,4823 3.848.434.445
Kepemilikan dan 5 7.979.337.435 0,4019 3.206.895.715
Biaya Operasi 6 7.979.337.435 0,3349 2.672.280.107
7 7.979.337.435 0,2791 2.227.033.078
8 7.979.337.435 0,2326 1.855.993.887
9 7.979.337.435 0,1938 1.546.395.595
Nilai Sisa Alat 9 1.020.000.000 0,1938 197.676.000
Total 42.167.033.200
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Present Worth Cost (PWC) biaya yang dikeluarkan beli
alat untuk 3 unit Excavator Doosan S500 LC-V dari tahun ke 1 sampai
tahun ke 9 adalah Rp. 42.167.033.200. Hasil perhitungan PWC alat muat
dapat dilihat pada (Lampiran 6).
b. Untuk Alat Angkut
Tabel 4.11 Analisa PWC Beli Alat Angkut
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
Investasi Awal - 57.500.000.000 - 57.500.000.000
1 41.971.653.109 0,8333 34.974.978.536
Biaya
2 41.971.653.109 0,6944 29.145.115.919
Kepemilikan dan
3 41.971.653.109 0,5787 24.288.995.654
Biaya Operasi
4 41.971.653.109 0,4823 20.242.928.294

4-7
5 41.971.653.109 0,4019 16.868.407.385
6 41.971.653.109 0,3349 14.056.306.626
7 41.971.653.109 0,2791 11.714.288.383
8 41.971.653.109 0,2326 9.762.606.513
9 41.971.653.109 0,1938 8.134.106.373
Nilai Sisa Alat 9 5.750.000.000 0,1938 1.114.350.000
Total 225.573.383.683
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Present Worth Cost (PWC) biaya yang dikeluarkan beli
alat untuk 23 unit Mercedes Benz Actros 4046 AK dari tahun ke 1 sampai
tahun ke 9 adalah Rp. 225.573.383.683. Hasil perhitungan PWC alat muat
dapat dilihat pada (Lampiran 6).

Perhitungan dengan menggunakan Analisa Future Worth Cost (FWC)


adalah sebagai berikut :
a. Untuk Alat Muat
Tabel 4.12 Analisa FWC Beli Alat Muat
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
Investasi Awal - 10.200.000.000 - 10.200.000.000
1 7.979.337.435 1,2000 9.575.204.922
2 7.979.337.435 1,4400 11.490.245.906
3 7.979.337.435 1,7280 13.788.295.088
Biaya 4 7.979.337.435 2,0736 16.545.954.105
Kepemilikan dan 5 7.979.337.435 2,4883 19.854.985.340
Biaya Operasi 6 7.979.337.435 2,9860 23.826.301.581
7 7.979.337.435 3,5832 28.591.561.897
8 7.979.337.435 4,2998 34.309.555.103
9 7.979.337.435 5,1598 41.171.785.297
Nilai Sisa Alat 9 1.020.000.000 5,1598 5.262.996.000
Total 204.090.893.239
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Future Worth Cost (FWC) biaya yang dikeluarkan beli
alat untuk 3 unit Excavator Doosan S500 LC-V dari tahun ke 1 sampai

4-8
tahun ke 9 adalah Rp. 204.090.893.239. Hasil perhitungan FWC alat muat
dapat dilihat pada (Lampiran 6).
b. Untuk Alat Angkut
Tabel 4.13 Analisa FWC Beli Alat Angkut
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
Investasi Awal - 57.500.000.000 - 57.500.000.000
1 41.971.653.109 1,2000 50.365.983.731
2 41.971.653.109 1,4400 60.439.180.477
3 41.971.653.109 1,7280 72.527.016.572
Biaya 4 41.971.653.109 2,0736 87.032.419.887
Kepemilikan dan 5 41.971.653.109 2,4883 104.438.064.431
Biaya Operasi 6 41.971.653.109 2,9860 125.327.356.183
7 41.971.653.109 3,5832 150.392.827.420
8 41.971.653.109 4,2998 180.469.714.038
9 41.971.653.109 5,1598 216.565.335.712
Nilai Sisa Alat 9 5.750.000.000 5,1598 29.668.850.000
Total 1.075.389.048.452
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Future Worth Cost (FWC) biaya yang dikeluarkan beli
alat untuk 23 unit Mercedes Benz Actros 4046 AK dari tahun ke 1 sampai
tahun ke 9 adalah Rp. 1.075.389.048.452. Hasil perhitungan FWC alat
muat dapat dilihat pada (Lampiran 6).

4.3.2 Alternatif Sewa Alat

Salah satu alternatif dalam penyediaann alat-alat mekanis untuk


penambangan batubara pada PT. Lamindon Inter Multikon Site Bunyu
untuk mencapai target produksi adalah dengan cara menyewa alat. Untuk
itu perlu diketahui harga sewa alat dari pihak yang menyewakan, dalam
hal ini PT. Karebet Mas Indonesia dan PT. Alam Bumi Jasindo adalah
pihak yang menyewakan.
Dari hasil perhitungan biaya sewa alat, maka biaya yang dikeluarkan
untuk sewa alat muat 3 unit dari tahun ke 1 sampai tahun ke 9 adalah Rp.

4-9
6.681.600.000 / tahun dan untuk sewa alat angkut 23 unit dari tahun ke 1
sampai tahun ke 9 adalah Rp. 38.419.200.000 / tahun.

Perhitungan dengan menggunakan Analisa Present Worth Cost (PWC)


adalah sebagai berikut :
a. Untuk alat muat
Tabel 4.14 Analisa PWC Sewa Alat Angkut
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
1 6.681.600.000 0,8333 5.567.777.280
2 6.681.600.000 0,6944 4.639.703.040
3 6.681.600.000 0,5787 3.866.641.920
4 6.681.600.000 0,4823 3.222.535.680
Sewa Alat 5 6.681.600.000 0,4019 2.685.335.040
6 6.681.600.000 0,3349 2.237.667.840
7 6.681.600.000 0,2791 1.864.834.560
8 6.681.600.000 0,2326 1.554.140.160
9 6.681.600.000 0,1938 1.294.894.080
Total 26.933.529.600
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Present Worth Cost (PWC) biaya yang dikeluarkan
sewa alat untuk 3 unit alat angkut dari tahun ke 1 sampai tahun ke 9
adalah Rp. 26.933.529.600. Hasil perhitungan PWC alat muat dapat
dilihat pada (Lampiran 6).
b. Untuk alat angkut
Tabel 4.15 Analisa PWC Sewa Alat Angkut
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
1 38.419.200.000 0,8333 32.014.719.360
2 38.419.200.000 0,6944 26.678.292.480
3 38.419.200.000 0,5787 22.233.191.040
Sewa Alat 4 38.419.200.000 0,4823 18.529.580.160
5 38.419.200.000 0,4019 15.440.676.480
6 38.419.200.000 0,3349 12.866.590.080
7 38.419.200.000 0,2791 10.722.798.720

4-10
8 38.419.200.000 0,2326 8.936.305.920
9 38.419.200.000 0,1938 7.445.640.960
Total 154.867.795.200
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Present Worth Cost (PWC) biaya yang dikeluarkan
sewa alat untuk 23 unit alat angkut dari tahun ke 1 sampai tahun ke 9
adalah Rp. 154.867.795.200. Hasil perhitungan PWC alat muat dapat
dilihat pada (Lampiran 6).

Perhitungan dengan menggunakan Analisa Future Worth Cost (FWC)


adalah sebagai berikut :
a. Untuk Alat Muat
Tabel 4.16 Analisa FWC Beli Alat Muat
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
1 6.681.600.000 1,2000 8.017.920.000
2 6.681.600.000 1,4400 9.621.504.000
3 6.681.600.000 1,7280 11.545.804.800
4 6.681.600.000 2,0736 13.854.965.760
Sewa Alat 5 6.681.600.000 2,4883 16.625.825.280
6 6.681.600.000 2,9860 19.951.257.600
7 6.681.600.000 3,5832 23.941.509.120
8 6.681.600.000 4,2998 28.729.543.680
9 6.681.600.000 5,1598 34.475.719.680
Total 166.764.049.920
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Present Worth Cost (PWC) biaya yang dikeluarkan
sewa alat untuk 3 unit alat muat dari tahun ke 1 sampai tahun ke 9 adalah
Rp. 166.764.049.920. Hasil perhitungan PWC alat muat dapat dilihat pada
(Lampiran 6).

4-11
b. Untuk Alat Angkut
Tabel 4.17 Analisa FWC Beli Alat Angkut
Tahun Faktor
Jenis Biaya Cost PW Cost
Ke - (i =20%)
1 38.419.200.000 1,2000 46.103.040.000
2 38.419.200.000 1,4400 55.323.648.000
3 38.419.200.000 1,7280 66.388.377.600
4 38.419.200.000 2,0736 79.666.053.120
Sewa Alat 5 38.419.200.000 2,4883 95.598.495.360
6 38.419.200.000 2,9860 114.719.731.200
7 38.419.200.000 3,5832 137.663.677.440
8 38.419.200.000 4,2998 165.194.876.160
9 38.419.200.000 5,1598 198.235.388.160
Total 958.893.287.040
Sumber : Data Olahan

Dari tabel analisa Future Worth Cost (FWC) biaya yang dikeluarkan beli
alat untuk 23 unit alat angkut dari tahun ke 1 sampai tahun ke 9 adalah
Rp. 958.893.287.040. Hasil perhitungan FWC alat muat dapat dilihat pada
(Lampiran 6).

Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan analisa Present


Worth Cost dan Future Worth Cost maka alternatif investasi yang dipilih
adalah menyewa alat karena cost beli alat lebih besar daripada sewa alat,
baik itu untuk alat muat maupun alat angkut.
Tabel 4.18 Perbandingan Alternatif Beli Dan Sewa Alat
Alat Alternatif Beli Alternatif Sewa

PWC = Rp. 42.167.033.200 PWC = Rp. 26.933.529.600


Muat
FWC = Rp. 204.090.893.239 FWC = Rp. 166.764.049.920

PWC = Rp. 225.573.383.683 PWC = Rp. 154.867.795.200


Angkut
FWC = Rp. 1.075.389.048.452 FWC = Rp. 958.893.287.040

Sumber : Data Olahan

4-12
Berdasarkan table di atas perbedaan biaya yang dikeluarkan antara biaya
beli dan sewa alat setelah melakukan perhitungan dengan analisa Present
Worth Cost dan Future Worth Cost adalah untuk 3 unit alat muat PWC =
Rp. 15.233.503.600 dan FWC = Rp. 37.326.843.319, sedangkan untuk 23
unit alat angkut PWC = Rp. 70.705.588.483 dan FWC = Rp.
116.495.761.412. Hasil perhitungan analisa Present Worth Cost dan
Future Worth Cost dapat dilihat pada (Lampiran 6).

4-13
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Beradasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada bab terdahulu,


maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Dari hasil perhitungan produksi alat muat dan alat angkut maka
produksi yang dapat dicapai untuk alat muat Excavator Doosan S500
LC-V dengan jumlah alat 3 unit adalah 489.260,16 ton/bulan,
sedangkan untuk alat angkut Mercedes Benz Actor 4046 AK dengan
jumlah alat 23 unit adalah 477.298,24 ton/bulan sehingga target
produksi belum tercapai.
2. Biaya operasi yang dikeluarkan selama penambangan berlangsung
setiap tahunnya adalah sebagai berikut :
a. Untuk 3 unit alat muat Excavator Doosan S500 LC-V adalah
Rp. 7.005.237.327,36 / tahun.
b. Untuk 23 unit alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros
4046 AK adalah Rp. 36.480.403.246,08 / tahun.
3. Dari hasil perhitungan dengan menggunakan analisa Present Worth
Cost dan Future Worth Cost maka alternatif yang akan dipilih adalah
menyewa alat karena Cost beli > Cost sewa. Dalam hal ini yang
dipertimbangkan hanya pada sisi biaya investasi operasional saja.

5.2 Saran

Dari hasil penelitian dan pengamatan di lapangan, maka disarankan untuk


mengatasi permasalahan yang sering menghambat jam operasi adalah
sebagia berikut :
1. Pada kegiatan pemuatan dan pengangkutan hasil produksi belum
dapat mencapai target karena efisiensi kerja yang rendah, sebaiknya
lebih ditingkatkan lagi efisiensi kerja sehingga target produksi dapat
tercapai.

5-1
2. Karena kegiatan penambangan batubara dilakukan dalam 2 shift maka
perlu diperhatikan adalah jam perbaikan, pemeliharaan mesin alat
harus dilakukan secara teratur agar kerja alat tetap baik sampai umur
ekonomis dan umur tambang.
3. Karena hasil penelitian ini hanya mempertimbangkan sisi biaya
investasi operasional saja maka sebaiknya dilakukan lagi penelitian
dalam segi analisis income value.

5-2
DAFTAR PUSTAKA

Andi Ilham Samanlangi, 2015, Sistem Penambangan Universitas


Veteran Republik Indonesia Makassar.

Andi Amrullah, 2016, Pedoman Penulisan Skripsi, Universitas Pejuang


Republik Indonesia Makassar.

Androly Andreas, Vol 1, No 1, 2014, Perencanaan Biaya Dan Kebutuhan


Alat Muat Dan Angkut Pada Lokasi Penambangan Area 242,3ha Batu
Kapur PT. Semen Padang Sumatera Barat ISSN: 2302-3333.

Elvhyn Novan Ananda, , Vol 3, No 3 : 531-545, 2015, Analisis Biaya


Differensial Untuk Pengambilan Keputusan Dalam Rencana
Pengadaan Alat Berat Membeli Atau Menyewa Pada Cv Putri Dita Di
Tenggarong ISSN 2355-5408.

Ishlah T, 1995, Genesa Bahan Galian, Pusat Pengembangan Tenaga


Pertambangan, Bandung.

Prodjosumarto Partanto, 1993, Pemindahan Tanah Mekanis Departemen


Tambang, ITB, Bandung.

Rezky Anisari, Vol 16, No 1, 2016, Produktivitas Alat Muat Dan Angkut
Pada Pengupasan Lapisan Tanah Penutup Di Pit 8 Fleet D Pt. Jhonlin
Baratama Jobsite Satui Kalimantan Selatan ISSN 1412-5609.

Riki Rizki Ilahi, Vol 2, No 3, 2014,Kajian Teknis Produktivitas Alat Gali-


Muat (Excavator) Dan Alat Angkut (Dump Truck) Pada Pengupasan
Tanah Penutup Bulan September 2013 Di Pit 3 Banko Barat Pt. Bukit
Asam (Persero) Tbk Upte ISSN: 2338-7459.

Sukandarrumidi, 1995, Batubara Dan Gambut, Universitas Gadjah Mada,


Yogyakarta.

Toni Mayyondra, Vol 3, No 03, 2015, Biaya Produksi Alat Muat Dan Alat
Angkut Pada Kegiatan Pengupasan Overburden Penambangan
Batubara Di PT. Karbindo Abesyapradhi ISSN: 2302-3333.

DP
L
A

P
I

N
LAMPIRAN 1 : Koordinat Wilayah Izin Pertambangan PT. Lamindo Inter
Multikon

Tabel L 1.1 Koordinat Wilayah Izin Pertambangan

Bujur Timur (BT) Lintang Utara (LT)


Nomor
Titik Derajat Derajat
Menit (') Detik (") Menit (') Detik (")
(o) (o)
1 117 50 13,05 3 32 09,71
2 117 50 59,74 3 32 09,71
3 117 50 59,74 3 31 45,99
4 117 47 15,30 3 31 45,99
5 117 47 15,30 3 29 37,47
6 117 50 33,38 3 29 37,47
7 117 50 33,38 3 30 05,16
8 117 50 13,35 3 30 05,16
9 117 50 13,35 3 30 23,01
10 117 50 16,05 3 30 23,01
11 117 50 16,05 3 30 26,47
12 117 50 19,47 3 30 26,47
13 117 50 19,47 3 30 30,88
14 117 50 21,79 3 30 30,88
15 117 50 21,79 3 30 42,71
16 117 50 19,89 3 30 42,71
17 117 50 19,89 3 30 44,97
18 117 50 17,60 3 30 44,97
19 117 50 17,60 3 30 47,27
20 117 50 13,07 3 30 47,27
21 117 50 13,07 3 30 48,96
22 117 50 08,89 3 30 48,96
23 117 50 08,89 3 30 51,09
24 117 50 02,30 3 30 51,09
25 117 50 02,30 3 30 55,38
26 117 49 57,39 3 30 55,38
27 117 49 57,39 3 30 00,00
28 117 49 53,63 3 31 00,00
29 117 49 53,63 3 31 04,94
30 117 49 49,87 3 31 04,94

L 1-1
LAMPIRAN 2 : Data Jam Kerja PT. Lamindo Inter Multikon

Pengamatan terhadap jam kerja dimaksudkan untuk mengetahui besarnya


waktu yang dibutuhkan secara efektif pada suatu alat dalam melakukan
operasinya, sesuai dengan jadwal jam kerja di PT. Lamindo Inter Multikon,
adapun jadwal kerja di Mining Departemen sebagai berikut:
Satu tahun : 348 hari
Satu bulan : 29 hari
Satu minggu : 7 hari
Satu hari : 2 shift
Shift 1 : 8 jam
Shift 2 : 8 jam

Adapun pembagian jam kerja dalam satu shift dapat di lihat sebagai
berikut :
Tabel L 2.1 Jam Kerja PT. Lamindo Inter Multikon
Jam Kerja
No Shift Jam Kerja Jam Istirahat
Lanjutan

1 Pagi 07 .00 - 12.00 12.00 - 13.00 13.00 - 15.00

2 Malam 19.00 - 24.00 24.00 - 01.00 01.00 - 03.00

Sumber : PT. LIM

L 2-1
LAMPIRAN 3 : Daftar Harga Beli Dan Sewa Alat Muat Dan Alat Angkut

Tabel L 3.1 Daftar Harga Alat Muat

No Uraian Beli Sewa

1 Harga alat Rp. 3.400.000.000 / unit Rp. 400.000/jam

2 Biaya Operasi :

- Bahan Bakar Rp. 12.000 / liter -

- Pelumas-pelumas : -

Mesin Rp. 26.842,20 / liter -

hidraulik Rp. 19.800 / liter -

Final drive Rp. 27.855,86 / liter -

- Grease Rp. 34.881,02 / kg -

- Filter-filter : -

Oli filter Rp. 244.444,5 / 16 hari -

Engine filter Rp. 244.444,5 / 16 hari -

Hidrolik filter Rp. 240.259,5 / 4 bulan -

Air cleaner Rp. 3.679.844 / 2 bulan -

- Upah operator Rp. 3.278.250 / bulan -

- Perlengkapan operator Rp. 980.592,39 / tahun -

Sumber : Departemen Maintenance PT. LIM

L 3-1
Tabel L 3.2 Daftar Harga Alat Angkut

No Uraian Beli Sewa

1 Harga alat Rp. 2.500.000.000 / unit Rp. 300.000/jam

2 Biaya Operasi :

- Bahan Bakar Rp. 12.000 / liter -

- Pelumas-pelumas : -

Mesin Rp. 26.842,20 / liter -

hidraulik Rp. 19.440,62 / liter -

Difensial Rp. 25.648,70 / liter -

Transmisi Rp. 30.090,07 / liter -

- Grease Rp. 29.966 / kg -

- Filter-filter : -

Oli filter Rp. 100.000 / bulan -

Engine filter Rp. 100.000 / bulan -

Air cleaner Rp. 400.000 / 2 bulan -

- Pergantian ban Rp. 6.459.595 /14bulan -

- Upah operator Rp. 3.278.250 / bulan -

- Perlengkapan operator Rp. 980.592,39 / tahun -

Sumber : Departemen Maintenance PT. LIM

L 3-2
LAMPIRAN 4 : Perhitungan Jumlah Dan Produksi Alat

1. Produksi Alat Muat

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, untuk mendapatkan data produksi dari


alat muat digunakan rumus sebagai berikut :

Diketahui :
Kapasitas bucket = 3,2 m3 x Density Loose
= 3,2 m3 x 1,30 ton/m3
= 4,16 ton
Swell factor = 74 % (Lampiran 10)
Fill factor = 97,83 % (Lampiran 9)
Effesiensi kerja = 65 % (Lampiran 11)
Cycle time = 20,05 detik (Lampiran 7)
Kb x sf x ff x eff x 3600 detik / jam
PE =
CT (detik)
4,16 ton x 0,74 x 0,9783 x 0,65 x 3600 detik / jam
=
20,05 detik
= 351,48 ton/jam
= 351,48 ton/jam x 16 jam
= 5623,86 ton/hari x 29 hari
= 163.086,72 ton/bulan

2. Produksi Alat Angkut

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, untuk mendapatkan data produksi dari


alat angkut digunakan rumus sebagai berikut :

L 4-1
a. Pit Mitra ( Jarak 3000 meter )
Diketahui :
Jumlah pengisian = 5 kali
Kapasitas bucket = 3,2 m3 x Density Loose
= 3,2 m3 x 1,30 ton/m3
= 4,16 ton
Swell factor = 74 % (Lampiran 10)
Fill factor = 97,83 % (Lampiran 9)
Effesiensi kerja = 70 % (Lampiran 12)
Cycle time = 1094,76 detik (Lampiran 8)
Kb x sf x ff x n x eff x 3600 detik / jam
PD =
CT (detik)
4,16 ton x 0,74 x 0,9783 x 5 x 0,70 x 3600 detik / jam
=
1094,76 detik
= 34,66 ton/jam
= 34,66 ton/jam x 16 jam
= 554,56 ton/hari x 29 hari
= 16.082,24 ton/bulan

b. Pit Warga Utama ( Jarak 1500 meter )


Diketahui :
Jumlah pengisian = 5 kali
Kapasitas bucket = 3,2 m3 x Density Loose
= 3,2 m3 x 1,30 ton/m3
= 4,16 ton
Swell factor = 74 % (Lampiran 10)
Fill factor = 97,83 % (Lampiran 9)
Effesiensi kerja = 70 % (Lampiran 12)
Cycle time = 680,78 detik (Lampiran 8)

L 4-2
Kb x sf x ff x n x eff x 3600 detik / jam
PD =
CT (detik)
4,16 ton x 0,74 x 0,9783 x 5 x 0,70x 3600 detik / jam
=
680,78 detik
= 55,74 ton/jam
= 55,74 ton/jam x 16 jam
= 891,84 ton/hari x 29 hari
= 25.863,36 ton/bulan

c. Pit 10 ( Jarak 2000 meter )


Diketahui :
Jumlah pengisian = 5 kali
Kapasitas bucket = 3,2 m3 x Density Loose
= 3,2 m3 x 1,30 ton/m3
= 4,16 ton
Swell factor = 74 % (Lampiran 10)
Fill factor = 97,83 % (Lampiran 9)
Effesiensi kerja = 70 % (Lampiran 12)
Cycle time = 764,13 detik (Lampiran 8)
Kb x sf x ff x n x eff x 3600 detik / jam
PD =
CT (detik)
4,16 ton x 0,74 x 0,9783 x 5 x 0,70 x 3600 detik / jam
=
764,13 detik
= 49,66 ton/jam
= 49,66 ton/jam x 16 jam
= 794,56 ton/hari x 29 hari
= 23.042,24 ton/bulan

L 4-3
3. Kebutuhan Alat Muat Dan Alat Angkut

Berikut ini adalah data perhitungan hasil kebutuhan alat muat dan alat angkut
yang di dapat dari lapangan yaitu :

a. Kebutuhan Alat Muat

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, untuk mendapatkan data kebutuhan


dari alat muat dan alat angkut digunakan rumus sebagai berikut :
Target produksi / bulan
Jumlah alat mekanis =
Produksi alat / bulan
500.000 Ton
=
163.086,72 Ton
= 3,06 3 di bulatkan

b. Kebutuhan Alat Angkut Pada Pit Mitra

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, untuk mendapatkan data kebutuhan


dari alat muat dan alat angkut digunakan rumus sebagai berikut :
Target Produksi / bulan
Jumlah alat mekanis =
Produksi alat / bulan
166.666,7 Ton
=
16.082,24 Ton
= 10,36 10 di bulatkan

c. Kebutuhan Alat Angkut Pada Pit Warga Utama

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, untuk mendapatkan data kebutuhan


dari alat muat dan alat angkut digunakan rumus sebagai berikut :
Target Produksi / bulan
Jumlah alat mekanis =
Produksi alat / bulan
166.666,7 Ton
=
25.863,36 Ton

L 4-4
= 6,44 6 di bulatkan

d. Kebutuhan Alat Angkut Pada Pit 10

Sesuai hasil pengamatan di lapangan, untuk mendapatkan data kebutuhan


dari alat muat dan alat angkut digunakan rumus sebagai berikut :
Target Produksi / bulan
Jumlah alat mekanis =
Produksi alat / bulan
166.666,7 Ton
=
23.042,24 Ton
= 7,23 7 di bulatkan

Jadi jumlah alat muat dan alat angkut yang dibutuhkan pada penambangan
batubara di Pit Mitra, Pit Warga Utama dan Pit 10 adalah sebagai berikut :
Jumlah alat angkut : 23 unit
Jumlah alat muat : 3 unit

Dari hasil perhitungan di atas maka produksi yang dicapai alat muat dan alat
angkut adalah sebagai berikut :

1. Untuk Alat Muat Doosan S500 LC-V


Produksi yang di capai = 351,48 ton/jam x 3 unit
= 1.054,44 ton/jam x 16 jam
= 16.871,04 ton/hari x 29 hari
= 489.260,16 ton/bulan

Jadi total produksi yang dapat dicapai Alat Muat Doosan S500 LC-V pada Pit
Mitra, Pit Warga Utama dan Pit 10 adalah 489.260,16 ton/bulan.

2. Untuk Alat Angkut Mercedes Benz Actros 4046 AK


Produksi Pada Pit Mitra = 34,66 ton/jam x 10 unit
= 346,60 ton/jam x 16 jam
= 5.545,60 ton/hari x 29 hari

L 4-5
= 160.822,40 ton/bulan
Produksi Pada Pit Warga Utama = 55,74 ton/jam x 6 unit
= 334,44 ton/jam x 16 jam
= 5.351,04 ton/hari x 29 hari
= 155.180,16 ton/bulan
Produksi Pada Pit 10 = 49,66 ton/jam x 7 unit
= 347,62 ton/jam x 16 jam
= 5.561,92 ton/hari x 29 hari
= 161.295,68 ton/bulan

Jadi total produksi yang dapat dicapai Alat Angkut Mercedes Benz Actros
4046 AK pada Pit Mitra, Pit Warga Utama, dan Pit 10 adalah 160.822,40
ton/bulan + 155.180,16 ton/bulan + 161.295,68 ton/bulan = 477.298,24
ton/bulan.

L 4-6
LAMPIRAN 5 : Perhitungan Biaya Beli Dan Sewa Alat

A. Perhitungan Biaya Beli Alat


1. Nilai Sisa Peralatan

Nilai sisa peralatan bekas pakai dimana umur ekonomisnya sudah habis,
secara umum bahwa nilai sisa peralatan dihargai 10% dari harga barunya.

a. Jenis alat : Excavator Doosan S500 LC-V


Umur alat : 10 tahun
Harga alat : Rp. 3.400.000.000
Nilai sisa alat : 10% x Rp. 3.400.000.000
: Rp. 340.000.000 x 3 unit
Untuk 3 unit : Rp. 1.020.000.000

b. Jenis alat : Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046 AK


Umur alat : 10 tahun
Harga alat : Rp. 2.500.000.000
Nilai sisa alat : 10% x Rp. 2.500.000.000
: Rp. 250.000.000 x 23 unit
Untuk 23 unit : Rp. 5.750.000.000

2. Perhitungan Biaya Kepemilikan Dan Biaya Operasi

Biaya kepemilikan alat adalah biaya dari pembelian alat yang seharusnya
diterima kembali dan hitung perjam serta diperhitungkan selama umur
ekonomisnya.

a. Perhitungan Biaya Kepemilikan Dan Biaya Operasi Alat Muat


1) Perhitungan biaya kepemilikan alat muat

Biaya penyusutan (depresiasi) alat muat Excavator Doosan S500


LC-V :

L 5-2
Rp. 3.400.000.000 - Rp. 340.000.000
Biaya penyusutan =
55680 jam
= Rp. 54.956,90 / jam

Pajak, bunga, modal, asuransi dan sewa gedung diambil 10% dari
modal tahunan :
1 10
Penanaman modal tahunan =
2 (10)
= 0,55
10% x 0,55 x Rp. 3.400.000.000
Pajak, bunga, asuransi =
55680 jam
= Rp. 3.358,48 / jam
Jadi biaya kepemilikan =Rp.54.956,90/jam + Rp. 3.358,48/jam
= Rp. 58.315,38 / jam
Untuk 3 unit = Rp. 174.946,14 / jam

2) Perhitungan biaya operasi alat muat


Bahan bakar = 30 liter/jam x Rp. 12.000 = Rp. 360.000 / jam
Pelumas-pelumas
- Mesin = 0,12 liter/jam x Rp. 26.842,20 = Rp. 3.221,06/jam
- Hidraulik = 0,20 liter/jam x Rp. 19.800 = Rp. 3.960/jam
- Final drive = 0,036 liter/jam x Rp. 27.855,86 = Rp. 1.002,8/jam
Jadi total harga pelumas = Rp. 8.183,86 / jam
Grease = 0,180 kg/jam x Rp. 34.881,02/kg = Rp. 6.278,58/jam
Filter-filter :
Rp. 244.444,5 / 16 hari
- Oil filter =
256 jam / 16 hari
= Rp. 954,86 / jam
Rp. 244.444,5 / 16 hari
- Engine filter =
256 jam / 16 hari
= Rp. 954,86 / jam 9,95

L 5-3
Rp. 240.259,5 / 4 bulan
- Hydrolik filter =
1856 jam / 4 bulan
= Rp. 129,45 / jam
Rp. 3.679.844 / 2 bulan
- Air cleaner =
928 jam / 2 bulan
= Rp. 3.965,34 / jam
Total biaya filter = Rp. 6.004,51 / jam
Ongkos perbaikan dan pemeliharaan
Factor perbaikan x harga alat
=
Umur alat (jam)
0,4 x Rp. 3.400.000.000
=
55680 jam
= Rp. 24.425,28 / jam
Rp. 3.278.250 / bulan
Upah operator =
232 jam / bulan
= Rp. 14.130,39 / jam
Rp. 980.592,39 / tahun
Safety dan pakaian =
2784 jam / tahun
= Rp. 352,22 / jam
Jadi total biaya operator = Rp.14.130,39/jam + Rp.352,22/jam
= Rp. 14.482,61 / jam
Jadi total biaya operasi alat muat Excavator Doosan S500 LC-V
adalah : Rp. 419.374,84 / jam

Total biaya kepemilikan dan biaya operasi alat muat Excavator


Doosan S500 LC-V per unit adalah :
= Rp. 58.315,38 / jam + Rp. 419.374,84 / jam
= Rp. 477.690,22 / jam
Jadi biaya kepemilikan dan biaya operasi alat muat Excavator
Doosan S500 LC-V setiap tahunnya adalah :
= Rp. 477.690,22 / jam x 5568 jam / tahun

L 5-4
= Rp. 2.659.779.145 / tahun x 3 unit
= Rp. 7.979.337.435 / tahun

b. Perhitungan Biaya Kepemilikan Dan Biaya Operasi Alat Angkut


1) Perhitungan biaya kepemilikan alat angkut

Biaya penyusutan (depresiasi) alat angkut Mercedes Benz Actros


4046 AK :
Rp. 2.500.000.000 - Rp. 250.000.000
Biaya penyusutan =
55680 jam
= Rp. 40.409,48 / jam

Pajak, bunga, modal, asuransi dan sewa gedung diambil 10% dari
modal tahunan :
1 10
Penanaman modal tahunan =
2 (10)
= 0,55
10% x 0,55 x Rp. 2.500.000.000
Pajak, bunga, asuransi =
55680 jam
= Rp. 2.469,47 / jam
Jadi biaya kepemilikan =Rp. 40.409,48/jam+Rp. 2.469,47/jam
= Rp. 42.878,95 / jam
Untuk 23 unit = Rp. 986.215,85 / jam

2) Perhitungan biaya operasi alat angkut


Bahan bakar = 20 liter/jam x Rp. 12.000 = Rp. 240.000 / jam
Pelumas-pelumas
- Mesin = 0,086 liter/jam x Rp. 26.842,20 = Rp. 2.308,42/jam
- Hidraulik = 0,092 liter/jam x Rp. 19.440,62 = Rp. 1.788,53/jam
- Difensial = 0,054 liter/jam x Rp. 25.648,70 = Rp. 1.385,03/jam
- Trasmisi = 0,022 liter/jam x Rp. 30.090,07 = Rp. 661,98/jam
Jadi total harga pelumas = Rp. 6.143,96 / jam
Grease = 0,180 kg/jam x Rp. 29.966/kg = Rp. 5.393,88 / jam

L 5-5
Filter-filter :
Rp.100.000 / bulan
- Oil filter =
464 jam / bulan
= Rp. 215,51 / jam
Rp.100.000 / bulan
- Engine filter =
464 jam / bulan
= Rp. 215,51 / jam
Rp. 400.000 / 2 bulan
- Air cleaner =
928 jam / 2 bulan
= Rp. 413,03 / jam
Total biaya filter = Rp. 844,05 / jam
Ongkos perbaikan dan pemeliharaan
Factor perbaikan x harga alat
=
Umur alat (jam)
0,5 x Rp. 2.500.000.000
=
55680 jam
= Rp. 22.449,71 / jam
Harga ban baru
Ongkos pergantian ban baru =
Umur pemakaianban
Rp. 6.459.595
=
6496 jam / 14 bulan
= Rp. 994,39 / jam
Rp. 3.278.250 / bulan
Upah operator =
232 jam / bulan
= Rp. 14.130,39 / jam
Rp. 980.592,39 / tahun
Safety dan pakaian =
2784 jam / tahun
= Rp. 352,22 / jam
Jadi total biaya operator = Rp.14.130,39/jam + Rp.352,22/jam
= Rp. 14.482,61 / jam

L 5-6
Jadi total biaya operasi alat angkut Dump Truck Mercedes Benz
Actros 4046 AK adalah : Rp. 284.860,72 / jam

Total biaya kepemilikan dan biaya operasi alat angkut Dump Truck
Mercedes Benz Actros 4046 AK per unit adalah :
= Rp. 42.878,95 / jam + Rp. 284.860,72 / jam
= Rp. 327.739,67 / jam

Jadi biaya kepemilikan dan biaya operasi alat angkut Dump Truck
Mercedes Benz Actros 4046 AK setiap tahunnya adalah :
= Rp. 327.739,67 / jam x 5568 jam / tahun
= Rp. 1.824.854.483 / tahun x 23 unit
= Rp. 41.971.653.109 / tahun

B. Perhitungan Biaya Sewa Alat

Didasarkan atas besarnya biaya sewa alat yang akan disewakan maka
perhitungan jumlah sewa alat adalah sebagai berikut :

1. Biaya Sewa Alat Muat :


Ongkos sewa per jam = Rp. 400.000 / jam x 16 jam / hari
= Rp. 6.400.000 / hari
= Rp. 6.400.000 / hari x 29 hari / bulan
= Rp. 185.600.000 / bulan
= Rp. 185.600.000 / bulan x 12 bulan / tahun
= Rp. 2.227.200.000 / tahun
= Rp. 2.227.200.000 / tahun x 3 unit
= Rp. 6.681.600.000 / tahun

2. Biaya Sewa Alat Angkut :


Ongkos sewa per jam = Rp. 300.000 / jam x 16 jam / hari
= Rp. 4.800.000 / hari
= Rp. 4.800.000 / hari x 29 hari / bulan

L 5-7
= Rp. 139.200.000 / bulan
= Rp. 139.200.000 / bulan x 12 bulan / tahun
= Rp. 1.670.400.000 / tahun
= Rp. 1.670.400.000 / tahun x 23 unit
= Rp. 38.419.200.000 / tahun

L 5-8
LAMPIRAN 6 : Perbandingan Antara Beli Alat Dan Sewa Alat

1. Alternatif Beli Alat Baru

Perhitungan dengan menggunakan Analisa Present Worth Cost (PWC)


adalah sebagai berikut :

a. Untuk alat muat

P =
OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435
C = 10.200.000.000 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L = 1.020.000.000
i = 20%

PW Cost = 10.200.000.000 + 7.979.337.435 (P/F 20,1) + 7.979.337.435


(P/F20,2) + 7.979.337.435 (P/F20,3) + 7.979.337.435 (P/F20,4) +
7.979.337.435 (P/F20,5) + 7.979.337.435 (P/F20,6) +
7.979.337.435 (P/F20,7) + 7.979.337.435 (P/F20,8) +
7.979.337.435 (P/F20,9) - 1.020.000.000 (P/F20,9)
= 10.200.000.000 + 7.979.337.435 (0,8333) + 7.979.337.435
(0,6944) + 7.979.337.435 (0,5787) + 7.979.337.435 (0,4823)
+ 7.979.337.435 (0,4019) + 7.979.337.435 (0,3349) +
7.979.337.435 (0,2791) + 7.979.337.435 (0,2326) +
7.979.337.435 (0,1938) - 1.020.000.000 (0,1938)
= 10.200.000.000 + 6.649.181.885 + 5.540.851.915 +
4.617.642.574 + 3.848.434.445 + 3.206.895.715 +
2.672.280.107 + 2.227.033.078 + 1.855.993.887 +
1.546.395.595 - 197.676.000
= 42.364.709.200 197.676.000
PW Cost = Rp. 42.167.033.200

L 6-1
b. Untuk alat angkut

P =
OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109
C = 57.500.000.000 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L = 5.750.000.000
i = 20%
PW Cost = 57.500.000.000 + 41.971.653.109 (P/F20,1) + 41.971.653.109
(P/F20,2) + 41.971.653.109 (P/F20,3) + 41.971.653.109
(P/F20,4) + 41.971.653.109 (P/F20,5) + 41.971.653.109
(P/F20,6) + 41.971.653.109 (P/F20,7) + 41.971.653.109
(P/F20,8) + 41.971.653.109 (P/F20,9) 5.750.000.000
(P/F20,9)
= 57.500.000.000 + 41.971.653.109 (0,8333) + 41.971.653.109
(0,6944) + 41.971.653.109 (0,5787) + 41.971.653.109
(0,4823) + 41.971.653.109 (0,4019) + 41.971.653.109
(0,3349) + 41.971.653.109 (0,2791) + 41.971.653.109
(0,2326) + 41.971.653.109 (0,1938) 5.750.000.000
(0,1938)
= 57.500.000.000 + 34.974.978.536 + 29.145.115.919 +
24.288.995.654 + 20.242.928.294 + 16.868.407.385 +
14.056.306.626 + 11.714.288.383 + 9.762.606.513 +
8.134.106.373 1.114.350.000
= 226.687.733.683 1.114.350.000
PW Cost = Rp. 225.573.383.683

L 6-2
Perhitungan dengan menggunakan Analisa Future Worth Cost (FWC)
adalah sebagai berikut :

a. Untuk alat muat

F=
OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435
C = 10.200.000.000 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435 OC = 7.979.337.435

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L = 1.020.000.000
i = 20%
FW Cost = 10.200.000.000 + 7.979.337.435 (F/P20,1) + 7.979.337.435
(F/P20,2) + 7.979.337.435 (F/P20,3) + 7.979.337.435 (F/P20,4)
+ 7.979.337.435 (F/P20,5) + 7.979.337.435 (F/P20,6) +
7.979.337.435 (F/P20,7) + 7.979.337.435 (F/P20,8) +
7.979.337.435 (F/P20,9) - 1.020.000.000 (F/P20,9)
= 10.200.000.000 + 7.979.337.435 (1,2000) + 7.979.337.435
(1,4400) + 7.979.337.435 (1,7280) + 7.979.337.435 (2,0736)
+ 7.979.337.435 (2,4883) + 7.979.337.435 (2,9860) +
7.979.337.435 (3,5832) + 7.979.337.435 (4,2998) +
7.979.337.435 (5,1598) - 1.020.000.000 (5,1598)
= 10.200.000.000 + 9.575.204.922 + 11.490.245.906 +
13.788.295.088 + 16.545.954.105 + 19.854.985.340 +
23.826.301.581 + 28.591.561.897 + 34.309.555.103 +
41.171.785.297 5.262.996.000
= 209.353.889.239 5.262.996.000
FW Cost = Rp. 204.090.893.239

b. Untuk alat angkut

F = .
OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109
C = 57.500.000.000 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109 OC = 41.971.653.109

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L = 5.750.000.000
i = 20%

L 6-3
FW Cost = 57.500.000.000 + 41.971.653.109 (F/P20,1) + 41.971.653.109
(F/P20,2) + 41.971.653.109 (F/P20,3) + 41.971.653.109
(F/P20,4) + 41.971.653.109 (F/P20,5) + 41.971.653.109
(F/P20,6) + 41.971.653.109 (F/P20,7) + 41.971.653.109
(F/P20,8) + 41.971.653.109 (F/P20,9) 5.750.000.000
(F/P20,9)
= 57.500.000.000 + 41.971.653.109 (1,2000) + 41.971.653.109
(1,4400) + 41.971.653.109 (1,7280) + 41.971.653.109
(2,0736) + 41.971.653.109 (2,4883) + 41.971.653.109
(2,9860) + 41.971.653.109 (3,5832) + 41.971.653.109
(4,2998) + 41.971.653.109 (5,1598) 5.750.000.000
(5,1598)
= 57.500.000.000 + 50.365.983.731 + 60.439.180.477 +
72.527.016.572 + 87.032.419.887 + 104.438.064.431 +
125.327.356.183 + 150.392.827.420 + 180.469.714.038 +
216.565.335.712 29.668.850.000
= 1.105.057.898.452 29.668.850.000
FW Cost = Rp. 1.075.389.048.452

Setelah melakukan perhitungan alternatif beli alat dengan menggunakan


Analisa Present Worth Cost (PWC) dan Future Worth Cost (FWC) dari
masing-masing alat diperoleh hasil sebagai berikut :
Alat muat Excavator Doosan S500 LC-V
Present Worth Cost : Rp. 42.167.033.200
Future Worth Cost : Rp. 204.090.893.239
Alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046 AK
Present Worth Cost : Rp. 225.573.383.683
Future Worth Cost : Rp. 1.075.389.048.452

L 6-4
2. Alternatif Sewa Alat

Perhitungan dengan menggunakan Analisa Present Worth Cost (PWC)


adalah sebagai berikut :
a. Untuk alat muat

P =
OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000
C = 0 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L=0
i = 20%
PW Cost = 6.681.600.000 (P/F20,1) + 6.681.600.000 (P/F20,2) +
6.681.600.000 (P/F20,3) + 6.681.600.000 (P/F20,4) +
6.681.600.000 (P/F20,5) + 6.68p1.600.000 (P/F20,6) +
6.681.600.000 (P/F20,7) + 6.681.600.000 (P/F20,8) +
6.681.600.000 (P/F20,9)
= 6.681.600.000 (0,8333) + 6.681.600.000 (0,6944) +
6.681.600.000 (0,5787) + 6.681.600.000 (0,4823) +
6.681.600.000 (0,4019) + 6.681.600.000 (0,3349) +
6.681.600.000 (0,2791) + 6.681.600.000 (0,2326) +
6.681.600.000 (0,1938)
= 5.567.777.280 + 4.639.703.040 + 3.866.641.920 +
3.222.535.680 + 2.685.335.040 + 2.237.667.840 +
1.864.834.560 + 1.554.140.160 + 1.294.894.080
= 26.933.529.600
PW Cost = Rp. 26.933.529.600

b. Untuk alat angkut

P =
OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000
C = 0 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L=0
i = 20%

L 6-5
PW Cost = 38.419.200.000 (P/F20,1) + 38.419.200.000 (P/F20,2) +
38.419.200.000 (P/F20,3) + 38.419.200.000 (P/F20,4) +
38.419.200.000 (P/F20,5) + 38.419.200.000 (P/F20,6) +
38.419.200.000 (P/F20,7) + 38.419.200.000 (P/F20,8) +
38.419.200.000 (P/F20,9)
= 38.419.200.000 (0,8333) + 38.419.200.000 (0,6944) +
38.419.200.000 (0,5787) + 38.419.200.000 (0,4823) +
38.419.200.000 (0,4019) + 38.419.200.000 (0,3349) +
38.419.200.000 (0,2791) + 38.419.200.000 (0,2326) +
38.419.200.000 (0,1938)
= 32.014.719.360 + 26.678.292.480 + 22.233.191.040 +
18.529.580.160+ 15.440.676.480 + 12.866.590.080 +
10.722.798.720 + 8.936.305.920 + 7.445.640.960
= 154.867.795.200
PW Cost = Rp. 154.867.795.200

Perhitungan dengan menggunakan Analisa Future Worth Cost (FWC)

adalah sebagai berikut :

a. Untuk alat muat

F=
OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000
C = 0 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000 OC = 6.681.600.000

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L=0
i = 20%
FW Cost = 6.681.600.000 (F/P20,1) + 6.681.600.000 (F/P20,2) +
6.681.600.000 (F/P20,3) + 6.681.600.000 (F/P20,4) +
6.681.600.000 (F/P20,5) + 6.681.600.000 (F/P20,6) +
6.681.600.000 (F/P20,7) + 6.681.600.000 (F/P20,8) +
6.681.600.000 (F/P20,9)
= 6.681.600.000 (1,2000) + 6.681.600.000 (1,4400) +
6.681.600.000 (1,7280) + 6.681.600.000 (2,0736) +

L 6-6
6.681.600.000 (2,4883) + 6.681.600.000 (2,9860) +
6.681.600.000 (3,5832) + 6.681.600.000 (4,2998) +
6.681.600.000 (5,1598)
= 8.017.920.000 + 9.621.504.000 + 11.545.804.800 +
13.854.965.760 + 16.625.825.280 + 19.951.257.600 +
23.941.509.120 + 28.729.543.680 + 34.475.719.680
= 166.764.049.920
FW Cost = Rp. 166.764.049.920

b. Untuk alat angkut

F=
OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000
C = 0 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000 OC = 38.419.200.000

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
L=0
i = 20%
FW Cost = 38.419.200.000 (F/P20,1) + 38.419.200.000 (F/P20,2) +
38.419.200.000 (F/P20,3) + 38.419.200.000 (F/P20,4) +
38.419.200.000 (F/P20,5) + 38.419.200.000 (F/P20,6) +
38.419.200.000 (F/P20,7) + 38.419.200.000 (F/P20,8) +
38.419.200.000 (F/P20,9)
= 38.419.200.000 (1,2000) + 38.419.200.000 (1,4400) +
38.419.200.000 (1,7280) + 38.419.200.000 (2,0736) +
38.419.200.000 (2,4883) + 38.419.200.000 (2,9860) +
38.419.200.000 (3,5832) + 38.419.200.000 (4,2998) +
38.419.200.000 (5,1598)
= 46.103.040.000 + 55.323.648.000 + 66.388.377.600 +
79.666.053.120 + 95.598.495.360 + 114.719.731.200 +
137.663.677.440 + 165.194.876.160 + 198.235.388.160
= 958.893.287.040
FW Cost = Rp. 958.893.287.040

L 6-7
Setelah melakukan perhitungan alternatif sewa alat dengan menggunakan
Analisa Present Worth Cost (PWC) dan Future Worth Cost (FWC) dari
masing-masing alat diperoleh hasil sebagai berikut :
Alat Muat
Present Worth Cost : Rp. 26.933.529.600
Future Worth Cost : Rp. 166.764.049.920
Alat Angkut
Present Worth Cost : Rp. 154.867.795.200
Future Worth Cost : Rp. 958.893.287.040

L 6-8
LAMPIRAN 7 : Data Pengamatan Cycle Time Alat Muat Excavator
Doosan S500 Lc-V

Tabel L 7.1 Data Cycle Time Alat Muat

Isi Bucket Swing Isi Menumpah Swing Kosong


No Total (Detik)
(Detik) (Detik) (Detik) (Detik)
1 7.14 4.39 5.78 7.17 24.48
2 10.18 5.68 10.08 8.38 34.32
3 9.96 6.05 4.06 4.6 24.67
4 5.36 4.08 5.08 4.29 18.81
5 4.45 3.51 3.73 8.73 20.42
6 4.63 4.48 7.13 3.88 20.12
7 3.96 6.01 4.3 4.26 18.53
8 8.23 4.51 3.03 3.14 18.91
9 4.71 5.51 3.61 3.86 17.69
10 9.68 5.24 4.63 3.53 23.08
11 5.38 5.08 4.23 3.38 18.07
12 6.05 5.18 5.1 8.55 24.88
13 5.71 3.51 4.66 7.31 21.19
14 6.56 4.3 3.66 8.14 22.66
15 4.69 4.26 4.03 3.01 15.99
16 5.93 3.06 2.81 3.28 15.08
17 7.5 4.34 3.68 3.65 19.17
18 8.31 5.58 3.2 4.43 21.52
19 5.9 3.68 3.71 4.21 17.5
20 5.17 4.23 6.29 3.36 19.05
21 5.17 5.16 4.85 4.51 19.69
22 3.05 3.41 6.8 3.36 16.62
23 4.26 5.35 5.09 5.79 20.49
24 4.47 5.01 4.97 4.77 19.22
25 5.08 3.8 3.48 3.64 16
26 5.49 4.01 4.29 5.65 19.44
27 3.7 4.8 3.26 5 16.76
28 4.11 6.31 4.87 4.57 19.86
29 5.34 4.35 4.24 4.64 18.57
30 4.64 5.87 3.21 5.18 18.9
Total 174.81 140.75 137.86 148.27 601.69
Sumber : Hasil Penelitian

Distribusi frekuensi alat muat Excavator Doosan S500 LC-V


menggunakan Analisa Statistik SPSS adalah sebagai berikut :

L 7-1
Tabel L 7.2 Statistics Alat Muat
Isi Bucket Swing Isi Menumpah Swing Kosong
Valid 30 30 30 30
N
Missing 0 0 0 0
Mean 5.8270 4.6917 4.5953 4.9423
Median 5.3500 4.4950 4.2650 4.4700
Mode 5.17 3.51 2.81a 3.36
Std. Deviation 1.86057 .87492 1.49084 1.74554
Variance 3.462 .765 2.223 3.047
Minimum 3.05 3.06 2.81 3.01
Maximum 10.18 6.31 10.08 8.73
Sum 174.81 140.75 137.86 148.27
Sumber : Hasil Olahan SPSS

Dari hasil olahan data diatas maka diperoleh total waktu satu kali siklus
kerja alat muat Excavator Doosan S500 LC-V yang digunakan untuk
memuat batubara ke atas dump truck adalah sebagai berikut :
Waktu Isi Bucket = 5,83 detik
Waktu Swing Isi = 4,69 detik
Waktu Menumpah = 4,59 detik
Waktu Kosong = 4,94 detik

= 20,05 detik

L 7-2
LAMPIRAN 8 : Data Pengamatan Cycle Time Alat Angkut Dump Truck

Mercedes Benz Actros 4046 AK

Tabel L 8.1 Data Cycle Time Alat Angkut Pit Mitra


Isi Manuver Kembali Manuver Cycle
Angkut Dumping
No Bucket Isi Kosong Kosong Time
(detik) (detik)
(detik) (detik) (detik) (detik) (detik)
1 73.82 423.25 28.03 48.78 430.09 18.25 1022.22
2 79.31 438.66 36.53 46.64 432.5 27.88 1061.52
3 65.18 435.15 32.85 41.34 437.91 19.25 1031.68
4 71.78 443.3 18.03 39.26 473.25 25.33 1070.95
5 87.11 508.79 19.5 38.59 492.57 39.26 1185.82
6 85.78 390.9 23.06 35.23 453.83 22.44 1011.24
7 75.74 437.27 29.48 42.86 391.25 35.19 1011.79
8 73.68 377.27 35.07 38.13 394.25 35.08 953.48
9 75.45 432.17 27.35 42.84 450.53 26.23 1054.57
10 77.74 329.24 35.17 31.51 360.86 33.35 867.87
11 73.83 426.2 18.11 34.26 480.07 28.15 1060.62
12 73.13 488.76 19.98 41.25 485.57 39.48 1148.17
13 70.32 392.49 32.73 37.9 431.79 23.21 988.44
14 67.39 435.56 31.16 38.18 515.36 30.23 1117.88
15 73.14 501.26 30.09 36.53 503.96 31.15 1176.13
16 73.66 540.59 39.98 28.74 559.82 49.51 1292.3
17 92.04 512.58 19.05 33.45 605.04 32.03 1294.19
18 84.68 500.35 32.64 31.77 513.62 32.24 1195.3
19 73.67 452.66 20.43 34.06 483.42 54.61 1118.85
20 68.55 420.45 25.47 30.61 371.57 29.26 945.91
21 79.55 486.2 21.43 31.06 455.28 25.43 1098.95
22 78.47 427.92 30.39 29.81 383.99 26.59 977.17
23 92.95 423.55 34.49 32.41 434.7 33.93 1052.03
24 63.83 504.6 24.68 47.35 554.13 48.27 1242.86
25 79.38 494.19 22.3 43.02 554.14 40.07 1233.1
26 72.86 544.14 36.91 37.02 504.24 40.53 1235.7
27 66.62 504.09 31.24 31.12 494.46 41.03 1168.56
28 75.38 454.21 35.16 39.81 434.48 30.04 1069.08
29 75.15 432.28 39.2 35.8 438.19 32.7 1053.32
30 76.16 426.63 37.81 37.4 480.66 44.76 1103.42
Total 2276.35 13584.71 868.32 1116.73 14001.53 995.48 32843.12
Sumber : Hasil Penelitian

Distribusi frekuensi alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046
AK pada Pit Mitra menggunakan Analisa Statistik SPSS adalah :

L 8-1
Tabel L 8.2 Statistics Pit Mitra
Isi Angkut Manuver Dumping Kembali Manuver
Bucket Isi Kosong Kosong
Valid 30 30 30 30 30 30
N
Missing 0 0 0 0 0 0
Mean 75.8783 452.8237 28.9440 37.2243 466.7177 33.1827
Median 74.4900 437.9650 30.2400 37.2100 464.2650 32.1350
Mode 63.83a 329.24a 18.03a 28.74a 360.86a 18.25a
Std. Deviation 7.11742 49.83419 6.88493 5.38449 58.42247 8.85657
Variance 50.658 2483.447 47.402 28.993 3413.185 78.439
Minimum 63.83 329.24 18.03 28.74 360.86 18.25
Maximum 92.95 544.14 39.98 48.78 605.04 54.61
Sum 2276.35 13584.71 868.32 1116.73 14001.53 995.48
Sumber : Hasil Olahan SPSS

Dari hasil olahan data diatas maka diperoleh total waktu satu kali siklus
kerja alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046 AK yang
digunakan untuk mengangkut batubara ke ROM dengan jarak angkut
3000 meter adalah sebagai berikut :
Waktu Isi Bucket = 75,88 detik
Waktu Angkut = 452,82 detik
Waktu Manuver isi = 28,94 detik
Waktu Dumping = 37,22 detik
Waktu Kembali Kosong = 466,72 detik
Waktu Manuver Kosong = 33,18 detik

= 1,094,76 detik

L 8-2
Tabel L 8.3 Data Cycle Time Alat Angkut Pit Warga Utama
Isi Manuver Kembali Manuver Cycle
Angkut Dumping
No Bucket Isi Kosong Kosong Time
(detik) (detik)
(detik) (detik) (detik) (detik) (detik)
1 59.94 187.2 20.51 36.63 207.51 31.1 542.89
2 80.54 190.23 27.93 34.26 202.16 33.08 568.2
3 75.21 225.86 24.94 35 256.8 28.45 646.26
4 75.87 255.91 24.41 36.29 212.21 33.98 638.67
5 78.98 209.35 15.48 42.79 197.04 33.06 576.7
6 71.45 201.39 20.41 39.1 195.69 26.56 554.6
7 72.67 205.91 14.31 38.01 196.25 25.95 553.1
8 83.79 247.75 57.19 38.61 254.7 44.07 726.11
9 81.12 274.7 48.16 38.02 316.91 59.11 818.02
10 76.15 261.2 18.74 40.99 272.29 49.07 718.44
11 76.66 257.96 26.39 43.6 251.31 35.87 691.79
12 75.91 244.96 20.4 52.34 248.48 36.75 678.84
13 75.23 187.3 30.09 36.91 209.06 57.57 596.16
14 75.3 210.35 30.42 49.68 181.37 35.22 582.34
15 81.51 210.9 19.45 39.06 182.65 35.4 568.97
16 73.38 259.11 33.68 23.82 275.72 31.41 697.12
17 82.09 252.84 27.72 27.52 259.45 39.91 689.53
18 85.26 307.15 34.78 30.43 308.52 40.12 806.26
19 66.07 300.08 30.14 31.45 272.46 32.11 732.31
20 76.74 269.6 32.42 30.91 275.94 37.42 723.03
21 67.38 307.39 29.52 29.31 259.3 34.57 727.47
22 70.34 312.22 35.71 34.57 308.92 39.72 801.48
23 83.65 275.04 37.93 28.34 262.49 41.34 728.79
24 73.97 262.28 32.57 37.49 262.62 32.14 701.07
25 82.64 247.42 29.49 38.97 263.06 35.63 697.21
26 81.25 264.23 20.8 37.31 272.28 30.46 706.33
27 72.23 259.31 27.89 29.73 311.42 31.45 732.03
28 66.08 266.25 30.14 27.49 301.88 32.74 724.58
29 68.05 300.86 25.24 29.45 275.56 33.97 733.13
30 69.15 303.96 27.43 25.34 305.69 30.21 761.78
Total 2258.61 7558.71 854.29 1063.42 7599.74 1088.44 20423.21
Sumber : Hasil Penelitian

Distribusi frekuensi alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046
AK pada Pit Warga Utama menggunakan Analisa Statistik SPSS adalah :

L 8-3
Tabel 8.4 Statistics Pit Warga Utama
Isi Angkut Manuver Dumping Kembali Manuver
Bucket Isi Kosong Kosong
Valid 30 30 30 30 30 30
N
Missing 0 0 0 0 0 0
Mean 75.2870 251.9570 28.4763 35.4473 253.3247 36.2813
Median 75.5850 258.5350 27.9100 36.4600 260.9700 34.2750
Mode 59.94a 187.20a 30.14 23.82a 181.37a 25.95a
Std. Deviation 6.20244 38.09712 8.92787 6.68860 41.48699 7.78243
Variance 38.470 1451.390 79.707 44.737 1721.171 60.566
Minimum 59.94 187.20 14.31 23.82 181.37 25.95
Maximum 85.26 312.22 57.19 52.34 316.91 59.11
Sum 2258.61 7558.71 854.29 1063.42 7599.74 1088.44
Sumber : Hasil Olahan SPSS

Dari hasil olahan data diatas maka diperoleh total waktu satu kali siklus
kerja alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046 AK yang
digunakan untuk mengangkut batubara ke ROM dengan jarak angkut
1500 meter adalah sebagai berikut :
Waktu Isi Bucket = 75,29 detik
Waktu Angkut = 251,96 detik
Waktu Manuver isi = 28,48 detik
Waktu Dumping = 35,45 detik
Waktu Kembali Kosong = 253,32 detik
Waktu Manuver Kosong = 36,28 detik

= 680,78 detik

L 8-4
Tabel L 8.5 Data Cycle Time Alat Angkut Pit 10
Isi Manuver Kembali Manuver
Angkut Dumping Cycle Time
No Bucket Isi Kosong Kosong
(detik) (detik) (detik)
(detik) (detik) (detik) (detik)
1 80.85 376.67 33.45 47.51 312.12 34.76 885.36
2 72.05 314.83 24.64 44.88 316.41 50.6 823.41
3 69.41 321.87 27.4 59.04 321.03 50.91 849.66
4 78.95 306 31.91 56.03 316.31 44.83 834.03
5 69.69 307.83 25.95 56.06 311.67 34.78 805.98
6 69.53 303.18 24.41 54.63 321.22 41.33 814.3
7 76.49 303.65 44.24 58.33 306.05 38.21 826.97
8 76.2 317.06 25.58 52.71 310.47 37.16 819.18
9 81.6 302.808 22.13 52.4 267.05 36.48 762.468
10 76.19 273.33 24.56 57.23 273.66 32.2 737.17
11 82.02 245.18 30.46 50.8 309.12 31.89 749.47
12 75.8 264.72 32.36 48.69 259.57 29.41 710.55
13 76.37 241.32 37.73 50.73 253.43 39.35 698.93
14 72.67 243.03 34.43 52.53 265.09 35.66 703.41
15 74.07 275.01 25.53 59.76 269.11 35.78 739.26
16 73.22 262.65 26.74 52.45 265.97 40.34 721.37
17 74.48 270.99 24.16 56.2 253.08 40.93 719.84
18 72.02 305.64 28.93 52.46 259.92 37.4 756.37
19 73.49 257.15 26.31 59.03 256.91 31.76 704.65
20 80.18 314.58 20.69 40.89 308.65 32.12 797.11
21 74.86 260.49 19.16 42.91 261.89 38.52 697.83
22 72.95 271.8 24.37 39.19 270.06 53.32 731.69
23 71.04 265.58 26.95 41.96 316.96 55.83 778.32
24 72.39 300.33 23.3 40.76 300.47 34.91 772.16
25 72.54 269 27.29 38.36 273.66 35.06 715.91
26 71.79 308.99 25 45.85 310.84 32.11 794.58
27 72.77 310.84 19.38 41.37 260.64 41.37 746.37
28 83.98 282.77 21.85 41.53 257.06 35.72 722.91
29 79.06 300.39 20.36 40.66 271.88 32.44 744.79
30 78.06 274.86 25.23 42.43 307.53 31.62 759.73
Total 2254.72 8652.548 804.5 1477.38 8587.83 1146.8 22923.778
Sumber : Hasil Penelitian

Distribusi frekuensi alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046
AK pada Pit 10 menggunakan Analisa Statistik SPSS adalah :

L 8-5
Tabel 8.6 Statistics Pit 10
Isi Angkut Manuver Dumping Kembali Manuver
Bucket Isi Kosong Kosong
Valid 30 30 30 30 30 30
N
Missing 0 0 0 0 0 0
Mean 75.1573 288.4183 26.8167 49.2460 286.2610 38.2267
Std. Error of
.71907 5.38125 1.01169 1.27151 4.62616 1.24310
Mean
Median 74.2750 291.5500 25.5550 50.7650 273.6600 36.1300
Mode 69.41a 241.32a 19.16a 38.36a 273.66 29.41a
Std. Deviation 3.93850 29.47431 5.54127 6.96433 25.33854 6.80874
Variance 15.512 868.735 30.706 48.502 642.042 46.359
Minimum 69.41 241.32 19.16 38.36 253.08 29.41
Maximum 83.98 376.67 44.24 59.76 321.22 55.83
Sum 2254.72 8652.55 804.50 1477.38 8587.83 1146.80
Sumber : Hasil Olahan SPSS

Dari hasil olahan data diatas maka diperoleh total waktu satu kali siklus
kerja alat angkut Dump Truck Mercedes Benz Actros 4046 AK yang
digunakan untuk mengangkut batubara ke ROM dengan jarak angkut
2000 meter adalah sebagai berikut :
Waktu Isi Bucket = 75,15 detik
Waktu Angkut = 288,42 detik
Waktu Manuver isi = 26,82 detik
Waktu Dumping = 49,25 detik
Waktu Kembali Kosong = 286,26 detik
Waktu Manuver Kosong = 38,23 detik

= 764,13 detik

L 8-6
LAMPIRAN 9 : Data Pengamatan Fill Factor Alat Muat Excavator Doosan

S500 LC-V

Tabel L 9.1 Data Fill Factor Alat Muat

No Faktor Pengisian ( % ) Volume Bucket ( m3 )

1 100 3.2
2 97 3.2
3 95 3.2
4 95 3.2
5 96 3.2
6 97 3.2
7 95 3.2
8 90 3.2
9 102 3.2
10 90 3.2
11 95 3.2
12 98 3.2
13 101 3.2
14 96 3.2
15 100 3.2
16 102 3.2
17 105 3.2
18 110 3.2
19 109 3.2
20 97 3.2
21 95 3.2
22 96 3.2
23 95 3.2
24 106 3.2
25 100 3.2
26 98 3.2
27 94 3.2
28 95 3.2
29 96 3.2
30 90 3.2
Sumber : Hasil penelitian PT. LIM 2016

Distribusi frekuensi Fill Factor alat muat Excavator Doosan S500 LC-V
menggunakan Analisa Statistik SPSS adalah sebagai berikut :

L 9-1
Tabel L 9.2 Statistics Fill Factor

Valid 30
N
Missing 0
Mean 97.8333
Median 96.5000
Mode 95.00
Std. Deviation 4.98331
Variance 24.833
Minimum 90.00
Maximum 110.00
Sum 2935.00
Sumber : Hasil Olahan SPSS

Dari hasil olahan data diatas maka diperoleh Faktor Pengisian (Fill
Factor) pada alat muat Excavator Doosan S500 LC-V adalah 97,83%

Gambar L 9.1 Grafik Fill Factor

L 9-2
LAMPIRAN 10 : Faktor Pengembangan (Swell Factor) Dari Beberapa

Material

Tabel L 10.1 Sweel Factor


Swell Faktor
Bobotisi (Density)
Jenis Material (in bank corretion
1b/cuydinsitu
factor)
Bauksit 2700 4320 0,75
Tanah liat kering 2300 0,85
Tanah liat biasa/basah 2800 3000 0,80 - 0,82
Antrasit 2200 0,74
Batubara Bituminous 1900 0,74
Bijih tembaga 3800 0,74
Tanah biasa kering 2800 0,85
Tanah biasa basah 3370 0,85
Tanah biasa bercampur 3100 0,9
pasir dan kerikil
Kerikil kering 32500 0,89
Kerikil basah 3600 0,88
Granit pecah-pecah 4500 0,67 0,56
Hemati pecah-pecah 6500 8700 0,45
Biji besi pecah-pecah 3600 -5500 0,45
Batu kapur pecah-pecah 2500 4200 0,67 0,59
Lumpur 2160 2970 0,83
Lumpur sudah ditekan 2970 3510 0,83

Sumber : Partanto Prodjosumarto, Tahun 1993

Berdasarkan table diatas, maka factor pengembangan (swell factor) yang


digunakan oleh perusahaan untuk menghitung produksi batubara ialah
74% sesuai dengan karakteristik material di PT Lamindo Inter Multikon.

L 10-1
LAMPIRAN 11 : Data Perhitungan Effisiensi Kerja Alat Muat

Tabel L 11.1 Effisiensi Kerja Alat Muat


Waktu
No Kegiatan Shift I Shift II Keterangan
(Menit)
Waktu Delay :
- Pemeriksaan mesin 10 10 20 Tidak dapat dihindari
- Keperluan operator 5 5 10 Tidak dapat dihindari
- Pengisian bahan bakar 5 5 10 Tidak dapat dihindari
1 - Tambah/isi oli 10 5 15 Tidak dapat dihindari
- Penempatan alat 10 13 23 Tidak dapat dihindari
- Pindah tempat kerja 10 10 20 Tidak dapat dihindari
- Menunggu Dump Truck 30 25 55 Tidak dapat dihindari
- Hujan 33 27 60 Tidak dapat dihindari
Total Waktu Delay 113 100 213
Waktu Standby :
- Awal kerja 10 20 60 Operator tidak tepat waktu
2
- Sebelum dan sesudah istrahat 10 15 50 Operator tidak tepat waktu
- Akhir kerja 10 20 35 Pelaporan kerja/persiapan
Total Waktu Standby 30 55 85
Waktu Refair :
3
- Perbaikan selama jam operasi 20 15 35
Total Waktu Refair 20 15 35
4 Total 333
5 Jam Kerja 960
6 Jam Kerja Efektif 627
7 Effisiensi Kerja 65%

L 11-1
Dari data perhitungan diatas maka efesiensi kerja Excavator Doosan
S500 LC-V adalah :
Waktu Efektif = Waktu kerja Hambatan
Waktu Efektif = 960 menit 333 menit = 627 menit
We
Effesiensi Kerja x 100 %
Wt
627
x 100 %
960
= 65 %

L 11-2
LAMPIRAN 12 : Data Perhitungan Effisiensi Kerja Alat Angkut

Tabel L 12.1 Effesiensi Kerja Alat Angkut


Waktu
No Kegiatan Shift I Shift II Keterangan
(Menit)
Waktu Delay :
- Pemeriksaan mesin 5 10 15 Tidak dapat dihindari
- Keperluan operator 5 5 10 Tidak dapat dihindari
- Pengisian bahan bakar 7 10 17 Tidak dapat dihindari
1 - Pindah tempat kerja 10 10 20 Tidak dapat dihindari
- Antri di pit 20 15 35 Dapat dihindari
- Antri di ROM 12 13 25 Dapat dihindari
- Perbaikan jalan 10 15 25 Tidak dapat dihindari
- Hujan 33 27 60 Tidak dapat dihindari
Total Waktu Delay 102 105 207
Waktu Standby :
- Awal kerja 10 20 30
2
- Sebelum dan sesudah istrahat 10 15 25 Operator tidak tepat waktu
- Akhir kerja 10 20 30 Pelaporan kerja/persiapan
Total Waktu Standby 30 55 85
Waktu Refair :
3
- Perbaikan selama jam operasi 0 0 0
Total Waktu Refair 0 0 0
4 Total 292
5 Jam Kerja 960
6 Jam Kerja Efektif 668
7 Effisiensi Kerja 70%

L 12-1
Dari data perhitungan diatas maka efesiensi kerja Dump Truck Mercedes
Benz Actros 4046 AK adalah :
Waktu Efektif = Waktu kerja Hambatan
Waktu Efektif = 960 menit 292 menit = 668 menit
We
Effesiensi Kerja x 100 %
Wt
668
x 100 %
960
= 70 %

L 12-2
LAMPIRAN 13 : Faktor Perbaikan Alat Berat

Untuk mengetahui besarnya biaya perbaikan dari alat mekanis yang


dioperasikan, digunakan besaran Faktor Perbaikan yang merupakan
besaran untuk menentukan biaya rata-rata keseluruhan dari biaya
perbaikan selama waktu pengoperasian. Besarnya faktor perbaikan alat
ini sangat dipengaruh oleh kondisi kerja dan jenis alat-alat yang
digunakan.
TABEL L 13.1 Faktor Perbaikan Alat-alat Mekanis

Alat Kondisi 1 Kondisi 2 Kondisi 3


Buldozer D20 - D31 1,0 1,3 1,6
D41 - D85 0,8 1,1 1,3
D150 - D355 0,7 0,9 1,1
D455 0,6 0,8 1,0
D10 - D31 1,0 1,3 1,6
Doser Shovel DS41 - DS65 0,8 1,1 1,3
DS75 - DS55 0,35 0,9 1,1
Alat pipa pasang 0,45 1,55
Motor Scraper 0,4 - 0,6
Scaper Tank 0,3 - 0,4
Dump Truck 0,4 - 0,7
Motor Grader 0,4 - 0,6
Whell Loader 0,7
Exavator 0,3 0,4
Sumber : PT. LIM

L 13-1
Keterangan :

1. Excavator
Kondisi 1 : Material lunak tanpa benturan-benturan.
Kondisi 2 :Pekerjaan tanah selalu menggali tanah asli
kadang-kadang dengan data penuh.
Kondisi 3 : Pemuatan material keras, batu dan sebagainya sering
menyangkut dan sering bekerja pada lokasi batuan,
banyak mengalai benturan.

2. Dump Truck
Kondisi 1 : Pemuatan dengan Back Hoe kombinasi optimal
Kondisi 2 :Pemuatan dengan berbagai kondisi metode pengangkutan
pada jalan rata.
Kondisi 3 : Pemuatan dengan Back Hoe yang lebih besar, sering
over, pengangkutan pada jalan rata.

3. Bulldozer
Kondisi 1 : Pekerjaan-pekerjaan pertanian, membuat tempat
penimbunan dan pekerjaan lainnya.
Kondisi 2 : Pekerjaan pada umumnya : penggusuran, pembajakan,
kondisi tanah dengan kekerasan sedang.
Kondisi 3 : Pembajakan batu-batuan, pekerjaan tanah pada tanah
berbatu, kondisi tanah keras.

4. Motor Grader
Kondisi 1 : Gugusan dan pemadatan pada tanah berpasir.
Kondisi 2 : Gugusan dan pemadatan pada tanah bercampur batu.
Kondisi 3 : Gugusan dan pemadatan tanah berbatu dan berkerikil.

L 13-2
LAMPIRAN 14 : Spesifikasi Alat Angkut Excavator Doosan S500 LC-V

GAMBAR L 14.1 Spesifikasi Alat Angkut

Tabel L 14.1 Spesifikasi Alat Angkut


Klasifikasi unit S500LC-V
Bobot Ton 49,9
Kapasitas Bucket M3 3,2
Daya Tetapan Mesin Kw(HP)/rpm 232(312) / 2000
(Kekuatan Net)
Torsi Maks. Mesin Kg.m / rpm 133 / 1400
Dali Gali (Iso) Bucket (Nor. Press. Naik) Ton 27,4 / 30,0

L 14-1
Dali Gali (Iso) Lengan (Nor. Press. Naik) Ton 27,4 / 29,9
Jangkauan Penggalian Maks. mm 10290
Kedalaman Penggalian Maks. mm 6280
Tinngi Penggalian Maks. mm 9410
Panjang Keseluruhan mm 11590
Lebar Keseluruhan mm 3900
Tinggi Keseluruhan mm 4140

L 14-2
LAMPIRAN 15 : Spesifikasi Alat Angkut Dump Truck Mercedes Benz

Actros 4046 AK

Gambar L 15.1 Spesifikasi Alat Angkut

Tabel L 15.1 Spesifikasi Alat Angkut

Model Specifications
4046 AK
Engine
No. of cylinders V6
Total displacement 11 946 cm3
Output 265 KW (360 hp) @ 1 800 r/min
Torque 1 850 N.m @ 1 080 r/min
Air cleaner

L 15-1
Type Tandem air filter behind cab with
cyclonic pre-filter
Clutch
Type Type Double plate clutch,
reinforced, 400 mm diameter
Transmission
Type Full synchromesh with integrated
splitter unit and rear-mounted
planetary gearset
Ratios 1st gear: 14,19 : 1
16th gear: 0,826 : 1
PTO NA 131-2c
Front axle
Load capacity 9,0 ton
Rear axle
Load capacity 2 x 16,0
Axle ratio 6,0 : 1
Differential lock Yes
Steering
Type Power assisted, recirculating ball
Suspension
Front Parabolic springs (asymetric)
Rear Parabolic springs
Shock absorbers Front and rear
Stabilisers Front only
Brakes
Service Telligent brake system; dual circuit
compressedair with air drier; drum
brakes all round
Parking Spring-loaded brake cylinders on

L 15-2
rearwheels
Auxiliary 1 Air actuated engine brake with
decompression valve
Retarder
Model -
Type
Braking torque -
-
Chassis
Type Ladder frame (side and cross -
members), riveted
Fuel tank
No. x capacity 1 x approx. 400 l
Electrical systems/Electronics
System voltage 24V
Batteries - No. x capacity 2 x 12V/160 Ah

Wheels
Tyres, front 12.00 R24 tubed type
Tyres, rear 12.00 R24 tubed type

L 15-3
LAMPIRAN 16 : Peta Lokasi Penelitian